Sekolah Menengah Atas

Top PDF Sekolah Menengah Atas:

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH   Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

Parimin. NIM : Q. 100080200. Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta. Tesis. Program Pasca Sarjana Magíster Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2012.

14 Baca lebih lajut

Untuk Sekolah Menengah Atas PANDUAN PENILAIAN

Untuk Sekolah Menengah Atas PANDUAN PENILAIAN

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2016 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layanan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jendera Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) SWASTA SE-KABUPATEN TEMANGGUNG.

(ABSTRAK) IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) SWASTA SE-KABUPATEN TEMANGGUNG.

Rizqi Hartantiyo, 2009. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta se-Kabupaten Temanggung. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs.Sukardi Ikhsan, M.Si, Pembimbing II: Nanik Sri Utaminingsih, SE, M.Si. Akt.

2 Baca lebih lajut

   PERBEDAAN  KEMANDIRIAN   BELAJAR  SISWA  ANTARA  SISWA SEKOLAH MENENGAH  ATAS (SMA) DENGAN  PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

Subjek penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Wonogiri dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Wonogiri yang berjumlah 80 subjek. Metode pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Alat penggumpulan data menggunakan skala kemandirian belajar. Teknik analisis data menggunakan analisis uji-t.

14 Baca lebih lajut

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (2)

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (2)

Memperhatikan kondisi tersebut di atas dan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan secara berkelanjutan mutu Kurikulum 2013, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah melalui direktorat teknis terkait menyusun Panduan Penilaian. Salah satu panduan tersebut adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Panduan ini disusun oleh Direktorat Pembinaan SMA, bersama Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk). Diharapkan panduan ini dapat memfasilitasi pendidik dan satuan pendidikan untuk mengantarkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditetapkan meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (7)

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (7)

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2016 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layanan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jendera Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

RAPOR SEKOLAH MENENGAH ATAS Capaian No

RAPOR SEKOLAH MENENGAH ATAS Capaian No

RAPOR SEKOLAH MENENGAH ATAS Capaian No Mapel Pengetahu an Keterampilan Sikap Sosial danSpiritual Dalam Mapel Antarmapel Kelompok A Wajib 1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Nama gur[r]

4 Baca lebih lajut

Ramai pelajar sekolah menengah atas dida

Ramai pelajar sekolah menengah atas dida

Ramai pelajar sekolah menengah atas didapati menghadapi masalah untuk memilih matapelajaran dan kerjaya masa depan. Untuk memahami masalah dengan lebih mendalam, kajian ex-post facto telah dibuat ke atas pelajar-pelajar tingkatan 4. di empat buah sekolah yang berlainan di Negeri Sembilan. Sekolah- sekolah tersebut terdiri daripada sebuah sekolah agama berasrama penuh, sebuah sekolah agama harian, dua buah sekolah harian biasa. Semuanya adalah jenis sekolah bercampur dan mempunyai kelas sains dan bukan sains. Kumpulan sasaran kajian terdiri daripada 228 pelajar lelaki dan perempuan daripada seramai 420 pelajar yang dipilih menggunakan kaedah persampelan rawak berlapis. Alat kajian ialah satu soalselidik yang mengandungi dua bahagian iaitu Biodata dan Inventori Kematangan Kerjaya (IKK). Dua jenis alat pengukur statistik telah digunakan iaitu ujian-t dan ANOVA pada araskeertian .05. Ujian-t digunakan untuk menentukan perbezaan kematangan kerjaya antara pembolehubah-pembolehubah jantina, jurusan (sains dan bukan sains), dan jenis sekolah (aliran agama dan bukan aliran agama). ANOVA digunakan untuk menentukan perbezaan kematangan kerjaya antara empat sekolah yang terlibat dalam kajian ini. Dapatan dari kajian ini menunjukkan perbezaan yang signifikan antara pembolehubah-pembolehubah secara keseluruhan. Walau bagaimana pun tiada perbezaan yang signifikan dalam sikap antara jantina dan antara jurusan. Tiada perbezaan yang signifikan yang dilihat dalam mengenali diri antara jantina. Pada
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Penelitian ini membahas tetang kecurangan dalam Ujian Nasional di lembaga sekolah menengah Atas. Penelitian ini memfokuskan pada bentuk-bentuk kecurangan Ujian Nasional dan faktor penyebab kecurangan dalam Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan memahami bentuk, modus serta dampak terjadinya kecurangan dalam Ujian Nasional. Manfaat penelitian ini adalah konstribusi dari kajian pendidikan yang ada di Indonesia yang banyak dibahas dalam matakuliah sosiologi pendidikan.

