• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

IRNAWATI 10540 4915 10

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(2)

ii

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : IRNAWATI

NIM : 10540 4915 10

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skipsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Metode Fun Learning Pada Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

Setelah diperiksa ulang, skripsi ini memenuhi syarat untuk diujikan.

Makassar, Oktober 2014 Disetujui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

Drs.H.Nasrun Hasan,M.Pd. Drs.H.Andi Baso,M.Pd.I.

Mengetahui:

Dekan FKIP Ketua Jurusan

Unismuh Makassar Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Dr. A. SukriSyamsuri, M.Hum. Sulfasyah, MA,.Ph.D.

NBM. 858 625 NBM.970 635

(3)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Metode Fun Learning Pada Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama Mahasiswa : IRNAWATI

NIM : 10540 4915 10

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.

Makassar, Oktober 2014 Disetujui oleh

Pembimbing I Pembimbing II

Drs.H.Nasrun Hasan,M.Pd. Drs.H.Andi

Baso,M.Pd.I.

Diketahui:

Dekan FKIP Ketua Jurusan

Unismuh Makassar Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Dr. A. SukriSyamsuri, M.Hum. Sulfasyah, MA,.Ph.D.

NBM. 858 625 NBM.970 635

(4)

iv

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Jl. Sultan Alauddin(0411) 860 132 Makassar 90221

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : IRNAWATI

NIM : 10540 4915 10

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : PeningkatanHasil Belajar PKn Melalui Metode Fun Learning Pada murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Oktober 2014

Yang Membuat Pernyataan

Irnawati

(5)

v

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : IRNAWATI

NIM : 10540 4915 10

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar parjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Oktober 2014 Yang Membuat Perjanjian

Irnawati

(6)

vi MOTTO

Setiap Tangisan akan berujung dengan senyum Ketakutan akan berakhir dengan rasa aman dan Kegelisahan akan sirna oleh kedamaian

Kita bisa bukan hanya karena kita pandai,

namun kita bisa karena kita bisa melakukannya

jadikanlah pengalaman anda sebagai pelajaran kehidupan

(7)

vii

Irnawati, 2014. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui Metode Fun Learning pada Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh H. Nasrun Hasan, dan H. Andi Baso.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa terhadap pelajaran PKn menggunakan metode Fun Learning. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dan cara pelaksanaannya meliputi 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Lokasi penelitian ini adalah SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

Subjek penelitian ini adalah seluruh murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dengan jumlah murid sebanyak 27 orang, 17 murid laki-laki dan10 murid perempuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan tes. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif yaitu skor rata-rata dan persentase. Selain itu, ditentukan pula tabel frekuensi, nilai maksimum dan nilai minimum setiap akhir siklus.

Hasil belajar PKn yang diperoleh murid dari tes tiap akhir siklus, hasil tes akhir siklus I dengan nilai rata-rata 60,00 dengan ketuntasan belajar dari nilai ideal 100%. Meningkat pada tes akhir siklus II nilai rata-rata yang diperoleh murid meningkat menjadi 79,61dari KKM yang telah ditetapkan untuk mata pelajaran PKn di kelas tersebut yaitu 65,00 dengan nilai ideal 100. Maka dapat disimpulkan terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, dengan presentase 33,33% menjadi 66,67%.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’Alamin segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang melimpah penuh barakah, selaras dengan penuh keagungan dan kebesaran- Nya sehingga skripsi dengan judul “PeningkatanHasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode Fun Learning Pada murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng KabupatenGowa” dapat terselesaikan.Skripsi ini diajukan kepada Program Studi Pendidikan Guru SekolahDasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) sebagian persyaratan gunamemperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S1). Salawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Shallallahu

alaihi wa Sallam, penghulu manusia termulia, yang merupakan teladan sepanjang zaman bagi seluruh umat manusia.

Selanjutnya ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis persembahkan kepada kedua orang tua, Ayahanda Hasanuddin.Azis dan Ibunda Nasrah yang telah membesarkan, mendidik, mendoakan, serta memberikan berbagai macam pengorbanan yang mulia yang tidak akan pernah sanggup terbalaskan oleh penulis. Demikian pula kepada suamikuAsdaratas segala doa dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama penulis mengenyam dunia pendidikan.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Bapak Drs.H.Nasrun Hasan,M.Pd, selaku pembimbing I, Bapak Drs.H.Andi

(9)

ix proposal hingga selesainya skripsi ini.

Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada;

(1)Dr. H. IrwanAkib, M. Pd, rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, (2) Dr.

Andi Sukri Syamsuri, M. Hum, dekan FKIP Universitas MuhammadiyahMakassar, dan (3) Sulfasyah, M.A.,Ph.D, ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar, serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas muhammadiyah makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Ucapan terima kasih juga buat semua teman-teman kelas M angkatan 2010 atas segala perhatian, pengertian dan kebersamaannya selama menjalani perkuliahan. Serta rekan-rekan mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar atas segala bantuan dan kebersamaannya selama menjalani perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, dengan segenap kerendahan hati penulis berharap semoga skripsi ini dapat dinilai sebagai ibadah di sisi Allah Subahanahu wa Taala dan dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Makassar, September 2014

Penulis

(10)

x DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv

SURAT PERNYATAAN... v

SURAT PERJANJIAN... vi

MOTTO ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB IIKAJIAN PUSTAKA,KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN... 9

A. Tinjauan Pustaka ... 9

1.Pengertian belajar ... 9

2.Pengertian Hasil Belajar ... 12

3.Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar... 15

4.Pembelajaran PKn... 19

5.Metode fun learning... 20

6.Langkah-langkah Metode fun learning ... 26

B. Kerangka Pikir ... 27

C. Hipotesis Tindakan... 28

BAB III METODE PENELITIAN... 29

A. Jenis Penelitian... 29

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 29

C. Fokus Penelitian ... 29

D. ProsedurPenelitian... 30

E. Teknik Pengumpulan Data... 33

F. Teknik Analisis Data ... 34

G. Indikator Keberhasilan ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36

A. Hasil Penelitian ... 36

B. Pembahasan... 47

BAB V PENUTUP... 49

A. Simpulan ... 49

(11)

xi

Tabel Halaman

4.1 Hasil Observasi Aktifitas Murid Kelas III SDN Tanetea

Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada siklus I ... 39 4.2 Distribusi dan persentase Skor Hasil belajar PKn Murid Kelas III

SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Melalui

Metode Fun Learning Pada Siklus I ... 41 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas III SDN Tanetea

Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Pada Siklus I... 42 4.4 Hasil Observasi Aktivitas Murid padasiklus II ... 45 4.5 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar PKn Murid Kelas III

SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Melalui Metode

Fun Learning pada Siklus II 47

4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas III SDN Tanetea

Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada siklus II ... 48

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman 1. Bagan Kerangka Pikir... 28 3.1 Skema Penelitian... 30 4.3 Bagan Hasil Tes Siklus I dan Siklus II... 50

(13)

xiii

Lampiran Judul Lampiran

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I 2. Soal Evaluasi Siklus I

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II 4. Soal Evaluasi Siklus II

5. Daftar Hadir Murid Kelas III SD Negeri Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

6. Hasil Observasi Aktivitas Guru 7. Hasil Observasi Aktivitas Murid 8. Dokumentasi Mengajar

9. Surat Penelitian

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses pendewasaan yang dialami setiap manusia yang dapat berlangsung tiga tempat yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan.

Hampir setiap orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan karena pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak terpisahkan.

Pada awalnya, anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya/keluarganya setelah mencapai usia yang cukup, kemudian melanjutkan pada lembaga pendidikan tertentu sampai dewasa dan berkeluarga.

Manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang dapat berlangsung di dalam dan di luar sekolah. Pernyataan yang sesuai dengan Pendidikan Nasional Pasal 1 yang menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar murid secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.(Depdiknas, 2003).

Dalam sistem pendidikan nasional dua jalur pendidikan, yaitu pendidikan jalur termasuk pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 17 bahwa:

(15)

“Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau berbentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS), atau bentuk lain yang sederajat”.

Peningkatan kualitas hasil pendidikan pada umumnya menjadi target utama oleh para guru dengan mengupayakan memodifikasi berbagai teknik pembelajaran. Aspek yang sangat penting ialah perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, sistem penilaian, manajemen pendidikan, dan pembelajaran misalnya metode yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang dalam kelas terkesan sangat kaku, kurang fleksibel dan cenderung lebih dominan One Way Methode.

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Hal ini merupakan suatu usaha untuk mencerdaskan anak bangsa dalam proses pembelajaran.

Salah satu mata pelajaran yang dapat mengembangkan pendidikan adalah mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter. Masalah utama dalam pembelajaran kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri murid serta mengimplementasikan hakekat Pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum memenuhi harapan seperti yang diinginkan.

(16)

3

Hal ini berkaitan dengan metode pembelajaran dalam pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam kelas kadang-kadang terkesan sangat kaku, kurang fleksibel, dan cenderung lebih dominan One Way Methode.

Suwarno (dalam Hamalik, 2004: 31) mengatakan bahwa:

Guru mengajar lebih banyak diwarnai dengan pendekatan yang menitik beratkan pada model belajar yang konvensional seperti ceramah, sehingga kurang mampu merangsang murid untuk terlihat aktif dalam proses belajar mengajar sehingga menjadi jenuh dan tidak memperhatikan.

Untuk meningkatkan kualitas murid bukan hanya ditinjau dari segi kurikulumnya, tetapi gurujuga harus memperhatikan beberapa aspek pengajaran.Pendidik sebagai fasilitator harus mampu memilih dan mengolah metode, strategi, dan motif mengajar yang dapat meningkatkan minat belajar pada murid,baik itu yang cerdas maupun yang lambat, dan tahu bagaimana situasi dan kondisinya.Pendidik harus tahu menyusun konsep pengajaran yang dapat merangsang minat belajar anak cerdas dan tidak mematikan atau tetap mendorong minat belajar anak yang tidak cerdas.Karena minat belajar yang dimiliki murid cukup heterogen.

Dalam sistem pembelajaran, hendaknya memberikan suasana baru bagi murid. Pembelajaran hanya akan menyenangkan apabila tidak monoton. Hal-hal baru yang dimaksud adalah menggunakan berbagai pendekatan pengajaran yang lebih mengutamakan pemahaman kondisi psikologi murid dan lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, berbagai media-media telah mewacanakan langkah- langkah solutif untuk meningkatkan kualitas diri. Menurut Tolstoy (Freire,

(17)

2004:492) bahwa tugas-tugas pendidik adalah mencari cara menjadikan bahan pelajaran bermakna bagi murid, memberi motivasi belajar dan menyediakan kepuasan belajar sehingga murid merasakan kenyamanan dalam belajar.

Secara umum, pendidikan SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa mengalami masalah dalam mengarahkan anak didik yang lebih cenderung bermain, sehingga pelajaran yang diberikan sangat susah untuk dipahami. Disisi lain, tingkat penguasaan pelajaran pendidikan kewarganegaraan mereka masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata murid hanya 58,80 pada tahun ajaran 2013/2014masih dibawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di sekolah tersebut, yaitu 65 dari skor ideal 100 sehingga masih perlu ditingkatkan, dari 27murid sebanyak 18 murid atau 66,67% yang tuntas, dan 9murid atau 33,33% yang belum tuntas. Nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 70, sedangkan nilai terendah yaitu 48.

Saat mengikuti pelajaran dikelas murid diharapkan untuk dapat serius, tenang serta fokus pada materi pelajaran dan dapat aktif dalam pelajaran sehingga apa yang menjadi tujuan utama materi pelajaran itu tercapai. Untuk mengatasi masalah tersebut guru sudah berupaya mengambil tindakan dengan berbagai metode pembelajaran. Salah satu alternatif yang digunakan dengan metode diskusi tetapi cara itu belum berhasil murid kurang aktif dan bosan. Untuk itu guru mencoba menggunakan strategi lain salah satunya adalah metode fun learning.

Strategi ini dapat meningkatkan perhatian dan keaktifan murid dalam mengikuti materi pelajaran. Melalui metodefun learningmurid diharapkan dapat belajar

(18)

5

dengancarayang mengasyikkan dan menyenangkan yang berpusat pada kondisipsikologi murid dan atmosfer lingkungan dalam melakukan proses belajar mengajar. Metode ini merupakan cara untuk menciptakan suasana yang nyaman dalam proses pembelajaran sehingga tercipta rasa cinta dan keinginan untuk belajar.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis di SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, diperoleh kekurangan dari guru bidang studi PKn bahwa beliau masih mendapatkan kendala dalam upaya meningkatkan hasil belajar PKn, khususnya di kelas III. Kendala tersebut antara lain adalah kurangnya motivasi murid untuk belajar PKn. Kendala lain adalah murid cepat lupa materi yang telah diajarkan karena kurangnya pemahaman murid terhadap konsep yang diajarkan serta seringnya PKn dianggap oleh murid sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipahami konsep-konsepnya.

