Badan Narkotika Nasional (BNN / National Narcotics Body)

Top PDF Badan Narkotika Nasional (BNN / National Narcotics Body):

BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONE

BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONE

yang diangkat berdasarkan Keputusan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor : SK ..../..../.... tanggal ... ... ..., terhitung mulai tanggal ............... telah nyata melaksanakan tugas sebagai Kepala ............... dan diberi tunjangan jabatan sebesar Rp ............... (...............) terhitung mulai tanggal ...............

50 Baca lebih lajut

KENDALA DAN UPAYA REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA OLEH BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI (BNNP) YOGYAKARTA.

KENDALA DAN UPAYA REHABILITASI BAGI PECANDU NARKOTIKA OLEH BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI (BNNP) YOGYAKARTA.

Pada 2015 ini, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Yogyakarta hanya mampu menargetkan rehabilitasi untuk 1.369 pecandu saja. Sementara jumlah total pencadu di Yogyakarta mencapai 62.028 orang. Dalam merehabilitasi pecandu narkoba ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggandeng berbagai pihak mulai dari yayasan, rumah sakit serta puskesmas. Para pecandu direhabilitasi supaya bisa terbebas dari jerat narkoba dan kembali hidup normal.

18 Baca lebih lajut

KOORDINASI ANTARA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (POLRI) DAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) DALAM MENCEGAH DAN MENINDAK PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA.

KOORDINASI ANTARA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (POLRI) DAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) DALAM MENCEGAH DAN MENINDAK PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA.

yang menjabat sebagai Penyidik Madya di Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat di ketahui bahwa koordinasi antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam mencegah dan menindak Pelaku Tindak Pidana Narkotika yaitu BNN adalah Badan Narkotika Nasional yang secara vertikal bertanggungjawab langsung kepada Presiden dan berada di luar Polri. Sedangkan di Polri memiliki Badan Direktorat Narkotika. Kewenangan Polri dan BNN yaitu Polri hanya memiliki kewenangan penegakan hukum didalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana narkotika. Polri tidak memiliki kewenangan di dalam bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M) dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan rehabilitasi kepada korban penyalahgunaan narkotika. Sedangkan kewenangan BNN itu sendiri lebih lengkap didalam bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M),kewenangan untuk melakukan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika dan kewenangan pemberantasan didalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana narkotika. Kewenangan pemberantasan ini memiliki arti yang sama dengan kewenangan penegakan hukum di Polri yakni penegakan hukum terhadap peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Pemenang Pekerjaan Pengadaan Konsultan Pengawasan Pembangunan Gedung Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sumbawa Barat Nomor : 20/ULP/BNNKSB-01/V/2013/BNN tanggal 16 Mei 2013, bersama ini diumumkan nama perusahaan sebagai pemenang penyedia barang/jasa untuk pekerjaan yang dimaksud :

1 Baca lebih lajut

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) DALAM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (Studi Kasus di Badan Narkotika Nasional).

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) DALAM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (Studi Kasus di Badan Narkotika Nasional).

Efektifitas berlakunya undang-undang ini sangatlah tergantung pada seluruh jajaran penegak umum, dalam hal ini seluruh intansi yang terkait langsung, yakni Badan Narkotika Nasional serta para penegak hukum yang lainnya. Di sisi lain, hal yang sangat penting adalah perlu adanya kesadaran hukum dari seluruh lapisan masyarakat guna menegakkan kewibawaan hukum dan khususnya terhadap Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009, maka peran Badan Narkotika Nasional bersama masyarakat sangatlah penting dalam membantu proses penegakan hukum terhadap tindak pidana narkotika yang semakin marak.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN PENANGGULANGANNYA.

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN PENANGGULANGANNYA.

Gejala atau fenomena terhadap penyalahgunaan narkotika dan upaya penanggulangannya saat ini sedang mencuat dan menjadi perdebatan dikalangan para ahli hukum. Fenomena ini sudah mendekati suatu tindakan yang mengkhawatirkan dan sangat membahayakan. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 17 Tahun 2002 Tentang Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai sebuah lembaga forum dengan tugas mengkoordinasikan 25 instansi pemerintah terkait dan ditambah dengan kewenangan operasional untuk mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan nasional penanggulangan narkoba. Baru kemudian tahun 2003 BNN mendapatkan alokasi anggaran dari APBN, namun karena tanpa struktur kelembagaan yang memiliki jalur komando yang tegas dan hanya bersifat koordinatif, maka BNN dinilai tidak bekerja secara optimal dan dianggap tidak mampu meneyelesaikan permasalahan nrkotika yang terus meningkat.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Meluasnya korban penggunaan Narkotika ini bukan menjadi rahasia umum. Jika melihat dari berbagai masalah penggunaan Narkotika, Kota Medan salah satu kota menarik yang dapat dijadikan penelitian sebagai salah satu kota yang menjadi persebaran Narkotika tertinggi di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Direktorat Tindak Pidana Narkoba POLRI mencatat jumlah pecandu narkoba tersebut sekitar 3,3 juta orang pada 2008 dan naik menjadi 3,8 juta orang pada 2011. Sedangkan pada 2013 jumlahnya telah mencapai 4,58 juta orang dan diperkirakan akan bertambah hingga akhir tahun 2014. Dan hal ini sungguh sangat ironis, mengingat Kota Medan sebagai salah satu kota mengapolitan, menempati urutan kelima pada sebaran pengguna narkotika dengan presentase 2,8 persen.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA OLEH ANAK (Studi Kasus Badan Narkotika Nasional Sumatera Utara).

PERAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA OLEH ANAK (Studi Kasus Badan Narkotika Nasional Sumatera Utara).

Melihat peredaran narkotika yang semakin meluas hampir ke seluruh kalangan masyarakat pemerintah pun membuat peraturan tentang narkotika yang terdapat pada Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika (UUNarkotika) yang sebelumnya Narkotika diatur dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1997.Perubahan signifikan dariundang-undang yang lama (Undang- Undang No. 22 Tahun 1997) dengan undang-undang yang baru (Undang- UndangNo.35 Tahun 2009) ialah dibentuknya Badan Narkotika Nasional. Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Badan Koordinasi Narkotika Nasional yang dibentuk tahun 1999 dengan pertimbangan bahwalembaga itu sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Hamzah, Andi, 2008, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta Badan Narkotika Nasional, Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Apa Yang Bisa Anda Lakukan, Badan Narkotika Nas[r]

3 Baca lebih lajut

Analisis semiotika pesan dakwah dalam poster narkotika badan narkotika nasional (BNN)

Analisis semiotika pesan dakwah dalam poster narkotika badan narkotika nasional (BNN)

Narkotika merupakan obat terlarang yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa, selain itu obat ini juga dapat menimbulkan ketergantungan. Hingga tahun 2008 telah terkumpul data bahwa pengguna narkotika bila dilihat dari segi pendidikan berkisar 4404 (dikalangan SD), 10819 (dikalangan SMP) dan 28470 (dikalangan SMA). Penyalahgunaan narkotika merupakan permasalahan yang kompleks baik dilihat dari faktor penyebabnya maupun dari akibatnya. Sebagai badan yang bergerak khusus menangani masalah penyalahgunaan narkotika, Badan Narkotika Nasional (BNN) telah melakukan berbagai macam cara untuk mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan narkotika dikalangan masyarakat, baik melalui media elektronik maupun melalui media cetak. Pembuatan poster merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk hal tersebut. Hal ini dikarenakan poster merupakan media yang unik, perpaduan antara gambar, tulisan dan juga warna. Tulisan yang tercantum pun tidak perlu panjang, cukup singkat namun sarat akan makna.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Badan Narkotika Nasional

Badan Narkotika Nasional

Mulai tahun 2003 BNN baru mendapatkan alokasi anggaran dari APBN. Dengan alokasi anggaran APBN tersebut, BNN terus berupaya meningkatkan kinerjanya bersama-sama dengan BNP dan BNK. Namun karena tanpa struktur kelembagaan yang memilki jalur komando yang tegas dan hanya bersifat koordinatif (kesamaan fungsional semata), maka BNN dinilai tidak dapat bekerja optimal dan tidak akan mampu menghadapi permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin serius. Oleh karena itu pemegang otoritas dalam hal ini segera menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2007 tentang Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota (BNK), yang memiliki kewenangan operasional melalui kewenangan Anggota BNN terkait dalam satuan tugas, yang mana BNN-BNP-BNKab/Kota merupakan mitra kerja pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang masing-masing bertanggung jawab kepada Presiden, Gubernur dan Bupati/Walikota, dan yang masing-masing (BNP dan BN Kab/Kota) tidak mempunyai hubungan struktural-vertikal dengan BNN. Merespon perkembangan permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin serius, maka Ketetapan MPR-RI Nomor VI/MPR/2002 melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) Tahun 2002 telah merekomendasikan kepada DPR-RI dan Presiden RI untuk melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Oleh karena itu, Pemerintah dan DPR-RI mengesahkan dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sebagai perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 1997. Berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tersebut, BNN diberikan kewenangan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika. Yang diperjuangkan BNN saat ini adalah cara untuk MEMISKINKAN para bandar atau pengedar narkoba, karena disinyalir dan terbukti pada beberapa kasus penjualan narkoba sudah digunakan untuk pendanaan teroris (Narco Terrorism) dan juga untuk menghindari kegiatan penjualan narkoba untuk biaya politik (Narco for Politic).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BADAN NARKOTIKA NASIONAL

BADAN NARKOTIKA NASIONAL

BKNN sebagai badan koordinasi dirasakan tidak memadai lagi untuk menghadapi ancaman bahaya narkoba yang makin serius. Oleh karenanya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional, BKNN diganti dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN, sebagai sebuah lembaga forum dengan tugas mengoordinasikan 25 instansi pemerintah terkait dan ditambah dengan kewenangan operasional, mempunyai tugas dan fungsi: 1. mengoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan nasional penanggulangan narkoba; dan 2. mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan nasional penanggulangan narkoba.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL KOTA SURABAYA

PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL KOTA SURABAYA

narkotika, agar para pecandu dapat sembuh dari kecanduannya terhadap narkotika. Bagi pecandu narkotika yang memperoleh keputusan dari hakim untuk menjalani hukuman penjara atau kurungan akan mendapatkan pembinaan maupun pengobatan dalam Lembaga Permasyarakatan. Dengan semakin meningkatnya bahaya narkotika yang meluas keseluruh pelosok dunia, maka timbul bermacam-macam cara pembinaan untuk penyembuhan terhadap korban penyalahgunaan narkotika. Dalam hal ini adalah rehabilitasi. Dalam Ketentuan Umum Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, rehabilitasi dibedakan dua macam, yaitu meliputi:
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL KOTA SURABAYA.

PELAKSANAAN REHABILITASI BAGI PENYALAHGUNA NARKOTIKA DI BADAN NARKOTIKA NASIONAL KOTA SURABAYA.

Tindakan rehabilitasi ditujukan kepada korban dari penyalahgunaan narkotika dengan tujuan untuk memulihkan atau mengembangkan kemampuan fisik, mental, dan sosial penderita yang bersangkutan. 1 Selain untuk memulihkan, rehabilitasi juga sebagai pengobatan atau perawatan bagi para pecandu narkotika, agar para pecandu dapat sembuh dari kecanduannya terhadap narkotika. Bagi pecandu narkotika yang memperoleh keputusan dari hakim untuk menjalani hukuman penjara atau kurungan akan mendapatkan pembinaan maupun pengobatan dalam Lembaga Permasyarakatan. Dengan semakin meningkatnya bahaya narkotika yang meluas keseluruh pelosok dunia, maka timbul bermacam- macam cara pembinaan untuk penyembuhan terhadap korban penyalahgunaan narkotika. Bentuk rehabilitasi, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN PENANGGULANNYA.

PERANAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN PENANGGULANNYA.

Sanksi pidana maupun denda terhadap orang yang menyalahgunakan narkotika terdapat dalam ketentuan pidana pada Bab XV mulai dari Pasal 111 sampai dengan Pasal 148 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ketentuan mengenai sanksi dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sangat besar. Sanksi pidana paling sedikit 1 (satu) tahun penjara sampai 20 (dua puluh) tahun penjara bahkan pidana mati. Denda yang dicantumkan dalam Undang-Undang Narkotika tersebut berkisar antara Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah) sampai dengan Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah). Secara filosofis pembentukan Undang-Undang Narkotika dengan mencantumkan sanksi yang besar dan tinggi dalam ketentuan pidana Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah menunjukkan bahwa terdapat suatu makna untuk melindungi korban dari kejahatan penyalahgunaan narkotika. Dengan demikian, korban yang pernah dipidana akan menjadi takut untuk mengulangi kejahatannya lagi.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

081250102685 KELOMPOK KERJA ULP BNN PENGUMUMAN PEMENANG Pekerjaan : Pengadaan Konsultan Pengawas Pembangunan Pusat Laboratorium Narkoba BNN Nomor : 17/ULP/LOG.10/IX/2017/BNN Hari/Tgl[r]

1 Baca lebih lajut

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

LPSE Badan Narkotika Nasional Pengumuman Pemenang

Telp/Fax 62-021 80887417 PENGUMUMAN PEMENANG PELELANGAN UMUM Pekerjaan : PENGADAAN KENDARAAN OPERASIONAL KANTOR/OPERASIONAL AMBULANCE BALAI REHABILITASI BADDOKA MAKASSAR SULAWESI SELA[r]

1 Baca lebih lajut

LPSE Badan Narkotika Nasional BA Lelang Gagal

LPSE Badan Narkotika Nasional BA Lelang Gagal

Sesuai dengan ketentuan, apabila tidak ada penawaran yang lulus evaluasi penawaran maka selanjutnya Pokja ULP BNN menyatakan pelelangan gagal sebagaimana tersebut dalam Peraturan Preside[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...