Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
P U T U S A N
Nomor 22/PID.PRA/2021/PN JKT.SEL
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili perkara Praperadilan dalam tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara:
UJANG WARTONO, SH, Umur/tanggal lahir : 40 tahun/ 21 Oktober 1980, Jenis kelamin Laki-laki, Tempat tinggal (KTP) Kebagusan Besar RT. 001 RW. 006, Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan, Domisili di Jl. Pinang Raya Nomor : 23 RT. 006 RW. 009, Kelurahan Pondok Labu - Kecamatan Cilandak - Jakarta Selatan, Pekerjaan Advokat, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Lasman Siahaan, SH., MH. H.F. Abraham Amos, SH dan Susanto Yopie, SH beralamat di Kantor Hukum “LASMAN SIAHAAN & REKAN”, beralamat kantor di Jl. Ciliwung Nomor 30 - 32A Cililitan – Condet, Jakarta Timur 13640 berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 22 Februari 2021,
Selanjutnya disebut sebagai Pemohon;
m e l a w a n :
1. KAPOLRI, beralamat di Markas Besar Kepolisian Negara R.I. Jl.
Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110, Selanjutnya disebut sebagai Termohon- I;
2. KAPOLSEK METRO SETIABUDI, beralamat di Jl. Taman Setiabudi I No.
1 Karet Kuningan Jakarta Selatan 12920.
Selanjutnya disebut sebagai Termohon-II Pengadilan Negeri tersebut;
Setelah membaca penetapan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 22/Pid.Pra/2021/PN JKT.SEL tanggal 24 Februari 2021 tentang penunjukan Hakim;
Setelah membaca penetapan Hakim tentang hari sidang;
Setelah membaca berkas perkara dan surat-surat yang berhubungan dengan perkara ini;
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.1 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Setelah mendengar keterangan saksi dan memeriksa bukti surat-surat yang diajukan ke persidangan;
TENTANG DUDUKNYA PERKARA :
Menimbang, bahwa Pemohon melalui surat permohonan tanggal 24 Februari 2021 yang telah didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan register Nomor 22/Pid.Pra/2021/PN JKT.SEL tanggal 24 Februari 2021, telah mengajukan permohonan praperadilan dengan alasan-alasan sebagai berikut:
Bahwa adapun Permohonan Praperadilan diajukan kehadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang berwenang untuk memeriksa perkara Permohonan Praperadilan ini, adalah berdasarkan ketentuan BAB X Bagian Kesatu (vide Pasal 77 s.d Pasal 83, jo. Pasal 124, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, UU. RI. Nomor : 8 Tahun 1981 tentang KUHAP), terkait dengan alasan-alasan juridis formal / juridis materiel dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bahwa Permohon Praperadilan ini diajukan oleh PEMBERI KUASA selaku Terlapor/Tersangka atas tuduhan tindak pidana Pengeroyokan berdasarkan ketentuan yang di atur dalam Pasal 170 KUH. Pidana, sesuai dengan Laporan Polisi Nomor : LP / 102 / K / II / 2020 / Sek.Budi (tanggal 14 Februari 2020) yang dilaporkan oleh Rajiman selaku Pelapor;
2. Bahwa atas dasar Laporan Polisi sebagaimana dimaksud di atas, maka Pihak Penyidik Kepolisian Sektor Metro Setiabudi c.q Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi selaku TERMOHON II menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik/102/III/2020/Sek. Budi (tanggal 14 Maret 2020); sebagai bukti dimulainya Pemeriksaan terhadap Terlapor/Tersangka atau PEMBERI KUASA selaku PEMOHON Praperadilan;
3. Bahwa TERMOHON II dalam hal ini telah pula menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Nomor : B/102/III/2020/Sek.Budi (tanggal 20 Maret 2020), yang disampaikan Kepada Yth, Kepala Kejaksaan Negeri Jagakarsa - Jakarta Selatan;
4. Bahwa TERMOHON II setelah melakukan pemeriksaan terhadap Terlapor/Tersangka selaku PEMOHON PRAPERADILAN dalam rentetan waktu selama ± hampir 1 (satu) tahun, terhitung sejak bulan Maret 2020 sampai dengan bulan Januari 2021 pada faktanya tidak ada
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.2 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
pemanggilan/pemberitahuan resmi melalui Surat Panggilan untuk pemeriksaan tambahan kepada Terlapor/Tersangka selaku PEMOHON PRAPERADILAN, hal tersebut telah melanggar syarat-syarat formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 KUHAP dan PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, jo. PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, sebagai Juklak dan Pedoman dalam pelaksanaan tugas penyelidikan maupun penyidikan dalam suatu peristiwa pidana;
5. Bahwa Terlapor/Tersangka selaku PEMOHON PRAPERADILAN tidak mengakui melakukan Perbuatan Pidana sesuai ketentuan Pasal 170 KUH. Pidana, sebagaimana yang disangkakan terhadapnya, hal tersebut sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap Terlapor/Tersangka dihadapan Penyidik Kepolisian Sektor Metro Setiabudi, karena tidak ada unsur pidana Pengeroyokan jika pelakunya Tunggal sesuai ketentuan Pasal 170 KUH. Pidana; terkecuali ditentukan lain dalam unsur keikutsertaan pelaku lainnya (deelneming) sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 55 ayat (1) Kesatu KUH. Pidana;
6. Bahwa TERMOHON II juga telah melanggar syarat-syarat materiel sebagaimana di atur dalam UU. RI. Nomor 8 Tahun 1981 (vide Pasal 107 s.d Pasal 122 KUHAP) yang berakibat tindakan Penyidikan oleh Penyidik Polisi menjadi ambigu dan tidak sesuai dengan ketentuan Hukum Acara Pidana sehingga berakibat cacat hukum (error juridische) atau batal karena hukum;
7. Bahwa terlebih fatal lagi TERMOHON II secara melawan hak dan hukum menerbitkan Surat Perintah Penangkapan dan Penahanan terhadap Terlapor/Tersangka atau PEMBERI KUASA selaku PEMOHON Praperadilan, berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor:
SP.Kap/02/I/2021/Sek.Budi (tanggal, 11 Januari 2021), jo. Surat Perintah Penahanan Nomor: SP.Han/01/I/2021/Sek.Budi (tanggal, 12 Januari 2021) yang tidak sesuai prosedur Protap Kapolri maupun Perkaba Polri dengan segala akibat dan eksesifitas hukumnya;
8. Bahwa TERMOHON II dalam hal ini telah pula menerbitkan Surat Pemberitahuan Penahanan Nomor: B/01/I/2021/Sek.Budi (tanggal, 11 Januari 2021); yang disampaikan kepada Isteri dan Keluarga Terlapor/Tersangka atau PEMBERI KUASA selaku PEMOHON Praperadilan, sebagaimana isi pada pokok surat dimaksud, tanpa memberikan alasan yang memadai dan pula tidak sesuai dengan syarat- syarat formal maupun materiel berdasarkan KUHAP;
