LPPM Universitas Serambi Mekkah
P-ISSN : 2598-3083 e-ISSN : 2614-1469 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2019
PROSIDING Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu
Support by :
“ Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat
& Tantangan Era Revolusi 4.0 Industri “
Seminar Nasional
SEMINAR NASIONAL
INOVASI PRODUK PENELITIAN PENGABDIAN MASYARAKAT
& TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Pembicara:
Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Prof. Dr. Abrar Muslim ST, M.Eng Prof. Dr. Bansu Irianto Ansori, M.Pd
Editor :
Dr. Muhammad Usman, M.Pd Said Ali Akbar, S.Pd, M.Si T.M. Rafsanjani, SKM, M. Kes
Munawir, ST, MT Vera Viena, ST., MT
Marisa Yoestara, S.Pd., M.A.(TESL) Zulfan, ST., MT
Zaiyana Putri, S.Pd., M.Pd
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
Banda Aceh, 14 Desember 2019
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat
& Tantangan Era Revolusi Industri 4.0
SEMINAR NASIONAL
INOVASI PRODUK PENELITIAN PENGABDIAN MASYARAKAT
& TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Pembicara:
Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Prof. Dr. Abrar Muslim ST, M.Eng Prof. Dr. Bansu Irianto Ansori, M.Pd
Editor :
Dr. Muhammad Usman, M.Pd Said Ali Akbar, S.Pd, M.Si T.M. Rafsanjani, SKM, M. Kes
Munawir, ST, MT Vera Viena, ST., MT
Marisa Yoestara, S.Pd., M.A.(TESL) Zulfan, ST., MT
Zaiyana Putri, S.Pd., M.Pd
Head Of Organizing Committee : Dr. Muhamad Saleh, M.Pd Secretary of Organizing Committee : Dr. Evi Apriana, M.Pd
Cover Design Layout : T.M. Rafsanjani, SKM, M. Kes Munawir, ST, MT
Publisher : LPPM Universitas Serambi Mekkah
Address : Jln T. Imum Lueng Bata Batoh–Banda Aceh
Email : [email protected]
KATA PENGANTAR
Seminar nasional yang dilaksanakan di Universitas Serambi Mekkah dengan tema “ Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0“
merupakan seminar yang dianggap sangat penting, karena dewasa ini produk produk penelitian yang di dapat belum memenuhi target tujuan penelitian nasional kita.
Tema tersebut dipilih dengan maksud untuk memberikan perhatian dunia akademik tentang pentingnya pengembangan dan penguatan inovasi produk penelitian dalam menghadapi tantangan perkembangan Era Revolusi Industri 4.0.
Para akademisi nasional telah banyak menghasilkan penelitian untuk menghadapi globalisasi, namun masih banyak yang belum didiseminasikan dan dipublikasikan secara luas, sehingga belum dapat di akses oleh masyarakat yang membutuhkan. Oleh karena itu, Sminar nasional ini menjadi salah satu ajang bagi para akademisi nasional untuk mempresentsikan penelitiannya sekaligus bertukar informasi dan memperdalam masalah penelitian, serta mengembangkan kerjasama yang berkelanjutan.
Seminar ini diikuti oleh para peneliti dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan memiliki berbagai multidisiplin ilmu yang telah membahas berbagai bidang kajian inovasi produk penelitian pengabdian masyarakat dalam rangka memberikan pemikiran dan solusi untuk memperkuat peran Indonesia dalam menghadapi tantangan Era Revolusi Industri 4.0.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Walikota Banda Aceh Bapak Aminullah Usman yang telah berkenan membuka acara seminar nasional tersebut, begitu juga penghargaan kami kepada para pembicara dan peneliti yang datang dari berbagai daerah di Indonesia serta para panitia yang telah berupaya mensukseskan acara seminar ini. Smoga Allah Swt meridhoi semua usaha baik kita, Amin!
Banda Aceh, 15 Desember 2019 Rektor Universitas Serambi Mekkah
Dr. H. Said Usman, S.Pd, M.Pd
Semnas Multidisiplin Ilmu Universitas Serambi Mekkah Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
DAFTAR ISI PROSIDING SEMNAS MULTIDISIPLIN ILMU UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
DESEMBER 2019
NO PENULIS JUDUL ARTIKEL HAL
1 Achmad Muhammad MODEL INSENTIF TAMBAHAN BAGI DOSEN DARI LEBIHAN BKD
1 - 8
2 Anna Stasya Prima Sari
PELATIHAN KETERAMPILAN BERBICARA DALAM BAHASA INGGRIS DENGAN MENGGUNAKAN METODE PRESENTATION, PRACTICE, AND
PRODUCTION (PPP) BAGI SISWA SD DI KELURAHAN TUNGGURONO KOTA BINJAI
9 - 13
3 Arif Sardi KONSTRUKSI PRIMER UNTUK MENGISOLASIGEN EKSOGLUKANASE BACILLUS SP. RP1
14 - 21 4 Badaruddin TRANSFORMASI INOVASI PRODUK PENELITIAN
DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
22 - 31
5 Bansu Irianto Ansari MENGGUNAKAN SOAL HIGHER-ORDER-THINKING (HOT) UNTUK
MENGEMBANGKAN IDE DAN PROSES BERPIKIR MATEMATIK SISWA BERDASARKAN STATUS DAN TIPE SEKOLAH DAN ETNIS
32 - 44
6 Dody Firman PENGARUH PERPUTARAN PIUTANG DAN
PERPUTARAN KAS TERHADAP RETURN ON ASSET PADA BANK DEVISA SWASTA NASIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2013-2017
45 - 60
7 Fadhil Surur KELEMBAGAAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN HUTAN
DI DESA TANAH TOA KABUPATEN BULUKUMBA
61 - 74
8 Faisal Anwar PERAN DAN ANDIL KEPALA SEKOLAH DAN DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDA ACEH DALAM
PENYUSUNAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN MUTU GURU
75 - 91
9 Firmawati, S.Psi, M.Pd AKTUALISASI DIRI WANITA KARIR YANG MENGURUS RUMAH TANGGA
DI GAMPONG KEURAMAT BANDA ACEH
92 - 103
10 Hade Chandra Batubara
PENGARUH CURRENT RATIO DAN RETURN ON EQUITY TERHADAP PRICE EARNING RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR
DI BURSAEFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2013- 2017
104 - 116
11 Hade Chandra Batubara
KKN UMSU GELOMBANG II FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
DESA BAGAN SERDANG KECAMATAN PANTAI LABU
KABUPATEN DELI SERDANG
117 - 123
12 Irhamni PENGARUH KONSENTRASI LEACHATE TERHADAP PERTUMBUHAN TUMBUHAN UJI
EFFECT OF LEACHATE CONCENTRATION ON GROWTH TEST PLANTS
124 - 133
Semnas Multidisiplin Ilmu Universitas Serambi Mekkah Vol. 2 No. 1 Tahun 2019 13 Jasman Saripuddin
Hasibuan
PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN MOTIVASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
134 - 147
14 Junaidi MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN STRATEGI THINK-TALK-WRITE
148 - 163
15 Lia hamimi DIAGNOSIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL
164 - 171
16 Masyudi ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEMBUHAN PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT TINGKAT II ISKANDAR MUDA
BANDA ACEH TAHUN 2018
172 - 182
17 Munawir ANALISA DAN EVALUASI PROTOTYPE
PENGINTEGRASIAN DATA P4GN MENGGUNAKAN ENTERPRISE ARCHITECTURE PLANNING
BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI ACEH
183 - 195
18 Musnizar Safari ANALISIS PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
196 - 201 19 Muyassir PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENGELOLAAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN MASYARAKAT SEJAHTERA DI KECAMATAN INDRA JAYA KABUPATEN ACEH JAYA
202 - 213
20 J. Nurhawani, MA EKSISTENSI BAHASA ARAB DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARANNYA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
214 - 221
21 Orin Asdarina ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SETARA PISA KONTEN GEOMETRI
222 - 231
22 Rahmat Hidayat PENGARUH CURRENT RATIO DAN RETURN ON EQUTY TERHADAP DEBT TO EQUITY RATIO PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
232 - 244
23 Sri Ngayomi Yuda Wastuti
KKN UMSU GELOMBANG I FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN DESA BAGAN SERDANG KECAMATAN
PANTAILABU KABUPATEN DELI SERDANG
245 - 251
24 Syifaul Huzni STUDI PENGARUH ELEMENT SIZE PADA ANALISIS ELEMEN HINGGA TERHADAP DISTRIBUSI
TEGANGAN PADA KASUS FRAKTUR TULANG TIBIA
252 - 257
25 T. Alamsyah ANALISIS PELAYANAN RUMAH SAKIT TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA JAMINAN KESEHATAN ACEH (JKA)
258 - 273
26 Umi Fathanah MODIFIKASI MEMBRAN POLYETHERSULFONE (PES) MENGGUNAKAN PELARUT NORMAL METHYL PYROLYDONE (NMP) SECARA NON-SOLVENT INDUCE PHASE SEPARATION (NIPS)
274 - 285
27 Wahyuni HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SEKOLAH DASAR
286 - 293
