Sekolah Menengah Atas

Top PDF Sekolah Menengah Atas:

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Penelitian ini membahas tetang kecurangan dalam Ujian Nasional di lembaga sekolah menengah Atas. Penelitian ini memfokuskan pada bentuk-bentuk kecurangan Ujian Nasional dan faktor penyebab kecurangan dalam Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan memahami bentuk, modus serta dampak terjadinya kecurangan dalam Ujian Nasional. Manfaat penelitian ini adalah konstribusi dari kajian pendidikan yang ada di Indonesia yang banyak dibahas dalam matakuliah sosiologi pendidikan.

15 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) SWASTA SE-KABUPATEN TEMANGGUNG.

(ABSTRAK) IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) SWASTA SE-KABUPATEN TEMANGGUNG.

Rizqi Hartantiyo, 2009. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta se-Kabupaten Temanggung. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs.Sukardi Ikhsan, M.Si, Pembimbing II: Nanik Sri Utaminingsih, SE, M.Si. Akt.

2 Baca lebih lajut

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (7)

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (7)

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2016 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layanan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jendera Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (2)

PANDUAN Untuk Sekolah Menengah Atas (2)

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2016 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layanan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

pemetaan jumlah sekolah menengah atas di

pemetaan jumlah sekolah menengah atas di

menetapkan daerah jangkauan yang sesuai dengan perkembangan komunikasi dan transformasi. Pemetaan sekolah merupakan faktor penting dari proses perencanaan pendidikan secara keseluruhan dan karena itu sifatnya juga tidak statis melainkan dinamis mengikuti perkembangan pendidikan yang sedang berlangsung. Berdasarkan pada rangkaian latar belakang diatas maka perlu dilakukan kajian tentang “pemetaan jumlah guru sekolah menengah atas di kabupaten pekalongan tahun 2012 berdasarkan metode cloroplet”.

22 Baca lebih lajut

Ramai pelajar sekolah menengah atas dida

Ramai pelajar sekolah menengah atas dida

Ramai pelajar sekolah menengah atas didapati menghadapi masalah untuk memilih matapelajaran dan kerjaya masa depan. Untuk memahami masalah dengan lebih mendalam, kajian ex-post facto telah dibuat ke atas pelajar-pelajar tingkatan 4. di empat buah sekolah yang berlainan di Negeri Sembilan. Sekolah- sekolah tersebut terdiri daripada sebuah sekolah agama berasrama penuh, sebuah sekolah agama harian, dua buah sekolah harian biasa. Semuanya adalah jenis sekolah bercampur dan mempunyai kelas sains dan bukan sains. Kumpulan sasaran kajian terdiri daripada 228 pelajar lelaki dan perempuan daripada seramai 420 pelajar yang dipilih menggunakan kaedah persampelan rawak berlapis. Alat kajian ialah satu soalselidik yang mengandungi dua bahagian iaitu Biodata dan Inventori Kematangan Kerjaya (IKK). Dua jenis alat pengukur statistik telah digunakan iaitu ujian-t dan ANOVA pada araskeertian .05. Ujian-t digunakan untuk menentukan perbezaan kematangan kerjaya antara pembolehubah-pembolehubah jantina, jurusan (sains dan bukan sains), dan jenis sekolah (aliran agama dan bukan aliran agama). ANOVA digunakan untuk menentukan perbezaan kematangan kerjaya antara empat sekolah yang terlibat dalam kajian ini. Dapatan dari kajian ini menunjukkan perbezaan yang signifikan antara pembolehubah-pembolehubah secara keseluruhan. Walau bagaimana pun tiada perbezaan yang signifikan dalam sikap antara jantina dan antara jurusan. Tiada perbezaan yang signifikan yang dilihat dalam mengenali diri antara jantina. Pada
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Untuk Sekolah Menengah Atas PANDUAN PENILAIAN

Untuk Sekolah Menengah Atas PANDUAN PENILAIAN

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2016 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Disamping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya menjamin kualitas layanan pendidikan adalah menyediakan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dengan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jendera Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

   PERBEDAAN  KEMANDIRIAN   BELAJAR  SISWA  ANTARA  SISWA SEKOLAH MENENGAH  ATAS (SMA) DENGAN  PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN PERBEDAAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA ANTARA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DENGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK).

Subjek penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Wonogiri dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Wonogiri yang berjumlah 80 subjek. Metode pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Alat penggumpulan data menggunakan skala kemandirian belajar. Teknik analisis data menggunakan analisis uji-t.

