• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman Pancasila perkuliahan BAB 1 poin A, B dan C p

N/A
N/A
Alfahrozin

Academic year: 2024

Membagikan "Rangkuman Pancasila perkuliahan BAB 1 poin A, B dan C p"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Alfahrozin NIM : 012000004 Angkatan : 2020

Rangkuman Pancasila: BAB I poin A, B, dan C

A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Pancasila

Nilai-nilai Pancasila telah ada dalam masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, seperti kepercayaan kepada Tuhan, gotong royong, musyawarah, dan solidaritas. Gotong royong tercermin dalam pembayaran pajak sebagai bentuk kebersamaan. Nilai-nilai Pancasila adalah dasar negara. Namun, nilai-nilai ini tergerus dalam kehidupan masyarakat, sehingga pentingnya mata kuliah pendidikan Pancasila harus diungkap.

1. Kesadaran Perpajakan: Kesadaran perpajakan rendah di Indonesia, menyebabkan banyak Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan melaporkan data yang tidak akurat.

2. Korupsi: Korupsi masih menjadi masalah serius di Indonesia, dan pendidikan Pancasila di perguruan tinggi diusulkan sebagai cara untuk mengurangi perilaku koruptif.

3. Lingkungan: Meskipun Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia, masalah lingkungan seperti pembakaran hutan, perambahan hutan, dan polusi perlu diatasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.

4. Disintegrasi Bangsa: Reformasi di Indonesia menghasilkan perkembangan positif, tetapi juga menimbulkan disintegrasi bangsa. Tantangan ini dapat diatasi dengan pemahaman yang lebih baik tentang otonomi daerah dan peningkatan pemahaman nilai-nilai Pancasila.

5. Dekadensi Moral: Fenomena dekadensi moral terkait dengan materialisme dan pragmatisme perlu diatasi melalui kontrol sosial dan peran lembaga sensor film dan Komisi Penyiaran Indonesia.

6. Narkoba: Indonesia strategis bagi perdagangan narkoba, dan penanganan narkoba perlu diperketat untuk mengurangi penggunaan narkoba di kalangan generasi muda.

7. Penegakan Hukum yang Berkeadilan: Penegakan hukum yang efektif dan berkeadilan memerlukan kesadaran hukum masyarakat dan profesionalisme aparat penegak hukum.

8. Terorisme: Terorisme merupakan masalah besar di Indonesia, dan diperkirakan dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, dan pemahaman agama yang kurang komprehensif.

(2)

Urgensi pendidikan Pancasila di perguruan tinggi sebagai upaya untuk memastikan mahasiswa tetap terhubung dengan akar budaya dan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dianggap penting karena dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan pengetahuan, kepribadian, dan keterampilan yang sesuai dengan program studi mereka. Hal ini bertujuan agar mahasiswa dapat berkontribusi secara positif dalam masyarakat, bangsa, dan negara dengan merujuk pada nilai-nilai Pancasila.

Visi dari pendidikan Pancasila adalah menciptakan kepribadian sivitas akademika yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila, sementara misinya meliputi pengembangan potensi akademik peserta didik, persiapan untuk hidup dalam masyarakat, pembentukan budaya ber- Pancasila, dan pengembangan pendidikan Pancasila sebagai sistem pengetahuan terintegrasi.

Dalam pembelajaran pendidikan Pancasila, empat pilar pendidikan UNESCO menjadi panduan, dengan penekanan khusus pada pilar keempat, yaitu pembelajaran untuk hidup bersama dengan kesadaran akan keragaman yang saling melengkapi.

B. Alasan diperlukan Pendidikan Pancasila

Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi penting karena membentuk karakter profesional, melawan pengaruh budaya asing, dan memperkuat identitas nasional. Hal ini juga mendukung penanaman nilai moral, mencegah korupsi, dan memperkokoh kesatuan nasional. Dengan pendidikan Pancasila, mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran terhadap gaya hidup sederhana, cinta produk dalam negeri, kelangsungan hidup generasi mendatang, solidaritas nasional, norma sosial, kesehatan mental, penegakan hukum, dan pentingnya ideologi Pancasila.

Pentingnya kesadaran nasional terhadap isu-isu krusial seperti industri, investasi, individu, dan informasi tidak bisa diabaikan. Kesadaran ini adalah benteng pertahanan terhadap punahnya suatu bangsa, seperti yang diungkapkan oleh Kenichi Ohmae.

Keberlangsungan negara tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh faktor internal. Salah satu contoh nyata adalah musnahnya bangsa Aztec di Meksiko setelah kedatangan petualang Portugis, meskipun mereka sebelumnya memiliki peradaban maju.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah berusaha menjaga pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Meskipun implementasinya tidak selalu mulus, pendidikan ini penting untuk memperkuat moralitas bangsa Indonesia.

Tanggung jawab ini ada pada perguruan tinggi, yang harus mengajarkan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang

(3)

ditekankan bukan hanya aspek intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual yang menjadi dasar bagi perkembangan ideologi bangsa.

Mata kuliah Pendidikan Pancasila, sesuai dengan SK Dirjen Dikti No 38/DIKTI/Kep/2002, bertujuan mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam pengembangan kepribadian. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diajarkan untuk mengambil sikap bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya. Mereka juga dilatih untuk mengenali dan menyelesaikan berbagai masalah kehidupan dan kesejahteraan, serta agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa dengan tujuan memperkuat persatuan Indonesia. Dengan demikian, mata kuliah ini berperan penting dalam membentuk kepribadian yang bertanggung jawab, adaptif, dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai Pancasila dan budaya Indonesia.

Pendidikan Pancasila dalam pendidikan nasional bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai calon sarjana yang berkualitas dan berdedikasi tinggi. Tujuan spesifik dari mata kuliah ini di perguruan tinggi adalah memperkuat nilai-nilai dasar Pancasila sebagai dasar negara, memberikan pemahaman dan penghayatan Pancasila kepada mahasiswa, mempersiapkan mereka untuk menganalisis dan mencari solusi terhadap masalah sosial, serta membentuk sikap mental yang menghargai nilai-nilai Pancasila. Hal ini bertujuan untuk membangun masyarakat yang demokratis, berkeadilan, dan bermartabat berdasarkan Pancasila, serta memastikan mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik dalam dinamika masyarakat Indonesia.

Penyelenggaraan pendidikan Pancasila di perguruan tinggi diatur dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi No. 914/E/T/2011, yang menetapkan bahwa perguruan tinggi wajib menyelenggarakan pendidikan Pancasila minimal 2 SKS atau dengan mata kuliah pendidikan kewarganegaraan (PPKn) minimal 3 SKS. Undang-Undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2012 juga menegaskan pentingnya pendidikan Pancasila dalam pendidikan tinggi, dengan memuat ketentuan bahwa kurikulum perguruan tinggi harus memasukkan mata kuliah agama, Pancasila, kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, pendidikan Pancasila di perguruan tinggi merupakan kebijakan negara yang harus dijalankan sebagai mata kuliah tersendiri dan dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi, demi mencapai tujuan negara.

(4)

C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik Pendidikan Pancasila

Materi mata kuliah pendidikan Pancasila dapat diperkaya melalui pendekatan historis, sosiologis, dan politik dalam memahami aspek objek materi. Sedangkan, dari segi pendekatan objek formil, pengayaan materi ini dilakukan melalui pendekatan ilmiah, filosofis, dan ideologis. Mahasiswa akan mempelajari materi dari fenomena sosial dan mengembangkan solusi yang rasional sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, mata kuliah ini membantu meningkatkan kesadaran sosial mahasiswa dalam memecahkan masalah sosial, dan hal ini menjadi penting dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

1. Sumber Historis Pendidikan Pancasila

Sejarah memiliki peran penting dalam membangun masa depan bangsa dengan lebih bijaksana. Pendekatan historis dalam pengayaan materi perkuliahan Pancasila menjadi kunci dalam memahami pelajaran dari sejarah, baik nasional maupun internasional. Mahasiswa diharapkan dapat mengambil inspirasi dari peristiwa sejarah untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa sesuai dengan program studi masing- masing. Selain itu, mereka juga dapat berperan serta secara aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menghindari pengulangan kesalahan sejarah. Sebagai contoh, pembelajaran dari sejarah nasional mengungkapkan bahwa kurangnya persatuan dan kelemahan dalam penguasaan IPTEKS dapat menyebabkan kekalahan bangsa, sehingga pendekatan historis ini juga memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan semangat belajar dan kontribusi mereka dalam menguasai IPTEKS sesuai dengan bidang studi masing-masing.

2. Sumber Sosiologis Pendidikan Pancasila

Sosiologi mempelajari kehidupan antarmanusia dan berfokus pada latar belakang, struktur, pola, serta masalah sosial dalam masyarakat. Dalam konteks ini, pendekatan sosiologis membantu kita memahami struktur sosial, proses sosial, perubahan sosial, dan masalah sosial dengan merujuk pada nilai-nilai Pancasila. Bangsa Indonesia memiliki pandangan hidup yang berakar pada asas budaya sendiri, yang tercermin dalam Pancasila. Pancasila bukan hanya konsep abstrak, tetapi juga nilai-nilai yang tumbuh dari masyarakat Indonesia itu sendiri, mencerminkan pengalaman sosialnya. Dalam pandangan Bung Karno, Pancasila bukanlah ciptaannya tetapi ditemukan melalui penggalian dari budaya Indonesia dan dihadiahkan kepada bangsa ini. Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar negara adalah pemberian Tuhan. Ini mengingatkan kita untuk mensyukuri kemerdekaan dan berpartisipasi dalam

(5)

pembangunan negara, termasuk membayar pajak sebagai kontribusi positif, serta mendukung lembaga sosial yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila.

3. Sumber Yuridis Pendidikan Pancasila

Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila.

Pendekatan hukum (yuridis) merupakan bagian penting dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila. Hal ini diperlukan untuk menegakkan hukum, yang merupakan salah satu tugas negara yang krusial. Kesadaran hukum, terutama di kalangan intelektual dan mahasiswa, penting untuk mendukung penegakan hukum yang efektif. Melalui pendekatan ini, mahasiswa dapat berperan dalam membangun negara hukum formal dan substansial, yang pada gilirannya akan mendukung keteraturan sosial dan kesejahteraan rakyat sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa. Kesadaran hukum melibatkan pemahaman hukum perdata, pidana, dan tata negara serta menekankan pentingnya keseimbangan antara hak dan kewajiban setiap warga negara dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan mencapai tujuan negara untuk masyarakat yang adil dan makmur.

4. Sumber Politik Pendidikan Pancasila

Pendidikan Pancasila dapat diperkaya dengan mempertimbangkan fenomena politik di Indonesia. Ini bertujuan agar mahasiswa dapat menganalisis dan memberikan saran untuk menciptakan kehidupan politik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila pada dasarnya mencakup nilai-nilai politik yang mengatur tatanan sosial dan politik yang ideal. Dalam konteks ini, ideologi politik adalah seperangkat nilai, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang memandu sikap dan perilaku seseorang terhadap masalah politik.

Pendekatan politik ini memungkinkan mahasiswa untuk menginterpretasikan fenomena politik dengan menggunakan panduan moral yang sesuai dengan Pancasila untuk membangun sistem politik yang sehat. Dengan demikian, mereka dapat memberikan kontribusi konstruktif dalam membangun struktur politik yang stabil dan dinamis. Lebih khusus lagi, fokus kajian dalam pendekatan politik ini adalah untuk mengidentifikasi nilai-nilai ideal yang menjadi pedoman dalam memahami konsep- konsep politik seperti negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, dan pembagian sumber daya negara, baik di tingkat pusat maupun daerah. Melalui penelitian ini, mahasiswa diharapkan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam memberikan masukan konstruktif kepada infrastruktur politik dan suprastruktur politik.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma

Pancasila sebagai dasar negara mengandung makna bahwa nilai-nilai pancasila menjadi dasar dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara, nilai-nilai pancasila menjadikan setiap

Menjalankan nilai-nilai Pancasila secara pribadi dalam bersikap dan bertingkah laku pada kehidupan berbangsa dan bernegara.. Mergalankan nilai-nilai Pancasila secara

Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia pada hakikatnya adalah sebagaimana nilai-nilainya yang bersifat fundamental menjadi suatu sumber dari segala sumber hukum

Pancasila sebagai sistem filsafat yaitu suatu konsep tentang dasar negara yang terdiri dari lima sila sebagai unsur yang mempunyai fungsi masing-masing dan satu tujuan yang sama

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, nilai-nilai yang terkandung. di

Pancasila merupakan produk otentik pendiri negara Indonesia (The Founding fathers). Nilai-nilai Pancasila bersumber dan digali dari nilai agama, kebudayaan, dan adat istiadat.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya kajian ini membahas beberapa rumusan masalah yaitu a tingkat Pemahaman Mahasiswa terkait dasar hukum mata kuliah Pendidikan