• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PENGKONDISIAN DAN PEMBELAJARAN[1]

N/A
N/A
Kurniyawan Kurniyawan

Academic year: 2024

Membagikan "PROSES PENGKONDISIAN DAN PEMBELAJARAN[1]"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Dosesn Pengampu Aripin Ahmad, S.E., M.Si

(Perilaku Konsumen D3 Manajemen Pemasaran )

Oleh Kelompok 7

1. Tria maela logis 2301071005

2. Elsiva Putri Calista 2301071010

3. Faizal Bahri 2301071018

4. Muhammad Rizky Ramadhani 2301071051

JURUSAN D3 MANAJEMEN PEMSARAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMPUNG 2024

(2)

I. PENDAHULUAN

Pengondisian dan pembelajaran memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumen. Dalam dunia pemasaran, pemahaman yang mendalam mengenai cara konsumen mempelajari, menanggapi, dan beradaptasi terhadap produk atau layanan sangat penting untuk menciptakan strategi pemasaran yang efektif. Setiap konsumen memiliki proses belajar yang unik, dan faktor-faktor eksternal serta internal dapat memengaruhi keputusan pembelian mereka. Pengondisian, baik klasik maupun operan, merupakan konsep kunci yang digunakan dalam memahami proses pembelajaran konsumen dan telah terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perilaku konsumen.

Pengondisian klasik merupakan salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam pemasaran untuk menciptakan asosiasi antara merek dan stimulus yang diinginkan.

Dengan mengaitkan produk atau layanan dengan stimulus tertentu secara berulang, konsumen dapat terbiasa merespons produk tersebut dengan cara yang positif.

Strategi ini sering digunakan dalam iklan yang menonjolkan emosi positif, seperti kebahagiaan atau kenyamanan, yang diharapkan akan melekat pada produk yang diiklankan. Hal ini menciptakan asosiasi otomatis di benak konsumen, di mana mereka akan merasa tertarik untuk membeli produk ketika melihat stimulus tersebut.

Selain pengondisian klasik, pengondisian operan juga merupakan metode yang sangat efektif dalam pemasaran. Metode ini bekerja dengan memperkuat atau mengurangi perilaku tertentu melalui penghargaan atau hukuman. Dalam konteks perilaku konsumen, perusahaan sering menggunakan pengondisian operan dengan

(3)

memberikan insentif seperti diskon atau hadiah untuk mendorong konsumen melakukan pembelian. Sebaliknya, ketidaknyamanan atau penalti dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti pembatalan langganan.

Pembelajaran konsumen tidak hanya terbatas pada pengalaman pribadi mereka, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pengamatan terhadap orang lain. Melalui pembelajaran model, konsumen dapat meniru perilaku orang lain yang dianggap berhasil atau bermanfaat. Dalam strategi pemasaran, hal ini diterapkan dengan menggunakan duta merek atau influencer yang memperlihatkan cara menggunakan produk dengan benar dan memberikan contoh nyata bagaimana produk tersebut dapat memberikan manfaat. Konsumen cenderung meniru perilaku yang menghasilkan konsekuensi positif, sehingga penggunaan model dalam iklan menjadi semakin populer.

Faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pengondisian dan pembelajaran ini mencakup relevansi stimulus, kepopuleran model, dan kekuatan insentif yang diberikan. Stimulus yang relevan dan penguatan yang tepat akan lebih mungkin menciptakan perilaku konsumen yang diinginkan. Misalnya, konsumen yang diberikan pengalaman positif secara konsisten melalui stimulus yang familiar, seperti aroma atau musik yang menyenangkan, cenderung menunjukkan kesetiaan yang lebih tinggi terhadap merek tertentu. Dalam banyak kasus, kombinasi dari pengondisian klasik dan operan dapat menghasilkan strategi pemasaran yang lebih komprehensif.

Pada akhirnya, penerapan konsep pengondisian dan pembelajaran dalam strategi pemasaran memungkinkan perusahaan untuk mempengaruhi perilaku konsumen secara lebih efektif. Dengan menciptakan asosiasi positif dan memberikan insentif yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan tingkat pembelian dan loyalitas pelanggan. Pemahaman yang mendalam tentang bagaimana konsumen belajar dari lingkungan mereka dan dari orang lain sangat penting untuk merancang strategi pemasaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga berkelanjutan.

