• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Yosef Hartoko 13804241041

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "Skripsi Yosef Hartoko 13804241041"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia pada bulan Februari 2013 – Agustus 2015 secara umum sangat fluktuatif. Hal ini menunjukkan bahwa pencari kerja laki-laki di Indonesia memiliki probabilitas lebih tinggi dibandingkan pencari kerja perempuan karena adanya ketidaksetaraan gender dalam akses terhadap pasar tenaga kerja.

Tabel 2. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur di  Indonesia, Agustus 2015
Tabel 2. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur di Indonesia, Agustus 2015

Identifikasi Masalah

Pembatasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

  • Tenaga Kerja
  • Pengangguran
  • Teori Human Capital
  • Teori Mencari Kerja
  • Lama Mencari Kerja
  • Pengangguran Tenaga Kerja Terdidik
  • Pendidikan
  • Pelatihan
  • Jenis Kelamin
  • Umur
  • Status Perkawinan

Singkatnya, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPK) adalah jumlah pekerja dibagi jumlah pekerja pada kelompok yang sama. Pasar tenaga kerja terdiri dari semua kegiatan yang mempertemukan penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja. Pekerja yang terlatih umumnya menerima tingkat upah yang relatif lebih tinggi dibandingkan pekerja yang tidak terlatih (Kusnendi.

Pekerja yang berpendidikan umumnya berasal dari keluarga yang mempunyai tingkat pendapatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga pekerja yang tidak berpendidikan (Kusnendi. Durasi pengangguran pada pekerja yang berpendidikan lebih lama dibandingkan dengan pekerja yang tidak berpendidikan (Simanjuntak. Pekerja yang berpendidikan cenderung memiliki produktivitas yang lebih tinggi). Pekerjaan yang lebih tinggi dan efisiensi dibandingkan tenaga kerja yang tidak berpendidikan.

Menurut Rahmawati dan Wiyon dalam Adi, faktor penyebab terjadinya pengangguran pada kalangan tenaga terpelajar adalah: Pendidikan tinggi sebagai proses penyiapan lulusan atau tenaga kerja yang siap pakai belum berfungsi sebagaimana mestinya. Tren meningkatnya angka pengangguran di kalangan pekerja terpelajar disebabkan oleh semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar pula keinginan untuk mendapatkan jabatan atau pekerjaan yang lebih sesuai.

Pekerja yang baru berhenti sekolah tidak lama lagi perlu beratur untuk menunggu pekerjaan yang diharapkan (Effendi, 1993: 53). Tetapi tenaga kerja yang berpendidikan tinggi mengalami kesukaran mencari kerja dan mengalami masa pencarian yang lebih lama daripada tenaga kerja yang kurang berpendidikan.

Gambar 1. Model Pencarian Kerja Stigler
Gambar 1. Model Pencarian Kerja Stigler

Penelitian yang Relevan

Tenaga kerja yang menikah membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja yang belum menikah. Usia berpengaruh negatif terhadap durasi pencarian kerja, sedangkan usia kuadrat berpengaruh positif terhadap durasi pencarian kerja. Penelitian Tasnim Khan dan Fatima Yousaf bertujuan untuk mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi lamanya pengangguran bagi pencari kerja pertama kali.

Gender mempunyai pengaruh yang signifikan dengan tanda negatif yang menunjukkan bahwa laki-laki mengalami durasi pengangguran lebih rendah dibandingkan perempuan. Orang yang berpendidikan profesional mempunyai masa pengangguran lebih lama dibandingkan orang yang berpendidikan nonprofesional. Masyarakat yang mengikuti pelatihan atau program peningkatan keterampilan mempunyai masa pengangguran yang lebih pendek dibandingkan dengan masyarakat yang kurang pelatihan dan keterampilan.

Seseorang yang menjadi kepala rumah tangga mempunyai durasi pengangguran yang lebih singkat dibandingkan dengan seseorang yang bukan kepala rumah tangga. Orang yang berstatus menikah mempunyai masa pengangguran yang lebih singkat dibandingkan dengan orang yang tidak menikah. Rentang usia responden yang digunakan dalam penelitian Tasnim Khan dan Fatima Yousaf adalah kelompok usia 18 hingga 35 tahun.