14 Baca lebih lajut

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Kecurangan dalam Ujian Nasional di Sekolah Menengah Atas

Penelitian ini membahas tetang kecurangan dalam Ujian Nasional di lembaga sekolah menengah Atas. Penelitian ini memfokuskan pada bentuk-bentuk kecurangan Ujian Nasional dan faktor penyebab kecurangan dalam Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan memahami bentuk, modus serta dampak terjadinya kecurangan dalam Ujian Nasional. Manfaat penelitian ini adalah konstribusi dari kajian pendidikan yang ada di Indonesia yang banyak dibahas dalam matakuliah sosiologi pendidikan.

15 Baca lebih lajut

KEJUJURAN AKADEMIK PADA SISWA  SEKOLAH MENENGAH ATAS  Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

KEJUJURAN AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

Sekitar 7 jam sehari siswa berada di sekolah sehingga tidak mengherankan jika pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa siswa cukup besar. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang jujur. Namun kenyataannya maraknya praktik ketidakjujuran akademik pada dunia pendidikan yang semakin meluas seperti plagiarisme dan mencontek. Walaupun tidak semua siswa berperilaku tidak jujur namun masih ada siswa yang berperilku jujur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk kejujuran dan ketidakjujuran akademik pada siswa SMA. Dengan pertanyaan penelitian apa bentuk-bentuk kejujuran dan ketidakjujuran akademik siswa?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan kuesioner dalam bentuk vignette. Metode analisis data menggunakan content analysis. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar siswa masih berpegang teguh pada nilai kejujuran. Siswa berperilaku tidak jujur dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dilihat dari situasi mengerjakan tugas diperoleh perilaku jujur sebesar 52,3% sedangkan perilaku tidak jujur sebesar 44,1%. Pada situasi ulangan harian bentuk perilaku jujur sebesar 55,4% dan bentuk perilaku tidak jujur sebesar 42,7%. Untuk situasi ujian, bentuk perilaku jujur sebesar 75,6% sedangkan perilaku tidak jujur 21,1%. Bentuk perilaku jujur pada siswa SMA yang muncul antara lain meminta bantuan teman, menggunakan referensi dari buku, internet dan sumber lain, mengatakan yang sebenarnya, berusaha mengerjakan sendiri, berusaha mengingat materi dan menolak bertindak curang. Tujuannya yaitu mendapatkan nilai yang bagus, menakar kemampuan diri dan biar fair. Untuk bentuk perilaku tidak jujur yang muncul yaitu mencontek teman, ikut-ikutan teman mengutip dari blog, bertanya jawaban pada teman, membuka buku catatan dan berbohong kepada guru. Dengan tujuan menghindari situasi tidak menyenangkan seperti: takut kena hukuman dan takut dimarahi guru, mendapatkan hasil tanpa susah payah dan rasa solidaritas.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta.

Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta.

Dalam dunia pendidikan guru-guru merupakan figur yang ditaati oleh seluruh peserta didik, yang menjadi siswa di sekolah bersangkutan. Guru dalam menjalankan tugasnya memiliki keanekaragaman latar belakang pendidikan, kemampuan, inisiatif dan motivasi mengajar di sekolah. Dengan keanekaragaman tersebut masing-masing guru memiliki tujuan dan peran serta yang berbeda dalam menjalankan tugasnya. Dengan kemampuan tingkat profesionalisme yang dimiliki guru akan menuntut imbalan kerja secara ekonomis yang berbeda pula. Jika kepala sekolah dapat menerapkan tipe supervisi yang dapat meningkatkan kualitas mengajar, dengan diimbangi penghargaan yang memadai maka guru-guru dalam menjalankan tugasnya akan mendapat kepuasan kerja sebagai imbalan yang diperoleh dari sekolah yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH   Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

MODEL SUPERVISI PEMBELAJARAN OLEH KEPALA SEKOLAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta.

Parimin. NIM : Q. 100080200. Model Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Kota Surakarta. Tesis. Program Pasca Sarjana Magíster Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2012.

14 Baca lebih lajut

Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Tata Kelola dan Akuntabilitas: 1) RSBI yang belum memenuhi ketentuan kurikulum perlu segera memperkaya kurikulum dengan cara adopsi atau adaptasi kurikulum negara-negara yang pendidikanya lebih maju; 2) Karena kemampuan akademik guru RSBI masih rendah untuk beberapa mata pelajaran (biologi, fisika, dan bahasa Inggris), maka perlu pemanfaatan TIK yang lebih terarah dalam pembelajaran; 3) Perlu penguatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan hasil laporan sekolah RSBI untuk peningkatan kualitas tata kelola; 4) Perlu mekanisme rekrutmen guru yang lebih selektif sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu proses pembelajaran; 5) Penggunaan merek tertentu untuk melegitimasi standar mutu pengelolaan seperti ISO tidak terlalu relevan. Cukup digunakan standar proses yang ada dengan menambahkan hal-hal tertentu yang diperlukan; dan 6) Untuk mengontrol akuntabilitas pengelolaan dan mutu penyelenggaraan, sekolah wajib memberikan laporan tiap semester kepada Menteri melalui Ditjen Pendidikan Dasar dan Dirjen Pendidikan Menengah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERAN SEKOLAH DALAM SOSIALISASI TATA TERTIB PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

PERAN SEKOLAH DALAM SOSIALISASI TATA TERTIB PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

lingkungan sekolah. Pengawasan biasanya saya lakukan dengan selalu berkomunikasi dengan guru-guru dan wali kelas. Sehingga terus bisa mendapatkan informasi mengenai siswa di sekolah khusunya mengenai pelaksanaan tata tertib”. Selanjutnya Ibu Nunung Suratih, ST selaku waka kesiswaan menjelaskan “iya, saya selaku Waka Kesiswaan berkewajiban melakukan pengawasan kepada siswa. Terutama melakukan pengawasan kepada siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib dan telah banyak mengumpulkan indeks pelanggaran, yaitu dengan melakukan komunikasi dengan guru-guru dan Wali Kelas”. Selain itu Ibu Karmila, S.Pd.I selaku wali kelas XI IS 3 menjelaskan, “Iya, saya melakukan pengawasan saat proses belajar mengajar, selain itu saya selaku wali kelas XI IS 3 melakukan pengawasan yang lebih kepada siswa saya, dengan memantau absensi siswa, tingkah laku di kelas, dan melakukan komunikasi dengan guru-guru mata pelajaran lain untuk mendapatkan informasi mengenai siswa kelas kelas XI IS 3 yang berkaitan dengan tata tertib sekolah”. dari hasil observasi dan wawancara diatas sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan Gigin Auliya selaku siswa kelas X E yang menjelaskan, “iya, ada guru piket yang mengawasi siswa di depan sekolah mulai dari jam masuk sampai jam pulang sekolah. selain itu guru-guru juga mengawasi siswa seperti saat belajar di kelas”. Dan Aprianto selaku siswa kelas XI IS 1 yang menjelaskan, “Iya, sekolah melakukan pengawasan kepada siswa yang dilakukan guru-guru dan guru piket. Dulu siswa juga diawasi dengan kamera CCTV yang ada di setiap ruang kelas, tetapi informasinya kamera CCTV sudah tidak berfungsi lag i”. Pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan, Wali Kelas selain dilakukan dengan langsung memantau setiap kegiatan yang di lakukan siswa di lingkungan sekolah juga dilakukan dengan saling melakukan komunisasi yang berkaitan tentang pelaksanaan tata tertib. Selanjutnya, dari hasil observasi ditemukan dilaksanakannya pengawasan kepada siswa, yaitu adanya guru piket yang melakukan pengawasan untuk memantau siswa di depan sekolah mulai dari jam masuk sekolah sampai jam pulang sekolah. selain itu guru yang mengajar dikelas juga melakukan pengawasan kepada siswa secara langsung dengan tidak meninggalkan siswa disaat proses belajar mengajar berlangsung. Akan tetapi jika ada kelas yang kosong dikarenakan guru mata pelajaran tidak mengajar, tidak ada yang melakukan pengawasan pada kelas tersebut baik oleh guru piket ataupun guru-guru yang lain. Selain itu Closed Circuit Television (CCTV) yang terpasang disetiap ruang kelas yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan siswa saat berada dikelas sudah tidak berfungsi atau tidak diaktifkan oleh sekolah.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KEJUJURAN AKADEMIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS  PADA SITUASI UJIAN  Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

KEJUJURAN AKADEMIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA SITUASI UJIAN Kejujuran Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas.

ketika ujian berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap dengan mempersiapkannya terlebih dahulu sebelum berlangsungnya ujian) dan social active (mengcopy atau melihat jawaban orang lain). Independent-planned merupakan bentuk tindakan yang banyak dilakukan oleh siswa dalam melakukan tindakan mencontek yakni 71,2%. Salah satu pernyataan pada bentuk independent-planned ini terdapat pernyataan siswa yang menggunakan catatan contekan saat ujian berlangsung. Bentuk tindakan mencontek social-active dilakukan oleh 68,4% siswa. Salah satu pernyataan dalam aspek bentuk perilaku mencontek ini adalah bahwa pada saat ujian telah berlangsung beberapa menit, siswa sering meminta jawaban atau menyalin jawaban dari teman lain. Hal ini disebabkan karena salah satunya siswa malas mengulang pelajaran yang telah disampaikan oleh guru di sekolah dan lebih percaya dengan kemampuan yang dimiliki teman satu kelas daripada kemampuannya sendiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KECURANGAN DALAM UJIAN NASIONAL DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

KECURANGAN DALAM UJIAN NASIONAL DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Sekolah merupakan salah satu agen sosialisai yang dipercaya oleh masyarakat sebagai wadah untuk membentuk kepribadian para peserta didik agar memiliki kepribadian yang bagus. Di bangku sekolah para peserta didik diajarkan tentang nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Para guru selalu menerapkan hukuman bagi para siswa yang ketahuan tidak jujura tau curang. Namun kenyataannya saat pelaksanaan Ujian Nasional, lembaga sekolah justru mengajarkan para peserta didik untuk melakukan kecurangan dengan memberikan bantuan kunci jawaban. Kecurangan dalam Ujian Nasional disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah ketakutan lembaga dengan tingkat kelulusan siswa, sanksi internal terhadap guru, minimnya sarana prasarana sekolah, kurangnya rasa percaya diri siswa dan semakin canggihnya teknologi. Penyimpangan pendidikan dalam lembaga pendidikan mengakibatkan munculnya stereotip terhadap sekolah, guru dan konflik moral. Banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh lembaga sekolah telah membuat banyak lapisan masyarakat yang kurang percaya dengan lembaga pendidikan. Lembaga sekolah yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menimba ilmu justru menjadi ladang berbisnis bagi sebagian masyarakat. Begitu juga dengan guru yang seharusny bertugas membimbing dan mendidik peserta didik untuk tumbuh menjadi makhluk sosial yang berkepribadian baik justru memberikan contoh yang kurang baik dengan melakukan kecurangan. Namun sebenarnya tidak semua guru menyetujui untuk berbuat curang, kebijakan sekolah dalam mengambil keputusan untuk mengambil jalan pintas memaksa guru untuk mengikuti kecurangan tersebut meskibun sebenarnya berlawanan dengan hati nuraninya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PETA ANALISIS SUMBER PENERANGAN PRODUKSI

PETA ANALISIS SUMBER PENERANGAN PRODUKSI

Pada laporan Learning Outcome (LO) kali ini studi kasus yang diambil yaitu Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan pada dokumen yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang berjudul “Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2017” diambil sebanyak 4 (empat) tabel untuk dianalisis. Tabel tersebut antara lain persentase rumah tangga menurut sumber penerangan, produksi padi sawah 2012- 2016, jumlah sekolah, guru, murid Sekolah Menengah Atas (SMA), dan jumlah pusat kesehatan masyarakat di Sumatera Utara.

Baca lebih lajut

SK KALENDER AKADEMIK 2015 2016

SK KALENDER AKADEMIK 2015 2016

Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk program pendidikan kesetaraan baik Negeri maupun Swasta dalam koordinasi/lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta;

Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keunggulan Pengelolaan Sekolah Berpola Asrama Seminari Menengah Petrus Van Diepen di Kabupaten Sorong

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keunggulan Pengelolaan Sekolah Berpola Asrama Seminari Menengah Petrus Van Diepen di Kabupaten Sorong

Pengelolaan pendidikan berasramanya mengacu pada delapan standar nasional pendidikan. Pelaksanaan sistem pendidikan dengan model asramanya memberikan keleluasaan bagi pengelola asrama dalam membuat konsep maupun situasi lingkungan belajar yang lebih baik bagi siswa. Siswa yang menjalani pendidikan di dalam asrama juga lebih konsentrasi dan lebih disiplin dalam mengikuti proses habitualisasi. Disadari pula bahwa mempelajari ilmu di sekolah tidak terpisahkan dengan mempelajari life skills di asrama, apalagi sekolah dan asrama berada di lokasi yang sama seperti dalam seminari PvD. Sistem pendidikan asrama diciptakan dalam kondisi yang memungkinkan bagi siswa untuk belajar sepanjang hari. Asrama sebagai ruang sosial baru bagi siswa dipandang mampu untuk membentuk peserta didik untuk hidup mandiri. Sistem asrama dan karakteristik kehidupan di dalamnya mendorong peserta didik agar mampu memenuhi dan menjalani tugas kehidupan sehari-hari dengan mandiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...