(4)

II. PEMBAHASAN

A. Proses Pengondisian

Pengondisian merupakan salah satu cara penting dalam membentuk perilaku individu melalui hubungan atau asosiasi dengan stimulus tertentu. Dalam dunia psikologi dan perilaku konsumen, pengondisian digunakan untuk memahami bagaimana respon tertentu dapat dihasilkan dari rangsangan yang awalnya netral. Ketika diterapkan secara konsisten, stimulus tertentu dapat menimbulkan respon otomatis dari individu, baik dalam bentuk tindakan maupun perubahan sikap. Proses ini sering digunakan dalam strategi pemasaran untuk menciptakan respons positif terhadap suatu produk atau layanan.

Terdapat dua jenis utama pengondisian yang sering dibahas, yaitu pengondisian klasik dan pengondisian operan. Pengondisian klasik pertama kali diperkenalkan oleh Ivan Pavlov, seorang ahli fisiologi Rusia, yang menunjukkan bahwa respon alami dapat dipicu oleh stimulus yang sebelumnya netral. Dalam pengondisian klasik, asosiasi antara stimulus netral dan stimulus alami (yang sudah menghasilkan respon otomatis) berulang kali diperkuat hingga akhirnya stimulus netral tersebut juga dapat memicu respon serupa. Contohnya, suara iklan yang menenangkan atau warna logo yang cerah dapat membangkitkan emosi positif pada konsumen.

Pengondisian operan, yang dipopulerkan oleh B.F. Skinner, adalah jenis pengondisian di mana perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang menyertainya.

Dalam proses ini, perilaku yang diinginkan diperkuat melalui pemberian penguatan

(5)

positif, seperti hadiah atau pujian, atau dihindari melalui penguatan negatif, seperti menghilangkan kondisi yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, perilaku yang tidak diinginkan dapat ditekan melalui hukuman atau penghapusan insentif. Pendekatan ini sering digunakan dalam program loyalitas pelanggan atau promosi yang menawarkan diskon setelah pembelian berulang.

Dalam konteks pemasaran, kedua jenis pengondisian ini dapat diintegrasikan untuk mempengaruhi perilaku konsumen secara efektif. Pengondisian klasik digunakan untuk membentuk asosiasi emosional dengan merek, sementara pengondisian operan dapat digunakan untuk mendorong tindakan langsung melalui insentif yang nyata.

Dengan memahami bagaimana pengondisian bekerja, perusahaan dapat merancang strategi yang mempengaruhi kebiasaan dan keputusan pembelian konsumen secara lebih efektif, meningkatkan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

B. Pongdisian Klasik

Pengondisian klasik adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk membentuk perilaku dengan menciptakan asosiasi antara stimulus netral dan respon tertentu yang diinginkan. Dalam konteks pemasaran, pengondisian klasik bertujuan untuk membuat konsumen merespon produk atau layanan dengan cara yang positif melalui stimulus yang sudah familiar atau memiliki konotasi emosional yang menyenangkan. Hal ini melibatkan pengulangan terus-menerus dari stimulus netral, seperti produk atau merek, bersama dengan pengalaman atau gambar yang memicu perasaan bahagia, nyaman, atau aman.

Menurut Potter, proses pengondisian klasik dalam pemasaran melibatkan penciptaan hubungan antara produk dan rangsangan yang menyenangkan dengan cara yang konsisten dan berulang. Dengan mengulang-ulang eksposur ini, konsumen mulai mengaitkan produk dengan perasaan yang positif, yang akhirnya memengaruhi

(6)

keputusan pembelian mereka. Misalnya, iklan yang menampilkan suasana bahagia saat menggunakan suatu produk cenderung membuat konsumen mengasosiasikan produk tersebut dengan kebahagiaan. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak iklan menggunakan musik, visual, dan narasi yang menggugah emosi positif.

Selain itu, pengondisian klasik juga membantu dalam membangun kesetiaan merek.