28 Yadi Jufri GULMA TITHONIA DIVERSIFOLIA INSITU PENDUKUNG PERTANIAN ORGANIK SECARA BERKELANJUTAN
294 - 302
Semnas Multidisiplin Ilmu Universitas Serambi Mekkah Vol. 2 No. 1 Tahun 2019 29 Yuhefizar PENERAPAN SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS
ELEKTRONIK (E-GOVERNMENT) DENGAN PENDEKATAN BOTTOM-UP BERBASIS WEB DI SUMATERA BARAT
303 - 309
30 Yulsafli PERBEDAAN DIALEK TAPAKTUAN DAN DIALEK SAMADUA DALAM BAHASA JAMEE KABUPATEN ACEH SELATAN
310 - 331
31 Zainal Putra INVESTIGASI KEPUASAN MAHASISWA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI: BUKTI EMPERIS DARI UNIVERSITAS TEUKU UMAR
332 - 341
32 Zulia Hanum ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PENERIMAAN PAJAK REKLAME
342 - 357 33 Azwir IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN JENIS
SERANGGA PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI GAMPONG SUKAMULIA KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR
358 - 365
34 T.M. Rafsanjani FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERCULOSIS DI KABUPATEN NAGAN RAYA
366 - 375
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
366
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERCULOSIS DI KABUPATEN NAGAN RAYA
T.M. Rafsanjani1, Said Usman2, Burhanuddin Syam1Irwan Saputra2
1Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Serambi Mekkah, Aceh, Indonesia Email:[email protected]
Abstract
Indonesia 3rd ranks highest of Tuberculosis case in the world. There are 69 cases of Tuberculosis around Nagan Raya Regency, it is caused by many factors therefore need to know the problems that cause in The Regency. This research need to know connection Age, Gender, Education, Job, Knowledge and Socioeconomic effects Tuberculosis occurences. Population in this research were cases of Tuberculosis recorded in the health department of Nagan Raya number of 69 patients, they are taken from society of Nagan Raya regency by matching methode. The types of this research is Descriptive Analytic by approach to comparative cases (control) with a wiew Free Variable, they are Age, Gender, Education, Job, Knowledge, socioenomic and view Unfree Variable is patients of Tuberculosis with kuisoner division methode. The result of bivariat research shows : Age P=1.000, OR=1.226 (CI: 0511-1.956).
Gender P=1.000, OR=2.000 (CI: 0.493-2.030). Education P=1.000, OR=1.156 (CI: 0.512- 1.953). Job P=0.016, OR= 1.571 (CI: 1.242-5.007). Knowledge P=0.027, OR=1.024 (CI:
1.088-4.248). and Socio Economi P=0.026, OR=1.129 (CI: 0.221-0.866). There was no relationship and increased risk between Age with the incidence of Tuberculosis. There was no relationship and increased risk between Gender with the incidence of Tuberculosis. There was no relationship and increased risk between Education with the incidence of Tuberculosis.
There was relationship and increased risk between Job with the incidence of Tuberculosis.
There was relationship and increased risk between Knowledge with the incidence of Tuberculosis. There was relationship and increased risk between Socioeconomic with the incidence of Tuberculosis. Nagan Raya district health office should improve the discovery suspected Tuberculosis, conduct outreach to increase Nagan Raya public awareness of Tuberculosis.
Keyword : Tuberculosis, Case, Control.
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
367
Abstrak
Indonesia peringkat ke 3 dunia terbanyak kasus tuberculosis. Kasus Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya sejumlah 69 kasus yang terdapat di seluruh Kabupaten Nagan Raya, hal ini disebabkan oleh banyak faktor, dari itu perlu untuk mengetahui permasalahan yang terdapat yang menjadi penyebab di Kabupaten Nagan Raya tahun 2012. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi terhadap terjadinya Tuberculosis. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Kasus Tuberculosis yang terdata pada dinas kesehatan Kabupaten Nagan Raya sejumlah 69 penderita, dan Kontrol sebanyak 69 diambil dari masyarakat Kabupaten Nagan Raya dengan metode Matching. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kasus pembanding (kontrol) dengan melihat variabel bebas yaitu Umur, Jenis kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi dan melihat variabel terikat yaitu Penderita Tuberculosis dengan metode pembagian kuisoner. Hasil analisis bivariat menunjukkan hasil Pekerjaan P=0.016, OR= 1.571, (CI: 1.242-5.007). Pengetahuan P=0.027, OR=1.024, (CI: 1.088-4.248).
