Bentuk-Bentuk Kekerasan Pada Masa Pacaran (dating

Top PDF Bentuk-Bentuk Kekerasan Pada Masa Pacaran (dating:

ANALISIS KEKERASAN PADA MASA PACARAN (DATING VIOLENCE)

ANALISIS KEKERASAN PADA MASA PACARAN (DATING VIOLENCE)

menyimpan persoalan, memutuskan hubungan, membicarakannya dengan kepala dingin, da melibatkan teman dekat untuk mancari solusi terbaik. Dengan demikian, berdasarkan fenomena yang telah ada tentang kasus dating violence, untuk mewujudkan hubungan pacaran tanpa adanya unsure kekerasan di dalamnya, maka diperlukan sosialisasi mengenai pemahaman terhadap dating violence itu sendiri kepada seluruh lapisan masyarakat terutama kepada remaja perempuan. selain itu, perlu juga dibentuk lembaga yang khusus menangani persoalan dating violence beserta safe home/shelter yang dapat memberikan konseling kepada korban kekerasan pada masa pacaran serta mampu menampung mereka sementara waktu, sehingga terjaga keselamatan jiwanya serta mampu berpikir jernih dalam mengambil keputusan bagi kelanjutan hubungan pacarannya. Sosialisasi mengenai pemahaman terhadap UU kekerasan pada perempuan oleh lembaga yang peduli pada kekerasan yang dialami perempuan khususnya kekerasan pada masa pacaran melalui detik hukum juga dianggap penting, agar pelaku dapat lebih mengerti bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk dari tindak kejahatan yang bisa berakibat pada hukum pidana.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM PACARAN(Dating Violence)

KEKERASAN DALAM PACARAN(Dating Violence)

Banyak yang beranggapan masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal yang indah, isinya rayu-rayuan, saling menunjukkan perhatian, memberi support, dan sebagainya. Namun kenyataannya banyak kasus kekerasan yang terjadi dalam hubungan berpacaran yang berdampak pada fisik maupun psikologisnya korban. Perilaku atau tindakan yang dapat digolongkan sebagai tindak kekerasan dalam pacaran sendiri jika salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung, dan disakiti oleh pasangannya yang kemudian menimbulkan kesengsaraan dengan menggunakan penyiksaan fisik, emosional, ekonomi maupun seksual. Berbagai penyebab terjadinya kekerasan dalam pacaran serta dampak yang ditimbulkan pada korban tentunya menjadi hal yang menarik untuk diketahui.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

atau di masa yang akan dating dalam bentuk kas atau aktiva lain.

atau di masa yang akan dating dalam bentuk kas atau aktiva lain.

Biaya adalah pengurangan pada aktiva netto sebagai akibat digunakannya jasa-jasa ekonomi unutk menciptakan penghasilan. Biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan member manfaat saat sekarang atau di masa yang akan datang.

25 Baca lebih lajut

Gambaran Bentuk-Bentuk Dating Violence Pada Remaja Yang Berpacaran Di Kota Medan

Gambaran Bentuk-Bentuk Dating Violence Pada Remaja Yang Berpacaran Di Kota Medan

Dating adalah interaksi yang didalamnya terdapat pertukaran afeksi, kognisi dan perilaku yang dilakukan oleh dua pihak yang sudah terjalin hubungan, yang mana interaksi tersebut dilakukan atas dasar kebutuhan kedua pihak dan interaksi ini terjadi melalui pemilihan pasangan. Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas pasangannya dalam hubungan pacaran. Bentuk-bentuknya terdiri dari verbal and emotional abuse , sexual abuse & physical abuse. Remaja adalah individu yang usianya 12 sampai 21 tahun.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

GAMBARAN BENTUK-BENTUK KEKERASAN DALAM PACARAN PADA MAHASISWA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA (dikhususkan untuk mahasiswa Strata 1 angkatan 2013 – 2015)

GAMBARAN BENTUK-BENTUK KEKERASAN DALAM PACARAN PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA (dikhususkan untuk mahasiswa Strata 1 angkatan 2013 – 2015)

