Kemampuan Interaksi Sosial

Top PDF Kemampuan Interaksi Sosial:

TAPPDF.COM  PDF DOWNLOAD KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANTARA ...  JOURNAL (UAD 1 SM

TAPPDF.COM PDF DOWNLOAD KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANTARA ... JOURNAL (UAD 1 SM

Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan interaksi sosial antara remaja yang tinggal di pondok pesantren dengan yang tinggal bersama keluarga pada SMA IT Abu Bakar Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA IT Abu Bakar Yogyakarta. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kemampuan interaksi sosial. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis uji-t dengan bantuan program Statistical Product and Service Sollution (SPSS) 16,0 for windows. Berdasarkan hasil analisis uji-t diperoleh hasil t=0,983 dengan p=0,330 (p>0,05) yang berarti tidak signifikan. Dan hasil kategorisasi menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di pondok pesantren sebanyak 100% memiliki kategori tinggi. Sedangkan, remaja yang tinggal bersama keluarga sebanyak 3% memiliki kategori rendah, 7% memiliki kategori sedang, dan 90% memiliki kategori tinggi. Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan interaksi sosial antara remaja yang tinggal di pondok pesantren dengan yang tinggal bersama keluarga pada SMA IT Abu Bakar Yogyakarta. Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan interaksi sosial antara remaja yang tinggal di pondok pesantren dengan yang tinggal bersama keluarga pada SMA IT Abu Bakar Yogyakarta.

5 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Interaksi Sosial Anak Usia Dini 1. Pengertian Kemampuan Interaksi Sosial - BAB II RIZKI MEITASARI PGPAUD'12

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Interaksi Sosial Anak Usia Dini 1. Pengertian Kemampuan Interaksi Sosial - BAB II RIZKI MEITASARI PGPAUD'12

Pada siklus II perbaikan dilakukan menggunakan metode bermain peran dengan tema pekerjaan namun lebih variatif yaitu dengan kostum dan settingan yang berbeda. Siklus II juga dilakukan dalam tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama akan memainkan peran sebagai seorang tukang cukur, pertemuan kedua memainkan peran sebagai dokter dan pertemuan ketiga bermain peran sebagai penjual dan pembeli. Setelah dilakukan siklus ke II dengan tiga kali pertemuan kemampuan interaksi sosial meningkat dengan optimal dan penelitian berhasil.

24 Baca lebih lajut

PELATIHAN OUTBOUND BINA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK   Pelatihan Outbound Bina Sosial Untuk Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Dengan Teman Sebaya.

PELATIHAN OUTBOUND BINA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK Pelatihan Outbound Bina Sosial Untuk Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Dengan Teman Sebaya.

Tujuan penelitian ini adalah menguji apakah pelatihan outbound bina sosial mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak usia 10-12 tahun dengan teman sebaya. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV, V, VI MIM Program Khusus Kenteng, Nogosari, Boyolali yang berjumlah 28 orang. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 10 orang terdiri dari 5 orang kelompok eksperimen dan 5 orang kelompok kontrol. Teknik pemilihan subjek dengan purposive dan teknik pengelompokan subjek dengan random. Hipotesis yang diajukan adalah pelatihan outbound bina sosial mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak usia 10-12 tahun dengan teman sebaya.

18 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS METODE PRETEND PLAY TERHADAP KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTISTIK KELAS II SDLB DI SLB MA’ARIF MUNTILAN.

EFEKTIFITAS METODE PRETEND PLAY TERHADAP KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTISTIK KELAS II SDLB DI SLB MA’ARIF MUNTILAN.

Setiap awal pembelajaran dalam fase baseline-2 dimulai dengan berdoa dan bernyayi terlebih dahulu. Anak mulai terbiasa dengan dialog yang disediakan oleh peneliti, lalu anak bersemangat untuk memerankannya. Pada saat peneliti masuk ke dalam kelas anak langsung duduk sambil bersenandung menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil tepuk tangan. Ada beberapa perilaku kurang tepat yang dilakukan oleh anak, yaitu anak berjalan-jalan didalam kelas ketika pembelajaran sedang berlangsung. Selain itu anak terkadang kurang fokus pada saat pembelajaran, karena diluar kelas melakukan kegiatan lain seperti membatik, membuat telur asin, dan menjahit. Berikut ini adalah tabel hasil dari pelaksanaan pada fase baseline-2: Tabel 9. Frekuensi Kemampuan Interaksi Sosial pada fase

