Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 1 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 P U T U S A N
Nomor 1003 K/PID/2015
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara pidana dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa :
Nama : NENI SANITRA, S.H., M.Kn;
Tempat Lahir : Bukit Tinggi;
Umur / Tanggal Lahir : 45 tahun/13 Oktober 1968;
Jenis Kelamin : Laki-laki;
Kebangsaan : Indonesia;
Tempat Tinggal : Jalan Teratai, Gg. Bunga, Nomor 11, RT.002/RW.002, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Sukajadi ;
Agama : Islam;
Pekerjaan : Notaris;
Terdakwa berada di luar tahanan;
Yang diajukan di muka persidangan Pengadilan Negeri Pekanbaru, karena didakwa:
Primair:
Bahwa ia Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, pada tanggal 30 Maret 2011 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2011 bertempat di Kantor Terdakwa di Jalan Nangka/Tuanku Tambusai Kota Pekanbaru atau setidak-tidaknya pada suatu tempat dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Pekanbaru, membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, Pemalsuan surat jika dilakukan terhadap Akta-Akta Otentik yang dilakukan Terdakwa dengan cara:
Berawal pada bulan Maret tahun 2011, PT. Bonita Indah diundang untuk mengikuti tender pengadaan 210 (Dua ratus sepuluh) unit mobil ringan tanpa pengemudi yang akan disewakan ke PT. Chevron Pasifik Indonesia, setelah dapat undangan tersebut, saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT.
Bonita Indah langsung mengadakan pertemuan untuk melakukan kerjasama dengan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean untuk mengikuti
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 2 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 tender di Chevron dan akhirnya kesepakatan antara saksi Daniel Freddy Sinambela, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean dilakukan di Kantor Notaris Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, di Jalan Nangkal Tuanku Tambusai Kota Pekanbaru, dimana pertemuan tersebut saksi Daniel Freddy Sinambela, saksi Mangapul Hutahaean serta saksi Bonar Saragih menjelaskan maksud dan tujuan untuk ikut tender pengadaan di Chevron, lalu dari hasil pertemuan tersebut, Terdakwa membuat doslag/draf perjanjian kerjasama (minuta Akta Nomor 149) yang beberapa pasal perjanjian kerjasama, diatur diantara lain pada:
• Pasal 2 berbunyi:
Untuk keperluan kerjasama ini Pihak Pertama menyediakan Perusahaan, segala administrasi dan izin-izin yang dimiliki Pihak Pertama untuk melaksanakan kontrak tersebut, sedangkan Pihak Kedua memasukkan/
menyediakan modal.
• Pasal 4 berbunyi:
Kerjasama ini diurus/dipimpin oleh Pihak Pertama sebagai pelaksana.
• Pasal 6 berbunyi:
Pengurusan dan tanggung jawab mengenai usaha kerjasama ini dilakukan oleh Pihak Pertama sebagai penanggung jawab administrasi management perusahaan.
Pihak Pertama wajib mengadakan pembukuan keuangan dalam rangka kerjasama ini.
Pihak Pertama wajib dan terikat untuk memberikan laporan per bulan tentang keuangan usaha ini secara tertulis kepada Pihak Kedua atas usaha yang dilakukannya tersebut.
• Pasal 7 berbunyi:
Sebagai imbalan jasa/kontra prestasi atas kerjasama ini, Pihak Kedua berhak memperoleh imbalan jasa/fee berupa 4 (empat) unit kendaraan bermotor roda 4 (empat) berbagai jenis type yang diserahkan setelah kontrak berakhir.
Bilamana ada perpanjangan kontrak/addendum kontrak, maka hasil dari perpanjangan kontrak atas 4 (empat) unit mobil tersebut sepenuhnya menjadi milik Pihak Kedua.
Selain mendapat imbalan jasa/fee tersebut di atas, Pihak Pertama sebagai pelaksana/selaku Direksi berhak mendapat gaji sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulan selama kontrak berjalan.
• Pasal 9 berbunyi:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 3 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Apabila ternyata Pihak Pertama di dalam melaksanakan pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan yang mengakibatkan adanya teguran, sanksi dan/
atau pembebanan denda oleh pihak bouwheer, maka segala akibat yang timbul sehubungan dengan keterlambatan tersebut merupakan tanggung jawab dan wajib dipikul oleh Pihak Kedua sendiri.
Pihak Kedua dengan ini (seberapa perlu dengan surat kuasa tersendiri) diberi kuasa penuh dengan hak substitusi oleh Pihak Pertama dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut dan untuk keperluan itu melakukan segala tindakan yang dianggap perlu dan berguna untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan pekerjaan tersebut.
Setelah doslag/draf perjanjian kerjasama selesai dibuat oleh Terdakwa, lalu kemudian Terdakwa menyerahkan draft tersebut kepada saksi Daniel Freddy Sinambela sebagai Pihak Pertama, sedangkan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean sebagai Pihak Kedua, untuk dibaca dan dipelajari, selanjutnya para saksi membawa pulang draft tersebut dan ketika saksi Daniel Freddy Sinambela membaca dan mempelajari draf perjanjian kerjasama tersebut, ternyata dalam Pasal 7 disebutkan, bahwa yang menerima imbalan jasa fee berupa 4 (empat) unit mobil di akhir pekerjaan dan fee berupa uang sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulannya adalah Pihak Kedua, padahal seharusnya yang menerima adalah Pihak Pertama, sehingga saksi Daniel Freddy Sinambela langsung menelpon Terdakwa, lalu mengatakan bahwa pada Pasal 7 draft minuta Akta Nomor 149 terdapat kekeliruan, tolong dicek kembali, yang seharusnya Pihak Pertama yang mendapatkan Fee berupa uang dan 4 (empat) unit mobil dan pada saat itu Terdakwa mengatakan telah terjadi kekeliruan dalam pengetikan draft minuta Akta No.149 tersebut, lalu saksi Daniel Freddy Sinambela langsung meminta Terdakwa untuk memperbaiki kalimat Pihak Kedua menjadi Pihak Pertama, dan untuk perubahan kalimat dalam Pasal 7 tersebut, telah diberitahukan dan disetujui oleh saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahaean sebagai Pihak Kedua.