Ketika konsumen secara berulang-ulang mengalami emosi positif saat terpapar pada merek atau produk tertentu, mereka cenderung mengembangkan ikatan emosional yang lebih kuat terhadap produk tersebut. Ini akan meningkatkan kemungkinan konsumen untuk memilih produk tersebut daripada produk lain yang tidak memiliki asosiasi emosional yang sama. Pengalaman berulang yang menyenangkan dengan produk akan memperkuat hubungan ini dari waktu ke waktu, menjadikan merek tersebut sebagai pilihan utama di benak konsumen.

Aplikasi pengondisian klasik dalam strategi pemasaran terbukti efektif dalam berbagai industri, mulai dari produk konsumen hingga layanan. Merek-merek besar sering memanfaatkan pendekatan ini untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

Dengan cara ini, asosiasi yang dihasilkan tidak hanya menciptakan daya tarik langsung pada produk, tetapi juga membangun persepsi positif yang berlangsung lama di kalangan konsumen, mempengaruhi perilaku dan keputusan pembelian mereka.

C. Pengondisian Operan

Pengondisian operan adalah proses pembelajaran di mana perilaku individu dimodifikasi berdasarkan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut. Dalam pendekatan ini, perilaku sukarela dapat ditingkatkan atau dikurangi melalui penguatan atau hukuman. Penguatan positif diberikan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dengan memberikan hadiah atau insentif, sementara hukuman atau

(7)

penghilangan insentif digunakan untuk mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa individu akan lebih mungkin mengulangi tindakan yang menghasilkan hasil yang menyenangkan dan menghindari tindakan yang menghasilkan konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Menurut Potter, pengondisian operan merupakan alat yang efektif dalam pemasaran untuk mempengaruhi perilaku konsumen. Salah satu bentuk penerapannya adalah program loyalitas yang menawarkan hadiah atau poin kepada pelanggan setiap kali mereka melakukan pembelian. Dengan sistem ini, pelanggan didorong untuk terus membeli produk atau layanan tertentu agar mereka dapat mengumpulkan poin yang bisa ditukarkan dengan diskon atau hadiah lain. Penguatan positif seperti ini secara langsung memotivasi konsumen untuk kembali melakukan pembelian, meningkatkan loyalitas merek.

Di sisi lain, hukuman dalam pengondisian operan bertujuan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Dalam pemasaran, hukuman dapat berupa penghapusan insentif atau diskon ketika konsumen tidak mematuhi aturan program atau tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang diinginkan. Penggunaan hukuman harus hati-hati, karena dapat berdampak negatif pada persepsi konsumen terhadap merek.

Oleh karena itu, sebagian besar strategi pemasaran lebih berfokus pada penguatan positif untuk mendorong perilaku konsumen yang diinginkan daripada menggunakan hukuman yang dapat mengalienasi pelanggan.

D. Pembelajaran Model

Pembelajaran model adalah proses di mana individu mempelajari perilaku baru melalui observasi terhadap perilaku orang lain. Dalam psikologi, konsep ini juga dikenal sebagai pembelajaran observasional atau imitasi. Teori ini menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu harus mengalami sendiri konsekuensi dari suatu

(8)

tindakan untuk belajar dari tindakan tersebut. Sebaliknya, dengan mengamati orang lain dan konsekuensi dari tindakan mereka, individu dapat meniru perilaku yang diinginkan atau menghindari perilaku yang membawa hasil negatif. Proses ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang melihat model perilaku yang diikuti oleh hasil yang mereka anggap menguntungkan.

Dalam konteks pemasaran, pembelajaran model memainkan peran penting dalam mempengaruhi konsumen. Melalui strategi ini, perusahaan dapat memanfaatkan figur publik, influencer, atau duta merek untuk memperkenalkan produk atau layanan mereka kepada khalayak luas. Konsumen cenderung meniru perilaku orang-orang yang mereka kagumi atau percaya, sehingga ketika influencer atau figur publik menunjukkan penggunaan produk tertentu, konsumen cenderung mengikuti jejak mereka. Pendekatan ini efektif karena dapat menciptakan rasa relevansi dan kepercayaan yang kuat antara konsumen dan produk.