Dari beberapa kendala tersebut dikarenakan model pembelajaran yang banyak didominasi oleh guru, murid kurang terlibat aktif dalam pembelajaran yang lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, lalu diam dan enggan dalam mengemukakan pertanyaan dan pendapat. Hal inilah yang diduga salah satu penyebab terhambatnya kreativitas dan kemandirian murid sehingga menurunkan hasil belajar PKn murid.

Dari hasil observasi yang dilakukan dengan guru bidang studi PKn, diperoleh keterangan bahwa nilai rata-rata hasil belajar PKn murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 berada dalam kategori sedang yaitu 55,75 masih di bawah nilai KKM

(19)

(Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di sekolah tersebut, yaitu 65 dari skor 100 sehingga masih perlu ditingkatkan.

Berdasarkan penguraian latar belakang di atas, maka peneliti mencoba mengkaji lebih mendalam tentang: Upaya Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Metode Fun Learning pada Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, salah satu masalah utama dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa adalah penggunaan metode yang digunakan oleh guru membosankan. Selain itu, penyebab rendahnya minat belajar murid selama proses pembelajaran berlangsung dan rendahnya tingkat penguasaan materi terhadap materi yang diajarkan.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas,maka rumusan masalah penelitian ini adalah:Apakah metode fun learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada murid kelas III SDN Tanetea kecamatan bajeng kabupaten gowa?

3. Alternatif Pemecahan Masalah

Memperhatikan cara pengajaran yang digunakan guru dalam mengajar Pendidikan Kewarganegaraan pada murid kelas III SDN Tanetea

(20)

7

Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, maka perlu dicarikan solusi pemecahannya.

Adapun solusi pemecahan yang digunakan untuk membantu murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan adalah melalui suatu penelitian dengan menitik beratkan pada upaya meningkatkan keaktifan murid dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui penerapan metode fun learning, karena pada hakekatnya dari metode fun learning inilah murid dapat belajar dengan situasi yang menyenangkan atau

mengasyikkan karena proses belajar mengajarnya menyangkut kehidupan secara natural dan riil serta indah dan nyaman.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowaterhadap pelajaran PKn menggunakan metode Fun Learning.

D. Manfaat Penelitian

Hasilyang diharapakan dari pelaksanaaan penelitian tindakan kelas ini adalah:

1. Bagi Guru

a. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi guru bidang studi PKnSDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa tentang metode Fun

(21)

Learning untuk meningkatkan minat belajar dalam upaya peningkatan

prestasi belajar PKn murid.

b. Sebagai bahan masukan bagi para pendidik dalam memilih bentuk pembelajaran yang lebih bervariasi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas, sehingga permasalahan- permasalahan yang dihadapi guru dan murid.

2. Bagi Murid

a. Agar murid dapat belajar PKn dengan minat yang baik agar mereka dapat meningkatkan prestasi belajar PKnnya.

b. Agar muridmemiliki pandangan positif terhadap pelajaran PKn.

c. Dapat dijadikan sebagai pengalaman bagi murid mengenai adanya kebebasan dalam belajar secara aktif dan kreatif sesuai dengan perkembangan berpikirnya.

3. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi bagi peningkatan proses belajar mengajar di sekolah.

4. Bagi Pembaca

Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti selanjutnya di bidang yang sama, serta bahan pertimbangan bagi yang berminat mengembangkan hasil penelitian ini.

(22)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Belajar

Pada hakikatnya, manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar yang dipacu oleh hasrat ingin tahu dan kadang oleh kemampuan untuk mengetahui. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, melainkan meliputi kegiatan yang lebih luas, yakni mengalami perubahan tingkah laku.

Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu situasi yang didalamnya tidak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan atau apabila ia harus mengatasi rintangan dalam aktivitasnya. Dengan demikian, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakukan baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.

Menurut Hamalik (2004: 27) bahwa:

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan latihan melainkan pengubahan kelakuan.

Slameto (2010:2) mengemukakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang

(23)

baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya.

Menurut Gagne(Dimyanti 2009: 71) belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Belajar menurut pandangan piaget yang berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan, dan lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

Thorndike (dalam Budiningsih, 2005: 21) bahwa “belajar adalah proses interaksi atau stimulus dan respon”.

Gagne (dalam Daryanto, 2010: 5) bahwa “belajar merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati, diubah, dan dikontrol”.

Amriuddin (dalam Slameto, 2005: 8) mengemukakan bahwa:

"Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya".

Sedangkan Sardiman (2000: 1) berpendapat bahwa:

"Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Sejak dia masih bayi hingga ke lahat nanti.Salah satu pertanda seseorang telah belajar tingkah laku".

(24)

11

Pendapat lain dikemukakan oleh Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002:

II) bahwa:

"Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi".

Selanjutnya Gredler (Aunurrahman, 2009:38) menyatakan bahwa:

Belajar sering kali diartikan sebagai aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan orang untuk belajar menjadi ciri penting yang membedakan jenisnya dari jenis-jenis makhluk yang lainnya.

Pengertian lain mengenai belajar adalah “Learning is often defined as a process by which behavior is either modified or changed through experience

or training.”(Dembo, 1988, h:1).

Perubahan dalam arti belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang- kurangnya ia telah merasakan adanya perubahan yang terjadi dalam dirinya, dimana perubahan yang terjadi pada diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan.

Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu baik dan segi pengetahuan maupun sikapnya.

(25)

2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu, hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang dicapai murid dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.

Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yaitu bermacam-macam aturan terhadap apa yang dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir semester dan sebagainya. Pertama hasil belajar murid merupakan ukuran keberhasilan guru dalam mengajar adalah untuk meningkatkan prestasi belajar murid kedua, hasil belajar murid mengukur apa yang telah dicapai murid; dan ketiga, hasil belajar itu sendiri dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes sejumlah materi pelajaran tertentu.

Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie" (Muhammad, A:2008) dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi, yang berarti hasil usaha.

Dalam literatur, prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, seperti yang dikemukakan oleh Robert, M.G, 1988: 65 (Muhammad, A: 2008) bahwa dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang.

