• Tidak ada hasil yang ditemukan

qirâ'ât mutawatir dan pengaruhnya dalam tafsir al-qurthubi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "qirâ'ât mutawatir dan pengaruhnya dalam tafsir al-qurthubi"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM TAFSIR AL-QURTHUBI

(STUDI ANALISIA SURAH AL-BAQARAH AYAT 184, 222, 233, SURAH AN-NISA 19,43, DAN SURAH AL-MAIDAH AYAT 6) Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh :

Asna Fitriya Ningsih NIM: 14210566

FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR`AN DAN TAFSIR

INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

2018 M/ 1439

(2)

TAFSIR AL-QURTHUBI

(STUDI ANALISIA SURAH AL-BAQARAH AYAT 184, 222, 233, SURAH AN-NISA 19,43, DAN SURAH AL-MAIDAH AYAT 6) Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh :

Asna Fitriya Ningsih NIM: 14210566

Pembimbing:

Dra. Hj.Romlah Widayati, M.Ag

FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR`AN DAN TAFSIR

INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

2018 M/ 1439

H

(3)

i

Skripsi dengan judul Qirâ’ât Mutawatir dan pengaruhmya Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Studi Analisis Surah Al-Baqarah Ayat 184, 222, 233, surah An-Nisa ayat 19,43 dan surah Al-Maidah ayat 6), yang disusun oleh Asna Fitriya Ningsih dengan Nomor Induk Mahasiswa 14210566 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan disetujui untuk diujikan pada sidang munaqosyah.

Jakarta, 10 Agustus 2018 Pembimbing,

Dr. Romlah Widayati, MA

(4)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “Qirâ’ât Mutawâtir dan pengaruhnya Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Studi Analisis Surah Al-Baqarah Ayat 184, 222, 233, surah An-Nisa ayat 19,43 dan surah Al-Maidah ayat 6)” oleh Asna Fitriya Ningsih dengan Nim 14210566, telah diujikan pada sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2018. Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag).

Jakarta, 15 Agustus 2018

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta,

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Dra. Maria Ulfa, MA Dra. Rukoyyah Tamimi

Penguji I, Penguji II,

Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA Drs. Arison Sani, MA Pembimbing,

Dr. Romlah Widayati, M.Ag

(5)

iii

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Asna Fitriya Ningsih

NIM : 14210566

Tempat/Tgl. Lahir : Sumber Hidup, 31 Mei 1996

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul Qirâ’ât Mutawâtir dan pengaruhmya Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Studi Analisis Surah Al-Baqarah Ayat 184, 222, 233, surah An-Nisa ayat 19,43 dan surah Al-Maidah ayat 6), adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 10 Agustus 2018

Asna Fitriya Ningsih

(6)

iv

Karya sederhana ini, saya persembahkan teruntuk ibu dan bapak saya, yang dengan penuh ketulusan dan keridhaan senantiasa mendidik saya,

mengenalkan arti kehidupan yang sesungguhnya, untuk terus berusaha tanpa mengenal menyerah dan putus asa.

Juga teruntuk adik bontot saya, saudara kandung satu-satunya, yang tanpa disadari telah menjadi salah satu sumber semangat saya, sering

menyebalkan tetapi selalu membuat bahagia.

(7)

v

“Jangan hanya menunggu, tapi bergeraklah, lakukan apa yang bisa kita lakukan, tidak akan ada hasil jika tidak ada proses.”

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, atas ridha Allah swt penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul Qirâ’ât Mutawâtir dan pengaruhmya Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Studi Analisis Surah Al-Baqarah Ayat 184, 222, 233, surah An-Nisa ayat 19,43 dan surah Al-Maidah ayat 6),

Shalawat serta salam tercurah limpah teruntuk idola sejati, Nabi Muhammad saw, sumber inspirasi, motivasi dan inovasi untuk melahirkan karya yang hakiki dan dapat dicintai.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa karya sederhana ini sejatinya bukanlah mutlak hasil dari kerja keras penulis seorang.

Karena, banyak sekali sumbangsih orang lain dalam proses pengerjaannya. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan terimakasih kepada:

1) Allah swt, yang dengan rahmat dan ridha-Nya telah memberikan kekuatan kepada penulis untuk mampu menyelesaikan tugas akhir ini.

2) Ibu Prof. Dr. Hj. Khuzaimah Tahido Yanggo, Lc, MA ibunda kita semua, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

3) Ibu Dr. Hj. Maria Ulfah, MA Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta, yang senatiasa memanjatkan doa terbaik.

4) Bapak Dr. H. M. Ulinnuha Husnan, Lc, MA Kepala Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta,

(9)

vii Fakultas Ushuluddin.

5) Dr. Romlah Widayati, MA dosen pembimbing penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Sosok pembimbing yang penuh perhatian dan berwawasan luas. Jazakallah bu, atas waktu yang diluangkan, dan binaan yang tak akan penulis lupakan.

6) Ibu Atiqah, Ibu Mahmudah, Ka A’yuna dan seluruh Instruktur tahfidz IIQ Jakarta. Instruktur tahfidz yang selalu jadi inspirator dan motivator penulis, hingga penulis sampai di titik ini.

7) Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta yang telah membagikan ilmunya pada penulis, sehingga penulis mampu memahami banyak hal terkait ilmu-ilmu Al-Qur’an.

8) Seluruh staf fakultas yang telah membantu setiap tangga proses yang penulis lalui. Terutama untuk ibu Kokoy dan ibu Suci, terimakasih atas segala bentuk perhatiannya.

9) Pimpinan dan staf perpustakaan IIQ Jakarta, perpustakaan umum UIN Syarif Hidayatullah, perpustakaan PSQ dan perpustakaan Iman Jama’ telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mencari bahan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.

10)Seluruh teman IIQ Jakarta angkatan 2014, teman-teman Fakultas Ushuluddin dan yang paling spesial teman-teman kelas Ushuluddin A, atas kebersamaan yang penuh cinta selama masa perkuliahan hingga sekarang. See you on top teman 

11) Kedua orang tua saya Bapak Ali Mahsun dan Ibu Siti Zuliati terima kasih karena selalu menyakinkan anaknya bahwa anaknya bisa untuk menyelesaikan skripsi ini, dan terkhusus

(10)

viii

karena selalu mendorong saya untuk segera menyelesaikan dan selalu membuat penulis tertawa.

12)Mblotoot Squad terima kasih atas kebersamaan di empat petak kontrakan selama setengah tahun terakhir masa kuliah, masa penyelesaian tugas-tugas akhir. Matursuwun nggeh sudah mau berbagi kasur, bantal, piring, gelas, canda dan tawa. Semoga selalu terkenang.

13)Inayatul Mustautina terima kasih banyak karena selalu menyuntikan semangat kepada penulis agar segera menyelesaikan skripsi.

14)Pembaca sekalian, semoga karya sederhana ini mampu menginspirasi dan bermanfaat dunia akhirat.

Tak lupa penulis ucapkan permohonan maaf kepada seluruh pembaca jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun penyusunan skripsi ini. Kesempurnaan hanya milik Allah swt dan kekurangan ada pada diri penulis. Besar harapan penulis, semoga karya sederhana ini mampu memberikan kontribusi positif dalam dunia akademis, serta mampu menumbuhkam samudra cinta terhadap sebuah ilmu dan karya dalam hati semua pembaca.

Jakarta, Agustus 2018

Asna Fitriya Ningsih

(11)

ix

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...i

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

PERNYATAAN PENULIS ...iii

PERSEMBAHAN ...iv

MOTTO ...v

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI ...xi

PEDOMAN TRANSLITERASI ...xv

ABSTRAKSI ...xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan ...1

B. Identifikasi Masalah ...10

C. Pembatasan Masalah ...10

D. Rumusan Masalah ...11

E. Tujuan Penelitian ...11

F. Manfaat Penelitian ...11

G. Tinjauan Pustaka ...11

H. Metodologi Penelitian ...15

I. Sistematika Penulisan ...16

BAB II ILMU QIRÂ’ÂT TRADISI ISLAM A. Pengertian Ilmu Qirâ’ât ...19

B. Sejarah Perkembangan Ilmu Qirâ’ât ...20

C. Macam-macam Qirâ’ât ...38

D. Kedudukan Qirâ’ât Dalam Menafsirkan AL-Qur`an ...49

(12)

x

BAB III BIOGRAFI MUFASSIR DAN PROFIL KITAB A. BIOGRAFI IMAM AL-QURTHUBI

1. Riwayat Hidup ...53

2. Latar Belakang Sosial Politik Pada masanya ...55

3. Guru-guru Dan murid-muridnya ...58

4. Karya-karya ...60

B. PROFIL AL-JÂMI’ LI AHKAM AL-QUR`AN 1. Gambaran Umum Tafsir ...61

2. Sumber Penafsiran ...62

3. Metode, Corak Penafsiran dan Karkteristik Tafsir ...64

a. Metode Penafsiran ...64

b. Corak Penafsiran ...65

c. Sistematika Penafsiran ...66

d. Karakteristik Tafsir ...67

e. Keistimewaan kitab tafsir ...69

BAB VI KAJIAN ANALISIS PENAFSIRAN AL-QURTHUBI DALAM TAFSIR AL-JÂMI LI AHKAM AL-QUR`AN DALAM SURAH AL- BAQARAH 184,222,233 AN-NISA AYAT 19,43 dan AL-MAIDAH AYAT 6 A. Farsy al-Huruf Dalam Surat Al Baqarah Sampai Al-Maidah ...71

B. Analisa Penafsiran Al-Qurthubi Dengan Penafsiran Lainnya ...73

1. Surat Al-Baqarah ayat 184 ...74

2. Surat Al-Baqarah ayat 222 ...81

(13)

xi

4. Surat An-Nisa ayat 19 ...90 5. Surat An-Nisa ayat 43 ...92 6. Surat Al-Maidah ayat 6 ...103 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ...112 B. Saran-saran ...113 DAFTAR PUSTAKA

(14)

xii

PEDOMAN TRANSLITERASI

Skripsi ini ditulis dengan menggunakan pedoman transliterasi sebagaimana diuraikan di bawah ini. Transliterasi ini ditulis dengan menggunakan pedoman transliterasi huruf Arab ke huruf latin yang telah disusun oleh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Tahun 2017.

