• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro Lampung

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro Lampung"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus di Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur)

Oleh:

ERNA GUSNIA NPM. 14116993

Jurusan Akhwalus Syakhsyiyyah Fakultas Syariah

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1441 H / 2020 M

(2)

ii

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

ERNA GUSNIA NPM. 14116993

Pembimbing I : Dr. Hj. Tobibatussaadah, M.Ag Pembimbing II : Wahyu Setiawan, M.Ag

Jurusan Akhwalus Syakhsyiyyah Fakultas Syariah

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1441 H / 2020 M

(3)

iii

(4)

vi

(5)

vii

(6)

viii ABSTRAK

NAFKAH OLEH ISTRI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Desa Negara Batin Kecamatan Jabung

Kabupaten Lampung Timur) Oleh:

ERNA GUSNIA

Rumah tangga atau keluarga merupakan lingkup organisasi terkecil dari sebuah masyarakat yang merupakan awal dari pembentukan tingkah laku seseorang. Rumah tangga adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang di dalamnya terdapat anggota keluarga, diantaranya ayah, ibu, serta anak, keluarga merupakan bentuk organisasi yang mempunyai peran dan fungsi masing-masing, dengan tujuan utamanya menjadikan keluarga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Keberhasilan seorang suami dalam karirnya pangkat atau jabatan, seiring oleh dukungan motivasi, cinta dan doa seorang istri. Sebaliknya, keberhasilan karier istri juga didukung oleh pemberian akses, motivasi dan keikhlasan suami. Seorang suami sebagai kepala keluarga tidak dapat mendominasi tugas dan fungsinya dalam rumah tangga, sebaliknya juga seorang istri sebagai kepala rumah tangga tidak dapat memaksakan kehendak sebagai seseorang yang paling berperan dalam rumah tangga karena kehidupan rumah tangga membutuhkan partisipasi keduanya sehingga rumah tangga menjadi rukun dan harmonis.

Adapun pertanyaan penelitian ini adalah Bagaimana perspektif hukum Islam terhadap peran istri dalam menanggung nafkah keluarga?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan perseptif hukum Islam tentang peran istri dalam menanggung nafkah keluarga. Jenis penelitian ini adalah field research, atau penelitian lapangan dan bersifat deskriptif kualitatif.

Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara interview, dan dokumentasi. Setelah data-data terkumpul dan dianalisis dengan cara yuridis kualitatif yang kemudian akan di analisis untuk di tarik suatu kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan nafkah keluarga yang di tanggung oleh istri memang rentan dipermasalahkan, karena seorang suamilah sebenarnya yang bekerja untuk menafkahi keluarganya. Ditinjau dari hukum Islam apabila antara laki-laki dan perempuan sudah melaksanakan akad dengan sah maka timbullah apa yang disebut dengan hak dan kewajiban bagi suami demikian sebaliknya. Bekerja dalam Islam merupakan hak setiap muslim secara mutlak,tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, suami ataupun istri, orang tua maupun anak. Pekerjaan merupakan sesuatu hal pergulatan hidup dihadapan mereka, selama mereka menyukai pekerjaan tersebut. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk melakukan aktifitas bekerja selama tidak merugikan pada diri sendiri dan orang lain, dan itu merupakan kemaslahatan yang dipelihara oleh syar’i dan melakukannya itu mendapat ganjaran dari Allah SWT. Pada dasarnya Islam tidak mengatur secara jelas tentang diperbolehkannya istri bekerja dan mencari nafkah, sedangkan dalam Al-Qur’an hanya menjelaskan perempuan dan laki-laki sama berhaknya untuk berusaha.

(7)

ix

(8)

x MOTTO





















































Artinya: hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Q.S. At-Thalaq: 7)1

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Diponegoro, 2005), 446

(9)

xi

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan hidayah- Nya, maka dari lubuk hati yang terdalam skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

1. Ayahanda Kemas Abu dan Ibunda Rosidah yang sangat peneliti sayangi, yang tanpa kenal lelah memberikan kasih sayang, mendo’akan, motivasi serta dukungan demi keberhasilan penulis.

2. Adikku Almanita Agustina dan Viona Wulandari yang selalu memberikan doa dan dukungan untuk keberhasilan peneliti.

3. Almamater Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

(10)

xii

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini.

Penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan jurusan Akhwalus Syakhsyiyyah Fakultas Syariah IAIN Metro guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H).

Dalam upaya penyelesaian skripsi ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag, sebagai Rektor IAIN Metro, 2. Bapak H. Husnul Fatarib, Ph.D, sebagai Dekan Fakultas Syariah

3. Ibu Nurhidayati, S.Ag.,MH, sebagai Ketua Jurusan Akhwalus Syakhsyiyyah 4. Ibu Dr. Hj. Tobibatussaadah, M.Ag, sebagai Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.

5. Bapak Wahyu Setiawan, M.Ag, sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.

6. Kepala Desa dan segenap warga Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur yang telah menyediakan sarana dan prasarana serta memberikan informasi yang berguna bagi peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

7. Bapak dan Ibu Dosen/Karyawan IAIN Metro yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan sarana prasarana selama peneliti menempuh pendidikan.

(11)

xiii

(12)

xiv DAFTAR ISI

Hal.

HALAMAN SAMPUL... i

HALAMAN JUDUL ... ii

NOTA DINAS ... iii

PERSETUJUAN ... iv

PENGESAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

ORISINALITAS PENELITIAN ... vii

MOTTO ... viii

PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Penelitian Relevan ... 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

A. Nafkah ... 10

1. Pengertian Nafkah ... 10

2. Syarat Wajib Nafkah ... 11

3. Macam-macam Nafkah ... 14

B. Hak dan Kewajiban Suami Istri ... 19

1. Hak dan Kewajiban Suami ... 19

2. Hak dan Kewajiban Istri ... 22

3. Wanita dan Pekerjaan Menurut Al-Qur’an ... 31

4. Wanita Karier Persepektif Hukum Islam ... 35

5. Hak dan Kewajiban bersama Suami Istri ... 38

(13)

xv

BAB III METODE PENELITIAN ... 43

A. Jenis dan Sifat Penelitian... 43

B. Sumber Data ... 44

C. Teknik Pengumpulan Data ... 44

D. Teknik Analisa Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A. Gambaran Umum Hasil Penelitian ... 47

1. Sejarah Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur... 47

2. Letak Geografis Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur ... 49

3. Visi dan Misi Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur ... 50

4. Jumlah Penduduk Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur ... 50

B. Temuan Hasil Penelitian ... 55

1. Hak dan Kewajiban Suami yang Nafkahnya Ditanggung oleh Istri ... 55

2. Respon Istri sebagai Penanggung Nafkah Keluarga ... 62

3. Tinjauan Hukum Islam terhadap Istri dalam Menanggung Nafkah Keluarga ... 66

C. Pembahasan ... 74

BAB V PENUTUP ... 84

A. Kesimpulan ... 84

B. Saran ... 85 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel Hal.

4.1. Jumlah Sarana Pendidikan Desa Negara Batin Kecamatan Jabung

Kabupaten Lampung Timur ... 54

(15)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Bimbingan 2. Outline

3. Alat Pengumpul Data 4. Surat Research 5. Surat Tugas

6. Surat Balasan Research

7. Formulir Konsultasi Bimbingan Skripsi 8. Foto-foto Penelitian

9. Surat Keterangan Bebas Pustaka 10. Riwayat Hidup

(16)

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarkat dan perkawinan adalah institusi dasarnya. Perkawinan merupakan sebuah media yang akan mempersatukan dua insan dalam sebuah rumah tangga dan satu- satunya ritual pemersatu yang diakui secara resmi dalam hukum agama.

Perkawinan adalah akad yang menjadikan halalnya hubungan seksual antara seorang lelaki dan seorang wanita, saling tolong menolong di antara keduanya serta menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya. Dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan dalam Pasal I bahwa “perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”1.

Rumah tangga atau keluarga merupakan lingkup organisasi terkecil dari sebuah masyarakat yang merupakan awal dari pembentukan tingkah laku seseorang. Rumah tangga adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang di dalamnya terdapat anggota keluarga, diantaranya ayah, ibu, serta anak, keluarga merupakan bentuk organisasi yang mempunyai peran dan fungsi masing-masing, dengan tujuan utamanya menjadikan keluarga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah.

1 Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, 53

(17)

mulanya dimaksudkan sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai, dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih sayang diantara mereka yang ada di dalamnya.

Keberhasilan seorang suami dalam karirnya pangkat atau jabatan, seiring oleh dukungan motivasi, cinta dan doa seorang istri. Sebaliknya, keberhasilan karier istri juga didukung oleh pemberian akses, motivasi dan keikhlasan suami. Seorang suami sebagai kepala keluarga tidak dapat mendominasi tugas dan fungsinya dalam rumah tangga, sebaliknya juga seorang istri sebagai kepala rumah tangga tidak dapat memaksakan kehendak sebagai seseorang yang paling berperan dalam rumah tangga karena kehidupan rumah tangga membutuhkan partisipasi keduanya sehingga rumah tangga menjadi rukun dan harmonis.

Khadijah r.a, istri Rasulullah saw., adalah salah satu contoh teladan dari sosok peran perempuan. Saat Rasulullah saw, menerima wahyu pertama dari Allah. Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk sebenarnya sehingga beliau sangat takut. Saat Rasulullah menggigil, ketakutan, Khadijah orang pertama yang menenangkan dan menghilangkan ketakutan Nabi saw. Khadijah orang pertama yang masuk Islam dan dia adalah orang pertama di dunia yang membenarkan Nabi saw, orang pertama yang menerima pesan dakwah, pesan Islam. Khadijah saat itu juga menolong Rasulullah saw, dan Khadijah juga ikut bersama mendampingi Rasulullah saw, mengadakan dakwah di kala

(18)

dimilikinya.2

Hal tersebut memberikan gambaran akan mulianya seorang perempuan shalihah yang mampu berperan bersama suami menjadikan rumah tangga ladang beramal shalih dan beribadah kepada Allah swt. Dalam hal ini dengan tidak mengesampingkan tugas dan fungsi suami dalam rumah tangga seorang istri yang shalihah sangat membantu peranan suami tercinta dalam rumah tangga.

Kewajiban istri sekaligus sebagai hak suami, sebagai salah satu bentuk keseimbangan ajaran Islam, ketika memberikan kewajiban bagi pria dalam kapasitasnya sebagai seorang suami, tentu saja hal ini diikuti dengan pemberian hak-hak bagi mereka yang merupakan kewajiban bagi seorang wanita dalam kapasitasnya sebagai istri bagi suaminya, dan ibu bagi keturunan-keturunannya.3

Dalam kitab-kitab Fiqh, hak dan kewajiban suami istri dibahas dalam bab nikah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqh sunnah mengatakan bahwa hak dan kewajiban suami istri dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu hak bersama suami istri, hak istri terhadap suami dan hak suami terhadap istri, hak istri terhadap suami merupakan kewajiban suami terhadap istri, begitu juga

2 Wiyanto Suud, Buku Pintar Wanita-Wanita dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Niaga Swadaya, 2011), 124

3 Nur Taufiq Sanusi, Fikih Rumah Tangga Perspektif Al-Qur’an dalam Mengelola Konflik Menjadi Harmoni, (Depok: Elsas, 2010), 62

(19)

suami.4

Hak istri terhadap suami adalah berupa hak kebendaan dan hak rohani.

Hak kebendaan adalah mahar (mas kawin) dan nafkah, sedangkan hak rohani adalah dipergauli dengan baik (Mu’asyarah bi al-ma’ruf), penuh kasih sayang dan rasa saling hormat-menghormati serta berpelakuan adil jika suami berpoligami. Sedangkan hak suami terhadap istri antara lain adalah bakti istri terhadap suaminya, istri tidak boleh memasukan laki-laki lain rumah tampa seizin suaminya, menenpatkan istri dirumah suami, melarang istri bekerja, istri berhias hanyalah untuk suami dan menghukum istri jika melanggar dan larangan-larangan yang telah ditetapkan dalam perjanjian pernikahan.5

Hak bersama suami istri antara lain adalah halal saling bergaul dan mengadakan hubungan seksual, haram melakukan perkawinan dengan kerabat pasangan, hak saling mendapatkan warisan, sah menasabkan anak kepada suami yang jadi teman setempat tidur dan saling memperlakukan dengan baik.

Dalam Islam telah disebutkan apabila terjadi suatu akad nikah maka suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban. Adapun kewajiban dari suami adalah memberi nafkah kepada istri, tetapi fenomena yang terjadi pada zaman sekarang adalah sudah terbalik istri yang mencari nafkah keluarga dan istri yang bekerja keluar untuk menafkahi keluarga, dalam Islam telah dikatakan yang berhak menafkahi keluarga adalah suami, sedangkan istri hanyalah menjalankan sebagai ibu rumah tangga. Tetapi pada zaman sekarang istri yang

4 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Terjemahan, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1996), 105

5 Abdul Aziz Dahlan, dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT Ikhtiar Baroean Hoeve, 1996), 269

(20)

keperluan dalam rumah tangga.

Kenyataan yang terjadi di lapangan, khususnya di Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Lampung Timur yaitu adanya beberapa masalah yang terjadi di masyarakat ternyata istri yang menafkahi keluarga:

1. Dayat dan Santi telah menikah beberapa tahun yang lalu dan sekarang telah mempunyai 3 orang anak. Santi bekerja sebagai PNS sedangkan Dayat hanya sebagai pengangguran yang tidak mempunyai pekerjaan.

Adapun kerja sehari-hari Dayat adalah mengantar jemput anak-anak pergi sekolah mengurus anak dirumah dan mencuci pakaian dan memasak.6 2. Supriyanto menikah dengan Lilis beberapa tahun yang lalu dan sekarang

telah mempunyai 2 orang anak, dan Supriyanto dan Lilis masih tinggal di rumah orang tua Lilis. Lilis yang sehari-harinya bekerja sebagai Dosen di salah satu Institut Agama Islam swasta. Sedangkan Supriyanto hanya seorang pengangguran dan ia hanya mengurusi anak di rumah serta mengurusi masalah rumah tangga, dan Supriyanto hanya kadang-kadang mengantar jemput istri pulang dari kerja.7

3. Eman dan Novi menikah beberapa tahun yang lalu. Sekarang sudah mempunyai 2 orang anak. Novi bekerja sebagai pedagang di pasar Jabung.

Sedangkan Eman mengurusi anak di rumah, mencuci pakaian, memasak dan mengantar jemput anak-anak ke sekolah.

6 Wawancara dengan Dayat (Suami), pada tanggal 16 Mei 2019

7 Wawancara dengan Supriyanto (Suami), pada tanggal 20 Mei 2019

(21)

dilakukannya penelitian ini faktor biaya hidup yang semakin meningkat, telah melahirkan kebutuhan dan keinginan-keinginan baru yang mendesak untuk dipenuhi, tuntutan pendidikan dan profesi bahkan tidak senangnya para wanita ini berdiam diri di rumah, kecendrungan itu berdampak pada adanya keinginan untuk menambah penghasilan ekonomi dalam keluarga yang pada gilirannya memotifasi para istri yang mempunyai kecerdasan intelektual, kualitas dan kapabilitas dalam bidangnya untuk mencari nafkah di luar rumah, baik sebagai pejabat negara, swasta hingga pada karyawan biasa, realita ini akan melahirkan peran ganda bagi wanita/istri.

Berdasarkan keterangan di atas memperlihatkan fenomena yang terjadi ditengah masyarakat saat ini. Di sisi lain hukum Islam telah menjelaskan bahwa suami wajib menafkahi keluarga, dan bukan istri yang menafkahi keluarga. Berdasarkan di atas maka peneliti tertarik meneliti masalah ini lebih mendalam dan mengembangkannya dalam bentuk skripsi dengan judul:

“Pelaksanaan Nafkah oleh Istri dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Lampung Timur)”.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah “Bagaimana perspektif hukum Islam terhadap peran istri dalam menanggung nafkah keluarga?”

(22)

1. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif hukum Islam terhadap peran istri dalam menanggung nafkah keluarga.

2. Manfaat

a. Secara teoritis

1) Sebagai sumbangan yang di harapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan pemikiran bermanfaat yang berkaitan dengan perkembangan hukum Islam, khususnya nafkah.

2) Sebagai sumbangan pemikiran tentang kajian hukum nafkah tentang pelaksanaan nafkah oleh istri.

b. Secara praktis

1) Memberikan masukan dan pertimbangan bagi pihak terkait dalam pelaksanaan nafkah oleh istri melalui prinsip hukum Islam.

2) Memberikan masukan dan pengetahuan bagi para istri yang menafkahi keluarganya.

D. Penelitian Relevan

Penelitian relevan sama halnya dengan tinjauan pustaka (prior research) berisi tentang uraian mengenai hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji.8 Terdapat beberapa penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang diangkat dalam pembahasan atau topik penelitian

8 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Edisi Revisi, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro, 2011), 27

(23)

perkembangan beberapa karya ilmiah terkait dengan pembahasan penulis diantaranya adalah:

1. Skripsi yang dibuat oleh Saifu Robby El Baqy “Kedudukan Seorang Istri sebagai Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga Perspektif Hukum Islam (Stadi Kasus di Desa Dibal Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali”.9 Skripsi ini membahas tentang keikutsertaan istri dalam menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan meringankan beban suami.

2. Skripsi Muammar “Tinjauan Hukum Islam terhadap Peran Istri dalam Mencari Nafkah dan Relevansinya dengan UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 34.10 Membahas tentang perempuan bekerja mencari nafkah baik dalam lapangan ekonomi maupun sosial seperti halnya kaum laki-laki diperbolehkan dalam ajaran Islam.

3. Skripsi yang dibuat oleh Rizal Darwis “Konpensasi Nafkah Batin dalam Perkawinan (Telaah Kritis Hukum Islam)”. Menemukan bahwa nafkah adalah salah satu unsur yang sangat fundamental dalam sebuah perkawinan yang harus dipenuhi oleh seorang suami terhadap istri dan keluarga. 11

9 Saifu Robby El Baqy, Skripsi, Kedudukan Seorang Istri sebagai Pencari Nafkah Utama dalam Keluarga Perspektif Hukum Islam (Stadi Kasus di Desa Dibal Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, http: //eprints-surakarta.ac.id/490/.

10 Muammar, Skripsi, Tinjauan Hukum Islam terhadap Peran Istri dalam Mencari Bafkah dan Relevansinya dengan UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 34, http: //digilib.uin-suka.ac.id/10582/.

11 Rizal Darwis, Kompensasi Nafkah Batin dalam Perkawinan (Telaah Kritis Hukum Islam, (Makasar, UIN Alauddin Makasar, 2006)

(24)

keikutsertaan istri dalam menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan meringankan beban suami, menimbulkan beberapa dampak baik positif dan negatif terhadap keluarga.

Selanjutnya skripsi yang kedua Muammar bahwa perempuan bekerja mencari nafkah baik dalam lapangan sekonomi maupun sosial diperbolehkan dalam ajaran Islam seperti halnya kaum laki-laki. Kemudian skripsi yang ketiga Rizal Darwisbahwa nafkah adalah salah satu unsur yang sangat fundamental dalam sebuah perkawinan yang harus dipenuhi oleh seorang suami terhadap istri dan keluarga.

Sedangkan skripsi yang peneliti lakukan ini adalah tentang pelaksanaan nafkah oleh istri dalam perspektif hukum Islam di Desa Negara Batin Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur. Perbedaan dari skripsi sebelumnya adalah yang pertama keikutsertaan istri dalam mencari nafkah, kedua istri mencari nafkah di perbolehkan dalam Islam sama halnya dengan suami, dan ketiga kwajiban seorang suami yang memberi nafkah lahir batin kepada istri. Sedangkan peneliti membahas tentang pelaksanaan seorang istri yang mencari nafkah dalam keluarga.

(25)

A. Nafkah

1. Pengertian Nafkah

Nafkah adalah semua kebutuhan dan keperluan yang berlaku menurut keadaan dan tempat, seperti makanan, pakaian, rumah dan sebagainya.1 Nafkah adalah pengeluaran atau sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang untuk orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.2

Secara bahasa nafkah (ةقفنلا) diambil dari kata (قافنلإا) yang berarti pengeluaran, penghabisan (consumtif) dan infak tidak digunakan kecuali untuk yang baik-baik. Adapun menurut istilah nafkah adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia daripada sandang, pangan dan papan.3

Adapun nafkah menurut istilah ulama fikih adalah pengeluaran seseorang berupa kebutuhan kapada siapa yang wajib dinafkahinya, misalnya roti, pakaian, tempat tinggal dan apa yang dibutuhkannya.

Hukumnya adalah wajib, misalnya nafkah suami kepada istrinya atau nafkah bapak terhadap anaknya.4

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa nafkah adalah kebutuhan atau keperluan seperti rumah, pakaian dan makanan. Menurut bahasa

1 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1997), 421

2 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender, (Jakarta: Rahima, 2002), 110

3 Sabri Samin dan Nurmaya Aroeng, Buku Daras Fikih II, (Makasar: Alauddin Press, 2010), 116

4 Abdul Jaziri, AL-Fiqh Alal Mazahibil Al-Arba’ah, Juz 4, (Daar al Afaq Al-Arabiah, Al- Qahirah, 2005), 424

(26)

berasal dari kata infaq, yakni Ikhraj atau digunakan dalam hal kebaikan.

Menurut istilah pemberian yang mencukupi dari makanan, pakaian, tempat tinggal, dan apa yang berkaitan dengannya.

2. Syarat Wajib Nafkah

Banyaknya nafkah yang diwajibkan adalah sekadar mencukupi keperluan dan kebutuhan serta mengingat keadaan dan kemampuan orang yang berkewajiban menurut kebiasaan masing-masing tempat. Pengeluaran yang harus diberikan untuk keperluan-keperluan yang baik. Kewajiban nafkah menurut Al-Qur’an dibebankan terhadap laki-laki (suami). Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233:













Artinya “Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah: 233)5



































































Artinya “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan jangan kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah dicerai) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka

5 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: AL-Fatih, 2009), 37

(27)

nafkahnya hingga mereka bersalin. Kemudian, jika mereka menyusukan (anak-anakmu) untukmu, berikanlah kepada mereka upahnya. Dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan ma’ruf. Dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya”. (QS. ath-Thalaq: 6)6

Dalam hadis Nabi disebutkan antara lain:

.نهماعطو نهتوسك يف نهيلإ اونسحت نأ مكيلع نهقحولاأ يدمرتلا هجرخأ

Artinya: “Perhatikanlah (hai para suami). Hak-hak mereka (para istri) atas kamu adalah memberikan kepada mereka pakaian dan makanan secara ma’ruf”. (Riwayat at-Turmudzi).7

َد َولْا ِةَّجَح ىِف َلاَق .م.ص ِالله َل ْوُس َر َّنَا ِعا

َف : ا ْوُقَّتا ىِف َالله

ِةَمِلَكِب َّنُه ْوُمُتْذَخَا ْمُكَّنِاَفِءاَسِِّنلا ِالله

َو َلْحَتْسا ُهَج ْوُرُف ْمُتْل

ِةَمِلَكِب َّن

ِالله ُكَش ْرَف َنِئْطُي َّلاَا َّنِهْيَلَع ْمُكَل َو ْم

دَح َا َرْكَت ا ْو ُه

َف ْنِاَف ُهَن َنْلَع

َو ٍجِِّرَبُم َرْيَغا ب ْرَض َّنُه ْوُب ِرْضاَف َكِلذ ُهَل

َّن َع ْمُكْيَل َّنُهُق ْز ِر

)ملسم هاور( ِف ْو ُرْعَمْلاِب َّنُهُت َوْسِك َو

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda ketika haji wada’, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di dalam urusan perempuan. Karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan kalimat Allah. Kamu telah menghalalkan kemaluan (kehormatan) mereka dengan kalimat Allah. Wajib bagi mereka (istri-istri) untuk tidak memasukan ke dalam rumahmu orang yang tidak kamu sukai. Jika mereka melanggar yang tersebut pukullah mereka, tetapi jangan sampai melukai.

Mereka berhak mendapatkan nafkah dari kamu dan pakaian dengan cara yang ma’ruf”. (H.R. Muslim).8

Akan tetapi pada ayat yang lain juga disebutkan bahwa nafkah yang harus diberikan kepada istri juga disesuaikan dengan kemampuannya.

Qur’an surat ath-Thalaq ayat 7:

6 Ibid, 559

7 At-Turmudzi, Sunan at-Turmudzi, Juz III, 467

8 Imam Nawawi, Syarah Muslim, (Kairo: Darul Hadis, tt), 444

(28)





















































Artinya “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepdanya”. (QS. ath- Thalaq: 7)9

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW di atas dapat dijelaskan bahwa nafkah istri meliputi makanan, lauk pauk, alat-alat (sarana) untuk membersihkan anggota tubuh, perabot rumah, tempat tinggal, dan pembantu (jika diperlukan). Semua ini sebenarnya mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Segala keperluan dasar ini merupakan kewajiban suami yang wajib diberikan kepada istri sebagai haknya menurut cara yang sesuai dengan tradisinya.

Adapun menurut Ijma’ adalah sebagai berikut:

Ibnu Qodamah berkata, “Para ahli ilmu sepakat tentang kewajiban suami menafkahi istri-istrinya, bila sudah baligh, kecuali akalau istri berbuat durhaka”. Ibnul Munzir dan lainnya berkata “Istri yang durhaka boleh dipukul sebagai pelajaran.Perempuan adalah orang yang tertahan di tangan suaminya. Ia telah menahannya untuk bepergian dan bekerja. Karena itu ia berkewajiban untuk memberikan nafkah kepadanya”.10

9 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 559

10 Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 165

(29)

Sedangkan mengenai waktu memberi nafkah, para fuqaha berbeda pendapat. Imam Malik berpendapat bahwa nafkah itu menjadi wajib apabila suami telah menggauli atau mengajak bergaul dan istri termasuk orang yang dapat digauli dan suami telah dewasa. Imam Abu Hanifah dan Sayi’i berpendapat bahwa suami yang belum dewasa wajib memberi nafkah apabila istri telah dewasa, sedang apabila istri belum dewasa, dalam hal ini menurut Imam Syafi’i terdapat dua pendapat: pertama sama dengan pendapat Imam Malik. Pendapat kedua bahwa istri berhak memperoleh nafkah bagaimanapun keadaannya.11

Penjelasan di atas jelas bahwa perbedaan pendapat tesebut disebabkan karena nafkah itu merupakan pengganti dari kenikmatan yang diperoleh suami, atau karena istri tertahan oleh suami sebagaimana halnya pada suami yang bepergian jauh atau sakit.

3. Macam-Macam Nafkah

Macam-macam nafkah ada lima macam yaitu sebagai berikut:

a. Nafkah kepada diri sendiri b. Nafkah ushul kepada furu’

c. Nafkah furu’ kepada ushul

d. Syarat-syarat diwajibkannya nafkah kepada ushul atas furu’

e. Nafkah kepada istri12

Kelima macam di atas akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut:

11 Ibid

12 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 4 (Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeven, 2009), 1281

(30)

a. Nafkah kepada diri sendiri

Serendah-rendahnya nafkah yang diwajibkan syariat adalah kepada diri sendiri karena inilah pintu untuk dapat memberikan nafkah kepada orang lain. Jenis barang yang wajib dinafkahkan tidak keluar dari tiga benda yaitu:

1) Sandang / Pakaian 2) Pangan / Makanan 3) Papan / Tempat tinggal13

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

ْنِإَف اَهْيَلَع ْقَّدَصَتَف َكِسْفَنِب ْأَدْبا َض َف

َش َل ٌءْي َِلَف ْنِإَف َكِلْه

َكِلْهَأ ْنَع ٌءْيَش َلَضَف َكِتَبا َرَق يِذِلَف

ِإَف َف ْن َع َلَض يِذ ْن

َب ُلوُقَي اَذَكَه َو اَذَكَهَف ٌءْيَش َكِتَبا َرَق َي َن ْي

َكْيَد َو

َكِنيِمَي ْنَع

َكِلاَمِش ْنَع َو

Artinya: Mulailah dengan dirimu, bersedekahlah padanya. Jika ada kelebihan, maka untuk keluargamu. Jika ada kelebihan dari keluargamu, maka untuk kerabatmu. Jika ada kelebihan dari kerabatmu, maka begini dan begini beliau bersabda: yang ada di hadapanmu, di samping kananmu dan di samping kirimu. (Hadits Nasai Nomor 2499)14

b. Nafkah ushul kepada furu’

Nafkah anak diwajibkan kepada ayah (dan seluruh ushul di atasnya). Jika ayah tidak ada maka ayahnya ayah (kakek) yang menggantikan dan begitulah seterusnya ke atas. Ushul yaitu memiliki harta yang lebih di luar makanannya sendiri dan makanan istrinya

13 Ibid

14 Imam Nawawi, Syarah Muslim, 423

(31)

selama masa satu hari satu malam. Furu’ yang mana harus fakir (tidak mampu bekerja) dan di samping fakir juga disyaratkan harus tergolong kepada salah satu dari yang tiga yaitu masih kecil, lemah, dan gila.15

Maka kalau si anak sudah mampu bekerja, gugurlah kewajiban si ayah untuk menafkahinya. Kalau si anak tidak mampu bekerja karena masih menuntut ilmu, harus dilihat jenis ilmu yang dituntutnya. Kalau itu adalah ilmu primer buat dirinya seperti ilmu akidah dan ibadah maka tetap wajib dinafkahi. Namun jika ilmu-ilmu umum yang bersifat sekunder seperti ilmu kedokteran dan industri maka tidak wajib dinafkahi. Di sini si ayah tinggal memilih apakah bersedia menafkahi anaknya itu atau memaksa anaknya untuk meninggalkan studinya dan menyuruhnya bekerja.

Nafkah ushul kepada furu’ ini bukan pemindahan kepemilikan sebagaimana jual beli (tamliki) sehingga bisa dianggap hutang kepada si anak apabila si ayah tidak berkenan menafkahi anaknya. Karena ini adalah bentuk pemindahan harta secara tolong menolong saja (tamkini).

c. Nafkah furu’ kepada ushul

Sebagaimana diwajibkan nafkah kepada furu’ atas ushul begitu pula diwajibkan nafkah kepada ushul atas furu’ seperti ayah, ibu, kakek, nenek dan seterusnya ke atas.

d. Syarat-syarat diwajibkannya nafkah ushul atas furu’

15 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, 1281

(32)

Furu’ memiliki harta berlebih di luar nafkah diri dan istrinya sendiri sehari dan semalam. Ushul harus fakir (tidak tercukupi kebutuhan primernya, baik dia mampu bekerja ataupun tidak mampu).

Terlebih nafkah kepada ibu, ini harus betul-betul diperhatikan karena ibu kedudukannya lebih tinggi dari kedudukan seorang ayah dan perintah Rasulullah SAW untuk memperhatikan ibu itu tiga kali lipat lebih besar dari pada perhatian kepada ayah. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Radhiyallahu ‘Anhu:

َق َكَّمُأ َلاَق ُّرَبَأ ْنَم ِ َّاللَّ َلوُس َر اَي َلا

ْلُق َّمُث ُت َّمُأ َلاَق ْنَم

َك

ْنَم َّمُث ُتْلُق َلاَق ْلُق َلاَق َكَّمُأ َلاَق

ُت َّم ُث َم َلاَق ْن ُث َكاَبَأ َّمُث

َّم َب َرْقَ ْلْاَف َب َرْقَ ْلْا

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak aku pergauli dengan baik?” beliau menjawab: “Ibumu.” Kutanyakan lagi,

“Lalu siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Aku bertanya lagi,

“Siapakah lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Aku bertanya lagi,

“Siapakah lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Aku bertanya lagi,

“Siapakah lagi?” beliau baru menjawab: “Kemudian barulah bapakmu, kemudian kerabat yang paling terdekat yang terdekat.”

(Hadits Tirmidzi Nomor 1819)16

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang ibu lebih tinggi derajatnya atau kedudukannya dibandingkan dengan seorang ayah.

e. Nafkah kepada istri

Para ulama telah berijma’ wajib hukumnya bagi suami untuk memberikan nafkah kepada istri dan dalilnya di antaranya adalah sebagai berikut:

16 Ibid

(33)

اَج ِِّرلا َف اَمِب ِءاَسِِّنلا ىَلَع َنوُما َّوَق ُل َُّاللَّ َل َّض

ٰىَلَع ْمُهَضْع َب

اوُقَفْنَأ اَمِب َو ٍضْعَب مِهِلا َوْمَأ ْنِم

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Surat An-Nisa’ Ayat 34)17

Istri yang memberi dan suami yang menerima, man yunfiq yusyraf, siapa yang memberi dia yang dimuliakan. Itu sudah kaedah umum. Jadi dalam kondisi yang demikian, suami harus memuliakan dan menghormati istri wa na’udzubillah. Sungguh syariat ini sudah terbalik jika demikian.

Macam-macam nafkah terhadap istri yang memenuhi syarat berikut pendapat para ulama. Menurut Imam Abu Hanifah nafkah wajib jika memenuhi syarat berikut ini:

a. Akad nikahnya sah

b. Istri mampu melakukan hubungan seks

c. Istri menyerahkan dirinya kepada suaminya dengan penyerahan sepenuhnya

d. Istrinya bukan orang murtad (keluar dari agama Islam)

e. Tidak melakukan sesuatu yang diharamkan terhadap mahram suaminya.18

Menurut Imam Malik nafkah wajib ada dua macam, sebelum dukhul dan sesudah dukhul Syarat sebelum dukhul yaitu:

a. Mampu melakukan hubungan seks, jika menikah dengan anak kecil yang tidak mampu melakukan hubungan seks maka maka tidak wajib baginya nafkah sampai dia mampu

17 Kementerian Agama Ri, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 84

18 Abdul al-Jaziri, Fiqh al-Mazahibil al-Arba’ah, Juz IV, tt, 423

(34)

b. Istrinya tidak dalam keadaan sakit parah yang menjadikan suami menjauh darinya

c. Istri sudah sampai umur baligh. 19

Menurut Imam Syafi’i nafkah wajib jika memenuhi syarat berikut ini:

a. Istri menyerahkan penuh dirinya kepada suami, misalnya istri mengatakan saya serahkan diriku sepenuhnya untukmu

b. Mampu melakukan hubungan

c. Tidak durhaka (nusyuz) misalnya istri tidak mau disentuh, dicium dan melakukan hubungan tanpa alasan yang dibenarkan.

Menurut Imam Ahmad bin Hambal nafkah wajib jika memenuhi syarat berikut ini:

a. Istri menyerahkan penuh dirinya kepada suami di Negara manapun dia hidup

b. Mampu melakukan hubungan sebagaimana istri pada umumnya c. Tidak durhaka (nusyuz) misalnya istri keluar rumah tanpa izin

suami, bepergian tanpa izin suami, dan tidak mau melakukan hubungan atau istri tidak mau tidur satu tempat tidur.20

Berdasarkan pendapat para ulama di atas bahwa menurut Imam Abu Hanifah nafkah wajib jika memenuhi syarat ada 5 macam, Imam Malik nafkah wajib ada dua macam, Imam Syafi’i nafkah wajib jika memenuhi syarat ada tiga macam, dan Imam Ahmad bin Hambal nafkah wajib jika memenuhi syarat ada 3 macam yang telah dijelaskan di atas.

B. Hak dan Kewajiban Suami Istri 1. Hak dan Kewajiban Suami

19 Subaidi, Konsep Nafkah Menurut Hukum Perkawinan Islam, Jurnal, (Isti’dal: Studi Hukum Islam, Vol. 1. No. 2 Juli-Desember, 2014), 161

20 Ibid

(35)

Al-Qur’an pun menghimbau kaum suami agar melaksanakan hak- hak istri mereka, baik hak-hak yang wajib maupun sunnah. Rasulullah SAW juga memerintahkan agar mereka menasehati para istri dengan cara yang bijak dan benar.

Suami berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari istri setelah adanya akad nikah yang sah, ini merupakan kewajiban istri dan hak suami. Hal ini sesuai dengan hukum Islam yang mana Islam menganjurkan untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga. Dalam Islam taat kepada suami, istri wajib menyelenggarakan urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya, ialah melaksanakan tugas-tugas kerumah tanggaan dirumah seperti keperluan sehari-hari, membuat suasana menyenangkan dan penuh ketentraman baik itu bagi suami maupun anak - anak, mengasuh dan mendidik anak-anak dan lain sebagainya.21

Adapun kewajiban suami terhadap istri adalah memberi nafkah zahir, sesuai dengan syariat Islam. Yang mana setelah terjadi akad nikah yang sah maka suami wajib menunaikan kewajiban sesuai dengan ketentuan dalam Islam Kewajiban suami disebabkan perkawinan. Dalam memberi nafkah zahir suami wajib memberi nafkah kepada istri yang taat, baik makanan, pakaian, maupun tempat tinggal, pekakas rumah dan sebagainya sesuai dengan kemampuan dan keadaan suami.

Dari Ibnu Ash, Rasulullah SAW bersabda:

21 Humaidi Tatapangarsa, Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Islam, (Jakarta:

Kalam Mulia, 2003), 22

(36)

هاور حيحص ثيدح( توقب نم عيضي نا امثا ءرملاب ىفك )هربغودوادوبا

Artinya: ”Sudah dianggap berdosa jika seorang suami tidak memperdulikan belanja istri atau keluarga (HR. Abu Daud)22

Dengan demikian suami wajib memberi pendidikan serta nasehat terhadap istri. Memberi pendidikan merupakan kewajiban suami dalam hal ini tidak bertentangan dengan Islam yang mana Islam menganjurkan untuk memberi pendidikan agama. Sabaliknya pendidikan suami kepada istri yang tidak mempunyai pendidikan agama, sebaliknya kalau suami yang tidak tahu maka istrilah yang mengajar atau yang mengingatkan.

Menurut kompilasi hukum Islam bahwa kewajiban seorang suami adalah sebagai berikut:

a. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.

b. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

c. Suami wajib memberi pendidikan agama istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.

d. Seusai dengan penghasilannya suami menanggung:

1) Nafkah, kiswa dan tempat kediaman bagi istri

2) biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak

3) biaya pendidikan bagi anak.23

22 Al-Hafdh dan Marsap Suhaimi, Terjemahnya Riadhus Shalihin, (Surabaya: Mahkota, 1986), 242

23 Seri Perundangan, Kompilasi Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2005), 41-42

(37)

Menurut pendapat yang lain bahwa kewajiban suami terhadap istri mencakup kewajiban materi berupa kebendaan dan kewajiban nonmateri yang bukan berupa kebendaan.

a. Kewajiban materi berupa kebendaan 1) Nafkah dan hukumnya

2) Sebab-sebab yang mewajibkan nafkah (a) Dengan sebab turunan

(b) Dengan sebab perkawinan (c) Dengan sebab milik 3) Besarnya Nafkah

b. Kewajiban non materi yang bukan berupa kebendaan24

Beberapa kewajiban suami terhadap istri yang bukan berupa kebendaan antara lain:

a. Berlaku sopan kepada istri, menghormatinya serta memperlakukannya dengan wajar. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 19.

















 







Artinya “Dan bergaulah dengan mereka secara patut.

Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah telah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisa: 19)25

b. Memberi perhatian penuh kepada istri

c. Setia kepada istri dengan menjaga kesucian nikah dimana saja berada.

d. Berusaha memprtinggi keimanan, ibadah, dan kecerdasan istri e. Membimbing istri sebaik-baiknya

f. Memberi kemerdekaan kepada istri untuk berbuat, bergaul di tengah-tengah masyarakat

g. Suami hendaklah memaafkan kekurangan istri.

h. Tidak memaksa bekerjakeras untuk urusan rumah tangga i. Selalu bersikap jujur terhadap istri

24 Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat, 162-169

25 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 80

(38)

j. Melindungi istri dan memberikan semua keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.26

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa kewajiban suami terhadap istri mencakup kewajiban materi berupa kebendaan dan kewajiban nonmateri yang bukan berupa kebendaan.

2. Hak dan Kewajiban Istri

Jika akad nikah telah sah dan berlaku, maka ia akan menimbulkan akibat hukum dan dengan demikian akan menimbulkan hak dan kewajiban sebagai suami istri. Sebagaimana telah dijelaskan di atas. hak istri merupakan kewajiban suami terhadap istri. Hak istri yang harus ditunaikan oleh suami secara garis besar ada dua macam, yaitu hak kebendaan (materi) dan hak bukan kebendaan (rohani). Hak kebendaan adalah berupa mahar dan nafkah, sedangkan hak bukan kebendaan adalah perlakuaan suami yang baik terhadap istri. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

a. Mahar

Mahar secara etimologi berarti mas kawin. Sedangkan pengertian mahar menurut istilah ilmu fiqih adalah pemberian yang wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami, untuk menimbulkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya.27 Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria

26 Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat, 171

27 Ibid, 105

(39)

kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.28

Berdasarkan pengertian di atas bahwa mahar atau maskawin merupakan persetujuan laki-laki dan perempuan itu untuk hidup bersama sebagai suami istri. Mahar itu berupa pemberian dari calon laki-laki kepada calon perempuan baik berupa benda maupun uang asalkan tidak bertentangan agama Islam. Banyaknya mahar tidak ditentukan oleh syariat, tetapi harus berpedoman kepada kesederhanaan dan sesuai dengan kemampuan dari calon laki-laki.

Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 4 Allah berfirman:































Artinya: ”Berikanlah mas kawin kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan”. (QS.An-Nisa: 4)29

Mahar merupakan akad mutlak perempuan demikian pendapat sebagian besar ulama, maka tidak boleh bagi suami untuk menunda- nundanya jika telah diminta oleh istri. Ataupun tidak boleh bagi suami untuk meminta kembali mahar itu yang telah diberikan kepada istri, tetapi apabila istri mengalah dan tidak menuntut apapun dari mahar itu atau direlakn oleh istri, maka tidak mengapa ia mengambilnya.

28 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2010), 113

29 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 77

(40)

Menurut Imam Syafi’I menjelaskan bahwa mahar bukanlah syarat sah nikah. Karena nikah sah tampa mahar. Mahar hanya merupakan perjanjian tambahan (‘ahdat-an zaidat-an) dalam pernikahan QS.An-Nisa: 4 menjelaskan mahar sebagai pemberian (al- athiyah) untuk mempererat tali keluarga antara kedua belah pihak.

Dijaman jahiliyah dahulu, hak kedudukan wanita itu dihilangkan atau disia-siakan. Mahar pada zaman jahiliyah tidak diberikan kepada perempuan tetapi kepada ayahnya. Ayahnyalah yang berhak dan berwenang atas mahar itu, lalu Islam datang untuk membebaskan wanita dari belenggu jahiliyah tersebut.30

b. Nafkah

Jika istri hidup serumah dengan suami, maka suaminya wajib menanggung nafkahnya, mengurus segala kebutuhan, seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.31 Nafkah adalah nafkah pokok seperti makan, pakaian, dan rumah, meskipun sederhana sekali.32

Seorang istri tidak memberi nafkah tehadap dirinya sendiri meskipun ia kaya, melainkan suami yang harus memberi nafkah, karenaa ia adalah pemimpin dalam keluarga (kepala rumah tangga) yang bertanggung jawab mengenai istrinya. Agama mewajibkan suami membelanjai istrinya, oleh karena dengan adanya ikatan

30 Yusuf Qardawi, Al-Madkhal li Ma’rifah al-Islam, (Jakarta: Al-Kausart, 1997), 286

31 Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat, 173

32 Sayid Sabiq, Fikih Sunnah 8, (Bandung: Alma’arif, 1980), 87

(41)

perkawinan yang sah, seorang istri itu menjadi miliknya suami.

Kerena suami berhak menikmati secara terus-menerus.

Dalam Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 233 Allah berfiman:























Artinya: ”Dan kewajiban ayah adalah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf tidak dberatkan melainkan sesuai dengan kemampuan “. (QS. Al-Baqarah: 233)33

Adapun yang dimaksud dengan para ibu adalah istri-istri, dan para ayah adalah suami-suami. Adapun nafkah yang harus dipenuhi oleh suami meliputi: pakaian, tempat tinggal, biaya rumah tangga, biaya pengobatan rumah sakit, dan termasuk biaya pendidikan anak.

Konsekuensi dari penerimaan hak adalah istri wajib kepada suami, tinggal dirumah, memelihara dan mendidik anak-anaknya. Istri berhak menerima nafkah selama masih dalam ikatan perkawinan dan istri tidak durhaka atau karena hal-hal yang lain yang menyebabkan istri terhalangi untuk menerima nafkah hal ini sejalan dengan kaidah setiap orang yang berhak menahan hak orang lain atau manfaatnya, maka ia bertanggung jawab membelanjainya.

Adapun seorang istri berhak menerima nafkah dari suaminya apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Dalam ikatan perkawinan yang sah b. Menyerahkan dirinya kepada suaminya

33 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 37

(42)

c. Suaminya dapat menikmati dirinya

d. Tidak menolak apabila diajak pindah ke tempat yang dikehendakisuaminya. Kecuali kalau suami bermaksud merugikan istri dengan membawanya pindah, atau membahayakan keselamatan diri dan hartanya.

e. Keduanya saling dapat menikmati.34

Apabila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka tidak wajib bagi suami memberi nafkah, karena jika ikatan perkawinan tidak sah atau batal, maka pasangan suami istri harus diceraikan untuk mencegah timbul perzinahan. Begitu pula istri yang tidak mau menyerahkan dirinya kepada suaminya. Maka dalam keadaan seperti ini tidak ada kewajiban untuk memberi nafkah kepad istri. Karena yang dimaksud sebagai dasar hak permintaan belanja yang tidak terwujud. Jika seorang perempuan masih kecil yang belum dapat disegamai tetapi telah berada dalam naungan atau tanggung jawab suami.

c. Diperlakukan dengan adil apabila suami berpoligami.

Perlakuan adil yang dimaksud disini mencakup seluruh aspek rumah tangga. Seperti nafkah hidup, rumah, pakaian dan sebagain hari atau giliran malam masing-masing istri. Adapun adil dalam hal cinta dan kasih sayang akan sangat sukar dilaksanakan oleh manusia, walaupun demikian janganlah hendaknya karena kecintaan kepada istri yang satu menyebabkan istri yang lain terlantar atau terkatung-

34 Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat, 166

(43)

katung hidupnya. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam surat An- Nisa’ ayat 129:















































Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil dianataraistri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.Karenaitu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yangkamu cintai), hingga kamu biarkan yang lain terkatung- katung”.(QS.An-Nisa’: 129)35

d. Diperlakukan dengan baik, berlemah lembut dan bermesraan.

Kebutuhan istri terhadap suami tidak hanya sekedar kebutuhan materi yang terbatas pada nafkah materi. Pakaian dan sebagainya saja, melainkan ia memiliki kebutuhan batin untuk diperlakukan secara lemah lembut dan penuh kemesraan. Disenangkan hatinya dan dihibur. Hal ini merupakan kesempurnaan pergaulan secara ma’ruf.

Karena pada umumnya wanita itu mudah tersinggung dan patah hati.

e. Suami mendatangi istrinya

Ibnu Hazm berkata: suami wajib menggauli istrinya paling kurang satu kali dalam sebulan jika mampu. Kalau tidak berarti ia durhaka kepada Allah. Kebanyakkan ulama sependapat dengan Ibnu Hazm walaupun mereka berbeda pendapat dalam menetapkan ketentuan waktu. Seperti Imam Ahmad menetapkan bahwa

35 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 99

(44)

minimalnya adalah empat bulan sekali. Akan tetapi Imam Syafi’I mengatakan, bahwa menggauali istri bukanlah kewajiban suami.

Karena menggauli istri itu adalah hak suami, jadi ia tidak wajib untuk menggunakan haknya sebagai mana hak-hak yang lain. Disamping itu, Islam juga menetapkan rambu-rambu yang harus diperhatikan ketika suami mendatangi istrinya. Seperti tidak boleh menggauli istri ketika sedang haid.

f. Memelihara kehormatan

Seorang suami harus mengetahui harkat istrinya dan memelihara kemuliaan, maka suami tidak boleh menyakiti istri dengan cacian atau liar, dan tidak boleh membeberkan rahasia hubungan diantara mereka dihadapan orang lain, tidak boleh melecehkan keluarganya, dan tidak boleh memata-matai dan mencari kesalahannya. Diantara hak suami adalah untuk cemburu, tetapi tidak boleh berlebih-lebihan. Suami juga tidak boleh membicarakan masalah hubungan ranjang dengan istrinya di hadapan orang lain, apalagi bersegama ditempat terbuka.

Adapun kewajiban istri terhadap suami merupakan hak suami yang harus ditunaikan istri. Diantara lain kewajiban tersebut adalah:

a. Kepatuhan Dalam Kebaikan 36

Hal ini disebabkan karena dalam setiap kebersamaan harus ada kepala yang bertanggung jawab, dan seorang laki-laki (suami) telah

36 Husein Syahata, Iqtishad al-Bait al-Muslim fi Dau al-Syari’ah al-Islamihan, (Jakarta:

Gema Insani Press, 1998), 64

(45)

ditunjuk oleh apa yang ditunaikannya berupa mahar dan nafkah, untuk menjadi tuan rumah dan penanggung jawab pertama dalam keluarga.

Maka tidak heran jika ia memiliki untuk dipatuhi Allah berfirman dalam Al -Qur’an surat An-Nisa’ayat 34:





























Artinya: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas harus sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (QS.An-Nisa: 34)37

Ketaatan istri terhadap suami merupakan sesuatu yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan istri tidak boleh mengerjakan amalan-amalan sunat jika merugikan suami. Termasuk juga yang harus ditaati istri adalah apabila suami melarangnya bekerja jika pekerjaan tersebut bisa mengurangi hak dari suami, disamping itu bagi istri yang bekerja juga disyaratan bahwa pekerjaan tersebut harus sesuai dengan kodratnya sebagai wanita.

b. Memelihara diri dan harta suaminya ketika ia tidak ada38

Diantara pemeliharaan terhadap diri suami adalah memelihara rahasia-rahasia suaminya. Dan jika tidak mengizinkan untuk masuk kedalam rumah kepada orang lain yang dibenci oleh suaminya. Dan

37 Kementerian AgamaRI, AL-Qur’an dan Terjemahnya, 84

38 Ibid

(46)

diantara lain pemeliharaannya terhadap harta suami adalah tidak boros dalam membelanjakan hartanya secara berlebih-lebihan dan tidak mubazir, dan dibolehkan bagi istri bersedekah dari harta suami istri yang bekerja sama dalam memperoleh pahala dari Allah.

c. Mengurus dan menjaga rumah tangga suaminya, termasuk di dalamnya memelihara dan mendidik anak.39

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 228 Allah menerangkan bahwa istri mempunyai hak dan kewajiban yang seimbang. Setiap kali istri diberi beban sesuatu, maka suami pun diberi beban yang sebanding dengannya. Asas yang diletakkan Islam dalam membina rumah tangga adalah asas fitrah dan alami laki-laki mampu bekerja, berjuang dan berusaha diluar rumah. Sementara perempuan lebih mampu mengurus rumah tangga, mendidik anak dan membuat Susana rumah tangga lebih menyenangkan dan penuh ketenteraman.

Istri juga mempunyai kewajiban untuk mengatur pengeluaran rumah tangga, seperti pengeluaran untuk makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pengeluaran-pengeluaran lain yang bisa mewujudkan lima tujuan syari’at Isalam yaitu memelihara agama, akal, kehormatan, jiwa dan harta. Walupun sesungguhnya mencari nafkah itu merupakan tugas dan tanggung jawab suami

3. Wanita dan Pekerjaan menurut Al-Qur’an

39 Ibid

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi Vivin Widhi Astuti (nim 208042) jurusn syariah STAIN KUDUS dengan judul skripsi Kewajiban Mantan Suami Memberi Nafkah Yang Tidak Di Minta Oleh Mantan

Implementasi dalam kehidupan sehari-hari antara lain:a) Kewajiban suami mencari nafkah, suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan.b) Istri taat dan patuh terhadap

Menjadi tanggung jawab istri untuk mengatur keuangan rumah tangga Kewajiban suami untuk mencari nafkah keluarga dengan cara yang halal, dan menjadi tanggung jawab istri untuk mengatur

Metro Lampung, alasan kurang mendukung karena kakaknya lulusan IAIN Metro Lampung pada Jurusan PGMI sampai pada saat ini kesulitan untuk mencari pekerjaan.7 Berdasarkan hasil wawancara

Berawal dari fenomena tersebut, Peneliti tertarik untuk mengadakan Penelitian di SMK Muhammadiyah 3 Metro tentang “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Belajar

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Islam Kecamatan Maritengngae pada umumnya belum memahahami apa arti dan tujuan zakat, mereka hanya beranggapan kewajiban

Hasil Pembahasan Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Kasus Istri Petani yang Bekerja Membantu Mencari Nafkah Keluarga di Desa Sumberagung Kecamatan Ngaringan Kabupaten

Fenomena istri sebagai pencari nafkah utama yang disebabkan karena ketidakmampuan suami dalam mencari nafkah, sekalipun bertentangan dengan ajaran Islam, namun bila ditinjau dari segi