Bahwa setelah draf minuta Akta No.149 diperbaiki, Terdakwa langsung membuat Minuta Akta No.149, dengan bunyi Pasal 7 yang telah dirubah sesuai permintaan saksi Daniel Freddy Sinambela dan pada tanggal 30 Maret 2011, Minuta Akta No.149 tersebut akhirnya diparaf dan ditandatangani oleh saksi Daniel Freddy Sinambela (Pihak Pertama), saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean (Pihak Kedua), namun Terdakwa belum menyerahkan salinan Minuta Akta No.149 kepada saksi Daniel Freddy Sinambela, dengan alasan salinan Akta belum selesai dibuat. Ternyata tanpa sepengetahuan saksi
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 4 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Daniel Freddy Sinambela sebagai Pihak Pertama, pada Pasal 4, Pasal 6 dan Pasal 9 yang pada awalnya disebutkan Pihak Pertama telah berubah menjadi Pihak Kedua, dimana Terdakwa memerintahkan saksi Febriani Eka Putri untuk merubah dengan cara Pihak Pertama dalam Pasal 4, 6, dan 9 dihapus dengan menggunakan penghapus kemudian diketik ulang menggunakan mesin ketik menjadi Pihak Kedua dan alasan perubahan tersebut Terdakwa lakukan untuk menyesuaikan perubahan pada Pasal 7, yang ternyata perubahan pada Pasal 7 tersebut juga Terdakwa lakukan dengan menggunakan mesin ketik, selain itu Terdakwa juga ada melakukan pencoretan pada Pasal 6.
Bahwa tanpa mengetahui adanya perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa, sesuai Pasal 4 Minuta Akta No.149 saksi Poltak Sinambela yang merupakan staff saksi Daniel Freddy Sinambela pada PT. Bonita Indah memasukkan penawaran ke PT. Chevron Pasifik Indonesia, sesuai perjanjian Pihak Kedua yakni saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean sebagai penyandang dana menyetor uang berupa jaminan penawaran dalam bentuk Deposito pada Bank Niaga sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
Dan setelah pelaksanaan penawaran tender, ternyata PT. Bonita Indah malah bersaing dengan PT. Bosar dan PT. Alam Wisesa, yang merupakan perusahaan milik saksi Bonar Saragih, dimana sebelum pengumuman pemenang lelang, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean meminta saksi Daniel Freddy Sinambela dari PT Bonita Indah untuk mundur dari pengadaan PT Chevron Pasifik Indonesia tersebut, akan tetapi permintaan itu tidak dipenuhi oleh saksi Daniel Freddy Sinambela, sehingga tanpa sepengetahuan saksi Daniel Freddy Sinambela, pada tanggal 5 Mei 2011 dengan mengatasnamakan PT. Bonita lndah, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean mengirimkan surat pengunduran diri dari kontrak No.
781867 ke PT Chevron Pasific Indonesia, namun PT Chevron Pasifik Indonesia mengkonfirmasikan kepada saksi Daniel Freddy Sinambela tentang surat pengunduran diri tersebut, lalu pada tanggal 6 Mei 2011 saksi Daniel Freddy Sinambela langsung mengirim surat pernyataan sanggup dan mampu untuk pelaksanaan pekerjaan jasa-jasa penyediaan kendaraan ringan tanpa jasa pengemudi No.C781867 kepada PT Chevron Pasifik Indonesia, dan pada tanggal 6 Mei 2011 tersebut dinyatakan bahwa PT. Bonita Indah sebagai pemenang penawaran nomor satu terendah.
Bahwa pada tanggal 6 Mei 2011, saksi Bonar Saragih kembali meminta saksi Daniel Freddy Sinambela untuk mundur dalam tender namun permintaan itu ditolak oleh saksi Daniel Freddy Sinambela mengingat berdampak pada
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 5 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 kredibilitas PT. Bonita Indah untuk tender berikutnya, dan di dalam perjanjian tidak mencantumkan jika PT. Bonita Indah menang tender harus mundur, akan tetapi ternyata sebelum pengumuman pemenang lelang, pada tanggal 12 April 2011 saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menarik uang jaminan penawaran PT. Bonita Indah yang ada di Bank Niaga tersebut, sehingga untuk bertahan dalam pengajuan tender, PT. Bonita Indah memasukkan uang jaminan pengganti yang telah ditarik oleh saksi Bonar Saragih sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), karena kecewa terhadap saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur yang dianggap wanpretasi tidak mau mundur dari lelang PT. Chevron Pasifik Indonesia, kemudian pada tanggal 16 September 2011 saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menuntut PT. Bonita Indah secara Perdata.
Bahwa pada saat proses persidangan perdata di Pengadilan Negeri Pekanbaru, dalam agenda pembuktian karena belum mendapatkan salinan Akta Nomor 149, tanggal 30 Maret 2011, saksi Daniel Freddy Sinambrela selaku Direktur PT. Bonita Indah menggunakan draft minute Akta No.149 tanggal 30 Maret 2011 sebagai alat bukti surat, sedangkan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menggunakan salinan Akta Notaris Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011.
Pada saat masing-masing pihak memperlihatkan kepada Majelis Hakim bukti surat, ternyata antara salinan Akta Notaris Nomor 149, tanggal 30 Maret 2011 milik saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahaean, dan draft minuta Akta Nomor 149 milik saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT. Bonita Indah terdapat perbedaan pada Pasal 4, 6 dan 9. Setelah saksi Daniel Freddy Sinambela mengetahui adanya perbedaan pada Pasal 4, 6, dan 9, lalu saksi Daniel Freddy Sinambela mendatangi Terdakwa untuk melihat kembali minuta Akta asli Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011, setelah Terdakwa memberikan Asli Minuta Akta No.149 kepada saksi Daniel Freddy Sinambela, ternyata saksi Daniel Freddy Sinambela melihat di surat Asli Minuta Akta Nomor 149, di dalam beberapa pasal terdapat perubahan yaitu adanya coretan dan penghapusan kalimat dengan ditindas, kemudian diketik kembali dengan mesin ketik manual, serta ada pasal yang dibuang tanpa sepengetahuan saksi Daniel Freddy Sinambela selaku pihak pertama, dimana perubahan tersebut dilakukan Terdakwa diantaranya:
Pasal 4 jadi berbunyi:
Kerjasama ini diurus/dipimpin oleh Pihak Kedua sebagai pelaksana untuk kontrak jasa-jasa kendaraan ringan tanpa pengemudi Nomor 781867.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 6 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015
Pasal 6 jadi berbunyi:
Pengurusan dan tanggung jawab mengenai usaha kerjasama ini dilakukan oleh Pihak Pertama sebagai penanggung jawab administrasi management perusahaan.
Pihak Kedua wajib mengadakan pembukuan keuangan dalam rangka kerjasama ini.
