• Tidak ada hasil yang ditemukan

sumasia - Universitas Muhammadiyah Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "sumasia - Universitas Muhammadiyah Makassar"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

SUMASIA NIM 10540 3083 09

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2014

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”.

Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama : SUMASIA

Stambuk : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.

Makassar, Maret 2014 Disetujui oleh:

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati,S.Pd., M.Pd

Diketahui:

Dekan FKIP Unimuh Makassar

Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum NBM 858 625

Ketua Jurusan

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Sulfasyah ,MA.,Ph.D NBM 970 635

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”.

Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama : SUMASIA

Stambuk : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.

Makassar, Maret 2014 Disetujui oleh:

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati,S.Pd., M.Pd

Diketahui:

Dekan FKIP Unimuh Makassar

Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum NBM 858 625

Ketua Jurusan

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Sulfasyah ,MA.,Ph.D NBM 970 635

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”.

Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama : SUMASIA

Stambuk : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan.

Makassar, Maret 2014 Disetujui oleh:

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati,S.Pd., M.Pd

Diketahui:

Dekan FKIP Unimuh Makassar

Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum NBM 858 625

Ketua Jurusan

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Sulfasyah ,MA.,Ph.D NBM 970 635

(3)

iii

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

Nim : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciptaan orang lain dan tidak dibuat oleh siapapun.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat pernyataan

SUMASIA Diketahui oleh,

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati, S.Pd., M.Pd

iii

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

Nim : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciptaan orang lain dan tidak dibuat oleh siapapun.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat pernyataan

SUMASIA Diketahui oleh,

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati, S.Pd., M.Pd

iii

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

Nim : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciptaan orang lain dan tidak dibuat oleh siapapun.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat pernyataan

SUMASIA Diketahui oleh,

Pembimbing I

Dr.H.Irwan Akib , M.Pd

Pembimbing II

Andi Husniati, S.Pd., M.Pd

(4)

iv

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

NIM : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak di buat oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini.

4. Apabila perjanjian seperti butir 1, 2, dan 3 dilanggar, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat perjanjian

SUMASIA

iv

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

NIM : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak di buat oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini.

4. Apabila perjanjian seperti butir 1, 2, dan 3 dilanggar, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat perjanjian

SUMASIA

iv

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : SUMASIA

NIM : 10540 3083 09

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak di buat oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini.

4. Apabila perjanjian seperti butir 1, 2, dan 3 dilanggar, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Maret 2014 Yang membuat perjanjian

SUMASIA

(5)

v

Kebodohan, kemiskinan, kemalasan tidak akan ada pada diri kita tapi semua itu bersumber pada fikiran dan keyakinan kita untuk berusaha, kita belajar cara melakukan dan melaksanakan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan Allah tidak membebani seseorang

Melainkan sesuai kesanggupanya” (Qs-AL-Baqarah 286) Berdoalaah dan berusaha yang disertai dengan

Kesabaran dan ketabahan Adalah kunci keberhasilan

Kuperuntukan karya sederhana ini

Sebagai dharma bhakti kepada Ayahanda dan Ibunda Serta keluarga Besar Tercinta

Yang senantiasa mendukung Penulis dalam do’a

(6)

vi

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt atas berkat rahmat dan ridha-Nyalah sehingga penulis masih diberikan kesehatan, kesempatan, kesabaran terlebih lagi karunia kemauan serta tekad yang dianugerahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, tak lupa pula penulis panjatkan salam dan taslim atas junjungan nabi besar Muhammad SAW, sebagai suri tauladan untuk menjadi manusia yang cerdas dan berakhlak di dunia ini.

Penulis sadar bahwa sejak yang direncanakan sebagai akhir penyusunan skripsi banyak hambatan yang dihadapi, namun dengan dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, hambatan tersebut dapat teratasi, semua itu berkat motivasi dari kedua orang tuaku Ayahanda Nasrul dan Ibunda Halima, yang telah bersusah payah dengan tulus hati membesarkan, membimbing penulis, berkorban material dan moril serta do'a, keduanya, selalu mengiring setiap langkah penulis mulai dari bangku sekolah hingga selesai skripsi ini.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Dr. H. Irwan Akib M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Sulfasyah,MA.,Ph.D Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

(7)

vii

5. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Makassar yang telah membekali penulis berbagai pengetahuan selama kuliah sampai pada penyusunan skripsi ini.

6. Hj. Maria Mansyur ,S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

7. Suharni, A.Ma.,Pd selaku Wali Kelas V SD Negeri Sungguminasa I kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa , serta seluruh murid kelas V atas kerja samanya selama penulis melakukan penelitian.

8. Teman-teman seperjuangan kelas M Angkatan 2009 PGSD S1, yang selalu memberikan bantuan serta dukungannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa isi skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran membangun sangat diharapkan. Semoga segala bantuan, motivasi, bimbingan dan doa dari berbagai pihak senantiasa mendapatkan berkah dan rahmat dan ilahi rabbi.

Makassar, Maret 2014 Penulis

(8)

viii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Masalah Penelitian ... 3

1. Identifikasi Masalah ... 4

2. Rumusan Masalah... 4

3. Cara Memecahkan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka ... 6

1. Pengertian Belajar ... 6

2. Hasil Belajar ... 7

3. Pembelajaran Matematika ... 9

4. Pembelajaran Kooperatif ... 11

5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assited Individualization (TAI) ... 19

B. Kerangka Pikir. ... 24

(9)

ix

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 29

C. Faktor yang akan Diteliti ... 29

D. Prosedur Penelitian ... 30

E. Instrumen Penelitian ... 32

F. Teknik Pengumpulan Data ... 32

G. Teknik Analisis Data ... 33

H. Indikator Keberhasilan ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 35

1. Siklus I ... 35

a. Hasil Belajar ... 35

b. Aktivitas Murid ... 38

c. Refleksi Siklus I ... 41

2. Siklus II ... 44

a. Hasil Belajar ... 44

b. Aktivitas Murid ... 48

c. Refleksi Siklus II ... 51

B. Pembahasan ... 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 60

B. Saran ... 60 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(10)

x

2.1 Tabel Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif 18

3.1 Tabel Kategori Hasil Belajar 33

4.1

Tabel Hasil Belajar Matematika Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Pada Tes Akhir Siklus I

35

4.2

Tabel Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika Pada Siklus I

36

4.3

Tabel Deskriprtif Ketuntasan Belajar Matematika pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada Siklus I

37 4.4 Tabel Distribusi Frekuensi Observasi Aktivitas Murid

Pada Siklus I 38

4.5 Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada Saat Proses

Pembelajaran Siklus I 40

4.6

Hasil Belajar Matematika Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Pada Tes Akhir Siklus II

45

4.7

Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika Pada Siklus II

46

4.8

Deskriprtif ketuntasan belajar Matematika murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada siklus II

47 4.9 Distribusi frekuensi observasi aktivitas murid pada

siklus II 48

4.10 Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada Saat Proses

Pembelajaran Siklus II 50

4.11

11 Perbandingan Ketuntasan Belajar Matematika Murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada siklus I dan Siklus II

56

(11)

xi

3.1 Gambar Prosedur Penelitian 29

4.1

Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika Pada Siklus I

36

4.2

Grafik Deskriprtif Ketuntasan Belajar Matematika Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Pada Siklus I

37

4.3

Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika Pada Siklus II

47

4.4

Grafik Deskriptif ketuntasan belajar Matematika murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Siklus II

48

4.5 Grafik Perbandingan ketuntasan belajar Matematika murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada siklus I dan Siklus II

58

(12)

vi

Kebodohan, kemiskinan, kemalasan tidak akan ada pada diri kita tapi semua itu bersumber pada fikiran dan keyakinan kita untuk berusaha, kita belajar cara melakukan dan melaksanakan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan Allah tidak membebani seseorang

Melainkan sesuai kesanggupanya” (Qs-AL-Baqarah 286) Berdoalaah dan berusaha yang disertai dengan

Kesabaran dan ketabahan Adalah kunci keberhasilan

Kuperuntukan karya sederhana ini

Sebagai dharma bhakti kepada Ayahanda dan Ibunda Serta keluarga Besar Tercinta

Yang senantiasa mendukung Penulis dalam do’a

(13)

vii

Cooperative Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa Kecamatan Somba opu Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I H.Irwan Akib dan Pembimbing II Andi Husniati

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar Matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan 3 kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa sebanyak 41 orang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama belum tuntas secara individual dari 41 murid hanya 24 murid tuntas dengan nilai rata-rata yang diperoleh yaitu 62,68 belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori rendah namun pada siklus pertama ini belum memenuhi kriteria ketuntasan secara klasikal karena hanya 58,54% murid yang telah belajar tuntas sedangkan ketuntasan klasikal yang harus dicapai yaitu 85% dari jumlah murid yang telah belajar tuntas. Sedangkan pada siklus II dimana dari 41 murid terdapat 38 murid atau 92,68% telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 85 atau berada pada kategori tinggi

Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa hasil belajar Matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) mengalami peningkatan.

Kata Kunci :Pembelajaran kooperatif (TAI ) Team Assisted Individualization

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh murid di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sebagian murid menganggapnya sebagai pelajaran yang sulit dan kurang diminati.

Padahal murid seharusnya menyadari bahwa kemampuan berfikir logis, kritis, cermat, efisien dan efektif adalah menjadi ciri pelajaran matematika yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang.

Pelajaran matematika kurang diminati oleh murid berkaitan dengan guru dalam menyampaikan materi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan murid dalam memahami atau menyerap materi yang diberikan guru.

Tugas utama guru adalah menciptakan suasana dalam pembelajaran agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi murid untuk belajar lebih baik dan sungguh-sungguh. Dalam memotivasi murid guru bisa melakukan banyak cara. Misalkan guru memilih model pembelajaran yang menyenangkan murid sehingga murid menjadi tertarik untuk belajar.

Berdasarkan hasil observasi awal pada semester ganjil pada tanggal 20 November 2013 di SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa , ditemukan nilai rata-rata ujian tengah semester 61,02 di kelas V dalam mata pelajaran matematika yang belum memenuhi standar nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65, sesuai dengan standar KKM, pada mata

1

(15)

pelajaran ini belum tercapai, itu menunjukkan bahwa masih ada murid yang mengalami kesulitan pada mata pelajaran matematika .selain itu ,guru juga kurang memperhatikan tahap – tahap dalam penyelesaian soal- soal matematika tersebut karena guru hanya berorientasi pada kemampuan konseptual saja .

Selama ini pelajaran matematika disajikan secara monoton oleh guru..

Murid hanya dituntut untuk mendengarkan, mencatat bahkan menghafal saja, sehingga kurang mendorong keaktifan murid, keterlibatan murid dalam kegiatan pembelajaran. Ini yang menyebabkan murid enggan berpikir, sehingga timbul perasaan jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran. Akibatnya hasil belajar murid kurang memuaskan dan tidak memenuhi batas tuntas yang ditetapkan oleh sekolah.

Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan adalah tipe Team Assisted Individualization (TAI). Tipe Team Assisted Individualization (TAI) menerapkan gabungan dari dua hal yaitu belajar dengan kemampuan masing-masing individu dan belajar kelompok. Inti dari pembelajaran tipe Team Assisted Individualization (TAI) ini adalah pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok belajar kecil yang heterogen terdiri dari 4 sampai 5 murid dalam setiap kelompoknya, diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi murid yang memerlukannya.

Setelah diimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI), dalam proses pembelajaran diharapkan materi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami oleh murid, murid juga merasa senang dan antusias selama proses pembelajaran. Sehingga dapat menyelesaikan

(16)

masalah yang diberikan. Terjadinya interaksi dalam kelompok dapat melatih murid menerima anggota kelompok lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda. Murid bertanggung jawab memberi penjelasan kepada temanya sebagai anggota kelompok belajar. Kerjasama antar anggota dalam kelompok akan tercipta, karena murid merasa bahwa keberhasilan kelompok ditentukan oleh masing-masing anggota untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Setelah tumbuh motivasi untuk belajar yang disebabkan oleh pengaruh kerja kelompok maka kemampuan belajar akan berkembang, dan prestasi belajar akan menjadi lebih baik.

Maka penulis mengadakan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika yang berjudul ”Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”.

B. Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka diidentifikasi permasalahan dalam penilitian yang akan dilaksanakan adalah :

1. Peserta didik kurang antusias untuk belajar dan lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru.

(17)

2. Pembelajaran matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa masih berjalan monoton.

3. Pembelajaran yang dilakukan belum efektif.

Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar matematika murid.

2. Rumusan Masalah

Permasalahan pada penelitian ini adalah apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa?

3. Cara Memecahkan Masalah

Metode pemecahan masalah yang akan digunakan, yaitu model pembelajaran kooperatif dengan tipe Team Assisted Individualization (TAI).

Dengan model pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar dalam pembelajaran matematika meningkat.

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan uraian pada latar belakang dan pada permasalahan, tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada murid di kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI).

(18)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:

1. Manfaat bagi murid: Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar murid.

2. Manfaat bagi guru: Meningkatkan kreatifitas guru dalam pengembangan materi pembelajaran.

3. Manfaat bagi sekolah: Dapat memberikan masukan yang berarti/bermakna pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran.

(19)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka 1. Pengertian belajar

Untuk membantu mengatasi berbagai persoalan dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu mengingat kembali tentang pengertian belajar sebenarnya.

Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian masing- masing. Tetapi walaupun berbeda, pada hakikatnya mempunyai prinsip dan tujuan yang sama.

Ada beberapa pandangan tentang belajar di antaranya:

Morgan (Suprijono, 2011: 3) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.

B.F Skinner,1958 (Sagala, 2011: 14) mengemukakan bahwa:

Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaiknya bila ia tidak belajar, maka responnya menurun. Jadi belajar ialah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respon.

Travers (Suprijono, 2011: 2) mengemukakan bahwa Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai akibat dari

(20)

pengalaman dan latihan dengan perubahan-perubahan yang dihasilkan bersifat permanen.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar berasal dari dua kata yaitu hasil dan belajar, istilah hasil dapat diartikan sebagai sebuah prestasi dari apa yang telah dilakukan. Sedangkan belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang dalam proses perubahan tingkah laku. Dalam hal ini hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang dicapai murid dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.

Suprijono (2013: 5) Mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Menurut Bloom (Suprijono, 2013: 6) merumuskan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi:

1. Ranah kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), aplication (menerapkan), analysis (menguraikan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai).

2. Ranah afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi).

3. Ranah psikomotor mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial dan intelektual.

Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan murid dalam usaha belajarnya adalah dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur yang

(21)

biasa digunakan adalah tes. Hasil pengukuran dengan memakai tes merupakan salah satu indikator keberhasilan murid yang dicapai dalam belajarnya atau yang disebut juga dengan penilaian hasil belajar. Depdiknas (1999) (http://www.m- edukasi.web.id/2013/10/evaluasi-penilaian-hasil-belajar .html) mengemukakan bahwa Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Tujuan penilaian hasil belajar menurut Sudjana (2005) dalam http://abyfarhan7.Blogspot.com/2013 /10 /penilaian- proses-dan-hasil belajar.html adalah:

1. Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.

2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem pelaksanaannya.

4. Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(22)

Hasil belajar yang dicapai murid dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri murid dan faktor dari luar diri murid atau faktor lingkungan.

Faktor yang datang dari murid terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan murid besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.

Selain faktor kemampuan yang dimiliki murid, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, dan faktor fisik.

3. Pembelajaran Matematika a. Pengertian Matematika

James dan James (www.wikipedia.Indonesia) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Sebagai contoh adanya pendapat yang mengatakan bahwa matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi menjadi empat wawasan yang luas yaitu aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis dengan aritmetika mencakup teori bilangan dan statistika. Menurut pendapatnya, matematika itu adalah ilmu tentang struktur bersifat deduktif atau aksiomatik, akurat, dan abstrak.

Reys (www.wikipedia.Indonesia) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika itu adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.

(23)

Kline (www.wikipedia.Indonesia) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan mengatasi permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

Berdasarkan beberapa pandangan tentang matematika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya yang dapat membantu manusia dalam memahami dan mengatasi permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

b. Fungsi Matematika

Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistik, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat matematika dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.

c. Tujuan Matematika

Tujuan umum pendidikan matematika ditekankan kepada siswa untuk memiliki:

1. Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.

2. Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.

(24)

3. Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan suatu masalah.

4. Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Cooperative mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan murid bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, Slavin (dalam Solihatin dan Raharjo, 2007: 4) berpendapat tentang cooperative learning/pembelajaran kooperatif bahwa “Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen”

Pembelajaran kooperatif (Suprijono, 2009: 54) adalah konsep yang lebih luas meliputi semua kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

Berdasarkan pengertian pembelajaran kooperatif maka dipahami bahwa belajar

(25)

berkelompok memberikan kesempatan kepada murid untuk lebih berkembang dalam berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan pembelajaran kooperatif (Taniredja, dkk, 2011: 60) adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai model pembelajaran di mana murid bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.

Dalam kelas kooperatif (Robert E. Slavin, 2005: 4), para murid diharapkan saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Adapun prinsip-prinsip dasar cooperative learning menurut Stahl (dalam Solihatin dan Raharjo, 2007:7) adalah:

a) Perumusan tujuan belajar harus jelas, b) Penerimaan yang menyeluruh oleh murid tentang tujuan belajar, c) Ketergantungan yang bersifat positif, d) Interaksi yang bersifat terbuka, e) Tanggung jawab individu, f) Kelompok bersifat heterogen, g) Interaksi sikap dan perlaku sosial yang positif, h) Tindak lanjut, i) Kepuasan dalam belajar

Tujuan belajar harus jelas dan dipaparkan kepada murid sehingga murid secara keseluruhan alam kelompok dapat lebih mudah memahami tujuan yang akan dicapainya setelah mengikuti proses pembelajaran sehingga gurupun lebih mudah untuk memperoleh hasil belajar murid yang diinginkan. Kelompok belajar yang terbentuk harus menciptakan bentuk interaksi yang positif dalam hal mencari solusi permasalahan belajar yang muncul dengan adanya keterbukaan dari setiap anggota kelompok. Untuk menciptakan suasana kelompok yang efektif, setiap individu dalam kelompok tersebut harus memiliki tanggungjawab yang sama

(26)

untuk mendapatkan hasil kelompok yang bermutu baik dalam proses pembelajaran. Penetapan anggota dalam tiap kelompok dilaksanakan secara heterogen yakni keragaman yang ada dalam kelompok antara lain dapat diambil berdasarkan jenis kelamin, suku, agama, factor intelektual, dan sebagainya.

Terhadap proses pengelolaan kelompok diciptakan tindak lanjut yang melibatkan semua anggota kelompok untuk saling bertukar pikiran. Tentunya pula kepuasaan dalam belajar kelompok harus ada dan dirasakan setiap murid dan juga bagi guru.

Ada empat unsur penting dalam pembelajaran kooperatif (Sanjaya, 2006:

241) yaitu a) Adanya peserta dalam kelompok, b) Adanya aturan kelompok, c) Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan d) Adanya tujuan yang harus dicapai. Peserta dalam kelompok diatur berdasarkan jumlah murid dengan membentuk kelompok kecil antara 4-5 orang murid dalam setiap kelompok dan tentunya dibentuk dan dipilih secara heterogen. Aturan-aturan dalam kelompok harus diterapkan untuk menjaga kestabilan peran aktif setiap anggota kelompok yang bisa dirancang bersama antara murid dan guru. Tiap anggota kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk ikut memikirkan solusi atau memberi ide terhadap pemecahan masalah belajar yang disajikan oleh guru. Kelompok belajar dibentuk tentunya untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dari awal dan disampaikan oleh guru.

Selain itu Roger dan David Jhonson (dalam Suprijono, 2009: 58) mengenai unsur dalam model pembelajaran kooperatif bahwa:

(27)

“Tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil maksimal, ada lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan’’.

Lima unsur tersebut adalah sebagai berikut :

a) Positive interdependence (saling ketergantungan positif), b) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan), c) Face to face promotive interaction (interaksi promotif), d) Interpersonal skill (komunikasi antaranggota), dan e) Group processing(pemrosesan kelompok)”.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif melatih murid menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Diskusi memungkinkan murid menguasai materi atau memecahkan masalah melalui proses yang memberikan kesempatan berpikir, berinteraksi sosial, bertukar pendapat serta berlatih bersikap positif.

Terhadap guru perlu memperhatikan berbagai macam ketentuan dan sistem pengelolaan yang tepat dalam model pembelajaran yang akan dipergunakan, hal ini dimaksudkan untuk lebih menunjang tercapainya hasil belajar yang diinginkan.

Slavin, Abrani, dan Chambers (dalam Sanjaya, 2006: 244) berpendapat bahwa “belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif”. Perspektif motivasi artinya penghargaan kepada kelompok, perspektif sosial artinya melalui kooperatif murid saling membantu dalam belajar untuk membantu semua anggota kelompok demi keberhasilan, perspektif perkembangan kognitif artinya interaksi anggota kelompok mengolah

(28)

berbagai informasi demi mengembangkan prestasi, dan elaborasi kognitif artinya setiap murid berusaha menimba dan memahami informasi.

Menggunakan model pembelajaran perlu diperhatikan keunggulan dan keterbatasan model tersebut, agar pelaku pembelajaran tidak kaku terhadap kemungkinan hal yang akan terjadi pada saat proses pembelajaran. Persiapan ini dibutuhkan untuk mengontrol jalannya proses pembelajaran. Adapun keunggulan dan keterbatasan dalam menerapakan pembelajaran kooperatif, berikut dengan penjelasannya:

a. Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1) Melalui pembelajaran kooperatif, murid tidak terlalu menggantungkan sumber pembelajaran pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar murid yang lain.

2) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan dan melatih kemampuan anak mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkan dengan ide orang lain.

3) Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan yang mengakibatkan murid menumbuhkan sikap menghargai dan menghormati.

4) Dapat membantu memberdayakan setiap murid untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. Belajar kooperatif dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok sehingga rasa tanggung jawab murid dapat tercipta.

5) Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial.

(29)

Prestasi akademik akan berkembang apabila diterapkan pada kehidupan anak dalam kemampuan bersosialisasi.

6) Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan murid untuk menguji ide dan pemahamnnya sendiri, menerima umpan balik. Interaksi dalam kelompok memberanikan murid menyampaikan ide, melakukan umpan balik yang berpotensi untuk perkembangan pemahaman anak.

7) Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan murid menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil). Kesempatan murid untuk saling memberikan informasi membuat proses pembelajaran dirasakan lebih bermanfaat.

8) Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi memberikan rangsangan untuk berpikir. Adanya interaksi berarti menumbuhkan persaingan sehat untuk terus berpikir dan memunculkan ide baru yang positif.

b. Keterbatasan pembelajaran kooperatif

1) Untuk murid yang dianggap memiliki kelebihan, mereka merasa terhambat oleh murid yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Murid yang tergabung dalam kelompok belajar dibentuk secara heterogen dengan memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Hal ini pula menyebabkan lebih dominannya kemampuan murid yang lebih cerdas.

2) Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah murid saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa pantauan guru yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi

(30)

cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh murid.

3) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok walau yang diharapkan adalah prestasi setiap individu. Pembelajaran kelompok yang berlangsung tanpa pengamatan yang tepat akan mengabaikan hasil prestasi individu.

4) Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.

Mengatur jalannya proses pembelajaran berkelompok memerlukan perhatian khusus yang sulit dilakukan dalam waktu singkat.

5) Melalui pembelajaran kooperatif selain bekerja sama, murid juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Menampilkan kepercayaan diri anak butuh kebiasaan belajar mengolah kemampuannya dalam bentuk kerja sama yang tidak mudah dipadukan.

b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif memiliki tujuan seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000: 7) sebagai berikut:

1) Hasil Belajar Akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan meningkatkan kinerja murid dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul untuk membantu murid memahami konsep-konsep yang sulit, Slavin (Ibrahim, dkk, 2000: 7) menyatakan bahwa memusatkan perhatian pada kelompok pembelajaran kooperatif dapat mengubah norma budaya

(31)

anak dan membuat budaya dapat menerima prestasi menonjol dalam tugas- tugas pembelajaran akademik.

2) Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif yaitu sebagai penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuan. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi murid dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3) Pengembangan Keterampilan Sosial

Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada murid keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi.

Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh murid sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

c. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Secara umum ada 6 fase atau langkah utama di dalam pelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif yang digambarkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

FASE–FASE PERILAKU GURU

Fase 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik

(32)

siap belajar.

Fase 2: menyajikan informasi Mempresentasikan informasi kepada peseta didik secara verbal.

Fase 3: Mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar

Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang cara pembentukan tim belajar dan kelompok melakukan transisi yang efisien.

Fase 4: Membantu kerja tim dan belajar Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya

Fase 5: Mengevaluasi Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok- kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6: Memberikan pengakuan atau penghargaan

Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok

Sumber: Suprijono (2013: 65)

d. PembelajaranKooperatif TipeTim Assisted Individualization (TAI)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar murid secara individual. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggungjawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggungjawab bersama.

a. Komponen-komponen Team Assisted Individualization (TAI)

(33)

Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) memiliki delapan komponen, menurut Slavin (2005: 195) sebagai berikut.

1. Kelompok

Kelompok dalam pembelajaran TAI terdiri 4 sampai 5 orang siswa yang mewakili bagian dari kelas dalam menjalankan aktivitas akademik.

Fungsi utama dari kelompok adalah agar mengingat materi yang diberikan dan lebih memahami materi yang nantinya digunakan dalam mengerjakan lembar kerja sehingga bisa mengerjakan dengan baik. Dalam hal ini biasanya siswa menggunakan cara pembelajaran diskusi tentang masalah- masalah yang ada, dan membandingkan soal yang ada. Anggota kelompok yang mengalami kesulitan belajar dapat bertanya kepada anggota yang telah ditunjuk sebagai asisten atau anggota lain yang lebih tahu.

2. Tes Pengelompokkan

Siswa-siswa diberi tes awal program pembelajaran. Hasil dari tes awal digunakan untuk membuat kelompok berdasarkan hasil tes yang kita peroleh.

3. Materi Kurikulum

Pada proses pembelajaran harus disesuaikan dengan materi yang terdapat pada kurikulum yang berlaku dengan menerapkan teknik dan strategi pemecahan masalah untuk penugasan materi.

4. Kelompok Belajar

(34)

Berdasarkan tes pengelompokan maka dibentuk kelompok belajar.

Siswa dalam kelompoknya mendengarkan presentasi dari guru dan mengerjakan lembar kerja. Jika ada siswa yang belum paham tentang materi dapat bertanya pada anggota lainnya atau asisten yang telah ditunjuk, kalau belum paham baru meminta penjelasan dari guru.

5. Penilaian dan Pengakuan Tim

Setelah diberikan tes kemudian tes tersebut dikoreksi dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu. Tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan atau sejenisnya jika memenuhi atau melampaui kriteria yang telah ditentukan

6. Mengajar Kelompok

Materi yang belum dipahami oleh suatu kelompok dapat ditanyakan kepada guru dan guru menjelaskan materi pada kelompok tersebut. Pada saat guru mengajar siswa dapat memahami materi baik secara individual maupun kelompok dengan kebebasan tapi bertanggungjawab. Keaktifan siswa sangat diperlukan dalam pembelajaran TAI.

7. Lembar Kerja

Pada setiap materi pokok diberikan lembar kerja secara individual untuk mengetahui pemahaman bahan atau materi dapat berupa ringkasan materi yang dipelajari di rumah kemudian pertemuan selanjutnya dikerjakan

8. Mengajar seluruh Kelas

(35)

Setelah akhir pengajaran pokok bahasan suatu materi guru menghentikan program pengelompokan dan menjelaskan konsep-konsep yang belum dipahami dengan strategi pemecahan masalah yang relevan.

Pada akhir pembelajaran diberikan kesimpulan dari materi.

b. Prosedur penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) pada mata pelajaran Matematika

Sosilof (2010: 1) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) sebagai berikut:

1. Guru menentukan suatu pokok bahasan yang akan disajikan kepada para siswanya dengan mengadopsi model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI).

2. Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI), sebagai suatu variasi model pembelajaran. Guru menjelaskan kepada siswa tentang pola kerjasama antar siswa dalam suatu kelompok.

3. Guru menyampaikan materi ajar yang harus dikerjakan kelompok. Bila terpaksa, guru dapat memanfaatkan lembar kerja siswa yang dimiliki para siswa.

4. Guru memberikan tes awal kepada siswa tentang materi yang akan diajarkan. Tes awal bisa diganti dengan nilai rata-rata ulangan harian siswa.

5. Guru menjelaskan materi baru secara singkat.

(36)

6. Guru membentuk kelompok-kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 5 siswa pada setiap kelompoknya. Kelompok dibuat secara heterogen tingkat kepandaiannya dengan mempertimbangkan keharmonisan kerja kelompok.

7. Guru menugasi kelompok dengan bahan yang sudah disiapkan. Dalam hal ini, jika guru belum siap, guru dapat memanfaatkan lembar kerja siswa.

8. Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberikan bantuan secara individual.

9. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami materi bahan ajar yang diberikan guru, dan siap untuk diberi ulangan oleh guru. Setelah diberi ulangan, guru harus mengumumkan hasilnya dan menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok kurang berhasil.

10. Pada saat guru memberikan tes.

11. Menjelang akhir waktu, guru memberikan latihan pendalaman secara klasikal dengan menekankan strategi pemecahan masalah.

12. Guru dapat memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan.

c. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Kireyiha (2011: 1) mengemukakan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI):

(37)

1. Kelebihan

a. Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah.

b. Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.

c. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuannya.

d. Adanya rasa tanggungjawab dalam kelompok dalam menyelesaikan masalah.

e. Menghemat presentasi guru sehingga waktu pembelajaran lebih efektif.

2. Kelemahan

a. Siswa yang kurang pandai secara tidak langsung akan bergantung pada siswa yang pandai.

b. Tidak ada persaingan antar kelompok.

c. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru kurang baik maka proses pembelajarannya juga berjalan kurang baik.

B. Kerangka Pikir

Pada umumnya proses belajar dan mengajar di SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa seorang guru menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional yang berindikasi pada murid yang pasif, kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dan pembelajaran dinilai kurang menyenangkan serta kurang memberikan pengalaman langsung kepada murid sehingga akan berdampak pada rendahnya prestasi belajar murid.

Seharusnya guru berupaya mengoptimalkan pembelajaran yang aktif, kreatif,

(38)

kompetitif dan menyenangkan, serta dapat berkomunikasi dengan baik pada saat menyajikan pelajaran, sehingga murid akan lebih mudah menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Pembelajaran Team Assisted individualization (TAI) merupakan salah satu tipe pembelajaran yang diharapkan akan menjadi model pembelajaran yang dapat menggugah minat, perasaan dan pola pikir kritis bagi murid dalam hal penguasaan konsep mata pelajaran matematika. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted individualization (TAI) akan membuat murid merasa gembira, mendapatkan pengetahuan, dan pengembangan sikap dalam pengalaman belajarnya. Untuk kepentingan pembelajaran matematika penggunaan Team Assisted individualization (TAI) dapat membantu murid dalam hal penguasaan konsep, oleh karena itu murid akan lebih jelas dalam menerima dan menemukan sendiri materi yang disampaikan guru, sehingga hasil belajar matematika akan lebih meningkat.

(39)

BAGAN KERANGKA PIKIR

Gambar : Kerangka Pikir Guru :

 Guru kurang bervariasi dalam menggunakan model pembelajaran

Murid :

 Murid hanya sebagai pendengar dan pencatat terhadap yang disampaikan guru

 Murid pasif dalam pembelajaran

 Hasil belajar murid rendah

Siklus I Siklus II Tindakan untuk

memperbaiki Kondisi awal

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assited Individualization (TAI)

Hasil belajar mata pelajaran matematika murid masih rendah

Hasil Belajar matematika meningkat

Kondisi akhir

(40)

C. Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka yang dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Jika menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe Team Assisted individualization (TAI) maka dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

(41)

28

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research dengan fokus kajian peningkatan hasil belajar murid dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Secara garis besar pelaksanaan tindakan kelas ini dibagi dalam dua siklus, dan setiap siklus terdiri atas empat langkah yaitu, perencanaan (Planning), tindakan (Acting), pengamatan (Observing), refleksi (Reflecting).

B. Lokasi dan Subjek Penelitian a. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

b. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 41 murid, terdiri dari 22 laki-laki dan 19 perempuan.

C. Faktor yang akan Diteliti

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka faktor yang akan diteliti adalah:

(42)

pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.

2. Faktor hasil, yaitu untuk melihat hasil belajar matematika setelah di berikan tes akhir setiap siklus.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini di rencanakan 2 (dua) siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

1. Gambaran Umum Siklus I

Dalam siklus I, pelaksanaannya meliputi:

1. Tahap Perencanaan

1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2) Menyiapkan media pembelajaran.

3) Menyiapkan Lembar Kerja Murid.

4) Menyiapkan instrumen pengumpulan data berupa tes hasil belajar dan lembar observasi.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

1) Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan.

2) Guru mengadakan presentasi terhadap kehadiran murid.

3) Guru menjelaskan kepada murid tentang pola kerjasama antar murid dalam suatu kelompok.

4) Guru menyiapkan bahan ajar yang harus dikerjakan kelompok.

(43)

6) Guru membentuk kelompok kecil dengan anggota 5 sampai 6 murid.

7) Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan bahan yang sudah disiapkan.

3. Tahap observasi

Pelaksanaan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat, yaitu guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting baik mengenai kegiatan murid perorangan maupun dalam kerja kelompok. Pada akhir siklus dilakukan evaluasi terhadap hasil belajar murid.

4. Refleksi

Merefleksikan setiap hasil yang diperoleh melalui hasil observasi dengan menilai dan mempelajari hasil perkembangan murid pada siklus I dan kedua hasil inilah yang selanjutnya dijadikan untuk merancang perbaikan dan penyempurnaan pada siklus berikutnya (siklus II) sehingga hasil yang dicapai lebih baik dari siklus sebelumnya (siklus I).

I. Gambaran Umum Siklus II

Kegiatan yang dilakukan pada siklus II adalah mengulangi kembali tahap- tahap yang dilakukan pada siklus I. Di samping itu, dilakukan sejumlah rencana baru untuk memperbaiki atau merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I.

(44)

berikut:

Alur PTK menurut Arikunto (2006) Pengamatan SIKLUS II Refleksi

Perencanaan Pengamatan

Pelaksanaan

Refleksi

Pelaksanaan

Hasil belajar meningkat Perencanaan

SIKLUS I

(45)

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:

1. Tes Hasil Belajar

Instrumen ini disusun oleh peneliti untuk memperoleh informasi tentang penguasaan murid tentang materi ajar, setelah proses pembelajaran berlangsung.

2. Lembar Observasi

Instrumen ini dirancang oleh peneliti untuk mengumpulkan data mengenai kehadiran dan aktivitas murid selama proses pembelajaran berlangsung.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data atau instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Data mengenai kehadiran dan aktivitas murid dalam mengikuti proses pembelajaran yang diperoleh dari pengamatan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi.

2. Data mengenai hasil belajar murid yang diperoleh melalui tes akhir setiap siklus.

(46)

Data hasil pengamatan dari hasil penelitian ini dianalisis secara kualitatif yaitu dengan menggunakan lembar observasi keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar mengajar. Data hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik subjek penelitian berupa rata-rata, skor terendah, dan skor tetinggi.

Kriteria yang digunakan untuk menentukan peningkatan hasil belajar adalah berdasarkan skor ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan oleh SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa

Untuk keperluan analisis kualitatif teknik pengkategorian dengan skala berdasarkan standar kategorisasi yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, menurut Sudjana (Anita, 2011: 58) sebagai berikut:

Tabel 3.1 Teknik Kategori Hasil Belajar No Nilai Kuantitatif Kategori

1 0–54 Sangat Kurang

2 55–64 Kurang

3 65–79 Sedang

4 80–89 Baik

5 90–100 Sangat Baik

(47)

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatnya kualitas pembelajaran yang dapat dilihat dari dua segi yaitu kualitas proses dan kualitas hasil. Dari segi kualitas proses pembelajaran meliputi keaktifan fisik, mental dan sosial. Sedangkan dari segi kualitas hasil dapat dilihat dari meningkatnya ketuntasan belajar murid. Murid dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal 100 dan tuntas klasikal jika minimal 85% dari jumlah murid yang telah belajar tuntas.

(48)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Siklus I a. Hasil Belajar

Data hasil belajar Matematika pada siklus I diperoleh melalui pemberian tes hasil belajar Matematika setelah menyelesaikan konsep Pecahan. Analisis deskriptif skor hasil belajar Matematika pada murid kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Hasil Belajar Matematika Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Pada Tes Akhir Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Jumlah murid 41

Skor ideal 100

Nilai tertinggi 80

Nilai terendah 45

Rentang skor 35

Skor rata-rata 62,68

Hasil belajar yang diperoleh berdasarkan evaluasi siklus I menunjukkan bahwa skor tertinggi yaitu 80 dan skor terendah 45 nilai tersebut jauh dari standar ketuntasan tiap individu yang telah ditentukan yaitu 65, bila hasil belajar murid dirata-ratakan maka nilai yang diperoleh adalah 62,68. Jadi dapat dikatakan

35

(49)

bahwa hasil belajar pada siklus I masih tergolong rendah dan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.

Apabila skor hasil belajar Matematika tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar Matematika murid kelas V SD Negeri Sungguminasa 1 Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada tes akhir siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Jumlah Murid dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika pada Siklus I

Interval Nilai Kategori Frekuensi persentase %

90–100 Sangat Tinggi 0 0

80 - 89 Tinggi 4 9,76

65–79 Sedang 20 48,78

55–64 Rendah 7 17,07

0 - 54 Sangat Rendah 10 24,39

Jumlah 41 100

Hasil di atas menunjukkan bahwa dari 41 murid yang menjadi subjek penelitian. Persentase perolehan skor sedang sebesar 48,78% dan kategori rendah 17,07%, sedangkan persentase kategori tinggi 9,76 %. Berdasarkan skor rata- rata 62,68 maka hasil belajar murid pada kategori sedang.

(50)

Gambar 4.1 Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam Setiap Kategori Hasil Belajar Matematika Pada Siklus I

Nilai ketuntasan belajar Matematika dapat dilihat berdasarkan daya serap murid. Apabila daya serap murid terhadap konsep Pecahan di kelompokkan ke dalam kategori tuntas dan tak tuntas, maka diperoleh distribusi, frekuensi dan persentase ketuntasan belajar Matematika pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Deskriprtif Ketuntasan Belajar Matematika pada Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa I Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada Siklus I

Skor Kategori Siklus I Persentase (%)

0–64 Tidak Tuntas 17 41,46

65–100 Tuntas 24 58,54

Jumlah 41 100

Hasil diatas menunjukkan bahwa pada siklus I, hasil belajar Matematika murid kelas V belum berada dalam kategori tuntas sebab banyaknya murid yang memperoleh kategori tuntas hanya 24 orang yang apabila dipersentasekan memiliki nilai 58,54% sedangkan ketuntasan klasikal harus mencapai 85%.

(51)

Gambar 4.2 Grafik Deskriprtif Ketuntasan Belajar Matematika Murid Kelas V SD Negeri Sungguminasa 1 Pada Siklus I

b. Aktivitas Murid

Data aktivitas murid diperoleh melalui lembar observasi selama pembelajaran. Aktivitas murid diamati selama proses belajar sebanyak 7 opsi.

Aktivitas murid tersebut dapat dilihatpada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Observasi Aktivitas Murid Pada Siklus I No Indikator yang Diamati

Siklus I Rata-

rata (%) Frekuensi Persentase (%)

P.1 P.2 P.3 P.1 P.2 P.3 1 Murid yang menyimak

penjelasan guru (murid

yang terlihat

memperhatikan penjelasan guru)

30 34 37 73,17 82,93 90,2 82,1

2 Aktivitas murid dalam kelompok saat mencari jawaban LKS

30 33 34 73,17 80,49 82,93 78,86 3 Murid yang mencatat

atau menyalin apa yang telah dijelaskan oleh guru

40 40 40 97,56 97,56 97,56 97,56 4 Murid yang menjawab

pertanyaan (memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan

13 15 20 31,71 36,59 48,78 39,03 5 Murid yang mengajukan

tanggapan (murid 9 11 14 21,95 26,83 34,15 27,64

(52)

menyangkal dan memberi jawaban lain dengan alasan sendiri) 6 Murid yang meminta

bimbingan guru dalam

menyelesaikan LKS. 17 13 10 41,46 31,71 24,39 32,52 7 Murid yang melakukan

kegiatan lain baik dalam proses pemberian materi pembelajaran maupun disaat mengerjakan tugas (main-main, keluar masuk kelas, ribut, mengerjakan pekerjaan lain dan sebagainya)

11 10 10 26,83 24,39 24,39 25,2

Rata-rata 54,70

Aktivitas yang teramati dalam penelitian ini ditekankan pada 7 opsi seperti yang tertera pada tabel 4.4 . Persentase aktivitas tersebut berdasarkan pengisian lembar observasi. Berdasarkan data hasil observasi, pada awal pelaksanaan siklus I yaitu pertemuan 1, 2, 3 masih terdapat beberapa kesulitan, terutama dalam menghadapi murid, hal yang menonjol adalah murid yang menjawab dan memberi tanggapan masih sangat kurang, murid yang mencatat materi pelajaran menampakkan kerjasama yang baik sesama anggotanya, juga melihat murid yang memperhatikan penjelasan guru juga masih kurang dari jumlah murid yang berada di dalam kelas. Respon yang lain memperhatikan sikap yang kurang aktif dan kurang mendukung sehingga suasana kelas yang gaduh /ribut, utamanya murid yang berada di bangku belakang, murid yang mondar-mandir sambil menganggu temannya dan bermain. Selain itu ada murid yang bicara dengan teman kelompoknya yang tidak berhubungan dengan pelajaran, tidak antusias dalam belajar dan kelihatan masih bingung dengan model pembelajaran yang

Gambar

Tabel Hasil  Belajar  Matematika  Murid  Kelas  V  SD Negeri Sungguminasa  I Kecamatan Somba  Opu Kabupaten Gowa Pada  Tes Akhir Siklus I
Grafik Distribusi Frekuensi Dan Persentase Jumlah Murid Dalam  Setiap  Kategori  Hasil  Belajar  Matematika  Pada Siklus I
Gambar :  Kerangka PikirGuru :
Tabel 3.1  Teknik Kategori Hasil Belajar No Nilai Kuantitatif Kategori
+7

Referensi

Dokumen terkait

Nilai rata-rata kelas pada siklus I belum memenuhi KKM yaitu 74,15. Ketuntasan belajar klasikal sudah memenuhi kriteria keberhasilan ≥75%. Kegiatan pembelajaran

Sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas atau telah mencapai KKM, yaitu sebanyak 22 orang dengan nilai rata-rata 78,08 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 88%, maka

Demikian juga dari 51 responden yang diteliti, rata-rata jawaban responden sebesar 3,10 atau menunjuk pada kategori jawaban cukup memuaskan, dalam arti bahwa

pada pra siklus menunjukkan nilai rata-rata 65,5 dengan ketuntasan klasikal 44,44%, siklus I menunjukkan rata-rata nilai sebesar 70,6 dengan ketuntasan klasikal

Hasil penelitian pada siklus I rata-rata kelas 70 dengan ketuntasan belajar klasikal 73%, sehingga ketuntasan belajar klasikal belum tercapai karena belum mencapai

Pada siklus II, siswa yang tuntas meningkat menjadi 17 siswa sehingga diperoleh ketuntasan belajar klasikal siswa sebesar 85%.. Rata-rata nilai siklus II

Hasil belajar murid kelas IV pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terlihat bahwa nilai rata-rata murid adalah 68 dengan 13 murid yang mendapat nilai sesuai KKM bahkan ada yang

Tabel 22 : Rekapitulasi Tanggapan Responden Mengenai Berwujud Tangibles Dalam Pelayanan Akademik E-Library Di Unimuh No TanggapanResponden Rata-Rata Skor Rata-Rata Persentase %