53 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini disajikan dengan menggunakan systematic literature review tentang pelatihan neuroscience dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Dibutuhkan sejumlah jurnal yang digunakan sebagai data analisis. Saat melakukan tinjauan sistematis literatur ini, sepuluh database digunakan yaitu Google Schoolar, Mendeley, Sciendirect, Emerald Journal, Library Genesis, Francis & taylor, Wiley, Springer, Oxford Academic, ProQuest. Istilah pencarian yang digunakan dalam tinjauan adalah 1) Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi Pedagogik, 2) Teacher neuroscience training and pedagogic competence, 3) Teacher neuroscience training, 4) Teacher AND training AND neuroscience, 5) Neuroscience training for teacher, dan 6) Neuroscience for teacher. Topik pencarian tersebut kemudian dicari pada kesepuluh database tersebut.
Objek penelitian ini adalah pelatihan neuroscience meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Dalam SLR ini, data
54
yang diperoleh disaring berdasarkan pertanyaan kriteria penyaringan berkualitas. Dengan demikian, kriteria inklusi dan eksklusi yang digunakan dalam penyaringan SLR ini ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kriterea Inklusi dan Eksklusi
Kriterea Keterangan
Inklusi 1. Data yang digunakan adalah jurnal/prosiding terbitan 5 tahun terakhir yaitu antara tahun 2018 sampai 28 Februari 2023.
2. Data menunjukkan tentang neuroscience meningkatkan kompetensi pedagogik guru.
3. Data jurnal baik internasional maupun nasional.
4. Data membahas neuroscience yang membantu guru memahami peserta didik
5. Data membahas neuroscience yang membatu guru menguasai teori belajar
6. Data membahas neuroscience yang memfasilitassi guru mengembangkan potensi
Eksklusi 1. Data tidak membahas neuroscience yang membantu guru memahami peserta didik
2. Data tidak membahas neuroscience yang membatu guru menguasai teori belajar
3. Data tidak membahas neuroscience yang memfasilitassi guru mengembangkan potensi
55
Mengacu pada kriteria inklusi dan ekslusi tersebut maka rangkuman jumlah pencarian per basis data yang digunakan dalam sistematik review ditunjukkan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Rangkuman Hasil Pencarian Jurnal Basis Data No. Kalimat Kunci Pencarian Total
Penc.
Jurnal Terp.
Th Google
Schoolar 1 2
3 4 5 6
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi Pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neurosience training Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training for teacher
Neuroscience for teacher
7 998
996 993 994 900
1 42
32 23 18 5
2019 - 2023
Mendeley 1 2
3 4 5 6
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training for teacher
Neuroscience for teacher
0 1
0 82 56 206
- -
- 21
- 8
2019 - 2023
Sciendirect 1 2
3
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
0 31
0
- 4
-
2019 - 2023
56
Basis Data No. Kalimat Kunci Pencarian Total Penc.
Jurnal Terp.
Th 4
5 6
Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training for teacher
Neuroscience for teacher
28 29 28
- 2
- Emerald
Journal 1 2
3 4
5 6
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training Neuroscience for teacher
0 18
0 2.607
628 303
- 1
- 5
21 3
2019 - 2023
Library Genesis
1 Neuroscience for teacher 104 2 2018 - 2023 Francis &
taylor
1 2
3 4
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
Teacher AND training AND neuroscience
0 256
- 70
- 8
- 16
2019 - 2023
Wiley 1
2
3 4 5
Pelatihan neuroscience guru dan kompetensi pedagogik.
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training for teacher
0
311
0 70 10
-
2
- 10
3
2019 - 2023
57
Basis Data No. Kalimat Kunci Pencarian Total Penc.
Jurnal Terp.
Th Springer 1 Teacher neuroscience
training and pedagogic competence.
18 1 2019
- 2023 Oxford
Academic 1
2 3 4 5
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher neuroscience training
Teacher AND training AND neuroscience
Neuroscience training for teacher
Neuroscience for teacher
41
0 377
60 60
-
- 2 1 1
2019 - 2023
ProQuest 1
2
Teacher neuroscience training and pedagogic competence.
Teacher AND training AND neuroscience
72
40
1
8 Total jurnal yang teridentifikasi 10.376 260
Dari Tabel 4 tersebut, terlihat bahwa Google Schoolar memiliki jumlah pencarian terbesar 4.888 dengan 121 jurnal teridentifikasi, selanjutnya Mendeley dengan 345 jurnal teridentifikasi 29, Sciendirect total pencarian jurnal 116 dengan jurnal teridentifikasi 6, Emerald Journal pencarian 3.566 jurnal teridentifikasi 30, Library Genesis ditemukan 104 yang teridentifikasi 2, lalu dalam Francis & taylor menemukan 326 jurnal yang teridentifikasi 24, Wiley sejumlah 391 jurnal
58
ditemukan yang teridentifikasi 15, Springer hanya ditemukan 18 dan yang teridentifikasi hanya 1 jurnal, lalu ada database Oxford Academic menemukan 538 dengan jurnal teridentifikasi 4, dan yang terakhir ProQuest ditemukan 538 dengan jurnal teridentifikasi 9. Sehingga dari penyaringan pertama total jurnal teridentifikasi adalah 260.
