• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

N/A
N/A
SALSABILA SALSABILA

Academic year: 2024

Membagikan " Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

(Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Bahan Alam) Dosen Pengampu Prof. Dr. Ir. Eka Sari, M.T., IPM., Asean Eng.

DISUSUN OEH

Farhan Fadlurohman Tsaqif 3335220070

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2024

(2)

ii

DAFTAR ISI ... ..ii

DAFTAR GAMBAR ...iv

DAFTAR TABEL ...v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan ... 2

1.4 Manfaat ... 2

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN ... 3

2.1 Deskripsi Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 3

2.2 KandunganTanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 6

2.3 Manfaat Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 7

2.4 Analisis Fitokimia Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 11

2.5 Analisis Proksimat Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 15

2.6 Analisis LC/MS-MS Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 16

2.7 Proses Ekstraksi Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng) ... 22

(3)

iii DAFTAR PUSTAKA

(4)

iv

Gambar 2.1 Tanaman Buni ... 4 Gambar 2.2 Kromatogram Puncak Dasar HPLC-DAD (BPC) untuk ekstrak Antidesma bunius L. spreng ... 17

Gambar 2.3 Block Flow Diagram Proses Ekstraksi Tanaman Buni ... 23 Gambar 2.4 Freeze Dried... 24

(5)

v

Gambar 2.1 Perbandingan Fitokimia Antidesma bunius L. Spreng ... 5 Gambar 2.2 Perbandingan Fitokimia Antidesma bunius L. Spreng ... 16 Gambar 2.3 Analisa LC/MS-MS Antidesma bunius L. Spreng ... 18

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Indonesia, dengan kekayaan flora tropisnya, memiliki banyak tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat alami. Tanaman-tanaman ini telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional guna mengatasi berbagai masalah kesehatan. Penelitian dan pengembangan obat tradisional sangat diperlukan agar manfaatnya dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu tanaman yang memiliki potensi dalam bidang kesehatan adalah buni (Antidesma bunius L. spreng), bagian dari genus Antidesma (Indrawati & Rizki, 2017).

Tanaman buni (Antidesma bunius L. Spreng) semakin mendapat perhatian karena manfaat fitokimia dan farmasinya yang luas, baik untuk kesehatan metabolisme manusia maupun sebagai pengendali patogen tanaman pertanian.

Tanaman buni merupakan tumbuhan peneduh dengan dedaunan yang rindang, serta buahnya dapat digunakan sebagai campuran makanan. Namun, keberadaan tanaman ini semakin terancam akibat kurangnya perhatian terhadap pemanfaatannya dan nilai ekonomis yang rendah (Suryowinoto, 1997).

Berbagai bagian tanaman ini, seperti akar, kulit batang, daun, dan buah, memiliki potensi farmakologis. Di Indonesia, buah buni biasanya dimakan langsung atau diolah menjadi hidangan tradisional seperti rujak. Rasa asamnya yang khas dan warnanya yang menarik menjadikannya pilihan yang digemari.

Selain menyegarkan, buah buni juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan (Yelliantty dkk., 2021). Tanaman buni memiliki sifat sitotoksik untuk membunuh sel kanker, hipoglikemik, antiradikal, antioksidan, trombolitik, antibakteri, dan pestisida nabati (Islam dkk., 2018). Selain itu, Kassem dkk., (2013) menambahkan bahwa tanaman ini bermanfaat dalam mengatasi masalah pencernaan, seperti disentri, gangguan pencernaan, dan konstipasi. Secara farmakologis buni dapat

(7)

menghilangkan haus, menghilangkan racun, meluruhkan keringat, dan meningkatkan sirkulasi darah (Lembaga Biologi Nasional, 2009). Buni mengandung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, fenol, dan protein, yang memiliki efek farmakologis untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti diabetes, inflamasi, analgesik, dan antipiretik (Indrawati & Rizki, 2017).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimana manfaat dan kandungan dari tanaman buni?

2. Bagaimana analisis fitokimia, analisis proksimat, dan analisis LC-MS/MS pada tanaman buni?

3. Bagaimana proses ekstraksi dan enkapsulasi tanaman buni?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui manfaat dan kandungan dari tanaman buni

2. Mengetahui analisis fitokimia, analisis proksimat, dan analisis LC-MS/MS pada tanaman buni

3. Mengetahui proses ekstraksi dan enkapsulasi tanaman bun 1.4 Manfaat

1. Memperluas wawasan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan informasi mengenai potensi kearifan lokal tanaman obat di Indonesia, khususnya pemanfaatan tanaman buni.

2. Menyediakan informasi ilmiah bagi tenaga kesehatan dan peneliti untuk mendorong penemuan senyawa obat baru dari tanaman tanaman buni.

(8)

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1 Deskripsi Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Tanaman buni (Antidesma bunius L. Spreng) merupakan tumbuhan yang tumbuh secara alami di lingkungan lembap dan sering ditemukan di dataran rendah wilayah India, Sri Lanka, Myanmar, Malaysia, Indonesia, Papua Nugini, serta Australia. Dalam pengobatan tradisional, berbagai bagian tanaman ini, seperti daun, buah, kulit kayu, akar, dan biji, telah dimanfaatkan sebagai bahan obat untuk mengatasi beragam penyakit (Shariful Islam dkk., 2018).

Tanaman buni banyak ditemukan di Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Buah tanaman ini biasanya langsung dimakan oleh masyarakat Baduy Dalam saat sudah matang. Tanaman ini ditemukan di tepi sungai pada koordinat GPS 6°38’47,8"S, 106°13’49.0"E dengan ketinggian 330 m dan memiliki nilai UV sebesar 0,03. Daun, kulit batang, dan akar Antidesma bunius mengandung saponin dan tanin, sementara kulit batangnya juga mengandung flavonoid (Sansena dkk., 2018).

Secara taksonomi, klasifikasi tanaman Buni adalah sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 2010):

Kerajaan: Plantae

Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Sub Kelas: Rosidae Ordo: Euphorbiales Famili: Euphorbiaceae

(9)

Genus: Antidesma

Spesies: Antidesma bunius (L.) Spreng

Gambar 2.1 Tanaman Buni

Antidesma bunius L. Spreng atau tanaman buni, adalah anggota famili Euphorbiaceae yang tersebar luas di berbagai wilayah, seperti Sri Lanka, India Selatan, Himalaya Timur, Myanmar, Indo Cina, Cina Selatan, Thailand, Malaysia (Pulau Banggi), dan Australia (Queensland). Tanaman ini banyak dibudidayakan di Indonesia (terutama di Pulau Jawa), Malaysia, dan Filipina. Nama lokalnya beragam, seperti Wuni (Banyuwangi), Barune, Gedeh, Wera, Boni, Huni (Sunda), Burneh (Madura), Buni, Katakuti, Kutikata (Maluku), dan Bune Tedong (Makassar) (Orwa dkk., 2009). Di beberapa negara di Asia, (Antidesma bunius L.) yang juga dikenal sebagai "pohon kismis," merupakan buah yang terkenal (Shyamananda Arambam, 2017). Tanaman ini tumbuh secara luas di berbagai habitat, termasuk hutan cemara, hutan dipterokarpa, dan hutan jati. Selain itu, tanaman ini dapat ditemukan di semak-semak bambu di sepanjang tepi hutan, sungai, dan jalan. Selain tumbuh secara alami di habitat liarnya, tanaman ini juga dapat ditemui di daerah-daerah yang menjadi fokus budidaya dan pertanian (Shariful Islam dkk., 2018). Buah buni dikenal dengan sebutan yang berbeda. Di Filipina, disebut buni atau bignai; di Malaya (India), disebut buni atau berunai; di Indonesia, dikenal dengan buni, boni, wooni, atau hooni; di Thailand, dikenal

(10)

sebagai ma mao luang; di Laos, dikenal dengan kho lien tu; di Vietnam, disebut choi moi; dan di Queensland, dikenal sebagai moi-kin/chunka (Suriati Luh, 2022).

Tanaman buni (Antidesma bunius L. spreng) tumbuh di hutan primer maupun sekunder pada ketinggian hingga 1.800 mdpl dan cocok di berbagai jenis tanah, termasuk aluvial, liat, tanah bekas pembakaran, vulkanik, podzolik, serta tanah kapur. Tanaman buni, (Antidesma bunius L. spreng) merupakan jenis pohon yang bisa mencapai ketinggian hingga 6 meter, bahkan mencapai 15 hingga 30 meter.

