Pada KAD
Kegawatdaruratan
Oleh FG 1
Anna Yulia D. 2206102223 Erna Yuliana 2206102381 Indah Cahyaningsih
2206102444 Lina Sulistyawati 2206102500
Nadya Pornada2206102583 Patmawati Laelasari
2206102646
Rini Nuraeni M.2206102690
OUTLINE
0 1
Mekanisme dan Tanda Gejala KAD
0 2
Triase dan Justifikasi
04 0 5
Algoritma Penanganan
Kegawatdaruratan KAD
0 6
Asuhan Keperawatan Pada Pasien KAD
Kegawatdaruratan Pada Kasus
Pengkajian Primer &
Sekunder pada Kasus
0 3
Kegawatdaruratan Endokrin
Kasus 2A
Seorang laki-laki, berusia 57 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu subuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Pasien mengeluh sering merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir. Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir. Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol. Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan: kesadaran somnolen, GCS E3M4V3; TD 100/70 mmHg; HR 110x/menit, reguler; RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO2 95%; Suhu: 38,3°C. Pemeriksaan jantung: dalam batas normal. Pemeriksaan AGD memperlihatkan pH 7,19; pCO2 37 mmHg; pO2 95 mmHg; HCO3 12 mmol/L; BE -6,3 mEq/L; Glukosa darah 570 mg/dL; keton darah 8,6. Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6,5 mmol/L; Cl 94 mmol/L. Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+). DPL: Hb 8,6 g/dL; leukosit 21.000;
trombosit 170.000; hematokrit 35%; hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Response.
Mekanisme Tanda & Gejala Ketoasidosis Diabetikum
0 1
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah kondisi akut yang mengancam jiwa yang ditandai dengan hiperglikemia, adanya keton dalam urin dan/atau darah, serta asidosis → TRIAS BIOKIMIA (Curtis &
Ramsden, 2016)
Diagnosis KAD pada orang dewasa dengan DM memerlukan 3 komponen yang dapat diingat dengan singkatan “KAD”:
K → Konsentrasi beta-hydroxybutyrate serum (keton darah) ≥3.0 mmol/L atau keton urin ≥ 2+.
A → pH <7,3 atau bikarbonat serum < 15 mmol/L.
D → Konsentrasi glukosa darah pada pasien >200 mg/dl atau 11,1 mmol/L saat pertama
kali datang ke IGD.
● KAD dipicu oleh faktor-faktor yang mengakibatkan peningkatan kadar hormon stress dalam sirkulasi:
➢ Katekolamin (Epinefrin)
➢ Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)
➢ Kortisol
➢ Glukagon
● Contoh pencetusnya:
➢ Infeksi
➢ Penyakit vaskular akut
➢ Trauma, Luka bakar, Subdural hematoma
➢ Heatstroke
➢ Kelainan gastrointestinal
➢ Obat-obatan (steroid, diuretik, dll)
➢ Pada DM Tipe 1 sering terjadi karena pasien menghentikan sendiri suntikan insulin, atau pengobatan insulin tidak adekuat.
0 1
Triase Menurut ESI
(Emergency Severity Index)
02
Tahapan Hasil
Langkah 1: Cek parameter kegawatdaruratan ABCD
Identifikasi apakah pasien mengalami kondisi yang mengancam nyawa dan memerlukan tindakan penyelamatan segera.
Jika terdapat masalah pada A/B/C/D –>
Level 1
Jika tidak ada masalah pada A/B/C/D maka lanjut ke langkah 2
● Airway: Tidak ditemukan adanya sumbatan jalan napas
● Breathing: Pernafasan/RR = 28 kali per menit, nafas cepat dan dalam, SPO2 = 95%.
● Circulation: Tekanan darah 100/ 70 mmhg, HR=110 x / menit
● Disability: Penurunan kesadaran 3 jam SMRS; Kesadaran somnolen; GCS=10 (E3M4V3); GDS = 570 mg/dl.
Langkah 2: Kaji faktor resiko sakit
atau cedera berat Klien mempunyai Riwayat penyakit DM sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol
Langkah 3: Prediksi tenaga
kesehatan yang dibutuhkan -
Triase Menurut ESI
(Emergency Severity Index)
02
Berdasarkan hasil triage maka klien berada di LEVEL
1
Intervensi Life saving
SEGERA
Kegawatdaruratan
yang terjadi pada Kasus
1) Ketoasidosis Diabetik (KAD):
● Pasien mengalami kesadaran somnolen dan gejala lainnya yang konsisten dengan ketoasidosis diabetikum (KAD).