1. Konsonan

ﺃ : a ﻁ : th

ﺏ : b ﻅ : zh

ﺕ : t ﻉ : ‘

ﺙ : ts ﻍ : gh

ﺝ : j ﻑ : f

ﺡ : h ﻕ : q

ﺥ : kh ﻙ : k

ﺩ : d ﻝ : l

ﺫ : dz ﻡ : m

ﺭ : r ﻥ : n

ﺯ : z ﻭ : w

(15)

xiii

ﺵ : sy ء : `

ﺹ : sh ﻱ : y

ﺽ : dh

2. Vocal

Vocal tunggal Vocal panjang Vocal rangkap

Fathah : a

: â

ْﻱَ... :

ai

Kasrah : i

: î

ْﻭَ... :

au

Dhammah : u

: û

3. Kata Sandang

a. Kata sandang yang diikuti alim lam (

ﻝﺍ

) qamariyah

Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (

ﻝﺍ

) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ْﺓ َﺮَﻘَﺒْﻟَﺍ :

al-Baqarah

ْﺔَﻨْﻳِﺪَﻤْﻟَﺍ :

al-Madînah b. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (

ﻝﺍ

) syamsiyah

Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (

ﻝﺍ

) syamsiyah ditransliterasikan sesuai aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ْﻞُﺟ ﱠﺮﻟَﺍ :

ar-rajul

ْﺓَﺪِّﻴﱠﺴﻟَﺍ :

as-Sayyidah

(16)

xiv c. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab digunakan lambang (ّ_), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.

Contoh:

ِﻪَﻠﻟﺎِﺑ ﺎّﻨَﻣَﺃ :

Âmannâ billâhi

ُءﺎَﻬَﻔﱡﺴﻟﺍ ﺎَﻨَﻣَﺃ :

Âmana as-Sufahâ’u

َﻦْﻳِﺬﱠﻟﺍ ﱠﻥِﺇ :

Inna al-ladzîna

ِﻊﱠﻛ ﱡﺮﻟﺍ َﻭ :

wa ar-rukka’i d. Ta Marbûthah (

)

Ta Marbûthah (

) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut diaksarakan menjadi huruf “h”. Contoh:

ِﺌْﻓَ ْﻷﺍ

ِﺓَﺪ :

al-Af’idah

ُﺔﱠﻴ ِﻣ َﻼْﺳِ ْﻹَﺍ ُﺔَﻌِﻣﺎَﺠْﻟﺍ :

al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah

Sedangkan ta marbûthah (

) yang diikuti atau disambungkan (di-washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:

ٌﺔَﺒ ِﺻﺎَﻧ ٌﺔَﻠِﻣﺎَﻋ :

‘Âmilatun Nâshibah

ﻯ َﺮْﺒُﻜْﻟﺍ َﺔَﻳَ ْﻷﺍ :

al-Âyat al-Kubrâ

(17)

xv e. Huruf Kapital

Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya. Contoh: ‘Alî Hasan al-‘Âridh, al-

‘Âsqallânî, al-Farmawî dan seterusnyaa. Khusus untuk penulisan kata Alqur`an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital. Contoh: Al-Qur`an, Al-Baqarah, Al-Fâtihah dan seterusnya.

(18)

xvi Asna Fitriya Ningsih (14210566)

Qirâ’ât Mutawâtir dan pengaruhmya Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Studi Analisis Surah Al-Baqarah Ayat 184, 222, 233, surah An-Nisa ayat 19,43 dan surah Al-Maidah ayat 6),

Al-Qur`an telah melahirkan berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan, dan pada sisi lain juga membutuhkan seperangkat ilmu untuk memahaminya, Itu artinya bahwa antara Al-Qur`an terjadi dialektika:

melahirkan berbagai ilmu dan ilmu tersebut digunakan untuk memahaminya. Dari Pembahasan yang terbanyak dari 80 macam Ulumul Qur’an tersebut diarahkan untuk mendukung kedua ilmu yaitu al-Qirâ’ât dan Tafsir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Ulumul Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian besar: pertama adalah ilmu Qirâ’ât dan kedua Ilmu Tafsir. Ilmu Qirâ’ât berfungsi mengetahui cara membaca atau (melafalkan) teks-teks Al-Qur`an. Sementara Ilmu Tafsir berfungsi untuk memahami isi kandungan teks Al-Qur’an. Kedua ilmu tersebut mempunyai relevansinya dalam kajian ilmu-ilmu keislaman, karena semua ilmu keislaman bermuara kepada kedua ilmu tersebut.

Alasan penulis mengambil tema ini karena ingin mengetahui bagaimana pengaruh qirâ’ât dalam penafsiran al-Qurthubi dalam tafsir al-Jâmi’ Li Ahkam Al-Qur`an dan pengaruh dalam istinbath hukum yang dihasilkan.

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sedangkan pengumpulan data ditempuh melalui penelitian pustaka (library research).

Sumber data primer yang penulis gunakan yakni Tafsir Al-Jâmi’ Li Ahkam Al-Qur`an. Sementara data sekunder merupakan buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan qirâ’ât. Adapun teknis analitis yang digunakan penulis yakni deskriptis analitis.

Penelitian ini membuktikan bahwa perbedaan bacaan qirâ’ât dapat mempengaruhi makna dan kadang juga tidak, dalam tafsir al- Qurthubi terkadang hanya mendukung satu bacaan namun kadang al- Qurthubi tidak menjelaskan bacaan mana yang lebih dominan terhadap penafsiran al-Qurthubi. Dalam mengemukakan hukum beliau tidak selalu sependapat dengan Imam Malik, terkadang al-Qurthubi memilih ijtihad beliau sendiri, dan terkadang al-Qurthubi tidak menyebutkan bagaimana pendapat beliau, al-Qurthubi hanya memaparkan bagaimana para ulama berpendapat terhadap masalah yang ada pada ayat tersebut.

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Al-Qur`an adalah mu’jizat abadi, yang diturunkan kepada Rasulullah sebagai hidayah manusia,dan penjelasan mengenai petunjuk serta pembeda antara yang haq dan yang batil. Akan tetapi petunjuk Al-Qur`an tersebut tidaklah dapat diungkap maknanya bila tanpa adanya penafsiran. Itulah sebabnya Al-Qur`an yang diwayuhkan dengan tatanan bahasa arab yang sangat tinggi keadaan dan balaghahnya terus mengalami gerakan penafsiran yang signifikan dari para ulama. Hal itu terbukti dengan banyaknya karya para ulama yang dipersembahkan guna menyingkap rahasia yang terkandung didalam Al-Qur’an dengan menggunakan metode dan sudut pandang yang berbeda.1 Al-Qur`an telah melahirkan berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan, dan pada sisi lain juga membutuhkan seperangkat ilmu untuk memahaminya.2 Itu artinya bahwa antara Al-Qur`an terjadi dialektika: melahirkan berbagai ilmu dan ilmu tersebut digunakan untuk memahaminya. Pengkajian terhadap Al-Qur`an telah menghasilkan berbagai cabang Ulumul Al- Qur`an, dan kini dalam menafsirkan Al-Qur`an sangat dibutuhkan.

Diantara cabang ulumul Al-Qur`an adalah ilmu Qirâ’ât.3

Sebuah disiplin ilmu selalu memiiki key word (kata-kata kunci) dan terminologi yang harus dipahami dan dikuasai jika ingin menangkap konsep besar kajian tersebut secara utuh dan benar.

