Nama Kelompok : Arnoldus Rudolfo Situmorang Elisabet Lasroha Simanullang Rolando Sipayung
Roy Ardinta Tarigan Suci Pretina
Sylvia Sarah Silitonga Mata Kuliah : Mariologi
Ruangan : St. Antonius Padua
Dosen Pengampu : M. Marihot Simanjuntak., M.Hum 1. Bisakah Anda ceritakan siapakah itu Maria ?
Slsilah Maria
Menurut tradisi, istri dari Santo Yoakim ini, menjembatani Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Anna berasal dari keluarga Daud dan hidup di Betlehem. Gaya hidup Anna mencakup juga kerja keras. Rumah keluarga mereka sederhana, dengan atap datar, dan batu karang dari bebukitan menjadi tembok belakang rumah mereka. Mempelajari Hukum (Taurat) dan kitab para nabi serta doa harian merupakan bagian dari tradisi keluarga mereka. Seperti banyak perempuan muda lainnya, Anna tentu mempunyai harapan untuk menikah, melahirkan anak, dan juga merindukan kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan Israel.
Nama “Anna” berarti “rahmat”. Nama dari calon suaminya, Yoakim, berarti “persiapan bagi sang Juruselamat”. Yoakim berasal dari suku Yehuda dari mana Mesias yang dijanjikan akan datang. Anna mandul sebelum diberitahukan oleh malaikat bahwa satu-satunya anak perempuan akan dilahirkan olehnya di usianya yang sudah tua. Anak itu harus dikuduskan bagi TUHAN, tinggal dalam kanisah, dan pada akhirnya akan membawa Putera Allah, sang Juruselamat – lewat rahimnya. Ada orang yang berpikir bahwa Maria dilahirkan di Yerusalem, tetapi tinggal di Nazaret juga. Mungkin saja Anna dan Yoakim mempunyai dua tempat tinggal. Sumber yang dapat dipercaya (Butler’s Lives of the Saints, Vol. III, hal. 205) memperkirakan bahwa Santa Anna
mempersembahkan Maria dalam kanisah ketika masih kecil dan meninggalkannya di tempat itu untuk dididik. Namun hal ini tidak berarti bahwa sang ibu tidak mendidik Maria di rumah pada waktu-waktu tertentu. Seturut adat-kebiasaan pada masa itu, Maria akan kembali ke rumahnya di Nazaret ketika dia mencapai usia siap-nikah, yaitu 14 tahun. Maria dipertunangkan dengan Yusuf, yang menurut sejumlah tradisi adalah sepupunya sendiri. Ronda De Sola Chervin (Treasury of Women Saints) menulis bahwa, terserah kepada kitalah untuk membayangkan bagaimana peristiwa-peristiwa yang dinarasikan dalam Injil Lukas (Luk 1-2) mempengaruhi hidup Anna.
Bahkan apabila Anna percaya bahwa anak perempuannya ini “ditakdirkan” menjadi ibunda sang Mesias, ia dapat dihantui rasa takut akan reaksi-reaksi orang-orang sekampung atas kehamilan Maria. Mereka dapat saja merajam Maria sampai mati jika tidak dilindungi oleh Yusuf.
Bayangkanlah juga betapa terkejut Anna (nenek bayi Yesus) ketika mendengar kabar mengenai pembunuhan anak-anak kecil yang tak bersalah di Betlehem yang terjadi setelah menyingkirnya
“keluarga kudus” ke Mesir, sebagaimana dinarasikan dalam Injil Matius (Mat 2:13-18).
Ada yang mengatakan bahwa Anna menjadi seorang janda tidak lama setelah kelahiran cucunya. Kita dapat membayangkan sukacita yang dialami Anna pada waktu “keluarga kudus”
pulang ke Nazaret dari pengungsian di Mesir. Pikirannya juga tentunya dipenuhi dengan hal-hal indah berkaitan dengan cucunya ini. Walaupun kita tidak mengetahui kapan tepatnya Anna meninggal dunia, dalam kesenian religius, ia digambarkan berbaring di tempat tidur kematiannya sambil dikelilingi oleh Maria, Yesus yang masih anak-anak, dan anggota keluarga yang lainMaria adalah seorang perawan yang tinggal di Nazaret, daerah Galilea. Yoakim dan Anna adalah nama ayah dan ibunya. Sebagai seorang Yahudi Maria sangat mengharapkan kedatangan sang Mesias, yaitu Juruselamat dunia. Bunda maria berani menjawab panggilan Allah. Dalam perjalanan Hidupnya Bunda Maria mempunyai relasi yang sangat mesra dengan Putranya Yesus Kristus, sejak ada dalam kandungan serta sampai wafat-Nya, karena ia telah dipilih oleh Allah menjadi Bunda Allah. Lewat kedekatan relasi inilah yang menjadikan Gereja katolik memppunyai keyakinan bahwa Maria sungguh-sungguh istimewa, baik dihadirat Allah maupun manusia.
2. Bagaimana konsep "Maria Dikandung Tanpa Noda" berkembang dalam teologi Katolik?
Sejarah Maria Dikandung Tanpa Noda
Bagi Gereja Katolik Roma, dogma Dikandung Tanpa Noda menjadi semakin penting setelah penampakannya di Lourdes pada tahun 1858. Di Lourdes seorang gadis berusia 14 tahun, Bernadette Soubirous, menyatakan bahwa seorang wanita cantik muncul di hadapannya. Wanita tersebut memperkenalkan dirinya sebagai "Yang Dikandung Tanpa Noda" dan para umat percaya bahwa wanita tersebut adalah Perawan Suci Maria. Dalam hal ini, dogma Katolik Roma mengenai Dikandung Tanpa Noda yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX ini juga dipandang sebagai sebuah contoh penting dari penggunaan sensus fidelium yang berkembang di tengah-tengah umat dan Magisterium, tidak hanya bersandar sepenuhnya pada Kitab Suci dan tradisi. Vatikan mengutip mengenai hal ini dalam Fulgens Corona di mana Paus Pius XII mendukung kepercayaan semacam itu: Apabila pemujaan masyarakat kebanyakan pada Sang Perawan Suci Maria diberikan perhatian saksama sesuai dengan haknya, siapa yang berani meragukan bahwa Ia, yang lebih suci daripada para malaikat dan selalu suci selamanya, pernah sekali waktu, bahkan dalam saat yang paling pendek sekalipun, tidak terbebaskan dari noda dosa?
Saat ini, tradisi Katolik Roma memiliki sebuah filosofi yang benar-benar terbentuk mengenai penelitian Dikandung Tanpa Noda dan penghormatan pada Perawan Suci Maria melalui bidang Mariologi dengan sekolah-sekolah Kepausan seperti Marianum yang secara khusus didirikan untuk tujuan tersebut. Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception”Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa”/ the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“, terutama karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasikan ajaran dari Bapa Paus Pius IX, dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas ajaran Bapa Paus tersebut. Terkait dogma tersebut, Konsili Vatikan II, dalam Lumen
Gentium 56 menulis, "Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk oleh Roh Kudus. Perawan dari Nazareth itu sejak saat pertama dalam rahim dikurniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa."
Sejak awal gereja Pengajaran atau dogma tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal. Pada abad ke-4, Santo Ephraem menulis, "Sungguh Engkau, Tuhan, dan BundaMu adalah hanya satu-satunya yang cantik sempurna di dalam segala hal; sebab, Tuhan, tidak ada noda di dalam-Mu dan juga tidak ada noda apapun di dalam BundaMu". Dalam abad ke- 5, Santo Agustinus menulis, "Kita harus menerima Perawan Maria yang kudus, tentangnya saya tidak akan pernah mempertanyakan jika kita membahas tentang dosa, karena hormatku kepada Tuhan, sebab dari Dia kita tahu akan betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa sampai sekecil- kecilnya, telah diberikan kepadanya (Bunda Maria) yang telah dipercayakan untuk mengandung dan melahirkan Dia (Yesus) yang sudah pasti tidak berdosa..." Konsili Trente (1546) menyatakan bahwa berkat karunia istimewa, Maria seumur hidup bebas dari segala dosa, termasuk dosa ringan.
