PERILAKU SOSIAL ANAK

Top PDF PERILAKU SOSIAL ANAK:

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL   Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

Untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal atau tidak, maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov Z, dengan ketentuan jika nilai signifikansi > 0,05 maka data terdistrinusi secara normal, tetapi jika nilai signifikansi < 0,05 maka data terdistribusi tidak normal. Berdasarkan hasil uji normalitas yang menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov Z pada data posttest perilaku sosial anak sebelum menonton acara televisi diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,763 yang berada di atas nilai taraf signifikansi = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data post-test perilaku sosial sebelum menonton acara televisi memenuhi persyaratan uji normalitas, yaitu data post-test berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal. Perhitungan uji normalitas yang dilakukan dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov Z pada data perilaku sosial anak sesudah menonton acara televisi diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,896 yang berada di atas nilai taraf signifikansi = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data post-test berasal dari populasi yang terdistribusi secara normal sehingga memenuhi persyaratan uji normalitas.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK KELOMPOK B   Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK KELOMPOK B Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: minat anak dalam menonton acara televisi terbukti dapat meningkatkan perilaku sosial anak Kelompok B TK Doplang tahun pelajaran 2015/2016. Semakin sering anak menonton acara televisi film Upin-Ipin dan Adit & Sopo Jarwo, semakin meningkat pula perilaku sosial anak.

17 Baca lebih lajut

POLA ASUH KELUARGA DALAM MEMBIMBING PERILAKU SOSIAL ANAK (Studi Kasus Pada Keluarga Tenaga Kerja Indonesia di Desa Tamangede Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal) -

POLA ASUH KELUARGA DALAM MEMBIMBING PERILAKU SOSIAL ANAK (Studi Kasus Pada Keluarga Tenaga Kerja Indonesia di Desa Tamangede Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal) -

relationships and the time parents devote to their children are believed to be important for the cognitive and social-emotional development of children, their physical health and emotional well-being.” ( hubungan orang tua- anak dan waktu yang dicurahkan untuk anak-anak mereka diyakini penting untuk perkembangan kognitif, sosal-emosional anak, dan kesehatan emosional makhluk). Tidak terkawalnya proses pendidikan dan perkembangan anak karena beberapa hal, diantaranya adalah perginya orang tua kandung anak merantau diluar negeri atau biasa disebut menjadi Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ). Dengan kondisi seperti itu, apendidikan anak didelegasikan kepada salah satu anggota keluarga yang dipandang paling dekat. Disinilah muncul beberapa problematika ketika pendidikan itu didelegasikan kepada salah satu keluarga karena akan mempengaruhi perilaku perilaku sosial anak dalam lingkungan masyarakat.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Meningkatkan Perilaku Sosial Anak Melalui Metode Karyawisata di Kelompok B TK Al-Khairaat Toaya Vunta Kabupaten Donggala | Fatmah | Bungamputi 7248 24139 1 PB

Meningkatkan Perilaku Sosial Anak Melalui Metode Karyawisata di Kelompok B TK Al-Khairaat Toaya Vunta Kabupaten Donggala | Fatmah | Bungamputi 7248 24139 1 PB

Upaya mengatasi masalah tersebut adalah melakukan perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tindakan yang menjadi pilihan peneliti yaitu metode karyawisata. Melalui metode karyawisata, peneliti dapat membuat kondisi dan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak, di mana anak diharapkan aktif dalam mengikuti kegiatan belajar, anak-anak akan memperoleh pengalaman belajar secara langsung, sehingga memudahkan anak dapat memahami tujuan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. Selain itu karyawisata kaya akan nilai pendidikan karena anak juga dapat meningkatkan pengembangan kemampuan, sikap dan nilai-nilai sosial pada anak. Salah satunya adalah perilaku sosial anak seperti yang dikemukakan oleh para ahli di bawah ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MAKALAH ISBD PERILAKU SOSIAL ANAK JALANAN