Daun buni (Antidesma bunius L. spreng) berbentuk lonjong, memiliki panjang sekitar 4 hingga 9 inci (10 hingga 22,5 cm) dan lebar sekitar 2 hingga 3 inci (5 hingga 7,5 cm) (Shariful Islam dkk., 2018). Daun buni berbentuk tunggal dan tersusun berselang, dengan bentuk lanset memanjang atau lonjong, berukuran panjang 19-25 cm dan lebar 4-10 cm. Dasar daunnya tumpul atau membulat, ujungnya runcing atau tumpul, dengan tepi rata. Permukaan daun mengilap dengan tulang daun utama terlihat jelas di bagian bawah. Panjang tangkai daun mencapai 1 cm dan berwarna hijau (Orwa dkk., 2009).

Bunga buni (Antidesma bunius L. spreng) terdiri dari bunga jantan dan betina. Bunga jantan memiliki tangkai pendek dengan kelopak berbentuk cawan, sedangkan bunga betina bertangkai dengan kelopak berbentuk lonceng. Perbungaan berbentuk bulir, tersusun secara terminal atau aksiler, dengan panjang 6-20 cm dan berisi banyak bunga. Bunga jantan memiliki 3-4 kelopak pendek berbentuk bulat dan benang sari kemerahan, sedangkan bunga betina memiliki kelopak berbentuk mangkuk-lonceng (Orwa dkk., 2009).

Buah buni (Antidesma bunius L. spreng) berbentuk bulat telur atau bulat dengan diameter 8-10 mm, berwarna hijau saat muda, dan berubah menjadi merah kekuningan hingga ungu kebiruan saat matang. Buah ini berair, tersusun dalam tangkai panjang, dan memiliki rasa asam saat mentah serta manis asam saat matang. Biasanya, buah matang dimakan segar. Biji buah

(11)

berbentuk lonjong, berukuran panjang 6-8 mm dan lebar 4,5-5,5 mm, berwarna putih kotor (Orwa dkk., 2009). Ketika buahnya sudah matang, rasanya sangat manis dan asam. Pada tahap kematangan, buah ini berubah warna menjadi merah kehitaman dan memiliki rasa yang kombinasi asam, manis, dan pahit (Shariful Islam dkk., 2018). Warna merah hingga ungu pada buah buni disebabkan oleh keberadaan antosianin.

2.2 Kandungan Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Gruèzo (1997) menyatakan bahwa kandungan bagian buah yang dapat dimakan merupakan 65-80% dari keseluruhan buah. Asam sitrat merupakan asam organik yang paling menonjol dalam buah buni. Kandungan gizi untuk setiap 100 gram buah buni adalah energi 134 kj, air 90-95 gram, kabohidrat 6,3 gram, protein 0,7 gram, lemak 0,8 gram, kalsium 3,7- 120 mg, fosfor 22-40 mg, besi 01-0,7 mg, vitamin A 10 IU, vitamin C 8 mg. Dengan adanya senyawa yang memiliki potensi sebagai antioksidan yang telah diuraikan diatas, maka dilakukan uji aktivitas antioksidan untuk mengetahui daya antioksidan dari (Antidesma bunius L. Spreng) dengan metode peredaman radikal DPPH.

Daun buni (Antidesma bunius L.) mengandung saponin, flavonoid tanin, dan fenol pada daunnya (Deore dkk., 2019). Dari daun buni terdapat senyawa flavonoid yang terbukti dapat berkontribusi pada efek penurunan hiperglikemia (Shariful Islam dkk., 2018). Hasil uji menunjukkan ekstrak etanol daun buni mengandung beberapa golongan senyawa diantaranya flavonoid, terpenoid, saponin, tanin dan fenol. Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase dan leukotrien pada jalur lipooksigenase.

Flavonoid juga menghambat akumulasi leukosit di daerah yang cedera, penghambatan degradasi neutrofil dan penghambatan pelepasan histamin sehingga dapat menjadi antiinflamasi (Nijveltd dkk., 2014: 418,422). Tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptik (Khanbabaee dan Ree, 2001). Sedangkan aktivitas farmakologi saponin yang telah

(12)

dilaporkan antara lain sebagai antiinflamasi, antibiotik, antifungi, antivirus, hepatoprotektor serta antiulcer (Soetan, 2006).

2.3 Manfaat Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

1. Antioksidan: Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan kanker sering dikaitkan dengan radikal bebas. Senyawa antioksidan memiliki peran penting dalam mencegah atau memperlambat kerusakan sel akibat radikal bebas.

Senyawa antioksidan komersial, seperti butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), propil galat, tert-butil hidroksikuinon (TBHQ), dan tokoferol, banyak digunakan. Bioaktivitas Antidesma bunius sebagai antioksidan telah dilaporkan oleh beberapa peneliti, termasuk Kassem dkk., (2013), Quiming dkk., (2016), Tajbin dkk., (2021), Aksornchu dkk., (2021), dan Islary dkk., (2017). Efektivitas antioksidan dari A. bunius bergantung pada jenis organ, konsentrasi, dan zat yang diekstraksi. Perkembangan buah memengaruhi sifat fisikokimia, aktivitas antiradikal, dan akumulasi senyawa polifenolnya (Butkhup & Samappito, 2011). Buah muda memiliki total fenolik lebih tinggi dibandingkan buah matang, sementara kandungan antosianin meningkat selama pematangan. Beberapa polifenol utama, seperti katekin, epikatekin, rutin, dan trans-resveratrol, meningkat seiring pematangan buah, sedangkan kandungan asam fenolik seperti asam galat, kafeat, dan ellagik menurun (Chaikham dkk., 2016; Butkhup & Samappito, 2011). Ekstraksi pada suhu 50°C menghasilkan kandungan fenolik tinggi, berpotensi sebagai bahan makanan sehat (Yasser dkk., 2020). Ultrasonikasi adalah teknik pengolahan yang efektif untuk mempertahankan karakteristik sari buah buni (Chaikham dkk., 2016). Aktivitas antioksidan A. bunius diuji menggunakan metode DPPH, FRAP, dan TBA. Ekstrak metanol menunjukkan IC50 sebesar 3,10 µg/mL, mendekati BHT standar (IC50 2,30 µg/mL) (Islam dkk., 2018). Buah matang A. bunius memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan buah yang belum matang, tetapi aktivitasnya lebih rendah dibandingkan asam L-askorbat (Yelliantty dkk., 2021). Fraksi buah menunjukkan penangkalan radikal bebas tertinggi dengan uji DPPH sebesar 97,39% (Quiming dkk.,

(13)

2016). Aktivitas antioksidan FRAP pada daun mencapai IC50 182,22 µg/mL (Aksornchu dkk., 2021), sedangkan buah memiliki nilai 61,58 µM TE/g DE (Islary dkk., 2017). Aktivitas antioksidan A. bunius berkaitan dengan kandungan flavonoid, tanin, fenolik, dan vitamin C (Kassem dkk., 2013). Total fenolik buahnya mencapai 119,35 mg GAE/g DE, sementara total flavonoidnya sebesar 64,32 mg QE/g DE. Kandungan vitamin C dalam buah segar adalah 7,30 mg/100 g. Ekstrak daun A. bunius juga meningkatkan aktivitas enzim glutathione reductase dan menurunkan kadar oksida nitrat, sebanding dengan quercetin (Kassem dkk., 2013).

2. Antibakteri: Bakteri patogen dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan, pernapasan, dan kulit manusia. Dengan meningkatnya kebutuhan akan antibiotik, eksplorasi terhadap sumber baru, termasuk Antidesma bunius (A. bunius), terus dilakukan. Bioaktivitas A. bunius sebagai antimikroba telah dilaporkan oleh Herlinawati (2020), Indrawati dan Rizki (2017), Pongnaratorn dkk., (2017), serta Indrawati dkk., (2020). Buah A. bunius diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri seperti Salmonella typhimurium, Bacillus cereus, Salmonella typhi, Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes. Efektivitas antibakteri A. bunius dipengaruhi oleh konsentrasi, senyawa ekstrak, organ, dan durasi kontak. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin besar zona hambatnya (Indrawati & Rizki, 2017;

Herlinawati, 2020). Ekstrak etanol daun A. bunius memiliki zona hambat terhadap S. typhi, dengan ukuran berturut-turut: 13 mm (5%), 14 mm (10%), 15 mm (20%), dan 17 mm (40%) (Herlinawati, 2020). Bioaktivitas ekstrak A.

bunius terhadap B. cereus lebih rendah dibandingkan S. typhimurium (Indrawati & Rizki, 2017). Ekstrak buah muda A. bunius menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus (1,73 cm), lebih tinggi dibandingkan antibiotik tetrasiklin (1,05 cm). Aktivitas terhadap S. pyogenes sebanding dengan tetrasiklin (2,46 cm), tetapi lebih rendah terhadap S. mutans (1,96 cm dibandingkan 3,86 cm tetrasiklin). Buah matang juga memiliki aktivitas antibakteri, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak buah hijau sebesar 0,0125 mg/mL terhadap S. pyogenes dan 0,025 mg/mL terhadap S.

(14)

mutans dan S. aureus (Pongnaratorn dkk., 2017). Aktivitas antibakteri A.

bunius berkaitan dengan metabolit sekundernya dan bakteri endofit (Indrawati dkk., 2020). Ekstrak daun memiliki total fenolik tertinggi, diikuti oleh buah hijau dan buah matang, yang memengaruhi aktivitas antibakterinya (Pongnaratorn dkk., 2017). Bakteri endofit dari A. bunius berpotensi sebagai agen antibakteri terhadap bakteri Gram negatif (S. typhimurium, E. coli) dan Gram positif (S. aureus) (Indrawati dkk., 2020).

3. Antikanker: Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian manusia, dan bioaktivitas Antidesma bunius sebagai antikanker sering dikaitkan dengan kemampuan antioksidannya. Ekstrak daun A. bunius menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker kolorektal manusia HCT- 116 dan adenokarsinoma paru A549 (Geronimo dkk., 2020). Metabolit sekunder dari buahnya memengaruhi integritas mitokondria dan memodulasi gen responsif stres pada sel kanker, mengakibatkan penurunan viabilitas sel hingga 27%, disertai penurunan indeks stres oksidatif sebesar 59% serta peningkatan regulasi gen NRF2 dan gen-gen yang bergantung padanya.

Ekstrak A. bunius juga meningkatkan potensi transmembran mitokondria (MTP) hingga tiga kali lipat dan menginduksi ekspresi gen BECLIN1, ATG5, dan LC3 (Benigno dkk., 2020). Selain itu, ekstrak etanol buah A. bunius menghambat viabilitas sel kanker payudara (MDA-MB-231) dengan nilai IC50 sebesar 219 µg/mL setelah 72 jam perlakuan. Fraksi etanolnya juga menghambat migrasi sel MDA-MB-231 dan menunda transisi fase G1 ke fase S dibandingkan kontrol. Bioaktivitas antikanker A. bunius sebagian besar dikaitkan dengan senyawa amentoflavon (Funing dkk., 2021).

4. Anti-Diabetes Mellitus: Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah akibat ketidakmampuan tubuh memproduksi insulin yang cukup (Quiming dkk., 2016; Islam & Koly, 2018). Pengobatan diabetes dengan obat sintetis sering kali mahal dan menimbulkan efek samping seperti mual dan kecemasan (Quiming dkk., 2017).

Di Filipina, masyarakat telah lama memanfaatkan Antidesma bunius untuk mengatasi diabetes (Tanquilut dkk., 2019). Penelitian menunjukkan bahwa

(15)

pemberian ekstrak A. bunius (500 mg/kg) secara oral selama 14 hari secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah puasa (FBG) dibandingkan dengan kontrol positif glibenklamid (10 mg/kg) (Grijaldo dkk., 2019). Aktivitas antidiabetes dari ekstrak etanol kulit batang A. bunius berkaitan dengan penghambatan enzim α-glukosidase (Elya dkk., 2012). Ekstrak buah matang A.

bunius memiliki penghambatan α-glukosidase lebih tinggi dibandingkan buah hijau (Hamidu dkk., 2020). Pada tikus diabetes yang diinduksi aloksan, pemberian ekstrak etanol buah A. bunius dengan dosis 100, 300, dan 500 mg/kg menunjukkan efek anti-hiperglikemia, dengan dosis 500 mg/kg menjadi yang paling efektif (Alvarado dkk., 2015). Tikus diabetes betina Balb/C yang diobati dengan ekstrak ini juga menunjukkan penurunan kadar glukosa darah (Quiming dkk., 2017). Skrining fitokimia mengungkapkan bahwa ekstrak A.

bunius mengandung fenol, indol, steroid, dan flavonoid (Alvarado dkk., 2015).

5. Anti Peradangan: Inflamasi adalah mekanisme perlindungan tubuh terhadap infeksi mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan jamur. Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun Antidesma bunius diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi yang efektif pada dosis 200 mg/kg berat badan (Kautsar dkk., 2019). Senyawa seperti antidesosida, podocarpusflavone A, dan amentoflavone dari daun A. bunius menunjukkan kemampuan menghambat produksi NO pada sel BV2 yang distimulasi LPS dan makrofag RAW264.7, dengan nilai IC50 antara 8,5 hingga 26,9 µM (Trang dkk., 2016).

6. Anti Kolesterol: Kolesterol merupakan salah satu penyebab utama gangguan pada sistem peredaran darah, dengan pola makan tinggi lemak yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (PKV). Oleh karena itu, upaya pencegahan kerusakan jaringan jantung menjadi penting dalam mengurangi risiko PKV (Udomkasemsab dkk., 2018). Buah Antidesma bunius memiliki potensi sebagai agen antiobesitas melalui efeknya pada aktivitas enzim lipase (Krongyut & Sutthanut, 2019). Aktivitas penghambatan lipase pankreas tertinggi ditemukan pada buah A. bunius yang dikukus (Crieta dkk., 2021).

Ekstrak air buah A. bunius mengandung senyawa fenolik seperti 3-

(16)

(Hydrazinometil) Fenol, 5-Allyl-2-Methoxy Fenol, dan 3-(3,5-di-Tert-Butil, 4- Hidroksifenil) Asam Propionat (Yasser dkk., 2020a).

2.4 Analisis Fitokimia Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Analisis fitokimia oleh (Alyah, 2024) yaitu komposisi senyawa kimia dalam daun buni bertujuan untuk memastikan adanya zat-zat yang bermanfaat dalam menurunkan kadar glukosa darah. Proses ini melibatkan pengidentifikasi alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin.

a. Pemeriksaan Alkaloid Sebanyak 0,5 gram ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 tetes HCl pekat, kemudian ditambahkan 5 tetes reagen mayer. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya endapan putih.

b. Pemeriksaan Tanin Sebanyak 1 gram sampel diuji dengan menambahkan larutan FeCl3 Jika hasilnya, positif ditandai dengan munculnya larutan berwarna hitam kehijauan.

c. Pemeriksaan Saponin Uji saponin dilakukan dengan menambahkan 2,0 ml larutan sampel ke dalam tabung reaksi dan dikocok selama 5 hingga 10 menit.

Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya busa atau gelembung yang stabil selama 10 menit.

d. Pemeriksaan Flavonoid Sebanyak 0,5 gram ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan menambahkan 1,0 ml larutan sampel ke dalam tabung reaksi, lalu menambahkan bubuk magnesium dan beberapa tetes HCl pekat.

Hasil positif ditandai dengan munculnya warna larutan jingga, merah, atau merah muda.

Analisis fitokimia oleh (Almaidah, 2018) yaitu senyawa aktif kimia dalam daun buni. Proses ini melibatkan pengidentifikasi alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin.

a. Analisis Alkaloid

1) Uji pereksi mayer: Disiapkan ekstrak daun buni yang dilarutkan dalam pelarutnya dan diambil beberapa tetes kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi. Pada sampel tersebut ditambahkan pereaksi mayer. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan putih atau kuning.

(17)

2) Uji pereaksi wagner Disiapkan ekstrak daun buni yang dilarutkan dalam pelarutnya dan diambil beberapa tetes kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi. Pada sampel tersebut ditambahkan pereaksi wagner. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan cokelat.

3) Uji pereaksi dragendorff Disiapkan ekstrak daun buni yang dilarutkan dalam pelarutnya dan diambil beberapa tetes kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi. Pada sampel tersebut ditambahkan pereaksi dragendorff. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan jingga atau cokelat.

b. Analisis Tanin Disiapkan ekstrak daun buni 1 ml. Ditambahkan beberapa tetes larutan besi (III) Klorida 1%. Perubahan yang terjadi diamati, terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan adanya senyawa tanin.

c. Analisis Flavonoid Ekstrak daun buni dimasukkan kedalam tabung reaksi.

