PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO

Top PDF PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO:

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

Di Kabupaten Situbondo tercatat jumlah penderita TB paru tahun 2007 hingga tahun 2009 masih ditemukan penderita yang DO. Dengan rata-rata persentase masing masing yaitu 6%, 7%, dan 5%. Pada periode tahun 2009 di Kabupaten Situbondo tercatat beberapa UPK yang memiliki kejadian DO penyakit TB paru yang tinggi, yaitu Rumah Sakit Abdoer Rahem (25%), Puskesmas Panarukan sebesar 20% dan Puskesmas Arjasa sebesar 19%.

22 Baca lebih lajut

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

Di Kabupaten Situbondo tercatat jumlah penderita TB paru tahun 2007 hingga tahun 2009 masih ditemukan penderita yang DO. Dengan rata-rata persentase masing masing yaitu 6%, 7%, dan 5%. Pada periode tahun 2009 di Kabupaten Situbondo tercatat beberapa UPK yang memiliki kejadian DO penyakit TB paru yang tinggi, yaitu Rumah Sakit Abdoer Rahem (25%), Puskesmas Panarukan sebesar 20% dan Puskesmas Arjasa sebesar 19%.

22 Baca lebih lajut

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

Di Kabupaten Situbondo tercatat jumlah penderita TB paru tahun 2007 hingga tahun 2009 masih ditemukan penderita yang DO. Dengan rata-rata persentase masing masing yaitu 6%, 7%, dan 5%. Pada periode tahun 2009 di Kabupaten Situbondo tercatat beberapa UPK yang memiliki kejadian DO penyakit TB paru yang tinggi, yaitu Rumah Sakit Abdoer Rahem (25%), Puskesmas Panarukan sebesar 20% dan Puskesmas Arjasa sebesar 19%.

22 Baca lebih lajut

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DROP OUT PADA PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2009

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul: Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Drop Out pada Penderita TB Paru di Kabupaten Situbondo Tahun 2009 adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

22 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Putus Berobat Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Medan

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Putus Berobat Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Medan

Tanda fisik penderita TB tidak khas, tidak dapat membedakan TB dengan penyakit paru lain. Dapat ditemukan tanda-tanda antara lain penarikan struktur sekitar, suara napas bronkial, amforik, ronki basah. Pada efusi pleura didapatkan gerak napas tertinggal, keredupan dan suara napas menurun sampai tidak terdengar. Bila terdapat limfadenitis tuberkulosa didapatkan pembesaran kelenjar limfe, sering didaerah leher, kadang disertai adanya skrofuloderma.

23 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tingkat Pengetahuan Keluarga Mengenai Upaya Pencegahan Penularan Penyakit TB Paru di RSPAW Salatiga T1 462010064 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tingkat Pengetahuan Keluarga Mengenai Upaya Pencegahan Penularan Penyakit TB Paru di RSPAW Salatiga T1 462010064 BAB V

Diharapkan agar selalu menentukan Pengawas Minum Obat (PMO) dalam keluarga penderita TB Paru sehingga dapat mengontrol keaktifan penderita TB Paru dalam meminum obat. Selain itu perlu dilakukan pengawasan secara berkala atau kunjungan rutin untuk memantau pengobatan dan upaya pencegahan penularan penyakit TB Paru yang dilakukan keluarga di rumah.

3 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan Antara Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Rumah Sakit Islam Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Antara Tingkat Depresi Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Rumah Sakit Islam Surakarta.

Diliyani, Nina Rahma. ( 2006 ). Hubungan Pengetahuan Penderita Tentang Penyakit dan Komplikasi dengan Tindakan Mengontrol Kadar Gula Darah di Wilayah Kerja Puskesmas I Gatak Sukoharjo. Skripsi FIK UMS. Surakarta : Tidak dipublikasikan

7 Baca lebih lajut

Profil Kasus Tuberkulosis Paru di Instalasi Rawat Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2010 - 31 Desember 2011

Profil Kasus Tuberkulosis Paru di Instalasi Rawat Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2010 - 31 Desember 2011

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang masih merupakan masalah kesehatan di dunia dan Indonesia sampai sekarang ini.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan data sekunder, yaitu rekam medik penderita TB paru. Populasi adalah semua kasus TB paru di Instalasi Rawat Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang selama 1 Januari 2010-31 Desember 2011 yang mempunyai data rekam medik lengkap. Perhitungan analitik menggunakan Chi Square dengan α= 0,05. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kasus tuberkulosis paru di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang dari 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2011, yaitu karakteristik, temuan klinis dan laboratorium klinis, komorbid, dan farmakologi TB paru. Jumlah kasus TB paru dari penelitian ini adalah 65 buah. TB paru dengan BTA sputum negatif (60%) adalah klasifikasi TB paru terbanyak. Laki- laki (72%), usia 20- 29 tahun (27%), pendidikan tamat sekolah lanjut tingkat atas (SLTA)(47%), pekerjaan rumah tangga (33%) merupakan karakteristik terbanyak diikuti merokok pada laki- laki (64%) dan status gizi kurus dengan kekurangan berat badan tingkat berat (53%). Hasil data analisis berdasarkan Chi Square, didapatkan X 2 = 2,5 dengan α= 0,05, sehingga tidak
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