15 Baca lebih lajut

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAHDI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH  Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAHDI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

Kota Surakarta memiliki 5 Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah. Sekolah tersebut adalah SMA Muhammadiyah 1, SMA Muhammadiyah 2, SMA Muhammadiyah 3, SMA Muhammadiyah 5 dan SMA Muhammadiyah 6. Kelima sekolah tersebut saling bersaing untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. Dari hasil observasi awal yang telah dilakukan penulis, bahwa kendala kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi pembelajaran adalah karena kepala sekolah belum menguasai tentang tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah, kepala sekolah jarang berada ditempat, kepala sekolah kurang sekali mengadakan rapat yang membahas perkembangan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah belum merencanakan jadwal supervisi pembelajaran dan kepala sekolah hanya menggunakan teknik classroom visitation (mengadakan kunjungan kelas) yang tidak jelas waktunya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, lokasi penelitian ini dilakukan di lembaga sekolah menengah atas yang berada di Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember. Teknik penentuan informan dengan menggunakan purposive sampling dengan penggumpulan data menggunakan metode observasi,

15 Baca lebih lajut

ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS.

ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS.

Kesulitan belajar siswa adalah keadaan perilaku belajar siswa yang mengalami hambatan dan kesulitan dalam menyesuaikan perilaku dengan tuntutan dalam belajarnya sehingga proses kegiatan belajarnya terganggu serta tidak mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Layanan bimbingan yang tepat dalam membantu siswa mengatasi kesulitan belajar adalah layanan bimbingan belajar. Tujuan penelitian: (1) Memperoleh gambaran umum kesulitan belajar siswa kelas X SMA Pasundan 2 Bandung Tahun Ajaran 2012/2013; (2) Memperoleh gambaran aspek-aspek kesulitan belajar siswa kelas X SMA Pasundan 2 Bandung Tahun Ajaran 2012/2013. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yaitu metode deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Pasundan 2 Bandung tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 131 siswa dengan random sampling. Hasil penelitian sebagian besar kesulitan belajar siswa berada pada kategori sedang. Rekomendasi penelitian: (1) Pihak Sekolah mampu mengembangkan dan memfasilitasi layanan bimbingan dan konseling, khususnya layanan bimbingan belajar melalui program-program kesiswaan yang dapat membantu untuk mengatasi kesulitan belajar siswa; (2) Guru BK/konselor dapat mengembangkan dan mengaplikasikan hasil dari penelitian berupa program bimbingan belajar untuk mengatasi kesulitan belajar siswa kelas X SMA Pasundan 2 Bandung tahun ajaran 2012/2013; (3) Peneliti selanjutnya dapat membandingkan gambaran umum kesulitan belajar siswa sekolah menengah atas pada setiap jenjang kelas, gender, dan tingkat prestasi, sehingga gambaran yang dihasilkan cenderung dinamis dan menyeluruh; menggunakan pendekatan dan metode penelitian yang lebih beragam untuk meneliti kesulitan belajar siswa pada setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, dan PT); melaksanakan uji coba empiris untuk menguji keefektifan program bimbingan belajar untuk mengatasi kesulitan belajar siswa pada setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, dan PT).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Sistem Informasi Akademik Untuk Sekolah Menengah Atas.

Sistem Informasi Akademik Untuk Sekolah Menengah Atas.

Sistem Informasi Akademik merupakan suatu sistem yang memberikan layanan informasi yang berupa data akademik. Pembuatan Sistem Informasi Akademik ini bertujuan untuk mempermudah sistem pendidikan di sekolah menengah atas diharapkan kemudahan ini dapat dirasakan oleh para siswa maupun para guru serta staff lain yang ada di sekolah tersebut. Sistem ini dikembangkan dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan MySQL dan disertai menggunakan database yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam pembuatan sistem ini. Hal-hal yang terdapat dalam sistem ini meliputi data guru, data siswa, data pengguna website.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

pemetaan jumlah sekolah menengah atas di

pemetaan jumlah sekolah menengah atas di

menetapkan daerah jangkauan yang sesuai dengan perkembangan komunikasi dan transformasi. Pemetaan sekolah merupakan faktor penting dari proses perencanaan pendidikan secara keseluruhan dan karena itu sifatnya juga tidak statis melainkan dinamis mengikuti perkembangan pendidikan yang sedang berlangsung. Berdasarkan pada rangkaian latar belakang diatas maka perlu dilakukan kajian tentang “pemetaan jumlah guru sekolah menengah atas di kabupaten pekalongan tahun 2012 berdasarkan metode cloroplet”.

22 Baca lebih lajut

SEKOLAH MENENGAH ATAS SMA ISLAM SECANG K

SEKOLAH MENENGAH ATAS SMA ISLAM SECANG K

MENGENAL LEBIH DEKAT SEJARAH CANDI PRAMBANAN Laporan Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti Ujian Nasional pada Sekolah Menengah Atas SMA Islam Secang Kabupaten Ma[r]

7 Baca lebih lajut

Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Tata Kelola dan Akuntabilitas: 1) RSBI yang belum memenuhi ketentuan kurikulum perlu segera memperkaya kurikulum dengan cara adopsi atau adaptasi kurikulum negara-negara yang pendidikanya lebih maju; 2) Karena kemampuan akademik guru RSBI masih rendah untuk beberapa mata pelajaran (biologi, fisika, dan bahasa Inggris), maka perlu pemanfaatan TIK yang lebih terarah dalam pembelajaran; 3) Perlu penguatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan hasil laporan sekolah RSBI untuk peningkatan kualitas tata kelola; 4) Perlu mekanisme rekrutmen guru yang lebih selektif sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu proses pembelajaran; 5) Penggunaan merek tertentu untuk melegitimasi standar mutu pengelolaan seperti ISO tidak terlalu relevan. Cukup digunakan standar proses yang ada dengan menambahkan hal-hal tertentu yang diperlukan; dan 6) Untuk mengontrol akuntabilitas pengelolaan dan mutu penyelenggaraan, sekolah wajib memberikan laporan tiap semester kepada Menteri melalui Ditjen Pendidikan Dasar dan Dirjen Pendidikan Menengah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERAN SEKOLAH DALAM SOSIALISASI TATA TERTIB PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

PERAN SEKOLAH DALAM SOSIALISASI TATA TERTIB PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Mengenai pemberian sanksi kepada siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Dari hasil wawancara seperti yang diungkap Bapak H. Karwandi, S.Pd.I selaku kepala sekolah yaitu, “iya, jika ada baik itu guru, wali kelas, guru piket ataupun saya sendiri yang melihat siswa melakukan peanggaran tata tertib pasti akan memberikan sanksi kepada siswa tersebut sesuai dengan bentuk pelanggaran yang dilakukannya”. Selain itu Ibu Nunung Suratih, ST selaku waka kesiswaan menjelaskan, “iya, sanksi diberikan kepada siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib baik pelanggaran ringan maupun pelanggaran berat. Sanksi yang diberikan mulai dari peringatan, pemanggilan orang tua dan yang paling berat adalah dikelua rkan dari sekolah”. Hasil wawancara dengan informan lain juka di dapatkan informasi yang sama yaitu ada pemberian sanksi juka diketahui ada siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. seperti diungkap oleh Wari selaku siswa kelas X C yang menjela skan, “iya, jika ada guru yang melihat siswa melakukan pelanggaran maka siswa tersebut pasti akan diberikan sanksi”. Pemberian sanksi yang dilakukan sesuai dengan bentuk pelanggaran tata tertib, hal ini telah termuat dalam indeks kesalahan siswa dimana dari setiap bentuk pelanggaran telah memiliki sanksi dan indkes yang akan didapat oleh siswa yang melakukan pelanggaran. hal ini sesuai saat observasi pada 25 Januari 2016, 1 Februari 2016, dan 4 Februari 2016 ditemukan siswa yang didapati melakukan pelanggaran tata tertib sekolah langsung mendapatkan sanksi dan indeks dari guru piket.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository

Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository

Pelaksanaan pembelajaran akan lebih tepat sasaran dan lebih efektif ketika guru menjelaskan standar kompetensi/kompetensi dasar kepada peserta didik. Guru juga harus menetapkan tujuan pengajaran di awal kegiatan pembelajaran, dengan penetapan tujuan maka peserta didik akan lebih fokus pada pelajaran. Seorang guru juga harus mampu, mengembangkan dan menganalisis materi pengajaran sendiri. Tentu saja materi pengajaran tersebut harus sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Selain itu, strategi belajar mengajar yang diterapkan guru sebaiknya juga dengan memanfaatkan media pengajaran yang tersedia di sekolah. Pemanfaatan media ini dilakukan supaya peserta didik lebih mengenal, mengetahui dan mengalami sendiri kegiatan mengajar. Selanjutnya di akhir pelaksanaan pembelajaran guru melakukan evaluasi belajar, penilaian dan tindak lanjut (remidial & pengayaan) dari proses pelaksanaan pembelajaran ini nantinya yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan guru dalam mengajar.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

PENDAHULUAN Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

Anak remaja yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA umumnya menghabiskan waktu sekitar 7 jam sehari di sekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan remaja di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar. Pengaruh sekolah itu tentunya diharapkan positif terhadap perkembangan jiwa remaja karena sekolah adalah lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, sebagaimana halnya dengan keluarga, sekolah juga mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu sekolah juga berfungsi sebagai pembentuk nilai dalam diri anak untuk menghadapi tantangan (Sarwono, 2012).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SE-KECAMATAN NGAGLIK KABUPATEN SLEMAN.

PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SE-KECAMATAN NGAGLIK KABUPATEN SLEMAN.

Lebih lanjut, E. Mulyasa (2004: 118-119) menjelaskan bahwa kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-caranya dalam melakukan pekerjaan secara 1) konstruktif, yaitu membina setiap tenaga kependidikan untuk dapat berkembang secara optimal dalam melaksanakan tugas yang diembannya, 2) kreatif, yaitu berusaha mencari gagasan dan cara-cara baru dalam melaksanakan tugasnya, 3) delegatif, yaitu berusaha mendelegasikan tugas kepada tenaga kependidikan sesuai dengan deskripsi tugas, jabatan serta kemampuan masing- masing, 4) integratif, yaitu berusaha mengintegrasikan semua kegiatan sehingga dapat menghasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif, efisien, dan produktif, 5) rasional dan objektif, yaitu berusaha bertindak dengan mempertimbangkan rasio dan objektif, 6) pragmatis, yaitu berusaha menetapkan kegiatan atau target berdasarkan kondisi dan kemampuan nyata yang dimiliki oleh setiap tenaga kependidikan, serta kemampuan sekolah, 7) keteladanan, yaitu kepala sekolah harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi bawahannya, 8) adaptabel dan fleksibel, yaitu mampu beradaptasi dalam menghadapi situasi baru, serta berusaha menciptakan situasi kerja yang menyenangkan dan memudahkan para tenaga kependidikan untuk beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya.
Baca lebih lanjut

156 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...