Salah satu asumsi dari analisis regresi adalah linieritas. Hal inidimaksudkan apakah garis regresi antara X dan Y membentuk garis linier atau tidak. Uji ini ditentukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas sebagai prediktor mempunyai hubungan linearatau tidak dengan variabel terikat. Langkah perhitungan linieritas datadapat dilihat pada lampiran.maka distribusi data dinyatakan diperoleh dari lapangan disajikan dalam bentuk deskripsi data dari masing-masing variabel, baik variabel bebas maupun variabel terikat, dengan ketentuan Apabila F hitung ≤ F tabel maka dapat disimpulkan regresinya linier
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Dating Violance Pada Perempuan (Studi Pada Empat Perempuan Korban Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran Di Universitas X)

Dating Violance Pada Perempuan (Studi Pada Empat Perempuan Korban Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran Di Universitas X)

Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa perempuan bisa dikatakan rentan terhadap kekerasan, hal ini terjadi karena posisinya yang lemah atau karena sengaja dilemahkan baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Dalam data lapangan menjelaskan seorang perempuan yang diperlakukan kasar oleh pacarnya akan mudah luluh ketika pacarnya menunjukkan sikap menyesal, minta maaf dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan tersebut. Hal diatas dapat dipahami karena pada umumnya perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung menggunakan logika dalam proses pengambilan keputusan seperti yang dijelaskan oleh ahli Psikolog, Yanwar Arief, M. Psi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN ACCEPTANCE OF DATING VIOLENCE PADA DIRI PEREMPUAN DEWASA MUDA KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN DI JAKARTA

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN ACCEPTANCE OF DATING VIOLENCE PADA DIRI PEREMPUAN DEWASA MUDA KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN DI JAKARTA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan acceptance of dating violence pada diri perempuan dewasa muda korban kekerasan dalam pacaran di Jakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan dewasa muda yang berprofesi sebagai mahasiswi dengan usia 18 tahun sampai dengan 22 tahun yang telah menjalin hubungan yang terdapat kekerasan di dalamnya selama minimal 6 bulan pacaran dan berdomisili di Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental yang menggunakan teknik non propability sampling dengan teknik snowball. Alat ukur yang digunakan adalah STAI (State trait Anxiety Inventory) yang dikonstruk oleh Spielberger, Gorsuch, Lushene, Vagg, & Jacobs pada tahun 1983. Alat ukur yang kedua adalah Acceptance of Dating Violence yang dikonstruk sendiri oleh peneliti dengan menggunakan konsep acceptance dari Kaura pada tahun 2007. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Pearson Correlation Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai korelasi (r) 0.430 nilai signifikansi (p) 0.004. Artinya terdapat hubungan yang positif antara kecemasan dengan acceptance of dating violence pada diri perempuan dewasa muda korban kekerasan dalam pacaran di Jakarta.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Gambaran Konsep Pacaran dan Perilaku Pacaran pada Remaja Awal. (Dating Concept and Dating Behavior among Early Adolescents) SKRIPSI

Gambaran Konsep Pacaran dan Perilaku Pacaran pada Remaja Awal. (Dating Concept and Dating Behavior among Early Adolescents) SKRIPSI