142 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI  Hubungan Antara Fungsi Kognitif dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Lansia di Kelurahan Mandan Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI Hubungan Antara Fungsi Kognitif dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Lansia di Kelurahan Mandan Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

Salah satu gangguan mental pada lansia adalah gangguan fungsi kognitif. Pada lansia perlu dilakukan pengkajian fungsi kognitif untuk mengidentifikasi terjadinya penurunan fungsi kognitif. Dampak dari menurunnya fungsi kognitif akan menyebabkan bergesernya peran lansia dalam berinteraksi sosial, sehingga mengakibatkan lansia merasa terisolir dan merasa tidak berguna. Lansia yang tinggal di Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo, ketika dilakukan pengkajian fungsi kognitif (MMSE), 4 dari 5 lansia termasuk dalam kategori buruk dan interaksi sosial mereka juga berbeda-beda, ada yang senang berbicara tetapi ada juga yang hanya diam saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan rancangan diskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sample penelitian ini berjumlah 80 responden dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah pengkajian fungsi kognitif (MMSE) dan kuesioner kemampuan interaksi sosial. Teknik analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi kognitif sebagian besar lansia mempunyai fungsi kognitif baik yaitu sejumlah 43 responden (53,8%), sedangkan kemampuan interaksi sosial sebagian besar lansia mempunyai kemampuan interaksi sosial baik yaitu sejumlah 47 responden (58,8%). Hasil uji Chi Square diperoleh X 2 = 6,830 dan p = 0,009, maka H0 ditolak. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI  Hubungan Antara Fungsi Kognitif dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Lansia di Kelurahan Mandan Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI Hubungan Antara Fungsi Kognitif dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Lansia di Kelurahan Mandan Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang selalu penulis panjatkan atas nikmat, taufik dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Hubungan Antara Fungsi Kognitif Dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Lansia di Kelurahan Mandan Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo”. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang selalu teguh di jalan Nya.

14 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERINTERAKSI SOSIAL SESAMA TEMAN PADA SISWA SMP PGRI 1 GADINGREJO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENGGUNAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERINTERAKSI SOSIAL SESAMA TEMAN PADA SISWA SMP PGRI 1 GADINGREJO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Dari pengertian diatas siswa sebagai mahluk sosial secara alami akan mengadakan hubungan atau interaksi dengan orang lain. Interaksi sosial ini dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, Kemampuan siswa dalam melakukan interaksi sosial antara siswa yang satu dengan siswa yang lain tidak sama, Siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial yang tinggi, dapat terlihat dari sikap yang senang akan kegiatan yang bersifat kelompok, tertarik berkomunikasi dengan orang lain, peka terhadap keadaan sekitar, senang melakukan kerjasama, dan sadar sebagai mahluk sosial, sehingga akan mudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan ia tidak akan mengalami hambatan dalam bergaul dengan orang lain. Sebaliknya siswa yang memiliki interaksi sosial yang rendah akan mengalami hambatan dalam bergaul.

63 Baca lebih lajut

Peng.Ketr.Intr.Kom. Autis

Peng.Ketr.Intr.Kom. Autis

Mata kuliah ini merupakan kelompok perluasan pendalaman dan tidak wajib. Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu menjelaskan pengertian anak autistik karakteristik anak autistik berkaitan dengan perkembangan kemampuan interaksi-sosial dan komunikasi, paradigma perkembangan keterampilan berinteraksi-sosial dan berkomunikasi secara oral anak autistik, penelitian dan isu-isu penting dengan perkembangan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi, beberapa pendekatan yang dimungkinkan dapat diterapkan dalam pola layanan pendidikan anak autistik untuk meningkatkan. Dalam perkuliahan dibahas tentang Sindroma autism; Etiologi berkaitan dengan enviromental factors, genetic factor, neuropsychological factors, neorochemical findings dan neouro anatomical findings; karakteristik kelainan sindroma autism berdasarkan DSM-4-TR, khususnya berkaitan dengan hendaya interaksi sosial, dan hendaya komunikasi. Hendaya (impairment atau disorder) dalam interaksi sosial, hendaya dalam komunikasi khususnya dalam perkembangan bahasa anak autistik.

