TUGAS PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR PENYAKIT TROPIS BERBASIS VEKTOR
OLEH:
NAMA: NOBEL ARIYANTO QUERENS WIKE NIM.PO5303330210888
KELAS: 2B
POLTEKKES KEMENKES KUPANG PRODI SANITASI
2022/2023
KATA PENGANTAR
Segala puji atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, penyusunan makalah ini bisa dilakukan dengan lancar dan tepat waktu. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang telah memberikan tugas ini.
Makalah berjudul “Rabies” ini disusun sebagai tugas mata kuliah P2M. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi penulis dan juga bagi para pembaca.
Terima kasih kepada seluruh teman-teman dan keluarga yang mendukung untuk membuat makalah ini. Saya menyadari makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan.
Kupang, 9 Juni 2023
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Rabies adalah infeksi virus pada otak dan sistem saraf. Umumnya, virus penyebab rabies menular ke manusia melalui gigitan hewan. Rabies tergolong penyakit berbahaya karena berisiko menyebabkan kematian jika tidak cepat ditangani. Angka kematian akibat Rabies di Indonesia masih cukup tinggi yakni 100-156 kematian per tahun, dengan Case Fatality Rate (Tingkat Kematian) hampir 100 persen.
Hal ini menggambarkan bahwa rabies masih jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Secara statistik 98% penyakit rabies ditularkan melalui gigitan anjing, dan 2% penyakit tersebut ditularkan melalui kucing dan kera. Di Indonesia, rabies atau yang dikenal dengan istilah “penyakit anjing gila” masih menjadi salah satu penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data tahun 2020, ada 26 dari 34 propinsi di Indonesia yang belum bebas dari rabies, dengan jumlah kematian per tahun lebih dari 100 orang. Jadi hanya 8 provinsi yang bebas rabies sementara 26 provinsi lainnya masih endemik rabies.
Secara hitoris 8 provinsi tersebut adalah Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam tahun 2015-2019, kasus gigitan hewan penular rabies dilaporkan berjumlah 404.306 kasus dengan 544 kematian. Saat itu ada 5 provinsi dengan jumlah kematian tertinggi antara lain Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kejadian luar biasa (KLB) rabies tahun 2019 terakhir dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Barat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu penyakit Rabies?
2. Bagaimana etiologic rabies?
3. Bagaimana cara penularan penyakit rabies?
4. Apa saja tanda dan gejala penyakit rabies?
5. Bagaimana cara pengendalian penyakit rabies?
6. Bagaimana cara penanganan kasus penyakit rabies?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu penyakit rabies 2. Untuk mengetahui etiologi
3. Untuk mengetahui cara penularan penyakit rabies 4. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit rabies 5. Untuk mengetahui cara pengendalian penyakit rabies 6. Untuk mengetahui cara penanganan kasus penyakit rabies
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Rabies
Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies (Rhabdovirus). Penyakit enchephalomyelitis yang akut dan fatal ditandai demam, sakit kepala dan perasaan takut, kemudian disertai dengan spasme dan paralyse otot menelan (hydrophobia) dan otot pernapasan. Penyakit ini jarang terjadi pada manusia dan merupakan penyakit primer pada binatang seperti anjing, kera, kucing dan sejenis kelelawar. Penyakit ini menular kepada manusia karena gigitan binatang- binatang tersebut. Virusnya menyerang susunan saraf pusat.
Penyakit Rabies adalah suatu penyakit akibat infeksi virus rabies yang menimbulkan radang otak pada manusia. Penyakit ini sangat mematikan dan bersifat zoonotic atau menular dari hewan ke manusia penularan ini terjadi saat partikel virus yang berada dalam air liur hewan terinfeksi seperti anjing, kucing, monyet, kelelawar dan rakun berhasil masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan peka lainnya, misalnya melalui gigitan ata hewan cakaran, atau saat liur tersebut mengenai mata, mulut, hidug, atau kulit yang terluka.
B. Etiologi
Rabies disebabkan oleh virus yang tidak bersegmen dari grup V (RNA virus), golongan Mononegavirales, famili Rhabdoviridae, genus Lyssavirus, spesies Rabies virus. Selain rabies virus, yang termasuk genus Lyssavirus meliputi kelelawar lagos, virus Makola, virus Duvenhage, virus kelelawar Eropa 1 dan 2 serta virus kelelawar Australia.Rhabdovirus merupakan virus dengan panjang kira-kira 180 nm dan lebar 75 nm.
Genom rabies mempunyai 5 jenis protein : 19 nukleoprotein (N), phosphoprotein (P), matrik protein (M), glikoprotein (G) dan polimerase (L).
Semua Rhabdovirus mempunyai komponen struktur : helical ribonucleoprotein core (RNP) dan amplop di sekelilingnya. Pada RNP, RNA dilekatkan oleh nukleoprotein. Protein virus lainnya yaitu phosphoprotein dan protein besar (Lprotein atau polimerase) berhubungan dengan RNP.
Bentuk glikoprotein ratarata terdiri dari 400 trimeric spike yang melekat di permukaan virus. Protein M dihubungkan dengan amplop dan RNP atau protein pusat Rhabdovirus. Virus rabies dengan bentuk seperti peluru yang dikelilingi oleh paku-paku glikoprotein. Ribonukleoproteinnya tersusun dari RNA nukleoprotein, phosphorylated atau phosphoprotein dan polimerase.
C. Cara Penularan
Virus rabies yang ada pada air liur binatang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka gigitan. 2 – 8 minggu, bervariasi dari 20 hari sampai bertahun tergantung dari berapa besar luka dan bagian tubuh yang luka. Sampai saat ini belum ada pemeriksaan yang dapat mendiagnosis virus rabies. Penyakit baru bisa terdeteksi setelah pengidap mengalami gejala. Setelah gejala muncul, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan pada pengidap. Ini termasuk bekas gigitan, cakaran atau luka terbuka. Pemeriksaan dapat mengetahui seberapa besar risiko infeksi rabies pada pengidap. Ini kategori luka dari intensitas keparahannya:
1. Rendah. Berupa jilatan atau sentuhan di kulit.
2. Sedang. Berupa gigitan atau cakaran yang tidak menyebabkan perdarahan.
3. Tinggi. Berupa gigitan, jilatan atau cakaran pada area luka terbuka, mata atau mulut dan menyebabkan perdarahan. Setelah terdeteksi, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan prosedur ini:
1) Tes antibodi. Ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekebalan tubuh untuk melawan virus.
2) CT scan atau MRI. ini bertujuan untuk mendeteksi peradangan pada otak akibat virus.
3) Biopsi. Ini bertujuan untuk mendeteksi protein virus dari sampel jaringan luka.
4) Kultur virus rabies atau PCR. ini bertujuan untuk mendeteksi adanya air liur hewan pada luka pengidap. Prosedur diagnosis juga dilakukan pada hewan. Dokter hewan akan mengamati selama 10 hari untuk melihat tanda rabies. Ada atau tidaknya gejala rabies pada hewan, dokter akan menyuntikkan vaksin untuk meminimalisir risiko infeksi.
D. Tanda Dan Gejala 1) Demam 2) Sakit kepala 3) Anorexia
4) Sangat gelisah dan gugup
5) Kadang-kadang penderita sangat murung (depresif) 6) Luka gigitan terasa gatal dan panas seperti terbakar
7) Otot menelannya lumpuh dan terasa sakit bila menelan sehingga air ludah penderita akan berceceran keluar dari mulutnya
8) Hydrophobia (takut air) Penderita hampir 100% meninggal, namu apabila berhasil sembuh biasanya dengan gejala sisa berupa kelumpuhan, kepandaian menurun ataupun gejala neurologis lainnya.
E. Cara Pengendalian
Pengendalian kematian akibat rabies pada manusia ditentukan oleh:
1) Menghindari gigitan anjing atau hewan rabies lainnya.
2) Penanganan luka Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang tepat.
3) Pemberian Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR).
4) Vaksinasi rabies pada binatang (anjing) peliharaan 5) Memusnahkan anjing liar
6) Pemberian imunisasi pada orang yang digigit binatang yang dicurigai menderita rabies dan pada orang yang mempunyai risiko tertular rabies (karyawan penangkap anjing, dokter hewan, petugas laboratorium.
7) Registrasi kepemilikan binatang peliharaan (anjing)
F. Cara Penanganan
1) Penderita tersangka rabies segera dirujuk ke rumah sakit
2) Sebelum dirujuk, penderita diinfus dengan cairan Ringer Laktat atau NaCl 0,9%. Kalau perlu berikan antikonvulsan dan sebaiknya penderita difiksasi selama di perjalanan. Waspadai tindak-tanduk penderita yang tidak rasional dan kadang-kadang maniakal disertai saat-saat responsif.
3) Di rumah sakit penderita dirawat di ruang isolasi.
4) Tindakan medis dan pemberian obatobatan simptomatis dan suportif termasuk antibiotika bila diperlukan.
5) Untuk menghindari adanya kemungkinan penularan dari penderita, maka sewaktu menangani penderita rabies handaknya dokter dan paramedis memakai sarung tangan, kacamata (goggle) dan masker serta melakukan fiksasi penderita di tempat tidurnya.
6) Jika petugas medis atau paramedis yang merawat penderita rabies, belum pernah mendapatkan vaksin anti rabies dan tidak memakai alat pelindung diri kemudian terkena muntahan atau saliva dari penderita pada kulit terbuka atau mukosa mulut/ mata maka disarankan untuk mendapatkan tatalaksana pencegahan rabies.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Penyakit Rabies adalah suatu penyakit akibat infeksi virus rabies yang menimbulkan radang otak pada manusia. Penyakit ini sangat mematikan dan bersifat zoonotic atau menular dari hewan ke manusia penularan ini terjadi saat partikel virus yang berada dalam air liur hewan terinfeksi seperti anjing, kucing, monyet, kelelawar dan rakun berhasil masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan peka lainnya, misalnya melalui gigitan ata hewan cakaran, atau saat liur tersebut mengenai mata, mulut, hidug, atau kulit yang terluka.
Rabies disebabkan oleh virus yang tidak bersegmen dari grup V (RNA virus), golongan Mononegavirales, famili Rhabdoviridae, genus Lyssavirus, spesies Rabies virus. Selain rabies virus, yang termasuk genus Lyssavirus meliputi kelelawar lagos, virus Makola, virus Duvenhage, virus kelelawar Eropa 1 dan 2 serta virus kelelawar Australia.Rhabdovirus merupakan virus dengan panjang kira-kira 180 nm dan lebar 75 nm.
B. Saran
Saran dari saya adalah, jika sedang memelihara hewan terutama hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, monyet, kelelawar dan lain-lain, sebaiknya dilakukan vaksinasi khusus hewan yang dapat membantu menurunkan insidens penyakit tertentu pada anjing dan binatang lain.
DAFTAR PUSTAKA
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/governance/article/viewFile/34842/32682 http://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/492