PENGARUH SISTEM ZONASI DALAM PENERIMAAN PESERTA DIDIK TERHADAP HASIL BELAJAR MURID SD NEGERI
LABBAKKANG KECAMATAN BAJENG KEBUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
ASRIANTI AHMAD 105401108616
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2020
ii
iii
iv
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ASRIANTI AHMAD Nim : 1054 011086 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Pengaruh Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta DidikTerhadap Hasil Belajar Murid SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun .
Demikianlah pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Oktober 2020 Yang Membuat Pernyataan
Asrianti Ahmad
v
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Asrianti Ahmad NIM : 1054 011086 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakkan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Oktober 2020 Yang Membuat Perjanjian
Asrianti Ahmad
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Ketika telah malakukan yang terbaik yang kita bisa Maka kegagalan bukan sesuatu yang disesalkan
Tapi jadikanlah pelajaran atau motivasi diri
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sesungguhnya (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”
(Al-Insyiroh: 6-8)
Skripsi ini kupersembahkan sebagai wujud kasih sayang, bakti dan terimakasihku kepada orang tuaku yang senangtiasa memberikan limpahan kasih sayang, do’a yang tulus, pengorbanan dan dukungan, serta adik-adikku tercinta.
vii ABSTRAK
Ahmad Asrianti. 2020. Pengaruh Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Rosleny Babo, dan Pembimbing II Muhammad Basri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik terhadap hasil belajar SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan analisis yang digunakan korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa sebanyak 26 murid. Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah angket dan hasil belajar yang diambil dari nilai ulangan tengan semester.
Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan inferensial. Hasil analisis statistic deskriptif menunjukkan (1) data sistem zonasi penerimaan peserta didik berada pada kategori “baik” dengan rata- rata skor 49 dari skor ideal yang mungkin dicapai yakni 50 dengan standar deviasi 5,80. (2) hasil belajar juga berada pada kategori “sedang” dengan skor rata-rata 78,9 dari skor ideal yang mungkin dicapai 80 dengan standar deviasi 4,87.
Demikian pula hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis statistik inferensial menunjukkan bahwa nilai rhit sebesar 0,4944 dengan kategori koefisien korelasi berada antara 0,400-0,600 dengan kategori interpretasi “cukup”. Nilai rhitung > rtabel atau 0,4944 > 0,388 maka Ha yang berbunyi “ada Pengaruh Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar Murid di SD Negeri Labbakkang” (diterima) dan Ho yang berbunyi “tidak ada Pengaruh Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar Murid di SD Negeri Labbakkang” (ditolak). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
Kata kunci : sistem zonasi & hasil belajar
viii
KATA PENGANTAR
“Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang maha mendengar lagi maha melihat atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan karunia-Nya serta kerja keras sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik terhadap Hasil Belajar Murid SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.” dirampung dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan dan selesainya skripsi ini karena adanya bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini perkenankalnah penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ayahanda Ahmad & Ibunda Milawati yang senantiasa memberikan semangat motivasi dan selalu mendoakan dalam berbagai kondisi. Terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikann kepada:
1.) Dr. Hj. Rosleny Babo, M.Si. pembimbing I & Dr. H. Muhammad Basri, M.Si pembimbing II yang telah meluangkan waktunya disela kesibukan beliau untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.
2.) Prof. Dr. H. Ambo Asse.,M. Ag. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar
3.) Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D Dekan fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
4.) Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar
5.) Drs. H. Natsir Selaku kepala SD Negeri Labbakkang yang telah memberikan ijin penulis untuk meneliti
6.) Enny Setiawati, S.Pd Selaku wali kelas II SD Negeri Labbakkang yang telah berkorban memberi bantuan, informasi, dan kesempatan waktu untuk melakukan penelitian.
7.) Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
“Wassalamu Alaikum Wr.Wb.”
Makassar, Oktober 2020
Penulis
x DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Kajian Pustaka ... 6
1. Hasil Penelitian yang Relevan ... 6
2. Penerimaan Peserta Didik Baru ... 7
3. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru ... 13
4. Sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru ... 14
5. Hasil Belajar ... 16
B. Kerangka Pikir ... 21
C. Hipotesis Penelitian ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 23
B. Variabel dan Desain Penelitian ... 24
C. Definisi Operasional Variabel ... 25
D. Populasi dan Sampel ... 26
E. Instrumen Penelitian ... 27
F. Teknik Pengumpulan Data ... 28
G. Teknik Analisis Data ... 29
H. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 31
I. Analisis Uji Validitas dan Reabilitas Angket ... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Penyajian Hasil Penelitian ... 38
B. Pembahasan ... 42
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 45
A. Simpulan ... 45
B. Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Jumlah Murid SD Negeri Labbakkang... 26
3.2 Interpensi Nilai r𝑥𝑦 ... 31
3.3 Standar Kategori Presentasi Statistik ... 31
3.4 Uji Validitas Instrumen Angket Sistem Zonasi PPD ... 34
3.5 Distribusi Antara Item Ganjil (X) Dengan Item Genap (Y) ... 35
3.7 Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen Angket Sistem Zonasi ... 37
4.1 Statistik Skor Sistem Zonasi Penerimaan Pserta Didik Murid Kelas II .... 38
4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Variabel Murid Kelas II ... 39
4.3 Statistik Skor Hasil Belajar Kelas II ... 40
4.4 Distribusi Frekuensi dan Presentase Skor Hasil Belajar Murid Kelas II .. 40
4.5 Interprestasi Nilai r𝑥𝑦 ... 44
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 2.1 Kerangkah Fikir Pengaruh Sistem Zonasi PPD Terhadap Hasil Belajar ... 21 3.1 Bagan Desain Penelitian ... 24
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian Integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri.
Kelangsungan hidup dan kemajuan suatu bangsa , khususnya bagi negara yang sedang membangun ditentukan oleh maju tidaknya pendidikan. Hal ini membuat peran pendidikan dirasakan sangat penting bagi setiap bangsa.
Didalam sistem pendidikan saat ini sedang mengalami berbagai perubahan yang cukup mendasar berkaitan dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, manajemen dan kurikulum, yang diikuti oleh perubahan- perubahan teknis lainnya. Perubahan-perubahan tersebut diharapkan pada gilirannya dapat menyelesaikan berbagai permasalahan pendidikan, baik masalah konvensional maupun kontenporer serta mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi peningkatan kualitas pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia untuk mempersiapkan bangsa Indonesia untuk memasuki era kesejagatan dalam persaingan global, terutama dalam bidang pendidikan.
Indonesia telah membuat kemajuan yang baik dalam membangun fondasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar.
Kemajuan yang baik telah menciptakan guru yang berkualitas dan penyediaan
ruang kelas dan regional dalam akses pelajar maupun pendidik. Meskipun adanya kemajuan yang pesat dan bahan ajar diseluruh negeri, namun masih ada beberapa kesenjangan kebanyakan siswa telah menerima pendidikan dasar, pemerataan akses dan penyediaan layanan pendidikan, akan tetapi masih ada isu penting yang muncul. Masih ada variasi dalam kualitas pembelajaran yang diterima siswa di seluruh penjuru negeri dan hasilnya secara keseluruhan masih dikatakan rendah. Tantangannya adalah untuk terus berupaya meningkatkan kualitas yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan di Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyatakan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Upaya Pemerintah dalam pemerataan pendidikan salah satunya adalah mengeluarkan kebijakan baru dalam penerimaan peserta didik baru melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang didalamnya mengatur mengenai sistem zonasi (Adri Zakwan, 2019:126).
Pengertian sistem zonasi adalah sebuah sistem yang mengacu pada lokasi atau jarak tempat tinggal (Domisili) baik itu pendidik ataupun peserta didik dengan lokasi sekolah dengan tujuan untuk percepatan pemerataan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Penerimaan calon peserta didik yang
berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90 persen dari total jumlah peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik tersebut berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat enam bulan sebelum pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB). Dengan adanya sistem zonasi ini diharapkan penerimaan peserta didik baru dapat berjalan tanpa diskriminasi dan mampu memberikan kesempatan yang sama bagi setiap peserta didik untuk mengeyam pendidikan formal, terlepas dari kemampuan kognitif ataupun ekonomi yang rendah.
Hasil belajar merupakan suatu bentuk laporan yang dibuat untuk mengetahui sampai dimana perkembangan atau hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria atau patokan yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar-mengajar terhadap keberhasilan belajar peserta didik.
Upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya.Dalam hal ini, adalah dengan adanya pendidikan Berbasis Zonasi yang diterapkan oleh Kemendikbud, namun masih terkendala beberapa hal teknis maupun nonteknis seperti penyebaran sekolah negeri yang tidak merata ataupun sosialisasi sistem Pembelajaran Bebasis zonasi yang masih minim.
Sesuai dengan hasil observasi yang saya lakukan terdapat beberapa fenomena yang muncul seperti perbedaan karakteristik peserta didik,
kemampuan mengajar guru serta aturan-aturan yang berlaku di sekolah yang menjadi tolak ukur dalam proses pembelajaran di sekolah.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan-permasalahan tersebut dengan mengangkat suatu judul penelitian yaitu “Pengaruh Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar Murid di SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut “Apakah ada pengaruh sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik terhadap hasil belajar murid di SD Negeri labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa?”
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik terhadap hasil belajar murid di SD Negeri labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Peningkatan Hasil belajar dengan menggunakan sistem zonasi penerimaan peserta didik ini diharapakan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:
1. Dengan pembelajaran berbasis zonasi dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik di sekolah.
2. Pembelajaran berbasis zonasi akan meningkatkan kinerja atau motivasi bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
1. Hasil penelitian yang relevan
Asri Ulfah (2016) jurnal efektivitas penerimaan peserta didik baru (PPDB) melalui sistem penerimaan peserta didik online. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya bagi wali peserta didik dan calon peserta didik untuk melaksanakan pendaftaran ke sekolah-sekolah dengan aman dan tertib dengan meyediakan fitur otomotis proses PPDB online secara langsung menggunakan media internet. Mulai dari proses pendaftaran, proses seleksi hingga pengumuman hasil peserta didik secara langsung nyata melalui internet.
Desi Wulandari (2017) jurnal pengaruh penerimaan peserta didik baru melalui sistem zonasi terhadap prestasi belajara siswa. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh yang kuat dan signifikan antara penerimaan peserta didik baru melalui sistem zonasi terhadap prestasi belajar siswa, semakin baik pelaksanaan penerimaan peserta didik baru maka proses belajar dan prestasi didik akan semakin baik.
2. Penerimaan peserta didik baru 2.1 Pengertian Peserta didik
Peserta didik merupakan salah satu komponen pendidik yang tidak bisa ditinggalkan, karena tanpa adanya peserta didik tidak akan mungkin proses pembelajaran akan berjalan. Peserta didik merupakan komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses belajar mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik juga dapat didefinisikan
Agustina (Danim, 2010:1) bahwa Peserta didik merupakan sumber utama dan terpenting dalam proses pendidikan formal”. Peserta didik bisa belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa adanya peserta didik. Oleh karena itu kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilembagakan dan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Agustina (Danim, 2010:3) adapun hal-hal yang esensial mengenai hakikat peserta didik yaitu sebagai berikut:
Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiansi potensi dasar kognitif atau intelektual, afektif dan psikomotorik.
Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensial periodesasi perkembangan dan pertumbuhan. Meski memiliki pola yang relative sama.
Peserta didik memiliki imajinasi, persepsi dan dunianya sendiri bukan sekedar miniature orang dewasa.
Peserta didik merupakan manusia yang memiliki diferensiasi kebutuhan yang harus dipenuhi baik jasmani maupun rohani, meski dalam hal-ha tertentu banyak kesamaannya.
Peserta didik memerlukan pembinaan dan pengembangan serta individual dan kelompok, serta mengharapkan perlakuan yang manusiawi dari orang dewasa termasuk gurunya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah seseorang yang mengambangkan potensi dalam dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik bertindak sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan dari proses pembelajaran, dan untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan seorang pendidik atau guru.
2.2 Kebutuhan Dan Karakteristik Peserta Didik
Agustina (Danim, 2010:6) peserta didik merupakan insan yang memiliki aneka kebutuhan. Kebutuhan ini selalu bertambah dan
berkembang sesuai dengan sifat dan karakteristiknya sebagai manusia.
Asosiasi Nasional Sekolah Menengah (National Association of High School) Amerika Serikat (1995) mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan peserta didikdilihat dari dimensi perkembangannya, yaitu sebagai berikut:
1. kebutuhan intelektual yaitu peserta didik memiliki rasa ingin tahu, termotivasi untuk mencapai prestasi saat ditantang dan mampu berfikir untuk memecahan masalah-masalah yang kompleks.
