PENDAHULUAN
Fokus Penelitian
Bagaimana peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan keimanan religiusitas remaja di kawasan Telengsari Desa Jember Kidul. Bagaimana peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas moral remaja di kawasan Telengsari Desa Jember Kidul.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bagi peneliti, ini merupakan wawasan dari praktik penulisan ilmiah dan memberikan wawasan baru mengenai peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas remaja. Bagi IAIN Jember, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa yang sedang mengkaji kembali peran pendidikan keluarga sehingga memudahkan mereka dalam melakukan penelitian.
Definisi Istilah
Bagi masyarakat, kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan referensi bahwa peran pendidikan keluarga sangat penting dalam meningkatkan religiusitas remaja. Peran pendidikan keluarga dalam penelitian ini berarti proses atau upaya sadar pendidikan, yang dilakukan oleh orang tua sebagai peran pendidik dalam upaya mewujudkan peran pendidikan keluarga dalam mendidik, mengajar, mengubah sikap anak ke arah yang lebih baik. .
Sistematika Pembahasan
Yang meneliti “Peran Orang Tua Dalam Membimbing Pendidikan Keagamaan Anak Remaja (Studi Kasus Di Dusun Sawahkongsi Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember)”. Di bawah ini kami sajikan beberapa hasil wawancara dengan beberapa remaja dan orang tua di kawasan Telengsar. Ketidaktahuan remaja dalam hal akhlak terhadap orang lain di lingkungan Telengsar merupakan konsekuensi dari kurangnya pendidikan agama pada anak yang ditekankan oleh orang tua dalam keluarga.
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, orang tua di lingkungan Telengsari lebih mengutamakan sekolah anaknya dibandingkan kewajiban anaknya sebagai hamba Tuhan untuk berakhlak mulia terhadap Tuhan. Orang tua di daerah Telengsari terlalu memanjakan anaknya dengan urusan duniawi dan orang tua tidak berpuasa untuk memperingatkan anak yang berbuka puasa. Kurangnya kepedulian remaja terhadap akhlak terhadap orang lain di kawasan Telengsari disebabkan oleh kurangnya pendidikan agama pada anak yang ditekankan oleh orang tua.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
Menurut para pendidik, keluarga merupakan wilayah pendidikan atau lingkungan keluarga yang pertama, dan pendidik adalah orang tua. Mereka adalah pendidik bagi anak-anaknya karena ibu dan ayah secara kodratnya diberikan anugerah dari tuhan pencipta berupa naluri orang tua. Artinya pendidikan berlangsung dalam keluarga, yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam membesarkan anak dalam keluarga.
Oleh karena itu, orang tua wajib mendidik anaknya dan yang terpenting hubungan antara orang tua dan anaknya harus terjalin secara wajar dan alamiah. Oleh karena itu, selain peran keluarga sebagai wadah pertama dalam membesarkan anak, orang tua mempunyai tugas untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anaknya. Dalam keluarga, orang tua bertanggung jawab mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik berdasarkan ajaran agama Islam (Djaramah, 2004: 31).
Oleh karena itu, orang tua harus benar-benar mendidik anaknya dengan baik dalam keimanan, karena seperti yang telah disebutkan di atas, setiap anak manusia pasti dilahirkan dengan fitrah yang Islami. Oleh karena itu, kewajiban orang tua muslim hanyalah menyelamatkan benih-benih tauhid melalui pendidikan agama yang memadai.
Lokasi penelitian
Dari hasil wawancara diatas diketahui bahwa orang tua di komunitas Telengsari hanya meningkatkan keimanan remaja melalui pengajaran di sekolah, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman orang tua di komunitas Telengsari. Rukun iman bagi orang tua di lingkungan Telengsari untuk meningkatkan religiusitas keimanan anaknya hanya melalui pendidikan sekolah, yaitu dengan menyekolahkan anaknya pada lembaga sekolah yang berbasis agama. Kurangnya perhatian dan kontrol orang tua terhadap remaja di komunitas Telengsari menyebabkan remaja kurang memiliki kesadaran akan shalat yang merupakan kewajiban utama umat Islam.
Orang tua di lingkungan Telengsari mengutamakan sekolah anaknya dibandingkan kewajiban anaknya sebagai hamba Allah dalam hal berakhlak di hadapan Allah yaitu dengan menjalankan perintah Allah (beribadah/berakhlak baik). Dari hasil analisis data, orang tua di lingkungan Telengsari terlalu memanjakan anaknya dengan urusan duniawi, dan orang tua kurang tegas dalam memperingatkan anak yang berbuka puasa. Peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas keagamaan pada remaja di wilayah Telengsari, orang tua di wilayah Telengsari hanya membesarkan keimanan anaknya melalui pendidikan sekolah dengan menyekolahkan anaknya pada lembaga sekolah berbasis agama.
Subjek penelitian
Sumber data
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti untuk mengetahui peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas remaja di lingkungan Telengsari kecamatan Jember Kidul, bahwa sebagian orang tua di lingkungan Telengsari menganggap tugasnya sebagai orang tua terlaksana yaitu dalam mendidik anaknya dan menyekolahkannya, namun tidak sedikit orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya. Terlalu memanjakan anak dalam urusan duniawi dan kurangnya ketegasan orang tua dalam memperingatkan anak yang berbuka puasa. Ketidaktahuan yang terjadi pada remaja disebabkan karena kurangnya pendidikan agama dalam keluarga yang ditekankan oleh orang tua.
Melihat peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas bidang ibadah pada komponen puasa, peneliti berpendapat hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi orang tua agar tidak hanya mengingatkan anak saja, tapi juga mengingatkan anak. Hal ini dilakukan orang tua karena orang tuanya kurang berpengetahuan dan belum langsung menunaikan ibadah haji. Melihat peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas remaja dalam bidang ibadah komponen haji, peneliti berpendapat bahwa upaya orang tua dalam mendidik dan menanamkan pengetahuan tentang haji sangat penting bagi anak.
Teknik pengumpulan data
Analisis data
Miles dan Huberman menyatakan bahwa kegiatan dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus hingga selesai sehingga datanya jenuh. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data lebih lanjut jika diperlukan. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat berupa uraian singkat, grafik, hubungan antar kategori, diagram alir, dan sejenisnya.
Namun yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah teks naratif. Kesimpulan awal yang diambil masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti pendukung yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun apabila kesimpulan yang diambil pada tahap awal didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang diambil tersebut merupakan kesimpulan yang kredibel.
Keabsahan Data
Dengan menampilkan data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan pekerjaan dan kemudian mendasarkannya pada apa yang dipahami. Bandingkan apa yang orang katakan tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
Tahap penelitian
Kurangnya perhatian dan ketegasan orang tua bisa menjadi faktor yang membuat anak menganggap sepele soal agama. Hal ini juga terlihat dari pengamatan peneliti bahwa orang tua di lingkungan telengsari lebih banyak memanjakan anaknya dengan urusan duniawi, seperti membelikan sepeda baru saat usia remaja, termasuk kurang tegasnya menyikapi ibadah anak. Pernyataan Alfin tersebut menandakan bahwa orang tua Alfin telah menjadi pendidik dan teladan yang baik bagi anak-anaknya, namun masih banyak orang tua di wilayah Telengsari yang kurang memperhatikan perilaku anaknya dalam hal akhlak terhadap Allah SWT, seperti menaati perintah-Nya ( untuk menunaikan ibadah, dengan akhlak yang baik) dan menjauhi larangan-larangannya. Hal ini terlihat dari orang tua yang mengutamakan sekolah dibandingkan kewajiban anaknya sebagai hamba Tuhan (Observasi, Lingkungan Telengsari, 14 Desember 2015).
“Orang tua saya bahkan tidak terima jika anaknya dianiaya sampai mereka mengajukan kasus terlebih dahulu.” (wawancara, 13/12/2015). Dari hasil analisis data yang terdapat di lingkungan Telengsari dapat diketahui bahwa religiusitas keagamaan remaja di lingkungan Telengsari meningkatkan religiusitas keyakinan anak hanya melalui pendidikan sekolah, dengan menyekolahkan anak pada lembaga sekolah agama, pada dasar bahwa orang tua tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang agama. . Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh terlihat bahwa sebagian orang tua di lingkungan Telengsari kurang mempunyai perhatian dan kontrol orang tua terhadap remaja di lingkungan Telengsari, sehingga remaja tersebut tidak sadar akan shalat, yaitu kewajiban utama umat Islam.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Penyajian data dan analisis
Orang tua mutlak mempunyai kewajiban untuk mendidik anaknya terutama mengenai religiusitas atau agama anak, karena agama. Namun hal tersebut tidak cukup didapat dari mengaji di musala, namun orang tua harus memberikan contoh yang baik di rumah. “Di lain waktu saya jarang salat, orang tua saya tidak pernah marah atau menegur saya.” (wawancara, 20 Desember 2015).
Orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam membesarkan anaknya, terutama dalam urusan ibadah selain shalat, dan puasa juga merupakan hal yang penting untuk diajarkan kepada anaknya. Maksud dari wawancara di atas adalah “anak-anak jaman sekarang menjalani kehidupannya sendiri, orang tuanya mengatakan bahwa mereka jarang memperhatikan apapun. Namun dengan keterbatasan yang dimiliki oleh sebagian orang tua yang berpendidikan menengah pertama dalam hal pemahaman agama yang kurang, maka orang tua lebih banyak khawatir terhadap sekolah anak-anaknya.
Pembahasan temuan
Melihat peran pendidikan keluarga dalam meningkatkan religiusitas remaja dalam bidang ibadah pada komponen salat di kawasan Telengsari, peneliti berpendapat dengan adanya perilaku remaja yang tidak khusyuk dalam salat maka orang tua tidak memberikan teguran. . tegasnya hal tersebut tidak sinkron dengan perlakuan orang tua yang harus mengontrol dan memperhatikan anaknya sehingga penyerapan pendidikan agama pada anak tidak maksimal seolah-olah hanya sekedar kegiatan formal. Orang tua juga tidak bisa begitu saja memerintahkan anaknya untuk merealisasikan apa yang diperintahkan kepadanya (Intersesi. Minimnya upaya orang tua dalam meningkatkan keimanan ketika remaja terlihat jelas pada aktualisasi ibadah sehari-hari remaja yang tidak maksimal.
Orang tua melatih anaknya dalam berzakat melalui belajar mandiri, yaitu dengan menyisihkan sebagian uang anak untuk orang yang membutuhkan. Diharapkan kepada orang tua agar lebih memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya dengan baik khususnya pada masa remaja, dan tidak hanya mengutamakan pendidikan sekolah dalam meningkatkan religiusitas remaja, namun juga meningkatkan pendidikan dalam keluarga dalam meningkatkan religiusitas remaja. Anak perlu diawasi agar orang tua dapat mengontrol perilaku anaknya dan tidak melakukan apa yang diinginkannya.
PENUTUP
Saran-Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti terdapat kelebihan dan kekurangannya, sehingga ada beberapa saran yang dapat diambil untuk perbaikan dalam meningkatkan religiusitas remaja. Perlu adanya peran aktif para guru mengaji dan masyarakat untuk meningkatkan agama remaja melalui kegiatan-kegiatan bermanfaat di kawasan Telengsari.