Data berupa jurnal teridentifikasi tersebut masih perlu disaring karena membaca judul saja belumlah cukup.
Penyaringan kedua dengan membaca bagian abstrak sejumlah 260 jurnal tersebut. Dihasilkan data sebagai berikut, dalam Google Schoolar terpilih 39 jurnal, dalam Mendeley tersaring 14 jurnal, kemudian dalam Sciendirect teridentifikasi 4 jurnal, Emerald terpilih 8 Journal, selanjutnya Library Genesis teridentifikasi 3 jurnal, sedangkan dalam Francis & taylor Springer, Oxford Academic tidak tersaring sama sekali, Wiley masih mendapatkan 3 jurnal yang tersaring, dan melalui ProQuest teridentifikasi 2 jurnal. Oleh sebab itu, melalui penyaringan tahap kedua ini diperoleh 73 jurnal teridentifikasi.
Rangkuman data tersebut akan disajikan dalam Tabel 5 berikut.
59
Tabel 5. Rangkuman Hasil Penyaringan Abstrak Basis Data Total Pencarian Jurnal Terpilih
Google Schoolar 121 39
Mendeley 29 14
Sciendirect 6 4
Emerald Journal 30 8
Library Genesis 21 3
Francis & taylor 24 0
Wiley 15 3
Springer 1 0
Oxford Academic 4 0
ProQuest 9 2
Total 260 73
Penyaringan ketiga diperlukan untuk mendapatkan data yang lebih relevan. Penyaringan dilakukan dengan membaca keseluruhan bagian jurnal sejumlah 73 tersebut. Indikator penyaringan adalah kirteria inklusi dan ekslusi Berdasarkan kriteria tersebut ditemukan sejumlah 50 jurnal teridentifikasi, rangkuman dijabarkan pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6. Rangkuman Hasil Penyaringan Tahap Akhir Basis Data Jurnal Terpilih Jurnal Akhir
Google Schoolar 39 25
Mendeley 14 12
Sciendirect 4 4
Emerald Journal 8 5
Library Genesis 3 1
Wiley 3 2
60
ProQuest 2 1
Total 73 50
Mengacu pada tabel 3 hingga 6 tersebut, maka proses penyaringan tersebut dapat digambarkan dalam Bagan 4 berikut.
Bagan 4. Penelusuran & Penyaringan Artikel
Terpilihnya 50 jurnal melalui penyaringan itulah yang akan dianalisis lebih mendalam untuk mendapatkan jawaban apakah
61
pelatihan neuroscience benar-benar dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Hasil menganalisis 50 jurnal tersebut dijabarkan ringkasan penelitian dan temuannya dalam Tabel 7 sebagai berikut.
62
Tabel 7. Rangkuman Penelitian dan Penemuan
Basis Data Pengarang Judul Temuan
Google Schoolar
Rahmi Rivalina “PENDEKATAN NEUROSAINS
MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BERPIKIR
TINGKAT TINGGI GURU
PENDIDIKAN DASAR”
Kwansang Sinta : 2
https://jurnalkwangsan.kemdikbud.go.i d/index.php/jurnalkwangsan/article/vie w/218/pdf_
o Pentingnya guru mempelajari pusat kecerdasan atau otak atau neuroscience, mengingat tugas utama seorang guru adalah mencerdaskan peserta didiknya.
o Masalah dalam pendidikan begitu rupa, dalam hal ini menurut Carew dan Magsamen ( dalam Revalina) menyatakan neurosains dipandang mampu memberikan jalan keluar terhadap masalah tersebut.
o Potensi kecerdasan otak dapat
63
berkembang maksimal apabila orangtua, guru, dan lingkungan memahami dengan baik neuroscience.
1) Janet M. Dubinsky, 2) S. Selcen Guzey, 3) Marc S. Schwartz, 4) Gillian Roehrig, 5) Carrie MacNabb, 6) Astrid Schmied, 7) Vicki Hinesley, 8) Mary Hoelscher, 9) Michael Michlin, 10) Lee Schmitt,
“Contributions of Neuroscience Knowledge to Teachers and Their Practice”
SAGE Journal
https://journals.sagepub.com/doi/abs/1 0.1177/1073858419835447?journalCo de=nroa
o Pelatihan neuroscience dapat mendorong guru untuk lebih memperhatikan kebutuhan dan memperluas jangkauan pembelajaran siswa.
o Setelah mengikuti pelatihan neuroscience guru menjadi mengubah praktik mengajarnya karena mereka menjadi lebih memahami bagaimana manusia belajar.
o ilmu saraf berkontribusi pada pengetahuan diri metakognitif.
64 11) Charlene Ellingson,
12) Zhengsi Chang, 13) Janice L. Cooper 1) Alo C. Basu 2) Alexis S. Hill 3) Andr´e K. Isaacs 4) Michelle A.
Mondoux
5) Ryan E.B. Mruczek 6) Tomohiko Narita d
Integrative STEM education for undergraduate neuroscience: Design and implementation
Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/abs/pii/S0304394021000380?vi a%3Dihub
Dua tujuan desain utama dari kurikulum inti ilmu saraf integratif adalah untuk (1) menciptakan peluang kurikuler baru bagi siswa untuk meningkatkan kesadaran interdisipliner dan kemahiran ilmiah berbasis luas, dan (2) menjadikan peluang ini dapat diakses oleh seluruh siswa yang tertarik pada ilmu saraf.
Siswa menerapkan prinsip-prinsip dasar STEM ini dalam konteks ilmu saraf
65
melalui aktivitas pemecahan masalah kelompok di dalam kelas.
Siswa dalam kursus ilmu saraf pengantar integratif menunjukkan peningkatan kesadaran interdisipliner selama semester, 1) Fiona N. Y. Ching
2) Winnie W. M. So 3) Sing Kai Lo , and 4) Savio W. H. Wong
Preservice Teachers’ Neuroscience Literacy and Perceptions of Neuroscience in Education:
Implications for Teacher Education Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/abs/pii/S221194932030020X
bukti penelitian menunjukkan bahwa belajar ilmu saraf bisa meningkatkan rasa tujuan profesional guru, kesabaran, kepercayaan diri, penggunaan ilmu saraf ruang kelas.
pelatihan ilmu saraf adalah salah satu dari dua prediktor terkuat untuk menangkal neuromyths. Guru yang berpartisipasi
66
dalam penelitian ini juga setuju bahwa pelatihan ilmu saraf lebih lanjut bagi mereka penting untuk keberhasilan penerapan ilmu saraf untuk pendidikan.
Kombinasi antusiasme penerapan ilmu saraf dalam pendidikan dan kurangnya literasi ilmu saraf membuat calon guru rentan terhadap informasi yang salah tentang otak dan potensi kontribusi dan penggunaannya dalam pendidikan.
Belajar tentang sifat plastis otak dapat memberi siswa kepercayaan diri bahwa mereka bertanggung jawab atas otak
67
mereka
pengetahuan ilmu saraf dapat membantu melindungi calon guru dari neuromyths 1) María Caballero-
Cobos dan 2) Vicente J. Llorent
Los efectos de un programa de formación docente en neuroeducación en la mejora de las competencias lectoras, matemática, socioemocionales y morales de estudiantes de secundaria.
Un estudio cuasi-experimental de dos anos
Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/pii/S1136103422000132?via%3
Neuroscience membantu untuk memahami otak sebagai sirkuit yang saling berhubungan yang bekerja dalam sebuah jaringan.
kontribusi ilmu saraf dapat memperkuat pelatihan guru, memberi mereka pengetahuan tentang otak yang, pada akhirnya, membantu merancang konteks pembelajaran yang lebih tepat bagi siswa.
68
Dihub ilmu saraf dapat meningkatkan
pemahaman kita tentang pemikiran, perasaan, ingatan, dll.
Julio J. Ramirez Undergraduate neuroscience education:
Meeting the challenges of the 21st century
Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/pii/S0304394020306881?via%3 Dihub
Pertama, pendidikan sarjana dalam ilmu saraf harus mempromosikan pemikiran kritis dan integratif.
ilmu saraf adalah pengembangan keterampilan komunikasi di mana siswa dapat dengan jelas menyampaikan pemikiran mereka secara tertulis, lisan, dan visual.
pendidik ilmu saraf sarjana siap untuk menghadapi tantangan masa depan
69
secara langsung.
1) Marc S. Schwartz 2) Vicki Hinesley 3) Zhengsi Chang 4) Janet M. Dubinsky
Neuroscience knowledge enriches pedagogical choices
Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/abs/pii/S0742051X18313830?vi a%3Dihub
Ilmu saraf membawa pendekatan mekanistik berbasis biologis yang dapat menjelaskan mengapa praktik ini berhasil dan mungkin menyarankan tambahan, pendekatan baru.
memahami ilmu saraf pembelajaran dan ingatan akan memberi guru jalur penjelasan untuk mengenali (dan merangkul) pedagogi yang berpusat pada siswa yang lebih efektif. Selain itu, guru memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan potensi mereka
70
dalam meningkatkan pedagogi mereka.
memahami ilmu saraf pembelajaran dan ingatan dapat berdampak pada setiap pilihan pedagogis guru dalam meningkatkan kompetensi siswa.
Banyak guru mengakui bahwa jumlah waktu dan upaya yang diperlukan untuk belajar dapat bervariasi dan melibatkan siswa merupakan pertimbangan instruksional yang penting.
1) Muhammad Syawal AMRAN
2) Saemah RAHMAN
Connecting Neuroscience and Education: Insight from Neuroscience Findings for Better Instructional
Pemahaman otak dan pikiran adalah kunci untuk membantu guru dan peserta didik dalam meningkatkan proses
71 3) Shahlan SURAT
4) Abu Yazid Abu BAKAR1
Learning
Journal for the Education of Gifted Young Scientists
https://www.semanticscholar.org/paper /Connecting-Neuroscience-and- Education%3A-Insight-from-Amran- Rahman/77d75843ad2c47ebf8038c056 e2e2d4144bb48ac
pembelajaran.
Guru perlu memiliki pengetahuan dasar tentang perkembangan otak agar dapat menyampaikan pengajaran yang sesuai dengan perkembangan otak siswa.
temuan dalam penelitian ilmu saraf dapat membantu guru untuk memahami fungsi otak siswa serta meningkatkan proses belajar mengajar mereka di kelas.
Perhatian yang diberikan oleh amygdala terhadap emosi negatif dapat mengganggu fokus siswa saat belajar mata pelajaran Matematika.
72
Hasil penelitian di bidang ilmu saraf telah memberikan implikasi yang besar bagi bidang pendidikan karena mampu memberikan kontribusi untuk modifikasi pendekatan pengajaran yang digunakan oleh para guru dan meningkatkan prestasi siswa untuk abad ini.
kesadaran ilmu saraf dan pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan sistem penyampaian dalam pendidikan serta meningkatkan prestasi siswa
1) Yuen Sze Michelle Developing theoretical coherence in Studi telah melaporkan efektivitas LS
73 Tan
2) Joshua Johnstone Amiel
3) Kwesi Yaro
teaching and learning: case of neuroscience-framed learning study EMERALD
https://www.emerald.com/insight/conte nt/doi/10.1108/IJLLS-10-2018- 0072/full/html
dalam meningkatkan pengajaran dan mendukung pembelajaran guru
Menggunakan teori ilmu saraf untuk mengembangkan kerangka teoritis (lihat bagian selanjutnya), penelitian ini mengeksplorasi fenomena pembelajaran guru yang dipromosikan melalui konteks LS
Menurut para guru, mendekati objek pembelajaran menggunakan ide ilmu saraf membantu mereka mengatasi kecemasan dalam mengajarkan topik sains yang sulit.
informasi ilmu saraf memberi para guru
74
alasan dan pemahaman yang kuat tentang fungsi otak untuk mendukung praktik pengajaran yang baik.
1) Jelle Jolles 2) Dietsje D. Jolles
On Neuroeducation: Why and How to Improve Neuroscientific Literacy in Educational Professionals
Frontiers in Psychology
Frontiers | On Neuroeducation: Why and How to Improve Neuroscientific Literacy in Educational Professionals (frontiersin.org)
wawasan ilmu saraf akan dapat memberitahu guru apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu.
pendidikan saraf harus bertujuan untuk terjemahan konseptual, memberikan konteks yang lebih luas untuk memahami cara anak belajar dan berkembang.
Masalah utama dalam penerapan wawasan ilmu saraf ke dalam pendidikan berkaitan dengan apa yang disebut
75
"neuromyths". "Neuromyths adalah kesalahpahaman tentang fungsi otak yang dihasilkan oleh kesalahpahaman, salah membaca, atau salah mengutip fakta yang ditetapkan secara ilmiah (oleh penelitian otak) untuk membuat kasus penggunaan penelitian otak dalam pendidikan dan konteks lainnya" Sebagai contoh, neuromyth yang paling gigih (lihat Dekker et al., 2012) menyatakan bahwa individu harus diajar sesuai dengan gaya belajar pilihan mereka – apakah mereka pelajar visual, auditori, atau kinestetik.
76
Namun, banyak makalah penelitian telah diterbitkan dalam dekade terakhir, berulang kali menunjukkan bahwa gaya belajar tidak ada.
temuan dari ilmu saraf kognitif dianggap penting untuk kemajuan dalam domain ilmiah tetapi belum cukup untuk membantu secara langsung dalam desain teknik dan didaktik pengajaran yang inovatif dan dalam intervensi pendidikan.
Evolusi telah melengkapi otak manusia dengan sejumlah mekanisme pembelajaran penting yang
77
memungkinkan individu secara efisien menerima informasi baru dan beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah.
otak bertanggung jawab atas keingintahuan alami dan perilaku eksplorasi anak-anak, yang mendorong perkembangan dan pengorganisasian kognisi dan perilaku dalam kaitannya dengan tuntutan lingkungan.
Fakta bahwa otak mampu berubah sebagai respons terhadap tuntutan lingkungan memungkinkan pembelajaran dan pendidikan. Hal ini penting bagi individu
78
untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.