1 Manna’ al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur`an, terj.Aunur Rafiq el-Mazni (Jakarta:Pustaka al-Kautsar,2008), h.211

2Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu Al-Qur`an 3, (Jakarta: Pustaka firdaus,2004), h.17

3Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, (Ciputat: Transpustaka, 2015) h.3

(20)

Demikian halnya dengan disiplin ilmu qirâ’ât yang masih termasuk rumpun studi ilmu-ilmu Al-Qur’an4. Dari Pembahasan yang terbanyak dari 80 macam Ulumul Qur’an tersebut diarahkan untuk mendukung kedua ilmu yaitu al-Qirâ’ât dan Tafsir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Ulumul Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian besar: pertama adalah ilmu Qirâ’ât dan kedua Ilmu Tafsir. Ilmu Qirâ’ât berfungsi mengetahui cara membaca atau (melafalkan) teks-teks Al-Qur`an. Sementara Ilmu Tafsir berfungsi untuk memahami isi kandungan teks Al-Qur’an. Kedua ilmu tersebut mempunyai relevansinya dalam kajian ilmu-ilmu keislaman, karena semua ilmu keislaman bermuara kepada kedua ilmu tersebut.5

Qirâ’ât adalah suatu mazhab pembacaan Al-Qur’an yang dipakai oleh seorang imam qurra’ sebagai mazhab yang berbeda dengan mazhab yang lainnya.6 Dari macam-macam qira’ah bisa menjadikan keberagaman hukum islam. Perbedaan qirâ’ât yang berkaitan dengan substansi lafadz atau kalimat adakalanya mempengaruhi makna lafaz tersebut adakalnya tidak. Dengan demikian perbedaan qirâ’ât dapat mempengaruhi istinbat hukum,dan adakalanya tidak, dapat ditarik kesimpulan bahwa qirâ’ât memilik pengaruh besar dalam pembentukan hukum islam.7

Berbicara tentang sejarah perkembangan ilmu-ilmu keislaman di Nusantara, mungkin yang sering muncul kepermukaan adalah studi tentang ajaran tasawuf yang banyak terwadahi dalam ordo-ordo tarekat. Cukup banyak kajian historis tentang ajaran

4 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di Nusantara, (Jakarta: Pustaka STAINU, 2008) h. xix

5 Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, h. ix

6 Manna Khalil al-Qathan, Studi Ilmu-ilmu Qur`an, terj.Mudzakir AS.(Bogor:

Pustaka Litera AntarNusa,2013) h.247 cet.16

7 Hasanuddin AF, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an, (Jakarta:Raja Grafindo, 1995,) h.209

(21)

tasawuf maupun ordo tarekat Nusantara yang diangkat oleh para sejarawan muslim. Namun demikian, ada studi sejarah peradaban dengan fokus permasalahan ilmu-ilmu keislaman yang sebenarnya tidak kalah menarik apabila dijadikan tema kajian, misalnya tentang ilmu qirâ’ât. Disiplin ilmu inilah yang mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan autentisitas sumber utama ajaran Islam (Al- Qur`an).

Ibn al-Jazari (w.833 H) mengemukakan bahwa “ Qirâ’ât adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tata cara melafadzkan beberapa kosa kata Al-Qur`an dan perbedaan kosa kata tersebut yang dinisbatkan kepada orang yang meriwayatkannya”. Ibn al-Jazari (w.833 H) tidak hanya menganggap qirâ’ât sebagai sistem penulisan dan ragam artikulasi lafadz, tetapi juga disiplin ilmu yang independen, yang menyetujui bahwa sumber keberagaman qirâ’ât bukan sebagai produk inovasi atau hasil ijtihad melainkan disandarkan pada keterangan riwayat. Lain halnya dengan al- Zarkasyi (w.1391 M) yang merumuskan definisi qirâ’âtQirâ’ât adalah perbedaan beberapa lafadz wahyu (Al-Qur`an) dalam hal penulisan huruf maupun cara artikulasinya, baik secara takhfif (membaca tanpa tasydid), tastqil (membaca dengan tasydid), dan lain sebagainya. al-Zarkasyi (w.1391 M) mengaggap qirâ’ât sebagai sistem penulisan huruf dan artikulasi lafadz yang memiliki variasi tanpa menyebut-nyebut asal usul ragam qirâ’ât. Al-Zarkasyi (w.1391 M) mengatakan bahwa sesungguhnya Al-Qur`an dan qirâ’ât adalah dua hakekat yang berbeda.8 Sementara al-Zarqani (w.1397 M) tidak saja menganggap qirâ’ât sebagai artikulasi lafadz, seperti defenisi az-

8 Muhsin Salim, Ilmu Qira’at Tujuh “Bacaan Al-Qur`an Menurut Tujuh Imam Qira’at Dalam Thariq Asy-Syathibiyah”, (Jakarta: Majelis Kajian-Kajian Ilmu Al-Qur`an, 2007), cet.1 h. 22

(22)

Zarkasyi (w.1391), tetapi juga sebagai salah satu mazhab qirâ’ât yang sumbernya riwayat.9 Berbeda dengan Dr, Muhammad Salim Muhaisin dalam bukunya Fi Rihab Al-Qur`an sebagaimana dikutip oleh Muhsin Salim menyatakan bahwa Al-Qur`an dan qirâ’ât adalah hakekat yang satu arti. Alasannya adalah bentuk dari kata Qur`an berupa kata masdar sebagi sinonim dari kata qira’ah. Sedangkan qirâ’ât adalah jamak dari kata qiraah (ﺓءﺍﺮﻗ) oleh karena itu baik kata qur`an maupun qira’ah mempunyai arti yang sama. 10

Secara garis besar, yang dimaksud ilmu qirâ’ât adalah ilmu yang mempelajari sistem dokumentasi tertulis dan artikulasi lafal Al- Qur`an. Bedasarkan standar dan kualifikasi yang ditetapkan dalam disiplin ilmu qirâ’ât, dapat dipilihlah secara tegas antara riwayat qirâ’ât yang absah dan tidak absah. Dapat dibedakan juga mana artikulasi yang benar dan tidak. Hanya saja ilmu qirâ’ât tidak terlalu populer dikalangan kaum muslim. Masyarakat muslim lebih akrab dengan ilmu tajwid, sebagai ilmu yang berkaitan dengan hukum bacaan lafal Al-Qur`an dibandingkan ilmu qirâ’ât.11

Qirâ’ât berbeda dengan tajwid. Qirâ’ât menyangkut cara pengucapan lafal. Kalimat, dan dialek kebahasaan Al-Qur’an, sedangkan tajwid sesuai dengan pengertiannya adalah pengucapan huruf Al-Qur’an secara tertib, sesuai dengan makhraj dan bunyi asalnya.12 Variasi qirâ’ât tersebut mempunyai nilai yang sama, tidak

9 Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, h.14

10 Muhsin Salim, Ilmu Qira’at Tujuh “Bacaan Al-Qur`an Menurut Tujuh Imam Qira’at Dalam Thariq Asy-Syathibiyah”, (Jakarta: Majelis Kajian-Kajian Ilmu Al-Qur`an, 2007), cet.1 h. 22

11 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di Nusantara, , h.5

12 Abd. Rozak dan Aminuddin, Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2010). h.89

(23)

ada kelebihan atau keistimewaan antara bacaan yang satu dengan yang lainnya,karena semuanya sama-sama datang dari Allah.13

Keberadaan beberapa jenis qirâ’ât tidak lain merupakan bentuk rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad sekalipun, secara umum Bahasa Arab merupakan lingua franca (bahasa sehari-hari/pergaulan) bagi orang-orang Arab, namun pada tingkat kabilah maupun suku, terdapat sistem artikulasi atau dialek yang berbeda-beda. Kenyataan adanya faktor pluralitas sistem artikulasi pada kabilah-kabilah Arab telah disadari oleh Rasulullah sejak awal. Oleh karena itu, beliau bersikukuh memohon kepada Allah agar menambah ragam qirâ’ât Al-Qur’an yang diwahyukan kepada beliau melalui malaikat Jibril. Hal ini sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang disebutkan dalam kitab Shahih Muslim sebagi berikut:

ﻲِﻨَﺛﱠﺪَﺣ ُﺪْﻴَﺒُﻋ

ِﻪﻠﻟﺍ

ُﻦْﺑ

ِﺪْﺒَﻋ ِﻪﻠﻟﺍ

،َﺔَﺒْﺘُﻋ ِﻦْﺑ ﱠﻥَﺃ

َﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎ ﱠﺒَﻋ

،ُﻪَﺛﱠﺪَﺣ ﱠﻥَﺃ

َﻝﻮُﺳ َﺭ ِﻪﻠﻟﺍ

ﻰﱠﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ

،َﻢﱠﻠَﺳ َﻭ َﻝﺎَﻗ

: ﻲِﻧَﺃَﺮْﻗَﺃ » ُﻞﻳ ِﺮْﺒ ِﺟ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ

ُﻡ َﻼﱠﺴﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ

، ٍﻑ ْﺮَﺣ

،ُﻪُﺘْﻌَﺟﺍ َﺮَﻓ

ْﻢَﻠَﻓ ْﻝ َﺯَﺃ ُﻩُﺪﻳ ِﺰَﺘْﺳَﺃ ﻲِﻧُﺪﻳ ِﺰَﻴَﻓ

ﻰﱠﺘَﺣ ﻰَﻬَﺘْﻧﺍ

ﻰَﻟِﺇ

ِﺔَﻌْﺒَﺳ ٍﻑُﺮْﺣَﺃ ﻩﺍﻭﺭ )

( ﻢﻠﺴﻣ

14

“Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Utbah, disebutkan bahwa Ibnu Abbas memberitahu dia kalau Rasulullah telah bersabda :”Jibril membacakan Al-Qur`an kepadaku dengan satu huruf saja.

Maka aku terus meminta tambahan kepadanya. Dan ternyata Dia pun menambah (ragamnya) sehingga mencapai tujuh huruf (HR.

Muslim).

13 Nasrudin Baidan,Wawasan Ilmu Tafsir ,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005) h.95

14 Muslim Ibn Hajaj al-Naisaburi, Shahih Muslim (Dar Ihya al-Turas al-‘Arabi, t,th), Juz I, bab Bayan anna Al-Qur’an ‘ala Sab’tu Ahruf Wabayan . no 1355 h.561

(24)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna sab’atu ahruf . ada yang memahaminya sebagai bilangan yang banyak dengan alasan orang Arab bisa menyebut jumlah banyak dengan kata sab’ah. Adapun kata Ahruf merupakan bentuk plural dari kata harf (huruf).ada juga yang mengatakan bahwa makna harf secara bahasa adalah tepi sesuatuan. Ketika kata harf dipahami dalam konteks sab’atu ahruf maka muncullah berbagai pendapat ada yang memaknai bacaan, model, bahasa, dialek, cara, segi, atau lainnya. Menurut Abu Hatim ibn Hibban (w. 354 H/ 956 M) ada sekitar tiga puluh lima pendapat ulama mengenai pendapat ulama mengenai sab’atu huruf, adapun menurut al-Suyuthi (w.991 H/1538 M) ada empat puluh pendapat sab’atu Ahruf 15.

Keberadaan sistem qirâ’ât tersebut memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin mendalami makna Al-Qur`an, baik berupa hukum, hikmah dan juga pemaknaan secara luas. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya perbedaan ragam qirâ’ât yang berimplikasi pada perubahan penafsiran tersebut menjadikan seorang untuk menafsirkan Al-Qur`an sesuai kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Hal ini tidak bisa dinapikan karena bagaimanapun para mufassir adalah seorang manusia yang hidup dalam politik keberagamannya. Atas dasar asumsi tersebut bisa dikatakan dalam menafsirkan Al-Qur`an, sang mufasir tidak mungkin melepaskan latarbelakang kehidupannya.

Dengan kata lain bahwa masih sangat kuatnya ideologi yang dibawa seorang mufasir ketika sudah berinteraksi dengan Al-Qur`an.16

15 Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, h.16

16 Salimudin, “Qira’at dalam Kitab Tafsir : Kajian atas Ayat-ayat Teologis dalam al-Kasysyaf dan Mafatih al-Ghaib”, Tesis, Yogyakarta: Universitas Sunan Kalijaga, 2016

(25)

Beberapa ragam huruf bacaan Al-Qur`an yang diwahyukan kepada Rasulullah pada akhirnya terwadahi dalam beberapa madzhab qirâ’ât. Dengan kata lain, ragam qirâ’ât yang diajarkan oleh para qari’ dari kalangan sahabat maupun generasi berikutnya sama sekali bukan produk ijtihad atau inovasi manusia. Ragam qirâ’ât merupakan riwayat yang bersifat tauqifi dan didasarkan pada sistem sanad yang bersambung kepada Rasulullah. Hal ini sangat paradoks dengan ajaran dalam mazhab fikih, sekte teologi, maupun ordo thariqah yang kemunculannya merupakan hasil ijtihad dan inovasi kreatif manusia.17

Pemahaman terhadap qirâ’ât sebagai prasarat dalam tafsir, menurut Jalaludin al-Suyuthi, disebabkan adanya versi bacaan (qirâ’ât) Al-Qur’an berbeda-beda, adakalanya perbedaan itu berkaitan dengan substansi lafazh atau berkaitan dengan lahjah atau dialek kebahasaan. Perbedaan qirâ’ât yang berkaitan dengan substansi lafazh bisa menimbulkan perbedaan makna, sementara perbedaan qirâ’ât yang berkaitan dengan lahjah atau dialek kebahasaan tidak menimbulkan perbedaan makna seperti bacaan tashil, imalah, taqlil, tarqiq, tafkhim dan sebagainya.18 Dari berbagai versi qirâ’ât Al-Qur’an yang berkaitan dengan ayat-ayat hukum yang berbeda dengan versi qirâ’ât sebagaimana terbaca dalam Mushaf Al-Qur’an yang dimiliki kaum Muslimin sekarang.

Perbedaan qirâ’ât tersebut bisa menimbulkan istinbath hukum yang berbeda jauh.19

ُﻑ َﻼِﺘْﺧِﺍ ِﺕﺍَءﺍ َﺮِﻘْﻟﺍ

ْﻈُﻳ ُﺮِﻬ َﻑ َﻼِﺘْﺧِ ْﻻﺍ ِﻡﺎَﻜْﺣَ ْﻷﺍ ْﻲِﻓ

17 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di Nusantara, h.7

18 Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, h.5

19 Hasanuddin AF, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Al-Qur’an, h.7-8

(26)

Perbedaan qirâ’ât Al-Qur`an akan menimbulkan perbedaan perdapat (ulama) dalam (istinbath) hukum.”

Oleh karena urgensi aspek qirâ’ât inilah, seharusnya seorang mufassir menempatkan qirâ’ât sebagai sumber alternatif utama dalam upaya memahami dan menafsirkan makna-makna ayat Al- Qur’an, karena sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa qirâ’ât menempatkan aspek yang tak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Di negara Indonesia, perkembangan penafsiran Al-Qur’an berbeda yang terjadi dengan dunia Arab, tempat turunnya Al-Qur’an sekaligus tempat muncul penafsiran Al-Qur`an. Perbedaan tersebut dilatar belakangi budaya dan bahasa. Oleh karena itu penafsiran Al-Qur’an untuk bahasa Arab melalui bahasa yang sesuai dengan bahasa Al- Qur’an sendiri, yaitu bahasa Arab, sedangkan di Indonesia harus melalui penerjemahan agar penafsiran tersebut dapat mudah dipahami oleh masyarakat. Esensi dari keberadaan tafsir Al-Qur’an di Indonesia adalah merupakan upaya menjelaskan kandungan kitab suci Al-Qur’an kepada masyarakat Indonesia melalui bahasa yang digunakan sehari-hari, yaitu bahasa.20

Lebih jauh lagi para ulama masih berbeda pendapat tentang kedudukan qirâ’ât Syadzdzah yang dijadikan hujjah dalam istinbath hukum. Ada ulama yang memerima dan ada yang menolak. Ulama yang menolak adalah golongan Malikiyyah dan Syafi’iyah dengan alasan bahwa qirâ’ât Syadzdzah bukan Al-Qur’an sehingga tidak bias dijadikan hujjah. Namun adapula pihak yang mendukung dalam menetapkan bahwa boleh menggunakan qirâ’ât Syadzdzah sebagai hujjah yakni Abu Hanifah, Golongan Hanabilah dan imam al-Thufi.

Menurut Abu Hanifah meskipun qirâ’ât Syadzdzah periwayatannya

20 Nashuruddin Baidan, Perkembangann Tafsir Al-Qur`an di Indonesia h.25

(27)

tidak mutawwatir tetapi langsung diriwayatkan dari Nabi oleh para sahabat , hanya saja diriwayatkan secara Ahad (perorangan). 21

Begitupun imam al-Qurthubi (580-671 H/1184-1273 M) termasuk salah seorang mufasir dari mazhab malikiyyah, yang juga banyak mengangkat unsur ragam Qirâ’ât dalam tafsirnya baik yang Mutawwatirah maupun yang Syadzdzah sebagai hujjah. Ragam qirâ’ât tersebut sebagian mendukung dalam menafsirkan salah satu qirâ’ât Al-Qur`an namun ada juga yang memiliki makna lain sehingga berpengaruh pada penafsiran karena adanya perbedaan bacaan pada ayat hukum dan menghasilkan pengaruh pada hukum yang dihasilkan. Secara khusus adz-Dzahabi dalam karyanya Tafsir Wal Mufassirun menjelaskan bahwa al-Qurthubi adalah salah seorang mufassir yang memenuhi klasifikasi sebagai seorang mufassir. Hal itu bisa dilihat ketika menafsirkan Al-Qur’an al- Qurthubi menampilkan asbabun nuzul, keberagaman qirâ’ât, kebalaghahannya dan menjelaskan lafadz ghorib serta mengkaji dalam berbagai aspek yang menjadikan keunikan sendiri dalam tafsirnya.22 Didalam memperkuat pendapatnya ia terkadang menggunakan qirâ’ât Syadzdzah sebagai hujjah.

Dari latar belakang masalah yang dipaparkan diatas pengaruh ragam Qirâ’ât dalam penafsiran al-Qurthubi khususnya dalam surah al-Baqarah sampai al-Maidah perlu diteliti untuk mengetahui pemikiran al-Qurthubi terhadap ragam Qirâ’ât dalam tafsir al-Jami’

Li Ahkam Al-Qur`an dalam ayat-ayat yang mengandung farsy al- huruf dalam surat al-Baqarah sampai al-Maidah. Untuk mengetahui

21 Romlah Widayati, Implikasi Qira’at Syadzdzah Terhadap Istinbath Hukum, h.7

22 Musthafa Muhammad Husein al-Dzahabi, at-Tafsir wa al Mufassirun,(Kairo:

daar al-Hadis, 2005) juz II,h.403

(28)

bagaimana sikap al-Qurthubi dalam penafsirannya mengenai ayat hukum yang mengandung Farsy al-Huruf Adakah perbedaan makna atau tidak, dan apakah mempengaruhi penafsiran dalam tafsirnya.

B. Identifikasi Masalah

Bedasarkan pemaparan latar belakang diatas, dapat diindefikasi beberapa permasalahan yang muncul, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. macam-macam qirâ’ât, baik dari segi kualitas maupun kualitas.

2. Berkaitan dengan penafsiran al-Qurthubi terhadap ayat- ayat hukum yang mengandung farsy al-Hurûf dalam tafsir al-Qurthubi.

C. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan dan persoalan yang akan dibahas, maka perlu disampaikan pembatasan dan perumusan masalah. Hal ini diperlukan agar permasalahan tidak melebar kepada materi-materi yang tidak berkaitan dengan judul diatas. Dalam melakukan penelitian ini penulis membatasi permasalahannya sebagai berikut: Bagaimana Pengaruh Ragam Qirâ’ât Terhadap Penafsiran al-Qurthubi dalam Ayat-ayat hukum yang mengandung Farsy al-hurûf dalam Surah al-Baqarah sampai al-Maidah?

Untuk memperjelas qirâ’ât yang digunakan dalam penilitian ini mengacu pada qirâ’ât mutawwatir yang berjumlah tujuh qirâ’ât (qirâ’ât sab’ah).

(29)

D. Perumusan Masalah

Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis akan menarik suatu rumusan pokok masalah agar pembahasan dalam penelitian lebih terarah dan sistematis. Perumusan masalahnya yakni:

1. Bagaimana pengaruh perbedaan Qirâ’ât terhadap penafsiran al-Qurthubi dalam tafsir al-Jâmi Li Ahkâm Al-Qur`an pada surah al-Baqarah sampai al-Maidah?

2. Bagaimana perbedaan penafsiran al-Qurthubi dalam tafsir al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur`an dengan mufassir lainnya pada ayat-ayat yang terdapat perbedaan qirâ’ât dalam surah al-Baqarah samapai al-Maidah?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bahwa ilmu Qirâ’ât bukan hanya sebatas ilmu untuk membaca Al-Qur’an, melainkan untuk menafsirkan Al-Qur`an. Sebagaimana kita ketahui bahwa jika terdapat perbedaan qirâ’ât dapat menimbulkan perbedaan makna dan juga tidak menimbulkan perbedaan makna.

Kegunaan penelitian ini selain membuktikan pentingnya pengaruh qirâ’ât dalam penafsiran, juga berusaha memaparkan ayat-ayat yang memiliki perbedaan qirâ’ât dalam farsy al-huruf dalam surah Al-Baqarah samapai Al-Maidah dalam tafsir al-Jâmi’

Li Ahkâm Al-Qur`an . penelitian ini juga diharapkan berguna bagi pengembangan pengetahuan ilmiah pada bidang qirâ’ât dan tafsir.

(30)

F. Tinjauan Pustaka

Sebagaimana tujuan dari tinjauan pustaka yakni berisi kajian yang relevan dengan pokok pembahasan yang yang aksitan diteliti, bedasarkan penulusuran penulis terhadap beberapa pembahasan yang memiliki keterkaitan dengan permasalahan yang akan penulis bahas adalah sebagai berikut:

Siti Khodijah, dalam Tesisnya Pengaruh Perbedaan Qirâ’ât Terhadap Penafsiran Aya Ahkam yang membahas mengenai perbedaan Qirâ’ât pada tafsir al- Bayan karya ath-Thabari (w.923 M), dan tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi (w 754 H). Dalam tesis tersebut diuraikan bagaimana keseluruhan qirâ’ât mutawwatirah didalam hukum pada surat al-Baqarah merujuk pada penjelasan yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur`an dan kitab al-Bahr Muhith pada ayat hukum. Beberapa ayat yang diteliti diantaranya al-Baqarah ayat 184, 222, 236, 240, 245, 271, 282, 283. Kesimpulan dari tesis ini bahwa perbedaan qirâ’ât mutawwatirah pada ayat-ayat hukum yang terdapat surat al- Baqarah dapat disimpulkan bahwa perbedaan qirâ’ât tersebut tidak seluruhnya bepengaruh pada istinbath hukum. Dan bedasarkan kesimpulan pula dapat terlihat bahwa corak tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur`an lebih tegas dalam menetukan istinbaht hukum pada ayat-ayat hukum pada perbedaan qirâ’ât mutawwatirah dibanding tafsir al-Bahr Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi yang bercorak tafsir bil Ra’yi al-Mahmud.23

Perbedaan tesis ini dengan peneliti terletak pada objeknya , pada tesis diatas menguraikan bagaimana kedua mufassir dalam

23 Siti Khodijah, “Pengaruh Perbedaan Qira’at Terhadap Penafsiran Ayat Ahkam (Studi Komparatif Terhadap al-Bayan Karya ath-Thabari dan kitab al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi)”, Tesis, Jakarta : Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, 2015

(31)

tafsirnya terhadap ayat-ayat hukum yang ada perbedaan qirâ’âtnya, sedangkan peneliti hanya terfokus pada satu surah, yakni surah al- Baqarah sampai al-Maidah.

Selanjutnya adalah tesis Sofian Effendi dengan judul Qirâ’ât Dalam al-Jâmi’li Ahkam Al-Qur`an (Penafsiran al-Qurthubi Dalam Surat Al-Baqarah). Kesimpulan tesis diatas bahwa pertama, qirâ’ât memiliki peran yang sangat penting sebagai salah satu alat bantu dalam menafsirkan ayat Al-Qur`an, dimana imam al-Qurthubi menampilkan berbagai variant bacaan qirâ’ât mutawwatir, qirâ’ât ahad, dan syadzdzah dan menggunakannya sebagai hujjah. Pada hal ini peneliti akan menggunakan tafsir yang sama dengan menggunakan sura yang berbeda, dalam tesis diatas menggunakan surah al-Baqarah dan juga sofian effendi lebih menekankan kepada semua jenis qirâ’ât yakni (qirâ’at syadz dan Mutawwatir) dan peneliti akan menggunakan surat al-Baqarah sampai al-Maidah namun penulis hanya membatasi qirâ’ât sab’ah.24

Kajian lain ada dalam Tesis dengan judul Implikasi Ragam Qirâ`ât Terhadap Penafsiran Ayat-ayat Ahkam (telaah Tafsir at- Tahrir wa at-Tanwir karya Ibn ‘Asyur pada Surat Al-Baqarah sampai Al-Maidah) yang ditulis oleh Lana Najiah. Dalam tesisnya beliau mencoba menganilisis tentang perbedaan Ibn ‘Asyur terhadap ayat- ayat hukum yang didalamnya terdapat beberapa perbedaan qirâ’ât serta untuk melihat bagaimana pengaruh perbedaan qirâ’ât dan kemungkinan implikasinya terhadap perbedaan hukum yang diijtihadkan. Bedasarkan kesimpulan bahwa: perbedaan qirâ’ât pada ayat yang ditafsirkan sebagian tidak berimplikasi terhadap makna

24Sofian Effendi, “Qira’at Dalam Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an (Penafsiran Al- Qurthubi Dalam Surat Al-Baqarah),” Tesis, Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta , 2014

(32)

maupun penafsiran, perbedaan terjadi dikarenakan berkaitan dengan dialek. Perbedaan sebagian membawa implikasi terhadap produk hukum hasil ijtihad yang hasilnya berbeda.25 Perbedaan tesis dengan judul peneliti terletak pada objek kajian yakni tafsir yang diambil, dan juga peneliti membatasi pada surah al-Baqarah sampai al- Maidah.

Selanjutnya skripsi yang ditulis oleh Farida Fransiska, dalam skripsinya yang berjudul Pengaruh Qirâ’ât Dalam Tafsir Ath-Thabari (Studi Komperatif antara Qirâ’ât Riwayat Hafs dan Qirâ’ât Riwayat as-Susi dalam Surat Al-Baqarah). Penelitian ini difokuskan pada dua periwayat saja, qirâ’ât yang mempengaruhi penafsiran apabila perbedaan terletak pada i’rab,saraf, khitab, dan perbedaan harokat.

ath-Thabari lebih condong kepada qirâ’ât Hafs meskipun dalam beberapa qirâ’ât beliau sering mengikuti qirâ’ât as-Susi dengan bedasarkan indikasi makna dan kaidah bahasa arab.26 Persamaan dalam penilitian ini yakni sama-sama membahas berkaitan dengan ayat hukum dan perbedaannya adalah dari segi objeknya.