dan Sosial Ekonomi P=0.026, OR=1.129, (CI: 0.221-0.866). Tidak ada hubungan antara Umur dengan kejadian Tuberculosis. Tidak ada hubungan antara Jenis Kelamin dengan kejadian Tuberculosis. Tidak ada hubungan antara Pendidikan dengan kejadian Tuberculosis. Ada hubungan antara Pekerjaan dengan kejadian Tuberculosis. Ada hubungan antara Pengetahuan dengan kejadian Tuberculosis. Ada hubungan antara social Ekonomi dengan kejadian Tuberculosis. Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya Harus Meningkatkan Penemuan Suspek Tuberculosis, Melakukan Penyuluhan guna Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Nagan Raya tentang Tuberculosis.
Kata Kunci : Tuberkulosis, Kasus, Kontrol.
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
368 Pendahuluan
Penyakit TBC merupakan salah satu masalah kesehatanmasyarakat yang paling penting di era sekarang ini, karena masalah yang ditimbulkannya bukan hanya masalah medis maupun penyakit saja, akan tetapi juga non medis seperti masalah Sosial dan Ekonomi, selain itu TBC juga merupakan penyakit yang meningkat jumlah kasusnya ditambah dengan peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS (Depkes, 2002).
Risiko penularan setiap tahun Annual Risk of Tuberculosis Infections (ARTI), di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun di antara 1000 penduduk, terdapat 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan terjadi penderita TBC, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TBC.
Dari keterangan tersebut di atas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka di antara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 penderita TBC setiap tahun, dimana 50 % akan menjadi penderita dengan Tuberculosis positif. Hal ini merupakan masalah yang serius dan memerlukan perhatian yang lebih serius untuk penanganan panyakit TBC di Indonesia (Depkes RI, 2008).
Sekitar 75 % pasien TBC adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun), diperkirakan seorang pasien TBC Dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya tiga sampai empat bulan, hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 –30%. Jika ia meninggal akibat TBC, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun, selain merugikan secara ekonomis, TBC juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Depkes, 2006).
Di Indonesia, TBC merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TBC di dunia.
Berdasarkan data dari Global Report WHO (2010), didapat data TB Indonesia, Total seluruh kasus TB tahun 2009 sebanyak
294.731 kasus, dimana 169.213 adalah kasus TB baru BTA positif, 108.616 adalah kasus TB BTA negatif, 11.215 adalah kasus TB Extra Paru, 3.709 adalah kasus TB Kambuh, dan 1.978 adalah kasus pengobatan ulang diluar kasus kambuh.
Berdasarkan data Profil Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, tahun 2010 prevalensi TBC sebanyak 80.72/100.000 penduduk, dengan penenemuan BTA (+) baru pada tahun 2010 sebanyak terdapat 3.602 kasus dengan CDR (Case Detection Rate) adalah 49,71 %. Dari hasil total jumlah kasus yang terdapat di Provinsi Aceh sampai dengan 2010. Angka Kesembuhan Penderita (AKP) pada tahun 2010 sebanyak 94 % dengan klarifikasi pengobatan TBC lengkap sebanyak 5.82 %, dengan angka kematian sebanyak 1.5/100.000 penduduk (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Aceh 2010)
Kabupaten Nagan Raya memiliki jumlah penduduk sebanyak 153.694 jiwa.
Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya memiliki 13 Puskesmas dengan distribusi penduduk terbanyak pada wilayah kerja puskesmas Ujong Fatihah dengan jumlah 19.308 jiwa (Dinkes Kabupaten Nagan Raya, 2011).
Berdasarkan data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya pada tahun 2011, hasil dari pelaksanaan program penanggulangan TBC pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya ditemukan suspek sebanyak 441 suspek (18 %) dari 2.459 target penemuan suspek, dari hasil suspek tersebut di dapatkan TBC positif sebanyak 71 kasus (29
%). Hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya penemuan suspek dari target yang ditetapkan (Dinkes Kabupaten Nagan Raya, 2011).
