BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan Allah SWT potensi paling unggul dibandingkan lainnya.1 Sebagaimana firman Allah SWT :
نَ نَسَٰ نإِ لۡٱ نَ نَ نَ
٣ نَ انَ نَ لۡٱ هُ نَ نَ نَ
٤
Artinya:”Dia menciptakan manusia, mengajarinya pandai berbicara.”
(Q.S Ar-Rahman/55: 3-4)
Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menerangkan bahwa potensi al- bayan sebagai potensi paling lekat dalam diri manusia untuk berkehidupan sosial, dimana manusia berpotensi memberikan suara dengan makna sesuai kesepakatan bersama untuk menciptakan pengertian satu dengan lainnya.
Komunikasi adakah sebuah aspek esensial didalam hidup manusia yang di pengaruhi komunikasi dengan individu lainnya, baik saling mengenali atau tidak.2 Dalam kontek komunikasi, keluarga termasuk pada komunikasi kelompok kecil.
Akan tetapi dari kelompok kecil inilah sebetulnya proses pendidikan dasar terbentuk.
1 Ahmad Sultra Rustan dan Nurhakki Hakiki, Pengantar Ilmu Komunikasi (Yogyakarta:
Penerbit Deepublish, 2017), h. 1.
2 Morissan, Teori Komunikasi: Individu Hingga Massa (Jakarta: KENCANA Prenadamedia Group, 2014), h.1
Proses komunikasi dalam keluarga dalam persfektif Islam, salah satunya di gambarkan dalam surat Ash Shaffat ayat 102. Seperti dikisahkan dalam ayat tersebut, Ibrahim ketika itu harus menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan Tuhan yang diperoleh lewat mimpi kepada anaknya, Ismail. Ketika Ismal telah sampai pada usia as-sa`ya, Ibrahim memanggil dan mengajak dialog secara persuatif, lalu Ibrahim menyampaikan isi mimpi tersebut. Lalu Ismail “lakukan apa yang diperintahkan itu, dan engkau akan mendapatiku dalam keadaan sabar”.3
Nyatanya, masih dapat di jumpai orangtua yang tidak mengetahui cara komunikasi secara tepat dan baik yang menjadi penyebab kesalahan pemahaman atau anak tidak memahami pesan tersebut. Dari hal kecil inilah kita sampai mendengar banyaknya berbagai macam kasus yang menyangkut tentang keluarga, verbal maupun dengan media terkait. Ditemukan kasus beragam seperti menyiksa, memukul, menganiaya, melecehkan hingga membunuh anak.4 Ironis memang jika kita mendengar berbagai macam kasus tentang keluarga, dan ironisnya pelaku adalah orangtua yang telah mengandung dan melahirkan, ataupun kerabat seperti saudara atau masyarakat sekita. Kekerasan verbal yang banyak terjadi yaitu kata tidak tepat yang berimbas pada anak sakit hati ataupun sebaliknya. Terutama didalam dunia pendidikan (sekolah) banyak terjadi berbagai macam masalah terhadap siswa, mungkin pada dasarnya disebabkan oleh keluarga. Berupa meremehkan kemampuan anak dengan kata-kata, membandingkan, menganggap
3 Nenny Kencanawati, Ahmad Rifai, “Komunikasi dalam keluarga; Tafsir Komunikasi Q.S Ash-Shaffat:102” dalam jurnal RASI (Bandung, Universitas Muhammadiyah Bandung, 2020) vol.2, No. 2, h. 36
4 Eny Hikmawati dan Chatarina Rusmiyati, “Kajian Kekerasan Terhadap Anak” dalam jurnal “Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial” (Yogyakarta, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Kementrian Sosial RI, vol. 40, No. 1, h.
25.
3
buru anak atau tidak berarti, melabeli anak buru ataupun memberi pernyataan tidak menyenangkan seperti anak tidak diharapkan hadir. Hal tersebut seharunya tidak terjai dikarenakan mempengaruhi arah berkembang anak mendatang.
Kompas.com memberitakan meningkatnya laporan kasus kekerasan pada anak atau perempuan mulai 2019 sampai 2021. Tingginya angka pada 2019 sebesar 11.057, 2020 sebesar 11.278, dan 2021 sebesar 14.517. Angka yang sangat banyak terjai pada anak yaitu 2019 sebanyak 12.285 kekerasan pada anak, 2020 senayak 12.425 dan 2021 kekerasan tersebut meningkat jingga 15.972. disamping itu, kekerasan pada perempuan terjaid peningkatan 2019 sebanyak 8.864, 2020 sebanyak 8.686, serta 2021 sebanyak 10.247. sementara peningkatan jumlah korban perempuan yang meningkat pada 2019 sempat terjadi penurunan pada tahun serupa namun kembali terjadi peningkatan pada 2021 hingga angka 10.368. mayoritas kekerasan pada anak yaitu kekerasan seksual, sementara perempuan yaitu fisik .5
Tentunya berbagai macam kasus tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dan nabi sebelumnya untuk membanti manusia dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan- permasalahan yang terjadi di kehidupan. Al Qur’an menjelaskan petunjuk untuk orang bertakwa, Firman Allah Swt:
نَ إِ نَ هُ لۡلِّ ىدهُ إِهِۛ إِ !نَهِۛ"لۡ#نَ نَ !هُنَسَٰ $إِلۡٱ %نَإِ &نَسَٰ
٢
Artinya: “Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S Al-Baqarah/2: 2)
5 ArditRamadhan, https://nasional.kompas.com/read/2022/01/20/12435801/laporan- kasus-kekerasan-terhadap-anak-dan-perempuan-meningkat-3-tahun
Beragam pembahasan didalam Al-Qur’an perihal komunikasi terkhusus orangtua pada anak dicontohkan pada kehidupan serta kisah umat terdahulunya, dimana penggambaran perihal model keluarga dengan pola komunikasi paling baik sepanjang sejarah hidup manusia.
Kisah Nabi Ibrahim merupakan salah satu contoh teladan yang paling luar biasa sebagai salah satu kisah keluarga terbaik dalam Al-Qur’an, yaitu :
ٓۥهُ )نَ*نَ نَ "+إِنَ ٱ,نَ -نَ إِ .نَسَٰ/لۡ0إِ 1ٓ إِة3نَنَ 4نَ 5ةٌ7نَ8لۡ09هُ -لۡ$هُنَ :لۡننَا;نَ دلۡ<نَ
Artinya: “Seseungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ...” (Q.S Mumtahanah/60: 4)
Ayat tersebut menjelaskan terdapat beragam hal sebagai teladan dari Nabi Ibrahim AS serta orang disekitarnya terkhusus anaknya, yaitu Nabi Ismail. Dimana sebagai sosok pembina keluarga sejahterja yang kemudian diabadikan Al-Qur’an sebagai teladan manusia sepanjang zaman. Keberhasilan Nabi Ibrahmi membina keluarganya dipengaruhi beragam faktor terkhsuus komunikasi orangtua dengan anak.
Disamping keberhasilannya mendidik keluarga, ada beberapa hal yang membuat penulis sangat tertarik untuk memilih Nabi Ibrahim pada penelitian.
Diantaranya ia merupakan Rasul Ulul Azmi yang memiliki ketabahan luar biasa.
Mulai dari Nabi Ibrahim ketika bayi terselamatkan oleh Namrud, kemudian dibakar oleh kaumnya sendiri, setelah ingin dibunuh oleh Namrud dan dibakar oleh kaumnya sendiri. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya.
Selain Rasul Ulul Azmi, ia juga diberi gelir Khalilullah dikarenakan selalu
5
menempatkan Allah sebagai prioritas dibandingkan lainnya dan senantiasa betawakkal.
Penelitian berfokus pad akomunikasi keluarga Nabi Ibrahim mencakup cara komunikasi dengan anak secara baik dan tepat serta penangkapan informasi oleh sang anak dengan optimal. Dimana hal tersebut akan dibahas secara rinci dalam penelitian, selain itu juga penyempurnaan kisah lainnya berupa komunikasi Nabi Ibrahim dengan Allah SWT serta ayahanda.
Oleh karena itu, penelitian diangkat berjudul “Nilai-Nilai Edukasi Komunikasi Ibrahim dan Keluarga dalam al-Qur’an”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pola Komunikasi efektif dalam keluarga menurut al-Qur’an?
