• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tax Amnesty

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tax Amnesty "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

186 Astria Hubu, Neng Indriyani & Astuty Hasti

PENGARUH KEBIJAKAN TAX AMNESTY TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KPP PRATAMA MAKASSAR BARAT

Astria Hubu1, Neng Indriyani2, Astuty Hasti3 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

ABSTRACT

The aim of the research is to find out the effect of tax amnesty implementation to obedience level of personal taxpayer. The research was quantitative. The research carried out at Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat. The technique of collecting data was by collecting the primary and secondary data with two variables, the tax amnesty as the independent variable while the personal taxpayer obedience level as the dependent variable. The secondary data collected from Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat and the primary data gathered from the questionnaire distribution to 97 personal taxpayers. The technique of data analysis used in this research was simple linear regression analysis which processes by using SPSS version 23.0. This research also use validity test, reliability test, classic-assumption test, and hypothesis testing T-test.

The T-test result showed that tax amnesty influence to the personal taxpayer obedience level. The coefficient determination (R2) was 51% and the rest 49% influences by other factors which not tested in this research.

Keywords: Tax amnesty, Personal taxpayer obedience level, and Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat.

PENDAHULUAN

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara hukum yang berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban warga negara. Salah satu kewajiban warga negara ialah membayar pajak seperti yang terdapat dalam Undang – Undang 1945 Pasal 23A yang berbunyi: “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara di atur dengan Undang – Undang”.

Jika di pandang dari sisi ekonomi, pajak merupakan primadona pendapatan Negara yang paling potensial. Pendapatan Negara dari sektor pajak merupakan salah satu sumber dana yang berperan penting bagi kesinambungan gerak roda pembangunan Negara yang antara lain terwujud dengan tersedianya sarana dan prasarana pelayanan umum yang dapat di nikmati oleh seluruh warga Negara Indonesia berupa fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas keamanan, jalan, jembatan, pelabuhan, air, listrik, dan berbagai fasilitas lainnya yang diperuntukkan untuk kepentingan umum dan di tujukan untuk kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah melakukan kebijakan self assesment yang dimana wajib pajak diberi

kebebasan untuk menghitung, melaporkan kemudian membayarkan kewajiban pajaknya sendiri. Selain itu, kemudahan dalam mendapatkan informasi perpajakan yang dapat ditemukan melalui media sosial, penghapusan pajak sementara, dan menerapkan pengampunan pajak. Program pengampunan pajak bukan hal yang pertama dilakukan oleh pemerintah, sebelumnya pada tahun 1964 dan 1984 program yang sama telah di laksanakan namun keduanya diniliai mengalami kegagalan.

Kegagalan dalam program tersebut dinilai karena dalam pelaksanaannya tidak dilakukan secara efektif, respon pajak yang sangat kurang, dan tidak di ikuti dengan reformasi sistem administrasi perpajakan secara menyeluruh (Fatmala & Ardini, 2017).

Kemudian pada tahun 2008 kembali di laksanakan kebijakan pengampunan pajak yang dikenal dengan istilah sunset policy, yang kemudian pada tahun 2016 kembali di terapkan pengampunan pajak yang di kenal dengan istilah tax amnesty.

Pendapatan merupakan peningkatan aset yang berasal dari aktivitas normal (Indriyani, 2015). Pendapatan Negara yang cenderung mengalami peningkatan, tidak diimbangi dengan

(2)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 186-193 187 persentase tax ratio. Tax ratio Indonesia masih

sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya. Tax ratio adalah alat ukur kemampuan pemerintah dalam mengumpulkan pajak dari masyarakat, semakin tinggi persentase tax ratio, maka semakin tinggi pula kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak (Suyanto et al, 2016).

Berdasarkan latar belakang yang di uraikan tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah Tax Amnesty berdampak terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Makassar Barat ?

Berdasarkan rumusan masalah yang di uraikan tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak Tax Amnesty terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Makassar Barat.

TINJAUAN LITERATUR

Teori atribusi pertama kali diperkenalkan oleh Fritz Heider (1958). Menurut Heider,

“setiap individu pada dasarnya adalah seseorang ilmuwan semu (pseudo scientist) yang berusaha untuk mengerti dengan tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan–potongan informasi sampai tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab–

sebab orang lain bertingkah laku tertentu”.

Undang-Undang No. 11 Tahun 2016 dalam aturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 118/PMK.03/2016 tentang pengampunan pajak pasal 1 mengatakan pengampunan pajak ialah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak di kenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara melaporkan harta kemudian membayar uang tebusan sebagai mana yang di atur dalam undang-undang pengampunan pajak.