Potter menyatakan bahwa individu lebih cenderung meniru perilaku yang dilihatnya mendatangkan konsekuensi positif. Sebaliknya, mereka akan menghindari perilaku yang terlihat menghasilkan konsekuensi negatif. Hal ini sangat penting dalam pemasaran, di mana perusahaan berusaha menampilkan situasi di mana penggunaan produk atau layanan mereka menghasilkan hasil yang diinginkan, seperti kebahagiaan, kemudahan, atau status sosial. Dengan menunjukkan model yang berhasil menggunakan produk dalam konteks positif, perusahaan dapat membangun persepsi positif di benak konsumen.

Penerapan pembelajaran model dalam strategi pemasaran juga sering terlihat melalui penggunaan testimoni atau ulasan produk. Konsumen merasa lebih yakin dalam membuat keputusan pembelian ketika mereka melihat orang lain yang serupa dengan mereka telah berhasil atau puas menggunakan produk tersebut. Hal ini menciptakan rasa validasi sosial, di mana keputusan pembelian mereka didasarkan pada pengalaman orang lain yang mereka anggap relevan atau kredibel. Dengan demikian, strategi pemasaran yang memanfaatkan model ini tidak hanya meningkatkan

(9)

kesadaran akan produk tetapi juga membangun keyakinan konsumen dalam keputusan mereka.

Penggunaan pembelajaran model dalam strategi pemasaran adalah salah satu pendekatan yang semakin populer untuk memengaruhi perilaku konsumen. Melalui teknik ini, perusahaan menggunakan individu atau figur yang dikenal untuk menampilkan cara penggunaan produk atau layanan, sehingga konsumen dapat belajar dari perilaku yang mereka amati. Ini berfungsi tidak hanya untuk memperkenalkan produk, tetapi juga untuk membangun hubungan emosional dengan konsumen. Pengaruh dari peneladanan dapat sangat kuat karena banyak konsumen cenderung meniru apa yang mereka lihat, terutama jika model tersebut adalah figur yang mereka hormati atau percaya.

Berikut adalah beberapa cara di mana pembelajaran model dapat diterapkan dalam strategi pemasaran:

Peneladanan untuk Mempelajari Pola Respons Baru: Menampilkan konsumen yang puas menggunakan produk dalam iklan dapat memotivasi konsumen lain untuk meniru perilaku tersebut. Ketika seorang konsumen melihat seseorang yang serupa dengan mereka memperoleh manfaat dari penggunaan produk, mereka lebih cenderung untuk mencoba produk tersebut sendiri. Hal ini menciptakan efek domino di mana perilaku positif diperkuat melalui observasi.

Mengurangi Perilaku Tidak Diinginkan: Pembelajaran model juga dapat digunakan untuk mengurangi perilaku konsumen yang tidak diinginkan.

Dengan menampilkan contoh dari konsekuensi negatif akibat penggunaan produk yang salah atau tidak efisien, konsumen dapat belajar untuk menghindari kesalahan yang sama. Sebagai contoh, kampanye kesehatan yang menunjukkan efek buruk dari kebiasaan merokok sering menggunakan teknik ini untuk mencegah perilaku tersebut.

(10)

Memfasilitasi Respons: Peneladanan juga dapat memfasilitasi respons yang diinginkan dengan membantu konsumen memahami cara menggunakan produk secara efektif. Ketika konsumen melihat model menggunakan produk dengan benar, mereka mendapatkan petunjuk yang jelas tentang cara memaksimalkan manfaat produk tersebut. Ini sangat penting terutama untuk produk-produk yang membutuhkan penjelasan atau panduan lebih lanjut mengenai penggunaannya.

Penerapan strategi ini dalam pemasaran bisa sangat efektif karena dapat mempercepat proses pembelajaran konsumen dan menciptakan asosiasi positif yang kuat antara produk dan hasil yang diinginkan. Konsumen tidak hanya memahami manfaat produk, tetapi juga termotivasi untuk menggunakannya karena mereka melihat contoh yang nyata dan relevan dalam kehidupan mereka sendiri. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan loyalitas konsumen dan meningkatkan penjualan secara signifikan.

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Peneladanan

Keefektifan peneladanan dalam strategi pemasaran sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang memainkan peran penting dalam memengaruhi perilaku konsumen.

Faktor-faktor ini tidak hanya membantu memastikan bahwa model yang digunakan berhasil memengaruhi audiens target, tetapi juga memaksimalkan potensi peneladanan dalam menciptakan perubahan perilaku yang diinginkan.

Salah satu faktor utama adalah relevansi model. Ketika model atau individu yang ditampilkan memiliki kesamaan karakteristik dengan target audiens, baik dari segi pengalaman, latar belakang, atau demografi, konsumen lebih cenderung meniru perilaku tersebut. Peniruan akan lebih mungkin terjadi jika audiens merasa terhubung atau dapat mengidentifikasi dirinya dengan model yang ditampilkan. Oleh karena itu,

(11)

memilih model yang relevan dengan audiens merupakan strategi penting dalam meningkatkan keefektifan peneladanan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kepopuleran dan kredibilitas model.

Model yang dikenal luas dan dianggap memiliki reputasi yang baik lebih mudah dipercaya oleh audiens. Influencer atau tokoh publik yang memiliki pengaruh besar di media sosial, misalnya, dapat memengaruhi pengikutnya untuk meniru perilaku mereka, terutama jika mereka dipandang sebagai otoritas dalam bidang tertentu.

Kredibilitas ini meningkatkan efektivitas peneladanan karena audiens akan lebih percaya pada manfaat produk yang ditampilkan oleh model.

Selain itu, kualitas konten yang disajikan juga mempengaruhi keefektifan peneladanan. Konten yang dirancang dengan baik—menarik, informatif, dan menyentuh emosi audiens—lebih mungkin untuk meninggalkan dampak jangka panjang. Presentasi yang memikat tidak hanya membuat audiens memperhatikan, tetapi juga mendorong mereka untuk terlibat secara emosional dan memotivasi mereka untuk meniru perilaku yang ditampilkan.

Faktor lain yang berperan adalah ketersediaan sumber daya, terutama aksesibilitas terhadap produk atau layanan yang dicontohkan oleh model. Jika audiens merasa bahwa produk tersebut mudah didapat atau dapat diakses dengan harga terjangkau, mereka lebih mungkin untuk mengikuti tindakan model. Ketersediaan ini mengurangi hambatan bagi konsumen untuk meniru perilaku yang diinginkan dan memfasilitasi proses pengambilan keputusan.

penguatan positif menjadi salah satu elemen kunci yang dapat meningkatkan efektivitas peneladanan. Ketika peneladanan disertai dengan imbalan atau insentif, seperti diskon atau hadiah, audiens akan lebih termotivasi untuk mengikuti perilaku tersebut. Penguatan positif menciptakan asosiasi yang menyenangkan antara tindakan dan hasil yang diinginkan, yang pada akhirnya memperkuat niat konsumen untuk terlibat dengan produk atau layanan.

(12)

F. Implikasi Peneladaan

Implikasi peneladanan dalam pemasaran memberikan berbagai peluang strategis bagi perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan konsumen. Melalui peneladanan, konsumen dapat melihat bagaimana produk digunakan oleh orang lain, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan pembelian mereka. Penggunaan teknik peneladanan yang tepat dalam pemasaran dapat menghasilkan dampak yang signifikan pada loyalitas pelanggan, kesadaran merek, dan pengembangan komunitas.

Strategi pemasaran berbasis influencer adalah salah satu contoh penerapan peneladanan yang efektif. Dengan memanfaatkan influencer yang relevan dan memiliki kredibilitas tinggi, merek dapat menciptakan asosiasi positif antara produk mereka dan konsumen. Influencer yang menunjukkan penggunaan produk secara autentik akan lebih mudah diikuti oleh audiens mereka, karena konsumen cenderung mempercayai orang yang mereka anggap sebagai panutan atau figur otoritas di bidang tertentu.

, peneladanan juga dapat berfungsi sebagai alat pendidikan konsumen. Misalnya, tutorial video yang menunjukkan cara menggunakan produk secara detail dapat membantu konsumen memahami manfaat produk secara lebih baik. Peneladanan seperti ini tidak hanya membantu konsumen merasa lebih percaya diri dalam menggunakan produk, tetapi juga meningkatkan minat mereka untuk mencoba produk tersebut.Pemasaran berbasis komunitas merupakan strategi lain yang dapat memanfaatkan peneladanan. Pengembangan komunitas memungkinkan pelanggan untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang produk, menciptakan peneladanan alami di antara anggota. Testimoni dari konsumen yang puas dapat

(13)

berfungsi sebagai model bagi anggota lain, mendorong mereka untuk menggunakan produk yang sama dan memperoleh hasil serupa.

Iklan kreatif juga bisa memanfaatkan peneladanan untuk memperkuat pesan merek.

Dengan menampilkan konsumen biasa yang berhasil mendapatkan manfaat dari produk, iklan menjadi lebih mudah dihubungkan dengan pengalaman audiens.

Peneladanan semacam ini membuat konsumen merasa bahwa mereka juga dapat mencapai hasil serupa, sehingga meningkatkan efektivitas iklan dalam mempengaruhi perilaku.peneladanan dapat digunakan dalam strategi loyalitas untuk memperkuat keterlibatan pelanggan. Menampilkan kisah sukses pelanggan yang berhasil meraih manfaat melalui program loyalitas dapat mendorong konsumen lain untuk lebih terlibat. Program yang memperkuat peneladanan dengan memberikan penghargaan atau insentif juga meningkatkan peluang keterlibatan konsumen dalam jangka panjang.

(14)

KESIMPULAN

proses pengondisian dan pembelajaran memainkan peran krusial dalam membentuk perilaku konsumen, terutama dalam konteks pemasaran. Pengondisian klasik dan operan dapat digunakan untuk menciptakan asosiasi yang kuat antara produk dan emosi konsumen, serta memperkuat perilaku yang diinginkan melalui penguatan positif. Melalui strategi ini, pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen secara efektif, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, pembelajaran model memperluas peluang pemasaran dengan menunjukkan contoh nyata yang dapat diikuti oleh konsumen. Penggunaan model seperti influencer atau konsumen nyata yang menunjukkan cara efektif menggunakan produk, memungkinkan perusahaan untuk mendidik dan memotivasi audiens dengan cara yang lebih menarik dan relevan. Peneladanan ini membantu membangun hubungan yang lebih mendalam antara merek dan konsumen, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan loyalitas.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, strategi pemasaran harus seimbang antara memberikan motivasi eksternal, seperti diskon atau penghargaan, dengan menawarkan pengalaman yang memberikan nilai intrinsik bagi konsumen. Dengan demikian, konsumen tidak hanya tertarik oleh manfaat langsung, tetapi juga oleh pengalaman keseluruhan yang ditawarkan produk atau layanan, sehingga mendorong keterlibatan jangka panjang dan kepercayaan pada mere

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Peter, J. P., & Olson, J. C. (2014). Perilaku konsumen dan strategi pemasaran (Edisi ke-9). Salemba Empat.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil temuan adalah Strategi pemasaran khususnya pemasaran produk tabungan yang diterapkan oleh PT.Bank Mandiri meliputi beberapa strategi, yakni strategi jemput

  (Studi Eksploratif Kualitatif Mengenai Perubahan Pola Perilaku Konsumen Turindo Terhadap Strategi Komunikasi Pemasaran Turindo Tour &

Penelitian ini mengetengahkan dua masalah, yakni: (1) bagaimana strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan Browcyl dalam meningkatkan jumlah konsumen di Kota

Strategi pembelajaran adalah pola-pola umum kegiatan dosen - mahasiswa dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan mempelajari

Setelah mempelajari mata kuliah ini, maka mahasiswa diharapkan memahami berbagai konsep mengenai peranan pemasaran dalam membangun kepuasan konsumen, strategi

b.Konsep yang bisa diterapkan dengan bantuan dari framework dynamic of CRM dan melakukan strategi CRM dengan sistem rekomendasi baru, dari strategi CRM tersebut maka

Berhasil tidaknya suatu perusahaan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen tergantung kepada strategi pemasaran yang diterapkan oleh perusahaan yang bersangkutan.Peranan

3.6 STRATEGI PEMASARAN PENGEMBANGAN PRODUK Untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin variatif, pihak developer akan membuat gagasan-gagasan baru untuk desain rumah yang sedang