Ditambahkan pada sampel berupa serbuk Magnesium 2 N sebanyak 2 mg dan diberikan 3 tetes HCl pekat. Sampel dikocok dan diamati perubahan yang terjadi, terbentuknya warna merah, jingga atau kuning pada larutan menunjukkan adanya flavonoid.

d. Analisis Saponin Disiapkan ekstrak daun buni dimasukkan kedalam tabung reaksi. Air panas ditambahkan pada sampel. Perubahan yang terjadi terhadap terbentuknya busa diamati, reaksi positif jika busa stabil selama 30 menit dan tidak hilang pada penambahan 1 tetes HCl 2 N.

Analisis fitokimia oleh (Munoz dkk., 2021) yaitu senyawa aktif kimia dalam daun buni. Proses ini melibatkan pengidentifikasi alkaloid, antrakuinon, flavonoid, tanin, karotenoid, kumarin, steroid, terpenoid, kuinon dan saponin.

a. Uji alkaloid (uji Mayer): Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan 2,5 mL larutan asam klorida (HCl) 2%, lalu ditambahkan 0,25 g bubuk NaCl. Campuran ini diaduk, disaring, dan residunya dicuci menggunakan larutan HCl 2%. Setelah itu, 2,5 mL akuades ditambahkan ke residu. Sebanyak 0,5 mL campuran tersebut kemudian dicampur dengan 1 mL reagen Mayer.

Kehadiran kekeruhan menunjukkan adanya alkaloid.

(18)

b) Uji Gabungan Antrakuinon: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol direbus dengan 1 mL HCl 10% selama 5 menit, lalu disaring saat masih panas dan didinginkan. Setelah itu, kloroform (CCl₄) ditambahkan dalam jumlah yang sama. Lapisan CCl₄ dipisahkan menggunakan pipet ke dalam tabung reaksi kering, dan 10% NH₄Cl ditambahkan dalam volume yang sama. Campuran diaduk, dibiarkan terpisah, dan lapisan air yang terpisah diamati. Warna merah muda menunjukkan keberadaan antrakuinon.

c) Uji Karotenoid: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan 2,5 mL CCl₄, lalu divortex selama 1 menit dan disaring menggunakan kertas saring Whatman #1. Pada filtrat, ditambahkan 1,5 mL H₂SO₄ 85%. Pembentukan warna biru pada antarmuka menandakan adanya karotenoid.

d) Uji Kumarin: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan 0,5 mL NaOH 10%. Warna kuning menunjukkan keberadaan kumarin.

e) Uji Flavonoid: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan air hingga mencapai volume 2,5 mL, lalu dipanaskan selama 5 menit dan disaring.

Beberapa tetes NaOH 20% ditambahkan ke filtrat, diikuti HCl 10%. Perubahan warna dari kuning ke tidak berwarna menunjukkan flavonoid.

f) Uji Saponin: Sebanyak 1 mL ekstrak buah diencerkan dalam 20 mL air suling, lalu dikocok dalam silinder bertingkat selama 15 menit. Busa stabil menunjukkan adanya saponin.

g) Uji Steroid: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan 2,5 mL CCl₄. H₂SO₄ pekat ditambahkan perlahan di sisi tabung reaksi. Warna merah pada lapisan atas dan warna kuning fluoresensi hijau pada lapisan asam sulfat menunjukkan keberadaan steroid.

h) Uji Tanin: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol direbus dengan air suling dalam jumlah yang sama, lalu disaring. Setelah itu, 0,2 mL FeCl₃ 0,1%

ditambahkan. Warna hijau kecoklatan atau biru kehitaman menunjukkan tanin.

i) Uji Terpenoid: Sebanyak 0,25 mL CCl₄ ditambahkan ke dalam 0,5 mL ekstrak buah etanol, lalu ditambahkan 1 mL H₂SO₄ pekat secara perlahan. Warna coklat kemerahan pada antarmuka menunjukkan terpenoid.

(19)

j) Uji Kuinon: Sebanyak 0,5 mL ekstrak buah etanol dicampur dengan 1 mL etanol 70%, lalu ditambahkan 1 mL KOH. Warna biru menunjukkan keberadaan kuinon.

Analisis fitokimia oleh (Kumaradewi dkk., 2021) yaitu senyawa aktif kimia dalam daun buni. Proses ini melibatkan pengidentifikasi alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, terpenoid, kuinon, fenol dan saponin.

a) Uji Fenol: Sebanyak 1 mL larutan uji ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl₃ 1%. Pembentukan warna hijau, merah, ungu, biru, biru tua, biru kehitaman, atau hijau kehitaman menandakan keberadaan fenol.

b) Uji Flavonoid: Sebanyak 2 mL larutan uji dipanaskan selama 5 menit, kemudian ditambahkan 1 mL HCl pekat dan 0,05 mg serbuk Mg. Pembentukan warna merah, kuning, atau oranye menunjukkan keberadaan flavonoid.

c) Uji Tanin: Sebanyak 1 mL larutan uji dicampur dengan 2-3 tetes larutan FeCl₃ 1%. Warna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin.

d) Uji Saponin: Sebanyak 2 mL larutan uji dicampur dengan 10 mL air panas, didinginkan, dan dikocok selama 10 detik. Jika busa dengan tinggi 1-10 cm terbentuk dan tidak hilang setelah ditambahkan HCl 2N, hal ini menandakan adanya saponin.

e) Uji Alkaloid: Sebanyak 0,5 gram ekstrak kental dilarutkan dengan 1 mL HCl 2N dan 9 mL akuades, lalu dipanaskan selama 2 menit di penangas air, kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat dibagi menjadi tiga tabung reaksi dan ditambahkan reagen Mayer, Wagner, atau Dragendorf. Endapan putih pada reagen Mayer, oranye pada Dragendorf, atau coklat pada Wagner menunjukkan adanya alkaloid.

f) Uji Terpenoid: Ekstrak dilarutkan dengan kloroform, lalu disaring. Filtrat ditambahkan beberapa tetes asam sulfat pekat. Pembentukan warna merah kecoklatan pada batas antar fase menandakan keberadaan terpenoid.

g) Uji Steroid: Ekstrak dilarutkan dalam kloroform, disaring, dan filtratnya dicampur dengan pereaksi Lieberman-Burchard. Cincin hijau atau biru menunjukkan adanya steroid.

(20)

Tabel 2.1 Perbandingan Fitokimia Antidesma bunius L. Spreng Analisis

Fitokimia

(Alyah, 2024)

(Almaidah, 2018)

(Munoz dkk., 2021)

(Kumaradewi dkk., 2021) Akaloid

Dragendorf Mayer Wagner

- + +

+ + +

- +++

-

+ + +

Saponin + + +++ +

Flavonoid + + +++ +

Steroid - - +++ +

Terpenoid - - ++ +

Tannin + + +++ +

Antrakuinon - - - -

Karotenoid - - - -

Kumarin - - +++ -

Kuinon - - ++ -

2.5 Analisis Proksimat Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Analisis proksimat dilakukan mengikuti prosedur AOAC (1984) untuk memperoleh kadar air sampel buah dengan teknik gravimetri, kadar abu dengan menggunakan tanur, kadar protein dengan pendekatan total nitrogen menggunakan perangkat alat kjeldahl yang kemudian hasilnya dikonversi menjadi nilai protein, kadar lemak yang diestimasi menggunakan soxlet untuk mengekstrak lemak, dan total karbohidrat dihitung dengan cara by different atau nilai selisih dari total kandungan bahan (100%) dikurangi kandungan zat yang sudah diperoleh sebelumnya. Total gula dalam bentuk derajat brix diukur menggunakan

(21)

refraktometer setelah ditera dengan akuades, dan kandungan vitamin C diukur dengan teknik titrasi menggunakan larutan yodium (Sudarmadji dkk., 1997). Total fenol diukur menggunakan spektrofotometer dengan mereaksikan ekstrak jus buah buni menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu. Konsentrasi total fenol dihitung dari absorbansi sampel yang diplot pada kurva standar asam galat, sehingga hasilnya dinyatakan sebagai ekivalen asam galat (GAE) (Almey dkk., 2010).

Tabel 2.2 Perbandingan Fitokimia Antidesma bunius L. Spreng

Parameter Nilai ± SD

Kadar Air (%) 81,54 ± 0,067

Kadar Abu (%) 1,04 ± 0,02

Kadar Protein (%) 3,54 ± 0,22

Kadar Lemak (%) 4,63 ± 0,28

Karbohidrat Total (%) 9,26 ± 0,4

Kadar Gula (% brix) 27,55 ± 0,043

Vitamin C (mg/100 gr) 20,5 ± 3,9

Total Fenol (mg GAE/g) 459,18 ± 0,35

2.6 Analisis LC/MS-MS Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LC/MS-MS) adalah teknik analisis yang menggabungkan kemampuan pemisahan fisik dari kromatografi cair dengan spesifisitas deteksi spektrometri massa. Kromatografi cair memisahkan komponen-komponen sampel dan kemudian ion bermuatan dideteksi oleh spektrometer massa. Hasil analisis data LC/MS-MS akan didapatkan kromatogram berupa alur tinggi peak dan akan didapatkan bobot molekul dari senyawa yang terdapat dalam ekstrak sehingga dapat di ketahui jumlah senyawa yang dikandung setiap sampel. Data LC-MS dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang berat molekul, struktur, identitas dan kuantitas komponen sampel tertentu, Senyawa dipisahkan atas dasar interaksi relatif dengan lapisan kimia partikel-partikel (fase diam) dan elusi pelarut melalui kolom (fase gerak).

(22)

Beberapa senyawa yang teridentifikasi dalam penelitian ini belum pernah dilaporkan sebelumnya pada buah Antidesma bunius, menjadikannya temuan baru.

Tabel 2.3 menyajikan daftar 109 senyawa yang terdeteksi melalui HPLC-DAD- ESI-MS beserta waktu retensinya (tR). Dari jumlah tersebut, 78 senyawa diidentifikasi secara tentatif, sementara 31 lainnya masih belum diketahui (Gambar 2). Identifikasi senyawa dilakukan berdasarkan data MS dan analisis spektrum MS/MS yang dibandingkan dengan literatur. Proses ini juga menggunakan basis data publik seperti ChemSpider (Royal Society of Chemistry, 2020) dan PubChem (National Center for Biotechnology Information, 2020). Salah satu senyawa yang terdeteksi adalah asam 5-metoksisalisilat, yang dikenal juga sebagai 2-hidroksi-5- metoksibenzoat. Senyawa ini bersifat hampir netral (berdasarkan pKa) dan sebelumnya terdeteksi dalam bumbu, rempah-rempah, dan teh (Dieryckx dkk., 2015). Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa asam 5-metoksisalisilat juga ditemukan dalam buah A. bunius. Beberapa asam lemak rantai panjang juga berhasil diidentifikasi, termasuk (15Z)-9,12,13-Trihydroxy-15-octadecenoic acid, yang memiliki beragam fungsi seperti antifoaming agent, koagulan, agen dispersi, pengemulsi, agen flotasi, dan pengatur viskositas. Selain itu, senyawa kecil seperti asam butanedioat, 2-(6-hidroksiheksil)-3-metilen-, ditemukan sebagai metabolit sekunder dalam Aspergillus tubingensis.

Dilakukan analisa LC/MS-MS pada Tanaman Buni (Antidesma bunius L.

Spreng) menggunakan pelarut metanol 80%. Didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar 2.2Kromatogram Puncak Dasar HPLC-DAD (BPC) untuk ekstrak Antidesma bunius L. spreng

(23)

Tabel 2.3 Analisa LC/MS-MS Antidesma bunius L. Spreng

(24)
(25)
(26)

Lariciresinol 4-O-glukosida, sejenis lignan dan fenilpropanoid, ditemukan dalam makanan seperti biji wijen, rami, sayuran Brassica, serta pada kulit kayu dan kayu cemara putih (Abies alba) (Tchoumtchoua dkk., 2019). Sebagai bagian dari kelompok besar polifenol dan fitoestrogen, lignan memiliki sifat antioksidan dan potensi aktivitas antiinflamasi (Korkina dkk., 2011). Fosfokolin, fosfat dari kolin, berfungsi sebagai epitop, hapten, metabolit manusia, metabolit tikus, dan alergen.

Senyawa ini juga ditemukan pada buah-buahan seperti stroberi dan lengkeng (Antunes dkk., 2019; Wang dkk., 2020). Senyawa mirip dengan Disperse Red 17, sejenis pewarna dispersi yang tidak larut dalam air, juga diidentifikasi. Pewarna ini sering digunakan dalam industri tekstil dan produk seperti pewarna rambut.

Disperse Red 17 adalah pewarna merah berbentuk bubuk yang larut dalam etanol dan aseton (Al-Etaibi & El-Apasery, 2019). Selain itu, 1,3,3-trimetilindolino-6'-

(27)

nitrobenzopyrylospiran, senyawa fotolistrik yang dapat mengubah struktur molekulnya secara reversibel saat terkena penyinaran dengan panjang gelombang berbeda, juga ditemukan. Senyawa ini memiliki stabilitas panas dan berpotensi digunakan dalam aplikasi fotokromik (Malinauskiene dkk., 2013). Hasil ini mengindikasikan potensi buah Antidesma bunius sebagai sumber pewarna alami berkualitas tinggi. Rubone, senyawa lain yang terdeteksi, ditemukan pula pada tanaman seperti Malva verticillata dan buah Myrica nagi (Bao dkk., 2018; Patel &

Prashar, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa rubone memiliki aktivitas antikanker yang kuat. Kombinasi rubone dengan paclitaxel (PTX) terbukti menghambat pertumbuhan, migrasi, dan populasi sel kanker mirip batang (CSC) (Xiao & Chen, 2015). Beberapa senyawa yang termasuk kelompok steroid juga diidentifikasi, seperti 11-Deoksi prostaglandin F2β, analog dari PGF2, dan 8-Iso- 15-keto-prostaglandin-F2β, isomer non-enzimatik PGF2α. Temuan ini menunjukkan potensi buah Antidesma bunius sebagai bahan pangan fungsional.

2.7 Proses Ekstraksi Tanaman Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

A. Pengambilan Daun dan Buah Buni

Sampel daun buni (Antidesma bunius L. spreng) diperoleh dari tepi sungai pada koordinat GPS 6°38’47,8"S, 106°13’49.0"E di Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

B. Pengolahan Simplisia Daun Buni

Proses pengolahan daun buni melibatkan beberapa tahap. Pertama, daun buni segar sebanyak 8 kg dikumpulkan dan melalui proses sortasi basah untuk memisahkan kotoran yang menempel. Daun kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa tanah atau kotoran lainnya. Setelah bersih, daun diiris atau dirajang, lalu dikeringkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

C. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Buni

(28)

Ekstrak etanol daun buni dibuat menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 800 gram serbuk daun buni dimasukkan ke dalam toples, lalu ditambahkan etanol 96% sebanyak 5000 ml hingga serbuk daun terendam sepenuhnya. Proses perendaman dilakukan selama 3x24 jam. Setelah itu, larutan disaring menggunakan kertas saring untuk memperoleh filtrat murni. Filtrat yang dihasilkan kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak etanol kental. Rendemen dari ekstrak yang dihasilkan dihitung pada tahap akhir.

D. Block Flow Diagram

Berikut ini merupakan diagram alir proses ekstraksi Antidesma bunius L.

spreng menggunakan metode maserasi:

Gambar 2.3 Block Flow Diagram Proses Ekstraksi Tanaman Buni Pengambilan

Sampel

Sortasi Basah

Pengirisan, dan Pengeringan

Proses Maserasi Perendaman 3x24 jam

Penyaringan

Rotary Evaporator Ekstrak

Kental Freeze Dried Enkapsulasi Pencucian

Sampel 8 Kg

800 gr Etanol 96%

5000 mL

Filtrat

(29)

E. Proses Enkapsulasi Dengan Freeze Dried

Proses enkapsulasi merupakan proses pelapisan senyawa aktif yang terkandung dalam bahan alam. Proses enkapsulasi membutuhkan enkapsulat yang merupakan bahan penyalut. Penelitian yang dilakukan oleh Carbonera dkk., (2023) dalam melakukan enkasulasi, sebagian bubur buah buni dikeringkan dengan metode freeze dried pada suhu pemanas 35°C dan suhu pendingin -30°C selama 31 jam. Sebagian lainnya dicairkan dalam kondisi dingin, kemudian dikeringkan menggunakan oven dari pada suhu 50°C selama 31 jam. Bubur yang telah dikeringkan baik dengan pengeringan beku maupun oven, kemudian digiling dan disaring menggunakan saringan berukuran 20 mesh untuk mendapatkan partikel seragam.

Bagian ketiga dari bubur dikeringkan menggunakan metode pengeringan semprot. Bubur yang telah dicairkan ditambahkan air dengan perbandingan 1:1, dicampur, dan disaring. Campuran ini kemudian dipanaskan pada pelat pemanas listrik selama 15 menit pada suhu 80°C, didinginkan, dan ditambahkan maltodekstrin (25% dari berat total) sebagai agen enkapsulasi. Campuran tersebut dipanaskan kembali selama 10 menit pada suhu 60°C, lalu dimasukkan ke pengering semprot dengan suhu masuk 180°C dan suhu keluar 103°C.

Sisa bubur lainnya diolah menjadi konsentrat. Bubur yang telah dicairkan dicampur dengan air dengan rasio 1:1, dipanaskan pada suhu 50°C dengan pengadukan konstan menggunakan sendok baja tahan karat selama 20 menit, lalu didinginkan dan disaring. Pemanasan dilanjutkan pada suhu 80°C dengan pengadukan hingga nilai °Brix yang disarankan untuk konsentrat buah dan sayuran, yaitu 25-60 tercapai. Nilai °Brix akhir dan pH konsentrat dicatat.

Gambar 2.4 Freeze Dried

(30)

Proses pengeringan memengaruhi profil bioaktif dan sifat antioksidan ampas buni, tergantung pada metode yang digunakan. Dibandingkan dengan pengeringan oven konveksi, pengeringan beku menyebabkan degradasi yang lebih sedikit pada total kandungan fenolik, sementara total antosianin, flavonoid, dan tanin terkondensasi mengalami peningkatan. Hal ini menghasilkan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi pada pengeringan beku. Secara keseluruhan, pengeringan beku dianggap metode yang paling efektif untuk mempertahankan sifat bioaktif ampas buni. Pengeringan beku mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan kandungan fenolik buah. Metode ini menciptakan kristal es kecil di dalam sel, yang kemudian dikeluarkan dengan cepat selama proses pembekuan, sehingga struktur sel tetap terjaga dan senyawa fenolik dapat dipertahankan (Garcìa dkk., 2021).

Sebaliknya, pengeringan semprot dan proses pemekatan pada suhu tinggi cenderung menyebabkan degradasi termal pada beberapa senyawa fenolik dan flavonoid.

Penelitian yang dilakukan oleh Flores dan Caro., (2022) dalam melakukan enkasulasi, ekstrak etanol diencerkan dengan tepat dan sampel bubuk dihidrasi ulang dengan air suling pada rasio 1:5 massa:volume, diaduk selama 60 detik dan disentrifugasi pada 1066×g selama 15 menit. Cairan supernatan digunakan sebagai sampel uji. Persamaan (3) dan (4) digunakan untuk menghitung efisiensi enkapsulasi individual (di mana X = antosianin monomerik atau kandungan fenolik) dan nilai retensi individual (di mana X = antosianin monomerik, kandungan fenolik atau aktivitas antioksidan), masing-masing.

Dimana X = total antosianin monomerik (ppm setara sianidin-3- O-glukosa ), total kandungan fenolik (ppm setara asam galat) atau aktivitas antioksidan (ppm setara asam askorbat)

(31)

Penelitian ini membahas mikroenkapsulasi ekstrak buah buni (Antidesma bunius L. Spreng) menggunakan β-cyclodextrin (β-CD) sebagai metode untuk melindungi senyawa bioaktif seperti antosianin dan fenolik dari degradasi termal dan gastrointestinal. Proses enkapsulasi dilakukan melalui pencampuran ekstrak buah dengan β-CD menggunakan teknik kneading, diikuti oleh pengeringan pada suhu 60°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi enkapsulasi tinggi, dengan retensi senyawa bioaktif mencapai ~45% untuk antosianin, 75% untuk fenolik, dan 96% untuk aktivitas antioksidan. Aktivitas inhibisi enzim α- glukosidase tetap terjaga, menunjukkan potensi produk ini untuk aplikasi kesehatan. Metode ini lebih hemat energi dibandingkan teknik pengeringan semprot, sehingga cocok untuk pemrosesan buah musiman dalam skala kecil.

(32)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah mengenai tanaman buni (Antidesma bunius L. Spreng) yaitu:

1. Potensi Tanaman Buni: Tanaman buni memiliki berbagai manfaat farmakologis, termasuk sebagai antioksidan, antibakteri, antikanker, antidiabetes, dan antiinflamasi.

2. Komposisi Kimia: Senyawa aktif yang terkandung di dalamnya meliputi flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan fenol. Buah buni mengandung nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin C, dan total fenol yang tinggi, yang mendukung aktivitas bioaktifnya. Analisis LC-MS/MS mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif yang belum banyak dilaporkan sebelumnya.

3. Metode Ekstraksi dan Enkapsulasi: Ekstrak tanaman buni diperoleh melalui metode maserasi dengan etanol 96%. Untuk mempertahankan stabilitas senyawa aktif, proses enkapsulasi dilakukan menggunakan teknik freeze- dried, yang lebih efektif dalam menjaga kandungan bioaktif dibanding metode lain.

3.2 Saran

Adapun saran dari makalah mengenai tanaman buni (Antidesma bunius L.

Spreng) yaitu;

1. Pengembangan Lebih Lanjut: Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi profil pelepasan senyawa bioaktif secara in vitro dan in vivo, guna memahami stabilitas dan efisiensi enkapsulasi dalam kondisi yang menyerupai lingkungan fisiologis.

(33)

2. Inovasi Produk: Proses enkapsulasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menciptakan produk berbasis ekstrak buni, seperti suplemen kesehatan atau bahan tambahan makanan fungsional.

3. Skala Komersial: Studi lebih mendalam tentang efisiensi biaya dan optimalisasi proses perlu dilakukan agar teknologi ini dapat diterapkan secara komersial, terutama untuk memberdayakan produsen kecil di wilayah tropis.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Aksornchu, P., Chamnansilpa, N., Adisakwattana, S., Thilavech, T., Choosak, C., Marnpae, M., Mäkynen, K., Dahlan, W., and Ngamukote, S. 2021.

Inhibitory effect of Antidesma bunius fruit extract on carbohydrate digestive enzymes activity and protein glycation in vitro. Antioxidants 10(1): 32.

Al-Etaibi, A. M., & El-Apasery, M. A. (2019). Dyeing performance of disperse dyes on polyester fabrics using eco-friendly carrier and their antioxidant and anticancer activities. International Journal of Environmental Research and

Public Health, 16(23), 4603.

http://dx.doi.org/10.3390/ijerph16234603.PMid:31757022.

Almaidah, M. F. (2018). Uji Aktivitas Anti Inflamasi Ekstrak Etanol Daun Buni.

Skripsi. UIN Alauddin Makassar.

Almey, A., Khan, A.J., Zahir, S., Suleiman, M., Aisyah, M., dan Rahim, K. (2010).

Total Phenolic Content and Primary Antioxidant Activity of Methanolic and Ethanolic Extracts of Aromatic Plants’ Leaves.” International Food Research Journal 17(4), 12- 18

Alvarado, J., Quiming, N., Nicolas, M.G., Verzosa, D.T., and Alvarez, M.R. 2015.

Hypoglycemic activity of ethanolic and aqueous extracts of Antidesma bunius fruits on alloxan-induced hyperglycemic ICR mice. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research 7(12): 265-270.

Alyah, R. (2024). Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Buni (Antidesma Bunius L.) Terhadap Kadar Gula Darah Pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Yang Diinduksi Streptozotocin. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Makassar

Antunes, A. C. N., Acunha, T. dos S., Perin, E. C., Rombaldi, C. V., Galli, V., &

Chaves, F. C. (2019). Untargeted metabolomics of strawberry (Fragaria x ananassa ‘Camarosa’) fruit from plants grown under osmotic stress

(35)

conditions. Journal of the Science of Food and Agriculture, 99(15), 6973- 6980. http://dx.doi.org/10.1002/jsfa.9986.PMid:31414485.

AOAC. (1984). Official method of chemical analysis. AOAC, New York.

Bao, L., Bao, X., Li, P., Wang, X., & Ao, W. (2018). Chemical profiling of Malva verticillata L. by UPLC-Q-TOF-MSE and their antioxidant activity in vitro.

Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis, 150, 420-426.

http://dx.doi.org/10.1016/j.jpba.2017.12.044.PMid:29289893

Benigno, S.J., Oyong, G., Licayan, J.J., and Sumayao, J.R. 2020. Antidesma bunius aqueous crude extract promotes cell death via modulation of redox-sensitive and autophagy associated genes in HCT 116 human-derived colorectal cancer cells. Archives of Biological Sciences 72(3):433-443.

Butkhup, L., and Samappito, S. 2011. Changes in physico-chemical properties, polyphenol compounds and antiradical activity during development and ripening of maoluang (Antidesma bunius L. Spreng) fruits. Journal of Fruit and Ornamental Plant Research, 19(1): 85-99.

Carbonera, A. F. A., Atienza, L. M., Estacio, M. A. C., Duque, S. M. M., Lizardo- Agustin, R. C. M., Flandez, L. E. L., & Castillo-Israel, K. A. T. (2023).

Effects of various processing methods on the dietary fiber and antioxidant properties of Bignay (Antidesma bunius L. Spreng) fruit. Food Chemistry Advances, 3, 100561.

Chaikham, P., Prangthip, P., and Seesuriyachan, P. 2016. Ultra-sonication effects on quality attributes of maoberry (Antidesma bunius L.) juice. Food Science and Technology Research 22(5): 647-654

Crieta, B.R.A., Tuaño, A.P.P., Torio, M.A.O., Villanueva, J.C., Gaban, P.J.V., and CastilloIsrael, K.A.T. 2021. In vitro lipid-lowering properties of the fruits of two bignay [Antidesma bunius (L.) Spreng] cultivars as affected by maturity stage and thermal processing. Food Chemistry: Molecular Sciences 100020: 1-8.

(36)

Deore, A. B., Dhumane, J. R., Wagh, H. V, & Sonawane, R. B. (2019). Asian Journal Of Pharmaceutical Research And Development. Asian Journal Of Pharmaceutical Research And Development, 7(6), 62–67

Dieryckx, C., Gaudin, V., Dupuy, J. W., Bonneu, M., Girard, V., & Job, D. (2015).

Beyond plant defense: insights on the potential of salicylic and methylsalicylic acid to contain growth of the phytopathogen Botrytis cinerea. Frontiers in plant science, 6, 859.

http://dx.doi.org/10.3389/fpls.2015.00859.PMid:26528317

Elya, B., Malik, A., Mahanani, P.I.S., and Loranza, B. 2012. Antidiabetic activity test by inhibition of α-Glucosidase and phytochemical screening from the most active fraction of Buni (Antidesma bunius L.) stem barks and leaves.

International Journal of PharmTech Research 4(4): 1667-1671.

Flores, F. P., & Caro, M. A. D. (2022). Microencapsulated with β- cyclodextrin. Food Res, 6, 283-288.

Funing, M., Masood, T., Dongmei, H., Bin, W., and Yu, G. 2021. Inhibitory activity of fruits extracts of Antidesma bunius on the proliferation and migration of MDA-MB-231 Breast Cancer Cells. Journal of Food and Nutrition Research 9(2): 61–67.

Garcìa, L. M., Ceccanti, C., Negro, C., De Bellis, L., Incrocci, L., Pardossi, A., &

Guidi, L. (2021). Effect of drying methods on phenolic compounds and antioxidant activity of Urtica dioica L. leaves. In Horticulturae, 7.

https://doi.org/10.3390/horticulturae7010010.

Geronimo, A.J.O., Bancual, M.E.J.F., Ko, K.A.L., Soliba, L.M.L., Ildefonso, J.J.C., Soriano, A.M.B., Tagalog, A.C.M.M., Acosta, N.E., Ang, V.S., and Apigo, M.A. 2020. Free radical scavenging and in vitro cytotoxic activity of bugnay (Antidesma bunius) leaves extract against A549 human lung adenocarcinoma and HCT-116 human colorectal cancer cell lines.

Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention 11(3): 124–133.

(37)

Grijaldo, S.J.B., Quiming, N.S., Nicolas, M.G., and Alvarez, M.R.S. 2019. In vivo hypoglycemic activities of male and female Antidesma bunius (L.) Spreng.

in alloxaninduced diabetic mice. Oriental Journal of Chemistry 35(4): 1398.

Gruèzo. (1997). Buah-Buahan yang Dapat Dimakan. Editor: Verheij E, W.

M,Coronel R. E. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 568hal

Hamidu, L., Simanjuntak, P., and Dewi, R.T. (2020). Potensi ekstrak buah buni (Antidesma bunius (L) Spreng) sebagai inhibitor enzim α-glukosidase.

Jurnal Fitofarmaka Indonesia 7(1): 27–30.

Herlinawati, H. 2020. Efektivitas ektrak daun buni (Antidesma bunius L) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Jurnal Kedokteran 6(1): 49-56.

Indrawati, I., & Rizki, A. F. (2017). Potensi Ekstrak Buah Buni (Antidesma bunius L) Sebagai Antibakteri dengan Bakteri Uji Salmonella thypimurium dan Bacillus cereus. Jurnal Biodjati, 2(2), 138-148

Indrawati, I., and Rizki, A.F.M. 2017. Potensi ekstrak buah buni (Antidesma bunius L) sebagai antibakteri dengan bakteri uji Salmonella thypimurium dan Bacillus cereus. Jurnal Biodjati 2(2): 138–148.

Indrawati, I., Rosiana, N., Rizki, A.F.M., and Nada, N. 2020. Antimicrobial potency from endophytic bacteria of bignay plant (Antidesma bunius (L.) Spreng.) against pathogenic bacteria. World News of Natural Sciences 31: 1-8.

Islam, S., Ahmmed, S., Sukorno, F.I., Koly, S.F., Biswas, M, dan Hossain, S. (2018).

A review on phytochemical and pharmacological potentials of Antidesma bunius. Journal of Analytical & Pharmaceutical Research, 7(5):602‒604.

Islam, S., and Koly, S. 2018b. A review on phytochemical and pharmacological potentials of Antidesma bunius. Journal of Analytical & Pharmaceutical Research 7(5), 602–604.

Islam, S., Munira, S., Zaman, S., Koly, F.S., Sukorno, F.I., Ahammed, S., and Hridoy, R.A. 2018a. Estimation of phytochemical, antioxidant screening

(38)

profile and thrombolytic activities of methanolic extract of Antidesma bunius L. leaf. Horticulture International Journal 6: 358–363.

Islary, A., Sarmah, J., and Basumatary, S. 2017. Nutritional value, phytochemicals and antioxidant properties of two wild edible fruits (Eugenia operculata Roxb. and Antidesma bunius L.) from Assam, North-East India.

Mediterranean Journal of Nutrition and Metabolism 10(1): 29–40

Kassem, M. E. S., Hashim, A.N., and Hassanein, H.M. 2013. Bioactivity of Antidesma bunius leaves (Euphorbiaceae) and their major phenolic constituents. European Scientific Journal 9(18): 217-228.

Kassem, M., Hashim, A. dan Hassanein, H.M. (2013). Bioactive of antidesma bunius leaves (Euphorbiaceae) and their major phenolic constituent.

European Scientific Journal

Kautsar, L., Sitorus, P., and Dalimunthe, A. 2019. Anti-inflammatory activity of ethanol and fraction of buni leaves (Antidesma bunius L.) on white rat in carrageenan induced paw inflammation. Asian Journal of Pharmaceutical Research and Development 7(5): 1-5.

Khanbabaee, K., Ree, T.V. Tannins: Classification and Defenition, Nat Prod Rep, 18: 641-649. 2001.

Korkina, L., Kostyuk, V., De Luca, C., & Pastore, S. (2011). Plant Phenylpropanoids as Emerging Anti-Inflammatory Agents. MiniReviews in

Medicinal Chemistry, 11(10), 823-835.

http://dx.doi.org/10.2174/138955711796575489.PMid:21762105.

Krongyut, O., and Sutthanut, K. 2019. Phenolic profile, antioxidant activity, and antiobesogenic bioactivity of mao luang fruits (Antidesma bunius l.).

Molecules 24(22): 4109.

Kumaradewi, D. A. P., Subaidah, W. A., Andayani, Y., & Al-Mokaram, A. (2021).

Phytochemical Screening and Activity Test of Antioxidant Ethanol Extract

(39)

of Buni Leaves (Antidesma bunius L. Spreng) Using DPPH Method. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 7(2), 275-280.

Lembaga Biologi Nasional. 2009. Buah-Buahan. Bogor: LIPI.

Malinauskiene, L., Bruze, M., Ryberg, K., Zimerson, E., & Isaksson, M. (2013).

Contact allergy from disperse dyes in textiles-a review. Contact Dermatitis, 68(2), 65-75. http://dx.doi.org/10.1111/cod.12001. PMid:23289879

Muñoz, M. N. M., Alvarado, U. G., Reyes, J. I. L., & Watanabe, K. (2021). Acute oral toxicity assessment of ethanolic extracts of Antidesma bunius (L.) Spreng fruits in mice. Toxicology Reports, 8, 1289-1299.

National Center for Biotechnology Information. (2020). PubChem. Rockville, Bethesda: NHI. Retrieved from https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov

Nijveldt. R, J., dkk. Flavonoids; a Review of Probable Mechanisms of Action and Potential Applications. American Journal of Clinical and Nutrition Vol 74.

America. 2001.

Orwa, C., Mutua, A., Kindt, R., Jamnadass, R. & Simans, A. (2009). Agroforestry Database: A Tree Reference and Selection Guide Version 4.0.

Patel, N. J., & Prashar, Y. (2020). High-performance thin-layer chromatography analysis of gallic acid and other phytoconstituents of methanolic extracts of Myrica nagi fruit. Phcog Res, 12(2), 95-101.

http://dx.doi.org/10.4103/pr.pr_104_19.

Pongnaratorn, P., Kuacharan, P., Kotsuno, V., Pakdee, N., Sriraj, P., and Sattayasai, J. 2017. In vitro antimicrobial activity of Antidesma bunius extracts on oral pathogenic bacteria. Thai Journal of Pharmaceutical Sciences 41(4): 144- 149.

Quiming, N., Asis, J.L., Nicolas, M., Versoza, D., and Alvarez, M.R. 2016. In vitro αglucosidase inhibition and antioxidant activities of partially purified

(40)

Antidesma bunius fruit and Gynura nepalensis leaf extracts. Journal of Applied Pharmaceutical Science 6(05): 97–101.

Royal Society of Chemistry. (2020). ChemSpider. London: Royal Society of Chemistry. Retrieved from http://www.chemspider.com

Sansena. A. M., K. Oktorida. R., Wahyuni. I. (2018). Ensiklopedia Tanaman Pangan Dan Obat: Berbasis Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati di Masyarakat Adat Baduy Dalam. FKIP Untirta Publishing.

Shariful Islam, M., Sharif Ahammed, M., Islam Sukorno, F., Ferdowsy Koly, S., Morad Biswas, M., & Hossain, S. (2018). A Review On Phytochemical And Pharmacological Potentials Of Antidesma Bunius. Journal Of Analytical &

Pharmaceutical Research, 7(5).

Shyamananda Arambam, S. K. (2017). Biochemical, Nutritional Profiling And Optimization Of An Efficient Nucleic Acid Isolation Protocol From Recalcitrant Tissue Of Wild Edible Fruit Antidesma Bunius L. Spreng.

International Journal Of Current Microbiology And Applied Sciences, Soetan K. O., Oyekunie M.A., Aiyelaagbe O.O and Fafunso M.A. Evaluation of

The Antimicrobial activity of Saponins Extract of Sorghum bicolor Moench.

African Journal of Biotechnology. Vol 5, pp. 2405-2407. 2006.

Sudarmadji, S, B. Haryono. dan Suhardi. (1997). Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Edis keempat. Liberty. Yogyakarta

Suriati Luh, H. A. H. (2022). Minuman Fungsional Aloe - Buni (U. S. M. I (Ed.)).

Scopindo Media Pustaka.

Suryowinoto, S. M. (1997). Flora Eksotika, Tanaman Hias Berbunga. Kanisius.

Tajbin, R., Sonia, Z., Saurav, H., Hossain, S.I., and Rasheduzzaman, J.M. 2021. In vitro antioxidant activity of Antidesma bunius leaf extracts. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry 10(3): 1–6.

(41)

Tanquilut, N.C., Alonzo, N.Q., James, A.E., Rowlands, D.K., Sanchez, G.C., San Jose, R.D., Yesner, E., Tanquilut, M.R.C., and Reyes, B.A.S. 2019.

Hypoglycemic activity of Antidesma bunius (L.) Spreng and Mollugo oppositifolia L. fresh and alcoholic extracts in the db/db diabetic mouse model. Journal of Medicinal Plants Research, 13(17): 396– 400

Tchoumtchoua, J., Mathiron, D., Pontarin, N., Gagneul, D., van Bohemen, A. I., Otogo N’nang, E., Mesnard, F., Petit, E., Fontaine, J. X., Molinié, R., &

Quéro, A. (2019). Phenolic profiling of flax highlights contrasting patterns in winter and spring varieties. Molecules (Basel, Switzerland), 24(23), 1- 14. http://dx.doi.org/10.3390/molecules24234303.PMid:31779076.

Tjitrosoepomo, Gembong. (2010). Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta.

Yogyakarta: EGC.

Trang, D.T., Huyen, L.T., Nhiem, N.X., Quang, T.H., Hang, D.T.T., Yen, P.H., Tai, B.H., Anh, H.L.T., Binh, N.Q., and Van Minh, C. 2016. Tirucallane glycoside from the leaves of Antidesma bunius and inhibitory NO production in BV2 cells and RAW264. 7 macrophages. Natural Product Communications 11(7): 1934578X1601100717.

Udomkasemsab, A., Ngamlerst, C., Adisakwattana, P., Aroonnual, A., Tungtrongchitr, R., and Prangthip, P. 2018. Maoberry (Antidesma bunius) ameliorates oxidative stress and inflammation in cardiac tissues of rats fed a high-fat diet. BMC Complementary and Alternative Medicine 18(1): 1–

11.

Wang, J., Guo, D., Han, D., Pan, X., & Li, J. (2020). A comprehensive insight into the metabolic landscape of fruit pulp, peel, and seed in two longan (Dimocarpus longan Lour.) varieties. International Journal of Food Properties, 23(1), 1527-1539. http://dx.doi.org/10.

1080/10942912.2020.1815767.

(42)

Xiao, Z., & Chen, Y. (2015). Small molecule targeting miR-34a for cancer therapy.

Molecular & Cellular Oncology, 2(1), e977160.

http://dx.doi.org/10.4161/23723556.2014.977160.PMid:27308410

Yasser, M., Rafi, M., Wahyuni, W.T., Asfar, A.M.I.A., and Widiyanti, S.E. 2020b.

Total phenolic content of methanol extract from buni fruits (Antidesma bunius L.) water. Journal of Physics: Conference Series, 1655(1), 12029.

Yelliantty, Y., Kartasasmita, R.E., Surantaatmadja, S.I., and Rukayadi, Y.

2021. Identification of chemical constituents from fruit of Antidesma bunius by GC-MS and HPLC-DADESI-MS. Food Science and Technology: 1-10.

Yasser, M., Rafi, M., Wahyuni, W.T., Widiyanti, S.E., and Asfar, A. 2020a. Total phenolic content and antioxidant activities of buni fruit (Antidesma bunius L.) in moncongloe maros district extracted using ultrasound-assisted extraction. Rasayan Journal of Chemistry 13(1): 684–689.

Yelliantty, Y., Kartasasmita, R. E., Surantaatmadja, S. I., & Rukayadi, Y. (2021).

Identification of chemical constituents from fruit of Antidesma bunius by GC-MS and HPLC-DAD-ESI-MS. Food Science and Technology, 42, e61320.

Gambar

Gambar 2.1 Tanaman Buni
Tabel 2.2 Perbandingan Fitokimia Antidesma bunius L. Spreng
Tabel  2.3  menyajikan  daftar  109  senyawa  yang  terdeteksi  melalui  HPLC-DAD- HPLC-DAD-ESI-MS  beserta  waktu  retensinya  (tR)
Tabel 2.3 Analisa LC/MS-MS Antidesma bunius L. Spreng
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun buni (Antidesma bunius L. Spreng), Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sensitif dan

memberikan petunjuk dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI NONPOLAR, SEMIPOLAR, DAN POLAR EKSTRAK ETANOL DAUN BUNI

Analisis kualitatif merupakan suatu cara yang bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terdapat di dalam fraksi nonpolar, semipolar, dan polar ekstrak etanol daun buni menggunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah buni yang berasal dari daerah sekitar Bogor dengan tiga tingkat kematangan berdasarkan perbedaan warna yaitu,

Hasil karakterisasi simplisia daun buni (Antidesma bunius (L.) Spreng) meliputi penetapan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penambahan maltodekstrin (15, 20, 25, 30, 35 gram) yang optimum terhadap minuman serbuk instan buah buni yang dihasilkan sesuai

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa komponen kimia yang terdapat pada ekstrak etanolik buah buni (Antidesma bunius (L.) Spreng)

Kromatogram Lapisan Tipis Ekstrak Pekat Kloroform daun tumbuhan Buni (A.bunius (L) Spreng.) sebelum Kromatografi Kolom.