MEMBUMIKAN ISLAM DI INDONESIA
MATA KULIAH AGAMA ISLAM
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
1
Rumusan Masalah2
MasalahTujuan3 Check
it out! 4
Islam hadir di Nusantara ini sebagai agama baru dan pendatang. Dikarenakan kehadirannya lebih belakang dibandingkan dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Dinamakan agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri. Terlepas dari subtansi ajaran Islam, Islam bukan merupakan agama asli bagi bangsa Indonesia, melainkan agama yang baru datang dari Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Indonesia.
Perkembangan Islam di Nusantara ini merasakan berbagai pengalaman, disebabkan adanya keberagaman budaya dan tradisi pada setiap pulau tersebut. Bahkan dalam satu pulau saja bisa melahirkan berbagai budaya dan tradisi.
Maka jalan yang terbaik adalah melakukan seleksi terhadap budaya maupun tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam untuk diadaptasi sehingga mengekpresikan Islam yang khas. Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Di sisi lain, Islam yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, mau tidak mau, harus beradaptasi dengan nilai-nilai budaya local (kearifan lokal). Sebagai substansi, Islam merupakan nilai-nilai universal yang dapat berinteraksi dengan nilai-nilai lokal (local wisdom) untuk menghasilkan suatu norma dan budaya tertentu. Islam sebagai ramatan lil amin terletak pada nilai-nilai dan prinsip prinsip
kemanusiaan universal yang dibangun atas dasar kosmologi tauhid. Nilai-nilai tersebut selanjutnya dimanifestasikan dalam sejarah umat manusia melalui lokalitas ekspresi penganutnya masing-masing.
Latar Belakang
Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam presentasi ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana transformasi wahyu dan implikasinya terhadap corak
keberagaman ?
2. Bagaimana alasan perbedaan ekspresi dan praktik keberagaman ?
3. Bagaimana mendeskripsikan dan mengkomunikasikan pribumisasi islam sebagai upaya membumikan islam di Indonesia ?
Rumusan Masalah & Tujuan
PEMBAHASAN
Transformasi Wahyu dan Implikasinya Terhadap Corak
Keberagaman
1
Alasan PerbedaanEkspresi dan Praktik Keberagaman
2
Mendeskripsikan dan Mengkomunikasikan Pribumisasi Islam Sebagai
Upaya Membumikan Islam di Indonesia.
3
Dalam ajaran islam, wahyu Allah selain berbentuk tanda – tanda ( ayat) yang nirbahasa, juga bermanifestasi dalalam bentuk tanda- tanda (ayat ) yang
difirmankan.Untuk memudahkan pemahaman, kita bedakan antara istilah wahyu ( dengan “w” kecil) dan Wahyu (dengan “W” besar). Wahyu dengan w kecil
menyaran pada tanda- tanda intruksi arahan, nasihat, pelajaran, dan ketuhan Tuhan yang nirbahasa, dan mewujud dalam alam semesta dan isinya, termasuk dinamika social budaya yang terjadi didalamnya.
Transformasi Wahyu dan Implikasinya Terhadap Corak Keberagaman
Ayat-ayat yang terdapat di alam semesta dengan berbagai dinamika di dalamnya dibaca dan dimaknai secara komprehensif oleh beberapa orang pilihan yang disebut dengan nabi rasul. Para nabi dan rasul merupakan orang-orang pilihan karena mereka telah dikaruniai bakat kecerdasan paripurna sehingga dapat men-“download” ayat-ayat Tuhan yang di-upload di alam ini dan mem-breackdown-nya menjadi sebuah pelajaran, nasihat, ketentuan, instruksi, dan informasi dari Tuhan yang berbentuk bahasa. Ketika masih dalam bentuknya yang asli berupa alam yang terbentang, wahyu belum
diidentifikasi sebagai shuhuf al-Ula (kitab Ibrahim), Taurat (kitab Musa), Zabur (kitab Dawud), Injil (kitab lsa), atau Al-Quran(Nabi Muhammad SAW).
Terdapat dua hal yang secara dominan mempengaruhi dinamika dan struktur social masyarakat yaitu agam dan budaya lokal. Dalam masyarakat Indonesia, dua hal tersabut memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan perilaku sosial yang kemudian sering disebut sebagai 'jati diri" orang Indonesia. Karakter tersebut mewamai hampir semua aspek sosial masyarakat Indonesia baik secara politik. ekonomi maupun sosial budaya.
Alasan Perbedaan Ekspresi dan Praktik Keberagaman
Agama diyakini memiliki nilai-nilai transenden sehingga sering dipahami sabagai suatu dogma yang kaku. Namun, nilai-nilai budaya relatif dipandang lebih fleksibel sesuai kesepakatan-kesepakatan komunitas untuk dyadikan sebagai standar normatif.
Model akulturasi budaya lokal dengan Islam ini sering dianggap sebagai penyebab
munculnya karakter Islam abangan di kalangan masyarakat Jawa. Sebagian orang bahkan menilai bahwa para Wali Songo sebagai ikon dai-dai awal Islam di Indonesia dianggap belum berhasil sepenuhnya untuk mengislamkan Jawa.
Bukti kendornya peran umat Islam Indonesia dalam pembangunan negara, terpampang jelas di berbagai sektor kehidupan. Tiliklah misalnya pada sektor pendidikan, ekonomi, hingga sosial-budaya. Bangsa Indonesia masih terkesan
mengekor pada perkembangan bangsa lain, kalau tidak mau disebut tertinggal. Jelas, ini adalah deviasi dari kenyataan sejarah, sebab umat Islam pernah berjaya dan
menjadi pionir dalam memajukan peradaban di masa lalu.
Mendeskripsikan dan Mengkomunikasikan Pribumisasi Islam Sebagai Upaya Membumikan Islam di Indonesia
Terpuruknya bangsa Indonesia, tak pelak, turut merusak citra Islam sebagai
agama mayoritas di negeri ini. Sulit disangkal, bahwa modal keislaman rupanya masih sekadar simbolisasi, tanpa benar-benar menyentuh dan menyelesaikan masalah dalam realistas kehidupan masyarakat. Yang terjadi, warga muslim nusantara sedikit demi sedikit, mulai kehilangan roh keislamannya dalam konteks kehidupan bernegara.
Dalam Islam, pengertian ibadah tidak hanya dalam bentuk lahiriah, tetapi mencakup semua aktivitas kehidupan
manusia yang memuat motovasi untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.[8] Ini berarti bahwa perilaku manusia, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam serta bertujuan untuk mendapat rida Allah SWT, terhitung sebagai ibadah. Akhirnya, peningkatan peran umat Islam Indonesia dalam pembangunan negara, mempersyarakat pola pikir yang monolitik, yang menganggap bakti kepada negara juga merupakan perintah keislaman. Umat Islam harus
mendudukkan negara sebagai lading untuk mengais rida Allah SWT untuk bekal di hari kemudian, bukan malah
menghindar dari kenyataan duniawi tersebut. Menyandingkan nilai-nilai keislaman dengan rasa cinta terhadap tanah air, sudah merupakan keharusan bagi seorang muslim. Negara yang madani, akan berdampak positif dalam penunaian ibadah kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya, begitupun sebaliknya.
PENUTUP
KESIMPULAN
Agenda utama yang harus dilakukan dalam mewujudkan kejayaan umat Islam Indonesia adalah mengubah
paradigma anak bangsa dalam memandang hubungan Islam, nasionalisme, dan modernitas. Agenda pencerahan tersebut meliputi: Pertama, memahamkan bahwa
perdebatan soal dasar bernegara berupa Pancasila dan UUD Tahun 1945, telah usai. Melalui jalan musyawarah, para pendahulu bangsa telah mendudukkan Indonesia sebagai negara berketuhanan, tanpa ada sebuah agama negara; Kedua, memahamkan bahwa cinta tanah air sejalan dengan nilai-nilai Islam; Ketiga, memahamkan bahwa Islam merupakan agama yang modern, dalam artian nilai-nilainya dapat menjadi pedoman hidup sepanjang waktu, seiring dengan perkembangan zaman; Keempat, memahamkan bahwa dengan spirit Islam dan nasionalisme, muslim di Indoneisa, harus proaktif dalam membangun bangsa dan negara.