Pasal 7 berbunyi:
Sebagai imbalan jasa/kontra prestasi atas kerjasama ini, Pihak Pertama berhak memperoleh imbalan jasa/fee berupa 4 (empat) unit kendaraan bermotor roda 4 (empat) berbagai jenis type yang diserahkan setelah kontrak berakhir.
Bilamana ada perpanjangan kontrak/addendum kontrak, maka hasil dari perpanjangan kontrak atas 4 (empat) unit mobil tersebut sepenuhnya menjadi milik Pihak Pertama.
Selain mendapat imbalan jasa/fee tersebut di atas, Pihak Pertama sebagai pelaksana/selaku Direksi berhak mendapat gaji sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulan selama kontrak berjalan.
Pasal 9 berbunyi:
Apabila ternyata Pihak Kedua di dalam/telah melaksanakan pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan yang mengakibatkan adanya teguran, sanksi dan/
atau pembebanan denda oleh pihak bouwheer, maka segala akibat yang timbul sehubungan dengan keterlambatan tersebut merupakan tanggung jawab dan wajib dipikul oleh Pihak Kedua sendiri.
Pihak Kedua dengan ini (seberapa perlu dengan surat kuasa tersendiri) diberi kuasa penuh dengan hak substitusi oleh Pihak Pertama dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut dan untuk keperluan itu melakukan segala tindakan yang dianggap perlu dan berguna untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan pekerjaan tersebut.
Ahli Pidana Prof. DR. ISMANSYAH, S.H., M.H., menerangkan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa dalam suatu Akta autentik harus memiliki syarat-syarat berdasarkan ketentuan undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Pasal 50 dan Pasal 51 Ayat (2) dan (3) tentang Jabatan Notaris. Sehingga perbuatan Terdakwa dalam hal merubah Minuta Akta Nomor 149 yang merupakan Akta Autentik tanpa melalui ketentuan Undang-undang atau pedoman-pedoman untuk merubah Akta Autentik adalah suatu yang tidak benar bilamana hal itu dilakukan maka Akta Autentik itu menjadi tidak sah atau tidak dapat dipergunakan lagi sebagai Akta Autentik yang mempunyai kekuatan mengikat dan disinilah syarat-syarat pemalsuan Akta Autentik terpenuhi dimana
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 7 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 prinsip-prinsip untuk membuktikan pemalsuan surat yakni pemalsuan materil dan pemalsuan intelektual telah terpenuhi dan perubahan dapat menimbulkan kerugian.
Berdasarkan keterangan Ahli Kenotariatan Dr. Syahril Syofyan, S.H.
M.Kn, bahwa apabila para pihak belum sepakat dengan ada kata-kata atau kalimat yang tercantum dalam minuta maka notaris dalam hal ini Terdakwa wajib melakukan pembetulan atau renvoi pada minuta Akta tersebut sampai draft minuta tersebut dirasakan sempurna dan ditandatangani oleh para pihak, saksi dan Notaris, dimana perubahan tersebut harus dilakukan sebagai berikut:
Notaris harus merenvoi (penunjukan) terhadap anak kalimat yang belum sempurna menurut para pihak dan anak kalimat yang belum sempurna tersebut harus dicoret dengan tertib dan tetap masih bisa dibaca kemudian dibuat anak kalimat yang benar pada bagian sisi kiri minuta Akta yang kosong dan setelah ditulis/diganti kemudian wajib diparaf oleh para pihak, saksi-saksi dan notaris.
Apabila perubahan itu dilakukan setelah penandatanganan maka perubahan tersebut dianggap tidak sah.
Apabila anak kalimat yang dicoret kemudian diganti begitu saja dengan metoda penghapusan, pengetikan tindih maka perubahan tersebut tidak sah dan melawan hukum kenotariatan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Kenotariatan.
Apabila perubahan tersebut tanpa diketahui oleh para pihak atau salah satu pihak kemudian dijadikan salinan Akta maka Akta tersebut mengandung unsur kepalsuan sesuai dengan Pasal 263 KUHP.
Notaris berwenang membetulkan kesalahan tulis atau kesalahan ketik pada minuta Akta yang telah ditandatangani para pihak dan pembetulan dilakukan dengan cara membuat Berita Acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada minuta Akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor Akta berita acara pembetulan dan berita acara pembetulan tersebut wajib disampaikan kepada para pihak.
Bahwa perubahan yang dilakukan Terdakwa dalam Pasal 4, 6, 7 dan Pasal 9 pada minuta Akta No.149 tidak sesuai dengan aturan yang diatur dalam Undang-Undang No.30 tahun 2004 pada Pasal 48, 49, 50 dan 51 sehingga salinan Akta notaris yang dibuat dan mengacu kepada minuta Akta yang telah diperbaiki tidak sesuai dengan prosedur atau dengan cara yang tidak benar maka salinan Akta tersebut dinyatakan tidak SAH.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 8 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Bahwa terhadap perbuatan Terdakwa tersebut saksi Daniel Freddy Sinambela selaku direktur PT. Bonita Indah telah melaporkan Terdakwa kepada Majelis Perwakilan Daerah Notaris dan telah dilakukan sidang dengan putusan, menyatakan pengaduan pelapor Daniel Freddy Sinambela dapat diterima;
menghukum Terdakwa Neni Sanitra, S.H., M.Kn, dengan teguran Lisan karena telah menghapus, menindih dan menggantinya dengan yang lain terhadap Pasal 4, 6, 7 dan 9 Akta Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011, sehingga Terdakwa dinyatakan telah melanggar Pasal 48 Ayat (1) Undang-Undang No.30 Tahun 2004 yaitu: Isi Akta tidak boleh diubah atau ditambah, baik berupa penulisan tindih, penyisipan, pencoretan, atau penghapusan dan menggantinya dengan yang lain.
Akibat perbuatan Terdakwa merubah isi Akta Nomor 149 tersebut sehingga keadaannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya PT. Bonita Indah kalah dalam sidang perdata dan diwajibkan membayar ganti rugi sebesar Rp1.300.000.000,00 (satu milyar tiga ratus juta rupiah) dan 4 (empat) unit mobil milik PT. Bonita Indah berupa 1 (satu) unit mobil Toyota Fortuner dan 3 (tiga) unit mobil Mitsubishi Pajero Sport disita sebagai jaminan sehingga tidak dapat dioperasikan lagi dan saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT. Bonita Indah harus membayar cicilan 4 (empat) unit kendaraan tersebut setiap bulannya.
Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pidana melanggar Pasal 264 ayat (1) KUHP.
Subsidiair:
Bahwa ia Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, pada sekira tanggal 30 Maret 2011 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2011 bertempat di Kantor Terdakwa di Jalan Nangka Kota Pekanbaru atau setidak- tidaknya pada suatu tempat dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Pekanbaru, membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, yang dilakukan Terdakwa dengan cara:
Berawal pada bulan Maret tahun 2011 PT. Bonita Indah diundang untuk mengikuti tender pengadaan 210 (dua ratus sepuluh) unit mobil ringan tanpa pengemudi yang akan disewakan ke PT. Chevron Pasifik Indonesia, setelah dapat undangan tersebut, saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 9 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Bonita Indah langsung mengadakan pertemuan untuk melakukan kerjasama dengan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean untuk mengikuti tender di Chevron dan akhirnya kesepakatan antara saksi Daniel Freddy Sinambela, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean dilakukan di Kantor Notaris Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, di Jalan Nangkal Tuanku Tambusai Kola Pekanbaru, dimana pertemuan tersebut saksi Daniel Freddy Sinambela, saksi Mangapul Hutahaean serta saksi Bonar Saragih menjelaskan maksud dan tujuan untuk ikut tender pengadaan di Chevron, lalu dari hasil pertemuan tersebut, Terdakwa membuat doslag/draf perjanjian kerjasama (minuta Akta Nomor 149) yang beberapa pasal perjanjian kerjasama, diatur diantara lain pada:
Pasal 2 berbunyi:
Untuk keperluan kerjasama ini Pihak Pertama menyediakan Perusahaan, segala administrasi dan izin-izin yang dimiliki Pihak Pertama untuk melaksanakan kontrak tersebut, sedangkan Pihak Kedua memasukkan/
menyediakan modal.
Pasal 4 berbunyi:
Kerjasama ini diurus/dipimpin oleh Pihak Pertama sebagai pelaksana.
Pasal 6 berbunyi:
Pengurusan dan tanggung jawab mengenai usaha kerjasama ini dilakukan oleh Pihak Pertama sebagai penanggung jawab administrasi management perusahaan.
Pihak Pertama wajib mengadakan pembukuan keuangan dalam rangka kerjasama ini.
Pihak Pertama wajib dan terikat untuk memberikan laporan per bulan tentang keuangan usaha ini secara tertulis kepada Pihak Kedua atas usaha yang dilakukannya tersebut.
Pasal 7 berbunyi:
Sebagai imbalan jasa/kontra prestasi atas kerjasama ini, Pihak Kedua berhak memperoleh imbalan jasa/fee berupa 4 (empat) unit kendaraan bermotor roda 4 (empat) berbagai jenis type yang diserahkan setelah kontrak berakhir.
Bilamana ada perpanjangan kontrak/addendum kontrak, maka hasil dari perpanjangan kontrak atas 4 (empat) unit mobil tersebut sepenuhnya menjadi milik Pihak Kedua.
Selain mendapat imbalan jasa/fee tersebut di atas, Pihak Pertama sebagai pelaksana/selaku Direksi berhak mendapat gaji sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulan selama kontrak berjalan.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 10 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015
Pasal 9 berbunyi:
Apabila ternyata Pihak Pertama di dalam melaksanakan pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan yang mengakibatkan adanya teguran, sanksi dan atau pembebanan denda oleh pihak bouwheer, maka segala akibat yang timbul sehubungan dengan keterlambatan tersebut merupakan tanggung jawab dan wajib dipikul oleh Pihak Kedua sendiri. Pihak Kedua dengan ini (seberapa perlu dengan surat kuasa tersendiri) diberi kuasa penuh dengan hak substitusi oleh Pihak Pertama dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut dan untuk keperluan itu melakukan segala tindakan yang dianggap perlu dan berguna untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan pekerjaan tersebut.
Setelah doslag/draf perjanjian kerjasama selesai dibuat oleh Terdakwa, lalu kemudian Terdakwa menyerahkan draft tersebut kepada saksi Daniel Freddy Sinambela sebagai Pihak Pertama, sedangkan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean sebagai Pihak Kedua, untuk dibaca dan dipelajari, selanjutnya para saksi membawa pulang draft tersebut dan ketika saksi Daniel Freddy Sinambela membaca dan mempelajari draf perjanjian kerjasama tersebut, ternyata dalam Pasal 7 disebutkan, bahwa yang menerima imbalan jasa fee berupa 4 (empat) unit mobil diakhir pekerjaan dan fee berupa uang sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulannya adalah Pihak Kedua, padahal seharusnya yang menerima adalah Pihak Pertama, sehingga saksi Daniel Freddy Sinambela langsung menelpon Terdakwa, lalu mengatakan bahwa “pada pasal 7 draft minuta Akta Nomor 149 terdapat kekeliruan, tolong dicek kembali, yang seharusnya Pihak Pertama yang mendapatkan Fee berupa uang dan 4 (empat) unit mobil” dan pada saat itu Terdakwa mengatakan telah terjadi kekeliruan dalam pengetikan draft minuta Akta No.149 tersebut, lalu saksi Daniel Freddy Sinambela langsung meminta Terdakwa untuk memperbaiki kalimat Pihak Kedua menjadi Pihak Pertama, dan untuk perubahan kalimat dalam Pasal 7 tersebut, telah diberitahukan dan disetujui oleh saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahaean sebagai Pihak Kedua.
Bahwa setelah draf minuta Akta No.149 diperbaiki, Terdakwa langsung membuat Minuta Akta No.149, dengan bunyi Pasal 7 yang telah dirubah sesuai permintaan saksi Daniel Freddy Sinambela dan pada tanggal 30 Maret 2011 Minuta Akta No.149 tersebut akhirnya diparaf dan ditandatangani oleh kepada saksi Daniel Freddy Sinambela (Pihak Pertama), saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean (Pihak Kedua), namun Terdakwa belum menyerahkan salinan Minuta Akta No. 149 kepada saksi Daniel Freddy Sinambela, dengan alasan salinan Akta belum selesai dibuat. Ternyata tanpa sepengetahuan saksi
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 11 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Daniel Freddy Sinambela sebagai Pihak Pertama, pada Pasal 4, Pasal 6 dan Pasal 9 yang pada awalnya disebutkan Pihak Pertama telah berubah menjadi Pihak Kedua, dimana Terdakwa memerintahkan saksi Febriani Eka Putri untuk merubah dengan cara Pihak Pertama dalam Pasal 4, 6, dan 9 dihapus dengan menggunakan penghapus kemudian diketik ulang menggunakan mesin ketik menjadi Pihak Kedua dan alasan perubahan tersebut Terdakwa lakukan untuk menyesuaikan perubahan pada Pasal 7, yang ternyata perubahan pada Pasal 7 tersebut juga Terdakwa lakukan dengan menggunakan mesin ketik, selain itu Terdakwa juga ada melakukan pencoretan pada Pasal 6.
