PERILAKU SOSIAL ANAK

Top PDF PERILAKU SOSIAL ANAK:

MAKALAH ISBD PERILAKU SOSIAL ANAK JALANAN

MAKALAH ISBD PERILAKU SOSIAL ANAK JALANAN

Fenomena masalah anak jalanan merupakan isu global yang telah mencapai titik mengkhawatirkan. Situasi anak jalan di Indonesia cukup memprihatinkan karena sampai saat ini masalah-masalah anak khususnya pada anak-anak yang berada di jalanan belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Jumlah anak yang tinggal di jalanan terus menerus meningkat dan pemerintah pun tidak mempunyai data anak yang tinggal di jalanan. anak jalanan merupakan seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Adanya anak jalanan sering kali merugikan orang lain misalnya berkata kotor, mengganggu ketertiban jalan, merusak body mobil dengan goresan dan lain-lain. Selain itu permasalahan anak jalan juga adalah sebagai objek kekerasan. Mereka merupakan kelompok sosial yang sangat rentan dari berbagai tindakan kekerasan baik fisik, emosi, seksual maupun kekerasan sosial. selain itu, lingkungan juga sangat mempengaruhi kepribadian dan perilaku sosial anak jalanan. dimana tempat mereka tinggal banyak preman, membuat anak jalanan tidak memiliki perilaku social yang baik terhadap masyarakat maupun di lingkungan tempat tinggal nya. untuk itu, kami akan membahas pengaruh lingkungan terhadap perilaku sosial anak jalanan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL   Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara minat anak dalam menonton acara televisi terhadap perilaku sosial anak Kelompok B di TK PGRI Doplang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi komparasi dengan desain eksperimen Treatments By Subjects Design atau disingkat pola T-S. Subyek penelitian ini adalah anak Kelompok B TK PGRI Doplang tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 34 anak. Teknik pengumpulan data perilaku sosial anak menggunakan observasi. Teknik analisis data digunakan analisis komparatif uji t-test untuk mengetahui perbedaan rata-rata nilai hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan nilai perilaku sosial sebelum diberi program menonton acara televisi film Upin-Ipin dan Adit & Sopo Jarwo (pre test) dan setelah diberi program menonton acara televisi film Upin-Ipin dan Adit & Sopo Jarwo (post tes) dihasilkan Asymp. Sig (2-tailed) = 0,000 dengan taraf signifikansi (α) 5% dan t hitung = 18,180. Berdasarkan data tersebut dapat
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK KELOMPOK B   Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

PENGARUH MINAT ANAK DALAM MENONTON ACARA TELEVISI TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK KELOMPOK B Pengaruh Minat Anak Dalam Menonton Acara Televisi Terhadap Perilaku Sosial Anak Kelompok B Di TK PGRI Doplang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi komparasi dengan desain eksperimen Treatments By Subjects Design atau disingkat pola T-S. Subyek penelitian ini adalah anak Kelompok B TK PGRI Doplang tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 34 anak. Teknik pengumpulan data perilaku sosial anak menggunakan observasi. Teknik analisis data digunakan analisis komparatif uji t-test untuk mengetahui perbedaan rata-rata nilai hasil tes.

17 Baca lebih lajut

Meningkatkan Perilaku Sosial Anak Melalui Metode Karyawisata di Kelompok B TK Al-Khairaat Toaya Vunta Kabupaten Donggala | Fatmah | Bungamputi 7248 24139 1 PB

Meningkatkan Perilaku Sosial Anak Melalui Metode Karyawisata di Kelompok B TK Al-Khairaat Toaya Vunta Kabupaten Donggala | Fatmah | Bungamputi 7248 24139 1 PB

