JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 441 Pola Sebaran Titik Panas (Hotspot) sebagai Indikator Terjadinya Kebakaran
Hutan dan Lahan di Kabupaten Aceh Selatan
(Hotspot Distribution Pattern as Indicator of Forest and Land Fires in South Aceh Regency)
Rezky Intan Febriyanti1, Muhammad Rusdi2, Anna Farida1*
1Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala
2Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala
*Corresponding author: [email protected]
Abstrak. Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu daerah di Aceh yang rentan terhadap kebakaran tersebut, hal ini biasanya terjadi baik disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia. Dampak dan kerugian yang ditimbulkan sangatlah besar, sehingga penanganannya memerlukan upaya yang serius. Perkembangan teknologi saat ini, seperti penggunaan sistem informasi geografis (SIG), memudahkan dalam mengidentifikasi titik panas (hotspot). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran hotspot di Kabupaten Aceh Selatan. Metode deskriptif yang digunakan dalam menganalisis data sekunder yaitu sebaran titik panas. Hasil interpetasi oleh citra mengenai titik panas (hotspot) menunjukkan bahwa selama periode 2012-2021 terdapat 200 titik hotspot yang terdeteksi. Titik api (hotspot) cenderung muncul pada bulan Januari, Februari, Maret, Juni, Juli, dan Agustus dengan Kecamatan Bakongan menjadi wilayah yang paling banyak terkena dampak, mencapai 111 titik. Titik panas muncul pada fungsi kawasan hutan lindung sebanyak 5 titik, pada hutan produksi muncul sebanyak 7 titik, pada hutan produksi terbatas muncul sebanyak 6 titik, pada hutan konservasi muncul sebanyak 3 titik. Sedangkan di luar areal kawasan hutan seperti di areal kawasan penggunaan lain terdapat 179 titik panas yang terdeteksi.
Jumlah titik panas menurun setiap tahunnya dan muncul.
Kata kunci: Kebakaran, hotspot, curah hujan.
Abstract. South Aceh Regency is one of the areas in Aceh that is vulnerable to fires, this usually occurs due to both natural and human factors. The impacts and losses caused are very large, so handling them requires serious efforts. Current technological developments, such as the use of geographic information systems (GIS), make it easier to identify hot spots. This research aims to analyze the distribution of hotspots in South Aceh Regency. The descriptive method used in analyzing secondary data is the distribution of hot spots. The results of image interpretation of hot spots show that during the 2012-2021 period there were 200 hotspots detected. Hotspots tend to appear in January, February, March, June, July and August with Bakongan District being the most affected area, reaching 111 spots. Hot spots appear in protected forest areas as many as 5 points, in production forests they appear as many as 7 points, in limited production forests they appear as many as 6 points, in conservation forests they appear as many as 3 points. Meanwhile, outside the forest area, such as in other use areas, there were 179 hot spots detected. The number of hot spots decreases every year and appears.
Keywords: Fires, hotspot, rainfall
PENDAHULUAN
Kebakaran hutan dan lahan sebagai fenomena bencana alam yang mengancam, merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia, seringkali melanda berbagai wilayah di negeri ini. Namun, dalam menghadapi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 442 kompleksitas masalah ini, sangat penting untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai perbedaan esensial antara kebakaran hutan dan kebakaran lahan. Kebakaran hutan biasanya terjadi di kawasan hutan atau area yang ditutupi oleh vegetasi alami yang lebat, sedangkan kebakaran lahan terjadi di area yang sudah diolah oleh manusia, seperti lahan pertanian, perkebunan, atau bahkan lahan gambut yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian atau infrastruktur manusia.
Perbedaan ini bukan hanya terletak pada lokasi fisiknya, tetapi juga pada karakteristik lingkungan tempat kebakaran tersebut terjadi. Kedua jenis kebakaran ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia. Kebakaran hutan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang luas, kehilangan habitat bagi flora dan fauna, serta merusak sumber daya air dan udara (Rasyid, 2014). Di sisi lain, kebakaran lahan sering kali mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan, terutama bagi sektor pertanian dan perkebunan, selain juga menyebabkan masalah kesehatan masyarakat akibat asap yang merambat jauh dan mencemari udara.
Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai perbedaan antara keduanya menjadi kunci dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Strategi yang efektif untuk mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan akan berbeda dari strategi yang dibutuhkan untuk kebakaran lahan, karena aspek lingkungan, geografis, dan sosio-ekonomi yang berbeda di setiap jenis kebakaran. Dengan memahami perbedaan ini, pihak berwenang dapat mengembangkan pendekatan yang lebih terarah dan efisien dalam melindungi lingkungan, mengurangi kerugian ekonomi, dan menjaga kesehatan masyarakat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutans eperti yang dijelaskan oleh Syaufina (2008), adalah kejadian di mana api membakar material vegetasi di dalam kawasan hutan kemudian menyebar secara bebas dan sulit untuk dikendalikan, sementara kebakaran lahan merupakan kebakaran yang terjadi di luar kawasan hutan. Salah satu gangguan utama terhadap hutan adalah kebakaran hutan dan lahan, yang terjadi karena dua faktor, yaitu karena faktor alam dan perilaku manusia.
Menurut data statistik “Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia pada tahun 2021, luas total terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan terjadi di Provinsi Aceh mencapai 1.267 hektar”. Kabupaten Aceh Selatan telah menjadi salah satu daerah yang secara konsisten rentan terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah Aceh.
Dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran tersebut sangat besar dan beragam, mencakup kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan yang luas, serta ancaman terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem. Fenomena ini menegaskan perlunya upaya serius dan terkoordinasi dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di daerah tersebut. Pemanfaatan teknologi modern, khususnya sistem informasi geografis (SIG), telah membuka peluang baru dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. SIG memungkinkan pengguna untuk mengintegrasikan dan menganalisis data geografis secara efisien, termasuk data spasial yang berkaitan dengan vegetasi, topografi, curah hujan, dan faktor- faktor lain yang dapat mempengaruhi risiko kebakaran. Salah satu manfaat utama
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 443 SIG adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi titik panas (hotspot), yang merupakan indikator awal dari terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dengan bantuan SIG, pihak berwenang dapat secara akurat menentukan lokasi dan persebaran titik panas, memonitor perkembangan kebakaran secara real-time, serta merencanakan respons darurat dan upaya pemadaman yang tepat.
Selain itu, SIG juga dapat digunakan untuk memetakan potensi risiko kebakaran hutan dan lahan berdasarkan faktor-faktor predisposisi, seperti jenis vegetasi, curah hujan, dan pola penggunaan lahan, sehingga memungkinkan penyusunan strategi pencegahan yang lebih efektif dan proaktif. Dalam konteks Kabupaten Aceh Selatan, pemanfaatan SIG dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap ancaman kebakaran. Menurut peraturan “Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 titik panas adalah piksel yang memiliki suhu di atas ambang batas tertentu yang diinterpretasikan dari citra satelit, yang digunakan untuk menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan”.
Pemantauan kebakaran hutan dan lahan merupakan langkah yang krusial dalam upaya pencegahan dan penanggulangan dampaknya. Salah satu cara untuk melakukan pemantauan ini adalah dengan menganalisis titik api (hotspot) yang muncul dalam rentang beberapa tahun. Namun, untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara efektif, diperlukan sistem pemantauan yang efisien dan akurat yang dapat mendeteksi titik panas sejak dini. Mendeteksi titik panas sejak dini merupakan aspek penting dalam upaya penanggulangan kebakaran, yang melibatkan pengidentifikasi titik panas sebagai indikator awal.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran titik panas (hotspot) di Kabupaten Aceh Selatan selama periode tahun 2012-2021.
METODE PENELITIAN Lokasi dan waktu
Penelitian ini dilakukan di luar dan di dalam kawasan hutan di Kabupaten Aceh Selatan. Kegiatan pengelolaan data dilakukan di Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Bulan Juli 2023 sampai dengan Bulan Januari 2024.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komputer, aplikasi ArcGIS, Microsoft Word dan Microsoft Excel. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder meliputi data sebaran titik panas (hotspot) tahun 2012-2021 yang diperoleh dari FIRMS NASA, shapefile (shp) administrasi Kabupaten Aceh Selatan dan fungsi kawasan yang diperoleh dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan dan Tata Lingkungan (BPKHTL) Wilayah XVIII.
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 444 Metode Penelitian
Analisis sebaran titik panas (hotspot) menggunakan geoprocessing dengan melakukan fungsi clip data titik panas dengan selang kepercayaan 0-100% dan data administrasi Kabupaten Aceh Selatan, kemudian melakukan fungsi intersect data fungsi kawasan hutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data titik panas yang terus dipantau melalui penggunaan satelit TERRA-AQUA selama rentang waktu yang panjang, mulai dari tahun 2012 hingga 2021, telah tercatat adanya keberadaan titik panas di Kabupaten Aceh Selatan. Analisis data menunjukkan bahwa selama periode tersebut, kebakaran hutan dan lahan menjadi masalah yang signifikan di wilayah tersebut, dengan titik panas tersebar di berbagai bagian kawasan. Pada gambar 1 dan 2, yang merupakan hasil visualisasi data yang diambil dari pengamatan satelit, dapat kita lihat dengan jelas mengenai sebaran titik-titik panas yang terdeteksi selama periode tersebut.
Gambar 1. Jumlah titik panas (hotspot) tahun 2012-2021 di Kabupaten Aceh Selatan.
Gambar 2. Peta sebaran titik panas (hotspot) tahun 2012-2021 di Kabupaten Aceh Selatan.
35 26
56
20 23
13 14
3 3 7
0 10 20 30 40 50 60
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Jumlah Hotspot
Tahun
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 445 Selama periode 2012 hingga 2021, Kabupaten Aceh Selatan dihadapkan pada tantangan yang signifikan terkait kebakaran hutan dan lahan, yang terlihat dari jumlah hotspot yang terdeteksi. Pada tahun 2012, sebanyak 35 titik hotspot telah teridentifikasi di wilayah ini, menunjukkan tingkat kebakaran yang cukup tinggi. Namun demikian, pada tahun berikutnya, yakni 2013, terjadi penurunan jumlah hotspot menjadi 26 titik. Penurunan ini bisa jadi merupakan hasil dari upaya-upaya mitigasi dan pengawasan yang ditingkatkan terhadap aktivitas pembakaran. Meskipun terjadi penurunan pada tahun sebelumnya, pada tahun 2014, terjadi lonjakan yang cukup signifikan dengan jumlah hotspot meningkat menjadi 56 titik. Lonjakan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perubahan iklim, praktik pertanian berbasis pembakaran, atau faktor manusia lainnya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, upaya-upaya pengendalian tampaknya memberikan hasil positif karena jumlah hotspot kembali menurun secara berturut-turut pada tahun-tahun berikutnya, yakni 2015, 2016, 2017, dan 2018. Pada tahun 2015, jumlah hotspot turun menjadi 20 titik, diikuti dengan 23 titik pada tahun 2016, kemudian 13 titik pada tahun 2017, dan 14 titik pada tahun 2018. Penurunan ini menandai suatu perkembangan yang positif dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Aceh Selatan.
Penurunan konsisten jumlah hotspot tersebut menunjukkan adanya kesadaran yang meningkat dalam menjaga lingkungan serta upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan LSM, dalam mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan. Langkah-langkah seperti kampanye penyuluhan, penegakan hukum yang ketat terhadap pembakaran ilegal, serta pemantauan secara intensif terhadap aktivitas manusia di kawasan hutan dan lahan telah telah positif. Meskipun demikian, perlu terus dilakukan upaya pencegahan dan pengawasan yang ketat untuk mencegah terulangnya lonjakan jumlah hotspot seperti yang terjadi pada tahun 2014, serta untuk menjaga keberlanjutan upaya pengurangan risiko kebakaran di masa mendatang. Pada tahun 2019 hingga 2021 kembali menurun menjadi 3 titik dan 7 titik. Jumlah hotspot tertinggi yaitu pada tahun 2014 sedangkan jumlah hotspot terendah pada tahun 2019 dan 2020.
WALHI (2014) menyatakan bahwa cuaca panas terjadi pada tahun 2014 merupakan salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah di Provinsi Aceh. Hal tersebut dapat menyebabkan munculnya titik panas dikarenakan cuaca yang mempengaruhi lokasi tersebut.
Penurunan jumlah titik panas (hotspot) yang terjadi pada tahun 2020 disebabkan oleh adanya himbauan lockdown yang dilakukan karena pandemi Covid-19, hal tersebut mengakibatkan berkurangnya kegiatan masyarakat di luar rumah. Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa jumlah hotspot pada periode tahun 2012-2021 yang dipantau oleh satelit di wilayah Kabupaten Aceh Selatan berada di bawah 100 titik setiap tahunnya, sehingga dapat diklasifikasikan sebagai jumlah yang rendah. Sebagaimana yang disebutkan dalam penelitian Nasution (2021) , jumlah hotspot yang melebihi 100 titik per tahun dianggap tinggi.
Berdasarkan titik panas (hotspot) bulanan, jumlah titik panas titik panas bulanan tahun 2012 – 2021 di Kabupaten Aceh Selatan diketahui bahwa jumlah
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 446 titik panas (Hotspot) bervariasi setiap bulannya menurut kondisi dan cuaca pada lokasi tersebut. Hotspot paling banyak muncul pada awal tahun 2012-2016 yaitu pada bulan januari, februari dan maret, dan pertengahan tahun yaitu pada bulan juni. Sesuai tulisan Solichin (2004), yang menjelaskan jumlah hotspot dipengaruhi oleh kondisi iklim di lokasi tertentu. Ketika musim kemarau tiba, masyarakat cenderung menggunakan api untuk mempersiapkan lahan, entah untuk keperluan pertanian atau perkebunan. Pada bulan November dan Desember terjadi penurunan jumlah titik hotspot dikarenakan pada bulan tersebut sudah memasuki musim dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Hal ini berdasarkan penelitian Bahri (2002) kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi saat musim kemarau pada bulan Agustus, September, dan Oktober yang merupakan bulan peralihan atau transisi.Jumlah titik hotspot bulanan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah titik panas (hotspot) bulanan
Selanjutnya, analisis titik panas (hotspot) yang terjadi di Kabupaten Aceh Selatan selama periode tahun 2012-2019 mengindikasikan bahwa wilayah- wilayah yang paling rentan terhadap kebakaran adalah Kecamatan Bakongan, Kecamatan Bakongan Timur, dan Kecamatan Kota Bahagia. Data pada Tabel 2 di bawah ini menampilkan sebaran titik panas yang terdeteksi berdasarkan perkecamatan. Analisis ini menyoroti pentingnya pemantauan dan tindakan pencegahan yang lebih intensif di wilayah-wilayah tersebut untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya yang merugikan.
Tahun Bulan Jumlah
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
2012 8 4 10 0 0 11 2 0 0 0 0 0 35
2013 1 0 0 0 1 3 6 3 9 3 0 0 26
2014 11 13 21 0 0 7 2 2 0 0 0 0 56
2015 4 6 3 0 5 2 0 0 0 0 0 0 20
2016 4 4 3 0 0 1 5 2 4 0 0 0 23
2017 1 1 0 0 0 4 2 0 0 5 0 0 13
2018 0 2 0 0 0 11 0 1 0 0 0 0 14
2019 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 3
2020 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
2021 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
Jumlah 29 37 40 1 6 41 17 8 13 8 0 0 200
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 447 Tabel 2. Jumlah titik panas berdasarkan wilayah kecamatan
Dari tabel di atas, kita dapat melihat bahwa selama 10 tahun terakhir, jumlah titik panas bervariasi di berbagai kecamatan. Secara khusus, terdapat beberapa kecamatan yang mencatat jumlah titik panas yang signifikan. Secara berturut- turut, Kecamatan Bakongan mencatat jumlah titik panas tertinggi dengan 111 titik panas, diikuti oleh Kecamatan Bakongan Timur dengan 22 titik panas, dan Kecamatan Kota Bahagia dengan 32 titik panas. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Bakongan, Bakongan Timur, dan Kota Bahagia merupakan daerah yang sangat rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan yang lebih intensif di wilayah-wilayah tersebut untuk mengurangi risiko kebakaran dan melindungi lingkungan serta sumber daya alam yang berharga. Ketiga kecamatan yang memiliki titik panas yang banyak terjadi dikarenakan pada wilayah tersebut merupakan wilayah yang sebagian besar memiliki areal penggunaan lain sehingga masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan perkebunan dan pertanian.
Selanjutnya, jika dilihat berdasarkan fungsi kawasan hutan, titik panas cenderung muncul pada berbagai jenis kawasan hutan dengan intensitas yang bervariasi. Pada kawasan hutan lindung, terdapat 5 titik hotspot yang terdeteksi, menandakan adanya potensi ancaman terhadap ekosistem yang dilindungi. Di sisi lain, pada kawasan hutan produksi, jumlah titik hotspot mencapai 7 titik, mengindikasikan risiko yang masih cukup signifikan terhadap kebakaran di kawasan ini yang dapat mengganggu produksi kayu dan hasil hutan lainnya. Pada kawasan hutan produksi terbatas, terdapat 6 titik hotspot yang terdeteksi, menunjukkan bahwa meskipun kawasan ini mungkin memiliki pengelolaan yang lebih terbatas, namun masih rentan terhadap kebakaran hutan. Begitu juga pada kawasan hutan konservasi, meskipun hanya terdapat 3 titik hotspot, tetapi potensi kerusakan terhadap keanekaragaman hayati yang dilindungi tetap menjadi perhatian serius. Jumlah hotspot yang terdeteksi di luar areal kawasan hutan yang
Kecamatan Tahun Jumlah
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Trumon 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Trumon Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Trumon Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Bakongan 25 14 16 13 17 6 13 1 1 5 111
Bakongan Timur 0 2 9 4 3 3 1 0 0 0 22
Kluet Selatan 1 0 3 0 0 0 0 0 0 0 4
Kluet Timur 0 3 3 0 0 2 0 0 2 2 12
Kluet Tengah 1 0 3 0 0 0 0 0 0 0 4
Kluet Utara 2 0 0 0 1 0 0 1 0 0 4
Kota Bahagia 4 2 19 2 2 2 0 1 0 0 32
Labuhan Haji 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Labuhan Haji Barat
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Labuhan Haji Timur
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Meukek 0 2 2 1 0 0 0 0 0 0 5
Pasie Raja 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Samadua 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 4
Sawang 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Tapak Tuan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 448 mencapai angka 179 titik. Ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya terjadi di dalam kawasan hutan yang secara resmi ditetapkan. Hal ini menandakan pentingnya perluasan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di luar batas-batas kawasan hutan yang telah ditetapkan Distribusi titik panas ini berkaitan dengan fungsi penggunaan lahan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar 3, yang memperlihatkan sebaran titik panas berdasarkan peruntukan kawasan hutan.
Gambar 3. Peta sebaran titik panas berdasarkan fungsi kawasan hutan Banyaknya titik panas yang muncul pada areal penggunaan lain dikarenakan masyarakat lebih sering melakukan akitivitas pada arel penggunaan lain tersebut.
Untuk menurunkan jumlah titik panas dan mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan secara efektif, pihak terkait, termasuk Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Bakongan di bawah naungan KPH Wilayah VI, telah melakukan serangkaian langkah proaktif. Salah satu strategi yang diadopsi adalah melalui serangkaian kegiatan sosialisasi dan penyuluhan yang terus-menerus dilakukan bersama masyarakat setempat. BKPH Bakongan secara rutin mengadakan sesi sosialisasi dengan masyarakat tentang pentingnya mengurangi penggunaan api terbuka dalam aktivitas sehari-hari. Mereka juga memberikan informasi tentang cara-cara aman dalam melakukan pembakaran, serta menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari material-material yang mudah terbakar.
Selain itu, upaya penyuluhan tentang teknik pembakaran yang aman juga diberikan kepada masyarakat. Hal tersebut didukung oleh penelitian Syaufina (2021) terkait faktor dan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Salah satu teknik yang ditekankan adalah metode sekat bakar, sebuah teknik yang telah terbukti efektif dalam mencegah atau mengurangi potensi terjadinya kebakaran yang meluas. Dalam metode ini, jalur-jalur atau sekat-sekat dibuat di dalam hamparan bahan bakar untuk membatasi perambatan api secara horizontal,
JURNAL ILMIAH MAHASISWA PERTANIAN E-ISSN: 2614-6053 P-ISSN: 2615-2878
Volume 9, Nomor 2, Mei 2024 www.jim.unsyiah.ac.id/JFP
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, volume 9, Nomor 2, Mei 2024 449 sehingga membantu dalam meminimalkan risiko terjadinya kebakaran yang besar dan sulit diatasi (Hadiwijoyo et al., 2017). Dengan memahami dan menerapkan teknik ini, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan, serta melindungi kehidupan dan aset-aset yang ada. Pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat diragukan lagi. Melalui kolaborasi yang erat antara pihak terkait dan masyarakat, diharapkan dapat diciptakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman kebakaran, serta memastikan keberlanjutan ekosistem hutan yang sangat penting bagi kehidupan kita semua.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan tujuan dan hasil analisis data, dapat disimpulkan hasil penelitian ini adalah jumlah titik panas (hotspot) tahunan pada tahun 2012-2021 yaitu sebanyak 200 titik panas di Kabupaten Aceh Selatan. Sebaran titik panas cenderung menurun setiap tahunnya. Titik panas lebih banyak muncul di luar kawasan hutan pada areal penggunaan lainnya. Diperlukan dilakukan penelitian ini dengan parameter lainnya seperti suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Serta perlu adanya penelitian ini dengan rentang waktu yang lebih lama.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2016.
Pengendalian Kebakaran Hutan Dan Lahan.
Bahri, S. 2002. Kajian Penyebaran Kabut Asap Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Wilayah Sumatera Bagian Utara Dan Kemungkinan Mengatasinya Dengan Tmc.
Hadiwijoyo, E., Saharjo, B.H. and Putra, E.I. 2017. Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dalam Melakukan Penyiapan Lahan Dengan Pembakaran. Jurnal Silvikultur Tropika. Vol. 08 No. 1 Hal 1-8.
Nasution, M.R.A. 2021. Pola Sebaran Titik Panas (Hotspot) Sebagai Indikator Terjadinya Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Kabupaten Aceh Barat.
Departemen Silvikultur. Bogor, Institut Pertanian Bogor.
Rasyid, F. 2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara Edisi 1 No. 4 47 – 59.
Solichin 2004. Analisa data historis hotspot NOAA dan MODIS: South Sumatra Forest Fire Management Project.
Syaufina, L. 2008. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia: perilaku api, penyebab, dan dampak kebakaran: Bayumedia Pub.
Syaufina, L. 2021. Faktor Penyebab dan Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan di Kph Majalengka. Jurnal Silvikultur Tropika. Vol. 12 No. 3. 164-171.
WALHI. 2014. Catatan Akhir Tahun 2014 Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh. Banda Aceh: WALHI Aceh.