Bahwa tanpa mengetahui adanya perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa, sesuai Pasal 4 Minuta Akta No.149 saksi Poltak Sinambela yang merupakan staff saksi Daniel Freddy Sinambela pada PT. Bonita Indah memasukkan penawaran ke PT. Chevron Pasifik Indonesia, sesuai perjanjian Pihak Kedua yakni saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean sebagai penyandang dana menyetor uang berupa jaminan penawaran dalam bentuk Deposito pada Bank Niaga sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
Dan setelah pelaksanaan penawaran tender, ternyata PT Bonita Indah malah bersaing dengan PT Bosar dan PT Alam Wisesa, yang merupakan perusahaan milik saksi Bonar Saragih, dimana sebelum pengumuman pemenang lelang, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean meminta saksi Daniel Freddy Sinambela dari PT Bonita Indah untuk mundur dari pengadaan PT Chevron Pasifik Indonesia tersebut, akan tetapi permintaan itu tidak dipenuhi oleh saksi Daniel Freddy Sinambela, sehingga tanpa sepengetahuan saksi Daniel Freddy Sinambela, pada tanggal 5 Mei 2011 dengan mengatasnamakan PT. Bonita Indah, saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean mengirimkan surat pengunduran diri dari kontrak No.781867 ke PT. Chevron Pasific Indonesia, namun PT. Chevron Pasifik Indonesia mengkonfirmasikan kepada saksi Daniel Freddy Sinambela tentang surat pengunduran diri tersebut, lalu pada tanggal 6 Mei 2011, saksi Daniel Freddy Sinambela langsung mengirim surat pernyataan sanggup dan mampu untuk pelaksanaan pekerjaan jasa-jasa penyediaan kendaraan ringan tanpa jasa pengemudi No.C781867 kepada PT. Chevron Pasifik Indonesia, dan pada tanggal 6 Mei 2011 tersebut dinyatakan bahwa PT. Bonita Indah sebagai pemenang penawaran nomor satu terendah.
Bahwa pada tanggal 6 Mei 2011 saksi Bonar Saragih kembali meminta saksi Daniel Freddy Sinambela untuk mundur dalam tender namun permintaan itu ditolak oleh saksi Daniel Freddy Sinambela mengingat berdampak pada
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 12 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 kredibilitas PT. Bonita Indah untuk tender berikutnya, dan di dalam perjanjian tidak mencantumkan jika PT. Bonita Indah menang tender harus mundur, akan tetapi ternyata sebelum pengumuman pemenang lelang, pada tanggal 12 April 2011 saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menarik uang jaminan penawaran PT. Bonita Indah yang ada di Bank Niaga tersebut, sehingga untuk bertahan dalam pengajuan tender, PT. Bonita Indah memasukkan uang jaminan pengganti yang telah ditarik oleh saksi Bonar Saragih sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), karena kecewa terhadap saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur yang dianggap wanpretasi tidak mau mundur dari lelang PT. Chevron Pasifik Indonesia, kemudian pada tanggal 16 September 2011 saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menuntut PT. Bonita Indah secara Perdata.
Bahwa pada saat proses persidangan perdata di Pengadilan Negeri Pekanbaru, dalam agenda pembuktian karena belum mendapatkan salinan Akta Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011, saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT. Bonita Indah menggunakan draft minuta Akta No. 149 tanggal 30 Maret 2011 sebagai alat bukti surat, sedangkan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul Hutahaean menggunakan salinan Akta Notaris Nomor 149, tanggal 30 Maret 2011.
Pada saat masing-masing pihak memperlihatkan kepada Majelis Hakim bukti surat, ternyata antara salinan Akta Notaris Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011 milik saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahaean, dan draft minuta Akta Nomor 149 milik saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT. Bonita Indah terdapat perbedaan pada Pasal 4, 6 dan 9. Setelah saksi Daniel Freddy Sinambela mengetahui adanya perbedaan pada Pasal 4, 6, dan 9, lalu saksi Daniel Freddy Sinambela mendatangi Terdakwa untuk melihat kembali minuta Akta Asli Nomor 149, tanggal 30 Maret 2011, setelah Terdakwa memberikan Asli Minuta Akta No.149 kepada saksi Daniel Freddy Sinambela, ternyata saksi Daniel Freddy Sinambela melihat di surat Asli Minuta Akta Nomor 149, di dalam beberapa pasal terdapat perubahan yaitu adanya coretan dan penghapusan kalimat dengan ditindas kemudian diketik kembali dengan mesin ketik manual, serta ada pasal yang dibuang tanpa sepengetahuan saksi Daniel Freddy Sinambela selaku pihak pertama, dimana perubahan tersebut dilakukan Terdakwa diantaranya:
Pasal 4 jadi berbunyi:
Kerjasama ini diurus/dipimpin oleh Pihak Kedua sebagai pelaksana untuk kontrak jasa-jasa kendaraan ringan tanpa pengemudi Nomor 781867.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 13 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015
Pasal 6 jadi berbunyi:
Pengurusan dan tanggung jawab mengenai usaha kerjasama ini dilakukan oleh Pihak Pertama sebagai penanggung jawab administrasi management perusahaan.
Pihak Kedua wajib mengadakan pembukuan keuangan dalam rangka kerjasama ini.
Pasal 7 berbunyi:
Sebagai imbalan jasa/kontra prestasi atas kerjasama ini, Pihak Pertama berhak memperoleh imbalan jasa/fee berupa 4 (empat) unit kendaraan bermotor roda 4 (empat) berbagai jenis type yang diserahkan setelah kontrak berakhir.
Bilamana ada perpanjangan kontrak/addendum kontrak, maka hasil dari perpanjangan kontrak atas 4 (empat) unit mobil tersebut sepenuhnya menjadi milik Pihak Pertama.
Selain mendapat imbalan jasa/fee tersebut di atas, Pihak Pertama sebagai pelaksana/selaku Direksi berhak mendapat gaji sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) per bulan selama kontrak berjalan.