4 Baca lebih lajut

PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial

PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial

Hubungan antar manusia atau relasi-relasi sosial, hubungan satu dengan yang lain warga-warga suatu masyarakat, baik dalam bentuk individu atau perorangan maupun dengan kelompok-kelompok dan antar kelompok manusia itu sendiri, mewujudkan segi dinamikanya perubahan dan perkembangan masyarakat. Apabila kita lihat komunikasi ataupun hubungan tersebut sebelum mempunyai bentuk-bentuknya yang konkrit, yang sesuai dengan nilai-nilai sosial di dalam suatu masyarakat, ia mengalami suatu proses terlebih dahulu. Proses-proses inilah yang dimaksudkan dan disebut sebagai proses sosial. Sehingga Gillin & Gillin mengatakan bahwa: Proses-proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut, atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada.

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kemandirian Belajar Ditinjau Dari Lingkungan Belajar Dan Keikutsertaan Siswa Dalam Organisasi Sekolah Pada Siswa SMK Negeri 1 Banyudono Tahun Ajaran 2013/2014.

PENDAHULUAN Kemandirian Belajar Ditinjau Dari Lingkungan Belajar Dan Keikutsertaan Siswa Dalam Organisasi Sekolah Pada Siswa SMK Negeri 1 Banyudono Tahun Ajaran 2013/2014.

Keikutsertaan siswa dalam organisasi sekolah akan membentuk kemandirian siswa dan terciptanya lingkungan belajar yang baik. Siswa yang aktif dalam organisasi memiliki kelebihan tertentu, misalnya kemampuan interaksi sosial, kemampuan menyesuaikan diri dan berkomunikasi dengan orang lain, sehingga dapat menopang mereka untuk dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan dan mengembangkan kemandirian belajar siswa.

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK KELAS VI MI ISMARIA AL-QUR’ANIYYAH RAJABASA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2017/2018 - Raden Intan Repository

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK KELAS VI MI ISMARIA AL-QUR’ANIYYAH RAJABASA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2017/2018 - Raden Intan Repository

Dengan skala Likert, maka variabel kecerdasan emosi dan interaksi sosial dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik ukur untuk menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan. Jawaban sebagai item instrumen yang menggunakan skala model likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Dengan skala Likert yang sudah dimodifikasi dengan hanya mempunyai empat tingkat kriteria jawaban yaitu selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah, maka variabel interaksi sosial dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian dijadikan titik ukur untuk menyusun item-item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan sekala model Likert mempunyai gradasi dari yang bernilai positif dan bernilai negatif. Agar responden memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius dan tidak mekanistis, maka skala interaksi sosial dibagikan pada peserta didik memberikan pernyataan favorable (pernyataan yang mendukung) dan unfavorable (yang tidak mendukung).

87 Baca lebih lajut

INTERAKSI SOSIAL

INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana.

23 Baca lebih lajut

INTERAKSI SOSIAL DAN LEMBAGA SOSIAL

INTERAKSI SOSIAL DAN LEMBAGA SOSIAL

Keluarga berperan membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat. Keluarga merupakan sosialisasi pertama bagi anak atau sosialisasi primer. Di dalam lingkungan keluarga, anak mulai dilatih dan diperkenalkan cara-cara hidup bersama dengan orang lain. Anak diajak memahami lingkungan yang lebih luas sehingga pada saatnya nanti seorang anak benar-benar siap untuk hidup dalam masyarakat. Anak diperkenalkan oleh orang tuanya mengenai norma yang berlaku di masyarakat seperti norma dan nilai – nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dalam rangka sosialisasi ini pula anak diajarkan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat. 5) Fungsi Afeksi

40 Baca lebih lajut

Interaksi Sosial dan lembaga sosial

Interaksi Sosial dan lembaga sosial

Dalam berhubungan sosial seseorang akan berinteraksi sosial dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Pearson (dalam Dian Wisnu Wardhani dan Sri Fatmawati M, 2012:4), hubungan sosial merupakan hubungan yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling tergantung satu sama lain dan menggunakan pola interaksi sosial yang konsisten. Ketercapaian berinteraksi sosial sangat penting bagi remaja, karena tanpa berinteraksi sosial remaja tidak akan berhasil sebagai remaja karena tidak memenuhi salah satu tugas perkembangannya. Di samping itu, sebagai siswa mereka akan kesulitan memperoleh hasil belajar yang memuaskan karena salah satu faktor penentu keberhasilan belajar tidak terpenuhi.

10 Baca lebih lajut

Interaksi Sosial dan lembaga sosial

Interaksi Sosial dan lembaga sosial

Soerjono Soekanto mendefinisikan nilai sebagai konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Contoh, orang menganggap menolong bernilai baik, sedangkan mencuri bernilai buruk. Dengan demikian, nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lainnya terdapat perbedaan tata nilai. Contoh, masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih menyukai persaingan karena dalam persaingan akan muncul pembaharuan-pembaharuan. Sementara pada masyarakat tradisional lebih cenderung menghindari persaingan karena dalam persaingan akan mengganggu keharmonisan

26 Baca lebih lajut

FENOMENA SOSIAL dan interaksi sosial

FENOMENA SOSIAL dan interaksi sosial

Sampah adalah salah satu fenomena sosial yang terjadi di masyarakat terutama di perkotaan. Jumlah penduduk yang meningkat membuat kebutuhan juga ikut meningkat. Akibatnya, volume sampah pun semakin meningkat. Belum lagi ditambah dengan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang.

2 Baca lebih lajut

Interaksi Sosial  Interaksi antar perokok

Interaksi Sosial Interaksi antar perokok

Interaksi Sosial - Interaksi, yaitu hubungan saling mempengaruhi. Hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang dapat menimbulkan pengaruh satu sama lain. Terus apa dong Interaksi Sosial itu? Tenang sobat, Zona Siswa pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai Interaksi Sosial secara lengkap, baik pengertian, faktor dan syarat terjadinya interaksi sosial. Semoga bermanfaat. Check this out!!!

3 Baca lebih lajut

Interaksi Sosial | Karya Tulis Ilmiah Interaksi Sosial

Interaksi Sosial | Karya Tulis Ilmiah Interaksi Sosial

Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan seperti perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi yang ditunjukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik. · Konflik

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Terapi Bermain FlashcardUntuk Meningkatkan Interaksi Sosial Pada Anak Autis di Miracle Centre Surabaya

Pengaruh Terapi Bermain FlashcardUntuk Meningkatkan Interaksi Sosial Pada Anak Autis di Miracle Centre Surabaya

Selama terapi dilaksanakan pada kurun waktu 2 minggu, diketahui bahwa siswa belum terlihat mengalami perubahan dalam kemampuan ekspresif ini terjadi disebab karena pemberian perlakuan yang kurang lama sehingga perubahan tidak signifinakan. Perlakuan yang diberikan oleh terapis adalah mengintruksi siswa autis untuk mengindentifikasi flashcard (mama, papa, kakak, adek dll) sesuai program harian pelatihan. Setelah anak mengambil flashcard yang dimaksud oleh terapis siswa diharapkan mampu menirukan kata pada flashcard, sampai siswa spontanitas mengucapkan dan mengekspresikan keinginan kepada orang yang disekitarnya. Namun pada perlakuan ini anak siswa terlihat belum mampu merespon dengan baik, oleh karena itu dibutuhkan waktu yang lama sampai siswa merespon.

10 Baca lebih lajut

d psn 1007333 chapter1

d psn 1007333 chapter1

Memasuki perkembangan zaman secara global, lembaga pendidikan dihadapkan pada banyak tantangan yang sangat krusial. Sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam masyarakat demokratis perlu dipersiapkan terutama sumber daya manusia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Demikian juga dengan norma-norma, nilai-nilai pada kelompok sosial di masyarakat yang umumnya mendapatkan perlakuan setara dengan kelompok sosial lain. Seperti kelompok yang berkebutuhan khusus atau penyandang cacat. Sebagaimana dikemukakan oleh Masunah (2010:1) bahwa:

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...