● Pemeriksaan AGD (analisa gas darah) menunjukkan pH rendah (7,19), HCO3 rendah (12), dan keton serum tinggi (8,6), yang mengindikasikan adanya asidosis metabolik tidak terkompensasi dan ketoasidosis.
1) Hiperglikemia dan Dehidrasi:
● Glukosa darah yang tinggi (570 mg/dL) menunjukkan hiperglikemia.
● Gejala haus, lapar, penurunan berat badan, dan frekuensi berkemih yang tinggi dapat menunjukkan dehidrasi yang parah.
1) Gangguan Elektrolit:
● Tingginya kadar kalium (K) dalam pemeriksaan elektrolit (6,5 mmol/L) dapat mengindikasikan potensi hiperkalemia yang dapat menyebabkan gangguan irama jantung.
0 3
4) Atrial Fibrilasi dan Gangguan Rhythm Ventrikel:
● Hasil EKG menunjukkan atrial fibrilasi yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah dan stroke.
● Adanya "Rapid Ventricular Rate" menunjukkan bahwa detak jantung cepat dan tidak teratur yang dapat menyebabkan masalah hemodinamik.
4) Anemia:
● Rendahnya hematokrit (35%) dan kadar hemoglobin (8,6 g/dL) dapat mengindikasikan anemia, yang mungkin terkait dengan kombinasi defisiensi zat besi dan dehidrasi.
4) Infeksi:
● Leukosit yang tinggi (21.000) dapat menunjukkan adanya infeksi.
Lanjutan…
01 Pemberian Cairan
02 Koreksi Kalium &
Insulin
03 Koreksi Bikarbonat
Algoritma Penanganan
Kegawatdaruratan Pada Pasien Ketoasidosis Diabetikum
Prinsip terapi kegawatdaruratan pada KAD:
Terapi KAD bertujuan untuk mengoreksi kelainan
patofisiologi yang mendasari, yaitu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, kadar
glukosa darah, gangguan asam basa, serta mengobati faktor pencetus.
0 4
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pengkajian Survey primer Data Pengkajian sesuai kasus
Danger Perawat memastikan aman diri, aman pasien dan aman
lingkungan
Respon Pasien mengalami penurunan kesadaran: somnolen.
Airway Tidak ada sumbatan jalan nafas
Breathing RR 28 kali per menit, pernafasan kusmaul, nafas cepat dan dalam, SPO2 95 %, pO2 95 mmhg, PCO2 37 mmhg HCO3 12 (Data kasus)
nafas tercium aroma buah / Acetone breath, Nilai gas darah dari pasien dengan pernafasan Kussmaul akan menunjukkan penurunan PCO2 karena peningkatan pernapasan yang dipaksakan (melepaskan CO2) (Data tambahan).
Circulation Tekanan darah 100/ 70 mmhg, HR 110x / menit (data kasus) kekuatan nadi melemah dan capillary refill > 2 detik, turgor kulit yang buruk, kulitnya biasanya panas dan kering, dan selaput lendir kering. Irama jantung yang paling sering terlihat adalah sinus takikardia, namun disritmia yang berhubungan dengan gangguan elektrolit juga terjadi (Data tambahan)
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pengkajian Survey
primer Data Pengkajian
Disability Penurunan kesadaran 3 jam SMRS, tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Kesadaran somnolen, GCS=10 (E3M4V3)
Exposure and
Environmental control
Terdapat luka di jempol kaki (leg ulcers) yang sulit sembuh
Pengkajian Survey Sekunder
Data Pengkajian
Full Set of Vital TD 100/70 mmHg, HR 110x/menit, reguler, RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO2, 95%, Suhu:
38,3°C. Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.
Give Comfort Measures Pada KAD biasanya terdapat nyeri abdomen, penurunan proses pengosongan lambung,ileus, kekakuan pada abdomen, muscle cramp atau kejang (Data tambahan)
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pengkajian
Survey Sekunder Data Pengkajian
History Sign/ symptom: Penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang. Pasien mengeluh sering merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.
Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.
Alergi: Tidak ada data riwayat alergi di kasus
FYI → Pasien yang mulai mengkonsumsi obat tertentu, seperti steroid juga mengalami peningkatan risiko KAD. Obat lain yang diduga memicu KAD termasuk thiazides, simpatomimetik, pentamidine, dan antipsikotik (Lowi & Bond, 2023).