MAKALAH ISBD PERILAKU SOSIAL ANAK JALANAN

Fenomena masalah anak jalanan merupakan isu global yang telah mencapai titik mengkhawatirkan. Situasi anak jalan di Indonesia cukup memprihatinkan karena sampai saat ini masalah-masalah anak khususnya pada anak-anak yang berada di jalanan belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Jumlah anak yang tinggal di jalanan terus menerus meningkat dan pemerintah pun tidak mempunyai data anak yang tinggal di jalanan. anak jalanan merupakan seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Adanya anak jalanan sering kali merugikan orang lain misalnya berkata kotor, mengganggu ketertiban jalan, merusak body mobil dengan goresan dan lain-lain. Selain itu permasalahan anak jalan juga adalah sebagai objek kekerasan. Mereka merupakan kelompok sosial yang sangat rentan dari berbagai tindakan kekerasan baik fisik, emosi, seksual maupun kekerasan sosial. selain itu, lingkungan juga sangat mempengaruhi kepribadian dan perilaku sosial anak jalanan. dimana tempat mereka tinggal banyak preman, membuat anak jalanan tidak memiliki perilaku social yang baik terhadap masyarakat maupun di lingkungan tempat tinggal nya. untuk itu, kami akan membahas pengaruh lingkungan terhadap perilaku sosial anak jalanan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH TERPAAN SINETRON REMAJA TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK Survei Pada Pelajar Sekolah Dasar Negeri Kebonsari Pasuruan PenontonSinetron Pada Jam Tayang Prime Time

PENGARUH TERPAAN SINETRON REMAJA TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK Survei Pada Pelajar Sekolah Dasar Negeri Kebonsari Pasuruan PenontonSinetron Pada Jam Tayang Prime Time

Untuk prosentase pengaruh terpaan sinetron remaja terhadap perilaku sosial anak dapat dijelaskan bahwa 22,6% variabel Perilaku sosial anak akan dijelaskan oleh variabel bebasnya yaitu Te[r]

2 Baca lebih lajut

ANALISIS PERMASALAHAN PERILAKU SOSIAL ANAK SERTA CARA GURU MENGATASINYA PADA USIA 5-6 TAHUN DI TK ABA 05 MEDAN T.A 2016/2017.

ANALISIS PERMASALAHAN PERILAKU SOSIAL ANAK SERTA CARA GURU MENGATASINYA PADA USIA 5-6 TAHUN DI TK ABA 05 MEDAN T.A 2016/2017.

Masa usia dini merupakan priode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. priode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seseorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta dilingkungannya sebagai stimulus terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor kognitif maupun sosialnya. Untuk itu pendidikan usia dini merupakan pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003.Tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 butir 14 yang mendefenisikan “pendidikan anak usia dini sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu petumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” .
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENELITIAN PERILAKU SOSIAL ANAK SEKOLAH

PENELITIAN PERILAKU SOSIAL ANAK SEKOLAH

sekolah terdapat kondisi-kondisi: internalisasi pengetahuan lingkungan hidup diberikan dalam mata pelajaran khusus melainkan terintegrasi, banyak kegiatan dan program untuk mendorong peran serta siswa dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, sarana dan prasarana merupakan suatu yang penting dalam proses pendidikan namun beberapa sekolah belum memadai, realita bahwa upaya meningkatakan daya dukung lingkungan sekolah dalam mencapai tujuan pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup memerlukan dukungan anggaran sekolah, peran Komite Sekolah tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah, dan diperlukan komitmen seluruh stakeholder sekolah termasuk orangtua siswa dalam pendidikan lingkungan hidup. Sebagian besar orang tua memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada anaknya di rumah dilakukan sejak dini. Selain menggunakan sarana yang konvensional seperti televisi, radio, atau media massa, penanaman budaya peduli lingkungan hidup dapat juga melibatkan kebudayaan masyarakat seperti kegiatan bersih desa, sedekah bumi, atau pesan-pesan budaya dalam kesenian masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa peran lingkungan masyarakat sangatlah penting dalam upaya internalisasi budaya peduli lingkungan hidup kepada anak.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