Pasal 9 berbunyi:
Apabila, ternyata Pihak Kedua di dalam/telah melaksanakan pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan yang mengakibatkan adanya teguran, sanksi dan/
atau pembebanan denda oleh pihak bouwheer, maka segala akibat yang timbul sehubungan dengan keterlambatan tersebut merupakan tanggung jawab dan wajib dipikul oleh Pihak Kedua sendiri.
Pihak Kedua dengan ini (seberapa perlu dengan surat kuasa tersendiri) diberi kuasa penuh dengan hak substitusi oleh Pihak Pertama dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut dan untuk keperluan itu melakukan segala tindakan yang dianggap perlu dan berguna untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan pekerjaan tersebut.
Ahli Pidana Prof. DR. ISMANSYAH, S.H., M.H., menerangkan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa dalam suatu Akta autentik harus memiliki syarat-syarat berdasarkan ketentuan undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Pasal 50 dan Pasal 51 Ayat (2) dan (3) tentang .Jabatan Notaris.
Sehingga perbuatan Terdakwa dalam hal merubah Minuta Akta Nomor 149 yang merupakan Akta Autentik tanpa melalui ketentuan Undang-undang atau pedoman-pedoman untuk merubah Akta Autentik adalah suatu yang tidak benar bilamana hal itu dilakukan maka Akta Autentik itu menjadi tidak sah atau tidak dapat dipergunakan lagi sebagai Akta Autentik yang mempunyai kekuatan mengikat dan disinilah syarat-syarat pemalsuan Akta Autentik terpenuhi dimana
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 14 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 prinsip-prinsip untuk membuktikan pemalsuan surat yakni pemalsuan materil dan pemalsuan intelektual telah terpenuhi dan perubahan dapat menimbulkan kerugian.
Berdasarkan keterangan Ahli Kenotariatan Dr. Syahril Syofyan, S.H.
M.Kn, bahwa apabila para pihak belum sepakat dengan ada kata-kata atau kalimat yang tercantum dalam minuta maka notaris dalam hal ini Terdakwa wajib melakukan pembetulan atau renvoi pada minuta Akta tersebut sampai draft minuta tersebut dirasakan sempurna dan ditandatangani oleh para pihak, saksi dan Notaris, dimana perubahan tersebut harus dilakukan sebagai berikut;
Notaris harus merenvoi (penunjukan) terhadap anak kalimat yang belum sempurna menurut para pihak dan anak kalimat yang belum sempurna tersebut harus dicoret dengan tertib dan tetap masih bisa dibaca kemudian dibuat anak kalimat yang benar pada bagian sisi kiri minuta Akta yang kosong dan setelah ditulis/diganti kemudian wajib diparaf oleh para pihak, saksi-saksi dan notaris.
Apabila perubahan itu dilakukan setelah penandatanganan maka perubahan tersebut dianggap tidak sah.
Apabila anak kalimat yang dicoret kemudian diganti begitu saja dengan metoda penghapusan, pengetikan tindih maka perubahan tersebut tidak sah dan melawan hukum kenotariatan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 UU No. 30 Tahun 2004 tentang Kenotariatan.
Apabila perubahan tersebut tanpa diketahui oleh para pihak atau salah satu pihak kemudian dijadikan salinan Akta maka Akta tersebut mengandung unsur kepalsuan sesuai dengan Pasal 263 KUHP.
Notaris berwenang membetulkan kesalahan tulis atau kesalahan ketik pada minuta Akta yang telah ditandatangani para pihak dan pembetulan dilakukan dengan cara membuat Berita Acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada minuta Akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor Akta berita acara pembetulan dan berita acara pembetulan tersebut wajib disampaikan kepada para pihak.
Bahwa perubahan yang dilakukan Terdakwa dalam Pasal 4, 6, 7 dan Pasal 9 pada minuta Akta No.149 tidak sesuai dengan aturan yang diatur dalam Undang-Undang No.30 tahun 2004 pada Pasal 48, 49, 50 dan 51 sehingga salinan Akta notaris yang dibuat dan mengacu kepada minuta Akta yang telah diperbaiki tidak sesuai dengan prosedur atau dengan cara yang tidak benar maka salinan Akta tersebut dinyatakan tidak sah.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 15 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Bahwa terhadap perbuatan Terdakwa tersebut saksi Daniel Freddy Sinambela selaku direktur PT. Bonita Indah telah melaporkan Terdakwa kepada Majelis Perwakilan Daerah Notaris dan telah dilakukan sidang dengan putusan, menyatakan pengaduan pelapor Daniel Freddy Sinambela dapat diterima;
menghukum Terdakwa Neni Sanitra, S.H., M.Kn, dengan teguran Lisan karena telah menghapus, menindih dan menggantinya dengan yang lain terhadap Pasal 4, 6, 7 dan 9 Akta Nomor 149, tanggal 30 Maret 2011, sehingga Terdakwa dinyatakan telah melanggar Pasal 48 Ayat (1) Undang-Undang No.30 Tahun 2004 yaitu: Isi Akta tidak boleh diubah atau ditambah, baik berupa penulisan tindih, penyisipan, pencoretan, atau penghapusan dan menggantinya dengan yang lain.
Akibat perbuatan Terdakwa merubah isi Akta Nomor 149 tersebut sehingga keadaannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya PT Bonita Indah kalah dalam sidang perdata dan diwajibkan membayar ganti rugi sebesar Rp1.300.000.000,00 (satu milyar tiga ratus juta rupiah) dan 4 (empat) unit mobil milik PT. Bonita Indah berupa 1 (satu) unit mobil Toyota Fortuner dan 3 (tiga) unit mobil Mitsubishi Pajero Sport disita sebagai jaminan sehingga tidak dapat dioperasikan lagi dan saksi Daniel Freddy Sinambela selaku Direktur PT Bonita Indah harus membayar cicilan 4 (empat) unit kendaraan tersebut setiap buIannya.
Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pidana melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP.
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca tuntutan pidana Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pekanbaru, tanggal 29 Januari 2015, sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan surat terhadap akta otentik, sebagaimana surat dakwaan Primair kami, yaitu melanggar Pasal 264 ayat (1) KUHPidana.
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, dengan pidana penjara, selama 2 (dua) tahun.
3. Menetapkan barang bukti berupa:
1 (satu) Exemplar Photocopy minuta Akta No.149, Perjanjian Kerjasama dalam pengadaan mobil tanpa pengemudi pada PT. Chevron Pacific Indonesia antara PT. BONITA INDAH (DANIEL FREDI SINAMBELA) dengan Sdr. BONAR SARAGI dan Sdr. MANGAPUL HUTAHAEAN, yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 16 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 dibuat dan ditandatangani pada tanggal 30 Maret 2011 yang telah dilegalisir sesuai dengan aslinya.