Medication: Tidak tertera di kasus
FYI → Ketidakpatuhan terhadap pengobatan atau penghentian pengobatan adalah penyebab utama KAD pada pasien Afrika- Amerika (Lowi & Bond, 2023).
Past Medical: Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.
Last Meal: Tidak ada data dalam kasus
Event prior to illness: keluhan penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS. Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang.
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pengkajian
Survey Sekunder Data Pengkajian
Head to Toe Assessment:
Head , face and neck
Penurunan kesadaran sejak 3 jam SMRS, kesadaran somnolen, GCS=10 (E3M4V3), disertai penurunan JVP
Chest: Pemeriksaan jantung: dalam batas normal.EKG: atrial fibrilasi elektrik ventrikuler response. Tekanan darah 100/70 mmHg, HR 110x/menit, regular. RR 28x/menit, napas cepat dan dalam, SpO, 95% (Data kasus)
Abdomen: Pasien mengeluh sering lapar, terjadi penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir (Data Kasus). Mual dan muntah, tidak mengikuti diet yang ditentukan, peningkatan asupan glukosa dan karbohidrat. Perut kembung dan nyeri, bising usus berkurang atau hiperaktif (diare), kekakuan dan distensi perut, Halitosis atau bau mulut yang manis seperti buah-buahan (Data Tambahan)
Pelvis/ Perineum Pasien mengeluh sering berkemih sejak 6 bulan terakhir, pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+) (Data Kasus). Urin pucat, kuning dan encer. Poliuria dapat berkembang menjadi oliguria dan anuria jika terjadi hipovolemia, Urine keruh dan berbau (infeksi) (Data Tambahan)
Ekstremitas: Terdapat luka di jempol kaki, Tidak ada keluhan kelemahan satu tubuh, riwayat jatuh, maupun kejang (Data Kasus)
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pengkajian Survey
Sekunder Data Pengkajian
Ekstremitas: Kelemahan, kelelahan, kesulitan berjalan dan bergerak; Kram otot, penurunan kekuatan otot; Deep Tendon Reflex (DTR) mungkin menurun; Aktivitas kejang dapat terjadi (pada KAD tahap akhir atau hipoglikemia); Kulit kering, gatal, ulserasi kulit;
Parestesia (neuropati diabetik) Demam, diaphoresis; Kerusakan kulit, lesi dan ulserasi; Penurunan kekuatan umum dan rentang gerak (ROM); Kelemahan dan kelumpuhan otot, termasuk otot pernafasan, jika kadar kalium menurun drastis (Data tambahan).
Permukaan Posterior: Tidak ditemukan pada data kasus Pemeriksaan Laboratorium Data Pengkajian
Glukosa Glukosa darah 570 mg/dL
Natrium/ Sodium Na 133 mmol/L (N=135-145); Cl 94 mmol/L(N=100-160). (Data kasus) Pseudohyponatremia (data tambahan) Kalium K 6,5 mmol/L (N=3,5-5,3) Data Kasus
Magnesium Magnesium biasanya rendah (Data Tambahan) Nitrogen urea darah, dan
kreatinin: BE -6,3 mEq/L (Normal -2 sampai +2 mEq/l) BUN dan kreatinin meningkat (Data tambahan)
Pengkajian Primer &
Sekunder
pada Kasus KAD
0 5
Pemeriksaan Laboratorium Data Pengkajian
PH serum: pH 7,19
Bikarbonat: HCO3-: 12 mmol/L (data kasus)
Anion Gap: Anion gap meningkat: 27 mmol/L (N=8-16 mmol/L)
Keton: Keton darah 8,6 (N=0.03-0,5 mmol/L) Data kasus
DPL Leukosit 21.000; Hematokrit 35%; Hb 8,6 gr/dl; Trombosit 170.000
Gas darah arteri (ABG): pCO2 37 mmHg; pO2: 95 mmHg (Data kasus)
Urine: glukosa urine (2+) dan keton urine (2+) (Data Kasus)
Kultur darah dan resistensi: diperiksakan karena ada infeksi, karena infeksi bisa mempresipitasi DKA.