TINGKAT PENGETAHUAN TB PARU MEMPENGARUHI PENGGUNAAN MASKER PADA PENDERITA TB PARU

TINGKAT PENGETAHUAN TB PARU MEMPENGARUHI PENGGUNAAN MASKER PADA PENDERITA TB PARU

25 – 60 tahun berada dalam batasan usia dewasa. Craik (1997, dalam Santrock, 2002) mengemukakan bahwa daya ingat menurun pada usia dewasa terutama dewasa tengah dan dewasa akhir. Hal ini lebih terjadi ketika memori jangka panjang (long term memory) lebih terlibat daripada memori jangka pendek (short term memory). Daya ingat juga cenderung menurun ketika informasi yang coba diingat adalah informasi yang belum lama disimpan dan jarang digunakan (Riege & Inman, dalam Santrock 2002). Daya ingat cenderung menurun jika digunakan untuk mengingat (recall) daripada mengenali (recognize) (Mandler, dalam Santrock, 2002). Faktor informasi dirasakan kurang tersedia di Ruang Paru Rumkital Dr. Ramelan Surabaya yang berkaitan dengan TB Paru dan Masker tidak ada. Pengunjung (keluarga) diberikan informasi atau anjuran untuk menggunakan masker oleh perawat ketika pertama kali pasien datang bersama pasien namun tidak dilakukan klarifikasi lanjutan atau kontinyuitas informasi. Peneliti berasumsi Informasi yang diterima secara berulang selain mempermudah dalam mengingat juga membantu seseorang untuk lebih mengenalinya. Pemberian informasi yang jelas dan kontinyu dapat meningkatkan daya ingat seseorang yang masuk usia dewasa yang mulai mengalami penurunan daya ingat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK- ANAK PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2008.

KAJIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK- ANAK PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2008.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru-paru atau berbagai organ tubuh lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Kuman ini juga mempunyai kandungan lemak tinggi pada membran selnya sehingga menyebabkan bakteri ini menjadi tahan terhadap asam dan pertambahan dari kumannya berlangsung lambat. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet karena itu penularannya terutama terjadi pada malam hari (Tabrani, 1996).

25 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TB PARU DENGAN KEPATUHAN MENJALANI PROGRAM PENGOBATAN  Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang TB Paru Dengan Kepatuhan Menjalani Program Pengobatan Pada Penderita TB Paru di BBKPM Surakarta.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TB PARU DENGAN KEPATUHAN MENJALANI PROGRAM PENGOBATAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang TB Paru Dengan Kepatuhan Menjalani Program Pengobatan Pada Penderita TB Paru di BBKPM Surakarta.

Metode : Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data tingkat pengetahuan dan kepatuhan diperoleh melalui kuesioner. Subjek penelitian ini adalah pasien TB Paru yang mendapat pengobatan jangka pendek tahun 2012 di BBKPM Surakarta. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Fisher’s Exact.

15 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tuberkulosis 2.1.1. Definisi Tuberkulosis - Gambaran Peran Serta Petugas Kesehatan Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Kelurahan Gambir Baru Kecamatan Kisaran Timur Tahun 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tuberkulosis 2.1.1. Definisi Tuberkulosis - Gambaran Peran Serta Petugas Kesehatan Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Kelurahan Gambir Baru Kecamatan Kisaran Timur Tahun 2014

Observed ฀herapy (DO฀). Penderita juga harus menerima pengobatan (treatment) dalam sistem pengelolaan, penyediaan obat anti tuberkulosis yang tertata dengan baik, termasuk pemberian regimen OAT yang adekuat yakni melalui pengobatan jangka pendek (short course) sesuai dengan klasifikasi dan tipe masing-masing kasus Tujuan penanggulangan dengan strategi DOTS adalah untuk mencapai angka kesembuhan TB Paru yang tinggi, mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan mencegah resistensi ganda terhadap obat TB yang disebut Multiple Drug Resistance / MDR (Sembiring, 200฀).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENGARUH KETERLAMBATAN PENDERITA DAN SISTEM PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KETERLAMBATAN PENEGAKAN DIAGNOSIS PENDERITA TB PARU BTA (+) DI TINGKAT PUSKESMAS KABUPATEN TAPANULI SELATAN.

PENGARUH KETERLAMBATAN PENDERITA DAN SISTEM PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KETERLAMBATAN PENEGAKAN DIAGNOSIS PENDERITA TB PARU BTA (+) DI TINGKAT PUSKESMAS KABUPATEN TAPANULI SELATAN.

Keterlambatan penegakan diagnosis TB paru akan berisiko meningkatkan transmisi infeksi yang luas dan berkepanjangan, risiko kematian serta berpotensi memperburuk keadaan ekonomi pasien maupun keluarga. Keterlambatan diagnosis dianalisis oleh dua aspek utama, yaitu aspek penderita dan aspek sistem pelayanan kesehatan (yankes). Tujuan penelitian mengukur total waktu keterlambatan, besar pengaruh keterlambatan penderita dan sistem yankes terhadap keterlambatan penegakan diagnosis serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kepuasan Penderita TB Paru Tentang Pelaksanaan Strategi DOTS dalam Penanggulangan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Kepuasan Penderita TB Paru Tentang Pelaksanaan Strategi DOTS dalam Penanggulangan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Berdasarkan aspek penampilan fisik, mayoritas penderita TB Paru merasa puas dengan keadaan ruang dan peralatan pengobatan TB Paru yang bersih serta penampilan petugas kesehatan yang rapi. Hal ini sesuai pendapat Harianto (2005) yang menyatakan bahwa sarana dan fasilitas fisik yang dapat langsung dirasakan oleh pelanggan dalam pelayanan seperti kecukupan tempat duduk di ruang tunggu, kenyamanan ruang tunggu dan penampilan fisik petugas yang melayani termasuk menjamin mutu pelayanan. Mardaleta (2005) mengatakan bahwa klien akan merasa senang, nyaman dan puas jika penampilan jasa pelayanan enak dipandang. Namun ada responden yang tidak puas sebanyak 4 orang (12,6%) dengan keadaan ruangan dan penampilan petugas kesehatan. Berdasarkan hasil survei tentang kepuasan pasien di puskesmas Kartasura bahwa aspek kebersihan merupakan aspek yang belum memuaskan bagi pasien (Hertiana, 2009).
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Efektifitas fase intensif program DOTS pada penderita TB Paru putus berobat dan factor – faktor yang mempengaruhinya di beberapa pusat  pengobatan TB Paru di Medan.

Efektifitas fase intensif program DOTS pada penderita TB Paru putus berobat dan factor – faktor yang mempengaruhinya di beberapa pusat pengobatan TB Paru di Medan.

Menurut Bahar yang dapat menyebabkan kegagalan pengobatan adalah lesi paru yang terlalu luas/ sakit berat, penyakit lain yang menyertai seperti diabetes melitus, infeksi HIV serta adanya gangguan imunologis. Diabetes mellitus dan TB paru sering berhubungan dan telah banyak dibicarakan pada beberapa tahun yang lalu. TB paru sering didapati terutama pada penderita DM yang tidak terkontrol, yang lebih rentan terhadap TB paru dibandingkan dengan penderita non DM. Infeksi TB paru pada DM biasanya lebih sering disebabkan oleh reaktivasi fokus yang lama daripada melalui kontak langsung. 44,45 Risiko relatif reaktivasi kuman tuberkulosis ini akan berkembang menjadi TB paru dengan bakteriologis positif dua sampai lima kali lebih tinggi. 46,47 Penelitian secara autopsi pada tahun 1800-an mendapatkan bukti adanya tuberkulosis pada 38% sampai 50% pasien dengan diabetes mellitus . Pada tahun tahun 1932, Root telah mencatat bahwa tuberkulosis paru berkembang 10 kali lebih sering pada pasien dengan diabetes. 21 Proporsi penderita TB paru aktif jauh lebih tinggi diantara penderita DM dibandingkan dengan non DM. 44
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Gambaran Tuberkulosis Ekstra Paru di Puskesmas Kotamadya Bandung Tahun 2013.

Gambaran Tuberkulosis Ekstra Paru di Puskesmas Kotamadya Bandung Tahun 2013.

Patogenesis tuberkulosis diawali oleh Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru. Masuknya Mycobacterium tuberculosis ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit Mycobacterium tuberculosis dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar bakteri, akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan bakteri dan akan bereplikasi dalam makrofag. Mycobacterium tuberculosis dalam makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni Mycobacterium tuberculosis di jaringan paru disebut fokus primer Gohn. Dari fokus primer akan menyebar melalui saluran limfe dan terjadi peradangan saluran limfe di daerah hilus (limfangitis lokal) dan diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Fokus primer bersama-sama dengan limfangitis dan limfadenitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini dapat mengalami hal-hal berikut ini :
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU BTA POSITIF DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU BTA POSITIF DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