2. Apa saja bentuk-bentuk nilai edukasi Komunikasi Ibrahim dan keluarga dalam al-Qur’an?
C. Tujuan Penelitian
a. Menunjukkan Pola Komunikasi efektif dalam keluarga menurut al-Qur’an..
b. Mengetahui bentuk-bentuk edukasi Komunikasi Ibrahim dan keluarga dalam al-Qur’an.
D. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis
Penelitian diharapkan bermanfaat guna mengembangkan pendidikan.
Terutama untuk jurusan jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
b. Secara Praktis
Penelitian menjadi wawasan, pandangan dan pembelajaran perihal perilaku yang wajib dilakukan orangtua dan anak terkhusus dalam berkomunikasi. Serta sebagai landasan bagi penelitian mendatang.
E. Definisi Operasional
Agar tidak adanya kesalahpahaman. Maka, penulis memberikan penjelasan terhadap istilah-istilah melalui penjelasan sebagai berikut:
1. Nilai
KBBI menjelaskans ebagai sifat yang esensial atau bermanfaat untuk hidup manusia.6 Nilai dari bahasa latin valere yaitu bermanfaatkan, berdayaguna, dan suatu hal bergunas atau paling tepat sesuai keyakinan individu ataupun kelompok.7
Esensi didalam suatu hal dengan makna berarti didalam kehidupan manusia terkhusus perilah kebaikan serta tindakan.8 Suatu hal dengan sifat abstrak, ideal serta tidak konkrit, tidak fakta serta bukan berarti benar atau salah guna memperoleh bukti empiris tetapi penghayatan sosial sesuai kehendak, kesenangan ataupun tidak.9
6 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h.783
7 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 57
8 M. Chabib Toha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), Cet. 1, h 61.
9 Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001), h.
98.
7
Purwadaminta menjelaskan sebagai sifat ataupun hal krusial serta berguna untuk manusia.10
Milton Rekeach dan James Bank dikutip Una Kartawisastra menguraikan sebagai sebuah tipe kepercayaan dalam lingkup sistem, dengan individu berperilaku atau penghindaran pada tindakan serta kepercayaan.11
Chabib Thoha nilai, yaitu sifat yang lekat dalam sistem kepercayaan terkait subjek dengan arti manusia dengan keyakinan. Maka, nilai adalah hal bermanafaat serta berguna bagu manusia guna acuan perilaku.12 2. Edukasi
KBII menjelaskan sebagai proses mengubah sikap serta perilaku individu maupun kelompok guna pendewasaan diri manusia dengan pengupayaan pengajaran serta latihan. Dictionary of Education menjelaskan sebagai wujud pendidikan dengan soisaliasi guna kemudahan pemahaman individu dari tidah tahu menjadi tahu.
Proses individu guna pengembangan kemampuan sikap serta bentuk perilaku didalam masyarakatnya. Proses sosial individu berhadapan dengan pengaruh lingkungan yang dipilih serta sesuai kontrol guna mendapatkan atau berkembang sesuai kemampuan sosial serta individu dengan maksimal.13
10 W.J.S. Purwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 677.
11 Una Kartawisastra, Strategi Klarifikasi Nilai (Jakarta: P3G Depdikbud, 1980), h. 1
12 M. Chabib Toha, Kapita Selekta., h. 61
13 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan Komponen MKDK, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h 4.
Suwarno mengutip dari Ki Hajar Dewantara, diman apendidikan bermaksud sebagai tuntutan setiap kekuatan kodrat didalam anak sebagai manusia serta anggota kemasyarakatan dalam ketercapaan keselamatan serta kebahagiaan paling tinggi.14
3. Keluarga
KBBI menjelaskan sebagai orang tua dengan anak serta seisi rumah.15 Keluarga merupakan sebuah unit paling kecil masyarakat didalamnya berisi orangtua serta anak yang terikat dan berpengaruh satu dengan lainnya untuk mewujudkan interaksi sosial.16
Menurut Mufidah, lembaga sosial paling dasar untuk mencetak kualitas manusia.17
Keluarga merupakan kumpulan individy yang hidup bersama didalam sebuah rumah dengan ikatan pernikahan, darah guna menjaga budaya secara general serta peningkatan setiap aspek perkembangan dari fisik, psikologis, emosional serta sosial. Keluarga adalah lembaga terpusat dalam masyarakat dengan konsep yang dinamis, terstuktur serta berfungsi seiring perjalanan waktu dengan fokus ketercapaian tujuan keluarganya.18 4. Komunikasi
14 Kartini, Kartono, Bimbingan dan dasar-dasar Pelaksanaannya..., h 2.
15 Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 277
16 Asih Kuswardinah, “Ilmu Kesejahteraan Keluarga” (Semarang: UNNES Press, 2019), h. 41-42
17 Mufidah Ch, “Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender” (Malang: UIN Press), h.
37-38
18 Elsa Mursafitri, dkk, “Hubungan Fungsi Afektif Keluarga Dengan Perilaku Kenakalan Remaja”, Ilmu Keperawatan, 2 (Oktober, 2015), h. 59.
9
KBBI menjelaskan sebagai proses mengirimkan serta menerima pesan dari dua individu ataupun lebih agar pesan tersamapikan dan dapat dipahami penerimanya.19
Menurut Alo Liliweri, mengalihkan sbeuah pesan dari sebuah sumberdaya pada penerima sehingga memperoleh pemahaman perihal suatu hal.20
Achmad S. Ruky, proses memindahkan serta menukarkan pesat dengan wujud fakta, gagasan, rasa, data ataupun informasi individu satu dengan lainnya.21
Kesimpulannya, komunikasi adalah proses menyampaikan pesan dari komunikator pada komunikan dengan media guna menumbuhkan akibat terkait secara langsung maupun tidak.
5. Orangtua
KBBI mengartikan sebagai ayah serta ibu kandung, atau individu yang dituakan, orang yang dihormati.22 Orang tua yaitu al-walid dalam bahasa Arab.23 Pada bahasa Inggris yaitu “parent” berarti “orang tua laki-laki atau ayah, orang tua perempuan atau ibu”.24
19 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: BalaiPustaka, 2001), h. 79.
20 Dr. Alo Liliweri, “Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan” (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2016), h. 5.
21 Achmad S. Ruky “Pengantar Ilmu Komunikasi” (Bandung: Sumber Ilmu, 2014), h. 1
22 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2002), h. 629
23 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Ara Indonesia Terlengkap, (Surabaya:
Pustaka Progresif, 1997) h. 1580
24 Atabih Ali, Kamus Inggris Indonesia Arab, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2003) h.
593.
Zakiah Daradjat, yaitu pendidik utama serta pertama untuk anak dikarenakan sebagai mula menerima pendidikan.25
Sedangkan menurut Husain Mazhahiri, yaitu ayah serta ibu kandung yang merawat, mendidik dan memimpin anak serta keluarga sebagai panutan anak-anaknya.26
6. Al-Qur’an
Sesuai istilah yaitu firman Allah SWT kemudian disampikan Jibril dari Allah secara langsung kepada Nabi Muhammd dan diterima muslin serta generasinya tanpa dirubah 27
F. Kajian Terdahulu yang Relevan
Landasan penelitian dengan keterikatan topik sebagai pelengkap.
Diantaranya:
a. Tinjauan Pustaka
Bukti orisinalitas penelitian ditunjukkan dengan perbedaan serta persamaan yang diperoleh peneliti dengan penelitian terdahulu:
1. Shofi Hidayatullah Akbar (2021), Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak (Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim di Dalam Al-Qur’an. Skripsi menunjukkan sikap orangtua pada anak perihal permintaan suatu hal yang
25 Zakiah Daradjat, “Ilmu Pendidikan Islam”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 35
26 Husain Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, (Panduan Lengkap Bagi Orangtua, Guru, dan Masyarakat berdasarkan ajaran Islam), (Jakarta: PT Lentera Basritama, 1999), h. 240
27 Anshori, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 18
11
harus dilakukan anak untk orangtua, tetapi menyulitkan anak. Sehingga diperlukan musyawarah antara orangtua dan anak.28
2. Nur Aisyah Hasibuan (2015), Etika Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan Anak Dalam Surah Luqman Ayat 12-19. Hasil menunjukkan sikap serta etika orangtua melakukan komunikasi dengan anak serta sebaliknya, melalui tafsir Surat Luqman ayat 12-19 menunjukkan perihal percakapan yang sesuai dengan etika didalamnya. Dikarenakan komunikasi merupakan jalur utama untuk saling memahami satu dengan lainnya.29 3. Rofi’i Hanafi (2021), Etika Berbicara Dalam Tafsir al-Misbah Karya M.
