Rencana Penelitian
TINJAUAN YURIDIS UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENDANAAN TERORISME DALAM
PERSPEKTIF HUKUM PIDANA DI INDONESIA
Rencana Penelitian Penulisan Hukum Skripsi (S1)
Oleh
Raihan Ashily Naufaliyansyah Achmad NIM E0021369
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2024
RENCANA PENULISAN HUKUM (SKRIPSI)
1. Judul : TINJAUAN YURIDIS UPAYA
PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENDANAAN TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA DI INDONESIA
2. Pelaksanaan Penelitian :
A. Nama : Raihan Ashily Naufaliyansyah Achmad
B. NIM : E0021369
C. Fakultas : Hukum
D. Bagian : Hukum Pidana
3. Lokasi Penelitian : -
4. Lama Penelitian : 6 (enam) bulan
Surakarta, 14 November 2024
Penulis
Raihan Ashily N.A NIM. E0021369 Dosen Pembimbing
Dr. Rehnalemken Ginting, S.H., M.H.
NIP. 1958010520230201
A. Judul
Tinjauan Yuridis Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Dalam Perspektif Hukum Pidana di Indonesia
B. Bidang Ilmu
Ilmu Hukum (Hukum Pidana) C. Latar Belakang
Tujuan negara Indonesia terdapat pada alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menjelaskan bahwa negara harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Guna mencapai tujuan-tujuan tersebut, negara harus memastikan bahwa seluruh pihak, baik masyarakat dan pemerintah wajib bekerja sama bahu membahu untuk mewujudkan tujuan Indonesia sebagai negara yang damai, aman, dan tertib.
Hal demikian tak terlepas pula dari sarana dan prasarana penegakan hukum yang berkualitas dan berkompeten untuk mengurangi kejahatan dan jumlah kasus tindak pidana yang ada di Indonesia. Upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana juga menjadi hal yang harus terus didorong, termasuk tindak pidana terorisme yang menjadi salah satu faktor dalam mengganggu keamanan dan ketertiban negara.
Terorisme atau tindak pidana terorisme telah mengalami perkembangan yang cukup luas, baik dari segi masyarakat, sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan aksi terorisme. Aksi terorisme pada era globalisasi ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, seperti peretasan pada jaringan dunia maya hingga penggunaan senjata-senjata canggih yang menimbulkan kerusakan secara masif dan massal. Hal tersebut berbeda dengan aksi terorisme pada jaman dahulu yang dilakukan layaknya perang yang tidak terstruktur dan tidak menggunakan teknologi canggih seperti pada dewasa ini. Oleh karena itu, Terorisme yang dilakukan pada era globalisasi ini melibatkan korban jiwa yang merupakan penduduk sipil lebih banyak dari
yang dilakukan pada jaman dahulu (Adjie S, 2005: 3). Tentu, ini menjadi tantangan yang jauh lebih besar bagi negara-negara di dunia dan tidak terlepas pada negara Indonesia, karena kecanggihan sarana dan prasarana yang digunakan oleh pelaku aksi terorisme berdampak pula pada sulitnya pencegahan dan pemberantasan kasus-kasus terorisme.
Terorisme itu sendiri merupakan suatu kejahatan yang bukan biasa saja (ordinary crime) dalam artian lain yaitu merupakan kejahatan luar biasa atau (extra-ordinary crime) dan tergolong sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan atau (crime against humanity) (Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, 2002: 8). Pada konsep tataran yuridis, terorisme adalah sebuah tindak pidana terhadap keamanan dan ketertiban negara dan tentu dalam pemberantasannya tidak dapat menggunakan cara-cara yang biasa sebagaimana kejahatan biasa atau tindak pidana biasa seperti, penganiayaan, pembunuhan, pencurian, dan tindak pidana biasa lainnya, melainkan dituntut menggunakan cara-cara yang luar biasa (extra-ordinary enforcement) (Wahyudi Iswanto, 2015: 2). Hal ini didasari karena kejahatan terorisme merupakan bentuk perbuatan yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh sebab itu terorisme merupakan musuh terbesar bangsa Indonesia, musuh bagi kemanusiaan, musuh bagi rakyat Indonesia, dan juga musuh bagi dunia. Penting mengapa terorisme dikatakan menjadi musuh bersama bangsa Indonesia, alasan kuat tersebut ada 2 (dua) yaitu :
1. Kebebasan politik dan demokrasi tidak akan merasa aman. Pada dasarnya tujuan gerakan reformasi membuat seluruh masyarakat lebih aman dan nyaman dalam kehidupan bernegara.
2. Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dalam bentuk gerakan yang sistematis dan teroganisi. Terorisme mempunyai jaringan yang masif dan bersifat global yang mengancam perdamaian dan keamanan nasional maupun internasional. (Susilo Bambang Yudhoyono, 2002: 4)
Hingga tahun 2024, Indonesia termasuk kedalam negara dengan angka kasus terorisme yang terbilang cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia. Menurut laporan Global Terrorism Indeks 2024 yang di rilis oleh Institute for Economics & Peace yang berkedudukan di Sydney, Australia, di mana dalam laporan tersebut Indonesia menempati peringkat ke-31 dari 163 negara di dunia, bahkan dalam kurun waktu 2013-2023 menurut laporan data tersebut Indonesia menempati urutan ke-4 dari negara-negara yang berada di Asia-Pasifik. Aspek penilaian tersebut dinilai dari jumlah kasus terorisme yang terjadi, jumlah korban jiwa, korban luka serta kerugian ekonomi yang ditimbulkan (https://reliefweb.int/report/world/global-terrorism-index-2024, Diakses pada 13 Oktober 2024 pukul 00.30 WIB).
Terorisme sebenarnya bukan hal baru melainkan sudah ada sejak abad ke- 19 dalam konteks politik internasional. Umumnya, terorisme berkaitan erat dengan stabilitas domestik negara. Namun, kini terorisme telah berkembang luas, mencakup berbagai aspek kehidupan dan melampaui batas negara.
Terorisme kini tidak hanya menyasar kehidupan politik, tetapi juga merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia, seperti menurunnya kegiatan ekonomi dan terganggunya rasa kemanusiaan serta budaya masyarakat yang beradab, sehingga termasuk dalam salah satu dari delapan kejahatan transnasional (transnational crimes). Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban, menjadi ancaman bagi semua bangsa dan agama di dunia. Terorisme telah membangun organisasi dan jaringan global, di mana kelompok-kelompok terorisme di berbagai negara tergabung dalam jaringan internasional dan memiliki hubungan serta mekanisme kerja sama baik dalam aspek operasional infrastruktur maupun infrastruktur pendukung.
Melihat secara history, di Indonesia pernah terjadi aksi terorisme yang menggemparkan dunia kala itu, yaitu kasus bom Bali pada tahun 2002.
Kejadian tersebut pun memantik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengeluarkan 2 (dua) poin Resolusi yang berkaitan dengan kejahatan terorisme di Indonesia yaitu dalam Resolusi Nomor 1438 Tahun 2002 yang
pada pokoknya mengutuk keras aksi terorisme di Bali tersebut dan memberikan duka cita dan simpati yang mendalam kepada rakyat Indonesia yang menjadi korban serta kepada pemerintah Indonesia. Tak hanya itu PBB juga dalam Resolusi Nomor 1373 Tahun 2002 memberikan dukungan dalam membantu pemerintah Indonesia untuk mengungkap dalang pada peristiwa bom bali tersebut.
Dalam hal pemberantasan suatu kejahatan atau tindak pidana dapat dilakukan melalui politik kriminal atau kebijakan hukum pidana (criminal policy) yang pada umumnya dilakukan dengan 2 (dua) cara, yakni melalui cara penal dan cara nonpenal. Pada penanggulangan kejahatan atau tindak pidana melalui cara penal mengarah kepada sifat repressive yaitu berupa pemberantasan atau penjatuhan sanksi sesudah kejahatan terjadi, berbeda hal dengan cara nonpenal yakni menitikberatkan pada sifat preventive berupa upaya-upaya pencegahan sebelum terjadinya kejahatan atau tindak pidana (Sudarto 1981: 118). Lebih lanjut, berbicara mengenai penanggulangan kejahatan melalui pendekatan nonpenal dilakukan dengan cara pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment) dan dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kejahatan dan pemidanaan lewat media masa (influencing views of society on crime and funishment/mass media) (Mardenis 2011: 79).
Mengingat tindak pidana terorisme yang memiliki dampak kerugian yang sangat luas, tentu saja pemberantasannya tidak cukup menggunakan tindakan yang berbentuk represif atau penal. Cara yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan mengesahkan serta menerapkan aturan pemberantasan terorisme atau pencucian uang dalam rangka memutus atau menghentikan ruang gerak pendanaan terorisme.
Upaya dalam mencegah tindak pidana terorisme harus berfokus pada pencegahan pendanaan meskipun cara-cara lain dalam mencegah terorisme dapat berupa sosialisasi kebangsaan guna menghentikan pemikiran ideologi radikalisme yang sering digunakan oleh pelaku teroris. Akan tetapi, pendanaan juga merupakan hal yang sangat penting sebagai cikal bakal lahirnya aksi-aksi
terorisme sebab untuk melancarkan propaganda membutuhkan biaya yang sangat besar. Dalam pelaksanaan suatu aksi terorisme, dana sangat dibutuhkan antara lain untuk mempromosikan ideologi, membiayai anggota teroris dan keluarganya, mendanai perjalanan dan penginapan, merekrut dan melatih anggota baru, memalsukan identitas dan dokumen, membeli persenjataan, serta untuk merancang dan melaksanakan operasi. Pergerakan-pergerakan para aktor teroris ini dapat menyebar luas melintas batas negara (transnasional) dan sarana atau alat yang digunakan seperti senjata atau bom yang dibeli atau di produksi dengan biaya yang terbilang tidak murah. Oleh karena itu, upaya penanggulangan tindak pidana terorisme tidak akan berhasil tanpa pencegahan dan pemberantasan kegiatan pendanaannya, sehingga akan mengakibatkan terhambatnya ruang gerak tindakan terorisme dan para pelaku terorisme dan diyakini dapat mencegah terjadinya aksi terorisme.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (Selanjutnya disebut UU TPPT), di dalam Pasal 1 Angka 1 dijelaskan bahwa pendanaan terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan dana, baik langsung maupun tidak langsung, dengan maksud untuk digunakan dan/atau yang diketahui akan digunakan untuk melakukan kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris. Merujuk perumusan definisi terkait pendanaan terorisme UU TPPT tersebut, menyiratkan adanya peran oleh para pihak yang secara aktif melakukan suatu perbuatan. Salah satu sarana yang sering kali dimanfaatkan untuk menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan dana adalah pihak perbankan. Perbankan adalah sarana atau tempat yang rentan digunakan dalam pembiayaan tindak pidana terorisme, sehingga perlu soliditas pengawasan yang baik dan transparan sehingga secara proaktif mencegah pembiayaan pada aksi terorisme (Purwanto, 2010: 28).
Di sisi lain, teknik atau metode yang digunakan untuk mendanai terorisme perlu ditelusuri lebih jauh, hal tersebut jika kita mengacu pada penelitian tipologi pendanaan terorisme yang dilakukan oleh Indonesia dan badan-badan
internasional termuat dalam APG 2nd Mutual Evalution Report on Indonesia Against the FATF 40 Recommendations (2003) and 9 Special Recommendation (2008), yaitu sebagai berikut : (APG, 2008: 17-18)
1. Pembawaan uang tunai;
2. Pengiriman kawat atau wire transfer;
3. Perampokan atau fa’i; pendanaan yang diperoleh melalui Non Profit Organizations (NPOs) atau organisasi nirlaba;
4. Pemberian dana amal untuk mendanai kelompok-kelompok teroris;
dan sistem pengiriman uang alternatif (alternative remittance systems).
Terdapat beragam instansi pemerintah yang terlibat di dalam pengawasan pendanaan terorisme, dari Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Kepolisian Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) (Rusli Safrudin, 2013: 113-137).
Dalam hal ini, PPATK sebagai salah satu lembaga yang berwenang dalam menelusuri transaksi keuangan yang mencurigakan baik itu pencucian uang maupun pendanaan terorisme telah menerima sebanyak 5000 laporan transaksi keuangan yang mencurigakan (Suspicious Transaction Report/STR) yang terindikasi terkait langsung dengan tindak pidana terorisme dalam kurun waktu 2018 hingga tahun 2021 (PPATK Terima 5.000 Laporan Aliran Dana Terkait Terorisme (cnbcindonesia.com), diakses pada tanggal 14 Oktober 2024 Pukul 01.28 WIB). Bahkan berdasarkan data laporan tersebut mengatakan bahwa ketika masa pandemi sekalipun tidak menyurutkan adanya indikasi- indikasi terhadap transaksi mencurigakan yang terkait dengan pendanaan tindak pidana terorisme. Oleh karena itu, dengan banyaknya lembaga pemerintah yang terlibat dalam pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme, diperlukan mekanisme koordinasi yang jelas untuk menghindari
tumpang tindih akibat koordinasi yang tidak efektif antar-lembaga. Dengan begitu, fungsi pengawasan pemerintah terhadap pendanaan terorisme dapat ditingkatkan untuk mencegah aksi-aksi terorisme di Indonesia.
Oleh karena itu, berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan, penulis tertarik untuk meneliti melalui penelitian skripsi dengan mengambil judul “TINJAUAN YURIDIS UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENDANAAN TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA DI INDONESIA".
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka penulis menemukan rumusan permasalahan yang akan diteliti secara rinci dan akan dikaji lebih dalam. Adapun rumusan masalah yang akan dibahas oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Pengaturan Terkait Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam Hukum Pidana di Indonesia?
2. Bagaimana Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme di Indonesia?
E. Tujuan Penelitian
Pada setiap penelitian memiliki tujuan yang akan menentukan arah dalam menjelaskan maksud penelitian yang dibuat. Tujuan penelitian hukum bertujuan untuk menentukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2014:35). Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian hukum ini dibagi menjadi 2 (dua) tujuan yaitu tujuan objektif dan tujuan subjektif, yaitu :
1. Tujuan Objektif
a. Mengetahui Pengaturan Terkait Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam Hukum Pidana di Indonesia
b. Mengetahui Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme di Indonesia
2. Tujuan Subjektif
a. Untuk memenuhi syarat akademis guna memperoleh gelar strata 1 (satu) sarjana dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret;
b. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dalam mempelajari dan mengkaji isu hukum dalam bidang hukum pidana terkait pengaturan serta upaya dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme di Indonesia.
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang telah dikemukakan di atas, penelitian hukum (skripsi) ini diharapkan dapat berkontribusi dan bermanfaat secara teoritis dan praktis baik bagi penulis maupun orang lain. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian hukum (skripsi) ini dapat menjadi salah satu sarana bagi penulis untuk mendalami ilmu hukum, terkhusus pada hukum pidana;
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan literasi akademik dalam kepustakaan hukum pidana serta dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi riset penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan topik penelitian hukum (skripsi) ini.
2. Manfaat Praktis
a. Dapat mengembangkan alur pola berpikir dan penalaran penulis terhadap judul yang akan dibahas dengan menerapkan ilmu yang diperoleh selama berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
b. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai jawaban dari permasalahan yang ditulis penulis sehingga dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan penjelasan mengenai permasalahan yang sedang diteliti.
G. Tinjauan Pustaka 1. Kerangka Teori
a. Tinjauan Umum Tentang Pidana 1) Pengertian tentang Hukum Pidana
Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari keseluruhan hukum yang diterapkan atau diberlakukan di suatu negara. Dalam hukum pidana mengatur terkait perbuatan- perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan atau dilarang, menentukan kapan dan dalam hal apa pelaku yang telah melanggar aturan pelarangan dapat dijatuhi pidana dan juga menentukan dengan cara seperti apa pengenaan pidana tersebut dapat dilaksanakan apabila pelaku atau yang disangka telah melanggar aturan yang dilarang tersebut (Moeljanto, 2017: 1).
Perbuatan pidana dalam bahasa hukum juga disebut dengan delik, yakni perbuatan pidana tersebut bertentangan dengan aturan atau tata tertib yang di atur atau dikehendaki oleh hukum itu sendiri. Tentu atas perbuatan pidana tersebut harus jelas merugikan masyarakat dan memiliki dampak buruk bagi kehidupan sosial masyarakat. Adapun untuk ukuran perbuatan yang dianggap melanggar hukum pidana merupakan kewenangan dari masing- masing negara untuk merumuskan suatu kebijakan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Umumnya perbuatan yang dapat menimbulkan dampak buruk atau kerugian bagi masyarakat dapat diberi sanksi pidana. Tujuan dari pemberian sanksi pidana untuk memperkuat berlakunya nilai-nilai atau norma-norma hukum yang telah ada.
Lebih lanjut, definisi hukum pidana dalam buku Moeljanto yang mengutip pandangan dari Van Hamel, yaitu :
“Hukum pidana adalah semua dasar-dasar dan aturan- aturan yang dianut oleh suatu negara dalam menyelenggarakan ketertiban hukum yang melarang apa yang bertentangan dengan
hukum dan mengenakan suatu nestapa kepada yang melanggar larangan-larangan tersebut” (Moeljanto, 2017: 8).
Penjelasan dari definisi diatas, jelas bahwa hukum pidana merupakan bagian dari suatu hukum yang berdiri sendiri. Oleh karenanya, hukum pidana tidak bergantung dengan bagian hukum- hukum yang lain dan hanya memberi sanksi saja kepada perbuatan- perbuatan yang dilarang dalam bagian-bagian hukum tersebut.
2) Tujuan Hukum Pidana
Dibuatnya hukum pidana memiliki berbagai tujuan, antara lain yaitu untuk menentukan perbuatan-perbuatan tertentu yang dilarang atau tidak boleh dilakukan, disertai dengan ancaman berupa sanksi pidana tertentu bagi yang melanggar; untuk menentukan kapan dan dalam hal apa kepada orang yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dijatuhi sanksi pidana sebagaimana yang telah diancamkan; dan untuk menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.
Akan tetapi sejatinya tujuan dari hukum pidana tidak hanya untuk mencapai suatu pengenaan sanksi pidana bagi yang melanggar aturan, namun hukum pidana juga dapat digunakan sebagai aspek represif yang dapat digunakan untuk mencegah agar tindak pidana dapat berkurang.
Pijakan dari tujuan hukum pidana tidak terlepas dari asas hukum yang menjadi pikiran dasar dalam hukum konkrit.
Implementasi dari hukum pidana dibagi menurut tempat (locus) dan waktu (tempus) dilakukannya hukum pidana tersebut. Asas- asas yang terdapat dalam hukum pidana menurut sistem KUHP di Indonesia adalah : (Andi Hamzah, 2010: 65).
1. Asas Legalitas
Dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP dijelaskan bahwa asas legalitas dalam bahasa lain dapat dirumuskan
dengan “Nulum delictum nulla poena sine praveia legi poenali”, memiliki makna yakni Tidak ada satu perbuatan pun yang dapat dikenai sanksi pidana dan/atau tindakan, kecuali atas kekuatan peraturan pidana dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan.
2. Asas Teritorial atau Wilayah
Asas teritorial terdapat pada Pasal 2 KUHP, yang berbunyi “Peraturan hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tiap-tiap orang yang di dalam wilayah Indonesia melakukan delik”. Asas ini menjelaskan bahwa siapa pun yang melakukan delik di wilayah negara tempat berlakunya hukum pidana, tunduk pada hukum pidana itu.
Kedaulatan negara menjadi landasan dari asas teritorial. Hukum pidana berlaku bagi siapa pun yang melakukan delik di wilayah negara tersebut. Oleh karenanya sudah menjadi suatu kewajiban bagi suatu negara untuk menegakkan hukum dan memelihara ketertiban di wilayahnya sendiri terhadap siapa pun, baik itu di wilayah darat, laut, maupun udara.
3. Asas Nasionalitas Pasif atau Asas Perlindungan
Asas nasionalitas pasif tercantum dalam Pasal 4 ayat (1), (2), dan (4) KUHP. Asas ini menunjukkan bahwa hukum pidana suatu negara berlaku pula terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan di luar negeri. Perlindungan bukan semata-mata untuk kepentingan individual warga negara Indonesia, melainkan kepentingan nasional atau kepentingan umum yang lebih luas. Jika warga negara Indonesia
menjadi korban delik di wilayah negara lain, yang itu dilakukan oleh warga negara asing, maka hukum pidana Indonesia tidak dapat berlaku. Jadi terdapat kepercayaan terhadap setiap negara untuk menegakkan hukum di wilayah negaranya masing-masing.
4. Asas Nasionalitas Aktif atau Asas Personalitas
Asas ini mengacu pada kewarganegaraan pembuat suatu tindak pidana. Pada asas ini menjelaskan bahwa hukum pidana Indonesia mengikuti warga negaranya kemanapun ia berada. Asas nasionalitas aktif terdapat pada Pasal 5 KUHP, yang berbunyi “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi warga negara Indonesia yang melakukan kejahatan di luar wilayah Indonesia”.
5. Asas Universalitas
Asas universalitas dibatasi oleh hukum internasional, yang bertujuan untuk melindungi kepentingan internasional yang berlandaskan pemikiran bahwa setiap negara yang ada di dunia wajib hukumnya untuk turut serta melaksanakan hukum yang berlaku.
Asas ini juga melihat hukum pidana Indonesia berlaku secara umum, yakni dapat melampaui batas-batas wilayah dan individu. Jenis dari perbuatan yang diancam pidana menurut asas ini menilai kejahatan yang berbahaya dilihat bukan hanya dari kepentingan Indonesia, namun dunia. Asas universalitas sendiri tercantum pada Pasal 2 hingga Pasal 5 dan Pasal 8 KUHP.
3) Pengertian Umum tentang Pemidanaan
Menurut Andi Hamzah, pemidanaan disebut juga penjatuhan pidana atau pemberian pidana atau penghukuman.
Penghukuman itu sendiri mempunyai makna sama dengan sentence atau vervoordeling (Tolib Setiady, 2009: 21).
Sedangkan Menurut Profesor Sudarto, definisi dari pemidanaan adalah:
“Suatu penderitaan yang memiliki sifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggung jawab ketertiban umum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara”
(Tolib Setiady, 2009: 19).
Pemberian pidana dalam arti umum tidak terlepas dari pembentuk undang-undang karena asas legalitas yang menjelaskan bahwa tidak ada perbuatan pidana, jika tidak ada hukuman yang berdasarkan undang-undang. Namun, sejatinya kebijakan untuk menetapkan sanksi pidana pun tidak dapat dilepaskan dari tujuan politik kriminal dalam artian perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan (Tolib Setiady, 2009: 22).
Penjatuhan sanksi dalam hukum pidana merupakan bagian penting dalam sistem pemidanaan karena keberadaannya dapat memberikan arah dan pertimbangan mengenai apa yang seharusnya dijadikan sanksi dalam suatu tindak pidana. Masalah teknis perundang-undangan dalam pemberian sanksi memang penting, akan tetapi susbtansi atau materi perundang-undangan juga merupakan hal yang sangat penting dan tidak dapat terpisahkan. Artinya bahwa terkait masalah penalisasi, depenalisasi, kriminalisasi, dan dekriminalisasi harus dipahami secara komprehensif dengan segala aspek persoalan substansi atau materi perundang-undangan pada tahap kebijakan legislasi. Upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme
tidak terlepas dari kebijakan formulasi sanksi pidana yang berlaku dalam undang-undang.
b. Tinjauan Pengertian Umum Tentang Terorisme
Secara etimologi, terorisme memiliki makna dari kata dasar
“terror” yang diambil dari bahasa latin “terrere” yang di dalam bahasa Indonesia berarti menakutkan atau mengerikan. Adapun pembahasan pertama kali mengenai pengertian terorisme yaitu di dalam European Convention on the Suppression of Terrorism (ECST) di Eropa tahun 1977. Dalam konvensi ini, terjadi sebuah perluasan paradigma terorisme yang pada awalnya bermakna Crimes against State (Kejahatan terhadap Negara) menjadi Crimes against Humanity (Kejahatan terhadap Kemanusiaan). Crimes against Humanity itu sendiri meliputi tindak pidana yang ditujukan untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan, dan masyarakat umum ada di dalam suasana teror atau mencekam (Abdul Wahid, 2004: 23).
Meskipun terorisme dengan perang identik menggunakan kekerasan dan biasanya mengakibatkan dampak buruk yang luas, namun keduanya memiliki berbedaan. Perang konvensional bertujuan untuk melakukan penghancuran secara masif atau total, perang gerilya merupakan perang revolusioner untuk menimbulkan kerusakan secara fisik. Sedangkan terorisme, cenderung menginginkan adanya kerusakan secara psikologis. Terorisme juga di dalam aksinya, mengabaikan segala bentuk peraturan dan prosedur perang. Akibatnya, korban dari sebuah aksi terorisme kebanyakan adalah masyarakat sipil yang pada saat aksi tersebut berjalan berada dekat atau bersama-sama dengan korban yang dijadikan target dan sasaran (Adjie S, 2005: 10).
Menilik kamus Webster’s New School and Offie Dictionary oleh Noah Webster, mengatakan bahwa terror sebagai kata benda yang berarti “extreme fear”, atau ketakutan yang amat sangat. Sedangkan
“terrorism” sebagai kata kerja memiliki arti “the use of violence,
intimidation, to gain an end; especially a system government rulling by terror” (Penggunaan kekerasan, ancaman dan sejenisnya untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan akhir, teristimewa sebagai suatu sistem pemerintahan yang ditegakkan dengan teror) (Mardenis, 2013: 85). Lebih lanjut, istilah terorisme yang telah menjadi kata serapan dalam kata bahasa Indonesia itu, disimpulkan oleh Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia: “Terorisme ialah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan” (Mardenis, 2013: 87).
Sesuai dengan istilah yang berlaku umum, dapat dikemukakan pengertian terorisme, sebagai berikut:
1) Ayatullah Sheikh Muhammad Al Taskhiri seorang tokoh ulama dan ilmuwan mengatakan bahwa “terorism is an act carried out to achive on in human and corrupt objective and invoving thereat to scurity of mankind, and violation of right acknowledge by relegion and mankind” (terorisme adalah suatu tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan sekelompok manusia yang korup dan karenanya melibatkan keamanan umat manusia, dan pelanggaran hak diakui oleh agama dan umat manusia).
2) Moch Faisal Salam (2005: 3), menyatakan bahwa “terrorism is the unlawful use of force or violence against human or property to intimidate or coerce a government, civilian populations, or any segment threat, in furtherance of politic or social objective” (terorisme adalah segala tindakan yang melanggar hukum dengan cara pemaksaan, kekerasan atau pengintimidasian hak milik dengan memeras baik itu terhadap pemerintah, warga sipil atau segala bentuk ancaman sebagai kelanjutan dari tujuan politik dan sosial).
Dalam UU Terorisme, tidak ada pasal yang menjelaskan definisi terorisme, namun dalam Penjelasan Bagian Umum Paragraf Ketiga
disebutkan bahwa terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban, serta ancaman serius terhadap kedaulatan negara. Terorisme sebagai kejahatan internasional mengancam keamanan, perdamaian dunia, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemberantasan terorisme perlu dilakukan secara terencana dan berkesinambungan untuk melindungi dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Berdasarkan uraian di atas dikatakan terorisme oleh pembuat undang-undang dalam uraian Penjelasan Pertimbangan UU Terorisme sedikitnya mengandung pengertian: (Asmadi, 2013: 126).
a) terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban;
b) terorisme merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara; dan
c) terorisme merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.
Dikatakan bahwa tindakan kekerasan (terrorism) diartikan sebagai cara bagi kelompok tertentu untuk mencapai tujuan dan selanjutnya diartikan sebagai: (Moch. Faisal Salam, 2005: 3).
a) Cara kelompok miskin untuk meminta perhatian kelompok kaya;
b) Cara kelompok yang dimarjinalkan terhadap kelompok yang diuntungkan;
c) Cara kelompok yang tertekan terhadap kelompok yang arogan;
serta
d) Cara kelompok yang dimusuhi, diblokade, diembargo, diperlakukan tidak adil dan sebagainya.
Dalam Encyclopedia of Britanica Terorisme yang dijelaskan, bahwa: “Terrorism is the systematic use of violence to create a general climate of fear in a population and thereby to bring about a particular political objective” (terorisme adalah penggunaan kekerasan secara sistematis untuk menciptakan sebuah rasa takut secara meluas dalam suatu populasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik tertentu).
Berdasarkan atas definisi tersebut, maka terorisme berkaitan erat dengan kondisi dimana kekerasan yang dimanfaatkan untuk kepentingan pencapaian tujuan politik tertentu.
Namun pada saat ini tidak ada definisi umum atau universal tentang terorisme. Yang terjadi ialah kecenderungan apa yang disebut dengan one dimensional conception on terrorism (satu dimensi pemikiran pada terorisme). Sulitnya mendefinisikan terorisme disebabkan karena pengertian dari terorisme akan berbeda-beda tergantung pada kondisi dari suatu negara ditambah sistem pemerintahannya saat definisi terorisme tersebut dirumuskan. Oleh karenanya, menurut penulis menjadi wajar jikalau terorisme sangat sulit untuk didefinisikan secara tepat dengan suatu konsep pemikiran dan hanya dapat dijelaskan berdasarkan motif perbuatan yang dilakukan beserta cara yang digunakan oleh pelaku kejahatan.
Pemikiran akhir dari penulis terkait pendefinisian dari terorisme yaitu suatu perbuatan yang melawan hukum dan dilakukan secara sengaja, terstruktur dan sistematis; dengan memiliki tujuan untuk menimbulkan ketakutan, rasa cemas, kehancuran, dan kerugian secara masif atau luas pada masyarakat; yang menyebabkan penghilangan nyawa dan harta benda; serta dilakukan dalam bentuk motif atau cara apapun.
c. Tinjauan Umum Tentang Pendanaan Terorisme
Pelaku terorisme akan sia-sia menjalankan aksinya tanpa adanya berbagai bentuk instrumen pendukung, salah satu yang menjadi pondasi penting adalah dukungan pendanaan. Uang atau dana dalam
tindak pidana terorisme digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan aksi, bukan sebagai tujuan atau sasaran yang ingin dicapai (Arie Afriansyah, 2023: 1-18). Dalam aksi terorisme, dana sangat diperlukan untuk menyebarkan ideologi, mendukung anggota teroris serta keluarganya, membiayai perjalanan dan akomodasi, merekrut serta melatih anggota baru, memalsukan identitas dan dokumen, membeli senjata, serta merencanakan dan melaksanakan aksi. Sumber pendanaan terorisme dapat berasal dari aktivitas ilegal seperti penculikan, perampokan, pembajakan, perdagangan narkoba, barter, atau bisnis legal yang dimiliki/dijalankan oleh teroris, donasi ke yayasan atau LSM, sistem hawala, perbankan online, dan pengantar uang tunai (cash couriers).
Jika merujuk pada penjelasan mengenai pendanaan terorisme pada UU TPPT berdasarkan Pasal 1 angka 1 dijelaskan bahwa pendanaan terorisme adalah segala perbuatan dalam rangka menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan dana, baik langsung maupun tidak langsung, dengan maksud untuk digunakan dan/atau yang diketahui akan digunakan untuk melakukan kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris.
Pengertian dana berdasarkan Pasal 1 angka 7 UU TPPT adalah semua aset atau benda bergerak atau tidak bergerak, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang diperoleh dengan cara apa pun dan dalam bentuk apa pun, termasuk dalam format digital atau elektronik, alat bukti kepemilikan, atau keterkaitan dengan semua aset atau benda tersebut, termasuk tetapi tidak terbatas pada kredit bank, cek perjalanan, cek yang dikeluarkan oleh bank, perintah pengiriman uang, saham, sekuritas, obligasi, bank draft, dan surat pengakuan utang.
Pada praktiknya terdapat modus-modus yang digunakan dalam pendanaan terorisme yang berisiko tinggi dan dominan terjadi di Indonesia, yakni : (Muhammad Yusuf, 2015: 22)
1. Pendanaan dalam negeri melalui sumbangan ke yayasan menggunakan instrumen uang tunai yang digunakan untuk pengelolaan jaringan teroris.
2. Pendanaan dalam negeri melalui penyalahgunaan dana yayasan menggunakan instrumen uang tunai yang digunakan untuk pengelolaan jaringan teroris.
3. Pendanaan dalam negeri melalui berdagang/usaha (barang/jasa) menggunakan instrumen uang tunai yang digunakan untuk pengelolaan jaringan teroris.
4. Pendanaan dalam negeri melalui tindakan kriminal menggunakan instrumen uang tunai yang digunakan untuk pengelolaan jaringan teroris.
5. Pendanaan dalam negeri melalui penyalahgunaan dana yayasan untuk membuka kegiatan usaha baru (barang/jasa) yang hasilnya untuk pengelolaan jaringan teroris.
Menurut Paul Allan Schott, financing of terrorism reverse money laundering adalah pendanaan terorisme yang berasal dari suatu sumber yang sah yang kemudian digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan terorisme. Suatu sumber yang sah dan kemudian digunakan untuk melakukan suatu kejahatan merupakan suatu kebalikan dari kegiatan pencucian uang atau reverse money laundering. Schott menambahkan, pada dasarnya teknik-teknik yang digunakan untuk mencuci uang adalah sama dengan yang digunakan untuk menyembunyikan sumber dan penggunaan dari pendanaan terorisme. Dana digunakan untuk mendukung terorisme dapat berasal dari sumber-sumber yang sah, aktivitas kriminal, atau keduanya. Akan tetapi, menyamarkan sumber pendanaan terorisme adalah hal yang penting, baik itu berasal dari sumber yang sah ataupun tidak. Apabila sumber dana dapat disembunyikan, maka dana tersebut akan tetap tersedia untuk aktivitas pendanaan teroris di masa mendatang. Penting pula bagi teroris untuk menyembunyikan penggunaan dana sehingga
aktivitas pendanaan dapat tetap tidak terdeteksi. (Paul Allan Schott, 2006: 23).
Berdasarkan definisi di atas, di dalam proses aksi atau upaya pendanaan terorisme, terdapat 3 (tiga) instrumen tindak pidana yang terjadi, yakni :
1. Tindak pidana pencucian uang
Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) secara umum dapat dijelaskan sebagai aktivitas memindahkan, menggunakan, atau melakukan tindakan lain terhadap uang yang diperoleh dari kejahatan, yang sering dilakukan oleh kelompok kejahatan terorganisir atau individu yang terlibat dalam korupsi, perdagangan narkotika, dan kejahatan lainnya.
Tujuannya adalah untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang tersebut agar dapat digunakan seolah-olah sebagai uang legal, tanpa terdeteksi bahwa sumbernya berasal dari kegiatan ilegal (Husein, 2003: 26).
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian uang yang kemudian mengalami pembaharuan, terakhir diubah berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana pencucian Uang.
Di dalam UU tersebut telah menambahkan satu pasal baru yakni Pasal 2 Ayat (2) yang mengatur tentang harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris perseorangan.
2. Tindak pidana terorisme
Kriminalisasi pendanaan terorisme dalam UU Terorisme dinyatakan dalam Pasal 11, bahwa dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan
atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10.
Selain itu, Pasal 13 UU Terorisme terdapat perbuatan yang dikriminalisasi lainnya sebagai pembantuan terhadap pelaku tindak pidana terorisme, yakni:
1) Setiap orang yang menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan, dimana harta kekayaan disini didefinisikan secara lebih luas, untuk mendukung aksi terorisme yang terkait dengan bahan-bahan nuklir, senjata kimia dan biologis, dan lain-lain;
2) Setiap orang yang memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme, antara lain dengan memberikan atau meminjamkan uang atau barang atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku tindak pidana terorisme.
3. Tindak pidana perbankan
Terdapat dua istilah yang seringkali dipakai secara bergantian walaupun maksud dan ruang lingkupnya bisa berbeda. Pertama, adalah “Tindak Pidana Perbankan” dan kedua, “Tindak Pidana di Bidang Perbankan”. Yang pertama mengandung pengertian tindak pidana itu semata-mata dilakukan oleh bank atau orang bank, sedangkan yang kedua tampaknya lebih netral dan lebih luas karena dapat mencakup tindak pidana yang dilakukan oleh orang di luar dan di dalam bank atau keduanya (Reksodiputro, 1994: 74).
Istilah “tindak pidana di bidang perbankan” dimaksudkan untuk menampung segala jenis perbuatan melanggar hukum yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan dalam menjalankan usaha bank. Tidak ada pengertian formal dari
tindak pidana di bidang perbankan. Ada yang mendefinisikan secara popular, bahwa tindak pidana perbankan adalah tindak pidana yang menjadikan bank sebagai sarana (crimes through the bank) dan crimes against the bank atau sasaran tindak pidana itu (Sitompul, 2007: 3-4).
Salah satu bentuk dari tindak pidana di lingkup perbankan yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang atau potensi penggunaan pendanaan bagi terorisme adalah “tindak pidana yang berkaitan dengan usaha bank”. Tindak pidana ini ditujukan kepada “orang dalam” yakni pihak yang menyelenggarakan perbankan antara lain Komisaris, anggota dewan komisaris, direksi atau pegawai bank.
Kategori tindak pidana perbankan yang terkait dengan usaha bank meliputi:
1) Membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan, laporan, atau dokumen kegiatan usaha dan rekening bank;
2) Mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau merusak pencatatan dalam pembukuan, laporan, atau dokumen kegiatan usaha dan rekening bank;
3) Meminta atau menerima imbalan, komisi, uang tambahan, atau barang berharga untuk keuntungan pribadi, dalam rangka mendapatkan atau membantu orang lain mendapatkan uang muka, bank garansi, fasilitas kredit, ataupun untuk memberikan persetujuan penarikan dana yang melebihi batas kredit pada bank.
4) Tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainya yang berlaku bagi bank.
2. Kerangka Berpikir
Aksi Terorisme di Indonesia
Strategi pencegahan dan pemberantasan belum komprehensif
Kurangnya pengawasan dari
pemerintah
Kelompok Terorisme
Faktor utama untuk melancarkan aksi
Alat/Persenjataan
Pendanaan
Propaganda
Kurangnya koordinasi antara lemabaga
Lemahnya peran intelejen
Regulasi belum komprehensif
Pelaku/Orang
UU No 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan
Terorisme.
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan dari berbagai sektor menurut UU yang berlaku
Keterangan:
Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia tak terlepas dari berbagai faktor pendukung, dalam kerangka berpikir penulis berfokus pada faktor pendukung yakni pendanaan terorisme. Di dalam rezim Internasional memisahkan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme terhadap induk masalahnya yakni Tindak Pidana Terorisme yang mana masuk ke dalam Rezim Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme (APUPPT). Namun, jika menilik pada UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional) memasukkan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme terorisme pada Bab XXXV Tindak Pidana Khusus Bagian Kedua Tindak Pidana Terorisme.
Pun, dalam mengkaji penelitian ini penulis hendak menguraikan upaya serta pengaturan pendukung lainnya baik itu dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme maupun peraturan lainnya yang berkaitan, sehingga dapat mengetahui upaya pencegahan dan pemberantasan yang di lakukan lembaga-lembaga yang berwenang yang dalam hal ini merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk mewujudkan tujuan negara yang terdapat pada alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menjelaskan bahwa negara harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kerangka pemikiran yang coba penulis uraikan di atas ditujukan agar mempermudah mengenai alur penelitian yang akan penulis teliti dan penulis tuangkan di dalam penelitian skripsi ini.
H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian yang penulis tuliskan ini menggunakan penelitian hukum normatif atau sering disebut sebagai penelitian hukum doktrinal atau studi kepustakaan karena penelitian ini dilakukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan- bahan hukum yang lain yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang kemudian disusun secara sistematis dan dikaji, lalu ditarik kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang akan diteliti. Menurut Peter Mahmud Marzuki, penelitian hukum normatif merupakan penelitian yang berlandaskan pada bahan-bahan hukum primer dan sekunder yang nantinya dapat menghasilkan argumentasi terhadap masalah isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2019: 60)
2. Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan sifat penelitian preskriptif yang memiliki arti bahwa norma hukum menjadi acuan atau sandaran untuk menjawab permasalahan atas isu hukum yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2019:35). Selain itu penelitian ini bersifat terapan yang berkoherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, kemudian antara aturan hukum dan norma hukum serta koherensi antara tingkah laku (Peter Mahmud Marzuki, 2014:16-17).
3. Pendekatan Penelitian
Mengacu pada pendekatan penelitian menurut Peter Mahmud Marzuki terdapat 5 (lima) jenis pendekatan, yakni pendekatan Undang- Undang (statue approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conseptual approach). Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Undang- Undang (statue approach), pendekatan historis (historical approach), dan pendekatan konseptual (conseptual approach). Pendekatan undang-undang (statue approach) menjadi suatu keharusan dalam suatu penelitian
normatif karena yang diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus dalam penelitian tersebut (Johnny Ibrahim, 2006:302). Selanjutnya pendekatan historis menurut pandangan Peter Mahmud Marzuki adalah pendekatan yang berlatarbelakang pada upaya melihat dan mempelajari perkembangan regulasi terhadap isu hukum yang menjadi objek penelitian.
Sedangkan yang terakhir yakni pendekatan konseptual yang digunakan penulis manakala dalam mengkaji penelitian ini hanya berpacu pada pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Melalui pemahaman penulis akan menyusun dan menemukan pengertian hukum, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum guna memecahkan isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2014:134- 136)
4. Jenis Bahan Hukum
Jenis atau sumber bahan hukum adalah pijakan penulis untuk melakukan penelitian, oleh karena itu merupakan unsur yang sangat penting. Adapun jenis atau sumber hukum yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 (dua), yakni bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang akan di jelaskan lebih rinci sebagai berikut :
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer memiliki sifat yang autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang- undangan, catatan- catatan resmi atau risalah dalam pembuatan peraturan perundang- undangan dan putusan- putusan Hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 141). Bahan hukum primer tersebut terdiri dari:
1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945;
2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang.
4) Undang-undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
6) Undang-undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression of The Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme, 1999)
7) Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat dari Korporasi dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme
8) Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 Tahun 2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang berupa publikasi dan bukan merupakan dokumen resmi, publikasi tentang hukum meliputi buku-buku, teks, kamus- kamus hukum, jurnal jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 181).
Oleh, karenanya bahan hukum sekunder yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini ialah buku-buku yang berkaitan dengan hukum pidana, tulisan berupa jurnal-jurnal hukum,
skripsi atau tesis para sarjana hukum, dan juga pustaka maya atau internet yang mendukung pada penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Agar mendapatkan sumber yang relevan sehingga dapat menghasilkan hasil kajian yang sesuai, penelitian ini disusun secara sistematis melalui pengumpulan bahan hukum dengan teknik studi kepustakaan atau dokumen (library research). Studi kepustakaan atau dokumen sendiri dapat dilakukan dengan cara mengkaji suatu substansi atau isi dari bahan hukum yang berupa buku, peraturan perundang- undangan, jurnal, artikel, dan bahan Pustaka lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2021: 237).
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Penelitian ini menggunakan teknik analisis hukum yang berpola pikir deduktif dengan metode silogisme. Pada pola pikir deduktif ini, terdapat dua premis guna menjawab isu hukum yang sedang di teliti, yaitu premis mayor dan minor. Premis mayor merupakan pernyataan yang bersifat umum dengan logika penalaran hukum berupa aturan hukum, sedangkan premis minor merupakan pernyataan yang bersifat khusus dengan logika penalaran hukum berupa fakta hukum. Sehingga melalui kedua premis tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan penelitian. (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 89-90).
I. Sistematika Penulisan Hukum
Suatu penulisan hukum harus disusun dan disajikan dengan sistematika yang jelas sesuai dengan kaidah atau aturan baku dalam penulisan hukum untuk memberikan gambaran mengenai permasalahan yang akan dibahas.
Adapun sistematika penulisan hukum (skripsi) terdiri dari 4 (empat) bab, tiap bab terbagi dalam sub – sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian hukum ini. Sistematika penulisan hukum tersebut adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan menguraikan sebagai berikut:
A. Latar Belakang
Mengemukakan mengenai alasan mengapa masalah diangkat dalam penulisan skripsi oleh penulis.
B. Rumusan Masalah
Terdapat 2 (dua) masalah yang diangkat untuk dijawab oleh penulis.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Objektif
Untuk menjawab rumusan masalah dalam penulisan skripsi oleh penulis.
2. Tujuan Subjektif
Untuk menambah, memperluas, dan menambah pengetahuan penulis serta memperoleh data sebagai bahan penulisan skripsi.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Untuk memberikan manfaat, pengetahuan, dan wawasan bagi khalayak ramai.
2. Manfaat Praktis
Untuk membantu memecahkan masalah dalam penulisan skripsi.
E. Metode Penelitian
Dalam bab ini akan penulis menjelaskan mengenai bagaimana penulis melakukan penelitian menurut metode penelitian yang ditetapkan oleh dalam aturan baku standar penelitian sebelumnya. Pada sub bab ini, penulis memaparkan jenis, sifat, sumber, pendekatan, analisis, teknik pengumpulan, dan teknik analisis bahan hukum.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memberikan bayangan atau gambaran secara menyeluruh tentang sistematika pembahasan yang penulisan hukum yang sesuai dengan kaidah atau aturan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan memuat dua sub bab, yaitu kerangka teori yang memuat identifikasi teori-teori sebagai landasan dalam penelitian hukum yang akan dilakukan dan kerangka pemikiran berupa tabel atau diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika dalam sebuah penelitian, yang dalam penelitian ini tinjauan pustaka sebagai berikut:
1. Kerangka Teori
a. Tinjauan Hukum Pidana b. Tinjauan Terorisme c. Tinjauan Pendanaan 2. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dituangkan dalam bentuk bagan yang berfungsi untuk menunjukkan alur berpikir dalam penulisan skripsi.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Di dalam bab ini, penulis akan menyajikan serta menguraikan pembahasan mengenai hasil penelitian terkait substansi dan masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Dalam penulisan hukum ini yang menjadi pokok permasalahan, yaitu:
1. Bagaimana Pengaturan Terkait Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam Hukum Pidana di Indonesia?
2. Bagaimana Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme di Indonesia?
BAB IV PENUTUP
Pada bab terakhir ini akan memaparkan terkait kesimpulan akhir yang telah penulis dapat dari seluruh hasil penelitian yang berfokus pada masalah yang terdapat pada rumusan masalah dan penulis juga memberikan saran- saran yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian hukum ini.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
J. Jangka Waktu Penelitian
No Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5 6
1 Pengajuan Judul
2 Penyusunan Rencana Penelitian
3 Seminar Rencana Penelitian
4 Pengumpulan Bahan Hukum
5 Analisis Bahan Hukum
6 Penulisan Laporan Akhir
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Peter Mahmud Marzuki. 2014. Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Peter Mahmud Marzuki. 2019. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Peter Mahmud Marzuki. 2021. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Johnny Ibrahim. 2006. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Jakarta:
Bayumedia Publishing.
Adjie S. 2005. Terorisme. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Abdul Wahid. 2004. Kejahatan Terorisme: Perspektif agama, Hak Asasi Manusia.
Bandung: Refika Aditama.
Moeljanto. 2017. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta.
Andi Hamzah. 2010. Pengantar dalam Hukum Pidana Indonesia. Jakarta: Yarsif Watampone.
Tolib Setiady. 2009. Intisari Hukum Adat Indonesia. Banjarmasin: Alfabeta.
Departemen Kehakiman dan Ham. 2002. Himpunan pidato/sambutan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Jakarta:
Departemen Kehakiman dan HAM Republik Indonesia
Susilo Bambang Yudhoyono. 2002. Selamatkan Negeri Kita dari Terorisme.
Jakarta: Kementerian Koordinator Polkam.
Sudarto. 1981. Kapita Selekta Hukum Pidana. Bandung: Alumni.
Mardenis. 2011. Pemberantasan Terorisme Politik Internasional dan Politik Hukum Nasional Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Muhammad Yusuf. 2015. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Tahun 2015. Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.
Wawan Purwanto. 2010. Terorisme Ancaman Tiada Akhir. Jakarta: Grafindo.
Moch Faisal Salam. 2005. Motivasi Tindakan Terorisme. Bandung: Mandar Maju.
Erwin Asmadi. 2013. Pembuktian Tindak Pidana Teroris (Analisa Putusan Pengadilan Pada Kasus Perampokan Bank CIMB Niaga Medan). Medan:
PT. Sofmedia.
Marjono Reksodiputro. 1994. Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan, Kumpulan Karangan Buku Kesatu. Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum.
P. A. Schott. 2006. Referrence Guide to Anti-Money Laundering and Combating the Financing of Terrorism: second edition and supplement on special recommendations IX. Washington DC: World Bank Publication.
APG. Second Mutual Evaluation Report on Indonesia. 2008.
Jurnal
Mardenis. 2013. “Kontemplasi dan Analisis Terhadap Klasifikasi dan Politik Hukum Penegakan HAM di Indonesia”, Jurnal Rechtsvinding. Volume 2 Nomor 3.
Rusli Safrudin. 2013. “Penanggulangan Terorisme Di Indonesia Melalui Penanganan Pendanaan Terorisme: Studi Kasus Al-Jamaah Al-Islamiyah (JI)”, Jurnal Pertahanan. Volume 3 Nomor 1.
Arie Afriansyah. 2023. “Indonesia’s Laws and Policies in Combatting Terrorism Financing: An Update Analysis”, AML/CFT Journal The Journal of Anti
Money Laundering and Countering the Financing of Terrorism. Volume 2 Nomor 1.
Wahyudi Iswanto. 2015. “Perlindungan Hukum Terhadap Hak Korban Terorisme”, Lex Crimen. Volume IV Nomor .
Yunus Husein. 2003. “PPATK: Tugas, Wewenang, dan Peranannya Dalam Memberantas Tindak Pidana Pencucuian Uang”, Jurnal Hukum Bisnis.
Volume 22 Nomor 3.
Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan lainnya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP).
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Baru Nasional)
Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang.
Undang-undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression of The Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme, 1999).
Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pemilik Manfaat dari Korporasi dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 Tahun 2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Umum.
Pustaka Maya (Internet)
Sitompul, Zulkarnain. 2007. “Tindak Pidana Perbankan dan Pencucian Uang (Money Laundring)”. http://zulsitompul.files.wordpress.com. diakses pada tanggal 3 November 2024.
PPATK Terima 5.000 Laporan Aliran Dana Terkait Terorisme (cnbcindonesia.com), Diakses pada tanggal 14 Oktober 2024 Pukul 01.28 WIB
https://reliefweb.int/report/world/global-terrorism-index-2024, Diakses pada 13 Oktober 2024 pukul 00.30 WIB.