EKG: Atrial Fibrilasi elektrik ventricular response
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat
06
Setelah berhasil mengidentifikasi data-data melalui pengkajian, selanjutnya dapat merumuskan diagnosa keperawatan. Beberapa diagnosa keperawatan serta rencana tindakan keperawatan yang mungkin
muncul berdasarkan kasus:
● Kekurangan volume cairan
● Risiko penurunan curah jantung
● Ketidakstabilan kadar glukosa darah
● Gangguan pertukaran gas
● Resiko Ketidakseimbangan elektrolit
● Perfusi serebral tidak efektif
● Resiko infeksi
● Nutrisi kurang dari kebutuhan
● Gangguan integritas kulit
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat
06
No Diagnosis Luaran Intervensi
1.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik ditandai dengan :Data Subjektif
● Keluarga mengatakan Pasien sering mengeluh merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.
● Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.
● Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.
● Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu Data objektif
● TD 100/70 mmHg HR 110x/menit reguler
● RR 28x/menit napas cepat dan dalam, SpO2 95% Suhu: 38,3°C.
● Pemeriksaan AGD memperlihatkan pH 7,19; pCO 37 mmHg pO2 95 mmHg; HCO3 12 mmol/L; BE -6,3 mEq/L
● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6
● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L;
Cl 94 mmol/L
● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).
● DL Hb 8,6 g/dL, leukosit 21.000, trombosit 170.000, hematokrit 35
● Hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Non Respon.
Keseimbangan cairan meningkat
Kriteria hasil :
● TTV dalam batas normal
● Pulse perifer teraba
● Turgor kulit baik:
kembali dalam 3 detik
● Capillary refill time normal < 2 detik
● Urin output Seimbang
● Kadar elektrolit normal
● Gula Darah
Sewaktu normal (<
200 mg/dl)
●Manajemen Cairan
●Pemantauan Cairan
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat
No Diagnosis Luaran Intervensi
2. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas di tandai dengan
● Hasil EKG Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Non Respon.
● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6
● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L; Cl 94 mmol/L
● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).
Curah jantung meningkat dengan kriteria hasil
● Kekuatan nadi perifer meningkat
● Gambaran EKG Aritmia menurun
● Tekanan darah membaik
● Pengisian kapiler membaik
Manajeman Elektrolit :Hiperkalemia (I.03103)
Observasi
Identifikasi tanda dan gejala peningkatan kadar kalium Identifikasi penyebab
hipernatremia
Monitor irama jantung, frekuensi jantung, dan EKG
Monitor intake dan output cairan
Monitor kadar kalium serum dan atau urin Kolaborasi eliminasi kalium (mis. diuretik atau kayexalate), sesuai indikasi
Kolaborasi pemberian insulin dan glukosa IV, sesuai indikasi
Kolaborasi pemberian kalsium glukonat 10% 10 ml, sesuai indikasi
06
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi keperawatan gawat darurat
06
No Diagnosis Luaran Intervensi
3.
Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan defisit insulin absolut ditandai dengan Data Subjektif● Keluarga mengatakan Pasien sering mengeluh merasa haus, lapar, dan berkemih terutama pada malam hari dalam 6 bulan terakhir.
● Penurunan berat badan sebanyak 7 kg dalam 3 bulan terakhir.
● Ada riwayat kencing manis sejak 2 tahun lalu yang tidak terkontrol.
● Terdapat luka di jempol kaki sejak 2 minggu yang lalu
Data objektif
● Glukosa darah 570 mg/Dl,Keton darah 8.6
● DL Hb 8,6 g/dL, leukosit 21.000, trombosit 170.000, hematokrit 35%
● Pemeriksaan elektrolit memperlihatkan Na 133 mmol/L; K 6.5 mmol/L; Cl 94 mmol/L
● Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan glukosa urine (2+) dan keton urine (2+).
Kadar glukosa dalam darah klien dalam rentang normal dan mengalami kestabilan, dengan kriteria hasil:
● Koordinasi meningkat
● Pusing menurun
● Lelah/lesu menurun
● Rasa lapar menurun
● Hemoglobin terglikosilasi
● Fruktosamin dan Glukosa urin dalam rentang normal
Manajemen Hiperglikemia Observasi
● Monitor kadar glukosa darah
● Monitor intake dan output cairan
● Monitor keton urin, kadar Analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi
Terapeutik
Berikan asupan cairan oral Edukasi
Ajarkan pengelolaan diabetes (mis:
penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan,
penggantian karbohidrat, dan bantuan professional kesehatan Kolaborasi
Kolaborasi pemberian insulin,cairan IV, kalium.
REFERENSI
● Crouch, B., Charters, A., Dawood, M., Bennet, P. (2017). Oxford Handbook of Emergency Nursing. United Kingdom: Oxford Unity Press.