2. Kebutuhan sosial yaitu peserta didik mempunyai harapan yang kuat memiliki dan dapat diterima rekannya.
3. Kebutuhan fisik yaitu peserta didik mengalami suatu perkembangan dan pertumbuhan pada tingkat yang berbeda.
4. Kebutuhan emosional dan psikologis yaitu peserta didik sering mengalami sadar diri dan mood swings yang tidak terduga.
5. Kebutuhan moral yaitu peserta didik ingin memiliki kemauan yang kuat untuk membuat dunia dirinya dan dunia luar dirinya menjadi tempat yang lebih baik.
6. Kebutuhan homodivinous yaitu peserta didik mengakui dirinya sebagi mahluk yang berkebutuhan atau mahluk homoriligius atau insan yang beragama.
Peserta didik memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kebutuhan peserta didik tumbuh dan berkembang mencapai kematangan pisik dan psikis. Kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pendidik diantaranya:
1. Kebutuhan jasmani
Hal ini menyangkut dengan tuntutan peserta didik yang bersifat jasmaniah, maupun yang menyangkut kesehatan jasmani yang dalam hal ini olahraga menjadi materi utama, disamping itu kebutuhan- kebutuhan lain seperti: makan, minum, tidur, pakaian dan sebagainya, perlu mendapat perhatian.
2. Kebutuhan sosial
Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesamapeserta didik dan guru serta orang lain, merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan sosial peserta didik. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para peserta didik belajar, bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan seperti bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku, bangsa, agama, status sosial dan kecakapan. Guru dalam hal ini harus dapat mencipatakan suasana kerjasama antar peserta didik dengan suaru harapan dapat melahirkan suatu pengalaman belajar yang lebih baik.
3. Kebutuhan intelektual
Semua peserta didik tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan, mungkin ada yang lebih berminat belajar ekonomi, sejarah, biologi atau yang lain-lain. Minat semacam ini tidak dapat dipaksakan kalua ingin mencapai hasil belajar yang optimal.oleh karena itu yang penting, bagaimana guru dapat menciptakan program yang dapat menyalurkan minat masing-masing.
Karakteristik peserta didik yaitu totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitas dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.
Agustina (Capra, 2004:106) ada 4 hal dominan dari karakteristik peserta didik yaitu sebagai berikut:
1. Kemampuan dasar yaitu misalnya kemampuan kognitif atau intelektual, afektif dan psikomotorik.
2. Latar belakang cultural local, status sosial, status ekonomi, agama dll.
3. Perbedaan kepribadianseperti sikap, perasaan, minat, dll.
4. Cita-cita, pandangan kedepan, keyakinan diri, daya tahan, dll.
2.3 Penerimaan Peserta Didik
Asri Ulfa, dkk (2016:44) menyatakan “Penerimaan peserta didik baru adalah salah satu kegiatan pertama kali dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan,yang tentunya penerimaan peserta didik baru tersebut melalui penyeleksian yang telah ditentukan oleh pihak lembaga pendidikan kepada calon peserta didik baru”. Penerimaan peserta didik dalam sebuah lembaga pendidikan merupakan sebuah hal yang sangat penting, karena dengan adanya penerimaan peserta didik yang dikelolah secara professional akan memberikan keuntungan sekolah dalam bidang pendaftaran yang nantinya akan menjadi peserta didik pada lembaga pendidikan tersebut. Dengan adanya peserta didik yang masuk menjadi
peserta didik yang baru secara otomatis operasional sekolah akan memberikan keuntungan, dan proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan akan berjalan dengan lancar karena pembelajaran merupakan satu kesatuan antara peserta didik dan tenaga pendidik.
Penerimaan peserta didik baru menurut Prihatin, 2014 (jurnal evektivitas penerimaan peserta didik baru memalui sistem penerimaan peserta didik online, Asri ulfa: 2016) “merupakan salah satu kegiatan manajemen peserta didik yang sangat penting karena bila tidak ada peserta didik yang diterima, maka di sekolah tidak ada yang harus ditangani atau diatur”. Penerimaan peserta didik baru adalah suatu hal yang perlu ditentukan secara cepat dan tepat. Dalam hal penentuan calon peserta didik baru menurut Imron, 2012 (jurnal evektivitas penerimaan peserta didik baru memalui sistem penerimaan peserta didik online, Asri ulfa: 2016)
“diperlukan beberapa pertimbangan yang cukup banyak dan rumit yaitu standarisasi persyaratan masuk sekolah serta kebijakan-kebijakan dari pemerintah dan lembaga pendidikan yang sering berubah setiap tahunnya.
Kebijakan penerimaan peserta didik baru sebenarnya menggunakan dasar- dasar manajemen peserta didik. Peserta didik dapat diterima disuatu lembaga pendidikan seperti sekolah, haruslah memenuhi persyaratan- persyaratan sebagaimana yng telah ditentukan.
Mengkaji dari beberapa pendapat mengenai pengertian penerimaan peserta didik baru, dapat diambil kesimpulan bahwa penerimaan peserta didik baru adalah satu kegiatan manajemen peserta didik yang pertama
kali dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menyeleksi peserta didik yang akan diterima disuatu sekolah. Dalam penyeleksian ini terdapat beberapa pertimbangan atau kriteria yang harus dipenuhi calon peserta didik agarbisa diterima disuatu sekolah.
3. Sistem penerimaan peserta didik baru
Sistem yang dimaksud pada penerimaan peserta didik baru menunjuk pada acara. Hal ini sesuai dengan penuturan imron, 2012 (jurnal evektivitas penerimaan peserta didik baru memalui sistem penerimaan peserta didik online, Asri ulfa: 2016) bahwa “sistem penerimaan peserta didik adalah cara penerimaan peserta didik baru. Ada dua sistem dalam sistem penerimaan peserta didik baru yaitu: pertama, dengan menggunakan sistem promosi. Sistem promosi adalah penerimaan peserta didik yang sebelumnya tanpa menggunakan seleksi. Peserta didik yang mendaftar disuatu sekolah, diterima tanpa ada penyeleksi terlebih dahulu sehingga yang mendaftar menjadi peserta didik tidak ada yang ditolak.
Sistem promosi demikian secara umum berlaku pada sekolah-sekolah yang pendaftaannya kurang dari daya tampung yang ditentukan. Kedua, dengan menggunakan system seleksi. Sistem seleksi ini dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu: seleksi berdasarkan daftar nilai, seleksi berdasarkan penelusuran minat dan kemampuan, dan seleksi berdasarkan hasil tes masuk.
4. Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Pesert Didik Baru 4.1 Pengertian Zonasi
Istilah Zonasi mulai digunakan pada tahun 2017 dalam penataan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang mengacu pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan atau bentuk lain yang sederajat.
Pengertian “Zonasi” dimaknai sebagai pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
4.2 Zonasi Peneriman Peserta Didik
Sesuai dengan permendikbud Nomor 14 tahun 2018 Sistem zonasi PPDB merupakan suatu dari bagian untuk melakaukan pemerataan di sektor pendidikan yaitu dengan cara Pemerintah Daerah diwajibakan oleh Pemerintah Pusat menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah yang paling sedikit sebesar 90%
(Sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang belum diterima dengan radius zona terdekat ditetapkan Pemerintah Daerah sesuai dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut dan daya tampung rombongan belajar pada setiap sekolah.
Fokus Administrasi Publik adalah kegiatan pemerintah yang mampu menerapkan dan menjalankan kebijaksanaan dan program- program kegiatan pemerintahan untuk mecapai tujuan yang telah ditetapkan mulai darikegiatan merencanakan, mengatur, mengatasi hingga evaluasi untuk kepentingan publik.
Lokus Administrasi Publik merupakan bagaimana pengelolaan pemerintah terhadap ketepatan dan kecermatan mengutamakan kepentingan masyarakat (public) dan sesegera memutuskan kebijakan publik jika terdapatmasalah dalam masyarakat.
Dalam Fokusnya pemerintah memberlakukan sistem pembelajaran berbasis zonasi Sebagian besar sekolah belum dapat menerapkan seleksi jarak antara sekolah dengan tempat tinggal peserta didik sesuai dengan prinsip zonasi. Selain itu, masih banyak sekolah menerapkan kuota zonasi, prestasi, dan perpindahan domisili tidak sesuai dengan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018.
Kebijakan zonasi adalah kebijakan yang utuh dan terintegrasi.
Pembelajaran berbasis zonasi hanyalah salah satu aspek saja, namun kebijakan ini memiliki kaitan dengan guru dan tenaga kependidikan, sekolah, penguatan pendidikan karakter, bantuan-bantuan pendidikan, serta anggaran pendidikan.
Untuk mendukung perbaikan fasilitas pendidikan, dari hasil analisis kebijakan zonasi Kemendikbud akan fokus pada titik-titik yang
akan dibenahi. Kemendikbud telah melakukan perombakan anggaran afirmasi pendidikan untuk tujuan tersebut.
Kebijakan zonasi ini sebagai kebijakan yang sudah tepat, dan perlu didukung semua pihak. Dengan titik tolak sistem zonasi maka pemerintah dan Kemendikbud harus mampu melakukan peningkatan kualitas pendidikan secara merata, dan fasilitas pendidikan secara merata. Karena itu pelaksanaan sistem zonasi membutuhkan komitmen yang tinggi dari pemerintah pusat dan daerah.
Pemerataan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) dalam dunia pendidikan khususnya,kemampuan guru menjadi bagian yang harus ditingkatkan secara bertahap dan merata di seluruh Indonesia.
5. Hasil Belajar
5.1 Pengertian Hasil Belajar
Prestasi belajar atau hasil belajar merupakan realisasi atau perkara dari kecakapan-kacakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.Belajar menurut Hammalik (dalam Sajidan, 2018: 43) didefinisikan sebagai “belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku termasuk juga perbaikan perilaku”.
Pengertian belajar menurut Nasution (dalam Sajidan, 2018: 43)belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak
termasuk latihan, misalnya perubahan karena mabuk atau minum ganja bukan termasuk hasil belajar.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang telah belajar jika terdapat perubahan tingkah laku melalui pengalaman atau latihan dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Perubahan tersebut terjadi akibat interaksi dengan lingkungannya, tidak terjadi karena perubahan fisik ataupun kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit ataupun karena obat-obatan. Kecuali itu perubahan tersebut relative bersifat lama atau permanen dan menetap.
Hasil adalah capaian dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok Sanjaya (dalam Syafaruddin dkk, 2019: 79). Sedangkan menurut Sanjaya (dalam Syafaruddin dkk, 2019: 79) bahwa hasil adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dari pengertian yang telah dikemukakan diatas, jelas terlihat perbedaan antara kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa hasil adalah capaian dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Sadirman (dalam Syafaruddin, 2019: 79) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tangkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sediri dari interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan pendapat tersebut, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakikat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu.
Menurut Nurhadi (dalam Syafaruddin, 2019: 80) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah prestasi yang telah dicapai atau yang diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa hasil belajar merupakan prestasi yang mengakibatkan perubahan dari dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Berdasarka beberapa pendapat diatas menggambarkan bahwa hasil belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang merupakan hasil dari aktivitas belajar yang ditunjukkan dalam bentuk angka-angka seperti yang dapat dilihat pada nilai rapor. Hasil belajar juga diartikan sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan program pendidikan yang ditetapkan.
5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor mempengaruhi hasil
belajar itu sendiri. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu sebagai berikut (Suhihartono dkk, 2007: 76-77) :
1) Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang terjadi dari dalam diri peserta didik.Beberapa faktor yang terdapat dalam diri setiap siswa peserta didikmempengaruhi hasil belajar.diantaranya faktor yang mampu mempengaruhi hasil belajar berupa sikap terhadap belajar, kebiasaan belajar yang keurang baik, dan rasa percaya diri seorang peserta didik.
Hal-hal seperti ini perlu diperatikan oleh seorang pendidik agar mampu mendorong siswa lebih baik lagi belajar. Terdapat beberapa faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu sikap terhadap belajar, motovasi belajar, konsentrasi belajar, mengolah bahan ajar, kemampuan berprestasi, rasa percaya diri peserta didik, intelegensi dan keberhasilan peserta didik, kebiasaan belajar, dan cita-cita peserta didik. Beberapa hal tersebut yang sering mempengaruhi hasil belajar peserta didik.Oleh karena itu guru harus membimbing peserta didikdengan baik.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar seorang peserta didikyang terjadi dari luar diri peserta didik.Banyak hal yang terjadi dari luar diri setiap peserta didikseperti lingkungan sosial siswa. Lingkungan sangat berperan aktif terhadap cara dan proses belajar peserta didik. Lingkungan sekolah tentunya harus
didukung oleh guru yang baik serta sarana dan prasarana yang memadai atau yang cukup sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, guru sebagai fasilitator yang meyediakan sarana dan prasarana tersebut. Terdapat beberapa faktor eksternal yang mampu mempengaruhi hasil belajar peserta didikyaitu: guru sebagai Pembina, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian lingkungan sosial peserta didik, dan kebijakan sekolah.
Menurut Djamarah (dalam Syafaruddin, 2019: 80) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sebagai berikut:
1) Faktor stimulasi
Yang dimaksud dengan faktor stimulasi adalah sebagal hal diluar individu yang merangsang untuk mengadakan reaksi atau perubahan, penegasan serta suasana lingkungan eksternal yang diterima.
2) Faktor metode mengajar
Metode mengajar guru sangat mempengaruhi terhadap belajar peserta didik, dengan kata lain metode yang dipakai guru sangat menentukan dalam mencapai hasil belajar peserta didik. Metode adalah cara, yang dalam fungsinya merupakan alat tujuan. Jadi jelas bahwa metode menentukan pencapaian tujuan pengajaran.
3) Faktor individual
Selain kedua faktor diatas, faktor individual sangat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan belajar peserta didik, bahwa
pertumbuhan dan usia seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Semakin dewasa individu semakin meningkat pula kematangannya sebagai fungsi fisiologisnya.
Dengan demikian proses belajar-mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para peserta didikmencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para peserta didikmenuju pada perubahan-perubahan tingkah laku bak intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan mahluk sosial. Dalam mencapai tujuan tersebut peserta didikberinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur guru melalui proses pengajaran
B. Kerangka Pikir
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Pengaruh Sistem Zonasi Peserta Didik Terhadap Hasil Belajar
Sistem Zonasi Peserta Didik Hasil Belajar
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah, teori dan kerangka pikir, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H0: Tidak ada pengaruh dalam penerimaan peserta didik baru melalui sistem Zonasi terhadap hasil belajar murid di SD Negeri Labbakkang
H1: Ada pengaruh dalam penerimaan peserta didik baru melalui sistem Zonasi terhadap hasil belajar murid di SD Negeri Labbakkang
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dipilih atau yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriftif. Menurut Nazir (Rukajat, 2018: 1) pendekatan deskriptif adalah suatu pendekatan dalam penelitian status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriftif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Berdasarkan pendapat Nazir diatas, maka penulis berpendapat jenis penelitian deskriftif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan fenomena yang teradi secara nyata, realistik, aktual, nyata dan pada saat ini.
Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan pengaruh sistem zonasi dalam peneriamaan peserta didik terhadap hasil belajar murid SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
2. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini adalah ex-post facto yang bersifat korelasional.
Disebut ex-post facto karena fakta yang dikumpulan sudah ada sebelumnya, dan bersifat korelasional karena yang akan diselidiki ada hubungan antara variabel.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel
Vairiabel peneilitian pada dasarnya adalah suatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. Kemudian ditarik kesimpulannya bahwa variabel adalah gejala yang menjadi focus penelitian dalam suatu penelitian.
Variabel penelitian adalah “sistem zonasi penerimaan peserta didik”
sebagai variabel bebas yang disimbolkan dengan X, “Hasil Belajar” sebagai variabel terikat yang disimbolkan dengan Y.
2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan variabel ganda, yaitu variabel bebas yaitu sistem zonasi penerimaan peserta didik dengan simbol (X) dan variabel terikat yaitu hasil belajar (Y). Adapun tata hubungan antara variabel penelitian digambar dengan skema sebagai berikut:
Gambar 3.1: Bagan Desain Penelitian Keterangan:
X : Variabel Bebas (Sistem zonasi penerimaan peserta didik) Y : Variabel terikat (Hasil Belajar murid)
X Y
C. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang keliru dari pembaca agar lebih memudahkan terhadap makna yang terkandung dalam topik penelitian ini, maka penulis mengemukakan definisi operasional variabel dimana dalam penelitian ini variabel bebas (x) adalah sistem zonasi penerimaan peserta didik dan variabel terikat (y) adalah hasil belajar murid yang penjelasannya sebagai berikut:
1. Variabel Bebas (X) Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik
Sistem zonasi penerimaan peserta didik adalah sebuah sistem pengaturan proses penerimaan siswa baru sesuai dengan wilayah tempat tinggalnya dimana penulis mengambil subjek penelitian di Kabupaten Gowa tepatnya di berada di SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten pada tahun ajaran 2020/2021.
2. Variabel Terikat (Y) Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilaku kemampuan secara keseluruhan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, efektif, dan psikomotorik yang disebabkan oleh pengalaman, dimana penulis mengambil subjek penelitian hasil belajar peserta didik yaitu murid Kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada tahun ajaran 2020/2021.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi merupakan sumber data dan informasi untuk kepentingan penelitian atau sekelompok subjek, baik manusia, nilai, tes, benda atau peristiwa. Noor (2011: 147) mengutarakan bahwa populasi digunakan untuk menyebutkan seluruh elemen/anggota dari suatu wilayah yang menjadi sasaran penelitian atau merupakan keseluruhan dari objek penelitian.
Adapun populasi dalam penelitian ini:
Seluruh MuridSD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa tahun ajaran 2020-2021.
Tabel 3.1 Jumlah Murid SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun Ajaran 2020/2021
Sumber Data : Kantor Tata Usaha SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Sukardi, 2013:57). Menurut Sugiono (2010: 118) “Sampel adalah bagian dari
Kelas Jumlah Siswa
Jumlah Laki-laki Perempuan
I 8 8 16
II 16 10 26
III 20 14 34
IV 10 10 20
V 5 18 23
VI 18 10 28
Jumlah 77 70 147
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, bila populasi tersebut dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua populasi yang ada, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi (Sugiono, 2010: 81). Sampel dalam peneliti ini adalah siswa kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupateng Gowa tahun ajaran 2020-2021 yang berjumlah 26 siswa.
Tehnik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive Sampling . Purposive Sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan berupa sifat-sifat, karakteristik, ciri dan kriteria sampel dengan tujuan tertentu yang mencerminkan populasi
E. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian yaitu keseluruhan data yang diperlukan untuk menjelaskan keseluruhan sumber darimana data diperoleh, dalam hal ini penulis menggunakan dua instrument pengumpulan data yaitu:
1. Angket
Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
2. Dokumentasi
Dokumentasi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk menyediakan
dokumen-dokumen dengan menggunakan bukti yang akurat dari pencatatan sumber-sumber informasi khusus dari tulisan buku dan sebagainya.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data (Sugiono, 2015: 308). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Angket (Kuesioner)
Angket atau kuesioner merupakan tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dengan maksud untuk menjaring data dan informasi langsung dari responden yang bersangkutan. Angket yang berisi daftar pertanyaan yang secara tertulis teridiri dari item-item pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian.
Sasaran angket adalah siswa kelas II yang diterima melalui sistem zonasi di SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupateng Gowa pada tahun ajaran 2020-2021. Responden memilih jawaban yang telah disediakan dari tiga alternatif jawaban yang masing-masing mempunyai skor bobot yang bervariasi. Berikut ini skor untuk alternatif jawaban pada angket:
a. Untuk jawaban yang sesuai harapan diberikan nilai 4 b. Untuk jawaban yang mendekati harapan diberikan nilai 3
c. Untuk jawaban yang kurang sesuai dengan harapan diberikan nilai 2
d. Untuk jawaban yang tidak sesuai dengan harapan diberikan nilai 1 Selanjutnya untuk mengolah nilai dalam tiap kelompok variabel maka diadakan kategorian nilai yaitu sangat baik, baik, sedang, buruk yang penskoran nilainya ditentukan oleh banyaknya item.
2. Dokumentasi
Tehnik pengumpulan data untuk hasil belajar adalah dokumentasi. Arikunto (2010:274) mengemukakan bahwa dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,majalah, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Dalam penelitian ini penggunaan tehnik dokumentasi adalah sebagai bukti yang mendukung keterangan-keterangan dan fakta-fakta yang berhubungan dengan objek.
G. Teknik Analisis Data
Tehnik analisis data dalam penulisan penelitian ini yang menjadi pokok permasalahan adalah penulis ingin mengetahui kebenaran hipotesis yang diajukan, apakah diterima atau ditolak. Kebenaran setelah melalui pengujian data yang dikumpulkan melalui berbagai tehnik pengumpulan data.Menganalisis data merupakan salah satu langkah kritis dalam penelitian dengan tujuan untuk mencari kebenaran data tersebut dan mendapatkan suatu kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Dalam penulisan ini proposal ini, yang menjadi pokok permasalahan adalah penulis ingin mengetahui kebenaran hipotesis yang diajukan, apakah
diterima atau ditolak. Kebenaran setelah melalui pengujian data yang dikumpulkan melalui berbagai t eknik pengumpulan data.
Setelah terkumpulnya data tersebut maka diubah dengan statistik inferensial dengan koefisien product moment. Dalam statistik dikenal adanya dua jenis rumus dalam mencari korelasi yakni, rumus deviasi asli dan rumus deviasi singkat (rumus angket besar)
Dalam penelitian ini digunakan rumus deviasi atau rumus angka besar.
Dalam penelitian ini teknik koefisien korelasi Product moment yang digunakan, karena teknik ini dapat mencari koefisen korelasi antara dua variabel, adapun rumus angka besar dapat dikutip dari buku dasar-dasar statistika.
rxy = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
√{𝑁 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋)2} {𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌)2}
(Suharsimi Arikunto, 2002: 146) Keterangan :
𝑟𝑥𝑦 = Indeks korelasi N = Jumlah Sampel
∑X = Jumlah nilai data sistem zonasi
∑Y = Jumlah nilai hasil UTS
Untuk mengetahui konstribusi variabel X terhadap Y dengan rumus koefisien determinasi sebagai berikut:
KD = r2 x 100% (Sunarto, 2009: 83)
Keterangan:
KD = Koefisien determinasi r2 = Koefisien korelasi
Untuk menaksir nilai koefisien variabel X dan variabel Y digunakan interprestasi nilai Sebagai berikut
Tabel 3.2 Intreprestasi Nilai rxy
Koefisien Korelasi (rxy) Interprestasi
0,81 – 1,00 Sangat tinggi
0,61 – 0.80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat rendah (tak berkorelasi) Interprestasi nllai r digunakan untuk mengetahui apakah variabel X dan Y terdapat hubungan yang sangat rendah (tak berkorelasi), rendah, agak rendah, cukup, dan korelasi tinggi.
Selanjutnya untuk analisis data kuantitatif maka digunakan teknik kategorisasi dengan skala lima berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan sebagai berikut
Tabel 3.3 Standar Kategoris Prensentasi Statistik
Penguasaan Kategori
0 – 54 Sangat Rendah
55 – 64 Rendah
65 - 79 Sedang
80 – 89 Tinggi
90 – 100 Sangat Tinggi
H. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 1. Uji Validitas
Menurut Sugiono (2008: 363) “validitas adalah derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang tepat dilaporkan oleh peneliti.
Pada penelitian ini yang digunakan adalah validitas logis (logical validity). Untuk mengetahui validitas logis maka pembuatan alat ukur dalam penelitian ini mengikuti langkah-langkah penyusunan instrumen berdasarkan pada konsep-konsep teoritis yang ada untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada para ahli atau dosen pembimbing.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 160) “reliabilitas menunjukkan bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik”.
Untuk membuktikan kemantapan data maka akan diadakan uji coba angket reabilitas menunjukkan bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk dipergunakan sebagai alat pengumpulan data instrumen tersebut sudah baik.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Menyebarkan angket uji coba kepada 10 orang diluar responden.
b. Hasil uji coba dikelompokkan dalam item genap dan item ganjil.
c. Selanjutnya mengkorelasikan kelompok genap dan kelompok ganjil dengan menggunakan rumus product moment yaitu:
rxy = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
√{𝑁 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋)2} {𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌)2}
(Suharsimi Arikunto, 2002: 146)
Keterangan :
r𝑥𝑦 = koefisien korelasi antara x dan y x = variabel bebas
y = variabel terikat N = jumlah populasi
1. kemudian untuk mengetahui reliabilitas instrumen digunakan rumus Sperman Brown sebagai berikut:
r𝑥𝑦 = 2 (𝑟𝑔𝑔) 1 + 𝑟𝑔𝑔
Keterangan:
r𝑥𝑦 = reliabilitas instrumen
𝑟𝑔𝑔 = koefisien korelasi item ganjil dan item genap
2. Hasil analisis pengolahan data kemudian dibandingkan dengan tingkat reliabilitas menurut Arikunto (2008: 75) dengan kriteria sebagai berikut:
0,80 – 1,00 = Reliabilitas sangat tinggi 0,60 – 0,80 = Reliabilitas tinggi 0,40 – 0,60 = Reliabilitas cukup 0,20 – 0,40 = Reliabilitas rendah 0,00 – 0,20 = Reliabilitas sangat rendah
I. Analisis Uji Validitas dan Reabilitas Angket 1. Analisis Validitas Angket
Sebelum melakukan uji coba angket untuk mengetaui validitas angket peneliti melakukan konsultasi, untuk mengetaui validitas angket yang akan digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan uji coba angket kepada 10 orang diluar sampel. Uji instrumen dinyatakan valid jika rhitung
˃ rtabel, dan sebaliknya jika rhitung < rtabel, maka dinyatakan tidak valid atau
gugur, dimana nilai rtabel dengan taraf siknifikansi 5% untuk menyatakan apakah rumus tersebut valid atau tidak.
Adapun validitas angket Sistem Zonasi Penerimaan Peserta didik di SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dengan taraf kesalahan 5% sebesar 0,549 sebagai berikut.
Tabel. 3.4 Uji Validitas Instrumen Angket Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik
Butir Soal 𝐫𝐡𝐢𝐭𝐮𝐧𝐠 Status
1 0,6054 Valid
2 0,6437 Valid
3 0,6704 Valid
4 0,6161 Valid
5 0,6153 Valid
6 0,3191 Tidak Valid
7 0,6589 Valid
8 0,6940 Valid
9 0,6109 Valid
10 0,5636 Valid
11 0,3794 Tidak Valid
12 0,5652 Valid
13 0,3478 Tidak Valid
14 0,6498 Valid
15 0,6088 Valid
16 0,3478 Tidak Valid
17 0,8877 Valid
18 0,6104 Valid
19 0,3236 Tidak Valid
20 0,6770 Valid
Dari tabel diatas, dapat dibaca bahwa dari 20 (dua puluh) item soal terdapat 5 soal yang tidak valid. Item soal yang tidak valid yaitu nomor 6, 11, 13, 16 dan 19 sedangkan soalyang valid yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 17, 18, dan 20. Selanjutnya item soal yang tidak valid dibuang atau tidak
diikut sertakan dalam instrumen atau proses perhitungan dapat dilihat pada lampiran 6.
2. Analisis Reliabilitas Angket
Sebuah alat ukur dapat dapat dinyatakan baik apabila mempunyai realibilitas yang baik pula, yaitu ketepatan suatu alat ukur. Hal ini dimaksudkan bahwa ketepatan alat ukur ini sangat berpengaruh dalam menentukan layak tidaknya suatu alat ukur untuk dipergunakan sebagai alat untuk pengumpulan data. Untuk mengetahui reliabilitas angket yang akan digunakan maka peneliti mengadakan uji coba angket kepada 10 orang diluar sampel. Pengolahan data menggunakan rumus Product Moment, yang kemudian dilanjutkan dengan rumus Sperman Brown.
Tabel. 3.5 Distribusi antara Item Ganjil (X) dengan Item Genap (Y)
No X Y X² Y² XY
1 32 39 1024 1521 1248
2 34 38 1156 1444 1292
3 32 32 1024 1024 1024
4 33 30 1089 900 990
5 23 27 529 729 621
6 25 30 625 900 750
7 34 33 1156 1087 1122
8 27 27 729 729 729
9 30 29 900 841 870
10 31 31 961 961 961
Jumlah 301 316 9193 10136 9607 Sumber: Analisis Uji Coba Angket
Dari tabel diatas merupakan hasil dari penggabungan skor dari uji coba angeket kepada 10 orang diluar sampel dengan indikator item ganjil (X) dan item genap (Y). Hasil keseluruhandari tabel kerja uji coba angket antara item
ganjil (X) dengan item genap (Y) akan dikorelasikan menggunakan rumus Product Moment untuk mengetahui besar koefisien korelasi instrumen penelitian.
Berdasarkan data yang diproses diatas, maka untuk mengetaui reliabilitas selanjutnya dikorelasikan dan diolah dengan rumus Product Moment sebagai berikut:
rxy = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
√{𝑁 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋)2}{𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌)2}
(Suharsimi Arikunto, 2002: 146)
Diketahui:
∑ X = 301 ∑ X2 = 9193 (∑X)2 = 90.601
∑ Y = 316 ∑ Y2 = 10136 (∑Y)2 = 99.856
∑ XY = 9607 N = 10
Dengan rumus diatas, maka data yang telah diketahui dimasukkan untuk membuktikan reliabilitas dalam rumus sebagai berikut:
rxy = (10)(9607) − (301)(316)
√{(10)(9193) − (90601)} {(10)(10136) − (99856)}
rxy = 954 141
rxy = 0,67
Maka untuk mengetahui koefisien reliabilitasnya digunakan rumus Sperman Brown sebagai berikut:
rxy = 2 (𝑟𝑔𝑔) 1 + 𝑟𝑔𝑔
rxy = 2 (0,67) 1 + 0,67
rxy = 0,80
Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan tingkat reliabilitas menurut Arikunto (2008: 75) dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.6 Hasil Perhitungan Realiabilitas Instrumen Angket Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik
Realiabilitas Interprestasi
0,81 – 1,00 Sangat tinggi
0,61 – 0.80 Tinggi
0,41 – 0,60 Cukup
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat rendah (tak berkorelasi)
Hasil perhitungan tersebut diketahui 𝑟𝑥𝑦 = 0,80. Selanjutnya indeks reliabilitasnya termasuk dalam kriteria 0,60 – 0,80, berarti angket yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas “tinggi”. Dengan demikian angket mengenai sistem zonasi peserimaan peserta didik di SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dapat digunakan dalam penelitian ini memenuhi syarat.
38
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Penyajian Hasil Penelitian 1. Hasil Analisis Deskriptif
Sebagai deskriptif tentang karakteristik distrubusi skor dari tiap variabel dan sebagai jawaban terhadap rumusan masalah penelitian ini maka ditunjukkan hasil analisis deskriptif sebagai berikut:
a. Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik
Hasil analisis deksriptif tentang skor variabel sistem zonasi dapat dilihat pada lampiran 7 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Statistik Skor Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Murid Kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
Statistik Nilai statistic
Ukuran Sampel Skor Tertinggi Skor Terendah Rentang Skor Skor Rata-Rata
Varians Standar Deviasi
26 59 40 19 49 33,6 5,80
Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai murid adalah 59 skor dan skor terendah adalah 40, skor rata-rata yang diperoleh adalah 49 skor ideal yang mungkin dicapai yakni 50 dengan standar deviasi 5,80.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Skor Variabel Murid Kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
.
Tabe 4.2 menunjukkan hasil pengujian dari data variabel x yaitu sistem zonasi penerimaan peserta didik dalam kategori baik sekali (38%) dengan skor 51 - 60, kategori baik (50%) dengan skor 41 - 50, kategori sedang (12%) dengan skor 31 - 40, kategori rendah (0%) dengan skor 21 - 30, dan dalam kategori sangat rendah (0%) dengan skor 0 – 20.
Jika pada tabel 4.1 dan tabel 4.2 diselaraskan maka skor rata-rata 49 berada dalam kategori “baik”. Dengan demikian, data hasil uji sistem zonasi penerimaan peserta didik murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dalam kategori baik.
b. Hasil Belajar
Hasil analisis deskriptif tentang hasil belajard kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dapat dilihat pada lampiran dan disajikan pada tabel berikut:
Skor Kategori Frekuensi Presentase
0-20 Rendah Sekali 0 0%
21-30 Rendah 0 0%
31-40 Sedang 3 12%
41-50 Baik 13 50%
51- 60 Baik Sekali 10 38%
Jumlah 26 100%
Tabel 4.3 Statistik Skor Hasil Belajar kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
Statistik Nilai statistic
Ukuran Sampel Skor Tertinggi Skor Terendah Rentang Skor Skor Rata-Rata
Varians Standar Deviasi
26 88 72 16 78,9 23,7 4,87
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai murid adalah 88 skor dan skor terendah adalah 72, skor rata-rata yang diperoleh adalah 78,9 skor ideal yang mungkin dicapai yakni 80 dengan standar deviasi 4,87
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Presentase Skor Hasil Belajar Murid Kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa
Skor Kategori Frekuensi Presentase
0 - 54 Rendah Sekali 0 0%
55 – 64 Rendah 0 0%
65 – 79 Sedang 12 46%
80 – 89 Baik 14 54%
90 – 100 Baik Sekali 0 0%
Jumlah 26 100%
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa murid yang memiliki nilai hasil belajar dalam kategori baik sekali (0%) dengan skor 90 – 100, kategori baik (54%) dengan skor 80 - 89, kategori sedang (46%) dengan skor 65 - 79, kategori rendah (0%) dengan skor 55 - 64, dan dalam kategori sangat rendah (0%) dengan skor 0 – 54.
Pada tabel 4.3 dikatakan bahwa skor rata-rata penilaian sistem zonasi adalah 78,9 jika diselaraskan dengan tabel 4.4 maka skor rata-rata tersebut berada dalam kategori “sedang” dengan demikian dapat dinayatakan bahwa nilai hasi l belajar murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa tergolong sedang.
2. Hasil Analisis Statistik Inferensial
Penyajian dan analisis data bermaksud untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian ini digunakan statistik inferensial dengan product moment.
Berdasarkan data yang terkumpul dan hasil perhitungan didapatkan r = 0,4944 berarti berada pada kategori korelasi “cukup”. Selanjutnya dibandingkan dengan tabel nilai r produk moment dengan taraf signifikan 5%. Dari tabel 26 diperoleh rtabel = 0,388. Dengan demikan rhitung lebih besar daripada rtabel atau 0,4944 > 0,388 maka Ha (diterima) dan Ho (ditolak). Sehingga dapat dinyatakan bahwa “terdapat pengaruh sistem zonasi penerimaan peserta didik terhadap hasil belajar murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa”.
Koefisien determinasi r2 (0,4944)2 % didapatkan hasil 2,4 – 24%
pengaruh sistem zonasi penerimaan peserta didik baru terhadap hasil belajar murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis maka akan diuraikan hasil sebagai berikut:
1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Pada pasal 16 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 menyebutkan bahwa
“Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan pada alamat KK yang diterbitkan paling lambat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB”. Berdasarkan hasil pengujian data sistem zonasi penerimaan peserta didik murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa diperoleh Skor rata-rata 49 dan skor ideal yang mungkin dicapai 50 dengan standar deviasi 5,80. Sedangkan hasil belajar adalah diperoleh skor rata-rata 78,9 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 80 dengan standar deviasi 4,87.
Dari hasil analisis diatas dapat dikatakan bahwa sistem zonasi peserimaan peserta didik pada murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa tergolong baik, begitu juga dengan Hasil belajar tergolong “sedang”.
2. Hasil analisis statistik inferensial
Untuk mengetahui adanya pengaruh sistem zonasi penerimaan peserta didik terhadap hasil belajar murid kelas II SD Negeri Labbakkang Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, peneliti menganalisis data dengan menggunakan rumus product moment dengan rincian sebagai berikut:
rxy = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
√{𝑁 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋)2}{𝑁 ∑ 𝑌2− (∑ 𝑌)2}
= (26)(100405)− (1276)(2053)
√(26) (63464)−(1628176) (20) (162703)−(4214809)
=
2610530−2619628√(1650064 −1628176) (4230278 − 4214809)
=
9098√(21888) (15469)
=
9098147,9 ×124,4
= 9098
18398,7
= 0,4944
Selanjutnya untuk mengetahui sumbangan variabel X (sistem zonasi) terhadap variabel Y (hasil belajar) yaitu:
1. Sumbangan variabel X (sistem zonasi) KD = r2 x 100%
= 0,49442 x 100%
= 24,44%
Jadi, sumbangan sistem zonasi terhadap hasil belajar sebesar 24,44%.
Sisanya, angka 75,56% adalah pengaruh terhadap hasil belajar yang belum diketahui melalui penelitian ini.
Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa rhitung = 0,4944.
Apabila dikonsultasikan dengan tabel r product moment dengan jumlah sampel n = 26, pada taraf signifikan 5% diperoleh rtabel = 0,388. Jika rhitung <
rtabel maka Ho (diterima) dan Ha (ditolak) tapi sebaliknya jika rhitung >rtabel
maka Ha (diterima) dan Ho (ditolak).