Quraish Shihab. Skripsi berissikan pembahasan kiat berbicara sesuai etika dalam Al Qur’an yaitu dengan orangtua, yang lebih tua, seumuran maupun yang lebih muda sesuai pemahaman Quraish Shihab dalam tafsir al- Misbah.30
4. Suliyono (2017), Penafsiran Ayat-Ayat Komunikasi Orang Tua dan Anak:
Studi Analisis Tafsir Lataif Al-Isyarat karya al-Qushayri. Tesis menunjukkan ayat perihal komunikasi orangtua dengan anak melalui pendekatan sufistik berlandaskan kitab Lataif al-Isyarat karya al- Qushayri. Dimana pembahasan mendalam perihal unsur serta model komunikasi yang dikaitkan dengan ayat terkait pemabahsan.31
28 Shofi Hidayaullah Akbar, “Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak (Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim di Dalam Al-Qur’an)”, Skripsi pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021
29 Nur Aisyah Hassibuan, “Etika Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan Anak Dalam Surah Luqman Ayat 12-19 “Skripsi pada Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan, 2015
30 Rof’i Hanafi, “Etika Berbicara Dalam Tafsir al-Misbah Karya M. Quraish Shihab”
Skripsi pada Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2021
31 Sulisyono, “Penafsiran Ayat Ayat Komunikasi Orang Tua dan Anak: Studi
AnalisisTafsir Lataif al-Isyarat” Tesis pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2017
5. Mashud (2018), Komunikologi Al- Qur’an (Pendekatan komunikasi Efektif Dalam Tafsir al-Misbah). Berisi kajian Al Quran sebagai landasan komunikasi dengan tafsir al Misbah terkait kajian komunikasi yang berfokus dalam kesan, pesan serta keserasian bahasa, serta karya ulama orde baru sebagai rujukan yang layak gun amenambah wawasan serta pengetahuan terkhusus tafsir yang terkait erat dengan situasi sosio- kulturan serta pemasalahan yang terjadidi Indonesia secara kompleks.32 6. Siti Zainab, (2017), Komunikasi Orang Tua Anak Dalam al-Qur’an (studi
terhadap QS. Ash- Shaffat ayat 100-102). Penelitian menujukkan kebersamaan serta kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi secara optimal, dimana terkait dengan ayat 102 dengan pengajaran bahwa komunikasi dua arah, terbuka serta terdapat empati dan dukungan didalamnya. Karakter individu didalam komunikasi sangat krusial yang dibangun dengan menekan kesalahpahaman ataupun ketidaksesuaikan melalui pemilihan bahasa secara tepat dan sesuai kebutuhan sehingga komunikasi berjalan optimal.33
7. M. Najib Tsauri, (2019), Pesan Moral Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam al-Qur’an (analisis metode tafsir tematik). Penelitian berisikan pembahasan urgensi komunikasi ayah dan anak yang terdapat lebih banyak pembahasan dibandingkan dengan ibu, terdapat penggambaran keharusan kedekatan antara ayah dan anak yang krusial selaras dengan kedekatan
32 Mashud, “Komunikologi al-Qur’an”, Disertasi pada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018
33 Siti Zainab, “Komunikasi Orang Tua Anak Dalam al-Qur’an (studi terhadap QS. Ash- Shaffat ayat 100-102” dalam jurnal NALAR (Palangkaraya, Institut Agama Islam Negeri Palangkaraya, 2017) Vol.1 , No. 1
13
dengan ibu. Terdapat ayat-ayat Al Qur’am yang berisikan pesan moral sesuai kisah didalamnya, seperti Luqman yang diajak bertauhid denga anaknya, Ibrahim dengan anak perihal akhlah serta kesopanan, Navi Nuh perihak nasehat, Nabi Ya’qub perihal mimpi serta kesabatan yang banyak dikisahkan dalam Al Qur’an guna memastikan pertumbuhan anak secara optimal.34
Dari uraian pustaka terdahulu tersebu ditunjukkan peluang penelitian mendalam terkait komunikasi anak dengan orangtua. Perbedaan penelitian yaitu berfokus pada pembahasan ayat komunikasi diantara ayah dengan anak bermetode tafsir tematik.
34 M. Najib Tsauri, “Pesan Moral Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam al-Qur’an analisis metode tafsir tematik dalam jurnal Al-Furqon (Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019)Vol. 2, No. 2
G. Sistematika Pembahasan
Penelitian mencakup 4 bab berisikan sub bab guna kemudahan membaca, diantaranya.
Bab pertama, barisikan latar belakang dan identifikasi permasalhan, batasan dan rumusan permasalahan, tujuan dan manfaat serta tinjauan oustaka.
Bab kedua, berisikan kerangka teori topik penelitian.
Bab ketiga, berisikan metode penelitian berisikan jenis, pendekatan objek serta metode pengumpulan data.
Bab keempat, bab ini bentuk Komunikasi Nabi Ibrahim dalam Keluarga menurut al-Qur’an.
Bab kelima, beriiskan penutup yang mencakup kesimpulan serta saran penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI A. Pengertian Nilai Edukasi
Nilai di konotasikan sebagai kebaikan atau hal berharga, bermanfaat dan bernilai positif.35 Sebagai pegangan dasar kehidupan dengan konsep abstrak sebagai acuan penelitian yang krusial dengan fokus pada kehidupan masyarakat.36
Tataran arti nilai sesuai kebahasaan yaitu:
1. Harga, yaitu segi ekonomi.
2. Derajat, sesuai pembuatan.
3. Harga, sesuai kapasitas mata uang.
4. Angka, yaitu dengan skala potensi didapatkan.
5. Kualitas dan Mutu, sesuai skala serta substansi.
Maka, nilai emrupakan suatu hal yang dinilai optimal kebernarannya dan bermakna dengan penjagaan eksistensi manusia ataupun kelompok masyarakat.37
Sedangkan dalam Dictionary of Education, upaya sosialisasi yang bertujuan memberikan pemahaman kepada individu dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan. Di sisi lain, merupakan proses di mana seseorang mengembangkan keterampilan, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan lingkungan sosialnya. Ini adalah proses sosial individu terpapar pengaruh
35 Sujarwa, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar:Manusia dan Fenomena Sosial Budaya (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), h. 229
36 Esti Ismawati, Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Yogyakarta: Ombak, 2012), h. 70
37 Sujarwa, Op. cit., h. 230.
lingkungan pilihan serta sesuai kontrol guna meningkatkan kemampuan sosial dan individu secara optimal.38
Ngalim Purwanto, menjelaskan sebagai usaha orangtua didalam pergaulan anak guna pimpinan perkembangan jasmai serta rohani menuju kedewasaan.
Pendidikan merupakan pemimpinan yang diwujudkan secara sengaja dari orangtua pada anak, dimana pertumbuhan berguna bagi dirinya sendiri serta masyarakat.39
Suwarno mengutip Ki Hajar Dewantara, tuntutan terhadal setiap kekuatan kodrati untuk anak sehingga menjadi manusia serta sebagai anggota masyarakat guna keteecapaian keselamatan serta kebahagiaan secara optimal.40
Paulo Freire yaitu aktivis pendidikan asal Brazil Pendidikan dianggap sebagai proses di mana nilai-nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab diteruskan dari sebuah generasi menuju generasi mendatang. Lebih pada sekadar transfer informasi, pendidikan harus membentuk kepribadian manusia.
Paulo Freire menentang pendidikan model Banking Education yang hanya memandang siswa sebagai wadah untuk menyimpan pengetahuan, di mana guru hanya menyalurkan informasi ke dalam kepala siswa seperti memasukkan uang ke dalam bank. Bagi Freire, pendidikan seharusnya mendorong kesadaran kritis, dimana menyebut sebagai Critical Consciousness. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga
38 Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan Komponen MKDK, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 4.
