i
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syari’ah
Program Studi Hukum Pidana Islam
Oleh:
QURROTUL AINIYAH NIM: S20184078
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS SYARIAH
2023
ii
TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PERJUDIAN SABUNG AYAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NO.7 TAHUN 1974 TENTANG
PENERTIBAN PERJUDIAN DAN HUKUM PIDANA ISLAM (STUDI KASUS DESA SUKORAMBI KECAMATAN SUKORAMBI
KABUPATEN JEMBER)
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syari’ah
Program Studi Hukum Pidana Islam
Oleh : Qurrotul Ainiyah
NIM. S20184078
Disetujui Pembimbing,
Dr. Busriyanti, M.Ag NIP. 19710610 199803 2 002
iii
SKRIPSI
Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H)
Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Pidana Islam Hari : Selasa
Tanggal : 4 Juli 2023 Tim Penguji Ketua
Dr. H. Ahmad Junaidi, M.Ag NIP. 19731105 200212 1 002
Sekretaris
St. Sariroh, M.H.
NIP. 19920225 201903 2 014
Anggota:
1. Dr. Ishaq M.Ag ( )
2. Dr. Busriyanti, M.Ag ( )
Mengetahui,
Plh. Dekan Fakultas Syariah
Dr. Muhammad Faisol, S.S., M.Ag.
NIP.19770609 200801 1 012
iv MOTTO
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian”. (Q.S. An-Nisa’:59)*
* Departemen Agama, Qur’an Karim dan terjemahan artinya, (Yogyakarta: UII Press Yogyakarta,2009),154.
v kepada:
1. Ya Robb-ku Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
2. Almamater Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember 3. Fakultas Syari’ah
4. Program Studi Hukum Pidana Islam
5. Bunda Dr.Busriyanti, M,Ag., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini sampai selesai
6. Dengan penuh rasa kasih sayang dan hormat untuk keluarga tercinta, 7. Kedua orang tua Bapak muakib dan ibu misnati tercinta yang telah
mendidik dengan sepenuh hati yang tidak luput dengan do’a di setiap sujudnya
8. Dan juga adik-adikku tersayang, Ayu, Alfan,Alsa,dan Arta
9. Sahabat dan Teman-teman yang selalu mensuport dalam menyelesaikan skripsi ini.
vi
KATA PENGANTAR
ِمْيِحَّرلا ِنهْحَّْرلا ِهٰللّا ِمْسِب
Alhamdulillah, penulis mengucapkan banyak rasa syukur kepada Allah SWT atas setiap karunianya pada kita semua sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Tinjauan Yuridis tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam Perspektif Undang-undang No.7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian dan Hukum Pidana Islam (Studi Kasus Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember)”.
Penulis sadar bahwasanya penyusunan skripsi ini banyak mengandung kesalahan sehingga penulis secara terbuka menerima saran dan kritikan yang konstruktif untuk kesempurnaan penyusunan skripsi ini.
Penulis juga mendapatkan banyak dukungan sehingga penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Babun Suharto, S.E, M.M selaku Rektor kampus UIN KH.
Achmad Siddiq Jember
2. Bapak Prof, Dr. Muhammad Noor Harisuddin, M.Fil.I selaku Dekan Fakultas Syariah UIN KH. Achmad Siddiq Jember.
3. Bapak Dr. Abdul Wahab M.H.I selaku ketua Program Studi Hukum Pidana Islam
4. Bunda Dr. Busriyanti, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing dalam penuyusunan skripsi ini
5. Teruntuk seluruh Dosen Fakultas Syari’ah yang telah memberi ilmu banyak ilmu dan pengetahuan.
vii 6. Aparat Desa Sukorambi
7. Keluarga HPI2 Angkatan 2018 yang sudah melewati perkuliahan bersama.
8. Terima kasih pula kepada semuanya yang peneliti tidak dapatkan sebutkan semua.
Semoga setiap hal yang telah dikaruniakan kepada kita dapat menjadi amal baik oleh sang Maha Kuasa Allah SWT dan semoga adanya skripsi ini dapat memberikan kebermanfaatan untuk banyak pihak. Amin
Jember, 2 Mei 2023 Penulis
Qurrotul Ainiyah NIM.S20184078
viii ABSTRAK
Qurrotul Ainiyah, 2023: Tinjauan Yuridis tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam Perspektif Undang-undang No.7 tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian dan Hukum Pidana Islam (Studi Kasus Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember)
Kata Kunci: Tindak Pidana Perjudian, Sabung Ayam
Perjudian adalah penyakit yang telah menghinggapi masyarakat sejak lama dan dapat menyebabkan delik pidana, Contohnya seperti perjudian sabung ayam.
Masyarakat yang melakukan hal tersebut tidak memandang umur dan golongan.
Praktik perjudian sabung ayam di Desa Sukorambi memiliki dampak merugikan yang signifikan dan dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Selain itu, pengaruhnya pada anak-anak juga sangat besar dan berpotensi membuat mereka terlibat dalam tindak pidana perjudian. Praktik perjudian sabung ayam yang terjadi di sekitar lingkungan anak-anak dapat mempengaruhi mereka secara negatif.Fokus penelitian ini yaitu (1) Bagaimana praktek perjudian sabung ayam di desa Sukorambi? (2) Bagaimana sanksi hukum terhadap tindak pidana perjudian sabung ayam di desa Sukorambi dalam Perspektif Undang-undang No.7 tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian? (3) Bagaimana sanksi hukum terhadap tindak pidana perjudian sabung ayam dalam perspektif hukum pidana Islam?
Pendekatan yang dipakai peneliti yakni pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian yuridis empiris. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Studi ini memperoleh kesimpulan 1) praktek tindak pidana perjudian ayam dilakukan dengan pelaku terlebih dulu Mencari lawan dengan cara memposting di sosial media, setelah menemukan lawan mempersiapkan ayam kemudian langsung dipertarungkan diarena sabung ayam yang didalamnya diselipkan dengan perjudian. 2) sanksi tindak pidana perjudian sabung ayam perspektif UU No. 7 tahun 1974 perihal penertiban perjudian dijelaskan pasalnya yakni pasal 2 ayat 1 yang merubah sanksi pasal 303 ayat 1 KUHP dari sanksi penjara maksimal 2 tahun 8 bulan dan denda maksimal Rp90.000 menjadi hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal RP. 25.000.000,00 3) Fiqih jinayah menggolongkan delik perjudian sebagai hukum takzir karena sanksi yang diberikan tidak ditetapkan oleh syara namun ditetapkan oleh pihak Hakim (Ulil ‘Amri).
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Definisi Istilah ... 11
F. Sistematika Pembahasan ... 15
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 17
A. Penelitian Terdahulu ... 17
B. Kajian Teori ... 20
1. Teori Tindak Pidana Perjudian ... 21
2. Perjudian ... 26
3. Sabung Ayam ... 32
x
4. Hukum Pidana Islam ... 36
BAB III METODE PENELITIAN ... 49
A. Pendekatan Penelitian ... 49
B. Jenis penelitian ... 49
C. Lokasi Penelitian ... 49
D. Subyek Penelitian ... 50
E. Teknik Pengumpulan Data ... 51
F. Analisis Data ... 52
G. Keabsahan Data ... 53
H. Tahap-Tahap Penelitian ... 54
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 56
A. Gambaran Objek Penelitian ... 56
B. Penyajian Data Dan Analisis ... 59
C. Pembahasan Temuan ... 69
BAB V PENUTUP ... 75
A. Kesimpulan ... 75
B. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu ... 19 Tabel 4.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Sukorambi ... 58 Tabel 4.2 Jumlah Kasus Perjudian Sabung Ayam di Desa Sukorambi... 59
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara hukum yang mana diatur dengan tegas pada pasal 1 ayat 3 UUD NKRI 1945. Berdasarkan aturan tersebut hukum menempati kedudukan yang sangat penting di atas segalanya sehingga setiap perbuatan masyarakat maupun pemerintah wajib sejalan terhadap hukum yang ada.
Perkembangan pengetahuan dan juga teknologi turut memberikan andil besar dalam cara pandang, berperilaku dan juga mengambil tindakan.