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.3 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
9. Bahwa TERMOHON II atas dasar Surat Perintah Penangkapan dan Penahanan sebagaimana diuraikan pada angka (7) di atas, telah pula menerbitkan Surat Perpanjangan Penahanan Nomor:
B/55/I/2021/Sek.Budi (tanggal, 21 Januari 2021); yang disampaikan Kepada Yth, Kepala Kejaksaan Negeri Jagakarsa Jakarta Selatan, dan selanjutnya diterbitkan Surat Perpanjangan Penahanan Nomor: B–
60/M.1.14.3/Eku.1/01/2021 (tanggal, 27 Januari 2021), yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Kejaksaan Negeri Jagakarsa Jakarta Selatan;
10. Bahwa dengan demikian maka menurut hukum TERMOHON II telah melakukan penahanan terhadap Terlapor/Tersangka atau PEMBERI KUASA selaku PEMOHON Praperadilan terhitung dari tanggal 12 Januari 2021 s.d tanggal 1 Februari 2021 selama 20 (Duapuluh) hari, dan perpanjangan penahanan selama 40 (Empatpuluh) hari terhitung dari tanggal 1 Februari 2021 s.d tanggal 12 Maret 2021, sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (1), jo. Pasal 24 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), sehingga tidak menutup kemungkinan Terlapor/Tersangka selaku PEMOHON Praperadilan sudah harus dikeluarkan dari tahanan tanpa syarat.
11. Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka PENERIMA KUASA atas dasar ketentuan dalam Pasal 123 ayat (1) s.d ayat (5), jo. Pasal 19 ayat (1), dan (2) KUHAP, telah secara patut dan sesuai aturan hukum mengajukan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan dan Jaminan Keluarga Terlapor Nomor 07/SKK/KH-LSR/PPTS/II/2021(tanggal 11 Februari 2021), jo. Surat Permohonan Konfrontir dan Gelar Perkara yang dimohonkan oleh Kuasa Hukum Nomor 027/SKK/KH-LSR/PGP- KFT/II/2021 (tanggal 11 Februari 2021), dan telah diberikan serta diterima oleh Penyidik c.q Kepada Yth, Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi;
12. Bahwa TERMOHON II sama sekali tidak menggubris atau mempertimbangkan Permohonan Penangguhan Penahanan dengan jaminan serta Permohonan Konfrontir serta Gelar Perkara sesuai dengan aturan PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, jo. PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, serta seluruh Peraturan pelaksanaannya yang wajib dipatuhi serta ditaati oleh TERMOHON II maupun Penyidik, sehingga layak jika Permohonan Praperadilan ini dapat dipertimbangkan dan diterima oleh Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus Perkara Permohonan
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.4 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Praperadilan yang diajukan oleh PEMOHON dengan segala akibat hukumnya;
13. Bahwa oleh akibat pelanggaran yang dilakukan oleh TERMOHON II tersebut, maka terhadap TERMOHON I selaku Pucuk Pimpinan Tertinggi POLRI, baik langsung ataupun tidak langsung telah pula diikutsertakan dan dilibatkan turut melakukan kesalahan prosedural berdasarkan ketentuan UU. RI. Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, jo.
PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, jo. PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, dengan segala akibat hukumnya yang wajib untuk dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada TERMOHON I selaku KAPOLRI maupun TERMOHON II selaku KEPALA KEPOLISIAN SEKTOR METRO SETIABUDI tanpa terkecuali;
14. Bahwa TERMOHON I telah gagal dalam Aplikasi dan Implementasi mendisiplinkan Jajarannya dan Penyidik dibawah Pengendalian dan Pengawasan dari TERMOHON II selaku Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi dalam hal Penerapan UU. Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, jo. PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, jo. PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, serta seluruh Peraturan pelaksanaannya yang wajib dilaksanakan secara proporsional;
15. Bahwa berdasarkan uraian-uraian yang secara jelas dan terang benderang dipaparkan tersebut di atas, maka berdasarkan ketentuan UU.
RI. Nomor 8 Tahun 1981 (vide Pasal 24 ayat (3) dan ayat (4), KUHAP), demi hukum terhadap Terlapor/Tersangka atau PEMBERI KUASA selaku PEMOHON PRAPERADILAN wajib untuk dibebaskan dari semua tuntutan hukum tanpa syarat akibat kelalain dari Penyidik Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi selaku TERMOHON II maupun oleh akibat keterkaitan pihak TERMOHON I selaku KAPOLRI;
Bahwa demi keadilan dan tegaknya hukum, sebagaimana yang telah dijabarkan secara gamblang tersebut di atas, maka dengan segala kerendahan hati kami selaku Advokat/Kuasa Hukum dan Keluarga dari Terlapor/Tersangka selaku PEMOHON PRAPERADILAN memohon Kepada Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memeriksa Perkara Praperadilan ini, agar sudi dan berkenan dapat mempertimbangkan Permohonan Praperadilan ini dan seadil-adilnya dapat memberikan Putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut :
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.5 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
1. Menerima Permohonan Praperadilan oleh PEMOHON untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Unsur Pidana dalam ketentuan Pasal 170. KUH. Pidana tidak memenuhi syarat pemidanaan terhadap PEMOHON;
3. Menyatakan TERMOHON II telah melanggar ketentuan syarat formal Pasal 75 KUHAP dan PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, jo. PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, maupun syarat materiel sebagaimana di atur dalam UU. RI. Nomor 8 Tahun 1981 (vide Pasal 107 s.d Pasal 122 KUHAP) sebagai Juklak dan Pedoman dalam pelaksanaan tugas penyelidikan maupun penyidikan dalam suatu peristiwa pidana oleh karena “cacat hukum” (error juridische);
4. Menyatakan TERMOHON II tidak mematuhi ketentuan dalam Pasal 123 ayat (1) s.d ayat (5), jo. Pasal 19 ayat (1), dan (2) KUHAP yang dimohonkan oleh Kuasa Hukum PEMOHON;
5. Menyatakan TERMOHON II telah melanggar ketentuan dalam PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, jo. PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, sebagai Protap dan Juklak (SOP) serta seluruh Peraturan pelaksanaannya yang wajib dipatuhi serta ditaati;
6. Menyatakan akibat pelanggaran TERMOHON II baik langsung atau tidak langsung telah melibatkan TERMOHON I selaku Pucuk Pimpinan Tertinggi POLRI, turut melakukan kesalahan prosedural berdasarkan ketentuan UU. RI. Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, jo.
PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, jo. PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, dengan segala akibat hukumnya yang wajib untuk dipertanggungjawabkan sepenuhnya tanpa terkecuali;
7. Menyatakan TERMOHON I telah gagal dalam mendisiplinkan Penyidik dibawah Pengendalian dan Pengawasan dari TERMOHON II selaku Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi dalam hal Aplikasi dan Implementasi UU. Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, jo.
PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, jo. PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, serta seluruh Peraturan pelaksanaannya yang wajib dilaksanakan secara proporsional;
8. Memerintahkan TERMOHON II dan TERMOHON I segera membebaskan PEMOHON sesuai ketentuan Pasal 24 ayat (3) dan ayat (4), UU.RI.
Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, dan demi hukum PEMOHON wajib dibebaskan dari semua tuntutan hukum, dan segera dikeluarkan dari tahanan tanpa syarat setelah putusan ini diucapkan;
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.6 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
9. Membebankan semua biaya-biaya yang timbul dalam perkara permohonan praperadilan ini untuk seluruh dan selebihnya kepada Negara;
Demikianlah Permohonan Praperadilan ini diajukan oleh PEMOHON dengan kesungguhan dan sebenar-benarnya untuk memperoleh Keadilan Hukum dan Kepastian Hukum dihadapan Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, namun apabila Majelis Hakim berpendapat lain, dimohon putusan hukum yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Menimbang, bahwa pada hari dan tanggal persidangan yang telah ditetapkan, untuk Pemohon hadir kuasanya, sedangkan untuk Termohon-I hadir kuasanya Dr. Imam Sayuti, SH, MH, dkk berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 23 Maret 2021, sedangkan untuk Termohon-II hadir kuasanya Pius Ponggeng, SH, dkk berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 20 Maret 2021;
Menimbang, bahwa setelah membacakan surat permohonannya, Pemohon menyatakan tetap pada permohonannya;
Menimbang, bahwa terhadap permohonan praperadilan yang diajukan oleh Pemohon tersebut, Termohon-I mengajukan jawaban sebagai berikut:
Terlebih dahulu Termohon I menyatakan bahwa Termohon I menolak dengan tegas dalil-dalil permohonan dari Pemohon tanggal 24 Pebruari 2021, kecuali yang benar-benar diakui secara tegas oleh Termohon I.
Bahwa Termohon I tidak akan menjawab satu persatu dalil-dalil permohonan dari Pemohon, namun tidak berarti Termohon I membenarkan dalil-dalil permohonan dari Para Pemohon tersebut, akan tetapi Termohon I akan menjawab dalam suatu bentuk Jawaban yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan satu dengan lainnya sesuai dengan proses penyelidikan dan penyidikan berdasarkan KUHAP yang sekaligus merupakan bentuk bantahan Termohon I terhadap dalil-dalil permohonan dari Pemohon.
Demikian halnya terhadap dalil-dalil permohonan Pemohon lainnya yang tidak relevan dengan konteks praperadilan juga tidak akan Termohon I tanggapi.
DALAM EKSEPSI
1. ERROR IN PERSONA
Ketentuan Pasal 1 angka 1 KUHAP menjelaskan bahwa:
“Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang- Undang untuk melakukan Penyidikan.”
Kemudian berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) KUHAP ditentukan bahwa:
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.7 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
“(1) Penyidik adalah:
a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi
wewenang khusus oleh Undang-Undang.”
Ketentuan-ketentuan tersebut di atas, yang kemudian dikaitkan lagi dengan ketentuan-ketentuan Pasal 7 dan Pasal 8 KUHAP, jelas menunjukkan bahwa kewenangan penyidikan terhadap suatu tindak pidana berada pada Pejabat Penyidik yang melakukan pemeriksaan dan mendapat perintah penyidikan terhadap sangkaan tindak pidana tersebut.
Permasalahan tentang kewenangan penyidikan yang dilakukan oleh Pejabat Penyidik sebagaimana tersebut di atas sangat terkait dengan masalah pertanggungjawaban atas segala tindakan proses penyidikan yang dilakukan Penyidik yang akan dibebankan terhadap pejabat penyidik yang bersangkutan.
Pemohon dalam Permohonan Praperadilannya, telah mendudukkan KEPALA KEPOLSIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA selaku Termohon I. Pemohon telah keliru menunjuk pihak dalam permohonan Praperadilannya, karena seharusnya yang dijadikan pihak Termohon dalam permohonan Praperadilan tersebut adalah Pejabat Penyidiknya sehingga membuat permohonan Pemohon menjadi kabur.
Untuk lebih jelasnya, selanjutnya mohon diperhatikan ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf b KUHAP menyebutkan bahwa:
“dalam memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan, permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan, akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan dan ada benda yang disita yang tidak termasuk alat pembuktian, hakim mendengar keterangan baik dari tersangka atau pemohon maupun dari pejabat yang berwenang”.
Ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf b KUHAP tersebut di atas lebih memperjelas lagi bahwa dalam perkara Praperadilan yang dapat dijadikan sebagai pihak Termohon adalah Pejabat Penyidik itu sendiri, bukan atasan dari penyidik. Perlu Termohon sampaikan dalam persidangan ini, bahwa prosedur penentuan pihak dalam perkara permohonan Praperadilan pada hakekatnya berbeda dengan yang diatur dalam hukum acara perdata pada umumnya yang dapat mendudukan sebuah badan hukum sebagai pihak.