39 Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 10.
40 Kartini, Kartono, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya…, hal. 2.
22
membangun kemampuan untuk menginterpretasikan masalah dan memahami hubungan sebab-akibat dalam berbagai konteks41
Pendidikan merupakan proses pemberian beragan situasi guna pemebrdayaan diri yang mencakup aspek pertimbangan, diantaranya:
a. Kesadaran b. Mencerahkan c. Memberdayakan d. Merubah perilaku
Beragam teori serta konsep perndidikan memiliki beragam arti yaitu diskusi perihal tindakan efektif yang dinamis guna pemberdayakan manusia, tercerahkan, sadar serta mendorong manusia sesuai mestinya.
Pendidikan terkait pandangan manusia serta pandangan perihal manusia memiliki implikasi terhadap pendidikan.
Dalam konteks ini, edukasi atau pendidikan merupakan upaya yang disengaja dari pendidik terhadap anak dalam berbagai bentuk pembelajaran formal, non-formal hingga informal untuk pengembangan potensi. Tujuannya adalah agar potensi ini memberikan manfaat diri individu serta lingkungan sekitarnya.
Secara keseluruhan, nilai edukasi mencakup setiap hal memberikan nilai serta pedoma proses pendidikan manusia menuju kedewasaan, dalam hal
41 Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, h. 31
positif maupun negatif, sehingga dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam kehidupan individu. Jadi, pendidikan tidak sekedar mentransfer pengetahuan tetapi mendorong pembentukan karakter serta nilai guna membantu individu berkontribusi secara positif dalam masyarakat.
B. Macam-Macam Nilai Edukasi
Muhammad Daud Ali dalam buku “Pendidkan AGAMA Islam”
menjealskan nilai edukasi terbagi tiga macam dengan menekankan agama merupakan sebuah kesadaran secara mendalam dalam hati yang tidak hanya mencakup aspek lahiriah, namun pribadi manusia secara menyeluruh. Nilai edukasi religius guna mendidikan agar manusia memperbaiki diri sesuai pengajaran agama yang memahami Allah SWT:
1. Nilai Edukasi Religius
Kesadaran yang mencapai kedalaman batin manusia, dimana tidak cukup mempengaruhi aspek-aspek kehidupan lahiriah namun merentang ke seluruh manusia secara keseluruhan dengan tujuan pendidikan individu menjadi berkemajuan sesuai dengan ajaran agama, megingat Allah, mematuhi perintah Allah serta tidak mendekati larangan yang ditetapkan.
24
2. Nilai Edukasi Moral
Perbedaan kemampuan diantara perilaku secara baik maupun tidak dengan diajarkan pada pendidikan guna membimbing manusia dalam memahami perbuatan patut diikutis serta sebaiknya dihindari. Hal ini bertujuan untuk menciptakan tatanan hubungan antar manusia didalam masyarakat secara positif, serta memberikan manfaat untuk individu lainnya.
3. Nilai Edukasi Sosial
Kata "sosial" mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan didalam masyarakat atau umum. Dimana nilai tersebut adalah pelajaran yang diperoleh dari perilaku individu pada peristiwa disekitarnya dengan memiliki kaitan pada individu lainnya. Nilai pendidikan sosial membantu manusia menyadari urgensi hidup bersama dan membangun keterikatan keluarga satu individu dengan lainnya. Kehidupan dalam masyarakat seharusnya melibatkan sikap saling membantu dalam hal kebaikan.42
C. Hakikat Komunikasi dan Tujuannya
Komunikasi secara etomologi yaitu communication didalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin communis yaitu “sama”, communico, communicatio, atau communicare yaitu “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) yaitu mayoritas guna asal muasal komunikasi sebagai akar kata dengan latin lain yang serupa dengan saran pada pemikiran, makna serta pesan dianut bersamaan dan serupa.43
42 Muhamad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), h. 357- 358.
43 Zeni Murtafiati Mizani, “Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Islam (Tinjauan Pedagogis Komunikasi Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail dalam Al-Qur’an)”. Ibriez, vol.2, no.1 (2017): 97
Secara terminologi, komunikasi memiliki berbagai pengertian yang dapat dijabarkan.
Komunikasi merupakan proses serta tindakan penyampaian pesan dari pengirim pada penerima dengan media yang seringkali terganggu. Diman akomuniasi harus bersifat disengaja dan memiliki potensi untuk membawa perubahan.44
Proses menukar serta memaknai pesan didalam pikiran individu serta kelompok lainnya denga interaksi sosial yang terjadi langsung ataupun tahap muka serta non-tatap muka.45
Komunikasi dapat dianggap sebagai sistem yang mengatur pengiriman pesan agar diterima oleh penerima, bertujuan akhir sesuai ketetapan. Proses komunikasi dengan pelibatan transfer tanda maupun simbol, secara verbal atau non-verbal didasarkan dengan upaya mencapai pemahaman yang sama diantara pengirim dan penerima terhadap pesan yang disampaikan.46
44 Muhamad Mufid, Etika dan Filsafat Komunikasi (Jakarta: Prenada media group, 2009), h. 54.
45 Rachmat Kriyantono, Pengantar Lengkap llmu Komunikasi: Filsafat dan Etika Ilmunya serta Perspektif Islam (Jakarta: Prenada media Group, 2019), h. 156.
46 Alo Liliweri, Komunikasi: Serba Ada Serba Makna (Jakarta: Kencana, 2011), h. 37.
26
Komunikasi didalam proses dengan keterlibatan pertukaran tanda ataupun simbol verbal serta non verbal dengan orientasi didalam pemahaman serupa diantara komunikator serta komunikan guna pemaknaan simbol dalam ketercapaian tujuan.
Maka, komunikasi merupakan aktivitas atau tindakan manusia guna penyampaian pesan dengan makna untuk dimengerti penerima, agar tujuan yang diinginkan tercapai. Komunikasi dinyatakan berhasil guna ketercapaian tujuan ketika pemberi serta penerima pesan mempunyai pemahaman yang sama pada makna pesan tersampaikan.
Komunikasi yaitu interaksi verbal atau non-verbal di dalam keluarga.
Komunikasi keluarga mencakup dialog diantara keluarga dengan melibatkan pertukaran gagasan, ide, keinginan maupun ekspresi. Komunikasi ini dapat berupa kata-kata, isyarat, gerakan, atau simbol lainnya yang membantu menciptakan pemahaman dan kesepahaman di antara anggota keluarga.
Penelitian berfokus pada komunikasi orangtua ke anak serta sebaliknya dalam lingkungan keluarga. Komunikasi keduanya dengan tujuan mendidik serta membimbing anak-anak untuk mengenali Allah dan untuk mengajarkan ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya.
Dalam Islam, komunikasi didasarkan pada prinsip dengan sumber dari Al- Qur’an serta sunnah guna terjalinnya hubungan yang harmonis antara individu dengan dirinya sendiri, Sang Pencipta (Allah), dan sesama manusia.
Komunikasi dalam konteks ini diarahkan untuk membawa rasa damai, ramah
serta keselamatan melalui menaati perintah Allah serta mengikuti teladan Rasul.
Sementara komunikasi secara general bertujuan yaitu:47 1. Pesan tersampaikan guna di mengerti.
2. Pemahaman individu lainnya 3. Gagasan diterima individu lainnya
4. Penggerak individu lainnya guna menjalankan suatu hal.
Tujuan utama komunikasi adalah mentransfer pemahaman dari penyampai pesan pada komunikan sehingga mereka memperoleh pemahaman baru untuk dipahami.
Dalam konteks komunikasi pasangan, tujuannya guna pemahaman satu sama lain, memahami perasaan, keadaan dan situasi, serta terciptanya keinginan dan tujuan bersama didalam komitmen pernikahan.48
Dwiningtyas dimana Montgomery menguraikan komunikasi efektif merupakan skala kemampuan pasangan guna berhubungan interpersonal didalam keluarga, menanggapi serta memahami perkataan serta pemeliharaan pengertian dengan komunikasi dijalankan.49
47 Isra Wahyuni, “Metode Komunikasi dalam Al-Qur’an” (Skripsi S1., Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam, 2018), h. 32.