Perubahan-perubahan tersebut juga berhubungan dengan kesadaran hukum dan juga penilaian atas perilaku tertentu oleh masyarakat. Apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dapat dinilai lazim atau dapat dinilai sebagai bentuk ancaman untuk ketertiban masyarakat.
Setiap proses bermasyarakat tentunya akan dihadapkan dengan adanya permasalahan-permasalahan sosial yang dapat membawa dampak buruk bagi ketertiban masyarakat. Salah satu akibat tersebut diantaranya menjadikan terganggunya ketertiban masyarakat dan menimbulkan keresahan yang menjadikan terganggunya interaksi sosial yang ada. Pengaruh buruk tersebut dapat berdampak lebih besar dan lebih masif jika tidak ditangani dengan segera sehingga aparat penegak hukum terutama pihak kepolisian wajib mengambil tindakan secara serius dan tegas untuk meminimalisir dan
mencegah adanya tindak kriminal termasuk perjudian yang sering dilakukan masyarakat.
Kartini Kartono menjelaskan bahwasanya perjudian adalah penyakit sosial yang keberadaannya telah lama dan dapat menyebabkan timbulnya pidana contohnya mencuri, merampok dan juga menipu di mana hal tersebut menjadikan masyarakat resah.2 Perjudian juga turut memberikan banyak permasalahan lain misalnya seseorang menjadi kecanduan karena timbulnya rasa penasaran yang berlebih agar dapat memperoleh kemenangan dalam perjudian tersebut sehingga seringkali ia tidak mau berhenti meskipun telah banyak harta benda yang hilang akibat kalah dalam berjudi. Pengaruh buruk dari perjudian yakni menjadikan ekonomi masyarakat menurun hingga pertikaian dengan sesama. Perjudian juga dapat membuat seseorang melakukan pidana lainnya misalnya dengan melakukan pencurian, perampokan hingga bahkan pembunuhan.
Perjudian yang termasuk ke dalam penyimpangan masyarakat dan juga sebagai delik pidana penegakan hukumnya harus dilakukan dengan optimal.
Aturan-aturan yang dimuat dalam pasal perundang-undangan yang mengatur terkait perjudian mempunyai beberapa kategori yang bervariasi agar dapat menetapkan status dari pelaku delik pidana tersebut dan jenis judi yang dilakukannya. Terdapat berbagai unsur dalam menetapkan kategori pidana perjudian, misalnya yaitu terdapatnya harapan orang agar memperoleh
2 Kartini Kartono, Patologi sosial ( Jakarta: Rajawali Jilid I,1981),67.
3
kemenangan yang sifatnya untuk keuntungan dan adanya penghargaan untuk kemampuan karena kelihatan dan terbiasanya pemain tersebut dalam berjudi.
Hal ini sangat beralasan karena judi adalah ancaman yang nyata untuk ketertiban masyarakat karena selain bertentangan terhadap norma keagamaan juga bertentangan terhadap norma sosial yang bisa menjadikan adanya pertikaian di antara masyarakat. Judi adalah ancaman yang nyata dan juga ancaman potensial yang merusak ketertiban masyarakat sehingga judi juga akan menjadikan terhambatnya pembangunan secara nasional sebab menjadikan masyarakat memiliki karakter pemalas dan enggan bekerja untuk mendapatkan nafkah. Sementara di lain sisi pembangunan tentunya memerlukan individu yang memiliki karakter giat dalam bekerja serta memiliki mental yang kuat. Alasan-alasan tersebut menjadikan argumen yang sangat tepat untuk segera menemukan solusi yang logis dalam memecahkan delik pidana perjudian.3
Dalam kehidupan sehari-hari, perjudian telah menyebar luas dalam berbagai bentuk. Fenomena ini membuat Sebagian besar masyarakat terlihat Acuh dan cenderung menganggap hal tersebut biasa dan tidak bertentangan dengan hukum. Bahkan terdapat masyarakat yang menganggap judi hanya sebagai pelanggaran kecil yang tidak berarti. Akibatnya praktik perjudian ini menghabiskan sejumlah besar uang masyarakat yang tak sedikit dan tampaknya aparat penegak hukum pun tidak terlalu serius menjawab permasalahan perjudian ini.
3 Alif farikhin Ikhfadhi Tinjauan yuridis terhadap tindak pidana perjudian dengan menggunakan kartu joker (Putusan nomor: 281/pid.B/2016/PN.BNA)(Skripsi-Universitas Negeri Jember,2019)
Dalam menghadapi kejahatan perjudian, mereka yang tidak terlibat langsung dalam praktik tersebut seharusnya turut serta dalam upaya memberantas perjudian di lingkungan mereka. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melaporkan keberadaan perjudian kepada pihak berwajib, sehingga para pelaku perjudian dapat ditangkap dan tindak pidana perjudian dapat dikurangi. Tindakan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan memiliki kesadaran hukum. Bagi mereka yang terlibat dalam perjudian, penting bagi mereka untuk menyadari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka. Mereka harus berupaya untuk tidak terlibat dalam aktivitas perjudian dan bekerja sama dalam memberantas dan menghapus praktik perjudian di sekitar mereka. Dengan keterlibatan dan kesadaran bersama ini, diharapkan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang bebas dari perjudian dan mendorong kesadaran akan pentingnya menjunjung tinggi hukum.
Pasal 2 Undang-undang No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian mengubah ancaman hukuman yang tercantum dalam Pasal 303 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sebelumnya, ancaman hukuman tersebut berupa penjara dengan maksimal 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak- banyaknya 90.000 rupiah. Namun, dengan perubahan tersebut, ancaman hukuman yang diberlakukan adalah penjara dengan maksimal 10 tahun dan denda sebanyak-banyaknya 25 juta rupiah.
Melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain, menyebabkan kesengsaraan, atau memberikan penderitaan yang lebih berat tidaklah dapat
5
dibenarkan oleh agama manapun. Perjudian merupakan contoh nyata di mana praktik ini tidak memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya, melainkan justru memperburuk kondisi yang sudah ada. Dalam konteks hukum Islam, Judi adalah tindakan pelanggaran. Dalam sistem hukum Islam ini judi bisa diberikan sanksi takzir. Hukum takzir merupakan sanksi terhadap delik yang tidak memiliki aturan hukuman yang tegas oleh syariat namun ditetapkan oleh otoritas berwenang yaitu Hakim. Dalam menetapkan hukuman ta'zir, perlu memperhatikan petunjuk syariat secara cermat, karena hal ini berkaitan dengan kemaslahatan umum. Salah satu prinsip yang terkait dengan hukuman ta'zir dalam konteks kemaslahatan umum adalah:
م رودي ريزعتلا ةحلصملا ع
Artinya: “Ta’zir bergantung pada kemaslahatan umum”4
Perjudian sering ditemukan di banyak lokasi yang mungkin sulit untuk dilacak aparat berwajib. Bahkan seringkali perjudian terjadi di dekat pemukiman penduduk. Fenomena ini juga dapat diamati di sekitar lokasi kita, termasuk Desa Sukorambi sebagai contohnya.
Di Desa Sukorambi, salah satu bentuk perjudian yang masih marak hingga saat ini adalah judi sabung ayam. Masyarakat setempat menganggap perjudian sabung ayam sebagai mata pencaharian mereka. Sehari-hari, pikiran mereka hanya tertuju pada ayam dan seringkali mereka mengabaikan tanggung jawab terhadap istri dan anak-anak mereka. Akibatnya, konflik dalam keluarga pun sering terjadi. Masyarakat ini tidak memikirkan kerugian
4 Mukhtar Yahya dan Fatkhur Rahman, Dasar-Dasar Pembinaan Fiqh Islam, (Bandung:
Al Ma’rif,1986),105
yang mungkin terjadi, tetapi hanya fokus pada keuntungan yang dapat mereka peroleh dari kemenangan. Sabung ayam bukan hanya dianggap sebagai hobi, tetapi juga menjadi ajang taruhan dan perjudian bagi masyarakat di Desa Sukorambi. Sebagian masyarakat melihat permainan sabung ayam sebagai bagian dari kehidupan mereka. Praktik ini dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia, baik remaja maupun orang tua. Namun, perlu diingat bahwa perjudian, termasuk sabung ayam, memiliki konsekuensi negatif yang dapat merugikan individu dan masyarakat secara luas.