Judul : Gambaran Konsep Pacaran dan Perilaku Pacaran pada Remaja Awal Pada masa remaja, individu sudah memiliki minat untuk berpacaran, namun banyak orang tua yang melarang anak remajanya berpacaran. Hal ini dapat menimbulkan konflik di antara mereka atau justru membuat anak berpacaran tanpa sepengetahuan orang tua. Orang tua melarang anak remajanya berpacaran karena mereka memiliki pandangan negatif tentang pacaran pada remaja, padahal ini belum tentu benar. Konsep pacaran dan perilaku pacaran pada remaja perlu diketahui agar orang tua dapat menyikapi dengan lebih bijaksana keinginan anaknya untuk berpacaran dan dapat mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan pacaran. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi sebagai pendukung hasil wawancara. Penelitian ini difokuskan pada remaja awal karena konflik antara orang tua dan anaknya berkaitan dengan dengan masalah pacaran memuncak pada masa remaja awal (Medinnus & Johnson, 1969). Subjek penelitian berjumlah empat orang (2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan) berusia 14-15 tahun, yang termasuk ke dalam kategori remaja awal menurut Lerner (1993). Keempat subjek memiliki konsep pacaran yang berbeda-beda, namun mereka memiliki kesamaan dalam karakteristik esensial pacaran, yaitu adanya ‘penembakan’ untuk menjadi pacar. Tiga dari empat subjek menampilkan perilaku pacaran yang serupa, yaitu mengobrol, jalan-jalan, mengunjungi rumah pacar/dikunjungi, berpegangan tangan, cium pipi, berpelukan, dan berciuman bibir.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KEKERASAN EMOSIONAL PADA MASA PACARAN DITINJAU DARI KONSEP DIRI REMAJA SKRIPSI

KEKERASAN EMOSIONAL PADA MASA PACARAN DITINJAU DARI KONSEP DIRI REMAJA SKRIPSI

Alhamdulillahirobbila’lamiin mengucap rasa syukur kepada Allah SWT karena penulis selalu “bersandar” pada-Nya saat menghadapi segala cobaan dalam proses penulisan skripsi, dan hanya dengan izin-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kekerasan Emosional pada Masa Pacaran ditinjau dari Konsep Diri Remaja”.

13 Baca lebih lajut

Bab 7.7: Pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual

Bab 7.7: Pemerkosaan, perbudakan seksual, dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual

48. Komisi menerima laporan enam kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh anggota- anggota Falintil yang terjadi pada mulai tahun 1975 sampai 1999. 10 Dalam konflik bersenjata itu, perempuan berisiko menjadi korban kekerasan seksual dari semua pihak. Walaupun demikian, Komisi mencatat bahwa angka pemerkosaan yang dilakukan oleh Falintil jauh lebih kecil daripada yang dilakukan oleh personil militer Indonesia. DA1 menyampaikan kepada Komisi mengenai pemerkosaan terhadap bibinya, DA pada tahun 1978 oleh seorang prajurit Falintil di Fatuk Makerek (Soibada, Manatuto). PS7, seorang anggota Falintil bersenjata, datang ke rumah DA dan memaksanya untuk berhubungan seksual. Karena takut, DA menyerah. Walaupun PS7 kemudian berjanji untuk menikahi DA, ia meninggalkan daerah itu ditugaskan di tempat lain. 11 49. Dalam masa konsolidasi pendudukan Indonesia dari tahun 1985 sampai 1998, perempuan tetap menghadapi bahaya pemerkosaan oleh laki-laki bersenjata dari semua pihak. Misalnya, prajurit-prajurit Falintil masih melakukan pemerkosaan di Ermera, meskipun sporadis, sampai tahun 1998. EA dari Railaco Kraik (Railaco, Ermera) diperkosa pada tanggal 16 Maret 1995 oleh seorang prajurit Falintil yang ia kenal sebagai PS8. EA percaya bahwa dirinya menjadi sasaran karena membuka sebuah kios di desanya dengan modal dari program bantuan pemerintah Indonesia. Suatu malam ketika suaminya sedang menjaga kios, PS8 dengan membawa sebilah pisau masuk ke kamar tidur EA dan memperkosanya. Ia menjadi hamil akibat pemerkosaan tersebut. 12
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM PACARAN(STUDI KASUS PADA MAHASISWA YANG PERNAH MELAKUKAN KEKERASAN DALAM PACARAN).

KEKERASAN DALAM PACARAN(STUDI KASUS PADA MAHASISWA YANG PERNAH MELAKUKAN KEKERASAN DALAM PACARAN).

Hasil penelitian studi kasus pada mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran ini menunjukkan bahwa pertama, bentuk tindak kekerasan yang dilakukan mahasiswa yaitu, kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Kedua, faktor penyebab kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah pelaku pernah menjadi korban dari tindak kekerasan dan atau terbiasa dengan tindak kekerasan semasa kecilnya, pengaruh teman sebaya, serta pengaruh alkohol atau minuman keras. Ketiga, dampak yang dialami mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran yakni dampak secara psikologis seperti perasaan bersalah, malu, menyesal dan takut. Keempat, strategi mengatasi masalah (SMM) yang dilakukan mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran adalah strategi mengatasi masalah yang berorientasi pada masalah (SMM-M) dengan cara mengubah sikap dan perilaku terhadap pacarnya. Sedangkan strategi mengatasi masalah yang berorientasi pada emosi (SMM-E) dengan cara bersabar dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Saran untuk subjek agar subjek bisa mengubah sikap dan perilakunya lebih baik lagi serta lebih mampu mengelola emosi.
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

Stres ditinjau dari kekerasan dalam pacaran (Dating Violence) pada perempuan dewasa awal - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Stres ditinjau dari kekerasan dalam pacaran (Dating Violence) pada perempuan dewasa awal - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

ada kekerasan, karena pada umumnya masa pacaran (dating) adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah, setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku.. dan kata-kata yang [r]

11 Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM PACARAN (Studi Kasus pada Mahasiswa yang pernah melakukan Kekerasan dalam Pacaran) SKRIPSI

KEKERASAN DALAM PACARAN (Studi Kasus pada Mahasiswa yang pernah melakukan Kekerasan dalam Pacaran) SKRIPSI

Hasil penelitian studi kasus pada mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran ini menunjukkan bahwa pertama, bentuk tindak kekerasan yang dilakukan mahasiswa yaitu, kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Kedua, faktor penyebab kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah pelaku pernah menjadi korban dari tindak kekerasan dan atau terbiasa dengan tindak kekerasan semasa kecilnya, pengaruh teman sebaya, serta pengaruh alkohol atau minuman keras. Ketiga, dampak yang dialami mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran yakni dampak secara psikologis seperti perasaan bersalah, malu, menyesal dan takut. Keempat, strategi mengatasi masalah (SMM) yang dilakukan mahasiswa yang pernah melakukan kekerasan dalam pacaran adalah strategi mengatasi masalah yang berorientasi pada masalah (SMM-M) dengan cara mengubah sikap dan perilaku terhadap pacarnya. Sedangkan strategi mengatasi masalah yang berorientasi pada emosi (SMM-E) dengan cara bersabar dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Saran untuk subjek agar subjek bisa mengubah sikap dan perilakunya lebih baik lagi serta lebih mampu mengelola emosi.
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM MASA PACARAN   Perlndungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasaan Dalam Masa Pacaran (Studi Kasus Di SPEK-HAM).

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM MASA PACARAN Perlndungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasaan Dalam Masa Pacaran (Studi Kasus Di SPEK-HAM).

Kata Kunci: perlindungan hukum, kekerasan dalam pacaran, kekerasan seksual ABSTRACT The purpose of this study is to to describe the forms of legal protection for women victims of crimes of violence in the courtship of the normative side and from the facts and know what are the obstacles encountered on the victims of violence in courtship. This research includes empirical juridical. The results showed that the forms of legal protection against dating violence in case No. 005 / I / PK / UKPK / Spek-HAM / I / 2013 where the victim was 16 years old and suffered sexual violence so that pregnant and choose the path of non-litigation, through consultation psychological. Obstacles encountered in the protection of women victims of violence in courtship among others: the victim's family shut down and prefer to settle the case amicably, confusion families of victims in the process of complaints, law enforcement officials not commit against the perpetrators of violence against women, as well as on legislation Article molestation (289-296 Criminal Code) that in advocating the sexual abuse cases is the P enal Code has not been set explicitly the protection of victims of sexual abuse.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Laki-Laki Sebagai Korban Kekerasan dalam Masa Pacaran - Ubaya Repository

Studi Deskriptif Laki-Laki Sebagai Korban Kekerasan dalam Masa Pacaran - Ubaya Repository

Penelitian ini meneliti terkait kekerasan dalam pacaran yang dialami oleh laki-laki. Jumlah penelitian terkait kekerasan dalam pacaran dengan laki-laki sebagai korban jauh lebih sedikit dibandingkan jika korban adalah seorang perempuan. Penelitianinibertujuanuntukmelakukan studi deskriptif terkait kekerasan yang dialami laki- laki. Lingkup penelitiannya adalah bentuk kekerasan,penyebab, resolusi konflik yang sering digunakan, pemaknaan terhadap kekerasan, rasa sakit yang ditimbulkan dan alasan laki-laki bertahan dalam relasi pacaran yang disertai dengan kekerasan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perlindungan Anak terhadap Kekerasan dalam Berpacaran (Dating Violence)

Perlindungan Anak terhadap Kekerasan dalam Berpacaran (Dating Violence)

kasus perbuatan kekerasan dalam berpacaran (dating violence) ini di selesaikan secara kekeluargaan oleh kedua belah pihak. Hambatan karna kurangnya pasilitas pendukung yang tersedia; 6) Pada kasus kekerasan seksual dalam pacaran atau kekerasan yang terjadi karena adanya relasi pacaran, seringkali mengalami hambatan dalam proses penanganan hukum. Hal ini terjadi karena aparat penegak hukum masih berpandangan atau menganggap bahwa peristiwa tersebut terjadi karena adanya suatu hubungan atau relasi yang baik antara korban dan pelaku. Seharusnya aparat berpandangan bahwa justru karena adanya relasi tersebut, maka peluang perempuan menjadi korban kekerasan seksual lebih tinggi, karena adanya relasi kuasa yang digunakan oleh pelaku. Adanya relasi kuasa itu membuat pelaku menganggap bahwa perempuan adalah miliknya yang dapat diperlakukan sesuai dengan keinginannya. Termasuk di dalamnya tipu daya, tipu muslihat, janji, iming- iming, dan berbagai tindakan penguasaan pelaku terhadap korban. Hal itu pada akhirnya membuat korban terpaksa tunduk dan patuh pada pelaku;
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN ATAS KEKERASAN FISIK DALAM MASA PACARAN DI KOTA YOGYAKARTA.

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN ATAS KEKERASAN FISIK DALAM MASA PACARAN DI KOTA YOGYAKARTA.

Dalam hubungan antara manusia satu dengan yang lain sering kali terjadi ketidakharmonisan, pertentangan dan perbedaan pendapat yang sering berujung pada kekerasan. Suatu tindakan yang dapat dikatakan sebagai tindakan kekerasan yaitu apabila tindakan tersebut telah melampaui atau bertentangan dengan batas – batas Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana yang tertuang dalam ketentuan 28 UUD 1945 beserta perubahannya Pasal 28 G ayat (1). Tindakan kekerasan juga merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan sebagai bentuk diskriminasi seperti yang tertera dalam Konvensi Tentang Penghapusan segala bentuk Diskrimanasi terhadap perempuan yang telah diratifikasi oleh Indonesia. selain itu Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) juga mengatur tentang tindakan kekerasan. Sehingga korban dari tindakan kekerasan mendapatkan perlindungan hukum secara penuh.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Bawah Umur

Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Bawah Umur

FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA KEKERASAN SEKSUAL (PERKOSAAN) TERHADAP ANAK DI BAWAH UMUR Kekerasan terhadap anak-anak yang terjadi di sekitar kita dan sepanjang tidak saja dilakukan oleh lingkungan keluarga anak, namun juga dilakukan oleh lingkungan keluarga anak sendiri yakni orang tua. Kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak-anak, tidak saja terjadi di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Namun sayangnya belum ada data yang lengkap mengenai ini. Sementara itu, para pelaku child abuse, 68 persen dilakukan oleh orang yang dikenal anak, termasuk 34 persen dilakukan oleh orangtua kandung sendiri. Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa anak perempuan pada situasi sekarang ini, sangatlah rentan terhadap kekerasan seksual. Alasan pada umumnya pelaku adalah sangat beragam, selain tidak rasional juga mengada-ada. Sementara itu usia korban rata-rata berkisar antara 2 – 15 tahun bahkan diantaranya dilaporkan masih berusia 1 tahun 3 bulan. Para pelaku sebelum dan sesudah melakukan kekerasan seksual umumnya melakukan kekerasan, dan atau ancaman kekerasan, tipu muslihat dan serangkaian kebohongan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Bentuk dan jenis kekerasan dalam bernega

Bentuk dan jenis kekerasan dalam bernega

Ambiguitas peran negara dalam menjamin kebebasan beragama sekaligus menunjukkan pada publik bahwa elite negara tak cuma terlihat abai dalam mengatasa problem kekerasan agama, namun ada kesan telah menjadikan isu agama sebagai komoditas politik. Kekerasan atau konflik agama menarik untuk diatasi sebatas ukuran seberapa besar citra yang akan terpoles disana, dan seberapa besar dukungan yang akan didapat elite dari kekerasan atau konflik itu. Sungguh, reproduksi kekerasan terhadap kebebasan beragama yang terus berulang, secara psiko- politik, bisa memberi legitimasi bagi para pelaku kekerasan sekaligus mendelegitimasi otoritas negara dalam fungsinya selaku pemangku ketertiban umum. Guncangan terhadap kerukunan beragama tidak bisa dianggap main-main. Sejarah menunjukkan bagaimana negara hancur ketika pluralisme dan toleransi diabaikan. Kejadian di Balkan, Kashmir, Afganistan, dan Irak, menjadi contoh nyata ketika perbedaan menjadi ajang untuk saling menghabisi. Ketegasan, keseriusan, dan kesungguhan pemerintah untuk mengatasi problem intoleransi beragama ini sesungguhnya bisa menjadi entry point guna memutus mata rantai produksi kekerasan yang telah menjadi ancaman sosial paling nyata di negeri ini.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Fenomena Kekerasan sebagai Bentuk Kejahatan (Violence)

Fenomena Kekerasan sebagai Bentuk Kejahatan (Violence)

Abstrak: Sebagai mahkluk sosial, dalam berinteraksi dengan manusia lainnya sering terjadi ketidaksesuaian baik cara maupun tujuan, sehingga berakibat konflik berwujud kekerasan (violence). Sejak akhir tahun 2012 terjadi peningkatan kekerasan di masyarakat Indonesia, bahkan dalam dunia pendidikan yang melembaga dan antar aparatur negara. Tujuan penulisan makalah ini untuk (1) membahas fenomena kekerasan di lihat dari perspektif sistem hukum di Indonesia, (2) menganalisis penyebab kekerasan dengan pendekatan antropologi, sosiologi dan Psikologi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, dengan pendekatan secara deskriptif, eksploratif dan data dianalisis secara kualitatif. Dapat disimpulkan bahwa: (1) kekerasan merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam sistem hukum Indonesia, kekerasan dapat dijatuhi pidana berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan beberapa peraturan di luar KUHP (Tindak Pidana Khusus). (2) faktor penyebab terjadinya kekerasan adalah: (a) adanya budaya yang bersifat heterogen, akulturasi budaya yang berbeda, dan kecemburuan sosial dalam masyarakat (antropologi); (b) penyimpangan perilaku anggota masyarakat karena adanya perubahan struktur dan nilai serta ketimpangan ekonomi, (c) adanya proses stigmatisasi dari masyarakat dan negara kepada pelaku penyimpangan (sosiologi); (d) adanya proses peniruan/imitasi pelaku terhadap kejahatan yang terjadi melalui media sosial maupun melihat /mengalami secara langsung, (e) adanya ganguan kejiwaan bagi penderita psikopat atau pelaku yang menderita ganguan jiwa (psikologi). Disarankan perlunya peningkatan penegakan hukum melalui penerapan sanksi yang tegas dan perubahan mind set ke arah anti kekerasan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...