Dibawah Bimbingan: Indri Hapsari, M.Sc., Apt dan Didik Setiawan, M.Sc., Apt. Latar Belakang:Penyakit Tuberkulosis Paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi kronis yang menular yang sebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Apabila bakteri Mycobacterium tuberculosis masuk kedalam jaringan tubuh, bakteri ini dapat bertahan hidup selama beberapa tahun. Sebagian besar dinding bakteri terdiri atas asam lemak (lipid), peptidoglikan, dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis tahan terhadap asam dan juga tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Sehingga pengobatan pada penyakit tuberkulosis paru membutuhkan waktu pengobatan yang cukup lama. Kepatuhan berobat pada pasien TB paru berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

The Analysis Correlation Physical between House Condition with Pulmunory TB BTA Positive in The Working Area Kotabumi II, Bukit Kemuning and Ulak Rengas Health Center North Lampung District 2012

The Analysis Correlation Physical between House Condition with Pulmunory TB BTA Positive in The Working Area Kotabumi II, Bukit Kemuning and Ulak Rengas Health Center North Lampung District 2012

Penelitian ini belum sempurna karena tidak terlepas dari berbagai keterbatasan yang tidak dapat dihindari peneliti. Namun demikian peneliti telah berupaya maksimal untuk mendapat- kan hasil penelitian yang baik dan bermanfaat dengan melakukan pemilih- an desain penelitian yang tepat se- hingga hasilnya sesuai dengan tujuan penelitian dan tidak mempengaruhi hasil penelitian itu sendiri. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol, dimana penyebab (faktor risiko) diper- oleh setelah adanya suatu kejadian (akibat). Pemilihan subjek berdasar- kan status penyakit yang dilakukan pada saat pajanan telah berlangsung, menyebabkan studi dengan desain ini rentan terhadap bias informasi. Namun dengan analisis multivariat dan meminimalisasi bias yang mungkin terjadi diharapkan masih diperoleh hasil yang baik untuk menjelaskan hubungan antara kondisi fisik rumah dengan kejadian TB Paru BTA positif setelah dikontrol dengan variabel confounding. Untuk mencapai tujuan ini digunakan analisis regresi logistik
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - BAB 1 skripsi rev.

BAB I PENDAHULUAN - BAB 1 skripsi rev.

bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini menginfeksi saluran pernafasan bagian bawah melalui percikan dahak yang menyebar saat bersin atau batuk saat diruangan dengan ventilasi yang kurang baik, tidak terpapar sinar matahari secara langsung sehingga bakteri tubercolosa dapat berkembang biak serta bisa menular ke orang lain, bisa juga menular melalui percikan udara secara langsung dengan kosentrasi bakteri Tuberculosis tinggi yang terhirup saat melakukan inspirasi kemudian bakteri tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh yang lain melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfa, saluran pernafasan atau menyebar langsung ke seluruh bagian tubuh yang lain (Kemenkes, 2011).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAB II TINJUAUN PUSTAKA 2.1 Penyakit Tuberkulosis Paru 2.1.1. Definisi - GAMBARAN SUSPEK TB PARU DI WILAYAH UPT PUSKESMAS TUNJUNGAN BLORA - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

BAB II TINJUAUN PUSTAKA 2.1 Penyakit Tuberkulosis Paru 2.1.1. Definisi - GAMBARAN SUSPEK TB PARU DI WILAYAH UPT PUSKESMAS TUNJUNGAN BLORA - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

TB primer adalah penyakit TB yang timbul dalam 5 tahun pertama setelah terjadinya infeksi bakteri M. tuberculosis untuk pertama kalinya ( infeksi primer ). TB pada anak – anak umumnya adalah TB primer. Pada seseorang yang belum pernah kemasukan bakteri M. tuberculosis, tes tuberkulin negatif karena sistem imun seluler belum mengenal bakteri M. tuberculosis. Bila orang ini terinfeksi M. tuberculosis segera difagositosis oleh makrofag, bakteri M. tuberculosis tidak akan mati sedangkan makrofagnya dapat mati. Dengan demikian bakteri ini dapat berkembang biak secara leluasa selama 2 minggu pertama di alveolus paru dengan kecepatan 1 bakteri menjadi 2 bakteri setiap 20 jam. Setelah 2 minggu bakteri bertambah menjadi 100.000. sel - sel limfosit akan berkenalan dengan M. tuberculosis untuk pertama kalinya dan akan menjadi limfosit T yang tersensitisasi dan mengeluarkan berbagai jenis limfokin. Beberapa jenis limfokin akan merangsang limfosit dan makrofag untuk membunuh M. tuberculosis. Disamping itu juga terbentuk limfokin lain yaitu Skin Reactivity Factor ( SRF ) yang menyebabkan timbulnya reaksi hipersensivitas tipe lambat pada kulit berupa indurasi dengan diameter 10 mm atau lebih dikenal sebagai reaksi tuberculin ( tes Mantoux ). Adanya konversi reaksi tuberculin dari negatif menjadi positif belum tentu menjadi indikator bahwa sudah ada kekebalan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects