• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian Kualitatif

N/A
N/A
Fajriyan askandar

Academic year: 2023

Membagikan "Rumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian Kualitatif"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

METODOLOGI PENELITIAN

Rumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian Kualitatif

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh:

Muhammad Fajriyan

Dosen Pengampu: Robby Jundi Lestari, M.Pd

SEMESTER III

PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) MA’ARIF SAROLANGUN TAHUN AKADEMIK 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Agar segala kenikmatan yang telah diberikan, menjadikan kita semakin mendekatkan diri kepada-Nya, dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang pandai mensyukuri semua nikmat-Nya.

Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada sang pembaharu sejati, Nabi Muhammad SAW. Serta pamungkas para rasul, sang pemberi janji dan peringatan, dengan kehadiran beliau, yaitu Allah SWT. Menyelamatkan manusia dari kesesatan, yang menunjukan manusia kejalan yang lurus, yaitu Addinul Islam wal iman.

Alhamdulillah dengan ridha Allah, dengan semangat dan ketekunan, akhirnya Penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah Metodologi Penelitian dengan bimbingan dosen pengampu Bpk. Robby Jundi Lestari, M.Pd yang berjudul “Rumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian Kualitatif” ini dengan lancar.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sepenuhnya bebas dari kekurangan, sehingga apabila ada salah kata, salah dalam penyusunan, dan kurang dalam isi materi Penulis mohon maaf yang sedalam-dalamnya.

Akhirnya Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas tugas yang telah di berikan oleh bapak dosen pengampu mata ini, semoga makalah ini bermanfaat serta dapat membantu sang pencari ilmu untuk mendapatkan ilmu lebih luas lagi, hanya kepada Allah Penulis memohon pertolongan dan memohon petunjuk.

Singkut, 01 November 2023 Penyusun

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan...1

BAB II PEMBAHASAN...3

A. Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif...3

B. Tujuan Penelitian Kualitatif...12

BAB III PENUTUP...15

A. Kesimpulan...15

B. Saran...15

DAFTAR PUSTAKA...16

iii

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Setiap melakukan penelitian harus mempunyai masalah penelitian yang akan dipecahkan. Perumusan masalah ini bukanlah pekerjaan yang mudah, termasuk bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah selalu ada di lingkungan sekeliling kita.

Titik tolak penelitian jenis apapun tidak lain bersumber pada masalah. Tanpa masalah, penelitian itu tidak dapat dilaksanakan.

Masalah itu, sewaktu akan mulai memikirkan suatu penelitian, sudah harus dipikirkan dan dirumuskan secara jelas, sederhana, dan tuntas. Hal itu disebabkan oleh seluruh unsur penelitian lainnya akan berpangkal pada perumusan masalah tersebut.

Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk mengatasi kebingungan kita akan suatu hal, untuk memisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan atau untuk menutup celah antara kegiatan atau fenomena. Karenanya peneliti harus memilih suatu masalah bagi penelitiannya, dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah.

Karena pentingnya perumusan masalah dalam sebuah penelitian maka kami membuat makalah dengan bahasan perumusan masalah penelitian (research question).

B. Rumusan Masalah

1. Apa Saja Yang Berkaitan Dengan Rumusan Masalah Kualitatif Baik Pengertian, Batasan, Model Dan Prinsip Penelitian Kualitatif

2. Apa Saja Tujuan Penelitian Kualitatif C. Tujuan

(5)

Untuk Mengetahui Perumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian Kualitatif

v

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif

1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa rumusan merupakan hasil merumuskan, rumus1. Sedangkan masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan.6 Perumusan masalah atau research question atau yang dapat disebut juga research problem diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai suatu fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sabagai fenomena yang saling terkait diantara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. 2 Beberapa ahli mengemukakan bahwa rumusan masalah adalah:

1) Menurut Sadarmayanti dan Hidayat, perumusan masalah atau rumusan masalah adalah pernyataan rinci dan lengkap mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah.3

2) Menurut Mahdiyah, rumusan masalah merupakan suatu kalimat pernyataan yang disusun berdasarkan adanya masalah tersebut dan akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data dalam suatu proses penelitian4.

3) Menurut Ismail dan Bambang Triyanto, rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.5

4) Dikutip dari Dodiet Aditya Setyawan, rumusan masalah atau

1 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Tanpa tanggal akses, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/rumusan

2 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Tanpa tanggal akses,, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/masalah

3 Sedarmayanti dan Hidayat, Metodologi Penelitian, (Bandung: CV Mandar Maju, 2011), hlm. 36.

4 Mahdiyah, Materi Pokok Studi Mandiri dan Seminar Proposal Penelitian, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2016), hlm. 12.

5 Ismail dan Bambang Triyanto, Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi): Suatu Pedoman, (Klaten: Lakeisha, 2020), hlm. 102.

(7)

research problem atau problem formulation adalah sautu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai suatu fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sabagai fenomena yang saling terkait diantara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Menurut Dodiet Aditya Setyawan, rumusan masalah merupakan formulasi dari pertanyaan penelitian yang artinya merupakan kesimpulan pertanyaan yang terkandung dalam pernyataan penelitian.6

Berdasarkan pengertian dari rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah itu adalah sebuah tulisan singkat yang berisi tentang suatu pertanyaan yangmana pertanyaan ini disusun berdasarkan adanya suatu masalah yang telah diidentifikasi dan masalah ini nantinya akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data dalam suatu proses penelitian.

2. Fungsi Rumusan /Perumusan Masalah

Adapun rumusan atau perumusan masalah memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah:

1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian manjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitain itu menjadi ada dan dapat dilakukan.

2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dalam suatu penelitian.

3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti karena melalui perumusan masalah, peneliti menjadi tau mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.

6 Dodiet Aditya Setyawan, Masalah Penelitian (Perumusan Masalah dalam Penelitian, (Surakarta: Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta, 2014), hlm. 5.

vii

(8)

4. Dengan adanya perumusan masalah, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah didalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel dalam sebuah penelitian.7

3. Kriteria Perumusan Masalah

Setidaknya ada tiga kriteria yang diharapkan dapat terpenuhi dalam proses perumusan masalah pada penelitian, yaitu:

1. Harusnya berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat introgatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala dalam kehidupan manusia.

2. Bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang memiliki arti, baik sebagai pencipta teori-teori baru, maupun sebagai pengembang teori-teori yang sudah ada sebelumnya

3. Hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang actual sehingga pemecahan masalahnya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula dan dapat diterapkan secara nyata dalam proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.8 4. Hal Hal Yang Perlu Di Perhatikan Ketika Merumuskan Masalah

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah dalam sebuah penelitian, diantaranya adalah:

1. Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat tidak berbelit-belit yang dapat membingungkan pembaca. Masalah dirumuskan dengan kalimat yang pendek tapi bermakna. Hindari rumusan masalah yang bersifat

“mendua arti”.

2. Rumusan masalah hendaknya dalam bentuk kalimat tanya. Masalah

7 Mamik, Metodologi Kualitatif, (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2015), hlm. 245.

8 Mamik, Metodologi Kualitatif, hlm. 246.

(9)

akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, bukan kalimat pernyataan.

3. Rumusan masalah hendaknya jelas dan kongkrit Rumusan masalah yang jelas dan kongkrit akan memungkinkan peneliti secara eksplisit dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan: apa yang akan diselidiki, siapa yang akan diselidiki, mengapa diselidiki, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana melakukannya dan apa tujuan yang diharapkan.

4. Masalah hendaknya dirumuskan secara operasional Sifat operasional dari rumusan masalah, akan dapat memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel dan sub-sub variabel-variabel yang ada dalam penelitian dan bagaimana mengukurnya.

5. Rumusan masalah hendaknya mampu memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam masalah penelitian tersebut.

6. Perumusan masalah haruslah dibatasi lingkupnya, sehingga memungkinkan penarikan simpulan yang tegas. Kalau toh disertai rumusan masalah yang bersifat umum, hendaknya disertai penjabaran-penjabaran yang spesifik dan operasional, sebagaimana dijelaskan pada poin empat di atas.9

5. Prinsi Prinsip Perumusan Masalah

Pinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah dalam penelitian kualitatif adalah:10

1. Prinsip yang berkaitan dengan teori dari dasar Peneliti hendaknya menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya itu didasarkan pada upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Dengan demikian, masalah yang sebenarnya itu berada di tengah-tengah kenyataan. Perumusan masalah ini adalah sekedar

9 Hardani dkk., Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2020), hlm. 92-23.

10 MLexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 112-119.

ix

(10)

arahan, pembimbing atau acuan pada usaha menemukan masalah yang sebenarnya. Masalah yang sebenarnya akan dapat dirumuskan jika peneliti sudah berada dan bahkan mulai mengumpulkan data.

Perumusan masalah itu merupakan aplikasi dari asumsi bahwa suatu penelitian itu tidak mungkin dimulai dari sesuatu yang kosang.

2. Prinsip yang berkaitan dengan maksud perumusan masalah Penelitian kualitatif adalah upaya penemuan dan penyusunan teori baru lebih dari sekedar menguji, mengkonfirmasi atau verifikasi suatu teori yang berlaku. Dengan demikian perumusan masalah disini dimaksudkan untuk menunjang upaya penemuan dan penyusunan teori substantif, yaitu teori yang bersumber dari data. Namun tetap saja prinsip ini tidak membatasi jika ingin menguji suatu teori yang berlaku karena ada pandangan bahawa penemuan teori yang beru lebih dari sekedar menguji teori yang sedang berlaku. Perumusan masalah yang bersifat tentatif ini kemudian diubah, dimodifikasi dan disempurnakan pada latar penelitian yangmana ini akan memperkaua khazanah ilmu pengetahuan dalam dunia ilmu. Dengan demikian, perumusan masalah mungkin bisa terjadi dua kali, atau lebih mengalami perubahan dan penyempurnaan. Inilah salah satu ciri khas penelitian kualitatif yang memang luwes, longgar dan terbuka.

3. Fokus sebagai sumber masalah penelitian adalah rumusan yang terdiri dari dua atau lebih faktor yang menghasilkan tanda tanya atau kebingungan. Faktor tersebut bisa saja berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau fenomena. Maka dengan pengertian tersebut diarahkan untuk memperhatikan tiga pertimbangan, yaitu pertama, terdapat dua faktor atau lebih, kedua, faktor-faktor itu dihubungkan secara logis atau bermakna, ketiga, hasil penghubungan tadi berupa suatu kedaan yang menimbulkan tanda tanya atau hal yang membingungkan yang memerlukan upaya untuk menjawabnya yang biasanya dinamakan dengan tujuan penelitian. Hal yang jaris diperhatikan disini adalah dalam perumusan masalah ketiga aturan

(11)

yang telah disebutkan harus terpenuhi.

4. Peneliti biasanya memiliki pandangan atau paradigma tertentu yang mungkin berasal dari pengelaman atau pengetahuan sebelumnya.

Penelitian kualitatif bersifat terbuka dan tidak mengharuskan peneliti harus menganut suatu paradigm tertentu. Namun apaibla peneliti telah menetapkan masalah dan tujuan penelitiannya misalkan untuk menemukan dan menyusun sebuah teori yang baru yang berasal dari data, berarti peneliti harus benar-benar memegang posisi paradigma alamiyahnya. Jika hal tersebut terjadi, maka perumusan masalah bagi peneliti akan mengarahkan dan membimbingnya pada situasi lapangan bagaimanakah yang akan dipilih dari berbagai latar yang sangat banyak tersedia.

5. Prinsip yang berkaitan dengan kriteria inklusi dan eksklusi Ketika peneliti sudah terjun ke lapangan penelitian, maka ia akan banyak mendapatkan data baik melalui pengamatan, wawancara, analisis dokumen dan sebagainya. Perumusan fokus yang baik adalah dilakukan sebelum melaksanakan penelitian di lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada saat peneliti sudah terjun ke lapangan, hal tersebut akan membatasi penelitian guna memilih data yang relevan dan tidak relevan.

6. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah Ada tiga bentuk perumusan masalah. Pertama, secara diskusi, cara penyajianya adalah dalam bentuk pernyataan secara deskriptif namun perlu diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian.k Kedua, secara proporsional, yaitu secara langsung menghubungkan faktor- faktor dalam hubungan logis dan bermakna; dalam hal ini ada yang disajikan dalam bentuk uraian atau deskriptif dan ada pula yang langsung dikemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian. Ketiga, secara gabungan, yakni terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi kemudian ditegaskan dalam bentuk proporsional.

xi

(12)

7. Prinsip sehubungan dengan posisi perumusan masalah Yang dimaksud posisi disini yaitu kedudukan untuk rumusan masalah diantara unsure-unsur lainya. unsure-unsur lainya yaitu latar belakang masalah, tujuan, dan acuan teori dan metode penelitian. Prinsip posisi menghendaki agar rumusan masalah latar belakang penelitian didahulukan karena latar belakanglah yang memberikan ancang- ancang dan alasan diadakanya penelitian. Prinsip lainya ialah hendaknya rumusan masalah disusun terlebih dahulu baru tujuan penelitian karena tujuan penelitian yang akan menjawab dan menyelesaikan masalah penelitian.

8. Prinsip yang berhubungan dengan hasil penelaahan kepustakaan Pada dasarnya perumusan masalah itu tidak bisa dipisahkan dengan hasil penelaahan kepustakaan yang berkaitan. Hal tersebut diperlukan untuk mempertajam rumusan masalah walaupu masalah yang sebenarnya bersumber dari data. Penelaahan kepustakaan mengarahkan serta membingbing kita untuk membentuk kategori substantif walaupun perlu diingat bahwa kategori substantif seharusnya bersumber dari data.

9. Prinsip yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Pada waktu menulis laporan atau artikel hasil penelitian, ketika merumuskan masalah, hendaknya peneliti mempertimbangkan ragam pembacanya sehingga rumusan masalah yang diajukan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan para pembacanya. Jika disajikan dalam forum ilmiah mestinya berbeda dengan yang disajikan pada Koran yang dibaca oleh orang awam.

6. Bentuk Bentuk Perumusan Masalah

Berdasarkan level of explanationsuatu gejala maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, diantaranya adalah:

1. Rumusan Masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri,

(13)

baik hanya pada satu variabel maupun lebih (variabel yang berdiri sendiri. Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lain. Penelitian semcam ini dinamakan penelitian deskriptif.

Adapun contoh dari rumusan masalah deskriptif adalah:

a. Bagaimana perencanaan pembelajaran tematik dengan menerapkan pendekatan saintifik di kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 060870 kota Medan?

b. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik dengan menerapkan pendekatan saintifik di kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 060870 kota Medan?

c. Bagaimana evaluasi pembelajaran tematik dengan menerapkan pendekatan saintifik di kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 060870 kota Medan?11

2. Rumusan Masalah Komparatif

Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda atau pada waktu yang berbeda.

Contoh rumusan masalah komparatif:

a. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa pada aspek sikap antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik menggunakan model inkuiri dan interaktif pada kelas 4 SD Negeri 060870 Kota Medan?

b. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa pada aspek keterampilan antara siswa yang mengikuti pembelajaran tematik menggunakan model inkuiri dan interaktif pada kelas 4 SD Negeri 060870 Kota Medan?

3. Rumusan Masalah Asosiatif

11 Endang Widi Winarni, Teori dan Praktik Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, PTK, R&D, (Jakarta: Bumi Aksara, 2018), hlm. 28-29.

xiii

(14)

Rumusan masalah asosiatif adalah suatu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu hubungan simetris, hubungan kausal dan hubungan interaktif/resiprokal/timbal balik.

a. Hubungan Simetris

Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersamaan.

Jadi, bukan hubungan kausal maupun maupun intertaktif.

Contoh rumusan masalah hubungan simetris:

1) Adakah hubungan antara tingginya jumlah calon siswa baru dengan tingkat akreditasi sekolah?

2) Adakah hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa?

b. Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat.

Jadi ada variabel independen (variabel yang memengaruhi) dan dependen (yang dipengaruhi).

Contoh rumusan masalah hubungan kasual:

1) Adakah pengaruh model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar afektif siswa kelas SD Negeri 060870 Kota Medan?

2) Adakah pengaruh model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar psikomotir siswa kelas SD Negeri 060870 Kota Medan?

c. Hubungan Interaktif/resiprokal/timbal balik

Hubungan interaktif/resiprokal/timbal balik adalah hubungan yang saling memengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan depended.

Contoh rumusan masalah hubungan interaktif / resiprokal / timbal balik:

a. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara sub-

(15)

variabel gaya belajar visual (X1) dengan kecerdasan intrapersonal siswa kelas 4 dan 5 di SD Negeri 060870 Kota Medan?

b. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara sub- variabel gaya belajar auditory (X2) dengan kecerdasan intrapersonal siswa kelas 4 dan 5 di SD Negeri 060870 Kota Medan?12

B. Tujuan Penelitian Kualitatif 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian umumnya terbagi menjadi dua yaitu :13 1. Tujuan Umum

Tujuan umum adalah tujuan penelitian secara keseluruhan dari apa yang ingin dicapai oleh peneliti di dalam penelitian tersebut.

Berikut adalah tujuan umum yang biasanya ada di dalam penelitian:

Untuk membuktikan atau menguji tentang kebenaran dari berbagai pengetahuan yang sudah ada.

 Untuk memperoleh pengetahuan atau penemuan baru.

Sebagai pengembangan dari pengetahuan mengenai suatu bidang keilmuan yang sudah ada, sehingga intinya semua penelitian dilakukan pasti memiliki tujuan tertentu.

2. Tujuan Khusus

Sementara itu, tujuan khusus adalah tujuan yang lebih spesifik.

Biasanya di dalam tujuan khusus ini menggunakan kata-kata operasional sehingga lebih jelas untuk dicapai. Tujuan khusus pada hakikatnya menjelaskan mengenai tujuan umum. Berikut adalah tujuan umum di dalam suatu penelitian:

12 ibid., hlm. 30-31

13 https://deepublishstore.com/blog/tujuan-penelitian /Diakses pada tanggal 2 november 2023 Pukul 07:00

xv

(16)

Mengembangkan studi, yang mana biasanya peneliti akan mengembangkan berbagai teori mengenai pandangan ilmiah tertentu sehingga studi yang dilakukan lebih luas.

Akhirnya, penelitian tersebut menjadi sarana memecahkan masalah yang terjadi.

 Penelitian bertujuan eksploratif atau menggali suatu hal atau permasalahan yang sedang diteliti.

Sebagai sarana untuk mencari dan menemukan berbagai pengetahuan yang dapat dimanfaatkan langsung di dalam kehidupan, atau yang juga biasa disebut sebagai applied research.

Menguji atau memverifikasi suatu topik atau permasalahan yang hasilnya dapat memperkuat teori atau pandangan tertentu, atau bahkan dapat menolak hasil teori atau pandangan tertentu.

2. Tujuan Penelitian Kualitatif14

1. Menggunakan kata-kata seperti tujuan, maksud, dan sasaran untuk menandakan tujuan penelitian yang ditulis. Biasanya tujuan penelitian ditulis dengan kalimat atau paragraf yang terpisah dan menggunakan berbagai bahasa penelitian, misalnya “tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk...

2. Berfokus pada satu fenomena atau konsep utama penelitian sehingga peneliti harus mempersempit penelitian menjadi berisi satu gagasan yang akan dieksplorasi atau dipahami.

3. Menggunakan verba tindakan untuk menunjukkan adanya proses learning di dalam penelitian. Verba tindakan misalnya, memahami, mengembangkan, meneliti makna, dan menemukan.

14 https://deepublishstore.com/blog/tujuan-penelitian /Diakses pada tanggal 2 november 2023

Pukul 07:00

(17)

Dengan verba tersebut, penelitian Anda akan berpotensi lebih terbuka sehingga memunculkan rancangan baru.

4. Menggunakan kata atau frasa yang netral atau bahasanya tidak langsung. Misalnya menggunakan kalimat “pengalaman individu…” daripada “pengalaman sukses dari individu…”.

5. Menyajikan definisi kerja umum mengenai fenomena atau gagasan utama, khususnya jika istilahnya tidak mudah dipahami oleh pembaca luas.

6. Menggunakan strategi penelitian dalam mengumpulkan data, analisis, dan proses penelitian.

7. Menjelaskan partisipan yang terlibat di dalam penelitian secara mendetail.

8. Menunjukkan lokasi dilakukannya penelitian dan gambarkan secara jelas, sehingga pembaca dapat mengetahui dengan jelas di mana penelitian dilakukan.

9. Menggunakan bahasa yang membatasi ruang lingkup partisipan dengan lokasi penelitian.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Rumusan masalah ialah sebuah tulisan singkat yang berisi tentang suatu pertanyaan yang mana pertanyaan ini disusun berdasarkan adanya suatu masalah yang telah diidentifikasi dan masalah ini nantinya akan

xvii

(18)

dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data dalam suatu proses penelitian

Ada beberapa fungsi perumusan masalah, diantaranya: 1) sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan, 2) sebagai pedoman, penentu atau fokus dalam suatu penelitian, 3) sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah diantaraya: 1) rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna, 2)_ rumusan masalah hendaknya dalam bentuk kalimat tanya, 3) rumusan masalah hendaknya jelas dan konkrit, 4) masalah hendaknya dirumuskan secara operasional, dsb.

Tujuan penelitian kualitatif berfokus pada poin poin yang telah di sebutkan

B. Saran

Penyusun sadar masih banyak terdapat kesalahan , untuk itu penyusun memohon kritik dan saran dari teman teman sekalian

DAFTAR PUSTAKA

Abi Anggito dan Johan Setiawan. 2018. Metyode Penelitian Kualitatif.

Sukabumi: CV Jejak.

Bambang Triyanto dan Ismail. 2020. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi):

Suatu Pedoman. Klaten:

(19)

Lakeisha Basuki. 2021. Pengantar Metode Penelitian Kuantitatif.

Bandung: Media Sains Indonesia.

Dodiet Aditya Setyawan. 2014. Masalah Penelitian (Perumusan Masalah dalam Penelitian. Surakarta: Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta.

Endang Widi Winarni. 2018. Teori dan Praktik Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, PTK, R&D. Jakarta: Bumi Aksara.

Hardani dkk. 2020. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif.

Yogyakarta: Pustaka Ilmu.

Lexy J. Moleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Mahdiyah. 2016. Materi Pokok Studi Mandiri dan Seminar Proposal Penelitian. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Mamik. 2015. Metodologi Kualitatif. Sidoarjo:

Zifatama Publisher. Serdamayanti dan Hidayat. 2011. Metodologi Penelitian. Bnadung: CV Mandar Maju.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Kemdikbud.go.id.

xix

Referensi

Dokumen terkait

Kesatu angket yang dikembangkan untuk menjaring data berkenaan dengan respons ahli teknologi informasi dan komunikasi dan guru bahasa Indonesia serta siswa

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, rumusan masalah yang diajukan peneliti yakni Puskesmas Makale diindikasikan belum mampu mengoptimalkan

Setelah data terkumpul lengkap mengenai kesulitan belajar pada peserta didik kelas 3, masalah yang dihadapi dalam kesulitan belajar, dan penanganan yang sudah

Tabel IV.17 Sebaran Bahaya Bencana Tsunami Terhadap Rencana Pola Ruang di Kelurahan Way Urang Menurut Potensi Bencana Tsunami RTRW Kabupaten Lampung Selatan

mengenai tingkat permasalahan kesehatan mental dan keterbatasan kehidupan sosial pada penderita akne vulgaris, dari 3775 sampel, prevalensi penderita akne vulgaris yang

Kegiatan penjualan dengan cara kredit sudah menjadi trend namun pada saat penjualan barang dagangan dilakukan secara kredit, akan menimbulkan masalah baik dalam

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis akan meneliti pengaruh dari penerapan PSAK 24 khususnya mengenai imbalan pascakerja terhadap risiko perusahaan dan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga pendidikan maupun tenaga kesehatan yang akan memberikan intervensi mengenai pendidikan kesehatan posisi