Sabung ayam dalam konteks yang di jelaskan adalah suatu bentuk aktivitas perjudian di mana dua ayam jantan diperlombakan dalam sebuah arena khusus. Praktik ini melibatkan pemilik ayam yang juga diistilahkan sebagai pemain dan dilakukan dengan sukarela. Pertaruhan uang terjadi di antara pemilik ayam di mana pemenang akan mendapatkan uang taruhan tersebut. Praktek judi sabung ayam di desa Sukorambi dilakukan dengan mengadu 2 ayam jantan pada suatu arena yang sudah disiapkan. Dalam judi sabung ayam kedua pihak yaitu pemilik ayam tersebut sepakat melakukan serah terima uang maupun barang berharga berdasarkan hasil kesepakatan.
Kegiatan ini biasanya berlangsung setiap harinya terutama di pagi hingga sore hari. Meskipun jumlah dari pemain sabung ayam tidak dibatasi, akan tetapi mereka harus menunggu sebab setiap pertandingan hanyalah terdapat dua peserta. Praktik judi sabung ayam ini biasanya hanya melibatkan laki-laki.
Namun, penting untuk diingat bahwa judi sabung ayam termasuk dalam kategori tindak pidana perjudian, di mana kegiatan ini melanggar hukum di
7
banyak yurisdiksi. Praktik perjudian ini dapat memiliki dampak negatif pada kesejahteraan ayam yang terlibat serta memicu konflik sosial dan masalah lain dalam masyarakat.
Benar bahwa dalam pertarungan sabung ayam, kedua pihak mencoba untuk memperoleh kemenangan dan mengalahkan lawan. Praktik judi sabung ayam ini melibatkan tindakan yang melanggar hukum dan dapat menimbulkan dampak negatif serta sangat merugikan masyarakat di Desa Sukorambi.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi seseorang untuk terlibat dalam kejahatan perjudian ini. Faktor-faktor tersebut bisa bervariasi, seperti tekanan ekonomi, lingkungan sosial yang mempromosikan perjudian, atau adanya keinginan untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak sah.
Akibat sabung ayam ini sangat berbahaya bagi masyarakat. Selain merugikan secara finansial, praktik ini juga dapat memicu konflik sosial, merusak hubungan antar warga, dan menimbulkan gangguan keamanan.
Selain itu, kesejahteraan hewan dalam hal ini ayam juga terancam karena mereka diperlakukan sebagai objek pertarungan dan seringkali mengalami perlakuan yang kejam. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dampak negatif dari perjudian sabung ayam ini dan mengambil tindakan untuk menghentikan praktik ini guna melindungi masyarakat dan kesejahteraan mereka.
Praktik perjudian sabung ayam di Desa Sukorambi memiliki dampak merugikan yang signifikan dan dapat mengganggu ketenangan masyarakat.
Selain itu, pengaruhnya pada anak-anak juga sangat besar dan berpotensi
membuat mereka terlibat dalam tindak pidana perjudian. Praktik perjudian sabung ayam yang terjadi di sekitar lingkungan anak-anak dapat mempengaruhi mereka secara negatif. Anak-anak cenderung meniru dan terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan alami di sekitar mereka. Jika mereka sering melihat dan terpapar dengan kegiatan perjudian sabung ayam, mereka bisa tertarik dan tergoda untuk ikut serta dalam tindakan yang melanggar hukum tersebut.
Keterlibatan anak-anak dalam tindak pidana perjudian tidak hanya berdampak pada masa depan mereka, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak sehat di masyarakat. Penting bagi orang dewasa, keluarga, dan komunitas untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada anak-anak tentang bahaya perjudian, serta memberikan alternatif yang positif dan membangun untuk mengisi waktu luang mereka. Selain itu, tindakan pencegahan dan penegakan hukum yang tegas juga perlu dilakukan untuk melindungi anak-anak dari paparan dan keterlibatan dalam tindakan perjudian yang melanggar hukum tersebut. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, mendidik, dan melindungi generasi muda dari pengaruh negatif perjudian sabung ayam dan kegiatan ilegal lainnya.
Judi sabung ayam di Desa Sukorambi ini meskipun adanya aparat penegak hukum belum dinilai tegas dalam bertindak, dan kurang perhatiannya aparat penegak hukum terhadap masyarakat dalam mengantisipasi kasus perjudian sabung ayam (tajen) yang sifatnya berulang mengakibatkan adanya beberapa masyarakat yang belum mengetahui aturan yang berlaku serta
9
adanya masyarakat yang melanggar ketentuan hukum yang berlaku walaupun telah mengetahui peraturan tersebut.
Berdasarkan fenomena diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul skripsi tentang “TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PERJUDIAN SABUNG AYAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NO.7 TAHUN 1974 TENTANG PERJUDIAN DAN HUKUM PIDANA ISLAM (Studi Kasus Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember)”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis menguraikan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Praktek Perjudian Sabung Ayam di desa Sukorambi?
2. Bagaimana Sanksi Hukum Terhadap Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam di Desa Sukorambi dalam Perspektif Undang-undang No.7 tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian?
3. Bagaimana Sanksi Hukum Terhadap Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam dalam Perspektif Hukum Pidana Islam?
C. Tujuan Penelitian
Dalam melakukan penelitian, tujuan penelitian menjadi panduan yang memberikan arah dan fokus pada upaya peneliti. Penting untuk memastikan bahwa tujuan penelitian konsisten dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan penelitian ini berfungsi sebagai landasan
untuk mencapai hasil yang diharapkan dan menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan.5
1. Untuk mengetahui Praktek Pejudian Sabung Ayam di Desa Sukorambi 2. Untuk mengetahui Sanksi Hukum Terhadap Tindak Pidana Perjudian
Sabung Ayam di Desa Sukorambi dalam Perspektif Undang-undang No.7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
3. Untuk mengetahui Sanksi Hukum terhadap Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam dalam Perspektif Hukum Pidana Islam
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis
1. Manfaat Teoritis
Tujuan studi ini untuk meningkatkan pemahaman kita terutama dalam aspek yuridis terkait delik judi sabung ayam dengan mempertimbangkan perspektif UU No. 7 tahun 1974 terkait penertiban perjudian dan juga fiqih jinayah. Studi ini semoga bisa menjadikan tambahan pengetahuan dan referensi untuk peneliti berikutnya.
2. Manfaat praktis a. Bagi peneliti
Penelitian ini akan memberi kontribusi untuk memperluas pemahaman peneliti tentang penyusunan karya ilmiah, serta mempelajari prinsip-prinsip dasar yang wajib diperhatikan selama penelitian. Selain itu, penelitian ini juga akan memberikan panduan
5 Institut Agama Islam Negeri Jember, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, ( Jember: IAIN Jember Press, 2016), 37.
11
praktis bagi penulis-penulis pemula dalam mengembangkan ilmu yang mereka peroleh selama studi di perguruan tinggi.
b. Bagi UIN Khas Jember
Studi ini bisa menjadi tambahan literatur yang berharga dan sumber referensi yang relevan untuk institusi UIN khas Jember serta mahasiswa yang memiliki minat mengkaji lebih lanjut dalam bidang aspek yuridis terkait delik judi sabung ayam dengan mempertimbangkan perspektif UU No. 7 tahun 1974 perihal penertiban perjudian dan juga fiqih jinayah.
c. Bagi lembaga yang di teliti
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat disajikan gambaran yang jelas mengenai aspek hukum terkait dengan perjudian sabung ayam, baik dari segi peraturan yang diatur dalam Undang-Undang No.
7 tahun 1974 maupun dalam konteks hukum pidana Islam. Penelitian ini akan menyajikan informasi yang berkualitas dan terperinci mengenai peraturan hukum yang relevan, proses penegakan hukum, dan implikasi serta konsekuensi hukum yang berkaitan dengan perjudian sabung ayam.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah adalah suatu daftar memuat penjelasan terkait istilah berguna yang digunakan dalam judul penelitian. Tujuan dari menyertakan definisi istilah ini adalah untuk mencegah terjadinya kekeliruan Dalam
pemahaman terhadap makna yang ditulis peneliti. Dalam studi ini terdapat berbagai istilah penting yang perlu didefinisikan yakni:6
1. Tindak Pidana perjudian
Berdasarkan Pompei, istilah straf-baar-feit bisa didefinisikan menjadi pelanggaran terhadap norma hukum oleh pelaku dengan Sengaja maupun tidak, di mana pemberian sanksi terhadap pelaku tersebut diperlukan untuk menjaga ketertiban hukum dan melindungi kepentingan umum. Dalam konteks ini, straf-baar-feit mengacu pada tindak pidana atau pelanggaran hukum yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, di mana penegakan hukuman terhadap pelaku menjadi penting sebagai sarana untuk memastikan terjaganya ketertiban hukum dan melindungi kepentingan umum. Rumusan ini menyiratkan bahwa penjatuhan hukuman terhadap pelaku adalah suatu keharusan dalam rangka menegakkan aturan hukum dan memastikan terpenuhinya kepentingan masyarakat secara umum. Dengan demikian, konsep straf-baar-feit menekankan pentingnya penegakan hukum sebagai alat untuk memelihara tatanan sosial yang teratur dan melindungi kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Pendapat Moeljatno menyatakan bahwasanya stroke straf-baar-feit adalah perbuatan pidana yang terbatas pada adanya aturan dan juga ancaman pemberian hukuman bagi siapapun yang melakukan pelanggaran sehingga menjadikan masyarakat memiliki anggapan bahwasanya tindakan tersebut dilarang dan mengganggu terciptanya ketertiban dalam pergaulan
6Tim Penyusun Institut Agama Islam Negeri Jember, Pedoman Penulis Karya Ilmiah (Jember.IAIN Press,2019),45
13
sosial. Dalam pandangan ini Moeljatno menekankan bahwasanya delik pidana merupakan tindakan yang dilarang secara hukum dan memiliki konsekuensi pidana. Penting bagi masyarakat untuk merasakan bahwa pelanggaran terhadap larangan tersebut adalah perbuatan yang tidak diterima dan dapat mengganggu terciptanya tatanan sosial yang diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, Moeljatno menegaskan bahwa tujuan penjatuhan pidana adalah untuk menciptakan kesadaran di masyarakat bahwa pelanggaran terhadap larangan tersebut harus dihindari dan dianggap sebagai sesuatu yang merugikan bagi tata pergaulan sosial yang diharapkan.7
Tindak pidana merupakan suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan berdasarkan hukum serta dapat dikenai dengan pidana. Istilah tindakan dalam konteks ini mencakup dua jenis yaitu perbuatan aktif yang melibatkan melakukan suatu hal yang dilarang hukum dan tindakan pasif yang mencakup tidak melakukan suatu hal yang diwajibkan hukum. Dalam kedua jenis perbuatan ini, melanggar larangan atau tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan oleh hukum dapat berakibat pada penjatuhan hukuman pidana.8
Tindak pidana perjudian merupakan suatu bentuk permainan di mana seseorang dapat memperoleh keuntungan. Keuntungan tersebut diperoleh melalui hasil taruhan yang berhasil dimenangkan dalam permainan atau kompetisi. Penting untuk diingat bahwa semua bentuk
7 Muhammad Aenur Rosyid, Buku Ajar Hukum Pidana (Jember: Institut Agama Islam Negeri Jember,2021), 39
8 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafik,2009),2
tindak pidana perjudian termasuk dalam kategori kejahatan. Alasannya adalah karena perjudian melanggar nilai-nilai agama, kesusilaan, dan moralitas Pancasila. Selain itu, perjudian juga mengancam stabilitas kehidupan sosial dalam masyarakat, serta mengganggu integritas dalam kehidupan bernegara sehingga wajib untuk menghindari tindak pidana perjudian demi menjaga Harmoni dan keadilan dalam masyarakat
Perjudian adalah suatu kegiatan di mana individu bertarung dengan memilih salah satu dari Berbagai opsi yang ada. Pemain yang benar akan menjadi pemenang dan yang kalah harus rela memberi taruhannya untuk pemenang. Aturan serta jumlah taruhan biasanya ditetapkan ketika pertandingan hendak dimulai dan hal ini mengatur jalannya permainan serta nilai yang dipertaruhkan
2. Sabung Ayam
Sabung ayam bentuk permainan di mana dua ekor ayam diadu dalam sebuah arena atau kalangan. Dalam permainan ini, ayam-ayam tersebut akan saling beradu untuk menentukan pemenangnya. Biasanya, pertarungan berlangsung hingga salah satu ayam mengalami kekalahan, bahkan dalam beberapa kasus, bisa berakibat pada kematian ayam tersebut.
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974
UU No. 7 Tahun 1974 tentang penertiban perjudian yang di Undangkan pada tanggal 6 November 1974 yang inti isinya bahwasannya semua tindak pidana perjudian itu kejahatan.
15
4. Hukum Pidana Islam
Hukum pidana Islam merujuk pada serangkaian aturan hukum yang mengatur tindak kriminal dari individu yang mukallaf yaitu mereka yang memiliki kewajiban agama. Sumber hukum Islam yaitu Alquran serta hadis, menjadi dasar pemahaman dan penjabaran rinci terkait aturan hukum pidana dalam konteks agama Islam. Melalui interpretasi dan penggunaan dalil-dalil hukum tersebut, hukum pidana Islam menetapkan sanksi dan hukuman yang berlaku untuk pelanggaran-pelanggaran tertentu yang dianggap sebagai tindak pidana dalam pandangan agama Islam.9 F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan adalah elemen pokok dalam setiap penelitian.
Tujuannya adalah untuk menyusun dan mengorganisir pembahasan secara terstruktur, sehingga memudahkan pemahaman dan peninjauan terhadap isi penelitian. Sistematika pembahasan juga berfungsi sebagai panduan bagi pembaca untuk mengikuti alur penelitian dari bab pendahuluan sampai bab penutup. Berikut adalah sistematika pembahasan yang digunakan:
Bab I: Pendahuluan, Bab I merupakan bagian pendahuluan yang mencakup beberapa sub bagian yang menjelaskan latar belakang masalah, fokus dan manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.
Tujuan bab adalah memberikan penjelasan yang rinci dan mendalam mengenai topik penelitian yang akan dikaji.
9 Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta : Sinar Grafika,2009)1.
Bab II: Kajian Pustaka merupakan kajian pustaka dalam penelitian ini.
Pada bab ini, terdapat dua sub bagian utama, yaitu penelitian terdahulu dan kajian teori, yang akan menjadi dasar dan pendukung bagi karya ilmiah ini dalam konteks perjudian sabung ayam.
Bab III: Metode Penelitian, adalah bab yang mencakup metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini. Bagian ini memuat sebagian yang mengkaji secara detail mengenai pendekatan penelitian, jenis dan lokasi penelitian, metode mengumpulkan data, analisis serta keabsahan data
Bab IV: Hasil penelitian merupakan bagian yang memaparkan inti dan hasil dari studi ini. Bagian ini menerangkan secara detail terkait objek yang diteliti, penyajian dan analisis data serta pembahasan mengenai tinjauan yuridis delik perjudian sabung ayam menurut UU No. 7 tahun 1974 perihal penertiban perjudian dan Hukum Pidana Islam.
Bab V: Kesimpulan dan Saran, adalah penutup dari penelitian ini yang memuat kesimpulan bersumber dari hasil penelitian serta saran sebagai panduan peneliti berikutnya.
17 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Bagian ini bertujuan memperoleh gambaran terkait pembahasan Penelitian terhadap penelitian lainnya yang relevan. Peneliti selama proses penelusuran berhasil menemukan berbagai penelitian yang hampir mempunyai kesamaan dengan penelitian ini dan diantaranya adalah:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Syahdan Pais pada tahun 2021 dengan mengambil judul “Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam (Studi pada Kepolisian Resor Kota Barelang)”.10
Hasil penelitian yang dibahas oleh peneliti Syahdan Pais, Sub fokus penelitiannya yakni mengkaji tentang kendala dan usaha penegakan hukum atas pelaku delik judi sabung ayam
Yang menjadi perbedaan penelitian penulis Syahdan Pais yakni Mengenai bagaimana kendala dan usaha penegakan hukum atas pelaku delik judi sabung ayam sedangkan penelitian ini objeknya tentang bagaimana praktek perjudian sabung ayam di Desa Sukorambi. Dan juga persamaannya yaitu membahas terkait perjudian
2. Penelitian ini dilakukan oleh Abdul Ghoni pada tahun 2017 dengan judul “ Fenomena Perjudian sabung ayam di masyarakat kapung Galian Kumejing Desa Sukamirni Kecamatan Sukakarya kabupaten Bekasi”.11
10 Skripsi oleh Syahdan Pais, Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam (Studi pada Kepolisian Resor Kota Barelang) ( Universitas Putera Batam,2021),
Hasil penelitian yang dibahas oleh peneliti Abdul Ghoni, sub focus penelitiannya mengkaji fenomena judi sabung ayam di masyarakat kampung Galian Kumejing Kabupaten Bekasi. Perbedaan : Objek penelitian yang dilakukan oleh Abdul Ghoni Mengenai bagaimana judi sabung ayam yang ada di masyarakat Kampung Galian sedangkan penelitian ini objek penelitiannya tidak mengacu pada fenomena tersebut melainkan mengacu pada judi sabung ayam di Desa Sukorambi. Dengan persamaan keduanya membahas perjudian melalui sabung ayam.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Karmila pada tahun 2016 dengan mengambil judul “ Tinjauan kriminologi tentang tindak pidana perjudian sabung ayam di Kabupaten Bone”12
Hasil penelitian yang dibahas oleh peneliti Karmila, sub fokus penelitiannya mengkaji tentang faktor penyebab adanya judi sabung ayam di Kabupaten Bone.
Perbedaannya Objek penelitian yang dilakukan oleh Karmila berlokasi di Kabupaten Bone, sedangkan penelitian tinjauan yuridis tindak pidana perjudian sabung ayam ini dilakukan di Desa Sukorambi. Dan keduanya sama-sama membahas tindak pidana perjudian sabung ayam.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Alif farikhin Ikhfadhi pada Tahun 2019 dengan judul “ Tinjauan yuridis terhadap tindak pidana perjudian dengan
11 Skripsi oleh Abdul Ghoni, Fenomena Perjudian sabung ayam di masyarakat kapung Galian Kumejing Desa Sukamirni Kecamatan Sukakarya kabupaten Bekasi(Universitas Negeri Yogyakarta,2017),
12 Skripsi oleh Karmila,Tinjauan Kriminologi Tentang Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam Di Kabupaten Bone (Studi Pada Polres Bone) (Skripsi-Universitas Negeri Makassar,2016),
19
menggunakan kartu joker” (Putusan nomor:
281/pid.B/2016/PN.BNA)(Skripsi-Universitas Negeri Jember,2019)
Hasil penelitian yang dibahas oleh peneliti Alif farikhin Ikhfadhi:
Sub fokus penelitiannya yakni mengkaji hasil pertimbangan Hakim untuk memberikan hukuman terhadap pelaku judi kartu joker (Putusan nomor:
281/pid.B/2016/PN.BNA)13
5. Penelitian yang dilakukan oleh Nasori pada Tahun 2010 dengan judul “ Perjudian dalam pandangan Hukum Islam dan KUHP (Kajian terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan)”
Hasil penelitian yang dibahas oleh peneliti Nasori: Sub fokus penelitiannya yakni mengkaji tentang judi perspektif fikih jinayah dan KUHP. Yang menjadi perbedaan dengan penelitian ini yakni dalam penelitian ini tidak mengkaji KUHP melainkan dengan Undang-undang.
Tabel 2.1 Kajian Terdahulu
No Judul Persamaan Perbedaan
1 Skripsi yang ditulis oleh Syahdan Pais pada tahun 2021 dengan judul Penegkan
Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Perjudian Sabung Ayam (Studi pada Kepolisian Resor Kota Balerang)
Keduanya meneliti tentang perjudian
Fokus penelitian terdahulu kendala dan usaha menegakkan hukum terhadap judi
sabung ayam
sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti yakni fokus terhadap sanksi delik judi sabung ayam
13 Skripsi oleh Alif farikhin Ikhfadh injauan yuridis terhadap tindak pidana perjudian dengan menggunakan kartu joker (Putusan nomor: 281/pid.B/2016/PN.BNA),(Universitas Negeri Jember,2019)
2 Skripsi yang ditulis oleh Abdul Ghoni pada tahun 2017 dengan judul Fenomena Perjudian Sabung Ayam di masyarakat Kapung Galian Kumejing Desa Sukamirni Kumejing Kecamatan
Sukakarya Kabupaten Bekasi.
Sama-sama membahas perjudian
melalui sabung ayam
Jenis dan metode
penelitian yaitu deskriptif
kualitatif
Penelitian terdahulu lebih fokus terhadap fenomena Juli sabung ayam sementara fokus penelitian-penelitian yakni praktek judi sabung ayam
3 Skripsi yang ditulis oleh Karmila pada tahun 2016 dengan mengambil judul Tinjaun kriminologi tentang tindak pidana perjudian sabnung ayam di Kabupaten Bone.
Membahas terkait delik judi sabung ayam
Studi terdahulu lokasi penelitiannya di
Polres Bone
sementara penelitian ini dilakukan di Desa Sukorambi
4
Skripsi yang ditulis oleh Alif farikhin Ikhfadhi pada Tahun 2019 dengan judul Tinjaun kriminologi tentang tindak pidana perjudian sabnung ayam di Kabupaten Bone.
Keduanya membahas tentang perjudian
Penelitian terdahulu melakukan penelitian terkait tentang kartu joker sedangkan peneliti terkait sabung ayam.
5
Skripsi yang ditulis oleh Nasori Tahun 2010 dengan judul perjudian dalam Hukum Islam dan KUHP (Kajian terhadap Putusan pengadilan Negeri Selatan.
Sama-sama membahas perjudian dalam pandangan hukum Islam
Penelitian terdahulu melakukan penelitian terkait perjudian dalam pandangan KUHP sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti
yakni dalam
perspektif Undang- undang No.7 Tahun
1974 Tentang
Penertiban Perjudian B. Kajian Teori
1. Teori Tindak Pidana
Teori tindak pidana. Istilah tindak pidana adalah terjemahan kata strafbaar feit yang mencakup 3 kata yakni straf yang artinya pidana, baar yang berarti boleh dan feit yang berarti tindakan. Terkait hal tersebut
21
secara keseluruhan terjemahan straf sering digunakan sebagai kata hukum.
Sementara kata baar memiliki dua terjemahan yaitu diperbolehkan dan didapatkan. Sementara feit diterjemahkan dalam 4 makna yaitu tindakan, perbuatan, pelanggaran dan kejadian.14
Berdasarkan pendapat pakar mengenai strafbaar feit yaitu:
a. Berdasarkan pendapat Moeljatno, istilah Strafbaar feit dapat diartikan sebagai perbuatan pidana. Beliau menjelaskan bahwasanya pidana merupakan tindakan yang tidak boleh dilakukan serta diancam dengan hukuman, dan jika ada pelanggaran maka harus benar-benar menjadikan masyarakat resah dan mengganggu ketertiban sosial. Oleh karena itu tindak pidana harus mengandung unsur materil yang bertentangan dengan keinginan pergaulan masyarakat. Oleh karena itu, perbuatan pidana secara mutlak harus mengandung unsur materiil yang bertentangan dengan cita-cita tentang pergaulan masyarakat atau dengan kata lain, melanggar hukum.15
b. Berdasarkan R Kresna, tindak pidana merupakan tindakan maupun serangkaian tindakan seseorang yang melanggar perundang- undangan.16
c. Menurut Wirjono Prodjodikoro, tindak pidana adalah tindakan yang menjadikan pelakunya bisa dikenai sanksi pidana dan pelaku tersebut bisa dianggap menjadi subjek perbuatan pidana.17
14 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 69.
15 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana (Jakarta: Rineke, 1993),56.
16 R. Tresna, Asas-asas Hukum Pidana Disertai Pembahasan beberapa Perbuatan Pidana yang Penting ( Jakarta: Tiara LTD),27.
d. S.R. Sianturi mengartikan strafbaar feit atau delik pidana sebagai perbuatan yang dilakukan di waktu, lokasi maupun kondisi tertentu yang sifatnya dilarang dan juga diwajibkan oleh undang-undang serta bisa dikenai hukuman. Tindakan tersebut sifatnya bertentangan dengan hukum dan dilaksanakan oleh manusia yang dapat memiliki pertanggungjawaban. Berikutnya unsur dari pidana mencakup subjek pelaku, kesalahan, sifat melanggar hukum, perbuatan yang dilarang serta bisa diberikan hukuman berdasarkan undang-undang dan faktor waktu, tempat serta kondisi tertentu.18
Pompe menjelaskan bahwasanya terdapat dua jenis definisi strafbaar feit yakni:
a. Menurut definisi teoritis, strafbaar feit atau tindak pidana merupakan pelanggaran terhadap norma yang harus dikenai pidana sebagai akibat dari pelanggaran tersebut, dengan tujuan untuk menjaga kemaslahatan bersama
b. Definisi yang bersifat perundang-undangan menjelaskan bahwa strafbaar feit atau atau delik pidana merupakan peristiwa yang
ditentukan oleh undang-undang yang melibatkan tindakan aktif dan kelalaian dan umumnya terjadi di peristiwa maupun kondisi tertentu.19
Delik pidana merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum serta bisa dikenai dengan pidana. Penting untuk diingat bahwasanya larangan
17 Wirjono prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia (Jakarta: Eresco, 1996), 50.
18 S.R. Siaturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dana Penerapannya (Jakarta:
alumni AHM-PTHM,1986),211.
19 Zainal Abidin, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), 225.
23
yang dimaksud ditujukan untuk tindakan yang dilakukan oleh manusia, bukan oleh hal-hal lain. Secara sederhana tindak pidana dapat diartikan sebagai tindakan pelanggaran terhadap aturan hukum dan bisa dijerat dengan hukuman bagi siapa saja yang melanggarnya.20
Perbuatan pidana didefinisikan pula sebagai dasar utama untuk penjatuhan hukuman terhadap seseorang yang berbuat pidana, berdasarkan prinsip pertanggungjawaban individu atas perbuatannya. Namun, penting untuk memahami bahwa larangan dan ancaman pidana terkait dengan perbuatan pidana itu sendiri, yang didasarkan pada prinsip legalitas.
Prinsip legalitas menetapkan bahwasanya tidak terdapat satupun tindakan yang bisa dilarang serta diancam melalui pidana kecuali telah ditetapkan berdasarkan perundang-undangan. Perbuatan pidana adalah elemen dasar dalam pengakuan adanya kesalahan dari individu yang berbuat kejahatan
Mengenai definisi di atas, terdapat persyaratan dalam menetapkan tindakan untuk menjadikan sebagai pidana yang diantaranya:21
a. Harus tindakan dari seseorang
b. Tindakan tersebut bertentangan terhadap hukum
c. Tindakan tersebut dilarang oleh hukum serta diancam hukuman tertentu
d. Tindakan dilaksanakan oleh individu yang bisa dipertanggungjawabkan
e. Tindakan tersebut wajib bisa dipertanggungjawabkan oleh pembuat
20 Ismu Gunadi dan Jonaedi Efendi, Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana (Jakarta: Kencana Prenada media Group, 2016), 37.
21 Rasyid Ariman dan Fahmi Raghib, Hukum Pidana (Malang: Setara Press, 2015), 60.
Dan begitu pula delik dibedakan menjadi beberapa jenis yakni:
a. Delik formil merupakan jenis delik di mana perumusannya menekankan terhadap tindakan yang telah dilarang. Dalam jenis tersebut, sebuah tindakan dinilai menjadi delik pidana berdasarkan rumusan yang tercantum oleh undang-undang. Fokus utama adalah pada tindakan yang bertentangan terhadap aturan. Terkait hal tersebut aspek formal perbuatan tersebut menjadi fokus utama untuk menetapkan Apakah tindakan bisa masuk kategori delik pidana
b. Delik materiil adalah jenis delik di mana perumusannya menekankan terhadap akibat yang tidak diinginkan berdasarkan hukum. Dalam jenis tersebut, tindakan dinilai menjadi delik berdasarkan akibat atau konsekuensi yang timbul sebagai hasil dari perbuatan tersebut. Tindak pidana material terjadi ketika adanya akibat yang tidak diinginkan, sementara aspek yang dilarang oleh undang-undang menjadi masalah utama yang diperdebatkan. Dalam hal ini, fokus utama adalah pada dampak atau hasil yang timbul dari perbuatan tersebut, dan akibat tersebut menjadi penentu utama dalam menentukan apakah suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.
Hukum pidana mengatur mengenai perbuatan pidana. Tujuannya adalah menetapkan perbuatan yang dilarang hukum pidana dan hukuman yang akan diterapkan jika tindakan tersebut dilanggar. Terdapat beberapa persyaratan maupun unsur yang dijadikan karakteristik larangan tersebut sehingga bisa menjelaskan adanya perbedaan dengan tindakan lainnya yang diperbolehkan. Istilah tindak pidana merujuk pada sifat tindakannya tersebut yakni bisa dilarang dan diancam hukuman jika dilanggar. Dengan
25
adanya hukum pidana yang mengatur perbuatan pidana, diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum dan konsekuensinya.22
Berdasarkan Simon, karakteristik strafbaar feit yaitu:23 a. Tindakan dari seseorang
b. Dapat dikenai hukuman c. Bertentangan terhadap hukum
d. Dilaksanakan oleh individu yang dapat bertanggung jawab
Simon menerangkan pula bahwa terdapat beberapa unsur dalam pidana yaitu:
1) Unsur Objektif
a. Tindakan seseorang
b. Akibat nyata dari tindakan tersebut
c. Terdapat kondisi tertentu yang menyertai tindakan tersebut misalnya dijelaskan pada pasal 281 KUHP yang sifatnya di muka publik
2) Unsur Subjektif
a. Seseorang yang dapat bertanggung jawab b. Terdapat suatu kesalahan (dollus atau culpa)
c. Tindakan wajib dilaksanakan berdasarkan kesalahan
22 Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalili, Hukum Pidana (Jakarta: Mitra Wacana Media,2015), 10.
23 Rahmanuddin Tomalili, Hukum Pidana ,(Yogyakarta:CV. Budi Utama, 2012),12
2. Teori Perjudian
Menurut penjelasan bahasa, judi adalah sebuah permainan yang melibatkan penggunaan uang sebagai taruhan, seperti permainan dadu, kartu, dan lain sebagainya.24 Zainuddin Ali juga menyatakan bahwa judi adalah aktivitas di mana seseorang mencari keuntungan melalui berbagai jenis permainan, seperti permainan kartu, adu ayam, dan sepak bola, yang tidak mendorong pelakunya untuk berkreasi atau berbuat sesuatu yang kreatif.25 Dalam kedua pengertian diatas, terdapat kesamaan bahwa judi melibatkan taruhan uang dan permainan tertentu sebagai sarana untuk mencari keuntungan. Namun, pandangan Zainuddin Ali menyoroti bahwa judi tidak mendorong pelakunya untuk berkreasi atau melakukan tindakan yang kreatif.
Perjudian dapat diartikan sebagai bentuk taruhan atau permainan keberuntungan yang melibatkan permasalahan harta benda dan bisa menyebabkan kerugian banyak pihak yang terlibat. Aktivitas perjudian ini dilakukan dengan tujuan memperoleh kemenangan dan keuntungan. Pada dasarnya perjudian melibatkan kegiatan atau permainan di mana hasilnya sulit diprediksi sehingga tergolong kategori permainan keberuntungan.
Banyak negara mengatur atau melarang perjudian, karena aktivitas ini memiliki konsekuensi sosial yang kurang baik. Judi juga dapat diartikan sebagai pertaruhan secara sengaja di mana seseorang mempertaruhkan suatu hal yang dinilai berharga dengan sadar akan resikonya dan memiliki
24 Anton M. Moeliono,dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1998),363.
25 Dr. Mardani, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Kencana,2019), 166.
27
ekspektasi terhadap hasil permainan tersebut yang mana belum pasti. Oleh karena itu, judi dapat dikategorikan sebagai aktivitas yang melibatkan unsur keberuntungan bagi mereka yang terlibat dalam tindakan tersebut.
Perjudian memang merupakan masalah sosial yang melibatkan Pelanggaran atas norma dan hukum yang ada. Aktivitas perjudian seringkali dianggap sebagai bentuk kejahatan yang sulit untuk diberantas secara efektif. Dampak negatif dari perjudian dapat menghambat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Untuk mengatasi masalah perjudian, diperlukan pendekatan yang bijaksana dan serius termasuk dengan pendekatan kebijakan hukum. Hal ini mencakup pembuatan dan penerapan undang-undang serta peraturan yang bertujuan untuk mengatur, mengendalikan, dan membatasi aktivitas perjudian. Pendekatan hukum ini dapat melibatkan pengaturan izin, pengawasan, penegakan hukum, dan hukum pelaku judi yang melanggar aturan.
Berdasarkan KBBI, judi didefinisikan sebagai permainan yang melibatkan penggunaan uang taruhan. Berjudi merupakan tindakan mempertaruhkan harta ataupun uang untuk pertandingan tembakan yang didasarkan pada kebetulan semata. Tujuannya adalah memperoleh jumlah keuntungan yang sifatnya lebih besar dibandingkan nominal yang dipetakan awalnya
Pada ketetapan UU No. Tujuh tahun 1974 perihal perjudian dijabarkan:26
Pasal 1
“Bahwasannya semua tindak pidana perjudian adalah kejahatan”
Pasal 2
1. Merubah ancaman hukuman dalam pasal 303 ayat 1 Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Sembilan puluh ribu rupiah menjadi hukuman penjara selama-selamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya 25 juta rupiah.
2. Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat 1 Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya satu bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah, menjadi hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya 10 juta rupiah.
3. Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat 2 Kitab Undang- undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi hukuman penjara selama-lamanya 6 tahun atau denda sebanyak-banyaknya 15 juta rupiah
4. Merubah sebutan pasal 542 menjadi pasal 303 bis
26 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1974 Tentang penertiban perjudian
29
Pasal 3
- Pemerintah mengatur penertiban perjudian sesuai dengan jiwa dan maksud Undang-undang ini
- Pelaksanaan ayat 1 pasal ini diatur dengan peraturan perundang- undangan
Pasal 4
“Terhitung mulai berlakunya peraturan Perundang-undangan dalam rangka penertiban perjudian dimaksud pada pasal 3 undang-undang ini”
Berdasarkan PP No. 9 tahun 1981 yang mengatur pelaksanaan UU No. 7 tahun 1974. Peraturan ini memiliki fokus pada pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan perjudian. Dalam peraturan ini, ditegaskan larangan pemberian izin untuk penyelenggaraan berbagai macam perjudian baik. Larangan tersebut mencakup perjudian yang dilakukan di kasino, permainan dadu, sabung ayam, serta tempat-tempat ramai atau terkait dengan kegiatan lainnya. Jika dilihat dari berbagai pasal PP No. 9 tahun 1981, dapat disimpulkan bahwa:
Pasal 1
a. Pemberian izin pengadaan semua wujud serta macam perjudian dilarang, perjudian yang di adakan di Kasino,dadu dan juga sabung ayam di lokasi keramaian, ataupun yang dihubungkan bersama alasan lainnya.
b. Izin pengadaan perjudian yang telah diberi, dianggap dicabut serta tak berlaku semenjak 31 maret 1981.
Pasal 2
“Sesuai ketetapan pasal 4 UU No. 7 Tahun 1974 mengenai penertiban perjudian (Lembaran Negara Tahun 1974 No. 54, Tambahan Lembaran Negara 3040), bersama berlakunya peraturan pemerintah ini dianggap tak berlaku seluruh aturan Undang-undang mengenai perjudian yang berseberangan peraturan pemerintah ini”
Pasal 3
“Perihal yang berkaitan bersama larangan pemberian izin pengadaan perjudian yang belum dikontrol di peraturan pemerintah ini hendak dikontrol sendiri”
Pasal 4
“Peraturan pemerintah ini awal berlaku di tanggal diundangkan”
1) Unsur-unsur mengenai perjudian Unsur delik perjudian yaitu:27 a. Ada perbuatan
Perbuatan yang dimaksud di sini merujuk pada setiap tindakan yang dilakukan pada sebuah permainan, baik itu dilakukan langsung oleh individu seperti bermain domino, dadu, kartu, maupun sabung ayam.
27 Moeljatno, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 303.
31
b. Bersifat untung-untungan
Untung-untungan di sini merujuk pada harapan untuk memenangkan permainan yang bergantung pada faktor keberuntungan atau nasib belaka, namun juga bisa didasarkan pada kecerdasan dan keterampilan pemain.
c. Dengan mempertaruhkan uang atau barang
Setiap pemain, baik dalam permainan yang mereka mainkan sendiri maupun dalam permainan yang melibatkan partisipasi orang lain, menggunakan sarana untuk bertaruh uang atau barang.
d. Melawan hukum
Setiap permainan sebenarnya wajib memperoleh izin dari otoritas tertentu yang memiliki kewenangan. Jika permainan judi sudah memperoleh perizinan maka tidak dianggap sebagai perbuatan pidana. Jika suatu perjudian tidak mendapatkan izin berarti perjudian tersebut dianggap sebagai perbuatan pidana. Hal ini disebabkan perjudian tersebut adalah pelanggaran hukum pidana dan dianggap sebagai perbuatan yang melawan hukum.
2) Tujuan Dilarangnya Perjudian (Maisir)
Adapun beberapa tujuan dilarangnya perjudian maisir, di antaranya:28
a. Menjaga harta kekayaan
b. Menghindari agar masyarakat tidak berbuat perjudian
c. Menjaga masyarakat dari efek negatif karena tindakan perjudian
28 Perda Aceh, Qanun no. 13 tahun 2003 tentang Maisir Perjudian, Pasal 3
d. Memaksimalkan keterlibatan aktif masyarakat untuk mencegah dan memberantas tindakan perjudian
3. Teori Sabung Ayam
Sabung ayam, yang dikenal sebagai Tajeri dalam bahasa Bali dan Massaung manu dalam bahasa Bugis, telah menjadi bagian yang cukup tertanam dalam kehidupan masyarakat kita. Sabung ayam adalah perjudian yang melibatkan pertarungan dua ekor ayam jantan dengan menggunakan taji. Taji adalah pisau kecil yang dipasang pada kaki ayam dan dijadikan senjata melukai musuhnya. Pertandingan sabung ayam seringkali dilaksanakan di halaman, arena, kalangan dan tersembunyi yang sulit diawasi oleh pihak berwenang.29
a. Tahap Judi Sabung Ayam
Sabung ayam kebiasaan yang telah berlangsung dalam masyarakat.
Namun, perlu diperhatikan bahwa adu ayam melibatkan perlakuan yang menyiksa hewan. Dalam konteks perjudian, sabung ayam dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
1) Tahap awal dalam sabung ayam adalah persiapan. Para pelaku judi sabung ayam akan mempersiapkan ayam aduan dengan merawatnya secara khusus. Ayam akan dirawat dengan baik dan diberikan perawatan yang optimal, termasuk pemberian makanan bergizi dan vitamin untuk meningkatkan kondisinya. Selain itu,
29 Wikipedia Sejarah Sabung Ayam di Nusantara Diakses pada tanggal 23 Oktober 2021
10:45
http://phesolo.wordpress.com/2011/12/02sejarah-sabung-ayam-di-nusantara-bukan- sekedar-permainan-semata/?_e_pi=7%2CPAGE_ID10%2C2433095604
33
ayam juga akan diajarkan beberapa trik dan strategi bertarung agar memiliki kemampuan yang maksimal saat bertanding.