1) Farmakopoulou 2) Theodoratou, M 3) Gkintoni, E
Neuroscience as a Component in Educational Setting. An Interpretive Overview
Technium Education and Humanities
https://techniumscience.com/index.php /education/article/view/8236
Neuroscience dapat memberikan metode pendidikan baru di masa depan.
Ilmu saraf menyumbangkan banyak manfaat bagi pendidikan.
1) Gkintoni
2) E., Antonopoulou 3) H.,Halkiopoulos
Educational Neuroscience in Academic Environment. A Conceptual Review Technium Education and Humanities
Beberapa aspek ilmu saraf telah mempengaruhi praktik pendidikan.
Misalnya, ilmu saraf telah merujuk pada berbagai mekanisme saraf yang terkait
79
https://techniumscience.com/index.php /socialsciences/article/view/8208
dengan kesulitan belajar tertentu, seperti disleksia.
ilmu saraf dapat mendukung pendidikan seperti halnya biologi mendukung kedokteran, yang menunjukkan bahwa setiap bidang mempertahankan orisinalitasnya.
Neuroeducation dapat meningkatkan kemampuan dasar siswa dalam proses pendidikan.
1) Bhargava AV, 2) Dr. Ramadas V
Implications of
neuroscience/neuroeducation in the field of education to enhance the
Ketika seorang individu tumbuh, pembelajaran informasi baru dan evolusi pemikiran berlanjut berdasarkan aktivasi
80 learning outcomes of the students Journal of Positive School Psychology
https://journalppw.com/index.php/jpsp/
article/view/8636
tiga bagian otak yang berbeda, yaitu area motorik, memori, dan pemikiran dan penalaran.
Siswa TK menunjukkan peningkatan fungsi bahasa mereka setelah penerapan model Neuroeducation Arwood dan penyampaian instruksi menulis berbasis neuroeducation.
Implementasi metode neuroeducation menghasilkan peningkatan konsentrasi, daya ingat, kemampuan membaca, dan kemampuan matematika peserta didik yang berasal dari keluarga berpenghasilan
81
rendah dan menghadapi masalah sosial seperti kekerasan dan kecanduan narkoba.
sangat penting untuk beralih dari praktik pengajaran tradisional ke pengetahuan ilmu saraf yang muncul, memperbarui kurikulum dan strategi pengajaran, dan memungkinkan siswa untuk mencapai pengalaman belajar yang efektif.
Tujuan utama ilmu saraf pendidikan atau neuroeducation adalah untuk meningkatkan kemampuan otak untuk belajar melalui transformasi lingkungan belajar
82 1) Yuen Sze Michelle
Tan
2) Joshua Johnstone Amiel
Teachers learning to apply neuroscience to classroom instruction:
case of professional development in British Columbia
Professional Development in Education
https://www.tandfonline.com/doi/full/1 0.1080/19415257.2019.1689522
Secara kolektif, tampak bahwa para guru telah memperdalam metode pedagogis mereka karena mereka memberikan perhatian yang lebih besar untuk menciptakan pengalaman belajar berbingkai konstruktivis dan memperkuat koneksi saraf.
ilmu saraf memberi guru perspektif unik tentang pentingnya pembelajaran siswa:
sebagai menghubungkan dan memperluas koneksi saraf, mirip dengan 'memperdalam parit'.
Kami memperhatikan bagaimana para
83
guru beralih antara menggunakan bahasa ilmu saraf dan kosa kata sederhana yang kami perkenalkan untuk membuat konten ilmu saraf lebih mudah diakses.
1) Sophie Cherrier, 2) Pierre-Yves Le
Roux,
3) François-Marie Gerard, 4) Guillaume
Wattelez, 5) Olivier Galy
Impact of a neuroscience intervention (NeuroStratE) on the school performance of high school students:
Academic achievement, self- knowledge and autonomy through a metacognitive approac
Elsevier
https://www.sciencedirect.com/science/
article/abs/pii/S2211949320300016
Studi ini memungkinkan kami untuk mengukur efek kontribusi ilmu saraf kognitif. Neuro terbukti lebih efisien, terorganisir dengan lebih baik, dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merencanakan kegiatan pembelajaran mereka selama program berlangsung.
Mereka juga merasa lebih mandiri dan percaya diri dalam belajar.
84
Hagar Goldberg Growing Brains, Nurturing Minds—
Neuroscience as an Educational Tool to Support Students’ Development as Life-Long Learners
Brain Sciences
https://www.mdpi.com/2076- 3425/12/12/1622
Ilmu saraf pendidikan adalah bidang yang menjanjikan dalam mengajar siswa tentang otak mereka dan mengajar mereka dengan cara yang ramah otak untuk mendukung mereka menjadi pembelajar seumur hidup.
Lihan Chen Education and visual neuroscience: A mini-review
National Library of Medicine https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31884 725/
Ilmu saraf pendidikan dapat memfasilitasi pembelajaran pada individu dengan penglihatan terbatas melalui eksperimen yang mensimulasikan cacat bidang visual.
