siswa SMA Sekolah Pesantren

Top PDF siswa SMA Sekolah Pesantren:

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI PADA SISWA BOARDING SCHOOL  Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa Boarding School Pondok Pesantren Modern As-salaam dan Siswa SMA Negeri di Wilayah Kecamatan Kartas

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI PADA SISWA BOARDING SCHOOL Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa Boarding School Pondok Pesantren Modern As-salaam dan Siswa SMA Negeri di Wilayah Kecamatan Kartas

SMA As(salaam merupakan sekolah berasrama ( ). Siswa yang belajar di sekolah berasrama berbeda dengan belajar disekolah biasa. Secara umum, orang tua menyekolahkan anak di sekolah berasrama dengan pertimbangan memiliki waktu belajar yang lebih panjang dan lebih fokus, memungkinkan anak untuk lebih mandiri dan lebih siap dalam mempersiapkan berbagai macam tantangan yang akan dihadapinya dimasa yang akan datang. Siswa # di wajibkan untuk tinggal di lingkungan sekolah dan sekolah telah menyiapkan tempat untuk para siswa, kegiatan yang dilaksanakan selalu berada di area sekolah. Namun, kebanyakkan siswa #
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perbedaan Kecerdasan Spiritual Siswa SMA yang Bersekolah di Pesantren dan di Sekolah Negeri

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perbedaan Kecerdasan Spiritual Siswa SMA yang Bersekolah di Pesantren dan di Sekolah Negeri

Kecerdasan spiritual merupakan suatu kemampuan yang digunakan untuk menerapkan, menyatakan, dan mewujudkan daya spiritual, nilai-nilai, dan kualitas dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi sehari-hari dan juga kesejahteraan hidup. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dan lingkungannya, sehingga perkembangan kecerdasan spiritualnya sedikit banyak dipengaruhi oleh sekolah dan lingkungannya. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan spiritual siswa SMA yang bersekolah di pesantren dan di sekolah negeri. Hipotesis penelitian ini adalah adanya perbedaan kecerdasan spiritual siswa SMA yang bersekolah di pesantren dan di sekolah negeri. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah metode kuantitatif dengan menggunakan skala angket. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dan di SMA Negeri 3 Salatiga. Pengumpulan data variabel kecerdasan spiritual menggunakan skala kecerdasan spiritual yang dimodifikasi dari skala kecerdasan spiritual bernama Integrated Spiritual Intelligence Scale (ISIS) yang disusun oleh Amram dan Dryer (2007). Skala ini terdiri dari 30 item valid yang diukur dengan skala Likert. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai t hitung sebesar – 0,392 dan p = 0,696 (p > 0.05). Dari hasil tersebut sapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecerdasan spiritual pada siswa SMA yang bersekolah di pesantren dengan siswa SMA yang bersekolah di sekolah negeri.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

The Application of Regression Tree on Student’s Achievement at Al- Atiqiyah Senior High School Sukabumi

The Application of Regression Tree on Student’s Achievement at Al- Atiqiyah Senior High School Sukabumi

Pohon optimum yang diperoleh berdasarkan aturan Cost Complexity Minimum dan penggunaan validasi Silang lipat-10 (10-fold Cross validation) diperoleh lima buah simpul terminal. Kajian ini menunjukkan bahwa keberhasilan prestasi akademik (UN) siswa SMA Al-Atiqiyah dipengaruhi oleh tempat tinggal siswa selama menempuh pendidikan, nilai rata-rata raport dari tiap semester, nilai ujian akhir sekolah, dan jenis kelamin siswa. Dilihat dari hasil karakteristik kelompok nilai UN siswa yang menunujukkan bahwa kelompok siswa yang tinggal di pesantren dan nilai Ujian Akhir Sekolah lebih dari 8.42 merupakan kelompok siswa dengan nilai UN tertinggi yaitu 8.26, sedangkan untuk kelompok siswa yang tinggal di luar pesantren (tinggal dengan orangtua ataupun kost) dan memiliki nilai rata-rata raport sewaktu di SMA lebih dari 7.99 dan berjenis kelamin laki-laki merupakan kelompok siswa dengan nilai UN terendah yaitu sebesar 7.43. Hal ini terjadi karena siswa yang tinggal di pesantren jadwal kegiatan sehari-harinya lebih terprogram dan di bawah bimbingan para ustadz- ustadzahnya selama 24 jam, dibandingkan dengan siswa yang tinggal diluar pesantren. Artinya bahwa faktor eksternal (lingkungan) sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi akademik siswa.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) POLA BELAJAR MUDZAKAROH DI SMA KY AGENG GIRI BERBASIS PONDOK PESANTREN SALAF GIRIKUSUMA BANYUMENENG MRANGGEN DEMAK.

(ABSTRAK) POLA BELAJAR MUDZAKAROH DI SMA KY AGENG GIRI BERBASIS PONDOK PESANTREN SALAF GIRIKUSUMA BANYUMENENG MRANGGEN DEMAK.

Subjek penelitian ini adalah siswa SMA Ky Ageng Giri yang tinggal di Pondok Pesantren Salaf Girikusumo. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi secara langsung, wawancara, dan dokumentasi. Observasi langsung dilaksanakan di SMA Ky Ageng Giri dan Pondok Pesantren Salaf Girikusumo. Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan, terdiri atas seorang kepala Pondok Pesantren, seorang kepala sekolah SMA Ky Ageng Giri, lima (5) orang pengurus Pondok Pesantren, tiga puluh (30) siswa kelas X (sepuluh) yang tinggal di Pondok Pesantren, dan tiga (3) guru SMA Ky Ageng Giri.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

STUDI KUALITATIF TENTANG PERILAKU MEMBOLOS PADA SISWI SANTRI SMA DI PONDOK PESANTREN.

STUDI KUALITATIF TENTANG PERILAKU MEMBOLOS PADA SISWI SANTRI SMA DI PONDOK PESANTREN.

Sekolah sebagai lembaga resmi formal bertujuan untuk membantu negara mencetak kader-kader penerus bangsa, sehingga banyak sekali aturan di sekolah tersebut untuk dipatuhi dan ditaati bagi siswa didiknya. Peraturan yang dibuat juga mempunyai sanksi apabila terdapat siswa yang melanggarnya.

9 Baca lebih lajut

DUKUNGAN SOSIAL SISWA NORMAL DAN SEKOLAH TERHADAP SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN DI PANTI DAN PONDOK PESANTREN AL-MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

DUKUNGAN SOSIAL SISWA NORMAL DAN SEKOLAH TERHADAP SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN DI PANTI DAN PONDOK PESANTREN AL-MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Peranan dukungan sosial pada lingkungan sekolah formal contohnya pada tingkat SMA/MA sederajat dengan lingkungan dipondok pesantren akan berbeda pada tingkat dukungan sosialnya, akan tetapi keduanya memungkinkan hal yang sama pada tingkat sosialnya untuk itu penulis nantinya akan mengungkap pola dukungan sosial berupa interaksi pada lingkungan tersebut terutama dalam kegiatan keagamaan.

9 Baca lebih lajut

PERBEDAAN ORIENTASI KEBERAGAMAAN PADA SISWA SANTRI PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DAN SISWA SEKOLAH ISLAM  Perbedaan Orientasi Keberagamaan Pada Siswa Santri Pondok Pesantren Tradisional dan Siswa Sekolah Islam Swasta.

PERBEDAAN ORIENTASI KEBERAGAMAAN PADA SISWA SANTRI PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DAN SISWA SEKOLAH ISLAM Perbedaan Orientasi Keberagamaan Pada Siswa Santri Pondok Pesantren Tradisional dan Siswa Sekolah Islam Swasta.

This study aims to understand and describe the religious orientation of which is owned by a traditional boarding school students and students of private Islamic schools. This research was conducted in two places, namely SMA Muhammadiyah 2 Surakarta and Traditional Pondok Pesantren Al-Mu'min Sragen. Research subjects in this study of 100 people with 50 high school students Muhammadiyah 2 Surakarta and 50 boarding school students of Al-Mu'min Sragen. Sampling was conducted by random sampling technique. The method used in this penlitian is a quantitative method by using religious orientation scale. This research data analysis techniques using independent sample t-tests. Based on the results of independent testing of samples t-test t-test values obtained at t = - 0.399 with coefficient sig = 0.217 (p> 0.005) which means there is no difference in the orientation of traditional religious boarding school students and students of private Islamic schools. Subjects in this study had a religious orientation is high.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

S PJKR 0705179 Abstract

S PJKR 0705179 Abstract

Pendidikan jasmani di lingkungan sekolah pada dasarnya merupakan sarana pendidikan yang dilaksanakan melalui aktivitas fisik dan olahraga tertentu yang dilakukan melalui proses pembelajaran atau bimbingan guru dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Perkembangan lingkungan sosial yang begitu pesat meningkatkan tantangan dan pengaruh yang tidak kecil bagi perkembangan pendidikan di sekolah dan pembentukan pribadi anak. Untuk itu, pendidikan yang memadukan sekolah dan pesantren (Sekolah Terpadu) dipandang sebagai salah satu solusi baik bagi orang tua dan anak dalam mengatasi tantangan perkembangan zaman sekarang. Namun dengan perbedaan kultur pendidikan yang berbeda serta sarana dan prasarana penunjang yang tersedia antara sekolah terpadu dengan sekolah reguler tentu akan memberikan dampak yang berbeda terhadap kebugaran jasmani siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat kebugaran jasmani antara siswa di SMA Terpadu Darul ‘Amal dengan siswa di SMA Negeri 1 Jampangkulon. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Terpadu Darul ‘Amal dan SMA Negeri 1 Jampangkulon yang berjumlah 469 orang siswa. Sementara jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25% dari total populasi, yaitu berjumlah 118 orang siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode ex post fa cto dengan pendekatan sta tic group commpa r isson, menitik beratkan pada penelitian komparatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes psikomotor berupa Tes Kebugaran Jasmani untuk anak usia SMA (16-19 tahun), yaitu: a. lari cepat (sprint) 60 meter, b. gantung siku tekuk (pull up), c. baring duduk (sit up) 30 detik, d. loncat tegak (vertica l jump), dan e. lari jarak sedang 1200 meter. Hasilnya terjadi perbedaan signifikan nilai rata-rata tingkat kebugaran jasmani siswa SMA Terpadu Darul ‘Amal dengan rata -rata 13,69 dan siswa SMA Negeri 1 Jampangkulon dengan rata-rata 11,58. Dengan demikian tingkat kebugaran jasmani siswa SMA Terpadu Darul ‘Amal lebih baik dibandingkan SMA Negeri 1 Jampangkulon.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kewirausahaan Jamur Tiram Di Pondok Pesantren

Kewirausahaan Jamur Tiram Di Pondok Pesantren

Santri menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Asy Syifa’ setelah menyelesaikan pendidikan dasar (SD) atau setelah menyelesaikan pendidikan setingkat SMP. Pondok Pesantren menyelenggarakan pendidikan formal keagamaan Islam setingkat SMP dan SMA yang dikelola oleh yayasan Muhammadiyah. Semua santri Pondok Asy Syifa’ wajib mengikuti pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pondok pesantren, bersama- sama dengan siswa lain yang berasal dari masyarakat umum. Setelah lulus pendidikan setingkat SMP beberapa santri memutuskan untuk berpindah tempat pendidikan atau berhenti mengikuti pendidikan. Pada umumnya santri yang memilih berhenti sekolah, akan bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri atau bahkan menanggung kehidupan keluarganya. Dengan demikian, bekal ketrampilan untuk dapat berusaha mandiri sangat diperlukan oleh santri.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERBEDAAN ORIENTASI KEBERAGAMAAN PADA SISWA SANTRI PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DAN SISWA SEKOLAH ISLAM  Perbedaan Orientasi Keberagamaan Pada Siswa Santri Pondok Pesantren Tradisional dan Siswa Sekolah Islam Swasta.

PERBEDAAN ORIENTASI KEBERAGAMAAN PADA SISWA SANTRI PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DAN SISWA SEKOLAH ISLAM Perbedaan Orientasi Keberagamaan Pada Siswa Santri Pondok Pesantren Tradisional dan Siswa Sekolah Islam Swasta.

Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan skala orientasi keberagamaan. Teknik pemilihan subjek dengan menggunakan teknik random sampling. Subjek dalam penelitian ini 50 SMA Muhammadiyah 2 Surakarta dan 50 Pondok Pesantren Tradisional Al- Mu’min Sragen . Pemilihan subjek berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala yang di rujuk dari skala orientasi keagamaan ( religion orientation scale) yang disusun oleh (Yahman,1991) Skala ini tersusun atas aspek-aspek sebagai berikut : (a) personal versus institusional, (b) unselfish versus selfish , (c) relevansi terhadap keseluruhan kehidupan, (d) kepenuhan penghayatan keyakinan, (e) pokok versus instrumental, (f) asosiasional versus komunal, dan (g) keteraturan penjagaan perkembangan iman.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Tak Hanya Sekolah, Pesantren Juga Kunjungi UMM

Tak Hanya Sekolah, Pesantren Juga Kunjungi UMM

Salah satu perwakilan SMA Islam Hidayatullah, ustadz Eko mengatakan bahwa kedatangan mereka dalam rangka studi tour ke UMM yang diikuti oleh seluruh siswa kelas XI. “Ini betul-betul studi, bukan rekreasi. Tadi kami di Pondok Tebu Ireng juga meminta tausiah dari pengasuh pondok. Di sini kami mohon wawasan mengenai dunia perguruan tinggi, terutama di UMM,” kata Eko.

1 Baca lebih lajut

SEKOLAH VERSUS PESANTREN SEBUAH PERBANDINGAN MENUJU FORMAT BARU MAINSTREAM LEMBAGA PENDIDIKAN NASIONAL PENIADA DIKOTOMIK Oleh: Amrizal, MA. Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau Abstract - SEKOLAH VERSUS PESANTREN SEBUAH PERBANDINGAN MENUJU

SEKOLAH VERSUS PESANTREN SEBUAH PERBANDINGAN MENUJU FORMAT BARU MAINSTREAM LEMBAGA PENDIDIKAN NASIONAL PENIADA DIKOTOMIK Oleh: Amrizal, MA. Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau Abstract - SEKOLAH VERSUS PESANTREN SEBUAH PERBANDINGAN MENUJU

Di samping prinsip-prinsip di atas, ada bebarapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum sekolah-pesantren. Pertama, berkenaan dengan tujuan pendidikan. Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Pada awalnya tujuan ini bersifat umum. Kemudian dalam operasionalnya tujuan yang bersifat umum tersebut dibagi menjadi bagian-bagian kecil, yang dikenal dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) Ia dirumuskan dalam bentuk rencana pengajaran (persiapan mengajar) yang selanjutnya mengarahkan perbuatan pembelajaran yang akan dilakukan secara bersama oleh pendidik dan peserta didik .Tujuan pembelajaran khusus tersebut hendaknya menekankan dan memperhatikan, serta memenuhi segi perkembangan pribadi, integritas dan otonomi individu peserta didik . Karena setiap individu peserta didik memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari yang mendasar sampai pada kebutuhan yang paling tinggi. Menurut Benjamin S. Bloom, tujuan pendidikan (kurikulum ) harus senantiasa mengacu pada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu ; (ranah proses berpikir (cognitive domain); (2) ranah nilai atau sikap (affective domain), dan ranah ketrampilan (psychomotor domain).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN 20132014 LEMBAR SOAL

DINAS PENDIDIKAN KOTA BEKASI TAHUN PELAJARAN 20132014 LEMBAR SOAL

Pernyataan yang setara dengan: “Jika semua siswa SMA mematuhi disiplin sekolah maka keadaan sekolah kondusif” adalah..... Jika keadaan sekolah tidak kondusif maka semua siswa SMA tidak [r]

9 Baca lebih lajut

PERSEPSI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI KOTA YOGYAKARTA TERHADAP KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN | Wulandari | LITERASI 771 3042 1 PB

PERSEPSI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI KOTA YOGYAKARTA TERHADAP KESUSASTERAAN INDONESIA MODERN | Wulandari | LITERASI 771 3042 1 PB

Yogyakarta sebagai salah satu kota pelajar pun cukup banyak memiliki sastrawan-sastrawan hebat. Bahkan, komunitas sastra yang cukup banyak berkembangan di kota Yogyakarta pun semestinya dianggap mampu memberikan wadah bagi siswa SMA untuk lebih mengapresiasi karya sastra. Siswa juga diharapkan dapat memahami tentang jenis- jenis sastra yang berkembang di Indonesia. Hal ini sesuai dengan materi yang ada dalam kurikulum 2013 revisi tahun 2016. Dalam kurikulum tersebut, siswa harus memahami jenis-jenis sastra seperti hikayat, puisi, cerpen, drama, dan novel. Akan tetapi, kondisi perkembangan sastra yang masih berjalan apik di Kota Yogyakarta ini tidak sepenuhnya menjadi perhatian siswa. Sastra cenderung dianggap sebagai teks yang disukai golongan tertentu dan bacaan hiburan, atau sesuatu yang membosankan untuk dipelajari.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TRADISIONALISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MODERN DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSINYA STUDI KASUS Di PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP.

TRADISIONALISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MODERN DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSINYA STUDI KASUS Di PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP.

kedua tujuan terealisasi maka akan membentuk suatu sosok pribadi yang utuh pada diri sendiri. Khususnya dibidang pertanian, agar bisa menjadi bekal para santri disamping untuk menunjang ekonomi pesantren itu sendiri. Namun begitu juga sebaliknya ilmu agama sebagai titik pengendali untuk mengendalikan setiap apa yang kita lakukan, karna dengan adanya pendalaman ilmu agama yang akan menuntun kita pada jalan yang haq dan yang bathil menurut agama. Jika kita hanya mendalami ilmu umum saja tidak diimbangi dengan ilmu agama yang terpenuhi hanya kebutuhan dunia saja sedangkan akhirat tidak pernah kita pikirkan, karna pada hakekatnya Islam itu indah dan mengatur untuk keindahan dunia dan akhirat.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2. 1. Sejarah Desa Tiga lingga - Kompetisi Sepak Bola Antar Kampung Di Kecamatan Tigalingga Kabupaten Dairi

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2. 1. Sejarah Desa Tiga lingga - Kompetisi Sepak Bola Antar Kampung Di Kecamatan Tigalingga Kabupaten Dairi

Kecamatan Tigalingga dalam hal pendidikan telah memiliki sekolah dasar yang menjadi salah satu program pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun. Kecamatan Tigalingga memiliki 25 sekolah dasar dari setiap desa yang ada. Data dari dinas pendidikan dan pengajaran hanya ada 1 desa yang tidak memiliki sekolah dasar yaitu Desa Palding. Berbeda dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Kecamatan Tigalingga hanya memiliki 3 gedung sekolah. Yang berada di Desa Lau Sireme, Lau Pak-pak, dan Desa Lau Bagot. Sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) hanya ada 1 gedung sekolah saja yang berada di Desa Lau Bagot.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

T PKN 1402257 Table of content

T PKN 1402257 Table of content

Efektivitas pengembangan kecerdasan moral peserta didik dalam konteks PKn di SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya sebagai sekolah dengan sistem boarding school .... 154 B[r]

7 Baca lebih lajut

EVELUASI DIRI SEKOLAH SISWA SMA 2013

EVELUASI DIRI SEKOLAH SISWA SMA 2013

□ menarik perhatian kamu dengan memperlihatkan sesuatu, bercerita, atau hal lainnya □ memberikan kesempatan untuk bertanya dan memberikan jawaban yang sesuai □ menugaskan untuk melakukan penyelidikan (ekplorasi) tentang suatu permasalahan □ mengecek pemahaman siswa terkait materi yang diajarkan

5 Baca lebih lajut

MANAJEMEN PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI SMA IT PADA PONDOK PESANTREN

MANAJEMEN PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI SMA IT PADA PONDOK PESANTREN

1. Pendidikan Pondok Pesantren ……………………………….. 2. Karakteristik Kitab Kuning ………………………………….. 3. Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren …………………... 4. Metodologi Pembelajaran Kitab Kuning ……………………. 5. Masa Pembelajaran dan Syahâdah (Ijazah) …………………. 6. Metode Internalisasi dalam Pembelajaran Kitab Kuning …… 7. Teori Belajar Mengajar di Pondok Pesantren ……………….. 8. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran Kitab

24 Baca lebih lajut

Hilangnya Peran Negara dalam Hal Jaminan

Hilangnya Peran Negara dalam Hal Jaminan

Terkait dengan konsep human security yang memiliki dua hal pokok yaitu freedom from fear and freedom from want dalam penelitian ini akan dibahas mengenai salah satu bagian dalam konsep tersebut yaitu kondisi personal security siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Malang yang berada di Jalan Cengger Ayam I/14 Malang dan Sekolah Menengah Atas Katholik (SMAK) St. Albertus atau yang banyak dikenal dengan sebutan SMA Dempo yang berada di wilayah Jalan Talang No. 1 Malang. Kota Malang yang dikenal dengan slogan sebagai Kota Pendidikan tentunya menjadi kota tujuan pendidikan bagi banyak masyarakat di luar wilayah Kota Malang, pada akhirnya masyarakat dari berbagai macam latar belakang ekonomi, agama, etnis dapat dengan mudah ditemukan di Kota Malang sebagai miniatur Indonesia. Tentunya hal tersebut bukan tidak mungkin menimbulkan potensi konflik di tingkat pelajar di Kota Malang, maraknya peredaran narkoba, seks bebas, kasus bullying, tawuran pelajar, penyalahgunaan penggunaan jejaring sosial menjadi contoh ancaman yang kemudian banyak terjadi saat ini. Dalam penelitian ini responden dipilih dari siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang dan SMAK St. Albertus Malang dengan pertimbangan antara lain:
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...