● Curtis, K., Ramsden, C. (2016). Emergency and Trauma Care: For Nurses and Paramedics, 2nd Edition. Australia: Elsevier.
● Cydulka, Rita., Cline, David., MA, O John. (2018). Tintinalli’s Emergency Medicine Manual, 8th Edition. New York: McGraw-Hill Education.
● Emergency Nurses Association (2013). Sheehy’s Manual of Emergency Care (7th ed.). Philadelphia: Elsevier Saunders.
● Howard, P., K., Steinmann, R., A. (2010). Sheehy’s Emergency Nursing Principles and Practice. Missouri: Elsevier.
● Joint British Diabetes Societies (JBDS) for Inpatient Care. (2023). The Management of Diabetic Ketoacidosis in Adults, Revised March 2023. UK: JBDS-IP.
● Kurniati, A., Trisyani, Y., Theresia, S. I. M. (2018). Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana Sheehy, 1st Indonesia Edition.
Singapore: Elsevier.
● KEPMENKES RI NO. HK.01.07/MENKES/603/2020 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA DIABETES MELITUS TIPE 2 DEWASA.
● NANDA International. (2021). NANDA-I Nursing Diagnoses 2021-2023 twelfth edition. New York: Thieme
● NIC. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC) (6th ed.). (G. M. Bulechek, J. M. Dochterman, H. K. Butcher, & C. M. Wagner, Eds.) Missouri: Elsevier Inc.
● Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
● Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
● Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia.
● Tyas, M. D. C. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Keperawatan Kegawatdaruratan & Manajemen Bencana. Jakarta:
BPPSDM Kesehatan, Kemenkes RI.
-THANK YOU-
Any
Question???
Pertanyaan :
● Kaltsum (FG 2):
Bagaimana proses infeksi pada DM dapat menyebabkan KAD?
JAWAB (Rini):
Pasien dengan Diabetes Mellitus (DM) yang mengalami infeksi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami Ketoasidosis Diabetik (KAD). Beberapa faktor yang dapat menjelaskan kaitan antara DM, infeksi, dan KAD adalah sebagai berikut:
Stress Metabolik → Infeksi menyebabkan respons sistemik tubuh yang disebut "stress metabolik". Pada pasien
DM, khususnya DM tipe 1, stress metabolik dapat meningkatkan pelepasan hormon kontra insulin
(Katekolamin, Growth hormon, Kortisol, dan Glukagon) yang dapat meningkatkan produksi glukosa oleh hati
(glukoneogenesis) → Proses glukoneogenesis akan meningkatkan lipolisis dan glikogenolisis → Hal ini dapat
menyebabkan hiperglikemia yang pada akhirnya jika berlanjut akan menyebabkan KAD (mekanisme alurnya
seperti yang sudah dijelaskan kelompok ini pada overview KAD).
Pertanyaan :
● Nena (FG 2):
Terkait algoritma penanganan KAD, apakah semuanya dilakukan atau tidak perlu dilakukan semuanya? Apakah KAD dapat relaps setelah tertangani?
JAWAB (Lina Sulistyawati):
Seperti yang sudah dijelaskan pada PPT kelompok ini, prinsip dari penatalaksanaan KAD sendiri yang paling utama adalah Rehidrasi, selanjutnya koreksi ketidakseimbangan elektrolit (Kalium), koreksi insulin dan yang terakhir bikarbonat. Keempat tatalaksana ini belum tentu harus dilakukan semuanya, tergantung dari hasil laboratorium. Selain ke-4 penatalaksanaan KAD, perlu juga diatasi penyebab atau faktor pencetus dari KAD itu sendiri (contoh pada kasus adalah infeksi pada jempol kaki klien).
Setelah kegawatdaruratan KAD teratasi, biasanya pasien ditempatkan di ruang HCU dengan pemantauan ketat, karena KAD dapat relaps dalam kisaran waktu 2x24 jam setelah serangan KAD yang pertama.
● Pak Chiyar:
Bagaimana tatalaksana Hiperkalemia pada kasus?
JAWAB (Erna):
Pada pasien KAD dengan hiperkalemia dapat dilakukan tatalaksana koreksi insulin, karena insulin dapat
bekerja menurunkan kadar Kalium. Ketika KAD sudah teratasi dan gula darah sudah normal namun pasien
masih hiperkalemia, dapat juga diberikan kombinasi D40% + KCl bolus serta diberikan injeksi Ca Glukonas
(untuk melindungi membran jantung dan mencegah aritmia).