Dalam konteks Praperadilan, secara yuridis yang dapat didudukan sebagai
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.8 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
pihak Termohon hanyalah Pejabat Penyidiknya.
Disamping itu pula berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang struktur organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia, bahwa Penyidik perkara aquo berada pada struktur organisasi tingkat Polsek yaitu Penyidik pada Polsek Setiabudi berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/102/K/II/2020/Sek.Budi, tertanggal 14 Februari 2020 untuk penanganan terhadap perkara a quo, sedangkan kedudukan Termohon I merupakan unsur Pimpinan pada tingkat Mabes Polri sehingga Pemohon telah keliru mendudukkan Termohon I sebagai pihak.
2. BUKAN KEWENANGAN PRA PERADILAN
Dalam ketentuan Pasal 77 KUHAP menyebutkan bahwa:
“Pengadilan Negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini tentang :
a. Sah atau tidaknya Penangkapan, Penahanan, penghentian penyidikan, atau penghentian penuntutan;
b. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan”.
Disamping itu ketentuan tentang Praperadilan juga dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1 butir 10 KUHAP, berbunyi:
“Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini tentang:
a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;
b. sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;
c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan”.
Bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 21/PUU-XII/2014, tanggal 28 April 2015, kewenangan praperadilan mengalami perluasan ruang lingkup/objeknya yang meliputi juga kewenangan sah atau tidaknya penetapan tersangka, penggeledahan dan penyitaan.
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.9 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Bahwa Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia (PERMA) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Larangan Peninjauan Kembali Putusan Praperadilan dalam Pasal 2 ayat (1) mempertegas bahwa objek praperadilan adalah : a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian
penyidikan atau penghentian penuntutan, penetapan tersangka, penyitaan dan penggeledahan.
b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Ketentuan-ketentuan tersebut di atas telah secara tegas dan “limitatif”
menentukan kompetensi (kewenangan) dari Praperadilan, sedangkan permohonan praperadilan yang diajukan oleh Pemohon dengan petitum yang pada pokoknya sebagai berikut:
- Menyatakan unsur pidana dalam ketentuan Pasal 170 KUHPidana tidak memenuhi syarat pemidanaan terhadap Pemohon;
- Menyatakan Termohon II telah melanggar ketentuan ketentuan syarat formal Pasal 75 KUHAP dan Perkaba Nonor 4 Tahun 2014 jo.
Perkapolri Nomor 12 Tahun 2009, maupun syarat materiil, sebagaimana diatur dalam UU RI. Nomor 8 Tahun 1981 (vide Pasal 107 s.d Pasal 122 KUHAP) sebagaimana Juklak dan Pedoman dalam pelaksanaan tugas penyelidikan maupun penyyidikan dalam suatu peristiwa pidana oleh karebna “cacat hukum” (error juridische);
- Menyatakan Termohon II tidak mematuhi ketentuan Pasal 123 ayat (1) s.d ayat (5), jo Pasal 19 ayat (1), dan (2) KUHAP yang dimohonkan oleh kuasa hukum Pemohon;
- Menyatakan Termohon II telah melanggar ketentuan dalam Perkaba Nomor 4 Tahun 2014 jo. Perkapolri Nomor 12 Tahun 2009, sebagai Protap dan Juklak (SOP) serta seluruh Peraturan pelaksanaannya yang wajib dipatuhi serta ditaati;
- Menyatakan akibat pelanggaran Termohon II baik langsung atau tidak langsung telah melibatkan Termohon I selaku pucuk pimpinan tertinggi Polri, turut melakukan kesalahan prosedural berdasarkan ketentuan UU. RI Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP Perkaba Nomor 4 Tahun 2014 jo. Perkapolri Nomor 12 Tahun 2009, jo Perkaba Nomor 4 tahun 2014, dengan segala akibat hukumnya yang wajib untuk dipertanggungjawabkan sepenuhnya tanpa terkecuali;
- Menyatakan Termohon I telah gagal dalam mendisiplinkan Penyidik dibawah pengendalian dan Pengawasan dari Termohon II selaku
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.10 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Kepala Kepolisian Sektor Metro Setiabudi dalam hal aplikasi dan implementasi UU. RI Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP Perkaba Nomor 4 Tahun 2014 jo. Perkapolri Nomor 12 Tahun 2009, jo Perkaba Nomor 4 tahun 2014, serta seluruh Peraturan pelaksanaanya yang wajib dilaksanakan secara proporsional;
- Memerintahkan Termohon II dan Termohon I segera membebaskan Pemohon sesuai Pasal 24 ayat (3) dan ayat (4) , UU. RI Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP dan demi hukum pemohon wajib dibebaskan dari semua tuntutan hukum, dan segera dikeluarkan dari tahanan tanpa syarat setelah putusan diucapkan.
Adalah permohonan yang berada di luar kewenangan Praperadilan sebagaimana diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, sehingga permohonan pemohon harus ditolak atau dikesampingkan.
Berdasarkan uraian eksepsi tersebut di atas, sudah cukup beralasan bagi Hakim Praperadilan yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menyatakan bahwa Pengadilan tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara aquo atau setidak-tidaknya menyatakan permohonan Praperadilan yang diajukan oleh PEMOHON ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima.
DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa Termohon I menolak dengan tegas seluruh dalil permohonan Pemohon, kecuali yang benar-benar diakui secara tegas oleh Termohon I.
2. Apa yang telah diuraikan dalam bagian eksepsi mohon dianggap dan termasuk dalam pokok perkara.
3. Bahwa walaupun Termohon I telah menguraikan tentang kewenangan pra peradilan atas permohonan yang telah diajukan oleh Pemohon dalam bagian Eksepsi akan tetapi demi menghormati persidangan ini, Termohon I tetap akan menanggapi dalil-dalil permohonan Pemohon yang merupakan rangkaian tindakan penyidikan yang telah dilakukan oleh Termohon II sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Bahwa perkara aquo adalah terkait Laporan Polisi Nomor:
LP/102/K/II/2020/Sek.Budi, tertanggal 14 Februari 2020, atas nama Pelapor Sdr. RAJIMAN tentang dugaan Tidak Pidana Pengeroyokan sebagaima dimaksud dalam Pasal 170 KUHP dengan Terlapor Ujang Wartono dkk (Pemohon).
5. Bahwa TERMOHON II telah menindaklanjuti Laporan Polisi aquo, dengan menerbitkan:
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.11 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
a. Surat Perintah Tugas Nomor :Sprin-gas/102/II/2020/Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 yang ditanda tangani kapolsek Metro Setiabudi AKBP.
IMADE BAYU SUTHA SARTANA. SIK. MH selaku penyidik.
b. Surat Perintah Penyelidikan Nomor :Sprin-gas/102/II/2020/Sek.Budi tanggal 14 Maret 2020 yang ditanda tangani kapolsek Metro Setiabudi AKBP. IMADE BAYU SUTHA SARTANA. SIK. MH selaku penyelidik.
6. Selanjutnya TERMOHON II telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi- saksi dalam bentuk Berita Acara Introgasi terhadap :
a. Saksi Sdr. RAJIMAN alias GAWIR ( selaku Pelapor / Korban Perkara aquo) tertanggal 14 Pebruari 2020;
b. Saksi Sdr. ARIF SUGANDI (Saksi perkara aquo ) tanggal 14 Pebruari 2020;
c. Saksi Sdr. ASEP MOH NUR ZATI ( Saksi Perkara aquo) tanggal 15 Pebruari 2021;
d. Saksi Sdr. AWALIAN ( saksi perkara aquo ) tgl 20 Pebruari 2021.
7. Bahwa berdasarkan Adanya Surat TERMOHON Nomor : B/273/III/2020/Sek.Budi tertanggal 6 Maret 2020 perihal Permintaan Klarifikasi yang di tujukan Kepada Sdr.UJANG HARTONO (PEMOHON) alamat Kebagusan besar Rt.001/006 Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan, namun PEMOHON tidak hadir ke untuk mengklarifikasi Laporan yang dibuat oleh Pelapor sdr. RAJIMAN;
8. Bahwa terdapat Visum Et Repertum Nomor : 87/TU.FK/II/2020 tanggal 14 Februari 2020 dari RSUP Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM) atas nama Rajiman yang di tanda tangani Dokter Pemeriksa dr. Mohammad Ardhian Syaifuddin;
9. Selanjutnya Termohon Membuat Laporan Hasil Penyelidikan (LHP) terhadap Laporan Polisi Nomor LP / 102/ II / 2020 / Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 atas nama Pelapor Sdr. RAJIMAN perihal Tidak Pidana pengeroyokan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP dimana Tindakan yang telah dilakukan oleh TERMOHON II adalah :
a. Melengkapi admistrasi Penyelidikan;
b. Melakukan BA introgasi terhadap Pelapor RAJIMAN alias GAWIR, sdr.
ARIF SUGANDI, sdr. ASEP MOH. NURZATI dan sdr. AWALIAN;
c. Meminta Visum Et Repertum luka ke RSCM dan Hasil Visum Et repertum telah diterima Penyidik (TERMOHON II);
d. Penyidik (TERMOHON II) telah mengundang dan berkomunikasi melalui
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.12 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Telepon dengan Terlapor (PEMOHON) dan terlapor berjanji akan datang ke polsek Metro Setia Budi, akan tetapi Nomor HP terlapor sudah tidak bisa dihubungi lagi;
e. Mengirimkan Surat Undangan Klarifikasi Kepada terlapor UJANG WARTONO (PEMOHON) sesuai alamat KTP.
10. Bahwa pada tanggal 13 Maret 2020 TERMOHON telah melakukan gelar perkara dan berdasarkan rekomendasi Hasil pelaksanaan Gelar Perkara atas perkara Laporan Polisi Nomor: 102/K/II/2020 Sek. Setiabudi tanggal 14 Februari 2020 atas nama Pelapor RAJIMAN Perihal Tidak Pidana Pengeroyokan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP, Berdasarkan hasil Pemeriksaan saksi-saksi serta adanya hasil Visum Et Repertum luka dari dari RSCM, peserta gelar perkara sepakat meningkatkan status perkara dugaan tindak Pidana Pengeroyokan tersebut dari Penyelidikan Ke Penyidikan karena telah ditemukan peristiwa pidananya;
11. Bahwa berdasarkan hasil gelar perkara, dengan rekomendasi hasil gelar Perkara meningkatkan status Penyelidikan terhadap Laporan Polisi Nomor LP / 102/ II / 2020 / Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 atas nama Pelapor Sdr. RAJIMAN perihal Tidak Pidana pengeroyokan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP dari Penyelidikan menjadi Penyidikan, selanjutnya TERMOHON menerbitkan admistrasi Penyidikan berupa :
a. Surat Perintah Tugas Nomor :Sprin-gas/102/III/2020/Sek.Budi tanggal 14 Maret 2020 yang ditanda tangani KAPOLSEK SETIABUDI AKBP.
IMADE BAYU SUTHA SARTANA. SIK. MH selaku penyidik;
b. Surat Perintah Penyidikan Nomor :Sprin-gas/102/III/2020/Sek.Budi tanggal 14 Maret 2020 yang ditanda tangani KAPOLSEK SETIABUDI AKBP. IMADE BAYU SUTHA SARTANA. SIK. MH selaku penyidik ; c. Bahwa guna kepentingan Penyidikan Termohon telah menerbitkan
Surat Nomor :B/102/III/2021/Sek.Budi tertanggal 20 Maret 2020 yang ditanda tangani KAPOLSEK SETIABUDI AKBP. IMADE BAYU SUTHA SARTANA. SIK. MH selaku penyidik perihal Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang ditujukan Kepada Kepala Kejaksaan negeri Jakarta Selata
12. Bahwa dalam proses Penyidikan perkara aquo tersebut TERMOHON selaku Penyidik telah melakukan pemeriksaan ulang terhadap Saksi-Saksi yaitu di tuangkan kedalam Berita Acara Pemeriksaan saksi :
a. Saksi Sdr. RAJIMAN alias GAWIR;
b. Saksi Sdr. ASEP MOH NUR ZATI;
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.13 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
c. Saksi Sdr. ARIF SUGANDI;
d. Saksi Sdr. AWALIAN;
e. Saksi Sdr. HERI TRIBOWO KURNIAWAN;
f. Saksi Sdr. RUDI PRATAMA;
13. Bahwa selama melakukan penyidikan perkara a quo Termohon II telah mendapatkan adanya bukti yang cukup atau telah cukup bukti sebagaimana Putusan Mahkamah konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014 yang memuat penetapan Tersangka harus berdasarkan minimal 2 alat bukti sebagaimana termuat dalam Pasal 184 KUHAP, selanjutnya TERMOHON melakukan Gelar Perkara yang di tuangkan ke dalam Laporan Hasil Gelar Perkara tanggal 14 maret 2020, dengan Kesimpulan para peserta gelar menyetujui menetapkan Ujang Wartono (Pemohon) sebagai Tersangka dalam Perkara dugaan Tindak Pidana Pengeroyokan pasal 170 KUHP yang dilaporkan oleh RAJIMAN berdasarkan 2 alat bukti yang sudah ditemukan;
14. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 112 ayat (1) Termohon menerbitkan Surat Panggilan (Panggilan I) Nomor : S.Pgl/74/III/2020/Sek.Budi tertanggal 16 Maret 2020 yang ditanda tangani oleh Kapolsek Metro Setiabudi selaku Penyidik , telah memanggil secara sah dan patut kepada sdr. Ujang Wartono (Pemohon) untuk datang Ke kantor Termohon pada tanggal 18 Maret 2020 Jam:10.00 WIB untuk dimintai keterangan sebagai TERSANGKA, dimana Surat panggilan dimaksud diantar langsung oleh Termohon, dan Pemohon tidak datang dan tanpa memberi alasan yang sah;
15. Bahwa tanpa alasan yang sah dengan tidak dipenuhinya Panggilan Pertama oleh Pemohon, maka berdasarkan pasal 112 (2) KUHAP bahwa orang yang dipanggil wajib datang kepada Penyidik dan jika ia tidak datang, penyidik memanggil sekali lagi dengan Perintah Petugas untuk membawanya, selanjut Teramohon II Kembali menerbitkan Surat Panggilan Ke II (dua) Nomor : S.Pgl/82/IV/2020/Sek.Budi tertanggal 6 April 2020 yang ditanda tangani oleh Kapolsek Metro Setia budi selaku Penyidik, telah memanggil secara sah dan patut kepada sdr. Ujang Wartono (Pemohon) untuk datang Ke kantor Termohon pada Hari kamis tanggal 9 April 2020 Jam:10.00 Wib untuk dimintai keterangan sebagai Tersangka, dimana Surat panggilan dimaksud diantar langsung oleh Termohon dan diterima oleh Muryati;
16. Bahwa oleh karena Pemohon tidak datang kepada Penyidik tampa alasan yang patut dan sah maka selanjutnya Termohon II menerbitkan Surat Perintah Membawa Tersangka Nomor:S.P.Bawa/86/IV/2020/Sek. Budi tertanggal 20 April 2020 yang di tanda tangani oleh Kapolsek Metro Setiabudi
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.14 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
AKBP. Imade Bayu Sutha Sartana. SIK. MH Selaku Penyidik untuk Membawa dan menghadapkan Tersangka Ujang Wartono (Pemohon) kepada Penyidik guna didengar keterangannya sebagai Tersangka;
17. Bahwa TERMOHON kembali melakukan Gelar Perkara yang ke III (tiga) yang dituangkakan ke dalam LAPORAN HASIL GELAR PERKARA tgl 27 April 2020 terhadap Penyidikan Laporan Polisi Nomor LP / 102/ II / 2020 / Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 atas nama Pelapor Sdr. RAJIMAN dengan Rekomendasi dari Para Perserta gelar sepakat untuk dilakukan Penangkapan terhadap Tersangka Ujang Wartono (Pemohon);
18. Adanya Surat Nomor :B/1156/VI/2020/Sek.Budi tanggal 12 Juni 2020 perihal Permohonan Daftar Pencarian Orang (DPO) kepada Kapolres Metro Jakarta Selatan yang di tanda tangani oleh Kapolsek Metro Setia budi AKBP. Imade Bayu Sutha Sartana. SIK. MH Selaku Penyidik terhadap Tersangka Ujang Wartono (Pemohon), dan dibuatkan Daftar Pencarian Orang Nomor :DPO/16/VI/2020/Sek.Budi tgl 12 Juni 2020 yang di tanda tangani oleh Kapolsek Metro Setiabudi AKBP. Imade Bayu Sutha Sartana. SIK. MH Selaku Penyidik;
19. Adanya Surat Nomor B:1918/IX/Res.1.6/2020/Restro Jaksel yang di tanda tangani oleh kapolres Metro Jakarta selatan Perihal Pencegahan Keluar Negeri an. Tersangka Ujang Wartono (Pemohon) yang ditujukan Kepada Direktur Pengawasan dan Penindakan IMIGRASI yang ditanda tangani oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan selaku Penyidik;
20. Bahwa dengan adanya pergantian Kapolsek yang lama ke Kapolsek yang baru maka TERMOHON menerbitkan Surat Perintah Tugas Nomor :Sprin- gas/102/I/2021/Sek.Budi tanggal 9 Januari 2021 yang ditanda tangani Kapolsek Setiabudi AKBP. Yogen Heroes Baruno. SH. SIK selaku penyidik;
21. Bahwa untuk Kepentingan Penyidikan atau bagi pelaku yang telah di panggil 2 (dua) kali berturut-turut tidak datang tampa memberi alasan yang sah maka berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP. Kap/02/I/2021/ Sek.
Budi tanggal 11 Januari 2021 yang di tanda tangani oleh Kapolsek Setiabudi AKBP. Yogen Heroes Baruno. SH. SIK selaku penyidik telah dilakukan Penangkapan terhadap Tsk Ujang Wartono (Pemohon) yang diduga sebagai Pelaku Tindak Pidana Tindak Pidana Pengeroyokan Sebagaimana dimaksud dalam pasal 170 KUHP atas Laporan Polisi Nomor LP / 102/ II / 2020 / Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 atas nama Pelapor Sdr. RAJIMAN dan dibuatkan Berita Acara Penangkapannya;
22. Selajutnya Termohon melakukan pemeriksaan dalam bentuk Berita Acara
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.15 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Pemeriksaan Tersangka atas nama Ujang Wartono (Pemohon) yang diduga telah melakukan Tindak Pidana Pengeroyokan yang dilaporkan oleh sdr.
RAJIMAN (pelapor) dan selama dalam pemeriksaan Tersangka Sdr.
RAJIMAN (PEMOHON) tidak menggunakkan Penasehat Hukum yang telah dituangkan dalam Surat Pernyataan tertanggal 11 Januari 2020 dan dibuatkan Berita Acara Penolakan didampingi Penasehat Hukum;
23. Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka Ujang Wartono, Termohon kembali melakukan Gelar Perkara yang ke IV (empat) yang dituangkakan ke dalam Laporan Hasil Gelar Perkara tgl 11 Januari 2021 terhadap Penyidikan Laporan Polisi Nomor LP / 102/ II / 2020 / Sek.Budi tanggal 14 Pebruari 2020 atas nama Pelapor Sdr. Rajiman dengan Rekomendasi dari Para Perserta gelar sepakat untuk dilakukan Penahanan terhadap Tersangka Ujang Wartono (Pemohon) karna diduga keras sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup atau adanya 2 alat bukti ; 24. Bahwa berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor : SP. Han /01 /I/2021/ Sek. Budi tgl 12 Pebruari 2021 yang ditanda tangani KAPOLSEK SETIABUDI AKBP. YOGEN HEROES BARUNO. SH. SIK selaku penyidik telah dilakukan Penahanan terhadap tersangka sdr. UJANG WARTONO (PEMOHON) untuk selama 20 (dua Puluh) hari terhitung mulai tanggal 12 Januari 2021 sampai dengan tanggal 31 Januari 2021 Rutan Polsek Metro Setiabudi Jakarta selatan, dan telah dibuatkan Berita Acara Penahanan;
25. Bahwa Termohon menerbitkan Surat Nomor :01/I/2021/Sek.Budi tgl 12 Januari 2021 yang di tujukan kepada Keluarga Sdr. Ujang Wartono (Pemohon) perihal Pemberitahuan Penangkapan dan penahanan terhadap Tersangka sdr. Ujang Wartono (Pemohon), dan telah di terima dan di tanda tangani oleh sdr. Retno;
26. Bahwa guna kepentingan Pemeriksaan yang belum selesai, maka Termohon kemudian menerbitkan Surat Nomor :B/55/I/2021/Sek.Budi tanggal 21 Januari 2021 perihal Permintaan Perpanjangan Penahanan Tersangka Sdr.
Ujang Hartono (Pemohon) yang di tujukan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan;
27. Bahwa adanya Surat Perpanjangan Penahanan Nomor : B- 60/M.1.14.3/Eoh.1/2/2021 tanggal 27 Januari 2021 yang di tanda tangani oleh atas nama Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan selaku Penuntut Umum, telah memperpanjang masa Tahanan terhadap atas nama Tersangka Sdr. UJANG WARTONO (PEMOHON) untuk paling lama 40 hari terhitung mulai tanggal 01 Pebruari 2021 s/d tgl 12 Maret di Rutan Polsek Metro
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.16 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Setiabudi Jakarta Selatan dan dibuatkan Berita Acara Perpanjangan;
28. Adanya identitas berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI NIK : 3174041411670002 atas nama Ujang Wartono (Pemohon) alamat Kebagusan Besar Rt.001/006 Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan;
29. Bahwa temohon telah melakukan pencarian terhadap Saksi-saksi di sekitar Tempat kejadian Perkara dan dibuatkan Berita Acara Pencarian saksi Doni dan Syahrul;
30. Bahwa berdasarkan dari Keterangan saksi-saksi TERMOHON Telah melakukan Pencarian Terhadap Tersangka yang lain terhadap kasus aquo dan dibuatkan Berita Acara Pencarian Saksi / Tersangka lainnya dan Barang Bukti berupa Helm dan 1 unit mobil;
31. Sehubungan telah selesainya proses penyidikan terhadap perkara a quo tersebut selanjutnya Termohon melakukan pemberkasan Perkara a quo dengan Sampul Berkas Perkara Nomor: BP /01/102/I/F/2021/Sek Budi dan dibuatkan Resume;
32. Berdasarkan Surat TERMOHON Nomor : B/54/I/2021/Sek.Budi tertanggal 21 Januari 2021, TERMOHON telah mengirimkan Berkas Perkara a.n Tersangka Sdr. Ujang Wartono (Pemohon) kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan dibuatkan Tanda Terima;
33. Bahwa adanya Surat Nomor :B-130/M.1.14.3/Eku.1/03/2021 tertanggal 8 Maret 2021 hal : Pemberitahuan hasil Penyidikan Perkara Pidana atas nama Ujang Wartono (Pemohon) Berkas Perkara Nomor: BP/01/102/I/F/2021/Sek Budi sudah lengkap (P-21), yang di tujukan Kepada Kapolsek Setiabudi dan di tanda tangani oleh atas nama Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta selatan selaku Penuntut umum Winro Tumpal Halomoan Haro Munthe, SH. MH.;
34. Bahwa Termohon II telah mengirimkan Tersangka a.n. Ujang Wartono dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut umum berdasarkan surat Nomor B/199/III/2021/Sek.Budi tertanggal 08 Maret 2021 berdasarkan keterangan Pasal 8 ayat (3) dan Pasal 110 ayat (1) KUHAP;
Bahwa oleh karena penyelidikan dan penyidikan telah dilakukan sebagaimana diatur dalam ketentuan KUHAP dan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 6 tahun 2019 tentang Manjemen Penyidikan Tindak Pidana, maka seluruh dalil-dalil permohonan pra peradilan Pemohon untuk dikesampingkan dan ditolak.
PERMOHONAN
Berdasarkan uraian tersebut di atas, mohon berkenan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memeriksa dan memutus perkara ini untuk
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.17 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
memberikan amar putusan sebagai berikut;
DALAM EKSEPSI :
1. Menerima dan mengabulkan eksepsi Termohon I;
2. Menyatakan Pengadilan tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo;
DALAM POKOK PERKARA
1. Menolak Permohonan Praperadilan dari Pemohon untuk seluruhnya;
2. Membebankan biaya perkara kepada Pemohon;
Apabila Pengadilan berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Menimbang, bahwa terhadap permohonan praperadilan yang diajukan oleh Pemohon tersebut, Termohon-II mengajukan jawaban sebagai berikut:
I. TENTANG INTI POKOK PERMOHONAN DALAM PETITUM
1. Menerima permohonan praperadilan yang diajukan oleh PEMOHON untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Unsur Pidana dalam Ketentuan pasal 170 KUHP tidak memenuhi syarat Pemidanaan terhadap PEMOHON;
3. Menyatakan TERMOHON II telah melanggar Ketentuan syarat Formal pasal 75 KUHAP dan PERKABA Nomor 4 Tahun 2014, jo PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009 , maupun syarat materil sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 8 Tahun 1981 (Vide Pasal 107 s/d pasal 122 KUHAP ) sebagai Juklak dan pedoman dalam pelaksanaan tugas penyelidikan maupun penyidikan dalam suatu Peristiwa Pidana oleh karena cacat Hukum (error juridische);
4. Menyatakan TERMOHON II tidak mematuhi Ketentuan dalam Pasal 123 ayat (1) s.d ayat (5) jo.pasal 19 ayat (1), dan(2) KUHAP yang dimohonkan oleh Kuasa PEMOHON;
5. Menyatakan TERMOHON II telah melanggar Ketentuan dalam PERKABA Nomor 4 Tahun 2014.jo PERKAPOLRI Nomor 12 Tahun 2009, sebagai Protap dan Juklak (SOP) serta seluruh peraturan pelaksanaannya yang wajib dipatuhi serta ditaati;
6. Memerintahkan TERMOHON II segera membebaskan PEMOHON dari semua tuntutan hukum , dan segera dikeluarkan dari Tahanan tampa syarat;
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.18 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
II. TENTANG JAWABAN TERMOHON II A. DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa TERMOHON II menolak dengan tegas seluruh dalil dalil yang dikemukakan PEMOHON kecuali terhadap hal-hal yang diakui kebenarannya secara tegas oleh TERMOHON II;
2. Bahwa TERMOHON II tidak akan menanggapi seluruh dalil-dalil PEMOHON dalam permohonannya, akan tetapi hanya menanggapi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah pada Inti Pokok Permohonan Praperadilan;
3. Bahwa seluruh proses penyidikan yang dilakukan oleh TERMOHON II selaku Penyidik perkara aquo telah melalui prosedur hukum yang benar baik berdasarkan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) , Undang –undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Peraturan Kapolri Nomor : 6 Tahun 2019, Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana serta Undang - Undang dan Peraturan lain yang ada hubungannya dengan Penyidikan perkara a quo .
B. TENTANG KETENTUAN HUKUM
2. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 13 tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.
3. Bahwa berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia, dengan pasal-pasal sebagai berikut :
Pasal 1 angka 3, “Bantuan Hukum adalah segala usaha, upaya, kegiatan dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan hukum melalui peradilan maupun di luar peradilan”.
Pasal 2 huruf d dan e, “Pemberian Bantuan Hukum oleh Polri, meliputi advokasi dan pendampingan.
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.19 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Pasal 5 ayat (1), “Bantuan Hukum tingkat Kepolisian Daerah menjadi tanggung jawab Kepala Bidang Hukum Kepolisian Daerah yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kepala Subbidang Bantuan Hukum Kepolisian Daerah”.
Pasal 5 ayat (2) huruf a, “Pelaksanaan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh anggota Polri dan/atau Pegawai Negeri Sipil Polri yang bertindak sebagai Penasihat Hukum/Kuasa Hukum/Pendamping berdasarkan surat perintah dari pimpinan Polri yang berwenang”.
4. Bahwa berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 4 Tahun 2016 tertanggal 19 April 2016 tentang Larangan Peninjauan Kembali Putusan Praperadilan sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (4) yang berbunyi : “Persidangan perkara praperadilan tentang tidak sahnya penetapan tersangka, penyitaan dan penggeledahan dipimpin oleh Hakim Tunggal karena sifat pemeriksaannya yang tergolong singkat dan pembuktiannya yang hanya memeriksa aspek formil”.
5. Pasal 77 huruf a KUHAP secara tegas dan limitatif telah mengatur tindakan hukum yang dapat diuji pada sidang praperadilan yakni Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan serta ganti kerugian dan atau rehabilitasi.
Selanjutnya dalam Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor Nomor : 21/PUU-XII/2014, tanggal 28 April 2015 telah menyatakan dalam amar putusannya :
“bukti permulaan”, “bukti permulaan yang cukup”, dan “bukti yang cukup sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17 dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP bertentangan dengan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan/atau tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa “bukti permulaan”, “bukti permulaan yang cukup”
dan “bukti yang cukup” adalah minimal bukti yang termuat dalam Pasal 184 KUHAP.
Pasal 77 huruf a KUHAP bertentangan dengan Undang Undang
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.20 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan/atau tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sepanjang tidak dimaknai termasuk penetapan tersangka, penggeledahan, penyitaan, penangkapan dan penahanan.
6. Bahwa berdasarkan Pasal 45A Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Perubahan kedua atas Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung memutuskan larangan diajukan kasasi terhadap putusan praperadilan.
7. Bahwa dalam Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung RI (PERMA) Nomor 4 Tahun 2016 tertanggal 19 April 2016 tentang Larangan Peninjauan Kembali Putusan Praperadilan dan dalam Pasal 2 :
ayat (1) Obyek praperadilan adalah :
a. Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, penetapan tersangka, penyitaan dan penggeledahan.
b. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
ayat (2) “Pemeriksaan praperadilan terhadap permohonan tentang tidak sahnya penetapan tersangka hanya menilai aspek formil, yaitu apakah ada paling sedikit 2 (dua) alat bukti yang sah dan tidak memasuki materi perkara”.
ayat (3) Putusan praperadilan yang mengabulkan permohonan tentang tidak sah penetapan tersangka tidak menggugurkan kewenangan penyidik untuk menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka lagi setelah memenuhi paling sedikit dua alat bukti baru yang sah, berbeda dengan alat bukti sebelumnya yang berkaitan dengan materi perkara.
8. Bahwa berdasarkan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 18 PK/PID/2009 yang pada intinya menyatakan semestinya yang dijadikan pertimbangan hukum dalam putusan Praperadilan hanyalah bersifat pembuktian Administrasi,
Putusan Praperadilan No. 22/Pid.Prap.2021/PN.Jkt.Sel Hal.21 dari 58
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21