Kasus TBC di Kabupaten Nagan Raya pada tahun 2011 apabila ditinjau dari aspek umur pada umumnya terdapat pada usia produktif yaitu usia 15-50 tahun sama halnya dengan masalah pada tingkat nasional, hal ini disebabkan pada usia tersebut merupakan usia yang berpotensi terpaparnya kuman Mycrobacterium Tuberculosis dengan tuntutan dan kebebasan dalam memilih pekerjaan. Kasus TBC di daerah tersebut juga banyak terdapat pada jenis kelamin Laki-laki yang dikarenakan tinkat aktifitas pada kaum lelaki lebih aktif.
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
369 Penderita TBC di Kabupaten Nagan
Raya pada umumnyamemiliki tingkat pendidikan menengah sampai dengan dasar.
Hal ini juga sinkron dengan penderita di Kabupaten Nagan Raya memiliki pengetahuan rendah terhadap TBC dengan dasar rujukan pendidikan. Kasus ini juga banyak di derita pada pekerja Tani atau wiraswasta, namun sebagian kecil juga terdapat padapenduduk yang bekerja di Pemerintahan
atau Pegawai Negeri Sipil. Penderita TBC banyak terdapat pada penduduk yang memiliki tingkat ekonomi rendah yang berdasarkan tingkat pendidikan, pengetahuan, pekerjaan yang tidak menetap. Bedasarkan hasil tersebut, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita TBC di Kabupaten Nagan Raya.
Metode
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Kasus Pembanding (Kontrol) yaitu suatu penelitian dengan cara membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol bedasarkan paparannya (Retrospektif) arah pengusutannya. Rancangan ini bergerang dari akibat (penyakit) ke sebab (paparan), dengan penyusuaian kasus adalah peserta TBC positif yang terdata pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, Tahun 2012.
Tujuan dari penelitian dengan design case control ini adalah untuk mencari seberapa jauh hubungan faktor risiko mempengaruhi terjadinya penyakit.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru yang terdata di Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya sebanyak 69kasus dan pembanding (kontrol) masyarakat yang tidak menderita TB paru dalam kawasan Kabupaten Nagan Raya, Tahun 2012.
Sampel pada penelitian ini adalah Total dari Populasi penderita TB paru yang berjumlah 69 orang yang terdata pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, dan pembanding (kontrol) berjumlah 69 orang masyarakat Kabupaten Nagan Raya yang tidak menderita TB paru, namun merupakan populasi yang memiliki karakteristik sama dengan kasus dan
mempunyai kesempatan yang sama untuk terpajan oleh faktor risiko yang diteliti.
Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah Univariat, yang digunakan dengan menjabarkan secara distribusi frekuensi variabel-variabel yang diteliti, baik variabel dependen maupun variabel independen dengan di buat dalam bentuk proporsi dengan skala ordinal dan Bivariat yang digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan variabel dependen dan variabel independen melalui uji statistic Chi Square (X2) dan dinyatakan bermakna apabila α (alpha) atau ρ< 0.05, data yang diolah dengan menggunakan program komputer (SPSS), dengan ketentuan Keputusan hipotesis Ha diterima bila nila P (P value) lebih kecil dari (alpha) < 0,05, maka hipotesis Ha diterima, dan sebaliknya jika P (P value) lebih besar dari (alpha) > 0,05, maka hipotesis Ha ditolak (Budiarto, eko, 2002).
Untuk melihat tingkat asosiasi atau hubungan dilakukan perhitungan odds ratio (OR) Dengan ketentuan sebagai berikut :
OR = 1 Berarti tidak ada hubungan dengan faktor risiko
OR > 1 Berarti ada suatu peningkatan risiko dengan adanya peningkatan paparan
OR < 1 Berarti risiko yang menurun dengan adanya peningkatan paparan (protektif)
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
370 Hasil
Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Nagan Raya diketahui hasil sebagai berikut:
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Penderita Tuberculosis dan Kontrol di Kabupaten Nagan Raya
No Variabel Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Penderita Kasus
Kontrol
69 69
50.0 50.0
Total 138 100
2 Umur Lansia
Muda-Dewasa
62 76
44,9 55.1
Total 138 100
3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
92 46
66.7 33,3
Total 138 100
4 Pendidikan Kurang Baik Baik
74 64
53.6 46.4
Total 138 100
5 Pekerjaan Kurang Baik Baik
74 64
53.6 46.4
Total 138 100
6 Sosial Ekonomi Rendah Tinggi
74 64
53,6 46,4
Total 138 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa dari 138 responden terdapat 69 responden (50%) katagori Kasus merupakan Tuberculosis Positif yang terdata pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya dan 69 responden (50%) katagori Kontrol merupakan kelompok non Tuberculosis yaitu masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Nagan Raya.
Sedangkan dari kategori umur, diketahui 62 responden (44.9%) berumur Lansia, dan 76 responden (55.1%) berumur Muda-Dewasa.
Berdasarkan jenis kelamin, diketahu sebanyak 92 responden (66.7%) Laki-laki, dan 46 responden (33.3%) Perempuan. Pendidikan
responden diketahui bahwa dari 138 responden terdapat 74 responden (53.6%) Tingkat Pendidikan Kurang baik, dan 64 responden (46.4%) dengan Pendidikan Baik. Dari 138 responden terdapat 81 responden (58.7%) dengan pekerjaan mendukung terjadinya Tuberculosis, dan 57 responden (41.3%) dengan Pekerjaan Tidak Mendukung terjadinya Tuberculosis. Tingkat Sosial ekonomi diketahui dari 138 responden terdapat 74 responden (53.6%) Tingkat Sosial Ekonomi Rendah, dan 64 responden (46.4%) dengan Tingkat Ekonomi Tinggi, di Kabupaten Nagan Raya.
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
371
Tabel 2.
Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya
No Pekerjaan
Penderita/Responden
Total
OR P
Value Kasus Kontrol
Frek % Frek % Frek %
1 2
Mendukung Tidak Mendukung
48 21
69.6 30.4
33 36
47.8 52.2
72 66
52,2 47,8
2.494 (1.242-
5.007)
0.016
Jumlah 69 100 69 100 138 100
Sumber ; Data primer.
Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa dari 69 responden dengan katagori kasus yang memiliki pekerjaan mendukung terjadinya tuberculosis sebanyak 48 responden (69.6%), dan Pekerjaan yang tidak Mendukung terjadinya Tuberculosis sebanyak 21 responden (30.4%). Sedangkan dari 69 dengan katagori kontrol terdapat 33 responden (47.8%) dengan Pekerjaan Mendukung terjadinya Tuberculosis, dan 36 responden (52.2%) dengan Pekerjaan Tidak mendukung Terjadinya Tuberculosis, di Kabupaten Nagan
Raya. Dari hasil olah statistik dengan Uji Chi Square diperoleh nilai P Value = 0.016 (P <
0.05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima artinya ada Hubungan yang bermakna antara Pekerjaan dengan Kejadian Tuberculosis dan nilai OR=2.494 (CI : 1.242-5.007), maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan Risiko Pekerjaan Mendukung terjadinya kejadian Tuberkulosis sebanyak 2.494 kali dibandingkan dengan Pekerjaan tidak Mendukung Terjadinya Tuberculosis, di Kabupaten Nagan Raya.
Tabel 3
Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya
No Pengetahuan
Penderita/Responden
Total
OR P
Value Kasus Kontrol
Frek % Frek % Frek %
1 2
Kurang Baik Baik
26 43
37.7 62.3
39 30
56.5 43.5
70 68
50.7 49.3
2.278 (1.088-
4.248)
0.027
Jumlah 69 100 69 100 138 100
Sumber : Data Primer.
Berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa dari 69 responden dengan katagori kasus yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 26 responden (37.7%), dan
Pengetahuan Baik sebanyak 43 responden (62.3%). Sedangkan dari 69 dengan katagori kontrol terdapat 39 responden (56.5%) dengan Pengetahuan Kurang Baik, dan 30 responden
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
372 (43.5%) dengan Pengetahuan Baik, di
Kabupaten Nagan Raya. Hasil uji chi square maka diperoleh hasil dengan nilai P Value = 0.027 (P < 0.05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima artinya ada Hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian
tuberculosis, dan nilai OR=2.278 (CI : 1.088- 4.248), maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan Risiko Pengetahuan Kurang Baik untuk Terjadinya Kejadian Tuberculosis sebanyak 2.278 kali dibandingkan dengan Pengetahuan Baik, di Kabupaten Nagan Raya.
Tabel 4
Hubungan Sosial Ekonomi dengan Kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya
No Sosial Ekonomi
Penderita/Responden
Total
OR P
Value Kasus Kontrol
Frek % Frek % Frek %
1 2
Rendah Tinggi
30 39
43.5 56.5
44 25
63.8 36.2
74 64
53.6 46,4
0.437 (0.221-
0.866)
0.026
Jumlah 69 100 69 100 138 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan bahwa dari 69 responden dengan katagori kasus yang memiliki tingkat sosial ekonomi rendah sebanyak 30 responden (43.5%), dan tingkat sosial ekonomi tinggi sebanyak 39 responden (56.4%). Sedangkan dari 69 dengan katagori kontrol terdapat 44 responden (63.8%) dengan Tingkat Sosial Ekonomi Rendah, dan 25 responden (36.2%) dengan Tingkat Sosial Ekonomi Tinggi, di Kabupaten Nagan Raya.
Berdasarkan hasil Uji Chi Square di peroleh P
Value dengan nilai 0.026 (P < 0.05) maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima artinya ada hubungan antara Tingkat Sosial Ekonomi dengan kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya. Nilai OR=0.437 (CI : 0.221- 0.866), maka dapat disimpulkan bahwa adanya risiko yang menurun peningkatan paparan (protektif) Tingkat Sosial Ekonomi rendah dengan Kejadian Tuberculosis sebanyak 0.437 kali di bandingkan dengan Sosial Ekonomi Tinggi, di Kabupaten Nagan Raya.
Pembahasan 1. Pekerjaan
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Soeyono,dkk, 2001) bahwa Penyakit TBC mudah diderita seseorang yang bekerja atau tinggal dalam waktu yang lama di lingkungan yang udaranya tidak bersih, mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidakbaik serta mempunyai beban yang terlalu meletihkan. Hal ini diperkuat dengan penyelidikan lain yang menyebutkan bahwa peningkatan kasus pada pekerja tambang, buruh kasar, pekerja yang terpapar debu asbes dan silica, pekerja bar, serta pekerja laboratorium juga sangat rentan terpapar penyakit TBC (Yoga, 2000).
Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada Pasal 1
menyatakan bahwa tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumbersumber bahaya. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atauyang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Pekerjaan yang dilakukan akan memiliki dampak yang negative yang ditinjau dari aspek kesehatan, oleh karena itu diperlukan Alat Pelindung Diri (APD) yang seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja (Mujianto, 2011).
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
373 Jenis pekerjaan menentukan faktor
risiko apa yang harus dihadapi setiap individu.
Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru (Prabu, 2008).
Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru (Prabu, 2008).
Penelitian mengenai Pekerjaan juga pernah di lakukan oleh Sutrisno (2008) tentang Hubungan Pekerjaan dengan kejadian Tb paru droup Out di Kota Depok Jakarta dengan menggunakan metode Diskriptif Analitik dengan metode Cross Sectional yang dilakukan pada responden sejumlah 46 orang menghasilkan nilai P value 0.350 (P > 0.05) artinya tidak ada hubungan antar Pekerjaan dengan kejadian TB Paru di kota Depok.
Penelitian Rusnoto (2009) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Depok I Nangulan Yogyakarta dengan Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna pekerjaan dengan kejadian TB Paru dengan hasil odds ratio (OR) sebesar 3,816 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,701– 8,558, dengan nilai p = 0,001.
2. Pengetahuan
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Darmaji (2002), Perkembangan penyakit
TBC selain disebabkan oleh status gizi masyarakat yang buruk juga karena Krisis Ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan yang tetap dan juga rendahnya pengetahuan penderita untuk mengobati penyakit ke pusat pelayanan kesehatan.
Menurut Harjaningrum (2004), kasus penularan TBC pada anak-anak dari orang dewasa sering terjadi dan jarang terdeteksi, hal ini juga disebabkan karena pengetahuan masyarakat yang masih rendah mengenai penyakit TBC terutama cara penularannya menyebabkan kewaspadaan terhadap adanya sumber penularan di lingkungan tempat tinggal berkurang. Risiko penularan penyakit TBC lebih besar karena kurangnnya pengetahuan penderita untuk mengobati penyakitnya secara teratur sehingga kuman Mycrobakterium Tuberculosis tetap aktif.
Penelitian Sufianti (2010) tentang Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tuberculosis Paru di wilayah kerja Puskesmas Poasia kota Kendari dengan menggunakan metode penelitian deskriptif- analitik dengan pendekatan cross sectional.
Sampel pada penelitian ini adalah 165 suspek TB Paru BTA (+) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2010.
Analisis dilakukan dengan uji chi square dan uji regresi logistik dengan menggunakan SPSS for Windows versi 15. Hasil penelitian berdasarkan uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p= 0,039 < 0,05), dengan kejadian TB Paru BTA (+).
3. Sosial Ekonomi
Hasil Penelitian ini sesuai dengan teori Noor (2008), Status Ekonomi sangat erat hubungannya dengan pekerjaan dan jenis pekerjaan serta besarnya pendapatan keluarga juga berhubungan dengan lokasi tempat tinggal, kebiasaan hidup keluarga termasuk kebiasaan makan, jenis rekreasi keluarga dan lain sebagainya. Status sosial ekonomi juga erat hubungannya dengan psikologis
individu dan keluarga dalam masyarakat.
Penyakit TBC masih masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dan menjadi penyebab kematian ke 3 setelah penyakitjantung. Penyakit ini dapat menyerang masyarakat, namun 70 % dialami oleh
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
374 keluarga dari golongan ekonomi rendah
(Soemantri, 2003).
Kemiskinan (sosial ekonomi rendah) merupakan keadaan keadaan yang mengarah pada perumahan yang terlampau padat atau kondisi kerja yang buruk. Keadaan ini dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Orang yang hiup engan kondisi ini juga sering mengalami gizi buruk karena ktidak mampuan meneydiakan makanan bergizi akibat renahnya penghasilan. Kompleks kemiskinan seluruhnya ini memudahkan TB berkembang menjadi penyakit (Crofton, 2002).
Mayoritas responden yang memiliki sosial ekonomi yang rendah. Semakin rendah tingkat sosial ekonomi maka semakin rendah pula kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan keluarga baik primer, sekunder maupun tersier, termasuk didalamnya penyediaan makanan bergizi, lingkungan rumah yang sehat, serta pemeliharaan status kesehatan. Hal ini sangat berpengaruh bagi jasmani, rohani dan sosial sehingga bila kebutuhan tersebut tiak terpenuhi maka dapat menurunkan status kesehatan dimana daya
tahan tubuhmenurun sehingga mudah terserang penyakit TBC.
Penelitian Sumari (2008) tentang hubungan Sosial Ekonomi dengan angka kejadian Tuberculosis Paru BTA positif di Puskesmas Sedati dengan hasil uji statistik chi square dengan tingkat signifikan = 0,01 dan derajar kebebasan (fd) = 2 diperoleh hasil hitung x2 hitung = 6,0 dan x2 tabel = 0,103.
Dengan hasil x2 hitung x2 tabel tersebut maka didapatkan hubungan yang bermakna antara sosial ekonomi dengan angka kejadian Tuberculosis Paru BTA positif. Terdapatnya hubungan antara sosial ekonomi dengan angka kejadian Tuberculosis Paru BTA positif kemungkinan disebabkan karena sebagian besar masyarakat dengan tingkat Sosial Ekonomi rendah menderita Tuberculosis Paru BTA positif berat, dimana pada golongan masyarakat ini, kebanyakan berpenghasilan rendah sehingga tidak mampu memenuhi kecakupan gizi, serta menciptakan rumah sehat atau kebiasaan batuk dan meludah disembarangan tempat. Kondisi demikian dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga memudahkan seseorang menerita atau tertular penyakit Tuberculosis Paru.
Kesimpulan dan Saran
Dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan Pekerjaan dengan kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya dengan nilai P Value = 0.016.OR=2.494, (CI : 1.242-5.007), Ada hubungan Pengetahuan dengan kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya dengan nilai P Value = 0.027.OR=2.278, (CI 1.088-4.248). Ada hubungan Sosial Ekonomi dengan kejadian Tuberculosis di Kabupaten Nagan Raya dengan nilai P Value = 0,026. OR=0,437, (CI : 0.221-0.866).
Disarankan agar Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya khususnya di bagian P2P & PL agar meningkatkan penemuan kasus suspek di Kabupaten Nagan Raya. Petugas P2P
& PL untuk lebih memberikan dorongan kepada pasien atau penderita Tuberculosis yang ada di Kabupaten Nagan Raya.
Meningkatkan penyuluhan oleh Dinas Kesehatan terhadap masyarakat tentang bahaya penyakit Tuberculosis sehubungan resiko penularan yang sangat cepat dan luas.
Daftar Pustaka
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: ECG.
Depkes RI, 2002, Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jakarta.
Depkes RI, 2008, Profil Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta.
Depkes. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Gerdunas-tb.
Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta.
SEMINAR NASIONAL MULTIDISPLIN ILMU
Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat & Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Vol. 2 No. 1 Tahun 2019
Copyright © Prosiding Seminar Nasional Universitas Serambi Mekkah
375 Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis
Indonesia. 2006. Jurnal Tuberculosis Indonesia.
Permatasari, Amira. 2005. Pemberantasan Penyakit TB paru dan Strategi DOTS. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Diterbitkan Oleh :
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
Universitas Serambi Mekkah