48 Bonifasia Agiesta Dwiningtyas, “Hubungan Komunikasi Interpersonal Antara Suami- Istri dengan Kepuasan Perkawinan Pada Istri yang Bekerja” (Skripsi S1., Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2018), h. 19
49 Bonifasia Agiesta Dwiningtyas, “Hubungan Komunikasi Interpersonal,” 20
28
Alo Liliweri didalam buku menguraikan komunikasi mencakup hal berikut:
D. Pola Komunikasi dan Jenis-Jenis Pola Komunikasi 1. Pengertian Pola Komunikasi
Kalimat majemuk mencakup komunikasi serta pola dengan tiap kata mempunyai makna tersendiri disaat bersandarkan kata lainnya, sehingga diperlukan pengungkapan makna kedua oleh ahli.
KBBI menjelaskan sebagai sistem ataupun stuktur konstan dengan pola sendiri dinyatakan sebagai contoh.”50
William I. Gorden menguraikan komunikasi pada baahsa Inggris yaitu "communication", berasal dari bahasa Latin "communis". Keduanya berartu "membuat bersama atau membangun kebersamaan diantara dua individu ataupun lebih". Kata "communis" dianggap guna akar kata dari istilah "komunikasi".51
50 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 1996), h. 885
51 M.Si. Dr. Yasir, Buku Pengantar Ilmu Komunikasi Sebuah Pendekatan Kritis Dan Komprehensif (Riau: Pendidikan Deepublish, 2020), h. 4
Secara terminologi, berdasarkan banyak pendapat peneliti, Everett M. Rogers didalam bukunya "Prinsip-prinsip Komunikasi dalam al- Qur‘an" karya Muhammad Haramain;
“Komunikasi merupakan proses tranfser ide dari sumber pada seorang penerima ataupun lebih guna perubahan perilaku”
M. Rogers menganggap komunikasi merupakan proses interaksi antara individu atau kelompok dengan tujuan menciptakan merubah sikap ataupun mindset setelah penyampaian informasi. Tujuannya adalah untuk mencapai kesepahaman, rasa ingin menciptakan kebersamaan serta harmonisasi dalam hidup.52
Selanjutnya, pola komunikasi yang telah terbentuk memiliki makna yang penting dalam konteks komunikasi. Para ahli, seperti Bahri Syaiful Djamarah, menjelaskan bahwa sebagai pola hubungan diantara individu dua ataupun lebih, yang dilakukan dengan sesuai untuk memastikan terciptanya pemahaman antara pemberi pesan dan penerima pesan.53
52 Muhammad Haramain, Prinsip-Prinsip Komunikasi Dalam Al-Qur’an, ed. M. Ali Rusdi Bedong (Parepare: IAIN Parepare Nusantara Press, 2019), h. 8.
53 Bahri Syaiful Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga (Jakarta: PT. Reneka Cipta, 2004), h. 12.
30
Melihat definisi tersebut, kita bisa mengaitkannya pada konsep pola seperti dalam proses pembuatan pakaian. Pembuatan pakaian diawali pola dengan mencipatakan yang sesuai ukuran serta jenis bahan digunakan. Pola disesuaikan tergantung pada kebutuhan dan perubahan yang diperlukan.
Dari pola ini, kita dapat menentukan model serta bentuk pakaian.
Kemudian, hasil akhir dari pembuatan pakaian akan tampak jelas. Kualitas akhir dari pakaian tersebut sangat dipengaruhi bahan serta ornamen sesuai pilihan untuk digunakan, yang harus sesuai dengan kesepakatan dan kebutuhan. Maka, pemahaman komunikasi memiliki sifat yang fleksibel dan serta dinamis. Simbol bahasa digunakan serta sesuai kesepakatan sebuah kelompok sebagai penentu utama akibat pengaruh pola komunikasi yang terbentuk.
2. Jenis-Jenis Pola Komunikasi
Didalam komunikasi verbal terdapat pertanyaan, dialog, perjanjian serta ancaman serta lainnya guna menyampaikan pesan perihal sasaran serta efektif.54 Adapun uraian pola komunikasi didalam komunikasi yaitu:
54 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Komunikasi dan Informasi (Jakarta:
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2011), h. 212.
a. Pertanyaan
Ungkapan berisi pertanyaan dengan kata tanya apa, bagaimana dan lainnya atau diartikan sebagai istifham dalam bahasaArab yang banyak dijumpai dalam al-Qur’an dengan pemaknaan yang beragam.55
Istifham guna mencari informasi serta pemahaman perihal suatu hal yang tidak diketahui. Didalam bahasa Arab, istifham (kata tanya) dibagi dua yaitu istifham, yaitu berbentuk hamzah dengan arti apakah dan, isim istifham, yakni mā (apa), man (siapa), kaifa (bagaimana), mata (berapa), ayyāna (bilamana) anna (dari mana), kam (berapa), aina (di mana), ayyu (apa, siapa).
b. Dialog (Tanya-Jawab)
Perkataan diawal yaitu pertanyaan, serta jawaban adalah perkataan yang dikembalikan.56
Komunikasi didalam keluarga antara orang tua dan anak, di mana orang tua bisa mengajukan pertanyaan kemudian diberi jawaban anak mereka.
Sebaliknya, anak juga dapat bertanya perihal yang tidak diketahuinya, kemudian orangtua memberikan jawaban.
Dialog adalah sarana untuk menyampaikan inspirasi dan aspirasi yang tersimpan di dalam hati manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam pikiran dapat diungkapkan melalui dialog, yang dalam
55 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Komunikasi dan Informasi, h. 212.
56 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Komunikasi dan Informasi, h. 216
Islam diberikan perhatian besar dengan penekanan pada kaidah dan etika yang sesuai.57
c. Sumpah
Kata aqsam merupakan bentuk jamak dari isim maṣdar qasam yaitu sumpah. Muqsam bihi yaitu suatu hal yang disumpahkan, muqsam
‘alaihi yaitu suatu hal yang ada didalam sumpah, dan al-qasam yaitu jawaban. Qasam ialah sumpah, terdiri daris dua macam, yakni Allah dan manusia. Dalam keseharian manusia banyak menggunakan kalimat sumpah guna penguatan pesan serta berposisi yang tinggi, seperti Allah .
d. Janji dan ancaman
Al Qur’an berisikan contoh berupa janji serta ancama, yaitu janji Allah kepada hamba-Nya dengan pola terkait yaitu melalui kata wa‘ada sebagai janji bernada konotasi positif, serta anẓara yaitu peringatan ataupun penyampaian ancaman.
Orangtua yang berjanji pada anak didalam komunikasi guna menjalankan suatu hal dan menyampaikan pesan sehingga anak mendapatkan dorongan guna menjalankan sebuah pesan tersampaika.
Selaras dengan ancaman, disaat anak tidak mau melaksanakan suatu hal jika memperoleh ancaman dari orangtua.
e. Amsal/Perumpamaan
57 Afrizal El Adzim Syahputra, “Proses Berpikir Nabi Ibrahim As. Melalui Dialog dengan Tuhan dalam Al-Qur’an”. Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, vol.12, no.02 (2018):
163.
Suatu perkataan dengan kerumitan tinggi sehingga lebih mudah dipahami apabila dilakukan dengan memberi pengumpamaan serta analogi pada suatu hal yang telah diketahui, sehingga kata tersebut menjadi lebih menarik serta indah. Disebut juga sebagai Tamsil sebagai dorongan jiwa untuk kemudahan penerimaan pesan tersampaikan serta gaya bahasa dlama Al-Qur;an dengan pengungkapan beragam uraian.
Masih banyak Pola-pola Komunikasi yang seperti:
a. Pola Komunikasi Primer
Onong Uchjiyana Effendy, dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, suatu proses komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan melalui lambang untuk media atau saluran, yang dikategorikan yaitu verbal dan nonverbal.
Lambang verbal terutama menggunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan maksud atau pesan komunikator. Sementara itu, lambang nonverbal mengacu pada cara penyampaian pesan tanpa menggunakan bahasa, seperti gambar atau isyarat tubuh seperti gerakan tangan, mata, kepala, dan bibir.