S PLB 1102045 Abstract

S PLB 1102045 Abstract

Kehilangan pendengaran pada anak tunarungu memberikan dampak yang kompleks pada perkembangannya, terutama perkembangan perilaku sosial. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran perilaku sosial anak tunarungu usia sekolah dasar (meliputi kerjasama, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, tidak mementingkan diri sendiri, kesportifan, dan tanggung jawab) di sekolah dan rumah, hambatan perilaku sosial di sekolah dan di rumah, serta upaya yang dilakukan oleh guru maupun orang tua. Melalui metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, diambil subjek penelitiannya tiga anak tunarungu kelas V sekolah dasar di SLB B Prima Bakti Mulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial di sekolah pada aspek kerjasama, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, tidak mementingkan diri sendiri, dan tanggung jawab kecenderungannya anak tunarungu dapat menunjukkan perilaku sosial yang sesuai. Akan tetapi pada aspek kesportifan, anak tunarungu memiliki kecenderungan kurang mampu menunjukkannya dengan sesuai tuntutan lingkungan. Untuk perilaku sosial di rumah, anak tunarungu memiliki kecenderungan untuk menunjukkan perilaku sosial yang sesuai pada aspek kerjasama, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, tidak mementingkan diri sendiri, dan tanggung jawab. Anak tunarungu memiliki kecenderungan kurang menunjukkan aspek perilaku kesportifan yang sesuai dengan tuntutan. Hambatan tersebut terjadi dikarenakan faktor internal dalam kemampuan berkomunikasi maupun faktor eksternal yakni penerimaan dari lingkungan. Upaya guru untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu yakni melalui program BKPBI dan latihan artikulasi. Memberikan penjelasan, menjadi penengah saat terjadi kesalahpahaman, serta menaikkan volume suara untuk mengoptimalkan sisa pendengaran anak adalah upaya yang dilakukan orang tua.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S SOS 1105248 Chapter3

S SOS 1105248 Chapter3

Dalam penelitian, uji coba instrumen dilakukan untuk dapat memperoleh nilai validitas dan reliabilitas dari instrumen pengumpulan data mengenai pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku sosial anak. Instrumen pengumpulan data akan menentukan baik atau tidaknya data, yang dapat menentukan kualitas dari hasil penelitian. Oleh karena itu, instrumen pengumpulan data yang baik harus memenuhi dua persyaratan dalam pengujian hasil yang diteliti, yaitu valid dan reliabel.

30 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI

Upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan aspek sosial anak usia dini menurut Martini Jamaris (2002: 83) antara lain; pertama, menimbulkan rasa aman pada anak dan menciptakan suasana yang baik di dalam kelas maupun luar kelas; kedua, menciptakan peri- laku positif di dalam dan di luar kelas baik dalam tindakan, perkataan, atau perilaku lainnya; ketiga, memberikan kesempatan pada anak untuk menen tukan pilihannya (apabila pilihan anak tidak tepat atau ditolak maka dijelaskan alasannya); keempat, memberikan kesempatan kepada anak untuk berani menyatakan pendapatnya baik bersifat penolakan mau- pun yang mendukung dengan cara-cara positif; dan kelima, menyediakan sarana prasarana yang mendukung program pembentukan perilaku sosial anak. Guru memiliki peran penting dalam proses belajar sosial anak. Sekolah menjadi tempat sosialisasi bagi seorang anak. Guru akan mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi anak. Anak akan dikenalkan norma-norma lingkungan dekat, dikenalkan pula norma-norma kehidu- pan bermasyarakat. Dengan kata lain, di sekolah seorang anak akan belajar bertingkah laku, belajar kebisaan-kebiasaan, nilai, norma, cara berpikir, bertindak, dan sebagainya dari seorang guru.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI DI TAMAN KANAK-KANAK ABA IV MANGLI JEMBER TAHUN 2016