Temuan dari ilmu saraf pendidikan dan
85
psikologi eksperimental dapat digunakan untuk mengembangkan intervensi untuk anak-anak dengan kondisi yang melibatkan perkembangan atipikal seperti autisme dan untuk anak- anak dengan diskalkulia atau disleksia.
1) María-José Torres- Moreno
2) Esteban Aedo- Muñoz
3) Cristian Hernández- Wimmer
Fundamental contributions of neuroscience to motor learning in children: a systematic review
Revista Journal
https://revistas.rcaap.pt/motricidade/art icle/view/25216
penelitian menunjukkan bahwa manusia melewati tahap di mana sejumlah besar keterampilan akan bertahan seumur hidup.
Keterampilan yang baru diperoleh secara bertahap meningkat tergantung pada beberapa pengalaman belajar
86 4) Ciro Brito
5) Bianca Miarka
sebagai kognitif, perseptual, motorik, linguistik.
1) Hyemin Han 2) Firat Soylu 3) D. Mona Anchan
Connecting levels of analysis in educational neuroscience: A review of multilevel structure of educational neuroscience with concrete example ELSEVIER
https://www.sciencedirect.com/science/
article/abs/pii/S2211949318300474?vi a%3Dihub
tujuan utama ilmu saraf pendidikan adalah berdampak pada konteks kehidupan nyata, seperti ruang kelas.
Saat ini penelitian yang menargetkan penggabungan pendekatan ilmu saraf dan pendidikan umumnya lebih condong menggunakan metodologi penelitian ilmu saraf untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sebelumnya tidak terjawab dalam pendidikan
1) E. Gkintoni, AN OVERVIEW OF COGNITIVE o Penelitian Neuroimaging telah
87
2) I. Dimakos NEUROSCIENCE IN EDUCATION
https://www.researchgate.net/publicati on/362108152_AN_OVERVIEW_OF_
COGNITIVE_NEUROSCIENCE_IN_
EDUCATION
mengungkap kompleksitas interaksi ini di area otak yang berbeda dan mengungkap banyak jalur yang berkontribusi pada pembelajaran sehingga dapat mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran berdasarkan lapang pandang.
o Prinsip pembelajaran yang bergantung pada suasana hati.
1) Lu Li
2) Andrew Douglas 3) Isherwood Gow 4) Jiaxian Zhou
The Role of Positive Emotions in Education: A Neuroscience Perspective MIND, BRAIN, AND EDUCATION https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/
o Belajar membutuhkan perkawinan dari beberapa komponen penting: Perhatian, motivasi, dan emosi menimbulkan prioritas dan pemilihan informasi.
88
10.1111/mbe.12244 o Konsensus yang dicapai oleh para peneliti di bidang ilmu saraf kognitif dan pendidikan adalah bahwa belajar adalah proses komunikasi bertingkat pada tingkat kognitif, emosional, dan fisiologis.
o Emosi memainkan peran penting dalam pendidikan dan emosi positif tidak hanya dapat mempromosikan situasi yang memuaskan untuk mempelajari materi, tetapi juga mendukung proses kognitif yang membantu peserta didik tampil lebih baik saat belajar dan
89
meningkatkan kepuasan mereka.
o Dibandingkan dengan rangsangan netral, rangsangan emosional positif, sebagai rangsangan target atau isyarat sugestif, dapat meningkatkan perhatian dan meningkatkan proses kognitif.
o Emosi netral dan negatif dapat memiliki berbagai efek negatif pada proses memori. Jika seorang siswa mengalami kecemasan dan stres kronis, kelenjar adrenal mereka melepaskan hormon stres yang disebut kortisol, yang bertahan lama di dalam tubuh dan
90
mengurangi fungsi kekebalan serta mempengaruhi memori dan kemampuan berpikir dan berdampak negatif pada tubuh dan kemampuan mereka untuk belajar.
o Dalam hal akurasi ingatan, penelitian telah menunjukkan bahwa emosi negatif lebih cenderung mengarah pada ingatan palsu, sedangkan emosi positif adalah kunci ingatan yang cepat dan akurat o Pengalaman kegiatan berbasis kelompok
memang meningkatkan kinerja individu pada tugas pembelajaran dan tinjauan
91
pembelajaran kolaboratif menemukan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki efek positif pada hasil akademik.
o Persaingan juga dapat diperhitungkan sebagai cara yang efektif untuk menumbuhkan motivasi intrinsik dalam suatu sistem pembelajaran.
1) Nienke van Atteveldt 2) Geertje Tijsma 3) Tieme Janssen 4) Frank Kupper
Responsible Research and Innovation as a Novel Approach to Guide Educational Impact of Mind, Brain, and Education Research
Main, brain, educational
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa selain perbedaan kemampuan kognitif, perbedaan individu dalam keyakinan seseorang tentang kemampuan ini juga merupakan
92
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/
10.1111/mbe.12213
prediktor penting keberhasilan sekolah
Semua orang yang diwawancarai setuju bahwa otak itu fleksibel
1) Amauri Betini Bartoszeck 2) Flavio Kulevicz
Bartoszeck
How In-Service Teachers Perceive Neuroscience as Connected to Education: an Exploratory Study
EUROPEAN JOURNAL OF
EDUCATIONAL RESEARCH https://www.eu-jer.com/how-in- service-teachers-perceive- neuroscience-as-connected-to- education-an-exploratory-study
Peneliti pendidikan sangat optimis bahwa temuan dalam ilmu saraf dapat berkontribusi secara efektif secara aktif untuk perbaikan praktik pendidikan.
Hasil menunjukkan bahwa 88,0%
penelitian ilmu saraf dapat membantu memahami bagaimana otak manusia mengkodifikasi, dan menyimpan informasi dan ini dapat diterapkan untuk meningkatkan metode pedagogis.
93
Otak mempersepsikan informasi terutama dalam bentuk ilustrasi, simbol gambar karena cara berpikir nenek moyang kita yang primitif. Dengan demikian, sekolah harus menawarkan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui gambar, musik, drama dan pemetaan konsep.
Alida Anderson Advancing School Professionals’
Dyslexia Knowledge Through Neuroscience: Bridging the Science-
Education Gap Through
Developmental Psychology
Neuroscience dalam penelitian pendidikan memiliki potensi untuk menjawab kebutuhan ini. Sebagai contoh, konsep ilmu saraf tentang plastisitas sinaptik menetapkan mengapa
94 Frontiers
Frontiers | Advancing School Professionals’ Dyslexia Knowledge Through Neuroscience: Bridging the Science-Education Gap Through Developmental Psychology (frontiersin.org)
individu dengan disleksia memerlukan latihan intensif untuk belajar membaca karena jalur aksonal berbeda dari pembaca yang biasanya berkembang dan individu dengan disleksia memerlukan lebih banyak sinapsis yang dilatih untuk berhasil mengasosiasikan fonem dengan grafem, untuk mengenali kata-kata, dan untuk mengasosiasikan makna dengan kata-kata.
Beberapa studi penelitian telah ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan profesional sekolah tentang
95
disleksia melalui program atau intervensi pelatihan ilmu saraf pendidikan.
konsep ilmu saraf tentang plastisitas sinaptik dapat mendukung pendidik untuk memahami mengapa individu dengan disleksia memerlukan latihan intensif dan dukungan untuk belajar membaca.
Tinjauan tentang upaya untuk memajukan pengetahuan disleksia profesional sekolah ini menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan akses ke
96
konsep ilmu saraf dasar disleksia, yang dapat menghilangkan prasangka mitos disleksia tentang membaca mundur serta mendukung peningkatan pemahaman tentang perkembangan membaca dan gangguannya.
Konten ilmu saraf yang berfokus pada otak membaca dan gangguannya pada disleksia mendukung peningkatan pemahaman tentang dasar disleksia.
André Hedlund Beliefs and Attitudes that Influence Learning: A Mind, Brain, and Education Literature Review
Artikel ini mencoba menjelaskan beberapa teori dan bukti empiris yang berkaitan dengan bagaimana siswa dapat
97
GiLEJournal of Skills Development https://gjsd.gile-
edu.org/index.php/home/article/view/2- hedlund-44-57
belajar lebih efektif yang tidak secara langsung berada di bawah payung kemampuan kognitifnya.
siswa yang memahami bahwa otak selalu mampu berubah dan kemungkinan besar akan memiliki hubungan yang lebih positif terhadap pembelajaran dan usaha.
Studi ini telah melihat bagaimana teori kecerdasan implisit, khususnya dikotomi antara mindset berkembang (incremental) dan mindset tetap (entity), berdampak pada prestasi akademik.
98
Literatur menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat dan positif antara sikap dan keyakinan terhadap kecerdasan dan pembelajaran.
Mendeley Dr. Diana Po Lan Sham
The Significance of Neuroscience for Teaching English as Second Language (TESL) in the Digital Era
English Literature and Language Review
https://ideas.repec.org/a/arp/ellrar/2019 p158-163.html
Neuroscience, studi tentang otak dan sistem saraf, diperlukan bagi guru ESL untuk pengembangan profesional di masa depan guna memenuhi kebutuhan siswa yang berubah dengan cepat di semua tingkatan di era digital.
Ada dampak besar ilmu saraf pada pengajaran dan pembelajaran termasuk implikasinya untuk kelas perguruan
99
tinggi ES. Oleh karena itu, kerjasama internasional mengenai penelitian interdisipliner penerapan ilmu saraf dalam pendidikan yang dibentuk oleh ahli saraf, psikolog dan pendidik telah meningkat sejak tahun 1990-an.