1 (satu) bundel salinan Akta No.149 Asli yang dibuat oleh Notaris NENI SANITRA, S.H., M.Kn, tanggal 30 Maret 2011.
1 (satu) bundel salinan Akta No.150 Asli yang dibuat oleh Notaris NENI SANITRA, S.H., M.Kn, tanggal 30 Maret 2011.
Dikembalikan kepada Terdakwa.
2 (dua) lembar print out Bank Mandiri Cab. Ahmad Yani tentang rincian pembayaran angsuran mobil Mitsubishi Pajero Sport BM 1224 JH, BM 1225 JH, dan BM 1226 JH.
1 (satu) bundel bukti pembayaran 1 (satu) unit mobil Toyota Fortuner BM 1481 JH dengan Nomor Mesin 2TR7066747 V/AT Tahun 2011.
1 (satu) bundel salinan Akta No.149 Asli yang dibuat oleh Notaris NENI SANITRA, S.H., M.Kn, tanggal 30 Maret 2011.
1 (satu) bundel putusan PMD Propinsi Riau Asli.
1 (satu) bundel salinan Akta No.150 Asli yang dibuat oleh Notaris NENI SANITRA, S.H., M.Kn, tanggal 30 Maret 2011.
Dikembalikan kepada Daniel Freddy Parlindungan Sinambela.
4. Menetapkan agar Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, membayar biaya perkara sebesar Rp2.000,00 (dua ribu rupiah).
Membaca putusan Pengadilan Negeri Pekanbaru, Nomor 906/Pid.B/
2014/PN.Pbr, tanggal 19 Maret 2015, yang amar lengkapnya sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwa dalam dakwaan Primer, namun bukan merupakan tindak pidana;
2. Melepaskan Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, dari segala tuntutan hukum;
3. Memulihkan hak-hak Terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya;
4. Membebankan biaya perkara kepada Negara;
Mengingat akan Akta Permohonan Kasasi Nomor 10/Akta.Pid/2015/
PN.Pbr, yang dibuat oleh Panitera pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, yang menerangkan bahwa pada tanggal 31 Maret 2015, Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Negeri tersebut;
Memperhatikan memori kasasi tanggal 13 April 2015, dari Terdakwa sebagai Pemohon Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pekanbaru, pada hari itu juga;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 17 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Memperhatikan pula kontra memori kasasi tanggal 27 April 2015, dari Kuasa Terdakwa sebagai Termohon Kasasi berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 16 April 2015, yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pekanbaru, pada hari itu juga;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dijatuhkan dengan hadirnya Pemohon Kasasi / Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pekanbaru, pada tanggal 19 Maret 2015, dan Pemohon Kasasi / Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 31 Maret 2015, serta memori kasasinya telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pekanbaru, pada tanggal 13 April 2015, dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang-undang;
Menimbang, bahwa Pasal 244 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) menentukan bahwa terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, Terdakwa atau Penuntut Umum dapat mengajukan permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung;
Menimbang, bahwa akan tetapi Mahkamah Agung berpendapat bahwa selaku Badan Peradilan Tertinggi yang mempunyai tugas untuk membina dan menjaga agar semua hukum dan Undang-Undang di seluruh wilayah negara diterapkan secara tepat dan adil, serta dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi No.114/PUU-X/2012, tanggal 28 Maret 2013, yang menyatakan frasa
“kecuali terhadap putusan bebas” dalam Pasal 244 Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, maka Mahkamah Agung berwenang memeriksa permohonan kasasi terhadap putusan bebas;
Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi / Jaksa Penuntut Umum pada pokoknya adalah sebagai berikut:
Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru tidak menerapkan peraturan hukum dengan benar atau menerapkan peraturan hukum tidak sebagaimana mestinya.
Bahwa dengan memperhatikan dalil-dalil hukum tersebut di atas, maka kami Jaksa Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan a quo, sebagai berikut:
a. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru dalam pertimbangan- nya mengenai alat bukti dan barang bukti;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 18 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru telah mengulas secara rinci mengenai fakta-fakta hukum, yang menurut hemat kami adalah fakta-fakta hukum di persidangan perdata antara Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean sebagai Penggugat dan Daniel Freddy Parlindungan Sinambela sebagai tergugat, dimana dari halaman 40 sampai dengan halaman 44, tergambar fakta hukum secara rinci perbuatan saksi Daniel Freddy Parlindungan Sinambela atau PT. Bonita Indah dari mengikuti tender di PT.
Chevron Pasifik Indonesia, lalu mengerjakan kerja sama dengan saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean, namun pertimbangan tersebut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru keliru dalam mengungkap fakta, bahwa ketika hendak melakukan kesepakatan kerja sama, ternyata pertemuan tersebut hanya dihadiri oleh saksi Daniel Freddy Parlindungan Sinambela dan saksi Mangapul Hutahean, yang menjelaskan maksud pertemuan tanpa dihadiri oleh Bonar Saragih, hal tersebut berdasarkan fakta-fakta keterangan saksi-saksi di persidangan Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn.
Bahwa saksi-saksi di persidangan pidana Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, ketika memberikan keterangan tidak ada yang secara rinci mengurai kejadian seperti halnya di persidangan perdata dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru terlalu detil mengurai fakta-fakta mengenai proses kerja sama hingga sampai digugatnya Daniel Freddy Parlindungan Sinambela oleh Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean, hal ini menurut kami dikarenakan salah satu hakim yang menangani gugatan perkara perdata antara Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean melawan Daniel Freddy Parlindungan Sinambela Direktur PT. Bonita Indah pada saat sidang perdata, Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean telah menggunakan alat bukti salinan akta Nomor 149 dan Akta Nomor 150 tanggal 30 Maret 2011/
dan pada sidang perdata dimenangkan oleh Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean, sehingga sudah barang tentu salah satu dari anggota Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru yang mengadili perkara pidana atas nama Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, akan menyesuaikan putusan perkara perdata yang telah diadilinya sebelumnya.
Padahal menurut hemat kami, perkara perdata kebenarannya hanyalah kebenaran formil saja, sedangkan dalam perkara pidana kebenarannya merupakan kebenaran materil atau secara hakiki dalam artian harus mempertimbangkan keterangan saksi Daniel Freddy Sinambela dan harus menyampingkan keterangan saksi Bonar Saragih dan saksi Mangapul
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 19 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 Hutahaean karena yang bersangkutan telah menggunakan Akta Nomor 149 tanggal 30 Maret 2011 yang disangkal oleh saksi Daniel Freddy Sinambela sebagai dasar gugatan perdata.