(26)

13

Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh, baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan.Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, melibatkan seluruh fungsi organism yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

Menurut Dimyati & Mudjiono (1999: 250-251) (Indra, M: 2009), hal yang dipandang dari dua sisi yaitu sisi siwa dan dari sisi guru. Dari murid hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ronah kognitif, efektif, dan psikomotor.Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesainya bahan pelajaran.

Menurut Choalpin, pengertian hasil belajar adalah “Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan, kepandaian, keahlian dan kemampuan didalam karya akademik yang di nilai oleh guru (1992: 159)

Pendapat Chalpin diatas mengandung pengertian bahwa prestasi itu hakikatnya berupa perubahan perilaku pada individu di sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang bersangkutan mengalami proses belajar mengajar tertentu.

Hasil belajar dalam hal ini menekankan pada proses yaitu segala kegiatan yang dilakukan oleh murid dalam mencapai tujuan pembelajaran .“Nilai murid diperoleh dari penampilan murid sehari-hari ketika belajar. Hasil belajar diukur

(27)

dengan berbagai cara misalnya, proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes,” (Depdiknas: 2002)

Jadi hasil belajar adalah prestasi belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari hasi belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.

Hasil belajar yang dimaksudkan diatas dalam tulisan ini adalah tingkat keberhasilan murid memahami, menguasai, dan keaktifan murid setelah memperoleh pengalaman belajar dapat lebih meningkat.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar (Indra, M: 2009) dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:

a. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penelitian.

b. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi, dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

c. Ranah Psikomotor

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih

(28)

15

dominan dari pada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus mnjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pendapat lain dikemukakan oleh (Mappasoro. 2007:39) berdasarkan teori Taksonomi Bloom yang berpendapat bahwa hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga ranah antara lain:

1. Ranah kognitif: berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

2. Ranah afektif: berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi 5 jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau mereaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai.

3. Ranah psikomotor: tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

3. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Hasil BelajarMurid

Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat. Demikian juga dalam proses belajar, faktor yang mempengaruhi hasil belajar murid menurut Ahmadi (Abu, M, 1998: 72) adalah sebagai berikut:

(29)

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri murid, faktor ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu:

1) Faktor Intelegensi

Intelegensi dalam arti sempit adalah kemampuan untuk mencapai perasaan. Intelegensi ini memegang perasaan yang sangat penting bagi prestasi belajar murid, karena tingginya peranan intelegensi dalam mencapai prestasi belajar maka guru harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang studi yang banyak membutuhkan berfikir rasilogi.

2) Faktor Minat

Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang studi tertentu. Misanya murid yang kurang berminat dalam mata pelajaran tertentu akan menghambat dalam belajar.

3) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis

Keadaan fisik menunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, dan keadaan alat-alat indra. Keadaan psikis menunjukkan pada keadaan stabititas/iabilitas, mental murid, karna fisik dan psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan belajar mengajar.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri murid yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

(30)

17

1) Faktor guru

Guru sebagai tenaga berpendidikan memilki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, membimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan teknik penalaran karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesional, kepribadian dan kemasyarakatan.

2) Faktor Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga turut mempengaruhi hasi belajar, bahkan bahkan dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena sebagian besar waktu belajar dilaksanakan dirumah. Tetapi keluarga juga dapat kurang mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga , kurang perhatian orang tua, kurangnya perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya belajar.

3) Faktor Sumber-Sumber Belajar

Salah satu yang menunjang keberhasilan dalam prosesbelajar adalah tersedianya sumber belajar yang memadai. Sumber belajar ityu dapat berupa media/alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. Alat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu murid dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasil belajar yang lebih bermakna.

(31)

Djamarah(2002) mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar murid yaitu :

Faktor dari luar anak, meliputi: faktor lingkungan (alami) dan sosial budaya, sedangkan faktor instrumental berupa: kurikulum, program, sarana dan prasarana serta guru.

Faktor dari diri anak, meliputi: faktor fisiologis berupa: kondisi fisiologis dan kondisi panca indera, sedangkan faktor psikologis berupa: minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif.

Pada hakikatnya terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi proses belajar dan hasil belajar murid di sekolah, namun pada intinya dapat diklasifikasikan atas dua faktor yaitu, faktor yang bersumber dari dalam diri murid (internal) maupun dari luar diri murid (eksternal). Peranan guru sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala murid dalam belajar, sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar peserta didik.

Keberhasilan murid dalam pembelajaran PKndapat diketahui dari penguasaan materi dan pengalaman murid setelah mengikuti pembelajaran secara periodik dalam kelas. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar murid yaitu dengan menggunakan metode fun learnig. Dengan demikian, untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar atau penguasaan murid terhadap materi Pkn yang diberikan oleh guru, maka pada tahap akhir pembelajaran murid diberikan evaluasi berupa pementasan peran.Dari hasil evaluasi ini dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan muridsetelah model pembelajaran Role Playing diterapkan yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka.

(32)

19

4) Pembelajaran Pkn a. Pengertian Pkn

Pkn merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak.Pada dasarnya hakekat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga Negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela Negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dalam pembelajaran PKn ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1) PKn merupakan bidang kajian Kewarganegaraan yang di topang berbagai disiplin ilmu relevan, yaitu ilmu politik, hukum, sosiologi, dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.

2) PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.

Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga Negara yang cerdas dan daya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya kepada pengembangan kecerdasan warga Negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.

(33)

3) PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan penalaran.

b. Tujuan Pembelajaran PKn

Dalam pembelajaran Pkn mempunyai tujuan yaitu pada dasarnya Hakikat pendidikan kewarganegaraan adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.

Tujuan Pkn juga terdapat pada Pasal 4 Undang-Undang Dasar 1945 yaitu:Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah mewujudkan warga negara sadar bela negara berlandaskan pemahaman politik kebangsaan, dan kepekaan mengembangkan jati diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa.

5) Metode Fun Learning

Fun Learning atau cara belajar menyenangkan yang mengasyikkan menurut Pendidik Komunitas sekolah Alam adalah suatu proses belajar mengajar yang mengangkat kehidupan secara natural dan riil serta indah dan nyaman.

Proses pembelajaran ini menjadi sebuah aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan penuh kegembiraan. Dan menurut Tolstoy (Freire, 2004:492), belajar menyenangkan sangat perlu dalam proses pembelajaran karena sangat membantu bagi peserta didik untuk bisa menjadikan bahan pelajaran menjadi bermakna, memberi motivasi belajar, dan menyediakan kepuasan belajar. Karena belajar

(34)

21

yang menyenangkan akan membuat anak merasa tidak dibebani atau tidak terasa dipaksa untuk belajar.

Dari beberapa pendapat tentang metode Fun Learning, maka disimpulkan bahwa metode Fun Learning adalah cara belajar mengasyikkan dan menyenangkan yang berpusat pada kondisi psikologi murid dan atmosfer lingkungan dalam melakukan proses belajar mengajar. Metode ini merupakan cara untuk menciptakan suasana atau kondisi yang nyaman dalam proses pembelajaran sehingga tercipta rasa cinta dan keinginan untuk belajar. Penerapan metode ini merupakan penerapan kolaborasi metode dari Quantum Learningdan Quantum Teaching dengan menggunakan musik pop/klasik sebagai alat Bantu untuk

menciptakan suasana yang tenang, rileks dan membuka pikiran untuk mengeluarkan gagasan. Selain penggunaan musik, juga dilakukan games, pengaturan kelas yang berbeda beserta menggunakan alat-alat peraga yang mendukung.

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu prosesbelajar mengajar, yaitu pengaturan kelas dan pengajaran itu sendiri. Kedua hal tersebut saling tergantung pada kemampuan mengatur kelas.Kelas yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan murid belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.

Dengan penerapan metode ini membantu peserta didik menikmati pelajaran dengan memandang peserta didik sebagai manusia seutuhnya, bukan sebagai robot atau celengan yang harus dijejaki oleh ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga disaat proses pembelajaran menjadi sebuah proses

(35)

pengisian atau GayaBank menurut Paulo Freire (Djibran, 2006:144). Dan juga, ketika murid berada dalam kondisi Fun menurut Fahd Djibran, maka minat akan bangkit, ada keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman, dan nilai yang membahagiakan pada diri sang pembelajar.

Melalui metode pembelajaranFun Learning dari Quantum, maka guru dapat mengubah kelas menjadi “komunitas belajar” –masyarakat mini yang setiap detailnya telah diubah secara seksama untuk mendukung belajar optimal – yaitu dengan bagaimana cara mengatur bangku, musikal, menentukan kebijakan kelas, hingga kepada cara merancang pengajaran. Dengan demikian murid dengan dinamis dapat mengikuti pembelajaran sehingga dunia guru dengan dunia murid dapat terjembatani untuk memudahkan guru membangun jalinan, menyelesaikan bahan pelajaran dengan cepat, membuat hasil belajar lebih melekat, dan memastikan terjadinya pengalihan pengetahuan.

Menurut De porter (2003:19), ada beberapa cara untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan, yaitu;

a. Membangun kekuatan-Niat

Pendidik harus memahami perasaan dan sikap murid yang terlibat dan berpengaruh penuh pada proses belajarnya, sehingga pendidik bisa mengajar sesuai dengan kondisi peserta didik. Karena dengan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi peserta didik, maka terjalin sebuah hubungan emosional yang tinggi antara peserta didik dan pendidik, dan juga peserta didik mampu menyingkirkan segala tekanan dan ancaman psikis dari suasana belajar.

(36)

23

Langkah-langkah yang dilakukan oleh pendidik untuk mengenal emosi murid adalah:

1) Memberikan kebebasan kepada anak mengungkapkan suka cita dan kemarahan mereka disaat belajar.

2) Menggunakan menulis atau menggambar untuk meluapkan emosi.

3) Atau dengan membaca dengan perasaan.

b. Jalinan rasa simpati dan saling pengertian

Peserta didik harus mampu menjalin sebuah hubungan berupa rasa simpati dan saling pengertian dengan peserta didik, karena dengan adanya hubungan atau saling mengenal antara pendidik dan peserta didik akan menciptakan suasana yang terbuka dan efektif.

Cara-cara untuk membangun hubungan, yaitu;

1) Perlakukan murid sebagai manusia sederajat.

2) Ketahuilah apa yang disukai murid, cara pikir mereka dan perasaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.

3) Bayangkan apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar- benar mereka inginkan. Jika guru tidak tahu, maka wajib untuk menanyakannya.

4) Berbicaralah dengan jujur kepada mereka, dengan cara yang membuat mereka mendengarnya dengan jelas dan halus.

5) Bersenang-senanglah dengan mereka.

(37)

c. Keriangan dan ketakjuban

Rasa gembira dalam diri memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan sikap mental seseorang untuk menerima sesuatu diluar dari dirinya. Sehingga sangat dibutuhkan suasana yang menyenangkan di ruang kelas ketika proses belajar mengajar terjadi.Oleh karena itu, dibutuhkan strategi untuk bisa meraih kegembiraan itu adalah; afirmasi (penguatan atau penegasan), pengakuan, dan perayaan.

d. Pengambilan resiko

Untuk menemukan hal-hal yang baru atau belajar sesuatu yang baru, kita perlu mengambil resiko yang cukup besar diluar dari kebiasaan yang menjadi kesenangan kita.

e. Rasa saling memiliki

Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik. Rasa saling memiliki dapat diwujudkan dengan melibatkan partisipasi anak didik dengan seringnya melemparkan pertanyaan dan memberi kebebasan berekspresi pada anak karena dengan diberinya keleluasan untuk berekspresi mereka akan menemukan sesuatu yang teraktualkan dari potensinya.

(38)

25

f. Keteladanan.

Keteladanan membangun hubungan, memperbaiki kredibilitas dan meningkatkan pengaruh. Adapun cara untuk itu adalah;

1) Teladankan komunikasi yang jelas.

2) Akui setiap usaha.

3) Senyum.

4) Gunakan energi untuk menciptakan lebih banyak energi.

5) Jadilah pendengar yang baik.

6) Ungkapkan pikiran mereka dengan kata-kata anda sendiri.

7) Keluarlah dari kebiasaan yang menyenangkan secara teraturdan menyampaikannya bahwa anda dan mereka bersama-sama melakukannya.

8) Nyatakan kembali situasi negatif untuk menemukan hal-hal positif didalamnya.

Menurut Ekomadyo (2005:17), dengan adanya kondisi lingkungan belajar yang menyenangkan, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak yaitu:

1) Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan unik.

2) Kemampuan untuk mentransformasikan gagasan lama kedalam bentuk-bentuk baru.

3) Kemampuan untuk membangun imajinasi dan fantasi yang baru dan terarah.

4) Kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah.

5) Adanya rasa ingin tahu yang luas dan mendalam.

6) Adanya minat yang besar dan keinginan bereksplorasi.

7) Adanya perhatian pada proses, bukan sekedar hasil akhir.

(39)

8) Adanya kesenangan dan kepuasan diri dalam melakukan pekerjaan.

9) Adanya pengetahuan awal sebagai modal.

10) Kepekaan akan keindahan (Sense of beauty).

11) Kemampuan berfikir asosiatif dan bermain dengan gagasan.

12) Kepekaan melihat hal unik dari lingkungan sekitar dan aktivitas sehari-hari.

Sehingganya, dengan penerapan metode Fun Learning diharapkan lahir sebuah minat yang besar berupa adanya Ketertarikan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung, adanya motivasi yang besar untuk belajar, dan adanya perhatian penuh terhadap pelajaran.

6) Langkah-langkah Metode Fun Learning

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pengajaran fun learning adalah:

a. Setiap tatap muka, guru menyampaikan topik-topik pelajaran dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

b. Guru memberikan gambaran atau penjelasan tentang materi yang dipelajari.

c. Memperlihatkan dan menjelaskan keterkaitan antara konsep metode Fun Learning pada pokok bahasan.

d. Sebelum mengakhiri proses pembelajaran, murid diberi PR pokok bahasan dalam penerapan metode Fun Learning untuk dikerjakan di rumah.

http://mullsi.blogspot.com/2011/11/metode-fun-learning.html

(40)

27

B. Kerangka Pikir

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan atau kualitas belajar murid adalah guru yang merupakan pengajar dan pendidik yang melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah. Sebagai guru, ia harus memiliki kemampuan mengajar berupa keterampilan mengajar agar proses pembelajaran dapat berjalan secara baik dalam upaya mendukung kegiatan kualitas pendidikan. Bahkan dapat diyakini bahwa apabila suatu pengajaran tidak diiringi dengan keterampilan mengajar yang baik, mustahil tugas tersebut dapat mencapai sasaran yang efektif.

Demikian pula dengan kompetensi guru dalam kegiatan pembelajaran harus betul- betul dipahami dan dilaksanakan demi efektivitas proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya kegiatan belajar mengajar haruslah sistematis, terarah, teratur dengan mempertimbangkan segala aspeknya. Salah satu diantaranya yaitu dengan memperhatikan model pembelajaran yang sesuai, sehingga murid dapat memperoleh hasil belajar bahasa Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena itu, untuk mengetahui besarnya peran serta metode fun learning dalam mata pelajaran PKn padamurid kelas III SDN Tanetea Kecamatan

Bajeng Kabupaten Gowa maka diadakanlah penelitian.Dalam penelitian ini, digunakanlah metode fun learning guna mengumpulkan data yang akurat tentang objek yang sedang diteliti tersebut.Selain itu data tersebut dikumpulkan lalu dianalisis dan pada akhirnya menghasilkan sebuah temuan sebagai jawaban yang logis dan akurat dari hasil penelitian. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan kerangka pikir sebagai berikut:

(41)

Gambar 1: Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Bila Metode fun learningditerapkan maka hasil belajarPKn,padamurid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dapat meningkat”.

Kondisi Awal

Tindakan Untuk Perbaikan

Kondisi Akhir Hasil Belajar MuridMeningkat Menggunakan Metode Fun Learning

Pembelajaran PKn - Minat murid pada mata

pelajaran PKn masih kurang.

- Metode yang digunakan membosankan.

- Nilai hasil belajar murid di bawah standar Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 65 (kategori rendah).

(42)

27 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dan cara pelaksanaannya meliputi 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (2008:12) bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu praktek pembelajaran.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Pemilihan lokasi penelitian ini adalah sesuai dengan hakikat penelitian tindakan kelas yaitu meningkatkan hasil belajar di kelas yang permasalahannya berasal dari informasi awal dari guru bidang studi yang dilengkapi dengan data nilai rata-rata mata pelajaran PKn. Subjek penelitian ini adalah seluruh murid kelas IIISDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dengan jumlah murid sebanyak 27 orang, 17murid laki-laki dan 10murid perempuan.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada metode fun learning yang menyelidiki faktor-faktor sebagai berikut:

29

(43)

1. Faktor proses, yaitu penerapan metode fun learning dalam proses pembelajaran agar murid lebih meningkatkan hasil belajarnya.

2. Faktor hasil, yaitu untuk melihat hasil belajar murid dalam mata pelajaran PKn baik sebelum maupun sesudah penerapan metode fun learning.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus.Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Adapun skema penelitian ini dapat digambarkan berikut:

Gambar 3.1 Penelitian Tindakan Model Hopkins (Sanjaya, 2010:54)

Dalam setiap siklus secara rinci pelaksanaan penelitian ini adalah berikut:

Identifikasi Masalah

Perencanaan

Observasi

Refleksi

Aksi

Refleksi Aksi

Perencanaan Ulang

Observasi

(44)

31

Siklus I

1. Tahap Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:

a. Menelaah kurikulum SD kelas III mata pelajaran PKn.

b. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.

c. Menyusun tes hasil belajar murid.

d. Menyusun rencana tindakan pembelajaran yang berorientasi pada rencana pembelajaran yang disusun berdasarkan format yang diberlakukan di sekolah.

e. Merumuskan indikator deskriptif keberhasilan tindakan tentang minat murid terhadap pelajaran PKn.

2. Tahap Tindakan

Tujuan utama pemberian tindakan dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan yang mendukung tercapainya peningkatan minat belajar PKn murid melalui penerapan metode Fun Learning.

a. Pengajaran PKn yang selalu diawali dengan penyajian informasi atau gagasan dalam bentuk definisi, generalisasi, atau analogi.

b. Pengembangan aktivitas-aktivitas murid dalam belajar.

c. Memberi tugas pada murid tiap pertemuan.

d. Memberi pekerjaan rumah (PR) setiap akhir pertemuan.

e. Mencatat semua kejadian yang merupakan ekspresi murid selama pembelajaran berlangsung.

(45)

f. Melaksanakan tes minat belajar dan tes kemampuan PKn pada akhir siklus.

3. Tahap observasi

Selama pembelajaran berlangsung dilakukan penerapan metode Fun Learning yaitu penggunaan musik sebagai alat Bantu konsentrasi, games,

pengaturan kelas, dan alat peraga. Selama proses berlangsung, dilakukan pengamatan menyangkut kehadiran murid, konsentrasi murid dalam memperhatikan penjelasan guru, keaktifan murid dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru maupun oleh murid yang lain, dan keaktifan murid untuk bertanya tentang materi baru.