Didukung oleh bukti aplikasi praktis ilmu MBE di kelas IELTS, jelas bahwa guru memiliki pengetahuan luas tentang berbagai disiplin ilmu termasuk psikologi dan ilmu saraf dan mampu mengimplementasikan temuan ilmu saraf dalam kinerja guru, desain kursus,
100
hasil pembelajaran dan keseluruhan komentar membuat pembelajar L2 dewasa sangat puas dan belajar lebih baik.
1) Wan Norliza Wan Bakar
2) Noor Suzana Shahidan
A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW ON NEUROSCIENCE OF CONCEPTUAL LEARNING IN MATHEMATICS
Jurnal Penyelidikan Sains Sosial (JOSSR)
http://www.jossr.com/PDF/JOSSR- 2021-10-03-10.pdf
Pentingnya kombinasi konsep penguasaan kognitif ke dalam proses tata letak pendidikan untuk berkontribusi pada tatanan sistem pelatihan empiris yang mapan.
Imajinasi dan strategi perilaku dari perkembangan ilmu saraf kognitif telah memungkinkan kita dalam meningkatkan keahlian ide saraf dan
101
kognitif yang rumit 1) Kara Brick
2) Janice L. Cooper 3) Leona Mason 4) Sangay Faeflen 5) Josiah Monmia 6) Janet M. Dubinsky
Training-of-Trainers Neuroscience and Mental Health Teacher Education in Liberia Improves Self-Reported Support for Students
Frontiers in Human Neuroscience Frontiers | Training-of-Trainers Neuroscience and Mental Health Teacher Education in Liberia Improves Self-Reported Support for Students (frontiersin.org)
o Mendidik guru dalam ilmu saraf telah menghasilkan adopsi pedagogi yang lebih berpusat pada siswa dan belajar aktif, meningkatkan lingkungan kognitif kelas dan lebih banyak dukungan sosial dan emosional bagi siswa
o Pendekatan Trainingof-Trainers telah berhasil digunakan dalam melatih guru di Malawi dan Tanzania untuk menggunakan kurikulum kelas kesadaran MH (mental heatly)
o Baik pengetahuan guru Tingkat I dan
102
Tingkat II tentang ilmu saraf meningkat secara signifikan setelah lokakarya masing-masing.
o Perubahan perilaku positif yang dilaporkan dari program percontohan ini patut diuji dan direproduksi lebih ketat dalam skala yang lebih besar.
o Bukti kualitatif menunjukkan perubahan nyata di antara guru-guru tersebut dalam memahami siswa MH dan upaya untuk membangun hubungan positif dengan siswa. Perilaku menolong dan dukungan sosial dan emosional secara keseluruhan
103
tampak meningkat, baik untuk masalah MH maupun pembelajaran normal.
1) Efrat Luzzatto 2) Alina. S. Rusu
Development of a Neuroscience Motifs-based Teacher Training Program for Pre-Service Teachers in Special Education in Israel
Educatia 21 Journal
https://www.researchgate.net/publicati on/348034576_Development_of_a_Ne uroscience_Motifs-
based_Teacher_Training_Program_for _Pre-
Service_Teachers_in_Special_Educatio
Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan neurosains berdampak pada pandangan guru terhadap pelajaran dan potensi siswa mereka.
ilmu saraf dapat membawa pendidikan lebih dari sekedar pemahaman otak dan lebih dari jawaban atas situasi masalah.
Argumen neuroeducational dapat memperluas pemahaman tentang pembelajaran dan pendidikan secara umum.
104 n_in_Israel
1) Lorie-Marlène Brault Foisy
2) Anna A. Matejko 3) Daniel Ansari 4) Steve Masson
Neuronal Plasticity: Effects of Teaching Practices on the Brain Main, Brain, Educational
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epd f/10.1111/mbe.12257
Penelitian neurosains memberikan beberapa kontribusi untuk memahami efek praktik pedagogis pada pembelajaran
MBE dapat membantu kita lebih memahami kompleksitas plastisitas saraf dalam pengaturan yang lebih valid secara ekologis.
MBE dapat memberikan wawasan tentang proses saraf yang terlibat dalam pembelajaran berbasis kelas, yang mungkin berbeda dengan pelatihan di
105
laboratorium.
Kontribusi penting kedua dari ilmu saraf untuk pendidikan adalah dapat digunakan untuk memprediksi apakah peserta didik (anak-anak atau orang dewasa) akan menunjukkan keuntungan terkait pembelajaran berdasarkan fungsi atau struktur otak sebelum dimulainya pembelajaran.
1) María Teresa Martín- Aragoneses
2) Eva Expósito-Casas 3) Esther López-Martín
PERCEPCIONES DE LOS
EDUCADORES SOBRE EL PAPEL DE LA NEUROCIENCIA EN EDUCACIÓN: RESULTADOS DE
Pelatihan ilmu saraf untuk guru memiliki potensi untuk mengubah praktik kelas dan sikap siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa