Sejarah Perekonomian Indonesia
Muhammad Muallifurrahmi Arramidly, S.E.I., M.E.
#1
Karakteristik Perekonomian Indonesia
Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki ciri ciri spesifik yang berbeda dengan Negara Negara lainnya, sehingga perekonomiannya pun memiliki karakteristik yang berbeda dengan Negara lainnya.
Karakteristik yang mempengaruhi perekonomian yang dimaksud adalah :
1. Faktor Geografi 2. Faktor Demografi
3. Faktor Sosial, Budaya dan politik
Karakteristik Perekonomian Indonesia
1.Faktor Geografi
Secara geografi, Indonesia adalah Negara dengan kepulauan terbesar di dunia, yaitu terdiri dari 13.667 pulau.
Luas wilayah Indonesia adalah 5.193.250
km², 70% terdiri dari Lautan.
Karakteristik Perekonomian Indonesia
2. Faktor Demografi
Menurut data dari Bappenas Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 267 Juta Jiwa pada tahun 2019. dengan jumlah penduduk yang demikian besar , maka Indonesia membutuhkan berbagai barang, jasa dan fasilitas hidup.
Namun kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut
tidak sebanding dengan kemampuan berproduksi sehingga
rawan untuk memicu munculnya kemiskinan.
Karakteristik Perekonomian Indonesia
2. Faktor Sosial, Budaya dan Politik
Aspek sosial ditunjukkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan keragaman adat, budaya dan tradisi. Sehingga perbedaan persepsi terhadap permasalahan yang ada berpotensi menimbulkan konflik.
Aspek budaya ditunjukkan dengan adanya pengaruh feodelisme dan kolonialisme yang masih ada sampai sekarang.
Dalam bidang politik, sampai sekarang warisan dari kehidupan
kerajaan yang membentuk feodelisme masih kental dalam
kehidupan bangsa Indonesia.
Karakteristik Perekonomian Indonesia
Berbasis dari karakteristik diatas , tentu saja
perekonomian Indonesia masih membutuhkan perhatian
dari penyelenggara Negara (pemerintah). Kegagalan
Negara dalam pengelolaan perekonomian dapat memicu
masalah masalah yang pelik dan akan menyeret Negara
itu dalam pusaran ketidakpastian, ketidakpastian yang
tidak bisa dikendalikan menjadi pembuka munculnya
kegagalan Negara.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Sebelum merdeka, Indonesia mengalami masa penjajahan
yang terbagi dalam beberapa periode. Khususnya oleh
Belanda yang sudah menjajah Indonesia selama 350 tahun,
Pada masa pendudukan VOC ( vereenigde oost indische
compagnie ) yaitu sebuah perusahaan buatan belanda saat
itu di Hindia belanda ( Indonesia ) yang sebagian besar
sistem perekonomian di kuasainya dengan menganut
paham Merkantilis. VOC memiliki keistimewaan/hak
Octrooi antara lain :
Sejarah Perekonomian Indonesia
• Hak mencetak uang
• Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai
• Hak menyatakan perang dan damai
• Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri
• Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja
Namun walau demikian, tidak berarti bahwa seluruh
ekonomi Nusantara telah dikuasai VOC. Kenyataannya,
sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi
ekspor sesuai permintaan pasar di Eropa.
Sejarah Perekonomian Indonesia
VOC juga membentuk peraturan – peraturan dalam penerapan perekonomian di Hindia Belanda seperti :
• Verplichte leverentie (kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC )
• Contingenten (pajak hasil bumi)
• Pelayaran Hongi
• Hak extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan).
• Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam tanaman kopi bagi penduduk Priangan.
Hingga pada akhirnya tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam
mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda. VOC lalu di ambil alih oleh republik
Bataaf (Bataafsche Republiek). Namun Sebelum republik Bataaf mulai
berbenah, pemerintahan Hindia Belanda sudah di ambil – alih oleh Inggris.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Pendudukan Inggris (1811-1816)
Inggris melakukan sistem ekonomi dengan menerapkan
Landrent (pajak tanah ) yang telah berhasil di India, sebagai
langkah merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua
abad diterapkan oleh Belanda. Dengan landrent, maka
penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang
produk Inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme
modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk
dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah
pemasaran produk dari negara penjajah.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Cultuurstelsel (1836)
Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan atas inisiatif
Van Den Bosc, yang bertujuan untuk memproduksi berbagai komoditi
yang ada permintaannya di pasaran dunia. Sejak saat itu, diperintahkan
pembudidayaan produk-produk selain kopi dan rempah-rempah, yaitu
gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll. Sistem ini jelas
menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda,
dengan dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). Sistem
ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan
penggunaan uang pada masyarakat pribumi. Cultuurstelstel melibatkan
para bangsawan dan dalam halini juga merubah cara hidup masyarakat
pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah
penduduk yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi yang mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. Sebagai akibatnya, terjadi perubahan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. Kesejahteraan rakyat yang merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama. Impor dan ekspor macet, sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor.
Seperti ini lah sistem sosialis ala bala tentara Dai Nippon. Segala hal diatur
oleh pusat untuk mencapai kesejahteraan bersama yang diharapkan akan
tercapai seusai memenangkan perang Pasifik.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Perekonomian Indonesia setelah kemerdekaan dibagi menjadi beberapa periode yaitu :
1. Pemerintahan Orde lama (1950 – 1966)
2. Pemerintahan Orde baru (1966 – Mei 1998) 3. Pemerintahan Transisi (Mei 1998 – 1999)
4. Pemerintahan Reformasi ( 2000 – Sekarang )
Sejarah Perekonomian Indonesia
Pemerintahan Orde lama (1950 – 1966)
Sistem pemerintahan Orde Lama adalah sebuah sistem pemerintahan Negara dibawah kepemimpinan presiden Soekarno.
Pada masa ini terjadi gejolak politik di dalam negeri dan
beberapa pemberontakan di sejumlah daerah yang
mengakibatkan perekonomian Indonesia menjadi sangat
buruk, dari tahun 1958 deficit anggaran pemerintah dan
belanja pemerintahan terus membesar dari tahun
ketahun.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Pemerintahan Orde baru (1966 – Mei 1998)
Orde baru adalah sebutan terhadap masa pemerintahan Presiden Soeharto, orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998.
dalam jangka waktu tersebut, perekonomian
indonesia berkembang pesat hingga berakhir
ditahun 1998 pada masa Krisis Ekonomi yang
menimpa Indonesia.
Sejarah Perekonomian Indonesia
Pemerintahan Transisi (Mei 1998 – 1999)
Pemerintahan Transisi adalah dimana dimulai pada bulan Mei 1997, nilai tukar Mata uang Thailand Terhadap Dollar AS mengalami goncangan yang hebat, hingga akhirnya merembet ke beberapa Negara di Asia dan termasuk Indonesia.
Pada bulan September 1997 nilai tukar Rupiah terus melemah sehingga
pemerintah Orde Baru mengambil beberapa langkah diantaranya menunda
proyek proyek dan membatasi anggaran belanja Negara. Krisisnya rupiah
menyebabkan krisis Ekonomi dan Politik, sehingga memicu terjadinya
beberapa tragedy seperti tragedy trisakti, kerusuhan Mei, DPR dikuasai oleh
mahasiswa hingga akhirnya Presiden Soeharto mundur dan digantikan oleh
B.J. Habibie
Masa Pemerintahan BJ. Habibi
• Mulai kerjasama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi.
• Melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan berekspresi.
• Dibidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar yang nilai yang tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya.
• Selain itu, ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.
• Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN (Badan Penyehehatan Perbankan Nasional) dan unit Pengelola Aset Negara.
• Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat.
• Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Pemerintahan Reformasi
Pemerintahan Reformasi diawali oleh kepemimpinan
presiden Gusdur atau Abdurrahman Wahid, pada
masa ini perekonomian Indonesia mulai membaik
akan tetapi ketidakstabilan Perpolitikan Indonesia
Semakin memburuk yang juga mengakibatkan
perekonomian Indonesia semakin sulit untuk
membaik.
Masa Pemerintahan KH Abdurrahman Wahid
• Kondisi perekonomian Indonesia mulai menunjukkan adanya perbaikan.
• Pernyataan2 presiden sering mebingungkan pelaku2 ekonomi, KKN meraja lela, instrik2 sosial banyak yang tidak terselesaikan.
• Hubungan dengan IMF juga tidak baik, terutama karena masalah amandemen UU No. 23 tahun 1999 mengenai Bank Indonesia; penerapan otonomi daerah, terutama menyangkut kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri; dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda pelaksanaannya. Tidak tuntasnya revisi tersebut mengakibatkan IMF menunda pencairan bantuannya kepada pemerintah Indonesia.
• Indonesia terancam dinyatakan bangkrut oleh Paris Club (negara-negara donor) karena kondisi perekonomian yang semakin buruk dan defisit keuangan membengkak, tidak mungkin mampu membayar utangnya yang akan jatuh tempo tahun Bank Dunia juga mengancam akan menghentikan pinjaman jika kesepakatan IMF dengan pemerintah Indonesia macet.
Pemerintahan Gotong Royong (Megawati)
Pemerintahan gotong royong dibawah kepemimpinan Presiden Megawati yang mewarisi kondisi buruk perekonomian sebelumnya mengakibatkan perekonomian Indonesia jauh lebih terpuruk yaitu Terjadinya inflasi dan rendahnya pertumbuhan ekonomi karena kurang menariknya perekonomian Indonesia bagi para Investor dan tingginya suku bunga Deposito.
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain:
- Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 miliyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp triliun.
- Kebijakan privatisasi BUMN.
- Direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah yang lebih stabil, namun Indonesia pada masa pemerintahan tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam bidang-bidang lain.