Lambang nirverbal pada buku Onong Uchjana Effendy, Ray L. Birdwhistel mengungkapkan “Body Communication is comprehensive coding scheme”,gerakan anggota badan sebagai kode serta respon untuk diketahui sebagai bentuk komunikasi.58
58 Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 35.
34
Tetapi, komunikasi melalui gerak anggota badan mempunyai kelemaham dikarenakan kesimpulan yang didapatkan tiap individu berbeda, maka terjadi kerentanan pemahaman.
Sehingga lambang nirverbal adalah pembantu dan dapat disempurnakan jika dalam digunakan dengan paduan keduanya.59
Pola komunikasi primer atau model klasik oleh Aristotle yang berkembang secara pesat dalam retorika Yunani.60 Dimana sebagai sosok yang terkenal dikarenakan kehandalannya memberikan pidato pembelaan secara publik.sehingga pemikirannya terus dikembangkan melalui kemunculan tiga unsur komunikasi yaitu pengirim, pesan serta penerima sebagai rumus model komunikasi.61
59 Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 11-14.
60 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 134
61 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 41
Model komunikasi Aristoteles:62
Gambar 1. Model Matematial Shannon dan Weaver
Komunikasi retoris oleh Aritotles yaitu public speaking merupakan kecakapan yang esensial pada zamannya berisikan unsur ajakan yang terlibat didalamnya. Aristotles turut mengungkapkan media ajakan berupa unsur efektif guna melakukan pidato.63 Komunikasi tersebut dianggap sebagai komunikasi paling sederhana serta langsung karena tidak melibatkan unsur nirverbal dalam upaya persuasi dan tidak menggunakan media sebagai alat. Penggunaan lambang bahasa serta isyarat dalam komunikasi primer, tubu digabungkan guna penyampaian pesan serta meresponsnya.
Aristoteles meyakini bahwa kunci keberhasilan komunikasi terletak pada bahasa dengan peran sebagai media penyampai informasi serta memungkinkan individu lainnya menerima serta mengerti informasi yang disampaikan. Terdapat jenis pengetian bahasa secara umum, diantaranya denotatif (makna sesungguhnya) serta konotatif (memunculkan persepsi ganda, bersifat emosional atau evaluatif). Pentingnya menggunakan kata-kata dengan makna denotatif adalah untuk menghindari kesalahpahaman dan
62 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi..., h.41
63 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, h. 135.
memastikan pesan disampaikan tanpa menimbulkan persepsi ganda.
64 Penerapan pola komunikasi primer didalam komunikasi persona berupa komunikasi intrapersonal serta interpersonal.65
b. Pola Komunikasi Sekunder
Penyampaian pesan oleh komunikator pada komunikan melalui media kedua pasca penggunaan lambang dalam media pertama. Media dipilih sesuai sasaran pesan pada ditempat jauh serta berjumlah banyak. Perkembangan pola komunikasi berbantuan TIK yang dinamins maka menodorong efektivitas didalamnya.
Kemunculan ide komunikasi yaitu oleh Aristoteles dengan ilham dari sarjana politik Amerika, Harold D. Lasswel, (pada tahun 1984) dengan rancangan model komunikasi yaitu formula Lasswell.
66
Formula Lasswell yaitu:
Gambar 2. Model Matematial Shannon dan Weaver
Didalam formuna tersebut mencakup unsur siapa, apa (mengatakan, melalui), pada siapa serta apa akibatnya. Siapa menguraikan penyampai pesan dan pemberi informasi).67 Unsur
64 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar..., h. 135–136.
65 Djalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h.
48 dan 79
66 Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 42.
67 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, h. 136–137.
“mengatakan apa” terkait pesan yang disampaikan, unsur “melalui apa” yaitu media yang digunakan atau sebagai sarana komunikasi, unusr “kepada siapa” yaitu siapa penerimanya, dan “apa akibatnya” yaitu respon pesan yang diberikan.68
c. Pola Komunikasi Linear
Linear yang banyak dijumpai dalam buku matematika, yaitu perjalanan yang dilakukan lurus dari satu titik ke titik lainnya, tanpa belokan. Pola komunikasi linear menggambarkan proses di mana komunikator mengirimkan pesan langsung kepada komunikan.
Proses ini sering terjadi secara tatap muka (face to face), namun terkadang juga melalui media sebagai perantara. Guna meningkatkan keberhasilan dan efektivitas komunikasi, guna merencanakannya.69
Teori tematik sebagai akar komunikasi permesinan (engineering communication), Shannon dan Weaver dengan penerapan komunikasi manusia (human communication), seperti dalam Effendy dalam buku pengantar ilmu komunikasi. Model matematikal diaplikasikan guna penggambaran komunikasi sebagai proses linear.70
Cangara memberi gambaran secara jelas mengenai matematial Shannon dan Weaver,71 yaitu:
68 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar..., h. 138.
69 Sendjaja, Teori Komunikasi (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2005), h. 77.
70 Effendy, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, h. 257.
71 Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 41.
38
Gambar 3. Model Matematial Shannon dan Weaver
Bagan berisi penggambaran pemahaman yaitu sumber informasi dengan produksi pesan guna komunikasi, lalu perubahan pesan sebagai isyarat sesuai penyampaian sebagai isyarat dari pengirim pada penerima untuk dioperasikan. Destination merupakan tujuan berupa orang ataupun benda tujuan pada pesan yang dituju.72 Perspektif transmini meninjau komunikasi sebagai transfer informasi pada sumber penerima. Dimana model linear yang bergerak dari satu tempat ke lainnya dengan menekankan pada peran media serta waktu untuk memberikan informasi.73
Berdasarkan paparan di atas, komunikasi linear memang sering diaplikasikan dalam komunikasi yang menggunakan media karena prosesnya tidak membutuhkan respons langsung dari komunikan. Tetapi, komunikasi linear dapat terjadi langsung (face to face), meskipun dalam konteks ini komunikan cenderung berperan lebih pasif. Sebagai contoh, dalam situasi di mana seorang ayah sedang memarahi anaknya yang mungkin hanya diam dan tidak
72 Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, h. 138.
73 Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, 51.
memberikan respons atau tanggapan aktif terhadap pesan yang disampaikan oleh ayahnya. Komunikasi tetap berlangsung secara satu arah dari komunikator (ayah) ke komunikan (anak), tanpa adanya interaksi balik yang terjadi secara aktif dari komunikan.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa komunikasi yang efektif sering kali melibatkan interaksi dua arah, di mana kedua pihak terlibat aktif dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan untuk mencapai pemahaman yang lebih baik.
d. Pola Komunikasi Sirkuler
Pola penggambaran komunikasi berupa proses dinamis dengan pesan disampaikan melalui encoding (penyandian) oleh sumber pesan dan didekoding (penyandian) oleh penerima.
Encoding adalah proses di mana sumber mentranslasikan pesan, sedangkan decoding adalah proses di mana penerima mentranslasikan pesan diterima dari sumber. Keterikatan keduanya merupakan interaksi simultan dari peneriman dengan pengirim yang terkait satu dengan lainnya.74
Proses dinamin didalam pola sirkular interpreter dapat berfungsi ganda yaitu guna pengirim serta penerima dengan tahapan awal berperan guna encoder serta penerima yaitu decder. Namun, penerima berperan sebagai encoder serta sumber sebagai decored.
Maknanya, sumber awal ebrtukar peran dan terus belanjut.75
74 Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi..., h. 44.
75 Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi..., h. 45.
40
Tokoh perihal komunikasi sirkuler adalah Osgood dan Schramm , atau Model Sirkuler Osgood dan Schramm, yaitu:
Gambar 4. Model Sirkuler Osgood dan Schramm,
Model komunikasi Shannon dan Weaver ataumodel komunikasi matematis atau linear, dimana menekankan proses komunikasi berakhir pada penerima pesan. Namun, berbeda dengan pendekatan Osgood dan Schramm dalam Model Sirkulernya, dimana sumber dan penerima dalam posisi yang sama. Maknanya, komunikasi dapat dimulai dan diakhiri kapan pun dan di mana pun.
Pesan disampaikan secara berkelanjutan karena adanya respons antara komunikator dan komunikan. Keberhasilan komunikasi dalam model ini dinilai dari kualitas feedback diperoleh.76
E. Bentuk Komunikasi yang Ideal dalam Keluarga
76 A.G Fallis, “Pola Komunikasi” Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2016): 68.
Beragam panduan dalam Islam guna berkehidupan secara optimal berisikan etika berkomunikasi serta etika yang dibutuhkam. KBBI menjelaskan etika sebagai ilmi perihal kaulitas serta hak dan kewjaiban mora, sekumpulan nilai terkait akhlah serta asas perilaku sebagai pedoman.77 Etika didalam komunikasi sangat esensial baik intrapersional didalam pergaulan ataupn dengan lingkungan sekitarny.
Al-Qur’an menjelaskan qaul terkiat erat dengans ifat tertentu kemudian dikelompokkan dengan kaidah maupun etika komuniaksi, diantaranya:
1. Qaulan Karima
Qaulan Karima (Perkataan yang baik). Ditegaskan dalam QS. Al- Isrā: 23:
77 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 399
42
Quraish Shihab menjelaskan ayat ini dimulai dengan perintah untuk menghindari menyekutukan Allah dan menghormati kedua orang tua, serta menjaga mereka dengan sebaik-baiknya. Ayat tersebut mengakhiri dengan perintah untuk berbicara kepada kedua orang tua dengan kata-kata yang baik dan terhormat sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini menekankan bahwa kita harus tidak hanya menyampaikan kebenaran dan kesesuaian dengan norma- norma sosial yang baik kepada kedua orang tua, tetapi juga harus menggunakan kata-kata yang terbaik dan penuh kemuliaan dalam komunikasi.78
Al-Baghawi mengumpamakan qaulan kariman didalam tafsir yaitu perkataan budak bersalah pada tuannya yang kasar79 Thabari menjelaskan sebagai mengatakan suatu hal dengan baik dan paling baik.80 Ibn Katsir menjelaskan sebagai suatu hal yang wajib dihormati.81 Imam Nawawi al- Bantani menjelaskan sebuah perkataan yang diiringi kebaikan.82 al-Biqa’i perkataan dengan ridho Allah dimana terkandung didalamnya kelembuhan dan kebaikan, bukan hal yang buruk sehingga menyebabkan kesempitan.83
2. Qaulan Layyinan
78 M. Quraish Shihab, Tafsir al-misbah: Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, (Jakarta, Lentera Hari, 2022), juz 7, h. 546
79 Abu Muhammad al-Husein bin Mas’ud al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, (Beirut, Daar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1998), Juz 5, h. 86.
80 Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tafsir ath-Thabari Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al- Qur’an, (Beirut, Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001), juz 17, h. 417.
81 Abu al-Fida Isma’il, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, (Beirut, Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1998) Juz 5, h. 64
82 Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantani, Maroh Labid Li Kasyfi Ma’na al Qur’an al-Majid, (Beirut, Daar al-Kitab al-‘Ilmiyah, 1996), juz 1, h. 622.
83 Ibrahim bin Umar al-Biqa’i, Nadhmu al-Durar fi Tanasubi al-Ayat wa al-Suwar, (al- Qahirah, Daar al-Kitab al-Islami, 1992), Juz 11, h. 402
Etika yang berasal dari kata “laa na” yaitu lunak, lentur, lembek, dan sebagainya,84 tetapi apabila dinilai dengan komunikasi maka diartikans ebagai kelembutan atau etika yang dianjurkan untuk berbicara secara baik, sopan dan penuh kebaikan. Hal tersebut termaktub dalam QS. Ṭaha (20):43-44:
Dijelaskan perihal dakwah Nabi Musa A.S dan Nabi Harun A.S terhadap Fir'aun. Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan bahwa cara berdakwah yang diajarkan Allah melalui Nabi Musa adalah dengan meninggalkan penggunaan kata-kata kasar dan menggantinya dengan kata-kata yang lembut. Hal ini karena kata-kata yang lembut lebih mudah diterima oleh pendengar dan dapat mendorong mereka untuk memikirkan pesan yang disampaikan secara lebih mendalam.85 Ibn menjelaskan sebagai komunikasi menggunakan kata yang bermakna dorongan, penawaran, dan permintaan untuk patuh. Komunikator menunjukkan hak u ntuk menerima atau menolak suatu hal, baik itu hal yang baik maupun buruk. Namun demikian, penting untuk tidak menggunakan kata-kata yang
84 https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/ di akses pada 24 April 2024
85 Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa Syari’ah wa al-Manhaj, (Damaskus, Daar al-Fikr, 1991), Juz 16, h. 205.
44
mencerminkan egoisme atau hanya mempertimbangkan kepentingan diri sendiri.86
Al-Maraghi terkait tujuan dalam tafsir qaulan layyinan yaitu ucapan mendalam serta lemah lembut dikarenakan berdasarkan dalam diri serta perihal dakwah nabu Musa dan Harus dengan mendorong kesuksesan dakwah melalui pelembutan hati terkhusus orang-orang durhaka.87 Anjuran berbicara dengan baik dan ramah tanpa terdapat kata yang kasar, mudah dipahami mudah serta tidak sulit dipahami.88
Al-Wahidi mengibaratkan qaulan layyinan yaitu apabila Fir’aun akhirnya beriman sehingga memperoleh beragam hal berupa nikmat, umur panjang, kesehatan dan masuk surga.89 Mawardi menguraikan terdapat kategori yaitu wajah ramah serta baik dan perumpamaan.90 Tsa’labi menegaskan untuk tidak berkata kasar atau mencelar.91 Kebijaksanaan dibutuhkan dalam berdakwah serta mengaitkannya dengan ucapan yang baik serta tidak menyakuti hati, dikarenakan terdapat poin krusial didalam dakwah yang akan disampaikan oleh Quraish Shihab.92
86 Muhammad Thahir ibn Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, (Tunis, al-Daar al-Tunisiyah li al-Nasyr, 1984), Juz 16, h. 225
87 Ahmad ibn Mustofa al-Maragahi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir, Musthafa al-Bab al- Halabi, 1946), Juz 16, h. 114.
88 Isma’il Haqi bin Musthafa al-Istanbuli, Ruuh al-Bayan, (Beirut, Daar al-Fikr), Juz 5, h.
388
89 Abu al-Hasan ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali al-Wahidi, al-Wajiiz fi Tafsir al- Kitab al-‘Aziz, (Beirut, Daar al-Qalam, 1994), h. 696.
90 Mawardi, Tafsir al-Mawardi, (Beirut, Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), juz 3, h. 405
91 Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir al- Qur’an, (Saudi, Daar al-Tafsir, 2015), juz 17, h. 535.
92 M. Quraish Shihab, Tafsir al-misbah: Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, juz 2, h.
306.
Kisah Fir'aun yang sombong dan congkak memang mengajarkan kita bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan pesan dengan lemah lembut, meskipun Fir'aun mengklaim dirinya sebagai tuhan.
Bagi mereka yang tingkat kesombongannya tidak sebesar Fir'aun, tentu cara yang digunakan dalam berdakwah atau mengajak mereka harus lebih lembut. Pendekatan yang penuh kelembutan dan hikmah adalah cara yang disarankan dalam Islam untuk membangun pemahaman dan memenangkan hati orang lain. Hal ini karena pendekatan yang lembut lebih mungkin diterima dan dapat membuka pikiran mereka untuk menerima pesan yang disampaikan.
46
3. Qaulan Balighan
Qaulan Balighan disebut sekali dalam al-Qur’an, Firman Allah SWT:
Balighan berasal dari ba-lam-ghain, yaitu sampai pada sesuatu.93 M.
Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, pengertian dari "balighan"
adalah kata yang mencerminkan arti bahwa sesuatu telah mencapai atau sampai pada sesuatu yang lain. Arti lain dari "balighan" adalah cukup, yang berarti memenuhi kebutuhan pada batas minimum. Beliau menambahkan bahwa terdapat beberapa kriteria agar pesan yang disampaikan dapat dianggap "balighan," yaitu: 1. Menyampaikan pesan secara komprehensif dan menyeluruh. 2. Tidak berlebihan dalam penyampaian pesan, namun juga tidak terlalu singkat sehingga mengakibatkan isi pesan tidak dipahami dengan baik. 3. Menggunakan susunan bahasa yang dapat dipahami dengan jelas oleh penerima pesan. 4.
Menyesuaikan konten dan gaya bahasa dengan karakteristik dan sikap penerima pesan. 5. Mengikuti kaidah bahasa yang baik dan benar dalam
93 Ahmad ibn Faris ibn zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah (beirut, Daar al Fikr, 1979), juz 1, h. 301
penyampaian pesan. Maka, pesan yang disampaikan dapat dianggap efektif dan memadai untuk mencapai tujuan komunikasi yang diinginkan.94
4. Qaulan Sadidan
Sadīdan berasal dari sin-dal-dal, yaitu pernyataan yang benar sesuai dengan keadilan dan hukum, dan tidak ada kesalahan di dalamnya.95 Aturan tersebut termaktub dalam al-Qur’an, yaitu:
a. QS. Al-Nisā (4):9
b. QS. Al-Ahzāb (33):70
94 M. Quraish Shihab, Tafsir al-misbah: Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, juz 2, h.
468-469
95 Hasan ‘Izzuddin ibn Husain ibn ‘Abdu al-Fattah Ahmad al-Jamal, Mu’jam wa Tafsir Lughawi Likalimati al-Qur’an, (Mesir, al-Haiatu al-Misriyyah al-‘Amah lil kitab, 2008), juz 2, h.
298.
48
Dalam konteks ayat yang dimaksud, term pertama yang ditekankan adalah perintah Allah kepada manusia guna berkata yang benar dalam urusan anak yatim dan keturunannya. Meskipun secara langsung ayat ini berbicara tentang anak yatim, namun dalam lingkup yang lebih luas, ayat ini juga mencakup keluarga secara umum. Ayat tersebut mengajarkan pentingnya mempersiapkan masa depan anak cucu atau keturunan dengan memberi bekal yang baik, sesuai dengan lingkungan sosial yang akan mereka hadapi di masa depan. Sya'rawi dalam kitabnya menegaskan bahwa Allah adalah Maha Penjaga, dan setiap kebaikan yang ditanamkan dalam keluarga tidak akan sia-sia karena akan dilindungi dan dijaga oleh- Nya.
Kata
0د"دإِ8نَ 7لۡ<نَ
yaitu nasihat untuk tidak menyakiti anak anak yatim, serta berbicara dengan baik kepada aanaknya.96 Wahbah Zuhaili menyatakan hal serupa, dimana komunikasi dengan anak yati, dengan dihimbau wali untuk menjaga harta dan memperbaiki kata untuk diucapkan pada anak yatim.97 Kata yang diucapkan bukan hanya kebenaran, namun tepat sasaran dengan perhatian secara mendalam pada pemilihan kata bukan sekedar kebenaran, tetapi ketepatan.9896 Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi, (Mesir: Akhbar al-Yaum), jilid 4, h. 2021.
97 Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa Syari’ah wa al-Manhaj, Juz 4, h. 264.
98 M. Quraish Shihab, Tafsir al-misbah: Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, juz 2, h.
356.
as-Samarqandi menyatakan qaulan sadidan merupakan kata dimana musuh dibandingkan mengetahui segala hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan baik, atau qaulan sadidan yaitu kada didalamnya tidak berisikan kebiasaan buruk.99
Perkataan adalah hal rkusial ddialam kehidupan sehingga perlunya perkataan yang baik untuk kepentingan perkataan. Tsa’labi menguraikan sebagai kata paling tepat.100 Dalam hal ini, hubungan yang erat antara konteks ayat tersebut dengan penafsiran para penulis, di mana disarankan berbicara dengan sopan padaap anak yatim. Meskipun anak yatim bukan anak kandung, Allah memerintahkan memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah anak kandung sendiri. Namun, bagi anak kandung sendiri, perlakuan dan komunikasi yang lebih baik lagi diharapkan. Syaukani menjelaskan bahwa komunikasi yang baik seharusnya mengandung kata- kata yang indah, yang tidak bermaksud membuat komunikan tunduk kepada komunikator dan tidak membawa bahaya. Dalam konteks ini, pendekatan yang penuh kasih sayang, penghargaan, dan kebijaksanaan dalam berbicara dan mengasuh sangat dianjurkan, baik terhadap anak kandung maupun anak yatim, karena setiap interaksi harus menghormati martabat dan memberikan perlakuan yang layak kepada setiap individu.101
99 Ahmad bin Ibrahim as-Samarkandi, Bahru al-‘Ulum, (Beirut, Daar al-Kitab al‘Ilmiyah, 1993) juz 1, h. 283.
100 Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi, al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir al Qur’an, juz 10, h. 101.
101 Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, Fath al-Qadir, (Beirut, Daar ibn Katsir, 1993), juz 1, h. 493.
50
Pada ayat yang kedua, Allah memerintahkan orang beriman guna berkata baik. Tafsir al-Muyassar menjelaskan orang beriman kepadaa Allah dan Rasul-Nya, serta melaksanakan syariat dengan baik dan berkata jujur serta menjauhi kebohongan serta segala bentuk perkataan yang buruk dalam setiap situasi. Hal ini menegaskan pentingnya integritas dan kejujuran dalam komunikasi bagi orang meneguhkan iman. Diharapkan untuk menjadi teladan dalam berbicara dengan kebenaran dan menjaga kualitas perkataan mereka dalam kehidupan sehari-hari.102 Muhammad Thahir ibn Asyur didalam bukunya menjelaskan perkataan adalah pintu utama kebaikan.103 Thabari dalam tafsirnya qaulan sadidan yaitu untuk berkata dengan baik, tidak kasar dan tidak batil.104
Orang berbicara dengan jujur dan lurus akan mendapatkan pengampunan dosanya, karena kejujuran adalah salah satu ciri orang yang bertaqwa kepada Allah. Dengan demikian, baik dalam amal perbuatan maupun dalam perkataan, prinsip kebenaran dan ketakwaan terhadap Allah sangat ditekankan untuk mencapai keberkahan dunia dan akhirat.105 Ibn Katsir mengartikan sebagai kebenaran, lurus serta tidak menyimpang dari syariat.106
5. Qaulan Maysura
102 Mufassir Pilihan, al-Tafsir al-Muyassar, (Saudi, Mujamma’ al-Malik li Tiba’ati al- Mushaf al-Syarif), juz 1, h. 426
103 Muhammad Thahir ibn Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz 24, h. 122
104 Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tafsir ath-Thabari Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al- Qur’an, juz 19, h. 195.
105 Fakhruddin ar-Razi, Tafsir al-Kabir Mafatih al-Ghaib, juz 25, h. 186.
106 Abu al-Fida Isma’il, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Juz 6, h. 487.
Term Qaulan Maisura, dijelaskan pada pada QS. Al-Isra: 28:
Maisura dari ya-sin-ra, tetapi berbentuk majhul. Yaitu kelembutan serta situasi penerimaan hati yang baik dengan lapang.107 Ayat ini membahas tentang memberi pemberian kepada orang yang membutuhkan.
Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa kemampuan memberi bantuan materi pada orang membutuhkan, penting utuk berkeinginan menolong sebagai bagian dari moralitas kita. Serta menekankan pentingnya merespons situasi semacam ucapan yang ramah dan tidak menyinggung, serta membangkitkan harapan dan optimisme dalam diri penerima bantuan. Dengan demikian, baik dalam memberi bantuan maupun dalam memberikan respon verbal, penting untuk tetap menjaga kesopanan, menjaga perasaan orang lain, dan mendorong semangat positif dalam kehidupan.
Ibn Katsir dalam tafsirnya, apabila kita tidak mampu membantu maka berjanji untuk menolong dan segera melakukannya saat datang rezeki dari Allah.108
107 Muhammad Thahir ibn Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz 15, h. 83.
108 Abu al-Fida Isma’il, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Juz 5, h. 64.
52
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam konteks komunikasi, jika kita memberikan respons yang baik dan lembut kepada orang lain, maka mereka cenderung menerima respons tersebut dengan senang hati. Sebagai contoh, jika kita tidak dapat memberikan bantuan kepada orang lain saat ini, namun kita berjanji untuk membantu saat Allah memberikan rezeki kepada kita, atau memberikan doa guna kemudahan segala urusan mereka, maka orang yang me