• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Penanganan Kegawatdaruratan Kad

N/A
N/A
Indah Cahyaningsih

Academic year: 2024

Membagikan "Prosedur Penanganan Kegawatdaruratan Kad"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Pada KAD

Kegawatdaruratan

Oleh FG 1

Anna Yulia D. 2206102223 Erna Yuliana 2206102381 Indah Cahyaningsih

2206102444 Lina Sulistyawati 2206102500

Nadya Pornada2206102583 Patmawati Laelasari

2206102646

Rini Nuraeni M.2206102690

(2)

OUTLINE

0 1

Mekanisme dan Tanda Gejala KAD

0 2

Triase dan Justifikasi

04 0 5

Algoritma Penanganan

Kegawatdaruratan KAD

0 6

Asuhan Keperawatan Pada Pasien KAD

Kegawatdaruratan Pada Kasus

Pengkajian Primer &

Sekunder pada Kasus

0 3

(3)

Kegawatdaruratan Endokrin

Kasus 2A

Seorang laki-laki, berusia 57 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu subuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Pasien mengeluh sering merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir. Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir. Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol. Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan: kesadaran somnolen, GCS E3M4V3; TD 100/70 mmHg; HR 110x/menit, reguler; RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO2 95%; Suhu: 38,3°C. Pemeriksaan jantung: dalam batas normal. Pemeriksaan AGD memperlihatkan pH 7,19; pCO2 37 mmHg; pO2 95 mmHg; HCO3 12 mmol/L; BE -6,3 mEq/L; Glukosa darah 570 mg/dL; keton darah 8,6. Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6,5 mmol/L; Cl 94 mmol/L. Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+). DPL: Hb 8,6 g/dL; leukosit 21.000;

trombosit 170.000; hematokrit 35%; hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Response.

(4)

Mekanisme Tanda & Gejala Ketoasidosis Diabetikum

0 1

Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah kondisi akut yang mengancam jiwa yang ditandai dengan hiperglikemia, adanya keton dalam urin dan/atau darah, serta asidosis → TRIAS BIOKIMIA (Curtis &

Ramsden, 2016)

Diagnosis KAD pada orang dewasa dengan DM memerlukan 3 komponen yang dapat diingat dengan singkatan “KAD”:

K → Konsentrasi beta-hydroxybutyrate serum (keton darah) ≥3.0 mmol/L atau keton urin ≥ 2+.

A → pH <7,3 atau bikarbonat serum < 15 mmol/L.

D → Konsentrasi glukosa darah pada pasien >200 mg/dl atau 11,1 mmol/L saat pertama

kali datang ke IGD.

(5)

● KAD dipicu oleh faktor-faktor yang mengakibatkan peningkatan kadar hormon stress dalam sirkulasi:

➢ Katekolamin (Epinefrin)

➢ Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)

➢ Kortisol

➢ Glukagon

● Contoh pencetusnya:

➢ Infeksi

➢ Penyakit vaskular akut

➢ Trauma, Luka bakar, Subdural hematoma

➢ Heatstroke

➢ Kelainan gastrointestinal

➢ Obat-obatan (steroid, diuretik, dll)

➢ Pada DM Tipe 1 sering terjadi karena pasien menghentikan sendiri suntikan insulin, atau pengobatan insulin tidak adekuat.

0 1

(6)
(7)

Triase Menurut ESI

(Emergency Severity Index)

02

Tahapan Hasil

Langkah 1: Cek parameter kegawatdaruratan ABCD

Identifikasi apakah pasien mengalami kondisi yang mengancam nyawa dan memerlukan tindakan penyelamatan segera.

Jika terdapat masalah pada A/B/C/D –>

Level 1

Jika tidak ada masalah pada A/B/C/D maka lanjut ke langkah 2

● Airway: Tidak ditemukan adanya sumbatan jalan napas

● Breathing: Pernafasan/RR = 28 kali per menit, nafas cepat dan dalam, SPO2 = 95%.

● Circulation: Tekanan darah 100/ 70 mmhg, HR=110 x / menit

● Disability: Penurunan kesadaran 3 jam SMRS; Kesadaran somnolen; GCS=10 (E3M4V3); GDS = 570 mg/dl.

Langkah 2: Kaji faktor resiko sakit

atau cedera berat Klien mempunyai Riwayat penyakit DM sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol

Langkah 3: Prediksi tenaga

kesehatan yang dibutuhkan -

(8)

Triase Menurut ESI

(Emergency Severity Index)

02

Berdasarkan hasil triage maka klien berada di LEVEL

1

Intervensi Life saving

SEGERA

(9)

Kegawatdaruratan

yang terjadi pada Kasus

1) Ketoasidosis Diabetik (KAD):

● Pasien mengalami kesadaran somnolen dan gejala lainnya yang konsisten dengan ketoasidosis diabetikum (KAD).

● Pemeriksaan AGD (analisa gas darah) menunjukkan pH rendah (7,19), HCO3 rendah (12), dan keton serum tinggi (8,6), yang mengindikasikan adanya asidosis metabolik tidak terkompensasi dan ketoasidosis.

1) Hiperglikemia dan Dehidrasi:

● Glukosa darah yang tinggi (570 mg/dL) menunjukkan hiperglikemia.

● Gejala haus, lapar, penurunan berat badan, dan frekuensi berkemih yang tinggi dapat menunjukkan dehidrasi yang parah.

1) Gangguan Elektrolit:

● Tingginya kadar kalium (K) dalam pemeriksaan elektrolit (6,5 mmol/L) dapat mengindikasikan potensi hiperkalemia yang dapat menyebabkan gangguan irama jantung.

0 3

(10)

4) Atrial Fibrilasi dan Gangguan Rhythm Ventrikel:

● Hasil EKG menunjukkan atrial fibrilasi yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah dan stroke.

● Adanya "Rapid Ventricular Rate" menunjukkan bahwa detak jantung cepat dan tidak teratur yang dapat menyebabkan masalah hemodinamik.

4) Anemia:

● Rendahnya hematokrit (35%) dan kadar hemoglobin (8,6 g/dL) dapat mengindikasikan anemia, yang mungkin terkait dengan kombinasi defisiensi zat besi dan dehidrasi.

4) Infeksi:

● Leukosit yang tinggi (21.000) dapat menunjukkan adanya infeksi.

Lanjutan…

(11)

01 Pemberian Cairan

02 Koreksi Kalium &

Insulin

03 Koreksi Bikarbonat

Algoritma Penanganan

Kegawatdaruratan Pada Pasien Ketoasidosis Diabetikum

Prinsip terapi kegawatdaruratan pada KAD:

Terapi KAD bertujuan untuk mengoreksi kelainan

patofisiologi yang mendasari, yaitu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, kadar

glukosa darah, gangguan asam basa, serta mengobati faktor pencetus.

0 4

(12)
(13)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pengkajian Survey primer Data Pengkajian sesuai kasus

Danger Perawat memastikan aman diri, aman pasien dan aman

lingkungan

Respon Pasien mengalami penurunan kesadaran: somnolen.

Airway Tidak ada sumbatan jalan nafas

Breathing RR 28 kali per menit, pernafasan kusmaul, nafas cepat dan dalam, SPO2 95 %, pO2 95 mmhg, PCO2 37 mmhg HCO3 12 (Data kasus)

nafas tercium aroma buah / Acetone breath, Nilai gas darah dari pasien dengan pernafasan Kussmaul akan menunjukkan penurunan PCO2 karena peningkatan pernapasan yang dipaksakan (melepaskan CO2) (Data tambahan).

Circulation Tekanan darah 100/ 70 mmhg, HR 110x / menit (data kasus) kekuatan nadi melemah dan capillary refill > 2 detik, turgor kulit yang buruk, kulitnya biasanya panas dan kering, dan selaput lendir kering. Irama jantung yang paling sering terlihat adalah sinus takikardia, namun disritmia yang berhubungan dengan gangguan elektrolit juga terjadi (Data tambahan)

(14)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pengkajian Survey

primer Data Pengkajian

Disability Penurunan kesadaran 3 jam SMRS, tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Kesadaran somnolen, GCS=10 (E3M4V3)

Exposure and

Environmental control

Terdapat luka di jempol kaki (leg ulcers) yang sulit sembuh

Pengkajian Survey Sekunder

Data Pengkajian

Full Set of Vital TD 100/70 mmHg, HR 110x/menit, reguler, RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO2, 95%, Suhu:

38,3°C. Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.

Give Comfort Measures Pada KAD biasanya terdapat nyeri abdomen, penurunan proses pengosongan lambung,ileus, kekakuan pada abdomen, muscle cramp atau kejang (Data tambahan)

(15)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pengkajian

Survey Sekunder Data Pengkajian

History Sign/ symptom: Penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Pasien mengeluh sering merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.

Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.

Alergi: Tidak ada data riwayat alergi di kasus

FYI → Pasien yang mulai mengkonsumsi obat tertentu, seperti steroid juga mengalami peningkatan risiko KAD. Obat lain yang diduga memicu KAD termasuk thiazides, simpatomimetik, pentamidine, dan antipsikotik (Lowi & Bond, 2023).

Medication: Tidak tertera di kasus

FYI → Ketidakpatuhan terhadap pengobatan atau penghentian pengobatan adalah penyebab utama KAD pada pasien Afrika- Amerika (Lowi & Bond, 2023).

Past Medical: Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.

Last Meal: Tidak ada data dalam kasus

Event prior to illness: keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang.

(16)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pengkajian

Survey Sekunder Data Pengkajian

Head to Toe Assessment:

Head , face and neck

Penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS, kesadaran somnolen, GCS=10 (E3M4V3), disertai penurunan JVP

Chest: Pemeriksaan jantung: dalam batas normal.EKG: atrial fibrilasi elektrik ventrikuler response. Tekanan darah 100/70 mmHg, HR 110x/menit, regular. RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO, 95% (Data kasus)

Abdomen: Pasien mengeluh sering lapar, terjadi penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir (Data Kasus). Mual dan muntah, tidak mengikuti diet yang ditentukan, peningkatan asupan glukosa dan karbohidrat. Perut kembung dan nyeri, bising usus berkurang atau hiperaktif (diare), kekakuan dan distensi perut, Halitosis atau bau mulut yang manis seperti buah-buahan (Data Tambahan)

Pelvis/ Perineum Pasien mengeluh sering berkemih sejak 6 bulan terakhir, pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+) (Data Kasus). Urin pucat, kuning dan encer. Poliuria dapat berkembang menjadi oliguria dan anuria jika terjadi hipovolemia, Urine keruh dan berbau (infeksi) (Data Tambahan)

Ekstremitas: Terdapat luka di jempol kaki, Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang (Data Kasus)

(17)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pengkajian Survey

Sekunder Data Pengkajian

Ekstremitas: Kelemahan, kelelahan, kesulitan berjalan dan bergerak; Kram otot, penurunan kekuatan otot; Deep Tendon Reflex (DTR) mungkin menurun; Aktivitas kejang dapat terjadi (pada KAD tahap akhir atau hipoglikemia); Kulit kering, gatal, ulserasi kulit;

Parestesia (neuropati diabetik) Demam, diaphoresis; Kerusakan kulit, lesi dan ulserasi; Penurunan kekuatan umum dan rentang gerak (ROM); Kelemahan dan kelumpuhan otot, termasuk otot pernafasan, jika kadar kalium menurun drastis (Data tambahan).

Permukaan Posterior: Tidak ditemukan pada data kasus Pemeriksaan Laboratorium Data Pengkajian

Glukosa Glukosa darah 570 mg/dL

Natrium/ Sodium Na 133 mmol/L (N=135-145); Cl 94 mmol/L(N=100-160). (Data kasus) Pseudohyponatremia (data tambahan) Kalium K 6,5 mmol/L (N=3,5-5,3) Data Kasus

Magnesium Magnesium biasanya rendah (Data Tambahan) Nitrogen urea darah, dan

kreatinin: BE -6,3 mEq/L (Normal -2 sampai +2 mEq/l) BUN dan kreatinin meningkat (Data tambahan)

(18)

Pengkajian Primer &

Sekunder

pada Kasus KAD

0 5

Pemeriksaan Laboratorium Data Pengkajian

PH serum: pH 7,19

Bikarbonat: HCO3-: 12 mmol/L (data kasus)

Anion Gap: Anion gap meningkat: 27 mmol/L (N=8-16 mmol/L)

Keton: Keton darah 8,6 (N=0.03-0,5 mmol/L) Data kasus

DPL Leukosit 21.000; Hematokrit 35%; Hb 8,6 gr/dl; Trombosit 170.000

Gas darah arteri (ABG): pCO2 37 mmHg; pO2: 95 mmHg (Data kasus)

Urine: glukosa urine (2+) dan keton urine (2+) (Data Kasus)

Kultur darah dan resistensi: diperiksakan karena ada infeksi, karena infeksi bisa mempresipitasi DKA.

EKG: Atrial Fibrilasi elektrik ventricular response

(19)

Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat

06

Setelah berhasil mengidentifikasi data-data melalui pengkajian, selanjutnya dapat merumuskan diagnosa keperawatan. Beberapa diagnosa keperawatan serta rencana tindakan keperawatan yang mungkin

muncul berdasarkan kasus:

● Kekurangan volume cairan

● Risiko penurunan curah jantung

● Ketidakstabilan kadar glukosa darah

● Gangguan pertukaran gas

● Resiko Ketidakseimbangan elektrolit

● Perfusi serebral tidak efektif

● Resiko infeksi

● Nutrisi kurang dari kebutuhan

● Gangguan integritas kulit

(20)

Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat

06

No Diagnosis Luaran Intervensi

1.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik ditandai dengan :

Data Subjektif

● Keluarga mengatakan Pasien sering mengeluh merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.

● Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.

● Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.

● Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu Data objektif

● TD 100/70 mmHg HR 110x/menit reguler

● RR 28x/menit napas cepat dan dalam, SpO2 95% Suhu: 38,3°C.

● Pemeriksaan AGD memperlihatkan pH 7,19; pCO 37 mmHg pO2 95 mmHg; HCO3 12 mmol/L; BE -6,3 mEq/L

● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6

● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L;

Cl 94 mmol/L

● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).

● DL Hb 8,6 g/dL, leukosit 21.000, trombosit 170.000, hematokrit 35

● Hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Non Respon.

Keseimbangan cairan meningkat

Kriteria hasil :

● TTV dalam batas normal

● Pulse perifer teraba

● Turgor kulit baik:

kembali dalam 3 detik

● Capillary refill time normal < 2 detik

● Urin output Seimbang

● Kadar elektrolit normal

● Gula Darah

Sewaktu normal (<

200 mg/dl)

Manajemen Cairan

Pemantauan Cairan

(21)

Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat

No Diagnosis Luaran Intervensi

2. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas di tandai dengan

● Hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Non Respon.

● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6

● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L; Cl 94 mmol/L

● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).

Curah jantung meningkat dengan kriteria hasil

● Kekuatan nadi perifer meningkat

● Gambaran EKG Aritmia menurun

● Tekanan darah membaik

● Pengisian kapiler membaik

Manajeman Elektrolit :Hiperkalemia (I.03103)

Observasi

Identifikasi tanda dan gejala peningkatan kadar kalium Identifikasi penyebab

hipernatremia

Monitor irama jantung, frekuensi jantung, dan EKG

Monitor intake dan output cairan

Monitor kadar kalium serum dan atau urin Kolaborasi eliminasi kalium (mis. diuretik atau kayexalate), sesuai indikasi

Kolaborasi pemberian insulin dan glukosa IV, sesuai indikasi

Kolaborasi pemberian kalsium glukonat 10% 10 ml, sesuai indikasi

06

(22)

Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat

06

No Diagnosis Luaran Intervensi

3.

Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan defisit insulin absolut ditandai dengan Data Subjektif

● Keluarga mengatakan Pasien sering mengeluh merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.

● Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.

● Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.

● Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu

Data objektif

● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6

● DL Hb 8,6 g/dL, leukosit 21.000, trombosit 170.000, hematokrit 35%

● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L; Cl 94 mmol/L

● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).

Kadar glukosa dalam darah klien dalam rentang normal dan mengalami kestabilan, dengan kriteria hasil:

● Koordinasi meningkat

● Pusing menurun

● Lelah/lesu menurun

● Rasa lapar menurun

● Hemoglobin terglikosilasi

● Fruktosamin dan Glukosa urin dalam rentang normal

Manajemen Hiperglikemia Observasi

● Monitor kadar glukosa darah

● Monitor intake dan output cairan

● Monitor keton urin, kadar Analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi

Terapeutik

Berikan asupan cairan oral Edukasi

Ajarkan pengelolaan diabetes (mis:

penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan,

penggantian karbohidrat, dan bantuan professional kesehatan Kolaborasi

Kolaborasi pemberian insulin,cairan IV, kalium.

(23)

REFERENSI

● Crouch, B., Charters, A., Dawood, M., Bennet, P. (2017). Oxford Handbook of Emergency Nursing. United Kingdom: Oxford Unity Press.

● Curtis, K., Ramsden, C. (2016). Emergency and Trauma Care: For Nurses and Paramedics, 2nd Edition. Australia: Elsevier.

● Cydulka, Rita., Cline, David., MA, O John. (2018). Tintinalli’s Emergency Medicine Manual, 8th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

● Emergency Nurses Association (2013). Sheehy’s Manual of Emergency Care (7th ed.). Philadelphia: Elsevier Saunders.

● Howard, P., K., Steinmann, R., A. (2010). Sheehy’s Emergency Nursing Principles and Practice. Missouri: Elsevier.

● Joint British Diabetes Societies (JBDS) for Inpatient Care. (2023). The Management of Diabetic Ketoacidosis in Adults, Revised March 2023. UK: JBDS-IP.

● Kurniati, A., Trisyani, Y., Theresia, S. I. M. (2018). Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana Sheehy, 1st Indonesia Edition.

Singapore: Elsevier.

● KEPMENKES RI NO. HK.01.07/MENKES/603/2020 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA DIABETES MELITUS TIPE 2 DEWASA.

● NANDA International. (2021). NANDA-I Nursing Diagnoses 2021-2023 twelfth edition. New York: Thieme

● NIC. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC) (6th ed.). (G. M. Bulechek, J. M. Dochterman, H. K. Butcher, & C. M. Wagner, Eds.) Missouri: Elsevier Inc.

● Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.

● Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.

● Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.

● Tyas, M. D. C. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Keperawatan Kegawatdaruratan & Manajemen Bencana. Jakarta:

BPPSDM Kesehatan, Kemenkes RI.

(24)

-THANK YOU-

Any

Question???

(25)

Pertanyaan :

● Kaltsum (FG 2):

Bagaimana proses infeksi pada DM dapat menyebabkan KAD?

JAWAB (Rini):

Pasien dengan Diabetes Mellitus (DM) yang mengalami infeksi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami Ketoasidosis Diabetik (KAD). Beberapa faktor yang dapat menjelaskan kaitan antara DM, infeksi, dan KAD adalah sebagai berikut:

Stress Metabolik → Infeksi menyebabkan respons sistemik tubuh yang disebut "stress metabolik". Pada pasien

DM, khususnya DM tipe 1, stress metabolik dapat meningkatkan pelepasan hormon kontra insulin

(Katekolamin, Growth hormon, Kortisol, dan Glukagon) yang dapat meningkatkan produksi glukosa oleh hati

(glukoneogenesis) → Proses glukoneogenesis akan meningkatkan lipolisis dan glikogenolisis → Hal ini dapat

menyebabkan hiperglikemia yang pada akhirnya jika berlanjut akan menyebabkan KAD (mekanisme alurnya

seperti yang sudah dijelaskan kelompok ini pada overview KAD).

(26)

Pertanyaan :

● Nena (FG 2):

Terkait algoritma penanganan KAD, apakah semuanya dilakukan atau tidak perlu dilakukan semuanya? Apakah KAD dapat relaps setelah tertangani?

JAWAB (Lina Sulistyawati):

Seperti yang sudah dijelaskan pada PPT kelompok ini, prinsip dari penatalaksanaan KAD sendiri yang paling utama adalah Rehidrasi, selanjutnya koreksi ketidakseimbangan elektrolit (Kalium), koreksi insulin dan yang terakhir bikarbonat. Keempat tatalaksana ini belum tentu harus dilakukan semuanya, tergantung dari hasil laboratorium. Selain ke-4 penatalaksanaan KAD, perlu juga diatasi penyebab atau faktor pencetus dari KAD itu sendiri (contoh pada kasus adalah infeksi pada jempol kaki klien).

Setelah kegawatdaruratan KAD teratasi, biasanya pasien ditempatkan di ruang HCU dengan pemantauan ketat, karena KAD dapat relaps dalam kisaran waktu 2x24 jam setelah serangan KAD yang pertama.

● Pak Chiyar:

Bagaimana tatalaksana Hiperkalemia pada kasus?

JAWAB (Erna):

Pada pasien KAD dengan hiperkalemia dapat dilakukan tatalaksana koreksi insulin, karena insulin dapat

bekerja menurunkan kadar Kalium. Ketika KAD sudah teratasi dan gula darah sudah normal namun pasien

masih hiperkalemia, dapat juga diberikan kombinasi D40% + KCl bolus serta diberikan injeksi Ca Glukonas

(untuk melindungi membran jantung dan mencegah aritmia).

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat yang dapat diambil adalah dapat mengetahui gejala awal dan penanganan serta asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien yang mengalami gangguan jiwa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang penanganan awal kegawatdaruratan pada perawat dan bidan di RSUP Haji Adam Malik Medan.. Penelitian

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan perawat pelaksana dalam implementasi asuhan keperawatan dengan tanda gejala

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL 160 Diagnosa – Definisi Masalah Tanda dan Gejala Luaran Intervensi Minor Subjektif: adanya mimpi buruk, merasa

Mengenali tanda dan gejala yang timbul pada klien epilepsi dengan harga diri rendah, serta lebih optimal dalam memberikan asuhan keperawatan.. Dapat selalu mengembangkan pengetahuan dan

Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1, Nomor 2 Desember Tahun 2023 ISSN 2988-2117 | 56 PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DALAM PENANGANAN PERTAMA KEGAWATDARURATAN KEJANG DEMAM

Skrining visual pasien rawat jalan adalah proses penapisan pasien melalui evaluasi visual oleh petugas skrining untuk menentukan prioritas penanganan tanda dan gejala

Dokumen ini membahas tentang definisi, penyebab, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis, serta asuhan keperawatan pada hipertensi