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI DI TAMAN KANAK-KANAK ABA IV MANGLI JEMBER TAHUN 2016

Upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengembangkan aspek sosial anak usia dini menurut Martini Jamaris (2002: 83) antara lain; pertama, menimbulkan rasa aman pada anak dan menciptakan suasana yang baik di dalam kelas maupun luar kelas; kedua, menciptakan perilaku positif di dalam dan di luar kelas baik dalam tindakan, perkataan, atau perilaku lainnya; ketiga, memberikan kesempatan pada anak untuk menentukan pilihannya (apabila pilihan anak tidak tepat atau ditolak maka dijelaskan alasannya); keempat, memberikan kesempatan kepada anak untuk berani menyatakan pendapatnya baik bersifat penolakan maupun yang mendukung dengan cara-cara positif; dan kelima, menyediakan sarana prasarana yang mendukung program pembentukan perilaku sosial anak. Guru memiliki peran penting dalam proses belajar sosial anak. Sekolah menjadi tempat sosialisasi bagi seorang anak. Guru akan mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi anak. Anak akan dikenalkan norma-norma lingkungan dekat, dikenalkan pula norma- norma kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, di sekolah seorang anak akan belajar bertingkah laku, belajar kebisaan-kebiasaan, nilai, norma, cara berpikir, bertindak, dan sebagainya dari seorang guru.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

1 ANALYSIS OF FACTOR AFFECTING SOCIAL BEHAVIOR IN CHILDREN AGED 4-6 YEARS OF KINDERGARTEN ABA NOTOPRAJAN YOGYAKARTA IN 2012

1 ANALYSIS OF FACTOR AFFECTING SOCIAL BEHAVIOR IN CHILDREN AGED 4-6 YEARS OF KINDERGARTEN ABA NOTOPRAJAN YOGYAKARTA IN 2012

dapat menjadi pribadi non sosial yang akan mendapatkan kesulitan dalam berinteraksi bahkan bergaul dengan sesamanya. Sedangkan dampak bagi psikologis anak adalah anak dapat menjadi anak yang ceria dan riang gembira ketika anak dapat berinteraksi dan bermain dengan baik dengan sesamanya, namun sebaliknya anak akan tertekan ketika ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan temannya. Dampak bagi lingkungan apabila faktor-faktor tersebut memberikan peluang untuk berkembangnya perilaku sosial anak maka lingkungan akan mejadi lingkungan dengan anak-anak yang berkepribadian baik, santun dan berbudi, sebaliknya apabila peluang tersebut tidak didapatkan maka lingkungan akan menjadi lingkungan dengan anak-anak yang berkepribadian menyimpang (www.upi.edu.id)
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

T BP 1201266 Chapter 5

T BP 1201266 Chapter 5

a. Profil umum perilaku asertif remaja LKSA menunjukkan kategori tidak asertif pada indikator penerimaan diri, kontak mata langsung, dan postur tubuh terbuka. Hal tersebut dikarenakan remaja LKSA cenderung mempunyai kepribadian inferior, pasif, apatis, dan menarik diri.

3 Baca lebih lajut

PENGENDALIAN SOSIAL PERILAKU MENYIMPANG ANAK KOS OLEH TOKOH MASYARAKAT

PENGENDALIAN SOSIAL PERILAKU MENYIMPANG ANAK KOS OLEH TOKOH MASYARAKAT

Dari gambar 4. dapat kita lihat peraturan-peraturan yang ada di kos RT 03 yaitu pintu rumah harus dikunci sesuai jam tamu, jam tamu pada hari biasa pukul 08.00-22.00 wib dan hari minggu/libur pukul 06.00-23.00 wib, tamu yang nginap 1x24 jam lapor Fauzi, kalau ada tamu dikamar pintu harus dibuka, dan keamanan, kebersihan, etika serta sikap hidup sopan harus benar-benar dijaga, kunci kendaraan dan parkir harus yang rapi, mesin motor hidup dan matikan diluar, dan yang terakhir setiap penghuni kos bertanggungjawab terhadap tamu, pintu rumah, kamar, lingkungan sosial dan pergaulannya. Peraturan-peraturan tersebut dibuat oleh pemilik kos dan harus ditaati oleh penghuni kos agar kenyamanan dan keamanan penghuni kos dengan warga sekitar dapat terjaga dan terjalin dengan baik. Selain peraturan tertulis dari kos. Peraturaan dari lingkungan RW 01 juga telah diberikan.seperti yang diungkapkan oleh oleh keempat tokoh masyarakat dan kedua penghuni kos yang menjadi informan bahwa ada peraturan baik tertulis mau lisan yang diberikan kepada penghuni kos.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

GAMBARAN KETRAMPILAN SOSIAL ANAK REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN PERILAKU

GAMBARAN KETRAMPILAN SOSIAL ANAK REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN PERILAKU

Perkembangan anak akan optimal apabila interaksi sosial sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya bahkan sejak anak masih dalam kandungan, sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak (Soetjiningsih,2006). Pada masa ini peranan orang tua sangat penting dan mempunyai pengaruh kuat khususnya pada perkembangan sosial anak (Djiwandono, 2006).Tingkah laku, cara dan sikap orang tua dalam keluarga akan mempengaruhi interaksi keluarga dan dapat mengakibatkan ciri-ciri tertentu pada perkembangan kepribadian seorang anak.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PELATIHAN KETRAMPILAN SOSIAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

PELATIHAN KETRAMPILAN SOSIAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

Pelatihan yang ditawarkan ini berfokus pada berbagai ketrampilan dalam berkomunikasi dengan orang lain, yang diperuntukkan bagi anak usia Sekolah Dasar. Pelatihan ini dapat digunakan secara individual atau kelompok di sekolah, tetapi secara khusus pelatihan ini dirancang untuk digunakan dalam kelompok. Pemberian secara individual dapat dilakukan oleh orang tua atau terapis, sedangkan jika hendak diberikan secara klasikal dapat dilakukan di sekolah dengan melibatkan semua siswa (tidak hanya siswa yang memiliki masalah dalam hal perilaku agresif), karena semua siswa dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari pelatihan ini.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Kenakalan Remaja di Kampung Kubur Kecamatan Medan Petisah

Analisis Kenakalan Remaja di Kampung Kubur Kecamatan Medan Petisah

Teori Sutherland menyatakan bahwa remaja menjadi delinkuen disebabkan oleh partisipasinya di tengah-tengah suatu lingkungan sosial, ide dan teknik delinkuen tertentu dijadikan sarana yang efisien untuk mengatasi masalah hidupnya. Karena itu, semakin lama anak bergaul dan dan semakin intensif relasinya dengan anak-anak jahat lainnya, akan menjadi semakin lama pula proses berlangsungnya asosiasi diferensial tersebut. Dan semakin besar kemungkinan remaja menjadi benar- benar kriminal.

20 Baca lebih lajut

PERILAKU AGRESIF ANAK-ANAK PERKAMPUNGAN SOSIAL PINGIT YAYASAN SOSIAL SOEGIJAPRANATA (PSP YSS) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

PERILAKU AGRESIF ANAK-ANAK PERKAMPUNGAN SOSIAL PINGIT YAYASAN SOSIAL SOEGIJAPRANATA (PSP YSS) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Setiap anak adalah seorang pribadi unik dengan pola dan waktu pertumbuhan yang bersifat individual, sebagaimana halnya untuk kepribadian, temperamen, gaya belajar, latar belakang dan pengalaman keluarga. Begitu juga perilaku mereka, hal-hal yang mendasari atau menjadi penyebab munculnya suatu perilaku pada mereka tentu saja juga sangat bermacam-macam. Perilaku agresif misalnya. Pada umumnya perilaku agresif pada anak-anak usia dini mungkin belum begitu terpengaruh oleh faktor lingkungan. Perilaku agresi yang muncul dari anak-anak biasanya lebih dikarenakan amarah, jengkel, iri, dengan tujuan untuk kemenangan, menuntut keadilan, membenarkan diri, dan pemuasan atas perasaan. Berbeda dengan anak-anak pada usia yang lebih besar dimana perilaku yang mereka dapatkan adalah hasil dari proses meniru perilaku di sekitar mereka atau hasil pembelajaran dari lingkungan sekitarnya.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...