Sedangkan TERGUGAT berdasarkan Pasal 1 Angka (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang dimaksud dengan pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan di wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian untuk melakukan kegiatan usaha di berbagai bidang ekonomi; Metro Pondok Indah No.10 Jakarta 12310, yang termasuk klausul yang dilarang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 TH 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) dalam Akta Perjanjian Pembiayaan Konsumen di bawah tangan Nomor PK-001, tanggal 31 Oktober 2016 yang ditandatangani oleh TERGUGAT pada hari Senin tanggal tiga puluh satu Oktober Dua Ribu Enam Belas dengan ' total hutang sebesar Rp. Bahwa TERGUGAT merupakan KREDITOR dari PENGGUGAT yang mengadakan Perjanjian Baku dan secara melawan hukum mencantumkan Undang-Undang Larangan Nomor 8 Tahun 1999 sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) UUPK dalam Akta Perjanjian Pembiayaan Konsumen;
PMH) melalui mekanisme pertanggungjawaban perdata berdasarkan pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHperdata) yang menyatakan, “setiap perbuatan salah yang menimbulkan kerugian pada orang lain, mengharuskan orang yang karena kesalahannya menimbulkan kerugian itu, mengkompensasi kerugian tersebut." Bahwa perjanjian tersebut tertuang dalam Akta Perjanjian Pembiayaan Konsumen Swasta Nomor PK-001 tanggal 31 Oktober 2016 yang ditandatangani oleh TERGUGAT. Bahwa asas perlindungan konsumen mengenai adanya perjanjian baku telah ditentukan oleh Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyatakan bahwa perjanjian baku dilarang, dengan ancaman batal bagi hal-hal yang diatur dalam pasal tersebut.
42 Tahun 1999 tentang Jaminan FIDUSIA. Bertentangan dengan UUD 45 Tahun 1945, kreditur tidak dapat lagi secara sepihak mengeksekusi atau menarik kembali obyek jaminan FIDUSIA. Sedangkan suatu sebab dikatakan halal apabila memenuhi ketentuan Pasal 1337 KUHPerdata, yaitu.
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Bahwa, berdasarkan uraian kejadian diatas, TERGUGAT sebagai pelaku usaha yang berkedudukan atau melakukan kegiatan usaha dalam
Bahwa, mekanisme pertanggung jawaban perdata berdasarkan pasal 1367 kitab Undang-Undang hukum perdata (KUHPerdata) yang bunyinya
KERUGIAN PENGGUGAT (Mohammad Rizal)
PETITUM
Menimbang bahwa kuasa hukum Tergugat telah memberikan tanggapan dengan menyampaikan surat balasan masing-masing mengenai surat Penggugat yang disampaikan Penggugat sebagaimana tersebut di atas yaitu;
DALAM KONPENSI
Bahwa atas dasar syarat-syarat tersebut terpenuhi unsur-unsur perjanjian para pihak pada saat tergugat dan penggugat menandatangani perjanjian pembiayaan konsumen, sehingga apa yang tertuang dalam perjanjian pembiayaan konsumen adalah berdasarkan kesepakatan para pihak. Yang menjadi unsur pokok dalam akad ini adalah kendaraan a-quo yang ingin dibeli oleh penggugat dengan pembiayaan dari tergugat. Berdasarkan uraian Pasal 1320 KUH Perdata, karena terpenuhinya seluruh unsur di atas, maka perjanjian pembiayaan konsumen memenuhi syarat-syarat akad yang sah, sehingga akad tersebut sah menjadi undang-undang bagi para pihak, sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata (asas hukum Pacta Sunt Servanda);.
Sedangkan berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen, penggugat wajib melakukan pembayaran angsuran sebanyak 72 (tujuh puluh dua) kali angsuran terhitung mulai tanggal 31 Oktober. Bahwa keterlambatan penggugat dalam membayar angsuran dari angsuran kesepuluh (sepuluh) bulanan yang bersangkutan, dilanjutkan dengan pembayaran angsuran bulan-bulan berikutnya, dimana dari angsuran ke-40 (empat puluh) yang harus berakhir pada tanggal 31 Januari 2020 sampai dengan tanggapannya. untuk gugatan tersebut. Diajukan agar penggugat tidak lagi memenuhi kewajibannya kepada tergugat berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen a-quo. Bahwa tergugat tidak perlu menanggapi secara spesifik dalil penggugat pada Romawi I karena hanya menjelaskan dasar hukum gugatan penggugat.
Jadi, dalil penggugat yang dengan tegas menyatakan bahwa tergugat telah melanggar hukum dengan melanggar ketentuan penerapan Klausul Baku merupakan dakwaan yang sangat berat dan harus dipertanggungjawabkan oleh penggugat secara hukum. Bahwa tergugat tidak perlu menanggapi secara spesifik dalil penggugat dalam Romawi III karena hanya memuat kutipan aturan hukum saja yang dijadikan dasar gugatan penggugat. Dalam perkara a-quo, sangat jelas bahwa penggugat harus terikat dan taat pada Perjanjian Pembiayaan Konsumen a-quo yang salah satunya mengatur tentang kewajiban penggugat untuk melakukan pembayaran angsuran secara berkala tanpa terputus-putus sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. . Hal ini tertuang dalam pasal 6 ayat (1) perjanjian pembiayaan konsumen a-quo yang berbunyi “Pembayaran kembali dilakukan oleh debitur secara angsuran setiap bulan dan secara terus menerus dan tidak terputus-putus yaitu pada tanggal penarikan/realisasi Fasilitas Keuangan setiap bulan atau .
Angsuran yang dilakukan penggugat sama sekali tidak wajar dan pada kenyataannya penggugat tidak lagi memenuhi kewajiban pembayaran angsuran berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen a-quo, yang jelas berarti penggugat ingkar janji/wanprestasi terhadap konsumen. perjanjian keuangan a-quo. Padahal, agar penggugat paham, dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dibela penggugat, tidak ada larangan bagi tergugat untuk mengasuransikan obyek jaminan fidusia. Mengumumkan ayat (2) Pasal 15 UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3889), sepanjang frasa ``kekuasaan eksekutif'' bertentangan dengan UUD 1945. Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sehingga diartikan “untuk jaminan fidusia, apabila tidak ada wanprestasi terhadap perjanjian kontrak dan pihak obligor berkeberatan atas penyerahan obyek jaminan fidusia secara sukarela, maka segala mekanisme hukum dan tata cara harus dilaksanakan dan diterapkan dalam pelaksanaan eksekusi sertifikat fidusia kepada penjamin sebagaimana halnya dalam pelaksanaan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
Jelas jika disimak dengan seksama, tidak ada satupun putusan Mahkamah Konstitusi yang melarang penarikan atau penyimpanan barang jaminan fidusia oleh kreditur atau penerima fidusia. Inti dari putusan Mahkamah Konstitusi adalah melarang pemberian/penarikan barang jaminan fidusia kecuali telah disepakati sebelumnya secara jelas mengenai syarat wanprestasi/tidak dibayarnya dan apabila debitur tidak bersedia menyerahkan secara sukarela. barang jaminan fidusia tersebut. Mengenai Pasal 10 ayat (1) Perjanjian Pembiayaan Konsumen a-quo yang disepakati antara penggugat dan tergugat, berbunyi sebagai berikut:
Bahwa Penggugat dan Tergugat sebenarnya telah menyepakati syarat-syarat yang berkaitan dengan pemberian fasilitas pembiayaan kepada Penggugat, termasuk kesepakatan mengenai syarat cidera janji/wanprestasi.
- DALAM REKONPENSI
- DALAM KONPENSI/REKONPENSI
Bahwa Penggugat Tuntutan Balik dan Tergugat Tuntutan Balik telah sepakat sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen mengenai jangka waktu angsuran dan besarnya angsuran yang harus dibayar oleh Tergugat Tuntutan Balik kepada Penggugat Tuntutan Balik untuk setiap jangka waktu pembayaran angsuran Tuntutan Balik, 72. ( 72) angsuran mulai tanggal 31 Oktober 2016 sampai dengan 30 September 2022 dengan angsuran bulanan sebesar dua juta Rp 43 ribu delapan ratus rupiah untuk jangka waktu 4 (empat) tahun pertama (Fix period) sebesar Rp dua juta tujuh puluh ribu tiga ratus rupiah) untuk periode 2 (dua) tahun berikutnya (cap period); Bahwa tergugat Rekonpensi telah wanprestasi/wanprestasi dalam memenuhi kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen, dimana tergugat Rekonpensi sejak angsuran ke 10 (sepuluh) yang jatuh tempo pada tanggal 31 Juli 2017, telah terlambat memenuhi kewajibannya dalam sesuai dengan perjanjian pembiayaan konsumen yang mana penundaan tersebut berulang lagi pada bulan-bulan berikutnya sampai dengan angsuran ke-40 (keempat puluh) yang jatuh tempo pada tanggal 31 Januari 2020, Termohon Akuntansi tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran angsuran; Bahwa karena adanya counterclaim wanprestasi/wanprestasi tersebut, maka penggugat counterclaim telah melakukan segala upaya yang wajar menurut hukum dengan berulang kali melakukan upaya penagihan baik secara lisan maupun tertulis bahkan dengan melakukan kunjungan langsung kepada tergugat yang mengakuinya. alamat tempat tinggal untuk mengingatkannya akan kewajiban penggugat balik kepada penggugat dan meminta agar penggugat segera memenuhi kewajibannya.
Pengingkar janji/kegagalan memenuhi kewajibannya menyebabkan penggugat ganti rugi mengambil keputusan untuk memberikan jaminan terhadap kendaraan a-quo. Bahwa tergugat Rekonpens sendiri telah mengakui adanya wanprestasi/kegagalan memenuhi kewajibannya melakukan pembayaran angsuran berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen sebagaimana yang dikemukakan oleh tergugat Rekonpens dalam gugatannya pada Roman V, dimana tergugat Rekonpens dengan tegas telah menguraikan suatu keadaan dimana terdakwa Rekonpensi mengalami keterlambatan pembayaran angsuran; Bahwa tergugat gugatan balik telah ingkar janji/tidak memenuhi kewajibannya membayar angsuran kepada penggugat gugatan balik sebagaimana diatur dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen.
Akibat wanprestasi/cidera janji yang dilakukan oleh Tergugat Pengakuan, maka Penggugat Pengakuan melalui kuasa hukumnya mengamankan Kendaraan a-quo sebagai tahap awal dalam rangka pelaksanaan jaminan fidusia guna menegakkan hak-hak Pemohon Pengakuan atas Pengakuan tanggung jawab Tergugat; Sedangkan penggugat balik, sebelum dilakukan pengamanan/penarikan kendaraan a-quo, sebenarnya telah memberikan kesempatan kepada tergugat balik untuk melaksanakan apa yang dinyatakannya, yaitu penyerahan kendaraan a-quo secara sukarela kepada penggugat balik pada saat tuntutan balik. terdakwa tidak menepati janjinya sebagaimana dinyatakan. Sedangkan Tergugat Balikan mengajukan gugatan terhadap perkara a-quo melalui Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengakibatkan Penggugat Rekonstitusi tidak dapat menggunakan haknya untuk melaksanakan jaminan fidusia sehingga mengakibatkan kerugian bagi Reorganisasi. Penuntut;
bahwa menurut undang-undang, adanya perbuatan wanprestasi/wanprestasi yang dilakukan oleh tergugat dalam gugatan balik sebagaimana tersebut di atas memberikan hak kepada penggugat dalam gugatan balik untuk menuntut segala kerugian, bunga, dan biaya-biaya yang diakibatkan oleh kelalaian/wanprestasi tersebut (lihat: 1243 .Pasal KUH Perdata), sehingga tuntutan ganti rugi ini mempunyai dasar yang cukup; Bahwa karena wanprestasi janji/gagal akad yang dilakukan oleh tergugat Rekonpensi yang mengakibatkan tidak dipenuhinya jaminan fidusia atas kendaraan a-quo, maka penggugat Rekonpensi mengalami kerugian berupa uang sampai dengan tanggal sidang dengan agenda pengajuan jawaban dan tindakan Rekonpensi (16 Juli 2020) sebesar Rp. Oleh karena tergugat Rekonpensi telah melakukan perbuatan wanprestasi/wanprestasi, maka sudah sepantasnya dan adil jika tergugat Rekonpensi diperintahkan untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.
Menyatakan Tergugat Gugatan Balik secara sah dan meyakinkan telah menepati janji/wanprestasi sehubungan dengan Perjanjian Pembiayaan Konsumen dengan Kontrak No. PK-001 tanggal 31 Oktober 2016 yang ditandatangani dan ditandatangani oleh Penggugat Balik dengan Tergugat Balik; Memerintahkan penggugat ganti rugi untuk membayar kerugian materil yang diderita penggugat gugatan balik sebesar seluruh kewajiban tergugat ganti rugi kepada penggugat ganti rugi sebesar Rp. Menyatakan bahwa pelelangan kendaraan a quo yang akan dilakukan oleh penggugat terhadap penggugat adalah sah secara hukum untuk melunasi kewajiban tergugat terhadap penggugat dan tetap mencatatnya sebagai kewajiban tergugat terhadap penggugat jika diatas.