Dogma yang telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) itu akhirya diumumkan oleh Paus Pius IX (abad ke-19), tepatnya pada tanggal 8 Desember 1954. Pernyataan "Maria dikandung tanda noda" itu juga keluar dari mulut Bunda Maria sendiri. Pada tahun 1858, empat tahun setelah pengesahan dogma tersebut, Bunda Maria menampakkan diri selama 18 kali di Lourdes, Perancis kepada Bernadette Soubirous. Penampakan ini sudah diakui gereja Katolik sebagai penampakkan yang otentik. Dalam penampakkan yang ke-16, Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai
"Perawan yang dikandung tanpa noda dosa" (Immaculate Conception) kepada Bernadette. Sebagai gadis desa yang baru berumur 14 tahun, Bernadette tidak memahami makna "the Immaculate Conception" itu.
3. Dari mana asal-usul konsep Maria Dikandung Tanpa Noda dalam tradisi Katolik?
Konsep Maria Tak Bernoda Dalam Tradisi Katolik
Dokumen Lumen Gentium (LG) artikel 56 merupakan Dokumen Konsili Vatikan II yang menegaskan dogma tentang “Maria Dikandung Tanpa Noda”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX menetapkan keyakinan Gereja itu menjadi dogma: “Perawan Tersuci Maria sejak saat perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal”.Pada
awalnya, jauh sebelum Gereja mengukuhkan dogma ini, umat Katolik telah merayakan pesta Maria Dikandung Tanpa Noda setiap tanggal 8 Desember. Konsili Trente (1546) menyatakan bahwa berkat karunia istimewa, Maria seumur hidup bebas dari segala dosa, termasuk dosa ringan (Bdk. DS 1573). Namun, hal itu bukan berarti bahwa Bunda Maria tidak lagi memerlukan penebusan dosa, melainkan bahwa Maria telah ditebus sejak saat pertama keberadaannya di bumi.
Dalam ajaran iman dan moral Gereja mengatakan bahwa: Allah tidak bisa bersatu dengan dosa (Stanislaus Surip, 2007). Maria harus mengandung Putera Allah. Oleh karena itu, Ia harus menyediakan rahim yang tidak bernoda oleh dosa asal maupun dosa pribadi dan membuat Maria dikandung tanpa noda. Hal ini tidak terjadi dari pihak orang tuanya, melainkan dari, atas dan oleh kehendak Allah sendiri. Orang tua Maria tetaplah orang berdosa dan berdosa asal.
Gereja Katolik (Dogma) menyatakan, Maria, Bunda Allah yang kudus itu dikandung tanpa noda dosa. “Tidak mengherankan bahwa di antara para Bapa Suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk oleh Roh Kudus. Perawan Nazaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa” (Lumen Gentium 56). Namun di sisi lain, ada juga beberapa dari para Bapa Gereja yang menolak atau berkeberatan akan Ajaran Gereja ini. Hal ini akan kita dalami melalui beberapa penjelasan singkat dalam artikel berikut ini.
Gereja mengajarkan sebuah ajaran pokok iman mengenai siapa pribadi Maria yang dikenal oleh umat Katolik. Sebagai seorang mahasiswa, dan juga terutama sebagai anggota dari Gereja Katolik, hal ini sangat perlu untuk kita ketahui. Dokumen Lumen Gentium (LG) artikel 56 merupakan Dokumen Konsili Vatikan II yang menegaskan dogma tentang “Maria Dikandung Tanpa Noda”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX menetapkan keyakinan Gereja itu menjadi dogma:
“Perawan Tersuci Maria sejak saat perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal”
Pada awalnya, jauh sebelum Gereja mengukuhkan dogma ini, umat Katolik telah merayakan pesta Maria Dikandung Tanpa Noda setiap tanggal 8 Desember. Konsili Trente (1546) menyatakan bahwa berkat karunia istimewa, Maria seumur hidup bebas dari segala dosa, termasuk dosa ringan (Bdk. DS 1573). Namun, hal itu bukan berarti bahwa Bunda Maria tidak lagi memerlukan penebusan dosa, melainkan bahwa Maria telah ditebus sejak saat pertama
keberadaannya di bumi. Dalam ajaran iman dan moral Gereja mengatakan bahwa: Allah tidak bisa bersatu dengan dosa (Stanislaus Surip, 2007). Maria harus mengandung Putera Allah. Oleh karena itu, Ia harus menyediakan rahim yang tidak bernoda oleh dosa asal maupun dosa pribadi dan membuat Maria dikandung tanpa noda. Hal ini tidak terjadi dari pihak orang tuanya, melainkan dari, atas dan oleh kehendak Allah sendiri. Orang tua Maria tetaplah orang berdosa dan berdosa asal.
Dogma ketidakberdosaan ini khusus mengenai diri Maria. Namun, hal itu dapat kita bedakan dengan ketidakberdosaan Yesus Kristus, Putranya. Ketidakberdosaan Yesus terletak dalam diri-Nya sendiri, karena Dia adalah Allah, sedangkan ketidakberdosaan Maria berasal dari luar dirinya yakni karena relasinya dengan Allah, melalui Anaknya, Yesus Kristus. Maria terlindungi dari dosa pribadi dan tidak terkena dosa asal karena kasih karunia Allah. Maria tetap manusia seperti kita manusia, namun Maria memiliki hubungan yang sangat erat dengan Yesus dalam karya penebusan. Maria dibebaskan dari segala noda dari sejak awal hidupnya berkat rahmat penebusan Yesus Kristus yang sudah berlangsung sebelum Yesus sendiri lahir.
Nah, jadi Maria itu suci dan tak bernoda ialah karena Allah dan untuk Allah. Masih bingungkah kita? Ya, bagi kita manusia, hal ini mungkin tidak masuk akal. Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil, sebab Allah tidak terikat tempat dan waktu. Meski demikian, Maria yang suci dan takbernoda itu juga mengalami akibat dosa dan terkena kemalangan manusia, seperti penderitaan dan kematian. Maria mati sebagai akibat dari dosa manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, seperti halnya Yesus. Tetapi, kematian Maria tidak sama dengan kematian Yesus, sebab Yesus mati demi silih atau penebusan dosa-dosa manusia. Kematian Maria ialah kematian fisis- biologis semata dan bukan kematian fisis-teologis. Apa maksudnya? Kematian fisis-teologis ialah terpisah atau terputusnya secara definitif relasi manusia dengan Allah Penyelamat. Sedangkan itu, kematian fisis-biologis adalah kematian alamiah yang dialami oleh setiap makhluk, termasuk manusia karena kodratnya dapat mati. Demikianlah bahwa Maria mati sesuai kodrat manusiawinya yang dapat mati, tetapi ia tidak terpisah dari Allah berkat kasih karunia-Nya yang berlimpah di dalam Yesus Kristus.
Dalam hal ini, pemahaman iman yang dapat kita pelajari ialah bahwa Allah menyucikan hamba-hamba yang akan dipakai-Nya menjadi alat-Nya. Namun di antara hamba itu, Bunda Maria-lah yang suci dan berkelimpahan rahmat bahkan sejak ia dikandung seperti yang
disampaikan malaikat “Gratia Plena (Penuh rahmat)/Engkau yang dikarunia” (Lih. Luk 1:28).
Demikianlah Gereja mengimani bahwa Bunda Maria adalah suci sejak di dalam rahim ibunya, sebab Allah menyiapkannya untuk rencana-Nya yang lebih besar, yakni mengandung dan melahirkan Allah (Yang Kudus) (Lih. Mrk 1:24) di dan dari dalam rahimnya yang telah disucikanNya. Tentulah hal ini berangkat dari refleksi Gereja bahwa Allah tidak dapat bersatu dengan dosa. Oleh karena itulah, Allah sendiri menguduskan Bunda Maria agar ia layak dan pantas mengandung dan melahirkan Kristus.
4.Mengapa Maria dianggap "dikandung tanpa noda" dalam ajaran Katolik,?
Alasan Maria Dianggap Dikandung Tanpa Noda
Maria Dikandung Tanpa Noda adalah salah satu dari empat dogma Maria dalam Gereja Katolik, yang berarti bahwa Maria dianggap sebagai kebenaran yang diwahyukan secara ilahi, yang penyangkalannya merupakan bid'ah. Didefinisikan oleh Paus Pius IX dalam Ineffabilis Deus, 1854, dinyatakan bahwa Maria, melalui rahmat Allah, dikandung bebas dari noda dosa asal melalui perannya sebagai Bunda Allah:
“Kami mendeklarasikan, menyatakan, dan mendefinisikan doktrin yang menyatakan bahwa Perawan Maria yang Terberkati, pada saat pertama kali dikandungnya, atas karunia dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, mengingat jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia. umat manusia, yang terpelihara bebas dari segala noda dosa asal , adalah doktrin yang diwahyukan oleh Tuhan dan oleh karena itu harus diyakini secara teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman”.
Sejak abad ke-19, sebuah dogma telah mempunyai makna kebenaran wahyu ilahi yang diproklamirkan oleh ajaran Gereja dan oleh karena itu mengikat umat beriman selamanya;
sedangkan Dikandung Tanpa Noda hanya menegaskan kebebasan Maria dari dosa asal, Konsili Trente mengadakan antara tahun 1545 dan 1563, selain itu ditegaskan kebebasannya dari dosa pribadi. Konsep Maria Dikandung Tanpa Noda dalam Kitab Suci tidak secara eksplisit mendukung doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda, namun para teolog Katolik mengatakan bahwa dukungan alkitabiah juga tidak sepenuhnya hilang.
Kitab Suci tidak secara eksplisit menyatakan doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda (yaitu kebebasan dari dosa asal sejak awal kehidupannya). Gereja Katolik merenungkan pertanyaan ini selama berabad-abad, dengan mempertimbangkan teks-teks Alkitab yang tampaknya berkaitan dengan topik ini, setidaknya secara implisit. Sebagai hasil dari refleksi yang berkepanjangan ini, Pius IX mengeluarkan definisi dogmatis pada tahun 1854 yang menegaskan Maria Dikandung Tanpa Noda. Deklarasi ini (Ineffabilis Deus) menunjukkan bahwa ajaran tersebut telah diwahyukan secara infalibel oleh Allah melalui Tradisi Gereja yang hidup. Ada juga sejumlah bagian kitab suci yang dapat dikutip untuk mendukung ajaran tersebut. Salam malaikat dalam Luk 1:28 mengacu pada Maria sebagai "yang sangat dikaruniai" atau "penuh rahmat". Kedua terjemahan tersebut mengacu pada istilah Yunani kecharitomene, past perfect participle dari charis yang berarti pemberian, bantuan, atau anugerah. Dalam bahasa Yunani Alkitab, bentuk kata kerja ini menunjukkan kekekalan dan singularitas. Anugerah yang tunggal dan permanen dalam diri Maria pada dasarnya adalah konsep yang sama yang ditegaskan dalam dogma Dikandung Tanpa Noda.
Sumber bukti alkitabiah lainnya adalah referensi tentang Maria sebagai "Perempuan"
(misalnya Yoh 2 dan Yoh 19). Penginjil menyinggung tentang Hawa, yang disebut "Perempuan"
dalam Kejadian 2. Ada kesamaan lain antara kisah Penciptaan dan Kejatuhannya dalam kitab Kejadian dan kisah Penebusan dalam kisah Yohanes. Misalnya pohon pengetahuan yang menyebabkan kematian Adam di surga. Pohon salib menyebabkan kematian Yesus, Adam yang baru, dalam Yoh 19. Jadi ada persamaan alkitabiah tertentu antara Maria, Perempuan Ciptaan Baru, dan Hawa, Perempuan yang dibentuk dalam keadilan asali pada Penciptaan pertama ( yaitu sebelum Kejatuhan). Paralel ini dinyatakan secara eksplisit oleh para Bapa Gereja mula-mula seperti Justin Martyr (meninggal sekitar tahun 160) dan Irenaeus (meninggal sekitar tahun 220).
Tidak satu pun dari hal ini yang merupakan bukti eksplisit dari doktrin tersebut.
5.Mengapa konsep Maria Dikandung Tanpa Noda begitu penting dalam teologi Katolik?
Doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda
Doktrin Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, yang didefinisikan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854, menyatakan bahwa “Perawan Maria yang Terberkati, sejak saat
pertama dikandungnya, merupakan hak istimewa dan rahmat tunggal yang dianugerahkan oleh Allah, mengingat jasa-jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, terpelihara bebas dari segala noda dosa asal” ( Ineffabilis Deus ).
Bagi kita sebagai penganut iman Katolik, Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda bukan saja penting, namun penting. Karena kasih karunia Allah, Maria terpelihara dari dosa. Karena Maria dipelihara dari dosa, ia dipersiapkan untuk menjadi Bunda Yesus yang tidak berdosa, yang melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, telah menebus kita dari dosa. Karena Maria Dikandung Tanpa Noda, karena “ya”-nya kepada Allah, kita telah ditebus, dan diberi janji hidup kekal melalui jasa Putra Maria, Yesus.tingnya Konsep Maria Dikandung Tanpa Noda.
6. Bagaimana doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda tercermin dalam praktik keagamaan sehari- hari umat Katolik?
Konsep Maria Tak Bernoda dalam kehidupan Umat Katolik ?
Doktrin Dikandung Tanpa Noda menempatkan Bunda Maria di hadapan umat beriman sebagai contoh tentang apa yang dapat dilakukan Allah dan apa yang dapat kita lakukan, jika seperti Maria, kita menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan dan dalam pelayanan Tuhan, selalu terbuka terhadap apa yang Tuhan minta dan selalu cari. untuk memenuhi kehendak Tuhan.
Doktrin Dikandung Tanpa Noda juga mendorong kita untuk melakukan yang terbaik untuk tetap bebas dari dosa. Meskipun kita semua dilahirkan dengan dosa asal dan melalui rahmat Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa, dalam perjalanan hidup kita, karena kelemahan manusia, kita gagal dan berbuat dosa. Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda mengingatkan kita bahwa jika kita bekerja sama dengan rahmat Allah, seperti yang dilakukan oleh Perawan Maria yang Terberkati, kita dapat menjalani kehidupan yang sebisa mungkin bebas dari dosa.
7. Apa saja contoh konkrit dari bagaimana ajaran ini memengaruhi kehidupan moral umat Katolik?
Contoh konkret Dari pengaruh Doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda
Dalam hal keteladanan, ada beberapa hal yang perlu kita teladani dari Bunda Maria. Yang pertama, hal yang berkaitan dengan rasa takut. Sebagai seorang manusia, siapa yang tidak takut.
Maria pun mengalami hal demikian, karena Maria juga seorang manusia biasa. Yang perlu kita
teladani ialah iman yang dimiliki oleh Maria. Ketakutan Bunda Maria sirna oleh karena Bunda Maria memiliki iman yang besar kepada Allah.
Yang berikutnya adalah iman. Pada dasarnya, iman merupakan rahmat Allah sendiri. Namun, iman tidak akan bernilai dan tidak akan bebuah jika hanya melulu dari Allah tanpa respon dari manusia.
Dengan demikian, Maria adalah lambang dari setiap manusia yang mau mendengarkan, merenungkan, serta melaksanakan perintah Allah. Maka kepada Maria dihadiahkan buah hingga seratus kali lipat, yaitu suci dan tidak bernoda sejak Maria ada di Bumi ini hingga wafatnya.