Tesis yang ditulis oleh Muhammad Alaika Nasrulloh, dalam tesis yang berjudul Perbedaan Qirâ’ât san Pengaruhnya Terhadap Penafsiran Al-Qur`an (Studi Qirâ’ât Sab’ah pada Kitab Tafsir AL- Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab). Penelitian difokuskan pada bagaimana Quraish Shihab memakai perbedaan qirâ’ât sebagai salah satu instrumen penafsiran pada ayat-ayat yang memiliki perbedaan bacaan, bila dinilai bacaan terebut memiliki implikasi

25 Lana Najiah, “Implikasi Ragam Qira’at Terhadap Penafsiran Ayat-ayat Ahkam (Telaah Tafsir At-Tahrir Wa At-Tanwir Karya Ibn ‘Asyur pada Surat Al-Baqarah sampai Al-Maidah),” Tesis, Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta ,2015

26 Farida Fransiska, “Pengaruh Qira’at Dalam Tafsir Ath-Thabari (Studi Komperatif antara Qira’at Hafs dan Qira’at as-Susi dalam Surat Al-Baqarah)”, Skripsi : Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, 2008

(33)

terhadap berbedanya makna yang dihasilkan. pemakaian qirâ’ât yang dipakai dalam penafsirannya, meskipun kadang Quraish Shihab tidak menyinggung qirâ’ât tersebut, dan juga beliau jarang memberikan penjelasan tentang perbedaan penjelasan penafsirannya. Beliau juga tidak menyinggung perbedaan bacaan bilamana perbedaan tersebut dianggap tidak memiliki signifikansi perbedaan makna.27 Persamaan skripsi dengan tesis diatas yakni sama-sama membahas tengtang pengaruh qirâ’ât dalam penafsiran, perbedaannya yakni objek dan tafsir yang dipakai, penulis lebih menekankan pada tafsir al-Qurthubi dan surat yang dipilih yakni dari surat al-Baqarah sampai al-Maidah.

G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Dalam penelitin ini, penulis menggunakan jenis penelitian pustaka library reaserach (penelitian kepustakaan) yakni pengempulan data dengan cara membaca, menelaah buku, dan literatur lainnya yang berhubungan dengan skripsi. Penelitian ini tergolong kualitatif yakni pendekatan penelitian yang memerlukan pemahaman yang mendalam yang berhubungan dengan objek yang diteliti. Penelitian ini juga datanya berbentuk kata, kalimat dan gambar. karena fokus penelitian ini adalah mencari bagaimana mufassir mengenai kajian qirâ’ât dalam tafsirnya khusus pada ayat teologi.

2. Sumber Data

Sumber data primer merupakan kitab Jâmi’ li Ahkâm Al- Qur`an karya al-Qurthubi untuk menyempurnakan penelitian, penulis juga menggunakan sumber sekundernya yang didapat dari

27 Muhammad Alika Nasrulloh, “Perbedaan Qira’at san Pengaruhnya Terhadap Penafsiran Al-Qur`an (Studi Qira’at Sab’ah pada Kitab Tafsir AL-Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab)”. Tesis:Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2011

(34)

karya-karya penulis lain yang membahas mengenai qirâ’ât, Ulumul Qur`an, sejarah islam, tafsir, ensiklopedia, atau artikel.

3. Teknik Pengumpulan Data

Penelusuran terhadap pengaruh keragaman qirâ’ât terhadap ayat-ayat ahkam dalam tafsir Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur`an digunakan beberapa langkah yang akan ditempuh oleh penulis, diantaranya:

Pertama, mengumpulkan ayat-ayat hukum yang mengandung farsy al-huruf yang terdapat perbedaan qirâ’ât dalam tafsir Jami’ Li Ahkâm Al-Qur`an. Kedua, meneliti lafal qirâ’ât yang disandarkan pada kaidah-kaidah qirâ’ât yang ada dan menyimpulkan hasil penelitian. Ketiga, mengklasifikan hasil penelitian.

4. Metode Analisa Data

Metode penulisan ini menggunakan metode deskriftif Analitik yakni pembahasan yang bertujuan untuk membuat gambaran terhadap data-data yang telah terkumpul dan tersusun dengan menelaah dan menguraikan data-data yang ada hingga dapat diperoleh suatu pemahaman dan kesimpulan.28

H. Sistematika Teknik dan Penulisan

Teknik penulisan penelitian ini merujuk pada buku pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta (Edisi Revisi), yang diterbitkan oleh IIQ Press, cetakan kedua tahun 2011.

28 Sumardi Suryabratama, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995) cet. 9, h.18

(35)

Untuk mengarah alur pembahasan seacra sistematis dan mempermudah pembahasan makan penilitian ini akan dibagi menjadi beberapa Bab yakni sebagai berikut:

Bab pertama, pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah untuk memberikan penjelasan secara akademik mengapa penelitian ini perlu dilakukan dan hal apa yang melatarbelakangi penelitian ini. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi pembahasan dan penelitian ini lebih terfokus dan memiliki batasan yang jelas.

Poin selanjutnya adalah tujuan penelitian yang merupakan tujuan yang ingin dicapai penulis bedasarkan rumusan masalah yang telah dibuat. Manfaat penelitian memaparkan kegunaan apa saja yang diharapkan oleh penulis ketika karya ini selesai dituliskan. Adapun tinjauan pustaka dimaksudkan untuk menjelaskan dimana posisi topik ini dalam khazanah keilmuan islam serta dimana letak perbedaan penelitian ini dengan yang lainnya. Sedangkan metode penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara yang akan ditempuh penulis dalam melakukan penelitian ini.

Bab kedua, pada bab ini penulis akan mengulas secara teoriti definisi qirâ’ât, sejarah dan perkembangan , validitas qirâ’ât mutawwatirah dan pengaruh atau tidaknya terhadap penafsiran.

Bab ketiga, penulis akan membahas tentang biografi singkat, karya-karya ilmiah, latar belakang penulisan kitab metode, corak, karakteristik dan serta sumber penafsiran.

Bab keempat, berisi analisis penafsiran al-Qurthubi pada ayat- ayat yang mengandung farsy al-Huruf terletak perbedaan qirâ’ât dalam surah al-Baqarah sampai al-Maidah dan analisa penafsiran al- Qurthubi dengan mufassir lainnya.

(36)

Bab terakhir yakni kelima berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran membangun demi tercapainya tulisan yang baik dan bermanfaat.

(37)

19

ILMU QIRÂ’ÂT DALAM TRADISI ISLAM A. Pengertian Ilmu Qirâ’ât

Secara etimologis, lafal qirâ’ât (ﺓﺃﺮﻗ) dalam lensa Bahasa Arab merupakan bentu plural dari kata qirâ’ât yang tidak lain adalah bentuk mashdar dari fi’il qa-ra-‘a berarti beberapa bacaan.1 Sedangkan makna lafal tersebut secara terminologi, maka ada beberapa pendapat ulama yang penting untuk diperhatikan diantaranya adalah keterangan yang telah dikemukakan oleh Abu Syamah al-Dimasyqi (w.665 H/1266 M):

ﺎَﻬِﻓ َﻼِﺘْﺧﺍ َﻭ ِﻥﺍ ْﺮُﻘْﻟﺍ ِﺕﺎَﻤِﻠَﻛ ِءﺍَﺩ َﺃ ِﺔﱠﻴِﻔْﻴَﻜِﺑ ٌﻢْﻠِﻋ ِﺕﺍَءﺍَﺮِﻘْﻟﺍ ُﻢْﻠِﻋ

2

ﻪِﻠِﻗﺎَﻨِﻟ ﺍ %ﻭُﺰْﻌ َﻣ

“ilmu qirâ’ât adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari cara melafalkan kosa kata Al-Qur`an dan perbedaannya yang disandarkan pada perawi yang mentransmisikannya.”

Ibn al-jazariy (w.833-1429) M mengemukakan:

َﺮِﻘﻟﺍ ُﺕﺍَءﺍ

ٌﻢْﻠِﻋ ِﺕﺎّﻴِﻔْﻴَﻜِﺑ ِءﺍَﺩَﺃ

ِﺕﺎَﻤِﻟﺎَﻜْﻟﺍ ِﺔّﻴِﻧﺃ ْﺮُﻘْﻟﺍ

ﺎَﻬِﻓ َﻼِﺘْﺧﺍ َﻭ ِﻭ ْﺰَﻌِﺑ

ِﻞِﻗﺎﱠﻨﻟﺍ

“Qirâ’ât adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tata cara melafalkan beberapa kosa kata Al-Qur’an dan perbedaan kosa kata tersebut yang dinisbatkan kepada orang yang meriwayatkan.”

Imam az-Zarkasyi (745-794/1344-1391) merumuskan definisi sebagai berikut:

1Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur`an, (Jakarta: Amzah, 2009) h.46

2 Al-Dimasyqi, Ibrazul-Ma’ani min Hirz al-‘Amani Fi Qira’at al-Sab’ li al-Iman al-Syathibi, (Mesir :Maktabah Mushthafa Albani al-Halabi wa Auladuhu, tth)h. 12 yang dikutip oleh Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di Nusantara, (Jakarta: Pustaka STAINU,2008) h.20

(38)

َﻰِﻫ ُﻑ َﻼِﺘْﺧﺍ ِﻅﺎَﻔْﻟَﺍ

ِﻰْﺣَﻮْﻟﺍ ِﺮُﻛْﺬَﻤْﻟﺍ

ﻰِﻓ

ِﺔَﺑﺎَﺘِﻛ ِﻑ ْﻭُﺮُﺤْﻟﺍ ْﻭَﺍ

َﻬِﺘﱠﻴِﻔْﻴَﻛ

ْﻦِﻣ

3

ﺎَﻤِﻫ ِﺮْﻴَﻏ َﻭ ِﻞْﻴِﻘْﺜَﺗ َﻭ ِﻒْﻴِﻔْﺨَﺗ

“Qirâ’ât adalah perbedaan beberapa lafadz wahyu (Al-Qur’an) dalam hal penulisan huruf maupun cara artikulasinya, baik secara takhfif (membaca tanpa tasydid), tastqil (membaca dengan tasydid), dan lain sebagainya.”

Sementara az-Zarqani (w.769 H/1367 M) tidak saja menganggap qirâ’ât sebagai artikulasi lafaz, seperti definisi al- Zarkasyi tetapi juga sebagai salah satu mazhab qirâ’ât yang sumbernya adalah riwayat. Definisi yang diungkapkan al-Zarqani adalah sebagai berikut:

َﻮٌﻫ ٌﺐَﻫْﺬَﻣ ُﺐَﻫْﺬَﻳ

ِﻪْﻴَﻟِﺍ ٌﻡَﺎﻣِﺍ ِﺔﱠﻤِﺋَﺃ ْﻦِﻣ

ِءﺍﱠﺮٌﻘﻟﺍ ﺎًﻔِﻟﺎَﺨٌﻣ ِﻪِﺑ

ُﻩٌﺮْﻴَﻏ ِﻖْﻄﱡﻨﻟﺍ ﻰِﻓ

ﺎِﺑ ِﻥَﺃ ْﺮُﻘْﻟ ِﻢْﻳﺮَﻜْﻟﺍ ِﻕﺎَﻔِّﺗﺍ َﻊَﻣ

ِّﺮﻟﺍ ِﺕﺎَﻳﺍ َﻭ ِﻕُﺮّﻄﻟ ﺍﻭ

ُﻪْﻨَﻋ ٌءﺍ َﻮَﺳ َﻥﺎَﻛَﺃ ِﻩِﺬَﻫ

ِﺔَﻔَﻟﺎَﺨُﻤﻟﺍ

ِﻖْﻄُﻧ ﻰِﻓ ِﻑ ْﻭُﺮُﺤﻟﺍ ْﻡَﺍ

ِﻖْﻄُﻧ ﻰِﻓ ﺎَﻬِﺗﺎَﺌْﻴَﻫ

4

Qirâ’ât adalah salah satu madzhab dari beberapa madzhab artikulasi (kosa kata) Al-Qur’an yang dipilih oleh salah seorang imam qirâ’ât yang berbeda dengan madzhab lainnya dimana periwayatan dan tariqnya disepakati/ diterima. Adapun perbedaan tersebut terletak pada cara mengucapkan huruf maupun bentuk- bentuk berbedaan kosakatanya.”

Menurut al-Qasthalani “yakni imu yang mempelajari hal-hal yang disepakati atau diperselisihkan ulama yang menyangkut persoalan lughat, hadzaf, I’rab, itsbat, fashl, dan nashl yang kesemuanya diperoleh secara periwayatan.”5

3 Romlah Widayati, Buku Pembelajaran Ilmu Qira’at, (Jakarta: Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta Press ) h.7

4 Rosihun Anwar, Ulum Al-Qur`an , (Bandung: CV Pustaka Setia,2007), h.140

5Rujdi Ali Mahmud, “Ilmu Qira’ah” makalah, 1984 yang dikutip oleh Rosihun Anwar, Ulum Al-Qur`an , (Bandung: CV Pustaka Setia,2007), h.141

(39)

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa dalam memandang istilah qirâ’ât ada dua kelompok; pertama: cakupan ilmu qirâ’ât sangat luas, karena qirâ’ât sudah menjadi salah satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu ini membahas tentang ragam bacaan baik bacaan (qirâ’ât) tersebut diterima oleh mayoritas umat islam atau tidak, bedasarkan tinjauan riwayatnya. Objek kajian ilmu qirâ’ât adalah Al-Qur`an al-Karim dari segi perbedaan lafal dan cara artikulasinya. Ilmu qirâ’ât secara implisit dapat diketahui dari beberapa definisi yng telah disebutkan diatas, yakni untuk mempertahankan orisinilitas informasi maupun data yang dituturkan secara berantai. Dengan demikian, dapat disimpulkan sebuah definisi ilmu qirâ’ât yaitu: ilmu yang membahas tentang ragam qirâ’ât yang dinisbatkan kepada imam qirâ’ât beserta aspek perbedaan bacaan dan implikasinya, periwayatannya maupun kedudukannya dalam menafsirkan Al-Qur`an.

B. Sejarah perkembangan Ilmu Qirâ’ât 1. Qirâ’ât Masa Rasulullah

Ketika proses turunnya Al-Qur`an secara gradual masih terus berlangsung, Rasulullah senantiasa membacakan wahyu yang dibawa Jibril kepada para sahabatnya. Setiap ayat yang turun akan dihafal secara sempurna, baik oleh Rasulullah maupun sahabatnya. Perihal orisinalitas nash Al-Qur`an yang memang telah digaransi oleh Allah tidak perlu diragukan lagi6 sebab yang dijadikan I’timad (parameter)

6 Diantara bentuk garansi Allah terhadap orisinalitas Al-Qur`an adalah firman Allah yang terdapat dalam (Qs. alHijr 15:9) dan sabda Rasulullah saw., ….Dan Allah berfirman , Sesungguhnya Aku Hanya mengutusmu untuk memberikan ujian kepadamu dan [kepada orang lain] melalui dirimu. Aku telah menurunkan sebuah kitab kepada kalian yang keberadaanya tidak bias hilang karena terbasuh air…” Lihat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, (Mesir: Muassasah Qurthubah,tth), hadis nomor 17519, jilid IV h. 162. Lihat juga

(40)

dalam penukilan Al-Qur`an adalah hafalan yang berada dalam memori Rasulullah dan para sahabatnya, bukan didasarkan pada dokumentasi tertulis berupa shuhuf dan mushaf.7

Sebagaimana dijelaskan oleh Wawan Djunaedi dalam buku Sejarah Qirâ’ât Al-Qur`an di Nusantara Sejak awal, Rasulullah telah menyadari konsekuensi universinalitas misi Islam yang diusungnya.

Dalam komunitas bangsa Arab saja, Rasulullah sudah dihadapkan pada fenomena pluralistic system artikulasi bahasa pada setiap kabilah Arab. Setiap kabilah memiliki dialek bahasa atau system artikulasi lafal yang sangat khas dan berbeda dibandingkan dengan kabilah yang lain. Sebagai contoh, ada diantara kabilah Arab sering menggunakan vocal/ e/ dalam bahasa kesehariannya. Hal ini sebagaimana yang sering diutarakan oleh orang-orang dari suku Tamim. Sementara suku hijaz yang tinggal disepanjang jalur Makkah dan Madinah lebih cenderung melunakkan pelafalan huruf hamzah.8

Dengan mempertimbangkan kondisi social masyarakat seperti inilah Rasulullah memohon kepada Allah untuk tidak menurunkan Al-Qur`an dengan satu huruf saja. Permintaan Rasul ini dapat diketahui melalui sabda beliau sebagai berikut:

ﻲِﻨَﺛﱠﺪَﺣ ُﺪْﻴَﺒُﻋ

ِﻪﻠﻟﺍ

ُﻦْﺑ

ِﺪْﺒَﻋ ِﻪﻠﻟﺍ

،َﺔَﺒْﺘُﻋ ِﻦْﺑ ﱠﻥَﺃ

َﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎﱠﺒَﻋ

،ُﻪَﺛﱠﺪَﺣ ﱠﻥَﺃ

َﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ

ﻰﱠﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳ َﻭ َﻝﺎَﻗ ،

: ﻲِﻧَﺃَﺮْﻗَﺃ » ُﻞﻳ ِﺮْﺒ ِﺟ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ

Ahmad bin Husain al-Husain al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi al-Kubra, (Mekah: Maktabah Dar al-Baz,1994), nomor hadis 17572 jilid IX, h.20

7 Ibn al-Jazari, al-Nasyr fi al-Qira’at al-Asyr, (Bairut: Dar al-Fikr, tth.), Jilid. 1, h.6 lihat juga di Wawan Djunaedi, Qira’at Al-Qur`an di Nusantara h. 41

8 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di Nusantara h.42

(41)

ُﻡَﻼﱠﺴﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ

، ٍﻑ ْﺮَﺣ

،ُﻪُﺘْﻌَﺟﺍَﺮَﻓ

ْﻢَﻠَﻓ ْﻝَﺯَﺃ ُﻩُﺪﻳ ِﺰَﺘْﺳَﺃ ﻲِﻧُﺪﻳ ِﺰَﻴَﻓ

ﻰﱠﺘَﺣ ﻰَﻬَﺘْﻧﺍ

ﻰَﻟِﺇ

ِﺔَﻌْﺒَﺳ ٍﻑُﺮْﺣَﺃ ﻩﺍﻭﺭ )

ﻢﻠﺴﻣ

9

(

Telah berceruita kepadaku Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, disebutkan bahwa Ibnu Abbas memberitahu dia kalau Rasulullah telah bersabda :”Jibril membacakan Al-Qur`an kepadaku dengan satu huruf saja. Maka aku terus meminta tambahan kepadanya. Dan ternyata Dia pun menambah (ragamnya) sehingga mencapai tujuh huruf" (HR.Muslim).

Dari keterangan hadis diatas dapat diketahui dengan jelas bahwa Al-Qur`an diturunkan dengan tujuh huruf (sab’ah ahruf)10 sebagai bentuk rahmat bagi umat Muhammad, sehingga diharapkan dapat mengakomodir sistem artikulasi beberapa Kabilah Arab. Dan terbukti bahwa ragam huruf yang diturunkan sangat membentuk komunitas bangsa Arab ketika itu. Sebab bentuk perbedaan yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad meliputi sistem artikulasi lafal, perbedaan sistem anatomi kata, bahkan juga perbedaan variasi kata. Tujuh macam huruf inilah yang nantinya akan menjadi embrio ilmu qirâ’ât didlam dunia Islam.sedah menjadi pengetahuan umum dikalangan pemerhati studi Ulumul Qur`an bahwa pada masa Rasulullah bahkan sampai pada masa abad pertama Hijriah, tulisan Arab hanya terdiri dari huruf hija’iyyah tanpa

9Muslim Ibn Hajaj al-Naisaburi, Shahih Muslim (Dar Ihya al-Turas al-‘Arabi, t,th), Juz I, bab Bayan anna Al-Qur’an ‘ala Sab’tu Ahruf Wabayan . no 1355 h.561

10 Para ulama berbeda pendapat dalam memahami sab’ah ahruf sebagian ulama berpendapat bahwa ahruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna. Artinya jika bahasa mereka berbeda dalam mengungkapkan satu makna yang satu itu dan jika tidak terdapat perbedaan maka Al-Qur`an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih. Mereka juga berbeda pendapat terhadap tujuh bahasa yakni Quraisy, Hudail Tsaqif, Hawazin, Kinamah,Tamin dan Yaman. Selain itu ada juga yang berpendapat ahruf sab’ah adalah tujuh macam hal yang didalamnya terdapat perbedaan. Yakni ikhtilaf al- asma’ (perbedaan kata benda) segi I’rab, tasrif, taqdim, ibdal, perbedaan dengan sebab adanya penambahan dan pengurangan dan perbedaan lahjah dengan perbedaan tafkhim dan tarqiq. Nasrudin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, ( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2005) h.98-99

(42)

dilengkapi titik maupun baris. Model tulisan seperti ini sama sekali tidak menimbulkan masalah dikalangan bangsa Arab. Karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat paham dengan tata bahasa dan bentuk tulisan mereka sendiri. Model tulisan Arab seperti ini juga membuat para sekretaris wahyu relative tidak menjumpai kendala dalam mengdokumentasikan berbagai macam jenis qirâ’ât yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah.11

Model tulisan huruf hijaiyyah tanpa titik dan baris memungkinkan satu kata dalam bahasa Arab dibaca dalam berbagai macam qirâ’ât. Sebagai contoh bias dilihat bagian akhir ayat dari surah al-baqarah. Tanpa membubuhkan titik maupun baris pada lafal َﻥﻮُﺑِّﺬَﻜُﻳ, maka lafal tersebut mampu mengakomodasi dua macam qirâ’ât. Qirâ’ât pertama dengan memfathah huruf ya’, mensukun huruf kaf, dan mengkasrahkan huruf dzal sehingga berbunyi yakdzibun ( َﻥ ْﻮُﺑِﺬْﻜَﻳ) , sementara qirâ’ât yang kedua dengan mendhammahkan huruf ya’, memfathah huruf kaf, mentasydid sekaligus mengkasrah huruf dzal sehingga berbunyi yakadzdzibun

( َﻥ ْﻮُﺑِّﺬَﻜُﻳ). Apabila sebuah tulisan tidak bisa mengakomodasi beberapa

macam hurf yang diturunkan Jibril, maka para sekretaris wahyu Rasulullah akan menulis semua model tulisan yang diturunkan.

Dengan demikian beberapa ragam qirâ’ât bisa diketahui oleh kaum muslimin. 12

Sekalipun semua ayat Al-Qur`an telah berhasil dicatat oleh para sekretaris wahyu dan beberapa orang sahabat juga ada yang memiliki dokumentasi wahyu secara pribadi, ternyata Al-Qur`an belum terkodifikasi secara sistematis dalam sebuah mushaf. Ayat -

11 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di, h.43

12 Wawan Djunaedi, Sejarah Qira’at Al-Qur`an di h.43

(43)

ayat suci masih terekam adalah shuhuf, Yakni dokumen yang menggunakan pelepah kurma, kulit binatang, tulang binatang, maupun batu-batuan. Namun yang perlu ditekankan pada pembahasan ini, sistem dokumentasi wahyu tidak menjadi parameter utama orisinalitas kitab suci adalah hafalan Al-Qur`an oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Bahkan Allah telah menjadwalkan bahwa setiap tahunnya tepatnya pada bulan Ramadhan, pembacaan kembali semua hafalan oleh Rasulullah dihadapan malaikat Jibril bahkan pada tahun wafat Rasululullah malikat Jibril menyempatkan untuk menyimak bacaan Rasulullah sebanyak dua kali. Oleh karena itu sekalipun tidak ditopang dokumentasi para sekretaris wahyu dan catatan pribadi beberapa sahabat misalnya, orisinalitas Al-Qur’an tetap bisa dipertanggungjawabkan. Namun upaya serius Rasulullah untuk mendokumentasi ayat Al-Qur`an tidak sia-sia. Sejarah mencatat bahwa sebelum Rasulullah wafat , para sahabat teristimewa para sekretaris wahyu telah mencatat semua ayat Al-Qur`an yang diturunkan.13

2. Qirâ’ât Masa Sahabat

Ketika pemerintahan islam dikendalikan Khalifah Rasulullah yang pertama, islam mengalami ujian cukup berat. Sejumlah besar orang-orang Arab keluar dari islam sepeninggal Rasulullah dan juga bermunculan para figure Nabi palsu. Belum lagi ada beberapa orang islam yang enggan untuk memenuhi kewajiban rukun islam yakni membayar zakat. Peristiwa ini memaksa Abu Bakar mengambil tindakan tegas, diantaranya adalah menyiapkan kekuatan tentara

13Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur`an, (tt., Mansyurah al-Ashr al- Hadis, tth.) h.170

Referensi

Dokumen terkait

PENAFSIRAN AYAT-AYAT Z{IHAR PERSPEKTIF TAFSIR AL-QURTHUBI>>< DAN KORELASINYA DALAM UPAYA MENGURANGI KEKERASAN DALAM RUMAH

Keenam, skripsi yang ditulis oleh Aghis Nikmatul Qomariyah dengan judul Penafsiran Bakri Syahid Terhadap Ayat-ayat al-Qur‟an dan Kewajiban Istri dalam Tafsir al-Huda

Tafsîr al Qurân al ‘Azîm yang termasyhur dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir pada Qur‟ an Surat al Baqarah ayat 132-133. Konsep pendidikan tauhid dalam Islam menurut al

Adanya fakta bahwa al-Qur‟an memiliki ayat-ayat berkaitan dengan kealaman yang 3 kali lebih banyak jumlahnya dibanding ayat-ayat yang berbicara tentang hukum, telah

Pendekatan metode penelitian tafsir yang akan digunakan dalam penelitian ayat-ayat Al-Qur‟ān tentang sungai adalah Metode Maudhu‟i (Tematik), yaitu mengumpulkan seluruh

Oleh karenanya, agar bisa memahami ayat al-Qur’an secara proporsional, seseorang harus menempuh metode pendekatan sastra (al-manha>j al-adabi>) yaitu corak tafsir

Junaidi, “Pemikiran Hukum Islam Muhammad ‘Ali Al-Shabuni dalam Kitab Tafsir Rawai’u al-Bayan: Studi Analisis Terhadap Ayat-Ayat Perkawinan”.24 Sebuah Disertasi yang mengidentifikasi

Digunakan metode tafsir moqarran dapat dilihat dari banyaknya perbandingan pendapat ulama dalam menafsirkan ayat-ayat al- Qur‟an, terutama dalam membahas tetntang hukum fiqh al-Rāzi