Sanksi perpajakan jika wajib pajak tidak melaporkan harta secara menyeluruh melalui program tax amnesty. Seperti yang dikutip dalam Undang-Undang Tax Amnesty Pasal 18 yaitu:

Ayat 1: Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan kemudian ditemukan adanya data dan/atau informasi mengenai Harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam Surat Pernyataan, atas Harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta dimaksud.

Ayat 2:

a. Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pernyataan sampai dengan periode Pengampunan

Pajak berakhir; dan

b. Direktur Jenderal Pajak menemukan data dan/atau informasi mengenai Harta Wajib Pajak yang diperoleh sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan 31 Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, atas Harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta dimaksud, paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini mulai berlaku.

Ayat 3: Atas tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan sanksi administrasi perpajakan berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar.

Ayat 4: Atas tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Dalam hal ini pemahaman peraturan perpajakan Tax Amnesty ialah pemahaman akan ketentuan perundang-undangan perpajakan Tax Amnesty.

Dikutip dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2016, yang merupakan subjek pengampunan ialah Orang Pribadi atau Badan Usaha yang mempunyai kewajiban penyampaian SPT Tahunan PPh dapat mengikuti amnesti pajak. Sedangkan yang dikecualikan dari subjek pajak ialah wajib pajak yang sedang dilakukan proses penyelidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan lengkap oleh kejaksaan, dalam proses peradilan atau menjalani hukuman pidana atas Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. Objek pengampunan pajak adalah harta yang dimiliki oleh subjek tax amnesty yang meliputi pengampunan atas kewajiban perpajakannya sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir, yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh wajib pajak yang terdiri dari Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Fasilitas yang didapatkan jika Wajib Pajak mengikuti program Tax Amnesty ialah:

1. Penghapusan pajak yang seharusnya terutang.

(3)

188 Astria Hubu, Neng Indriyani & Astuty Hasti 2. Adanya pembebasan dari sanksi administrasi dan sanksi pidana perpajakan.

3. Apabila Wajib Pajak sedang dalam proses pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan maupun penyidikan, maka proses-proses tersebut akan dihentikan.

4. Pemerintah juga memberikan jaminan kerahasiaan terutama terkait data pengampunan pajak tidak dapat dijadikan dasar penyelidikan dan penyidikan tindak pidana apapun.

5. Pembebasan Pajak Penghasilan untuk balik nama harta tambahan”.

kesadaran Wajib Pajak adalah suatu kondisi dimana Wajib Pajak mengetahui, mengakui, menghargai, dan menaati, ketentuan pepajakan yang berlaku serta memilki kesungguhan dan keinginan untuk memenuhi kewajiban pajaknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepatuhan memiliki arti bahwa adanya suatu perasaan dan tindakan untuk mematuhi, tunduk, dan menjalankan suatu ajaran atau peraturan yang ada. Kepatuhan adalah motivasi seseorang, atau organisasi untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Hasil penelitian Ngadiman dan Huslin (2015) meneliti tentang pengaruh sunset policy, tax amnesty, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Jakarta Kembangan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tax amnesty dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Sedangkan sunset policy berpengaruh negatif dan tidak signifikan.

Hasil penelitian Wirawan dan Noviari (2017) meneliti tentang pengaruh kebijakan tax amnesty dan sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Denpasar Timur. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa tax amnesty dan sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak orang pribadi.

Suatu persamaan terhadap penelitian relevan dengan penelitian ini ialah sama-sama bertujuan untuk mengetahui dampak atas pelaksanaan tax amnesty terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan letak perbedaan yaitu Ngadiman dan Huslin (2015) menggunakan variabel sunset policy dan sanksi sebagai variabel independen dan Wirawan dan Noviari (2017), menggunakan variabel sanksi sebagai variabel independen.

Rumusan hipotesis

H1 : Tax Amnesty berdampak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Gambar 1 Model Penelitian

Sumber: Astria Hubu (2019) METODE PENELITIAN

Metode yang di gunakan terhadap penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif yang dalam pengambilan data dilakukan secara statistik sehingga dapat dilakukan perhitungan yang disajikan dalam bentuk grafik, diagram, tabel, dan pengujian hipotesis .

Penelitian ini dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat yang terletak di jalan Balaikota No. 15, Baru, Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, 90111. Waktu penelitian berkisar 2 (dua) bulan, yakni dimulai pada bulan Mei 2019 sampai Juli 2019.

1. Jenis Data

Data yang digunakan didalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka (Hasti,2018). Data kuantitatif merupakan hasil jawaban dari pertanyaan kuesioner yang telah dikuantitatifkan dan dianalisis menggunakan alat bantu statistik berupa program SPSS Versi 23.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini ada dua, yaitu data primer ialah hasil dari pengisian kuesioner oleh responden seputar variabel dalam penelitian dan data sekunder ialah jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat.

1. Populasi dalam penelitian ini ialah wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat dan mengikuti program tax amnesty sebanyak 3.753 Wajib Pajak.

2. Sampel dalam penelitian ini merupakan sejumlah responden yang sudah ditentukan dengan melihat dari jumlah populasi. Pendekatan statistik yang digunakan untuk menentukan banyaknya ukuran sampel menggunakan rumus Slovin.

Tax Amnesty

(X)

Kepatuhan

Wajib

Pajak

(Y)

(4)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 186-193 189 Dimana.

n = ukuran sampel minimal N = ukuran populasi

e = toleransi kesalahan (sampling error) 1 = angka konstan

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket (kuesioner) yang diadaptasi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh “Makmur (2018) dan Yulianti (2015)”.

Teknik angket (kuesioner) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

kemudian responden memberikan jawaban, kemudian jawaban yang telah diisi kembali dan menjadi sampel dalam penelitian ini.

Ada 2 variabel yang digunakan dalam penelitian ini yakni variabel independen (X) dan dependen (Y).

1. Variabel independen dalam penelitian ini ialah tax amnesty dengan simbol (X) yang diindikatori oleh pemahaman peraturan perpajakan dan kesadaran wajib pajak.

2. Variabel dependen dalam penelitian ini ialah kepatuhan Wajib Pajak dengan simbol (Y).

HASIL DAN PEMBAHASAN STATISTIK DESKRIPTIF

Tabel 1

Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics

N

Min imu m

Maxi mum

Mea n

Std.

Deviatio n Kepatuhan

Wajib Pajak (Y)

97 15.0 0

25.0 0

21.2

887 2.29110 Tax

Amnesty (X)

97 25.0 0

45.0 0

37.4

433 4.23027 Valid N

(listwise) 97

Sumber: Data Primer, olahan SPSS 23 (2019) Dari tabel 1 tersebut, berdasarkan dengan jawaban dari 97 responden maka hasil dari pengukuran variabel Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Nilai rata-rata variabel Kepatuhan Wajib Pajak sebesar 21,28 dengan nilai minimum 15,00 dan nilai maksimum 25,00 Nilai rata-rata sebesar

21,28 lebih cenderung pada nilai maksimum 25,00 yang menunjukkan wajib pajak telah memenuhi kewajiban perpajakannya.

Tax Amnesty (X) Nilai rata-rata sebesar 37,44 dengan nilai minimum 25,00 dan nilai maksimum 45,00 Nilai rata-rata sebesar 37,44 lebih cenderung pada nilai maksimum 45,00 yang berarti bahwa wajib pajak sadar akan Tax Amnesty.

UJI VALIDITAS Tabel 2. Hasil Uji Validitas

Tabel 2.1

Uji Validitas Variabel Tax Amnesty (X) Pernyataan

R Hitun

g

R Tabel

Keteran gan Tax Amnesty (a1) 0,748 0,199 Valid Tax Amnesty (a2) 0,814 0,199 Valid Tax Amnesty (a3) 0,730 0,199 Valid Tax Amnesty (a4) 0,592 0,199 Valid Tax Amnesty (a5) 0,690 0,199 Valid Tax Amnesty(b1) 0,762 0,199 Valid Tax Amnesty(b2) 0,684 0,199 Valid Tax Amnesty(b3) 0,764 0,199 Valid Tax Amnesty(b4) 0,629 0,199 Valid Sumber : Data Primer, diolah sendiri (2019)

Tabel 2.2

Uji Validitas Variabel Kepatuhan Wajib Pajak (Y)

Pernyataan

R Hitun

g

R Tabel

Keteran gan Kepatuhan WP (1) 0,765 0,199 Valid Kepatuhan WP (2) 0,779 0,199 Valid Kepatuhan WP (3) 0,817 0,199 Valid Kepatuhan WP (4) 0,781 0,199 Valid Kepatuhan WP (5) 0,791 0,199 Valid Sumber : Data Primer, diolah sendiri (2019)

Berdasarkan hasil uji validitas Tax Amnesty dibagi menjadi dua bagian kuesioner yaitu kesadaran wajib pajak atas Tax Amnesty dan pemahaman peraturan perpajakan Tax Amnesty (X), nilai corrected item-total correlation untuk masing-masing pernyataan a.

kesadaran wajib pajak atas Tax Amnesty yaitu (Xa_1) 0,748; (Xa_2) 0,814; (Xa_3) 0,730; (Xa_4) 0,592; dan (Xa_5) 0,690 lebih besar dari r tabel

(0,199). Hal ini berarti bahwa kelima item pernyataan untuk kesadaran wajib pajak atas Tax Amnesty dikatakan valid.

Sedangkan b. pemahaman peraturan perpajakan Tax Amnesty yaitu (Xb_1) 0,762;

(5)

190 Astria Hubu, Neng Indriyani & Astuty Hasti (Xb_2) 0,684; (Xb_3) 0,764; dan (Xb_4) 0,629 lebih besar dari r tabel (0,199). Hal ini berarti bahwa keempat item pernyataan untuk pemahaman peraturan perpajakan Tax Amnesty dikatakan valid.

UJI RELIABILITAS Tabel 3. Hasil Uji Reliabiltas

Tabel 3.1

Reliabilitas Variabel Tax Amnesty (X) Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.874 9

Sumber : Data Primer, olahan SPSS (2019) Tabel 3.2

Reliabilitas Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.831 5

Sumber : Data Primer, olahan SPSS (2019) Nilai Cronbach’s Alpha Tax Amnesty (X) sebesar 0,874; dan nilai Cronbach’s Alpha untuk kepatuhan Wajib Pajak (Y) sebesar 0,831. Hasil uji reliabilitas pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Cronbach’s Alpha untuk seluruh variabel berada di atas angka 0,60. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dapat dikatakan reliabel.

UJI ASUMSI KLASIK 1. UJI NORMALITAS DATA

Gambar 2

Grafik Normal Probability Plot (P- Plot)

Berdasarkan Gambar 2 tersebut, terlihat bahwa penyebaran data (titik-titik) berada di sekitar garis diagonal dan mengikuti kearah garis diagonal, sehingga disimpulkan bahwa model regresi dapat memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 3

Grafik Histogram Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan Gambar 3 Hasil uji normalitas tersebut terlihat bahwa grafik histogram yang terdistribusi mengikuti kurva berbentuk lonceng yang tidak menceng (skweness) ke kanan maupun menceng ke kiri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

2. UJI HETEROSKEDASTISITAS Gambar 4

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari grafik gambar 4 secara subjektif, terlihat bahwa sebaran error yang terjadi menyebar dan berada di sekitar nol, sehingga disimpulkan bahwa dalam uji ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

UJI HIPOTESIS 1. Analisis Regresi Linier Sederhana lahan SPSS (2019)

Y = α + βX + ɛ Y = 6,804 + 0,387 + 1,465

Berdasarakan persamaan analisis linear di atas, maka dapat diartikan bahwa.

1. Nilai konstanta dari persamaan regresi ini sebesar 6,804; artinya jika Tax Amnesty (X) nilainya adalah 0, maka kepatuhan Wajib Pajak (Y) nilainya adalah 6,804.

(6)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 186-193 191 2. Nilai dari koefisien regresi Tax Amnesty (X)

sebesar 0,387, yang berarti apabila variabel independen lain nilainya tetap dan Tax Amnesty mengalami kenaikan 1%, maka kepatuhan Wajib Pajak (Y) juga akan mengalami kenaikan sebesar 0,387 Koefisien bernilai positif yang berarti terjadi hubungan antara Tax Amnesty dengan kepatuhan Wajib Pajak, semakin tinggi nilai Tax Amnesty maka semakin meningkat kepatuhan Wajib Pajak.

2. Uji Koefisien Determinasi (R2) Tabel 4

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Berdasarkan tabel 4 dihasilkan nilai R2 (R Square) sebesar 0,510 atau 51%. Hal ini berarti bahwa presentase sumbangan pengaruh variabel independen (Tax Amnesty) terhadap variabel dependen (kepatuhan Wajib Pajak) yakni sebesar 51%. Atau variabel independen mampu menjelaskan sebesar 51% variabel dependen, sedangkan sisanya yaitu sebesar 49%

dapat dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel- variabel lainnya yang tidak dimasukkan kedalam penelitian ini.

3. Uji Statistik Parsial (t) Tabel 5

Hasil Uji Uji Statistik t (Uji Parsial) Coefficientsa

Model

Unstandardize d Coefficients

Stand ardize d Coeffi

cients T

Sig . B

Std.

Error Beta 1 (Consta

nt) 6.804 1.465 4.64 3

.00 0 Tax

Amnest y

.387 .039 .714 9.94 8

.00 0 a. Dependent Variable: Kepatuhan Wajib Pajak

Sumber : Data Primer, olahan SPSS (2019) Hasil olah statistik untuk Tax Amnesty (X) dihasilkan nilai thitung sebesar 9,948 yang lebih besar dari nilai ttabel yakni sebesar 1,661 (9.948t

hitung > 1,661 t tabel) dengan nilai tingkat signifikansi 0,000. Karena menggunakan batas signifikansi 0,05; nilai signifikansi tersebut lebih kecil atau sama dengan taraf 5% yang berarti H1

dapat diterima atau dapat dikatakan bahwa Tax Amnesty (X) mempunyai pengaruh terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.

Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji statistik t atau uji parsial maka dapat disimpulkan bahwa H1 dapat diterima.

Hasil dari hipotesis ini menyatakan bahwa Tax Amnesty berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Hasil pada pengujian statistik menghasilkan nilai koefisien regresi variabel Tax Amnesty sebesar 9,948 dengan tingkat nilai signifikansi sebesar 0,000; yang berarti hipotesis diterima sebab tingkat signifikansi yang dimiliki oleh variabel Tax Amnesty lebih kecil atau sama dengan 0,05.

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Makmur (2018) yang pada hasil penelitiannya menyatakan bahwa adanya pengaruh positif Tax Amnesty terhadap kepatuhan wajib pajak. Dan juga sejalan dengan hasil penelitian Wirawan dan Noviari (2017) yang menyatakan bahwa Tax Amnesty berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan adanya dampak Tax Amnesty terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat. Dimana Tax Amnesty berdampak terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak, hal tersebut terlihat dari hasil pengujian statistik yang menunjukkan nilai probabilitas (sig) 0,000 lebih kecil jika dibandingkan terhadap tingkat signifikansi yang di tetapkan yakni sebesar 0,05.

Hal itu menandakan bahwa kebijakan Tax Amnesty yang dikeluarkan oleh pemerintah akan membantu untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman wajib pajak dalam hal ini wajib pajak akan patuh dalam memenuhi kewajiban pajaknya.

Penelitian ini dapat dijadikan evaluasi atas hasil pelaksanaan Tax Amnesty. Berikut beberapa saran yang diberikan penulis dalam penelitian ini agar kebijakan Tax Amnesty selanjutnya dapat terlaksana dengan baik yaitu.

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std.

Error of the Estimate 1 .714a .510 .505 1.61187 Sumber: Data Primer, Olahan SPSS (2019)

(7)

192 Astria Hubu, Neng Indriyani & Astuty Hasti 1. Pengampunan pajak harus didukung oleh

prosedur yang jelas dan mengikat bagi semua wajib pajak yang mengajukan pengampunan serta peningkatan audit dan pengenaan sanksi yang berat bagi wajib pajak yang tidak mengajukan.

2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat diharapkan dapat lebih meningkatkan penyuluhan dan pembinaan terhadap seluruh wajib pajak agar membayarkan pajaknya dengan benar dan tepat waktu demi tercapainya target penerimaan pajak tahun berikutnya.

3. Penelitian selanjutnya di sarankan agar mengidentifikasi beberapa variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Selain itu, dapat memperluas sampel penelitian agar hasil yang didapat bisa berlaku secara Umum.

DAFTAR PUSTAKA

Amanda., K. (2017). Diakses pada tanggal 28 Mei 2019 melalui website https://www.dictio.id/t/apa-yang-

dimaksud-dengan-teori-atribusi- attribution-theory/8171/3

Fatmala., N.D., & Ardini L. (2017). Persepsi Wajib Pajak Pada Program Tax Amnesty Untuk Meningkatkan Penerimaan Pajak.

Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi. Vol.6, No. 8. Surabaya: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya. Diakses pada tanggal 6 April 2019 melalui website https://scholar.google.co.id/scholar?q=rela ted:KlR2BgQIEisJ:scholar.google.com/&s cioq=PERSEPSI+WAJIB+PAJAK+PAD A+PROGRAM+TAX+AMNESTY+UNT UK+MENINGKATKAN+PENERIMAA N+PAJAK&hl=en&as_sdt=0,5

Ghozali, I. (2011). Aplikasi Analisisi Multivariate dengan Program IBM SPSS 23. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hasanah., N.U. (2017). Pengaruh Pengetahuan Wajib Pajak, Kesadaran Wajib Pajak dan Kualitas Pelayanan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Kasus di KPP Pratama Tanjung Redep). Skripsi Tidak Dipublikasikan.

Makassar: Universitas Hasanuddin.

Hasti, A., & Artiska, C.L.M.C. (2018). Evaluasi Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Pada

PT. Sekawan Mujur Sejahtera Makassar.

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi. Makassar:STIE YPUP.

Diakses pada tanggal 16 September 2019 melalui website http://ojs.stkip- ypup.ac.id/index.php/equity/issue/view/9/

AstutyHasti%20CClaudiaLaMaretaCosari Ariska

Indriyani., N. (2015). Penerapan Anggaran Sebagai Alat Bantu Manajemen Pada PT.Pos Indonesia Kantor Area X Makassar. Diakses pada tanggal 18 September 2019 melalui website https://e- jurnal.stienobel-

indonesia.ac.id/index.php/akmen/article/vi ew/483/479

Makmur., D.I. (2018). Analisis Dampak Tax Amnesty Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Di KPP Pratama Makassar Utara. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Ngadiman., & Huslin., Daniel. (2015). Pengaruh Sunset Policy, Tax Amnesty, dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Studi Empiris di KPP Pratama Jakarta Kembangan. Jurnal Akuntansi. Vol.XIX, No. 2. Jakarta: Universitas Tarumanagara.

Diakses pada tanggal 13 April 2019

melalui website

https://media.neliti.com/media/publication s/75638-ID-pengaruh-sunset-policy-tax- amnesty-dan-s.pdf

Pohan., C.A. (2017). Perpajakan Indonesia Teori dan Kasus. Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Suharno . (2016) Panduan Praktis Amnesty Pajak Indonesia. Jakarta: Kompas.

Suyanto., Intansari, P.P.L.A., & Endahjati, S.

(2016). Tax Amnesty. Jurnal Akuntansi.

Vol.4, No. 2. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Diakses pada tanggal 16 April 2019

melalui website

http://jurnalfe.ustjogja.ac.id/index.php/aku ntansi/article/view/256/260

Wirawan, I.B.N.A.P., & Noviari., N. (2017).

Pengaruh Penerapan Kebijakan Tax Amnesty dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. E-Jurnal Akuntansi. Vol.21.3.

Bali: Universitas Udayana. Diakses pada tanggal 13 April 2019 melalui website https://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/

article/view/31444

(8)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 186-193 193 Yulianty., Eka. (2015). Pengaruh Pemahaman

Peraturan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Formal Wajib Pajak Dengan Preferensi Resiko Sebagai Variabel Moderating Studi Kasus pada WPOP KPP Pratama Makassar Utara. Skripsi.

Makassar: Universitas Hasanuddin.

Yulianti., R. (2015). Pengaruh Sosialisasi Perpajakan Terhadap Ketaatan Wajib Pajak Membayar Pajak Di Kota Banda Aceh”. Jurnal Ekonomi Manajemen dan Akuntansi. Vol.1, No. 1. Banda Aceh:

Universitas Serambi Mekkah. Diakses pada tanggal 25 April 2019 melalui website

http://www.ojs.serambimekkah.ac.id/index .php/jemsi/article/view/192

Yulianto., H. (2019). Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah. Makassar: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Pendidikan Ujung Pandang.

Forum Pajak (2016). Diakses pada tanggal 24 April 2019 melalui website https://forumpajak.org/fasilitas-

pengampunan-pajak-tax-amnesty/

Referensi

Dokumen terkait

Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah para responden yang memberikan data

Sumber data dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder, data primer merupakan data dan informasi yang diperoleh langsung dari sumbernya melalui

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber asli, sedangkan data sekunder merupakan data

Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif. Data tersebut diperoleh dari sumber primer dan sumber sekunder. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dari hasil

Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer berupa hasil wawancara serta hasil pengisian kuesioner tentang penilaian

office maupun yang di plant , dokumen perusahaan, dan hasil dari pengisian kuesioner. Sumber data ada dua yaitu data primer dan data sekunder:.. Data primer adalah pengukuran

Sumber data dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder, data primer merupakan data dan informasi yang diperoleh langsung dari sumbernya, yaitu kuesioner yang

Sumber data primer Untuk mendapatkan data ini, peneliti akan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada responden, perolehan data primer dalam penelitian ini yaitu hasil kuesioner