Bahwa selain itu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru dalam membuat pertimbangan perkara pidana atas nama Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, menjelaskan berdasarkan alat bukti dan barang bukti, namun justru menurut hemat kami, Majelis Hakim tidak ada sama sekali mempertimbangkan alat bukti dan barang bukti, dimana berdasarkan fakta-fakta di persidangan kami telah menyampaikan alat bukti Ahli yakni;
Ahli Pidana Prof. DR. ISMANSYAH, S.H., M.H., yang Berita Acara Pemeriksaan Ahli dibacakan dan telah disumpah menerangkan pada intinya; bahwa perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa dalam suatu akta autentik harus memiliki syarat-syarat berdasarkan ketentuan Pasal 50 dan Pasal 51 Ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
Sehingga menurut Ahli perbuatan Terdakwa dalam hal merubah Minuta Akta Nomor 149 yang merupakan akta Autentik tanpa melalui ketentuan Undangundang atau pedoman-pedoman untuk merubah akta Autentik adalah suatu yang tidak benar bilamana hal itu dilakukan maka Akta Autentik itu menjadi tidak sah atau tidak dapat dipergunakan lagi sebagai akta Autentik yang mempunyai kekuatan mengikat dan disinilah syarat- syarat pemalsuan akta Autentik terpenuhi dimana prinsip-prinsip untuk membuktikan pemalsuan surat yakni pemalsuan materil dan pemalsuan intelektual telah terpenuhi dan perubahan dapat menimbulkan kerugian.
Dan Ahli Kenotariatan Dr. Syahril Syofyan, S.H., M.Kn, yang Berita Acara Pemeriksaan Ahli dibacakan dan telah disumpah menerangkan pada intinya; bahwa apabila para pihak belum sepakat dengan ada kata-kata atau kalimat yang tercantum dalam minuta maka notaris dalam hal ini Terdakwa wajib melakukan pembetulan atau renvoi pada minuta akta tersebut sampai, draft minuta tersebut dirasakan sempurna dan ditandatangani oleh para pihak, saksi dan Notaris, dimana perubahan tersebut harus dilakukan sebagai berikut;
Notaris harus merenvoi (penunjukan) terhadap anak kalimat yang belum sempurna menurut para pihak dan anak kalimat yang belum sempurna tersebut harus dicoret dengan tertib dan tetap masih bisa dibaca kemudian dibuat anak kalimat yang benar pada bagian sisi kiri
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 20 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 minuta akta yang kosong dan setelah ditulis/diganti kemudian wajib diparaf oleh para pihak, saksi-saksi dan notaris.
Apabila perubahan itu dilakukan setelah penandatanganan maka perubahan tersebut dianggap tidak sah.
Apabila anak kalimat yang dicoret kemudian diganti begitu saja dengan metoda penghapusan, pengetikan tindih maka perubahan tersebut tidak sah dan melawan hukum kenotariatan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 UU No.30 Tahun 2004 tentang Kenotariatan.
Apabila perubahan tersebut tanpa diketahui oleh para pihak atau salah satu pihak kemudian dijadikan salinan akta maka akta tersebut mengandung unsur kepalsuan sesuai dengan Pasal 263 KUHP.
Notaris berwenang membetulkan kesalahan tulis atau kesalahan ketik pada minuta akta yang telah ditandatangani para pihak dan pembetulan dilakukan dengan cara membuat Berita Acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada minuta akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor akta berita acara pembetulan dan berita acara pembetulan tersebut wajib disampaikan kepada para pihak.
Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru dalam putusan perkara pidana atas nama Terdakwa NENI SANITRA, S.H., M.Kn, tidak mempertimbangkan barang bukti yang kami hadirkan di persidangan, sehingga menurut hemat kami Majelis Hakim telah keliru, dikarenakan status barang bukti tersebut akhirnya menjadi tidak jelas.
b. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru dalam pertimbangannya mengenai Unsur-unsur sebagai berikut:
1) Bahwa kami tidak akan menanggapi pertimbangan Majelis Hakim pada pembuktian Unsur Barang siapa yang telah terpenuhi, yang adapun menjabarkan apakah Terdakwa benar telah melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan, tergantung dengan terpenuhinya unsur- unsur lain yang akan dipertimbangkan kemudian;
2) Bahwa unsur Membuat surat palsu atau memalsukan surat;
Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru dalam putusannya di halaman 46 sampai dengan halaman 49 menjabarkan fakta-fakta di persidangan, namun menurut hemat kami, Majelis Hakim telah keliru dan langsung mengambil kesimpulan bahwa;
“Perubahan atas Pasal 4, 6 dan 9 ternyata telah disangkal oleh saksi Daniel Fredi Sinambela karena menurutnya yang disetujui untuk dirubah
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hal. 21 dari 26 hal. Put. Nomor 1003 K/PID/2015 hanya Pasal 7, walaupun saksi Bonar Saragih dan Mangapul Hutahean didukung saksi Febriani Eka putri perubahan tersebut dibenarkan dan terjadi sebelum semua pihak dan saksi-saksi menandatangani Akta tersebut”.
Majelis Hakim juga menimbang unsur ini telah terpenuhi dengan alasan adanya penyangkalan dari salah satu pihak penghadap dapat disimpulkan bahwa isi akta tersebut bukan kehendak salah satu pihak yang berkepentingan atau palsu.
Sedangkan Ahli Pidana Prof. DR. ISMANSYAH, S.H., M.H., telah menjelaskan perubahan yang dilakukan oleh Terdakwa dalam suatu akta autentik harus memiliki syarat-syarat berdasarkan Pasal 48, 49, 50 dan 51 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, sehingga salinan akta notaris yang dibuat dan mengacu kepada minuta akta yang telah diperbaiki tidak sesuai dengan prosedur atau dengan cara yang tidak benar maka salinan akta tersebut dinyatakan tidak SAH, berdasarkan fakta tersebut sehingga menurut hemat kami, Majelis Hakim telah keliru mempertimbangkan unsur membuat surat palsu atau memalsukan surat.
3) Bahwa kami tidak akan menanggapi pertimbangan Majelis Hakim pada pembuktian Unsur Yang dapat menimbulkan sesuatu hak, sesuatu perikatan (kewajiban) atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal.
4) Bahwa unsur Dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat tersebut seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, pada halaman 50, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru menimbang yakni;
Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, adalah kewajiban notaris untuk menyerahkan salinan Akta kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk dapat mempergunakan akta