Masalah dalam kajian ini adalah perilaku sosial anak belum berkembang sesuai harapan. Upaya mengatasi masalah tersebut, telah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan perilaku sosial anak melalui metode karyawisata. Subjeknya adalah anak kelompok B TK Al- Khairaat Toaya Vunta Kabupaten Donggala dengan jumlah 11 anak. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, pemberian tugas dan dokumentasi, dianalisis menggunakan teknik persentase. Data pra tindakan perilaku akrab, 9,09% kategori BSH, 18,18% kategori MB, dan 72,72% kategori BB. Perilaku sosial simpati, 18,18% kategori BSH, 18,18% kategori MB, dan 63,63% kategori BB. Tolong menolong, 18,18% kategori BSH, 9,09% kategori MB, dan 72,72% kategori BB. Setelah dilakukan tindakan, dapat disimpulkan bahwa metode karyawisata dapat meningkatkan perilaku sosial anak. Terbukti adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Perilaku akrab, kategori BSB, BSH dan MB, dari 45,45% meningkat menjadi 90,9% (45,45%). Perilaku sosial simpati, kategori BSB, BSH dan MB, dari 45,45% meningkat menjadi 90,9% (45,45%). Perilaku sosial saling berbagi, kategori BSB, BSH dan MB, dari 54,54% meningkat menjadi 90,9% (36,36%). Rata-rata peningkatan kategori BSB, BSH dan MB sebesar 48,48%, namun masih ada anak 1 anak atau 9,09% yang belum berkembang.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS PERMASALAHAN PERILAKU SOSIAL ANAK SERTA CARA GURU MENGATASINYA PADA USIA 5-6 TAHUN DI TK ABA 05 MEDAN T.A 2016/2017.

ANALISIS PERMASALAHAN PERILAKU SOSIAL ANAK SERTA CARA GURU MENGATASINYA PADA USIA 5-6 TAHUN DI TK ABA 05 MEDAN T.A 2016/2017.

Aspek sosial sangatlah penting dalam kehidupan, karena tingkah laku tersebut sangat diharapkan dimiliki oleh setiap anak. Tetapi dalam kenyataan banyak permasalahan-permasalahan sosial yang tidak sesuai dengan yang diharapkan pada pembahasan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari anak yang sering bertindak dengan kemampuannya sendiri dalam menguasai alat-alat permainan tanpa mau berbagi dengan dengan teman sebayanya. Sedangkan dalam kegiatan yang dilakukan secara berkelompok anak tampak belum mampu bersosialisasi dengan teman dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh guru. Hanya beberapa anak saja yang terlihat antusias dalam mengerjakan tugas, sementara anak yang lai hanya mengganggu ataupun diam tanpa melakukan apapun. Perilaku anak tersebut kadang kala menimbulkan keresahan tersendiri dalam diri peneliti. Arahan dan bimbingan telah dilakukan oleh guru tetapi hal tersebut belum maksimal dalam cara guru mengatasi kemampuan sosial antara sesama anak. Perhatian dari guru juga kurang dalam mengatasi permasalahan kemampuan sosial anak.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENELITIAN PERILAKU SOSIAL ANAK SEKOLAH

PENELITIAN PERILAKU SOSIAL ANAK SEKOLAH

Kader-kader peduli lingkungan hidup tersebut sebagian besar menganggap peran pendidikan dan kondisi lingkungan sangat penting dalam pembentukan perilakunya. Peran pendidikan khususnya pendidikan sekolah sangat penting bukan hanya bagi siswa tetapi budaya bersih dan sehat. Siswa juga mampu menjadi pelopor bagi pelubahan perhatian keluarga dan lingkungan tempat tinggal dalam masalah lingkungan hidup. Siswa memiliki antusiasme yang tinggi seandainya materi pendidikan lingkungan hidup yang selama ini banyak diperoleh dari proses mencontoh perilaku sekitar atau kegiatan ekstrakurikuler dapat diformalkan dalam mata pelajaran khusus.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

S SOS 1105248 Chapter3

S SOS 1105248 Chapter3

Dalam penelitian, uji coba instrumen dilakukan untuk dapat memperoleh nilai validitas dan reliabilitas dari instrumen pengumpulan data mengenai pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku sosial anak. Instrumen pengumpulan data akan menentukan baik atau tidaknya data, yang dapat menentukan kualitas dari hasil penelitian. Oleh karena itu, instrumen pengumpulan data yang baik harus memenuhi dua persyaratan dalam pengujian hasil yang diteliti, yaitu valid dan reliabel.

30 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI DI TAMAN KANAK-KANAK ABA IV MANGLI JEMBER TAHUN 2016

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI DI TAMAN KANAK-KANAK ABA IV MANGLI JEMBER TAHUN 2016

Martini Jamaris (2002: 83) antara lain; pertama, menimbulkan rasa aman pada anak dan menciptakan suasana yang baik di dalam kelas mau pun luar kelas; kedua, menciptakan perilaku positif di dalam dan diluar kelas baik dalam tindakan, perkataan, atau perilaku lainnya; ketiga, mem- berikan kesempatan pada anak untuk menentukan pilihannya (apabila pilihan anak tidak tepat atau ditolak maka dijelaskan alasannya); ke- empat, memberikan kesempatan kepada anak untuk berani menyatakan pen dapatnya baik bersifat penolakan maupun yang mendukung dengan cara-cara positif; dan kelima, menyediakan sarana prasarana yang men- dukung program pembentukan perilaku sosial anak.Moh Padil dan Triyo Supriyatno (2007:105) menjelaskan bahwa perkembangan sosial anak bergantung pada dua hal yaitu pertama, perkembangan biologis (contoh makanan atau minuman, perlindungan orang tua kepada bayi dan sebagainya); dan kedua, perkembangan personal sosial meliputi penga- laman dan pengaruh orang lain. Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh 4 (empat) hal yaitu pemberian kesempatan bergaul dengan orang lain di sekitar anak; adanya minat dan motivasi untuk bergaul; adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain yang dianggap model bagi anak, dan adanya kemampuan komunikasi secara baik yang dimiliki anak (Ahmad Susanto, 2011: 156). Dari beberapa pendapat yang ada dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak berasal dari dalam diri anak (faktor internal), dan dari luar diri anak (faktor eksternal). Wujud perkembangan kemampuan sosial anak dapat dilihat misalnya pada saat anak bermain, anak rela berbagi mainan dengan teman sebayanya mentaati aturan, saling tolong menolong dalam melakukan sesuatu,dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

T BP 1201266 Chapter 5

T BP 1201266 Chapter 5

a. Profil umum perilaku asertif remaja LKSA menunjukkan kategori tidak asertif pada indikator penerimaan diri, kontak mata langsung, dan postur tubuh terbuka. Hal tersebut dikarenakan remaja LKSA cenderung mempunyai kepribadian inferior, pasif, apatis, dan menarik diri.

3 Baca lebih lajut

PELATIHAN KETRAMPILAN SOSIAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

PELATIHAN KETRAMPILAN SOSIAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

Dewasa ini kita banyak mendengar dan membaca fenomena perilaku agresif di seluruh penjuru Tanah Air yang dilakukan oleh orang dari berbagai kalangan usia. Perilaku agresif itu dapat berdampak fatal dengan hilangnya hak hidup manusia. Perilaku agresif muncul karena rasa marah pada diri seseorang yang tidak dapat dikelola dengan baik. Ekspresi kemarahan dalam bentuk agresi pada seseorang merupakan salah satu wujud karakter pribadi yang sudah terbangun sejak masa kanak-kanak. Banyak faktor yang menjadi pemicu perilaku ini, salah satunya dari lingkungan yaitu adanya relasi yang tidak sehat dengan orang lain. Penelitian membuktikan bahwa perilaku agresif pada diri anak berkorelasi dengan rendahnya ketrampilan sosial pada anak (Malti, 2006). Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan sebuah cara mengurangi perilaku agresif pada anak melalui pelatihan ketrampilan sosial. Teknik yang digunakan dalam pelatihan ketrampilan sosial ini meliputi modeling, feedback, role playing, dan social reinforcement. Ketrampilan sosial yang dimiliki sangat berguna bagi anak sebagai bekal menjadi pribadi yang sehat secara psikologis. Jika pribadi-pribadi yang sehat secara psikologis ini lahir dan berkembang di masyarakat, maka berangsur-angsur perilaku agresif di negeri ini dapat berkurang sehingga kehidupan menjadi lebih baik.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

treatment ganguan tingkah laku

treatment ganguan tingkah laku

Pengaruh negatif dari hubungan seks sebelum menikah itu tidak saja berhenti sampai sebelum menikah. Ketika akhirnya menikah pun, bukan tidak mungkin pengaruh tersebut akan terbawa-bawa. Sebut saja karena pengaruh trauma yang dialami wanita, kepuasan dalam hubungan seksual dengan suaminya jadi berkurang. Begitu pun dengan kemungkinan terjadinya perselingkuhan hubungan seksual di luar nikah dan sebagainya. Seorang ahli pernah mengungkapkan bahwa hubungan seks sebelum menikah selalu membawa gangguan psikologis dan penyesalan yang berkepanjangan. Memang rasa menyesal, kecewa, maupun akibat psikologis lainnya yang berkenaan dengan hubungan seks sebelum menikah ini kadang juga bisa sangat tergantung dari pandangan individu, bahkan juga kelompok sosialnya tentang hal tersebut. Misalnya, jika perilaku hubungan seks sebelum menikah itu mengakibatkan konflik terbuka dengan masyarakatnya, maka pengaruhnya dapat menjadi sangat serius. Seperti akan muncul gangguan psikologis seperti rasa malu, hina, putus asa, bahkan kadang sampai terjadi percobaan bunuh diri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Ketrampilan Sosial Pada Anak Menengah Akhir Yang Mengalami Gangguan Perilaku

Ketrampilan Sosial Pada Anak Menengah Akhir Yang Mengalami Gangguan Perilaku

Salah satu dampak dari interaksi beberapa faktor di atas yang cukup penting mempengaruhi munculnya gangguan perilaku adalah rendahnya ketrampilan sosial anak, yaitu kemampuan anak mengatur emosi dan perilakunya untuk menjalin interaksi yang efektif dengan orang lain atau lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak- anak yang mengalami gangguan perilaku ini memiliki ketrampilan sosial yang rendah (Cartledge & Milburn, 1995; Coie, Dodge & Kupersmidt dalam Conduct Problems Prevention Research Group (CPPRG), 1999). Mereka cenderung menunjukkan prasangka permusuhan, saat berhadapan dengan stimulus sosial yang ambigu mereka sering mengartikannya sebagai tanda permusuhan sehingga menghadapinya dengan tindakan agresif (Crick & Dodge dalam Carr, 2001). Mereka juga kurang mampu mengontrol emosi, sulit memahami perasaan dan keinginan orang lain, dan kurang terampil dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial (Lochman, dkk. dalam CPPRG, 1999; Carr,2001). Rendahnya ketrampilan sosial ini membuat anak kurang mampu menjalin interaksi secara efektif dengan lingkungannya dan memilih tindakan agresif sebagai strategi coping. Mereka cenderung menganggap tindakan agresif merupakan cara yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan sosial dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akibatnya, mereka sering ditolak oleh orang tua, teman sebaya, dan lingkungan (Patterson & Bank dalam CPPRG, 1999).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BUKU | SAIDNA ZULFIQAR BIN TAHIR (VIKAR) novel bengkel cinta

BUKU | SAIDNA ZULFIQAR BIN TAHIR (VIKAR) novel bengkel cinta

Pendapat lain menyatakan bahwa onani merupakan suatu tindakan darurat untuk menyalurkan hasrat biologis dengan rasa aman, artinya tidak mengandung banyak resiko. Karena itu, perilaku ini sering dilakukan para remaja untuk mengurangi ketegangan atau menunda perkawinan karena ingin menyelesaikan studi dulu atau karena belum ada kemampuan secara materi untuk menikah. Onani atau sering disebut juga masturbasi, berasal dari bahasa latin, masturbatio, yang berarti pemuasan kebutuhan seksual terhadap diri sendiri dengan menggunakan tangan (mastur: tangan, batio: menodai) sehingga masturbasi berarti menodai diri sendiri dengan tangan sendiri (dholimun linnafsih). Ada juga yang menyebut bahwa onani adalah manipulasi alat kelamin sehingga mendapatkan kepuasan seksual.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

GAMBARAN KETRAMPILAN SOSIAL ANAK REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN PERILAKU

GAMBARAN KETRAMPILAN SOSIAL ANAK REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN PERILAKU

Perkembangan anak akan optimal apabila interaksi sosial sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya bahkan sejak anak masih dalam kandungan, sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak (Soetjiningsih,2006). Pada masa ini peranan orang tua sangat penting dan mempunyai pengaruh kuat khususnya pada perkembangan sosial anak (Djiwandono, 2006).Tingkah laku, cara dan sikap orang tua dalam keluarga akan mempengaruhi interaksi keluarga dan dapat mengakibatkan ciri-ciri tertentu pada perkembangan kepribadian seorang anak.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGENDALIAN SOSIAL PERILAKU MENYIMPANG ANAK KOS OLEH TOKOH MASYARAKAT

PENGENDALIAN SOSIAL PERILAKU MENYIMPANG ANAK KOS OLEH TOKOH MASYARAKAT

Namun untuk teori pengendalian sosial koersif yaitu kompulsi (paksaan) telah berjalan karena aturan yang dibuat memaksa mereka untuk mematuhinya. Jika aturan tersebut dilanggar mereka dikeluarkan seperti yang pernah terjadi kepada anak kos yang melanggarnya dan pervasi (pengisian) belum berjalan dengan cukup efektif dikarenakan pervasi yang dilakukan hanya mengingatkan kembali dengan memberikan aturan-aturan yang ada di RW 01 dan peraturan dari walikota kepada pemilik kos seperti yang diungkapkan oleh ketua RT 04 yaitu Pak Warsono. Sedangkan Pak Ade Hermanto mengatakan bahwa aturan-aturan yang ada dilingkungan sudah diberitahukan sejak dari awal masuk RT 03.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

S PAUD 1105217 Chapter1

S PAUD 1105217 Chapter1

Keunggulan dari pelatihan keterampilan sosial telah terbukti dengan adanya berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagi pihak atau lembaga. Salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Darmiany (2009) tentang Efektifitas Pelatihan Keterampilan Sosial untuk Melatih Keterampilan Sosial Siswa Sekolah Menengah. Penelitian tersebut menyatakan bahwa keterampilan sosial siswa menengah mengalami peningkatan setelah diterapkannya pelatihan keterampilan sosial dengan presentase besarnya perubahan tingkat keterampilan pada jenis keterampilan mengemukakan pendapat 72%, keterampilan memperkenalkan diri 53%, keterampilan mengekspresikan perasaan 39%, dan keterampilan merasakan perasaan 36%.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perancangan Informasi Gangguan Sosial Dan Perilaku Anak Disleksia Melalui Ilustrasi

Perancangan Informasi Gangguan Sosial Dan Perilaku Anak Disleksia Melalui Ilustrasi

Pesan yang ingin disampaikan pada buku ilustrasi ini adalah agar setiap orang tua dan guru yang membesarkan anak-anak disleksia akan senantiasa meyakini kehebatan anaknya sekaligus dapat tabah berupaya sekuat tenaga untuk mendampingi putra-putrinya, kreatif dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi anak anak istimewanya. Semoga buku ini dapat menambah wawasan kita untuk bisa melakukan uoaya yang lebih optimal dan lebih baik lagi dalam menangani anak-anak disleksia.

Baca lebih lajut

PENDAHALUAN  Perilaku Delinquency Pada Remaja Yang Mengalami Perceraian Orang Tua.

PENDAHALUAN Perilaku Delinquency Pada Remaja Yang Mengalami Perceraian Orang Tua.

Perceraian yang terjadi pada pasangan suami istri, apapun alasannya, akan selalu berakibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus tertentu perceraian dianggap merupakan alternatif terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan yang buruk Martina Rini (dalam Amelia, 2008). Perceraian antara sepasang suami istri hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak dan untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa pasangan suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri (Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 Pasal 39 dalam Amelia, 2008).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI

PENGEMBANGAN ASPEK SOSIAL ANAK USIA DINI

Berdasarkan teori sosialisasi seorang anak dapat melakukan proses sosialisasi pasif maupun sosialisasi aktif. Pada teori sosialisasi pasif, anak hanya akan memberi respon rangsangan orang tua, disisi lain anak akan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dalam dirinya sehingga anak akan mengalami konflik-konflik. Dengan kata lain, proses penyesuaian diri ketika mendapat rangsangan dari individu lain ketika tidak ada rangsangan tidak akan terjadi sosialisasi. Sebaliknya sosialisasi aktif, sosialisasi yang dilakukan individu terhadap pengembangan peran sosial menjadi penciptaan peran sosial dan pengembangan dari aturan- aturan mengenai aturan-aturan menjadi prosedur interpretatif. Media sosialisasi yang berperan penting dalam proses sosialisasi anak yaitu: keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, lingkungan sosial, dan media massa. Ciri sosialisasi peride prasekolah antara lain: (1) Membuat kontak sosial dengan orang di luar rumah;(2) Pregang age, artinya anak prasekolah berkelompok belum mengikuti arti sosialisasi yang sebenarnya. Anak mulia belajar menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan sosialnya; (3) Hubungan dengan orang dewasa; (4) Hubungan dengan teman sebaya;(5) 3-4 tahun anak mulai bermain bersama. Anak mulai ngobrol selama bermain, memilih teman selama bermain dan mengurangi tingkahlaku bermusuhan.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PSIKOLOGI KLINIK ANAK TRIK MEMANAGE PERILAKU ANAK

PSIKOLOGI KLINIK ANAK TRIK MEMANAGE PERILAKU ANAK

Usia 6 tahun anak - anak mulai menginjakkan kaki di bangku sekolah dan biasanya masih sangat tergantung pada orang tua. Namun, untuk beberapa anak transisi ini dapat menyebabkan kegelisahan yang cukup dengan mereka melakukan teriakan, amarah dan bahkan nakal terhadap orang tuanya. Selain itu, beberapa akan menunjukkan peningkatan yang ditandai dalam respon ketakutan. B. Perilaku Anak dan Pengelolaannya Pada Perawatan Gigi

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...