Kerangka Berpikir

Ada pekerjaan yang hanya membutuhkan laki-laki atau perempuan dan ada pekerjaan yang membutuhkan keduanya. Sebab, masih ada pandangan bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah, sedangkan perempuan mengurus rumah tangga. Sehingga laki-laki akan cenderung lebih cepat menerima pekerjaan yang ada tanpa banyak pertimbangan.

Tingkat pengangguran pada kelompok umur 15 sampai 24 tahun akan lebih menonjol dibandingkan pada kelompok umur 24 tahun ke atas. Namun, pengangguran pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun lebih besar kemungkinannya untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan pengangguran pada kelompok usia 24 tahun ke atas. Pekerja yang sudah menikah akan memiliki kebutuhan yang lebih banyak dibandingkan pekerja yang belum menikah, sehingga pekerja yang sudah menikah akan lebih besar kemungkinannya untuk menerima pekerjaan.

Durasi pencarian kerja bagi pekerja yang sudah menikah akan lebih pendek dibandingkan pekerja yang belum menikah. Banyaknya lapangan pekerjaan di perkotaan menunjukkan bahwa peluang mendapatkan pekerjaan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.

Hipotesis Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Desain Penelitian
  • Sumber Data
  • Sampel
  • Definisi Operasional Variabel Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
    • Analisis Regresi Robust
    • Uji Hipotesis

Pekerja laki-laki membutuhkan waktu lebih lama dari rata-rata untuk mendapatkan pekerjaan di semua tingkat pendidikan. Pekerja yang tinggal di pedesaan dan mempunyai pendidikan dasar mempunyai waktu paling singkat untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, waktu pencarian kerja bagi tenaga kerja terlatih di perkotaan lebih singkat dibandingkan di perdesaan.

“Usia angkatan kerja memiliki dampak yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dihabiskan pekerja terampil di Indonesia untuk mencari pekerjaan pada tahun 2015,” laporan tersebut mengakui. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap lamanya waktu yang dihabiskan pekerja terampil di Indonesia untuk mencari pekerjaan pada tahun 2015. Gender berpengaruh positif terhadap lamanya waktu yang dihabiskan pekerja terampil di Indonesia untuk mencari pekerjaan. Indonesia pada tahun 2015.

Namun kuadrat umur mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap lama mencari kerja pada tenaga kerja terpelajar di Indonesia tahun 2015. Status perkawinan mempunyai pengaruh negatif terhadap lama mencari kerja tenaga kerja terpelajar di Indonesia tahun 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya mencari kerja bagi tenaga kerja terpelajar di Kabupaten Semarang (studi kasus di Kecamatan Ungaran Barat dan Bancak) terkena dampaknya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data

Rata-rata, baik perempuan maupun laki-laki menghabiskan waktu paling lama untuk mencari pekerjaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kecenderungan lamanya mencari kerja antarjenjang pendidikan juga terlihat berdasarkan daerah tempat tinggal, seperti terlihat pada Gambar 4. Sementara itu, pekerja di perdesaan yang tingkat pendidikannya lebih tinggi memiliki waktu mencari pekerjaan yang lebih lama dibandingkan dengan mereka yang berada di pedesaan. daerah perkotaan hidup.

Tren jangka panjang dalam mencari pekerjaan di berbagai kursus kejuruan berdasarkan gender ditunjukkan pada Gambar 5 di bawah. Sementara itu, bagi pekerja laki-laki yang telah menyelesaikan pelatihan, lama waktu yang mereka habiskan untuk mencari pekerjaan sedikit lebih pendek dibandingkan pekerja perempuan yang telah menyelesaikan pelatihan. Kecenderungan jangka panjang untuk mencari pekerjaan antar pendidikan kejuruan, berdasarkan wilayah tempat tinggal, seperti terlihat pada Gambar 6.

Tren angkatan kerja jangka panjang berdasarkan gender ditunjukkan pada Gambar 7 di bawah ini. Kecenderungan jangka panjang untuk mencari pekerjaan selama status perkawinan pekerja berdasarkan gender, seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Kecenderungan jangka panjang untuk mencari pekerjaan selama status perkawinan berdasarkan wilayah tempat tinggal tetap, seperti ditunjukkan pada Gambar 9.

Tabel 6. Frekuensi Lama Mencari Kerja
Tabel 6. Frekuensi Lama Mencari Kerja

Hasil Penelitian

Pentingnya variabel dummy terhadap tingkat pendidikan menunjukkan adanya pengaruh lamanya pengalaman karyawan antar tingkat pendidikan dalam mencari pekerjaan. Pengujian pengaruh tingkat pendidikan luar sekolah terhadap lama pencarian kerja menghasilkan tingkat probabilitas kesalahan yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang diharapkan sebesar 0,000, sehingga pegawai tidak bersekolah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap durasi pencarian kerja mencari pekerjaan. . Pengujian pengaruh tingkat pendidikan dasar terhadap durasi pencarian kerja menghasilkan tingkat kesalahan probabilitas yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang diharapkan yaitu 0,000, yang menunjukkan bahwa pekerja dengan pendidikan dasar mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap durasi pencarian kerja.

Koefisien regresi tingkat pendidikan dasar sebesar -1,132 sehingga pekerja dengan pendidikan dasar menghabiskan waktu lebih sedikit untuk mencari pekerjaan dibandingkan pekerja dengan tingkat pendidikan lainnya. Pengujian pengaruh pelatihan terhadap lama mencari kerja pada pekerja terpelajar menghasilkan probabilitas kesalahan yang lebih rendah dari taraf signifikansi yang diharapkan sebesar 0,047, sehingga hipotesis yang berbunyi “Pelatihan pekerja berpengaruh signifikan terhadap lama mencari kerja pada pekerja terpelajar di Indonesia pada tahun 2015". Pengujian pengaruh gender terhadap lamanya waktu mencari kerja pada pekerja berpendidikan menghasilkan tingkat probabilitas kesalahan yang lebih rendah dari tingkat signifikansi yang diharapkan sebesar 0,002, sehingga hipotesisnya berbunyi: “Gender berpengaruh signifikan terhadap lamanya mencari kerja pada pekerja berpendidikan pekerja di Indonesia.

Pengaruh Usia terhadap Durasi Pencarian Kerja pada Pekerja Terpelajar Menguji pengaruh usia terhadap durasi pencarian kerja pada pekerja terpelajar menghasilkan tingkat kesalahan probabilitas yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang diharapkan yaitu 0,000, demikian dikatakan dalam hipotesis. Koefisien regresi umur angkatan kerja sebesar 0,131 sehingga setiap kenaikan umur 1 tahun maka lama pencarian kerja akan semakin lama. Pengujian pengaruh status perkawinan terhadap durasi pencarian kerja pada pekerja terpelajar menghasilkan tingkat kesalahan probabilitas yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang diharapkan sebesar 0,000, sehingga hipotesis yang menyatakan “Status perkawinan berpengaruh signifikan terhadap lama waktu pencarian kerja pada buruh di Indonesia .

Pembahasan

Dengan demikian hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Simanjuntak bahwa tingkat pendidikan akan mempengaruhi produktivitas, produktivitas kerja pekerja yang berpendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja yang tidak berpendidikan. Waktu yang diperlukan untuk mencari pekerjaan bagi pekerja yang telah mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikat lebih lama dibandingkan dengan pekerja yang belum mendapatkan pelatihan. Variabel pelatihan signifikan dan mempunyai arah positif terhadap koefisien regresi, sehingga dapat diartikan bahwa pekerja yang pernah mengikuti pelatihan dan mendapat sertifikat mempunyai kemungkinan lebih kecil untuk bekerja.

Variabel gender signifikan dan mempunyai arah koefisien regresi yang positif, sehingga hal ini dapat berarti bahwa pegawai perempuan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk bekerja. Pengaruh Usia Terhadap Waktu Mencari Kerja Pada Tenaga Berpendidikan Hasil analisis menunjukkan bahwa umur berpengaruh positif dan signifikan terhadap waktu mencari kerja pada tenaga kerja terpelajar di Indonesia pada tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya dan berkurangnya waktu mencari pekerjaan bagi pekerja berkaitan dengan pengalaman kerja.

Pekerja yang sudah menikah membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari pekerjaan dibandingkan pekerja yang sudah menikah. Penelitian ini melakukan analisis pengaruh pendidikan, pelatihan, jenis kelamin, usia, status perkawinan dan wilayah tempat tinggal terhadap lama pencarian kerja pekerja terampil di Indonesia dengan menggunakan data Sakernas 2015. Pendidikan, pelatihan, jenis kelamin, usia, status perkawinan, dan wilayah tempat tinggal secara bersama-sama mempengaruhi lamanya waktu pekerja terampil mencari pekerjaan di Indonesia.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pencari kerja maka semakin lama pula waktu yang dihabiskan untuk mencari pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa mendapatkan pelatihan dan mendapatkan sertifikat justru akan membuat waktu yang dihabiskan untuk mencari pekerjaan menjadi lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa pencari kerja laki-laki membutuhkan waktu pencarian kerja yang lebih lama dibandingkan pencari kerja perempuan.

Variabel usia berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap lama mencari kerja, sedangkan kuadrat usia berpengaruh signifikan dengan arah negatif. Namun setelah usia 26 tahun, semakin tua pencari kerja, semakin pendek waktu yang dihabiskannya untuk mencari pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa pencari kerja yang belum menikah membutuhkan waktu pencarian yang lebih lama dibandingkan pencari kerja yang sudah menikah.

Saran

Penelitian di masa depan mungkin mencari dan/atau menambahkan variabel lain yang mempengaruhi lamanya seseorang mencari pekerjaan di Indonesia.

Keterbatasan Penelitian

  • Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur di Indonesia,
  • Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis
  • Tingkat Pendidikan Reponden
  • Hasil Analisis Statistik Deskriptif
  • Frekuensi Lama Mencari Kerja
  • Frekuensi Tingkat Pendidikan
  • Frekuensi Pelatihan Kerja
  • Frekuensi Jenis Kelamin
  • Frekuensi Umur
  • Frekuensi Status Perkawinan
  • Frekunsi Daerah Tempat Tinggal
  • Ikhtisar Hasil Regresi Robust
  • Variabel Penelitian
  • Statistik Deskriptif
  • Tabel
  • Analisis Regresi

-Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lamanya Pengangguran Tenaga Kerja Industri Perkebunan Kelapa Sawit Ogan Komering Ulu.

Gambar

Tabel 2. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur di  Indonesia, Agustus 2015
Tabel 3. Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan dan  Jenis Kelamin di Indonesia, Agustus 2015
Gambar 1. Model Pencarian Kerja Stigler
Tabel 6. Frekuensi Lama Mencari Kerja
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik penderita kanker paru yang meninggal berdasarkan usia, jenis kelamin, suku/etnik, agama, status perkawinan, pekerjaan, tempat tinggal, keluhan utama,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : karakteristik (demografi; jenis kelamin, umur, agama, suku bangsa, status tempat tinggal, status pernikahan. Pendidikan; formal,

13 PGK pada penderita hipertensi dipengaruhi oleh faktor ras, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, status pekerjaan, status tempat ting- gal, status

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini hanya faktor karakteristik individu (jenis kelamin, umur, dan status perkawinan); faktor karakteristik rumah tangga (asal

Distribusi penderita Hepatitis B rawat inap berdasarkan sosiodemografi (umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan tempat tinggal),

Variabel pada penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dan daerah tempat tinggal pada karakteristik

Segmentasi demografi yaitu membagi pasar berdasarkan jenis kelamin, umur, status perkawinan, jumlah keluarga, umur anak, pendapatan, jabatan, lokasi geografis, mobilitas, kepemilikan

Konsumsi rokok dipengaruhi oleh banyak faktor, namun dalam penelitian ini dibatasi pada faktor umur, jenis kelamin, status perkawinan, gangguan tidur, pendidikan dan pendapatan yang