2) Tahap kedua dalam sabung ayam adalah tahap pelaksanaan pertandingan. Pada tahap ini, para pelaku sabung ayam akan membawa dua ekor ayam jago yang akan diadu. Sebelum pertandingan dimulai, tiap pihak yang mengadu ayamnya mengunjungi lokasi yang sering digunakan sebagai arena sabung ayam. Arena tersebut umumnya sedikit tertutup untuk menjaga kerahasiaan dan motivasi. Sebelum memulai pertandingan, ayam akan disamakan dulu bobotnya agar memiliki ukuran yang seimbang dengan ayam melawan. Setelah itu, kedua ayam aduan akan dibawa ke dalam arena. Di sinilah taruhan dimulai, dengan masing-masing pelaku dan penjudi lainnya memasang taruhan sesuai dengan keinginan mereka. Pertandingan sabung ayam dimulai, dan ayam-ayam tersebut akan saling beradu dengan menggunakan taji yang terpasang di kakinya. Pertarungan berlangsung dengan serangkaian pukulan dan serangan dari kedua belah pihak.30
sabung ayam mempunyai 5 ronde biasanya, di mana setiap ronde mempertemukan dua ekor ayam yang saling diadu. Sebelum setiap ronde dimulai, ayam-ayam tersebut akan disegarkan dengan memandikan atau mengairi bagian badannya. Setelah lima ronde pertandingan selesai, pada
30 Skripsi oleh Hartina UIN Raden Fatah Palembang, Persepsi Masyarakat Desa Limbang Jaya Kecamatan Tanjung batu Kabupaten Ogan Ilir Terhadap Sabung Ayam, 2018.
sesi akhir pertarungan akan ditentukan ayam mana yang menjadi pemenang. Pihak yang memiliki ayam menang dapat memperoleh keuntungan dari yang telah mereka pertaruhkan sementara pihak yang ayamnya kalah tidak mendapatkan apapun, artinya mereka mengalami kerugian. Permainan seperti ini mengandung unsur taruhan dan berjudi, yang juga dapat dihubungkan dengan spekulasi dalam mendapatkan uang.
Dalam Islam, praktik seperti ini dilarang karena melibatkan unsur taruhan dan judi, yang dianggap merugikan dan bertentangan dengan prinsip keadilan. Islam mendorong umatnya untuk mencari nafkah yang halal dan menghindari praktik yang merugikan.
Terdapat beberapa karakteristik ayam aduan atau ayam petarung yakni:31
1) Ayam pejantan dengan kepalanya berbentuk layaknya buah pinang 2) Ayam jantan yang memiliki tulang bagian kepala yang tebal serta
alisnya menjorok keluar
3) Ayam jantan dengan tulang leher yang rapat
4) Memiliki sayap yang cepat dan sesuai bentuk badannya 5) Ayam mempunyai paruh layaknya burung elang
Judi sabung ayam juga seringkali memakai beberapa jenis ayam yang digunakan yaitu:32
31Wikipedia ciri-ciri Ayam Diakses pada tanggal 26 Oktober 2021 15:30dhttps://medium.com/ciri-ciri-ayam-laga-paling-populer-di-dunia-sabung-ayam/,
32 Skripsi oleh Abdul Ghoni Universitas Negeri Yogyakarta, Fenomena Perjudian Sabung Ayam Di Masyarakat Kampung Galian Kumejing Desa Sukamurni, 2017
35
1) Ayam bangkok yang dikenal sebagai ayam sabung di Indonesia, memang berasal dari kota Bangkok, memang berasal dari Kota Bangkok, Thailand. Julukan tersebut merujuk pada asal usulnya.
Ayam Bangkok memiliki reputasi sebagai ayam yang kuat dan agresif dalam pertarungan, bahkan sampai titik kematian.
2) Ayam Burma, juga dikenal sebagai ayam Myanmar atau ayam kampong, adalah ayam liar dari Myanmar yang memiliki popularitas cukup tinggi di kalangan sabung ayam. Keberagaman ayam tersebut membuatnya menjadi jenis ayam yang disukai di dunia perjudian.
3) Ayam Saigon merupakan ayam dari persilangan yang pengembangannya dilakukan di negara Vietnam, meskipun popularitasnya tidak sebesar ayam Bangkok atau ayam Burma.
Penggemar ayam Saigon juga tergolong tidak banyak jika dibandingkan dengan jenis ayam lainnya. Meskipun demikian, ayam Saigon memiliki ciri khasnya sendiri dan memiliki penggemar setia di kalangan pecinta sabung ayam. Kekuatan dan kemampuan bertarung ayam Saigon juga tidak boleh dianggap remeh. Meskipun tidak sepopuler jenis ayam lain, ayam Saigon tetap memiliki daya tariknya tersendiri bagi sebagian penggemar sabung ayam.
4) Ayam shamo adalah ayam petarung yang memiliki ukuran yang sangat kuat dan asalnya dari Thailand meskipun ada pula dari Jepang.
Ayam shamo dari Thailand cenderung lebih digemari daripada yang berasal dari Jepang. Hal ini disebabkan oleh popularitas ayam Bangkok yang sudah terkenal di Thailand dan menjadi favorit di kalangan penggemar sabung ayam di Indonesia. Ketika ayam Shamo
dari Thailand masuk ke Indonesia, mereka mendapatkan tempat di hati para penggemar sabung ayam. Ayam Shamo Thailand memiliki reputasi yang baik dan dianggap memiliki kemampuan bertarung yang tangguh. Itulah mengapa ayam Shamo dari Thailand lebih diminati dan diincar oleh para penggemar sabung ayam di Indonesia.
5) Ayam pakhoy adalah jenis ayam yang memiliki penampilan layaknya ayam bangkok karena terbentuk dari hasil silang ayam yang berasal dari Malaysia dengan ayam dari Myanmar, Thailand hingga Brazil.
Kombinasi dari keturunan ayam-ayam tersebut menghasilkan ayam Pakhoe dengan ciri-ciri yang unik dan menarik.
4. Hukum Pidana Islam
a. Pengertian Hukum Pidana Islam
Hukuman pidana atau jarimah dalam bahasa Arab dari akar kata jarama-yajrimu-jarimatan, yang memiliki arti berbuat atau memotong. Secara terminologis, jarimah mengacu pada larangan- larangan yang ditetapkan oleh syariat (hukum Islam) dan diancam dengan hukuman hudud (hukuman tetap yang ditentukan dalam Al- Quran dan Sunnah) dan ta'zir (hukuman diskresioner yang ditetapkan oleh otoritas hukum Islam).33
Jarimah atau jinayah adalah istilah dalam Bahasa Arab yang mengacu pada hukum pidana dalam Islam Asal kata jarimah yaitu kata jarama-yajrimu-jarimatan, artinya berbuat dan memotong. Dalam terminologi hukum jarimah merujuk kepada larangan syariat dan dapat dikenai sanksi hudud serta takzir jinayah sendiri akar katanya
33 Mardani, Hukum Pidana Islam, (Jakarta : Pernada Media Group, 2019),1
37
yaitu Jana-yajni yang artinya adalah kriminal dan kejahatan. Jinayah mencakup tindakan yang dilarang sebab memiliki potensi menciptakan kerugian dalam agama, jiwa, akal hingga harta benda.
Jinayah merujuk pada sistem hukuman pidana yang berlaku berdasarkan syariat Islam dan merepresentasikan konsep seperti uqubah (hukuman), jarimah (pelanggaran hukum), dan jinayah (kejahatan).34
Berdasarkan penjelasan Nurul Irfan fikih jinayah merupakan bagian fiqih general. Fiqih sendiri adalah disiplin keilmuan yang membahas terkait aturan syariat. Dalam Islam terdapat dasar ajaran keagamaan yang mencakup tiga komponen utama yakni iman Islam dan ihsan. Aspek Islam berkaitan dengan praktik-praktik agama dan hukum-hukum yang diatur dalam syariah, dan ilmu yang mempelajari aspek ini disebut ilmu fiqh. Sedangkan aspek ihsan berkaitan dengan kesempurnaan akhlak dan pengembangan spiritual, dan ilmu yang mempelajari aspek ini disebut ilmu tasawuf.35
Terdapat tiga istilah yang sering dipakai untuk mendefinisikan Fiqih jinayah yaitu
1) Jarimah
Larangan syariat yang diancam Allah dengan sanksi takzir dan hudud.36
34Beni Ahmad Saebani Mustofa Hasan, Hukum Pidana Islam Fiqh Jinayah, (Bandung:
CV. Pustaka Setia,2020),13
35 M. Nurul Irfan, Hukum Pidana Islam, (Jakarta:Amzah, 2016),1
36 Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: PT, Bulan Bintang, 1993),1