4. Tahap Refleksi

a. Membandingkan hasil tes minat belajar PKn murid sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan.

b. Merencanakan perbaikan-perbaikan untuk siklus selanjutnya.

Siklus II

1. Tahap Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan pada siklus kedua sebagai berikut:

a. Membuat paket pedoman pembelajaran yang meliputi skenario pembelajaran.

b. Menyusun rencana tindakan pembelajaran yang berorientasi pada rencana pembelajaran yang disusun berdasarkan format yang diberlakukan di sekolah.

(46)

33

2. Tahap Tindakan

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada Siklus II ini adalah mengulangi kembali tahap-tahap yang dilakukan pada Siklus I sambil mengadakan perbaikan atau penyempurnaan metode Fun Learning sesuai hasil yang diperoleh pada Siklus I.

3. Tahap Observasi

Aktivitas observasi pada Siklus II ini mengikuti teknik observasi pada Siklus Pertama.

4. Tahap Refleksi

Pada tahap ini, setiap tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran dikumpulkan dan dianalisis.Dari hasil analisis tersebut, peneliti membuat evaluasi akhir terhadap seluruh hasil pembelajaran PKn setelah diterapkan metode Fun Learning.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik:

1. Observasi

Kegiatan observasi dimaksudkan untuk mengamati proses pelaksanaan proses pembelajaran PKn oleh guru di kelas mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Demikian pula terhadap partisipasi murid dalam proses belajar PKn melalui model Fun Learning.

2. Tes

Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memproses hasil belajar murid setelah diajar dengan model Fun Learning. Tes diberikan kepada

(47)

muridsebanyak 2 kali yaitu pada akhir siklus pertama dan kedua.Tes penelitian terdiri atas 10 soal pilihan ganda.

F. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif yaitu skor rata-rata dan persentase.Selain itu, ditentukan pula tabel frekuensi, nilai maksimum dan nilai minimum setiap akhir siklus.

Sedangkan analisis kualitatif digunakan teknik kategorisasi tingkat penguasaan menurut Marwah (Mus, Ma'ruf, 2003: 23) mengemukakan bahwa pengkategorian hasil belajar yang tercakup dalam edaran Direktorat Pendidikan Menengah No. 288/C3/MN/99 sebagai berikut:

Tabel 3.1 Pengkategorian Nilai

No. Interval Nilai Kategori

1 0-34 Sangat rendah

2 35-54 Rendah

3 55-64 Sedang

4 65-84 Tinggi

5 85–100 Sangat tinggi

(48)

35

G.Indikator Keberhasilan

Tolok ukur penilaian sebagai berikut:

a.Keberhasilan Individual/perorangan apabila murid memiliki skor minimal 65.

b.Tuntas klasikal/kelas apabila terdapat 80% dari jumlah seluruh murid ( 80% x 27 = 22 murid ) yang memperoleh skor minimal 65.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini dibahas secara rinci mengenai hasil penelitian berdasarkan analisis kuantitatif dan kualitatif.

Hasil analisis kuantitatif adalah gambaran tingkat penguasaan murid melalui tes hasil belajar PKn sedangkan hasil analisis kualitatif adalah rumusan penelitian dalam bentuk pernyataan yang diarahkan untuk mencapai indikator keberhasilan yang diajukan dalam penelitian ini. Pernyataan itu didasarkan pada data yang diperoleh dan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada akhir siklus.

A. Hasil Penelitian 1. Siklus I

a. Perencanaan Tindakan 1) Pertemuan I

Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 3September 2014 dengan materi pembelajaran sumpah pemuda. Sebagaimana tahapan dalam PTK, ada 4 tahap yang dilaksanakan pada siklus I yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

a) Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan metode fun learning.

b) Mempersiapkan materi pelajaran sesuai dengan skenario yang telah dibuat yaitu materi mengenal makna satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

c) Membuat lembar observasi dengan indikator sebagai berikut:

36

(50)

37

 Jumlah murid yang hadir.

 Murid yang memperhatikan materi saat guru menjelaskan.

 Murid yang menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

 Murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami.

 Murid yang mengajukan diri menyelesaikan soal yang diberikan di papan tulis.

 Murid yang membantu membimbing temannya dalam belajar.

 Murid yang melakukan aktivitaslain pada saat proses pembelajaran.

 Murid yang aktif dalam mengerjakan LKS.

d) Membuat soal-soal latihan dalam bentuk LKS untuk dikerjakan oleh masing- masing murid.

2) Pertemuan II

Pertemuan ke-2 dilaksanakan pada tanggal 5 September 2014 dengan materi sumpah pemuda.

Perencanaan yang dilakukan pada pertemuan ini hampir sama dengan pertemuan sebelumnya, yaitu membuat skenario pembelajaran (RPP), mempersiapkan materi pembelajaran, membuat lembar observasi dan alat evaluasi. Tapi yang membedakan pertemuan pertama dengan pertemuan kedua adalah submateri yang disiapkan yaitu mengamalkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam kehidupan sehari-hari.

a) Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan metode fun learning.

b) Mempersiapkan materi pelajaran sesuai dengan skenario yang telah dibuat yaitu materi sumpah pemuda.

(51)

c) Membuat lembar observasi dengan indikator sebagai berikut:

 Jumlah murid yang hadir.

 Murid yang memperhatikan materi saat guru menjelaskan.

 Murid yang menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

 Murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami.

 Murid yang mengajukan diri menyelesaikan soal yang diberikan di papan tulis.

 Murid yang membantu membimbing temannya dalam belajar.

 Murid yang melakukan aktivitaslain pada saat proses pembelajaran.

 Murid yang aktif dalam mengerjakan LKS.

d) Membuat soal-soal latihan dalam bentuk LKS untuk dikerjakan oleh masing- masing murid.

b. Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini dilaksanakan dengan menerapkanhal-hal yang telah direncanakan sebelumnya, yaitu:

a) Memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam.

b) Mengecek kehadiran murid dan kesiapannya dalam menerima pelajaran.

c) Menerapkan proses pembelajaran berdasarkan metode fun learning.

d) Setiap murid diberikan LKS yang telah disiapkan guru sebelumnya.

c. Hasil Observasi dan Evaluasi

(52)

39

Pada tahap ini ada dua kegiatan yaitu observasi dan evaluasi. Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, peneliti mencatat setiap hal yang dialami murid, situasi dan kondisi belajar murid, mengisi lembar observasi berdasarkan hasil pengamatan dan melaksanakan evaluasi berupa tes hasil belajar siklus I setelah dua kali pertemuan.

Adapun hasil observasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Murid pada Siklus I No Aspek yang Diamati Pertemuan Rata-

rata

Persentase 1 2 (%)

1 Murid yang hadir 25 26 25,5 94,44

2

Murid yang memperhatikan materi pada saat guru menjelaskan

9 14 11,5 42,59

3

Murid yang menjawab pertanyaan lisan guru yang diajukan.

7 13 10 37,04

4

Murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami.

7 6 6,5 24,07

5

Murid yang mengajukan diri menyelesaikan soal yang diberikan dipapan tulis

3 7 5 18,52

6

Murid yang

membantu/membimbing temannya dalam belajar

2 5 3,5 12,96

7

Murid yang melakukan aktivitas lain pada saat proses

pembelajaran

5 4 4,5 16,67

8 Murid yang aktif dalam

mengerjakan LKS 19 21 20 74,07

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa murid yang hadir pada siklus I sebesar 94,44% atau berada pada kategori sangat tinggi, murid yang

(53)

memperhatikan materi pada saat guru menjelaskan sebesar 42,59% atau berada pada kategori rendah, murid yang menjawab pertanyaan lisan guru yang diajukan sebesar 37,04% atau berada pada kategori rendah, murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami sebesar 24,07% atau berada pada kategori sangat rendah, murid yang mengajukan diri menyelesaikan soal yang diberikan di papan tulis sebesar 18,52% atau berada pada kategori sangat rendah, murid membantu/membimbing temannya dalam belajar sebesar 12,96% atau berada pada kategori sangat rendah, murid yang melakukan aktivitas lain pada saat proses pembelajaran sebesar 16,67% atau berada pada kategori sangat rendah, dan murid yang aktif dalam mengerjakan LKS sebesar 74,07% atau berada pada kategori tinggi.

Berdasarkan hasil penilaian proses pada siklus pertama pertemuan 1 dan 2 sebesar 56,48% yang memiliki nilai kerjasama atau berada pada kategori sedang, murid yang memiliki tanggungjawab sebesar 52,77% atau berada pada kategori rendah, murid yang memiliki ketepatan jawaban sebesar 59,92% atau berada pada kategori rendah dan murid yang aktif dalam mengerjakan tugas sebesar 68,51%

atau berada pada kategori tinggi.

(54)

41

Apabila nilai hasil belajar murid dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi yang ditunjukkan pada tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4.2 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar PKn Murid Kelas IIISDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa melalui Metode Fun Learning pada Siklus I

No. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase

1 0-34 Sangat rendah 0 0

2 35-54 Rendah 7 25,93

3 55-64 Sedang 11 40,74

4 65-84 Tinggi 9 33,33

5 85–100 Sangat tinggi 0 0

Jumlah 27 100

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dijelaskan bahwa dari 27 murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, tidak seorang pun murid yang berada pada kategori sangat rendah, 7 murid atau 25,93% murid yang berada pada kategori rendah, 11 murid atau 40,74% yang berada pada kategori sedang, 9 murid atau 33,33% murid yang berada pada kategori tinggi, dan tidak seorang pun yang berada pada kategori sangat tinggi.

Untuk melihat persentase ketuntasan hasil belajar PKn murid kelas IIISDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa setelah metode fun learning pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

(55)

Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada Siklus I

No. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase

1 0–64 Tidak Tuntas 18 66,67

2 65 - 100 Tuntas 9 33,33

Jumlah 27 100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa banyaknya murid yang ketuntasan belajarnya pada kategori tidak tuntas sekitar 66,67% dan murid yang berada pada kategori tuntas sekitar 33,33%.

Adapun grafik ketuntasan belajar PKn murid dapat dilihat berikut.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi di atas terdapat 66,67% atau sebanyak 18 orang murid yang belum tuntas pada materi sumpah pemuda. Dari 27 orang murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang menjadi subjek penelitian hanya terdapat 9 orang murid atau 33,33% yang tuntas dalam pembelajaran tersebut. Padahal indicator keberhasilan penelitian ini adalah 85% tuntas klasikal.Hal ini berarti masih ada 18 orang murid yang membutuhkan

0 20 40 60 80

Tidak Tuntas

Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada Siklus I

No. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase

1 0–64 Tidak Tuntas 18 66,67

2 65 - 100 Tuntas 9 33,33

Jumlah 27 100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa banyaknya murid yang ketuntasan belajarnya pada kategori tidak tuntas sekitar 66,67% dan murid yang berada pada kategori tuntas sekitar 33,33%.

Adapun grafik ketuntasan belajar PKn murid dapat dilihat berikut.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi di atas terdapat 66,67% atau sebanyak 18 orang murid yang belum tuntas pada materi sumpah pemuda. Dari 27 orang murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang menjadi subjek penelitian hanya terdapat 9 orang murid atau 33,33% yang tuntas dalam pembelajaran tersebut. Padahal indicator keberhasilan penelitian ini adalah 85% tuntas klasikal.Hal ini berarti masih ada 18 orang murid yang membutuhkan

Tidak Tuntas Tuntas

66.67

33.33

Siklus I

Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa pada Siklus I

No. Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase

1 0–64 Tidak Tuntas 18 66,67

2 65 - 100 Tuntas 9 33,33

Jumlah 27 100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa banyaknya murid yang ketuntasan belajarnya pada kategori tidak tuntas sekitar 66,67% dan murid yang berada pada kategori tuntas sekitar 33,33%.

Adapun grafik ketuntasan belajar PKn murid dapat dilihat berikut.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi di atas terdapat 66,67% atau sebanyak 18 orang murid yang belum tuntas pada materi sumpah pemuda. Dari 27 orang murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang menjadi subjek penelitian hanya terdapat 9 orang murid atau 33,33% yang tuntas dalam pembelajaran tersebut. Padahal indicator keberhasilan penelitian ini adalah 85% tuntas klasikal.Hal ini berarti masih ada 18 orang murid yang membutuhkan

Gambar

Tabel Halaman
Gambar 1: Bagan Kerangka Pikir
Gambar 3.1 Penelitian Tindakan Model Hopkins (Sanjaya, 2010:54)
Tabel 3.1 Pengkategorian Nilai
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan Penelitian ini adalah untuk Meningkatkan hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa kelas VI A SDN 1 Mulyosari kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung