Spermatogenesis, Semen dan Kelainan pada Sperma

Top PDF Spermatogenesis, Semen dan Kelainan pada Sperma:

Respon Pemberian Phytoestrogen Berasal Dari Tepung Kedelai Pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus) Luas Jaringan Interstitial, Spermatogenesis Dan Kualitas Sperma

Respon Pemberian Phytoestrogen Berasal Dari Tepung Kedelai Pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus) Luas Jaringan Interstitial, Spermatogenesis Dan Kualitas Sperma

Pernyataan di atas ditunjang oleh Zenick dan Clegg (1989) yang mengatakan, bahwa agen mutagenik (teratospermia) dan agen nonmutagenik yang hadir pada waktu proses pematangan testis atau pada waktu spermiogenesis dapat mengubah profil morfologi sperma, sehingga bentuknya menjadi abnormal. Hal itu sejalan pula dengan pendapat Toelihere (1977) yang menyatakan, bahwa jenis abnormalitas seperti tersebut di atas adalah termasuk kedalam jenis abnormalitas primer. Abnormalitas primer terjadi karena adanya kelainan di dalam tubulus seminiferus tempat dimana spermatogenesis berlangsung.
Show more

14 Read more

Identifikasi Kesuburan Pria Melalui Kelainan Sperma Berdasarkan Morfologi (Teratospermia) Menggunakan Metode Invariant Moment

Identifikasi Kesuburan Pria Melalui Kelainan Sperma Berdasarkan Morfologi (Teratospermia) Menggunakan Metode Invariant Moment

2.1. Spermatozoa Spermatozoa merupakan sel yang dihasilkan oleh fungsi reproduksi pria. Sel tersebut memiliki bentuk yaitu kepala, badan, dan ekor. Spermatozoa merupakan sel hasil epitel germinal yang disebut spermatogonia. Spermatogonia terletak dalam dua sampai tiga lapisan sepanjang batas luar epitel tubulus, Proses perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa disebut spermatogenesis. Kepala spermatozoa terdiri atas sel berinti padat dengan hanya sedikit sitoplasma dan lapisan membran sel di sekitar permukaannya. Ekor spermatozoa yang disebut flagellum, memiliki tiga komponen utama yaitu: rangka pusat, membran sel, dan sekolompok mitokondria yang terdapat dalam proksimal dari ekor.
Show more

71 Read more

BAB II Spermatogenesis

BAB II Spermatogenesis

Berikut adalah penjelasan mengenai jalur sperma yang telah matang : Dari testis kiri dan kanan, sperma bergerak ke dalam epididimis (suatu saluran berbentuk gulungan yang terletak di puncak testis menuju ke testis belakang bagian bawah) dan disimpan di dalam epididimis sampai saat terjadinya ejakulasi .Jadi epididimis ini agar sperma menjadi matang / mature sehingga siap bergerak ke vas deferens .Dari epididimis, sperma bergerak ke vas deferens dan duktus ejakulatorius. Di dalam duktus ejakulatorius, cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis , kelenjar prostata dan bulbo uretra ditambahkan pada sperma sehinngga sperma dinamai dengan semen ( benih), yang kemudian mengalir menuju ke uretra dan dikeluarkan ketika ejakulasi.
Show more

15 Read more

Uji Aktivitas Ekstrak Air Herba Kemangi (Ocimum Americanum L.) terhadap Kualitas Sperma Dan Densitas Sel Spermatogenesis Tikus Sprague-Dawley Jantan secara In Vivo

Uji Aktivitas Ekstrak Air Herba Kemangi (Ocimum Americanum L.) terhadap Kualitas Sperma Dan Densitas Sel Spermatogenesis Tikus Sprague-Dawley Jantan secara In Vivo

Parameter yang diamati selanjutnya adalah morfologi sperma. Menurut Rafiqa et al (2013), abnormalitas sprematozoa dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Abnormalitas primer merupakan spermatozoa yang mengalami kelainan pada saat proses spermatogenesis. Spermatozoa yang abnormal meliputi kepala yang terlampau besar atau terlampau kecil, kepala pendek, kepala pipih memanjang, kepala rangkap dan ekor ganda. Abnormalitas sekunder merupakan spermatozoa yang mengalami kelainan setelah meninggalkan tubulus seminiferus yang ditandai dengan ekor putus, kepala tanpa ekor dan kepala pecah (Fitriani et al, 2010). Morfologi spermatozoa menurut Nugraheni et al (2003), merupakan salah satu faktor yang menentukan fertilitas spermatozoa. Abnormalitas primer dari spermatozoa di dalam testis dikarenakan kesalahan spermatogenesis ataupun spermiogenesis yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keturunan, penyakit, dan pengaruh lingkungan yang buruk (Salisbury dan Vandemark, 1985).
Show more

96 Read more

LAPORAN PENDAHULUAN SPERMATOGENESIS DAN ID

LAPORAN PENDAHULUAN SPERMATOGENESIS DAN ID

Kasus lemahnya pergerakan sperma (asthenozoospermia) kerap dijumpai. Adakalanya malah spermatozoa mati (necrozoospermia). Gerakan spermatozoa dibagi dalam 4 kategori:a. Bergerak cepat dan maju lurusb. Bergerak lambat dan sulit maju lurusc. Tak bergerak maju (bergerak di tempat)d. Tak bergerak. Sperma dikatakan normal bila memiliki gerakan normal dengan kategori a lebih besar atau sama dengan 25% atau kategori b lebih besar atau sama dengan 50% Spermatozoa yang normal satu sama lain terpisah dan bergerak sesuai arahnya masing-masing. Dalam keadaan tertentu, spermatozoa abnormal bergerombol, berikatan satu sama lain, dan tak bergerak. "Keadaan tersebut dikatakan terjadi aglutinasi," jelas Tri Bowo. Aglutinasi dapat terjadi karena terjadi kelainan imunologis di mana sel telur menolak sel sperma.
Show more

24 Read more

Laporan Praktikum Spermatogenesis dan Sp

Laporan Praktikum Spermatogenesis dan Sp

apakah cepat atau lambat, lalu morfologi sperma tersebut apakah normal atau cacat (abnormalitas) karena tidak semua sperma sempurna atau normal, maka dari itu dilakukan pengamatan. Untuk pengamatan makroskopik yaitu mengamati secara fisik warna, bau, ph, volume, dan konsentasi pada sperma ternak itu sendiri. Dengan mengamati sedemikian rupa bisa dilihat bahwa sperma tersebut berkualitas bagus atau tidak. Kualitas Semen yang baik harus melewati beberapa pemeriksaan antara lain pemeriksaan Makroskopis dan pemeriksaan Mikroskopis. Pemeriksaan Makroskopis meliputi : volume, warna, bau, konsistensi,dan derajat keasaman atau pH. Sedangkan untuk pemeriksaan Mikroskopis meliputi : gerakan massa, gerakan individu, Motilitas, konsentrasi Spermatozoa serta prosentase hidup (Hardijanto Dkk, 2008).
Show more

17 Read more

Hubungan Antara Jumlah Leukosit Pada Cairan Semen Dengan Motilitas Sperma Pada Pria Pasangan Infertil Di Rumah Sakit Adenin Adenan Medan

Hubungan Antara Jumlah Leukosit Pada Cairan Semen Dengan Motilitas Sperma Pada Pria Pasangan Infertil Di Rumah Sakit Adenin Adenan Medan

ABSTRAK Latar Belakang: Infertilitas merupakan masalah sistem reproduksi yang melanda seluruh dunia. Keadaan yang menyebabkan hal ini sangat multifaktorial dan masing-masing individu baik istri maupun suami memiliki peran yang sangat signifikan pada kejadian infertilitas ini. Menurut World Health Organization (WHO) 50% kejadian infertilitas dipengaruhi oleh faktor dari pria pasangan tersebut. Untuk melihat kelainan yang terjadi, maka dilakukan pemeriksaan analisis semen. Nilai motilitas sperma dan nilai leukosit sangat berperan penting dalam penentuan fertilitas pria.
Show more

73 Read more

SPERMATOGENESIS DAN KUALITAS SEMEN MUNCAK SELAMA PERIODE PERTUMBUHAN RANGGAH. Abstrak

SPERMATOGENESIS DAN KUALITAS SEMEN MUNCAK SELAMA PERIODE PERTUMBUHAN RANGGAH. Abstrak

PERIODE PERTUMBUHAN RANGGAH Abstrak Aktivitas spermatogenesis dan kualitas semen pada muncak diduga berhubungan erat dengan periode pertumbuhan ranggahnya seperti yang dilaporkan pada spesies rusa lainnya. Sejauh mana keterkaitan tersebut perlu dilakukan kajian untuk mengetahui tahapan spermatogenik pada periode ranggah keras (RK); spermatogenesis dan kualitas semen pada periode casting (C), ranggah velvet (RV), dan ranggah keras (RK). Jaringan testis diperoleh dari seekor muncak jantan dewasa pada periode RK yang diproses menjadi sediaan histologi dan diwarnai dengan pewarna hematoksilin-eosin (HE). Fragmen testis dan semen (ejakulat) diperoleh dari dua ekor muncak jantan dewasa, yaitu ♂#2 dan ♂#3 selama periode C, RV, dan RK. Fragmen testis diperoleh dengan metode core needle biopsy, diproses secara histologi dan diwarnai dengan periodic acid Schiff (PAS), sedangkan semen dikoleksi menggunakan metode elektroejakulasi. Hasil pengamatan dengan metode morfologi tubular (pewarnaan HE), ditemukan delapan tahap epitel tubuli seminiferi (tahap I-VIII) pada muncak dengan frekuensi masing-masing tahapan yang bervariasi. Frekuensi tahap pre meiosis (tahap I-III), meiosis (tahap IV), dan post meiosis (tahap V-VIII) berturut- turut adalah 47.75%, 6.87%, dan 43.37%, dengan durasi setiap tahapan adalah 5.07 hari, 0.73 hari, dan 4.81 hari. Aktivitas spermatogenesis ditemukan pada ketiga periode ranggah (C, RV, dan RK), ditandai dengan adanya reaksi PAS positif (warna magenta) pada akrosom round dan elongated spermatid. Lingkar skrotum (cm) kedua muncak memperlihatkan perbedaan pada ketiga periode ranggah, yaitu 13.05 ± 0.91 (C), 13.86 ± 0.51 (RV), dan 15.76 ± 0.30 (RK). Hasil evaluasi semen pada periode C, RV, dan RK memperlihatkan adanya spermatozoa motil dengan konsentrasi berbeda. Rataan konsentrasi spermatozoa kedua muncak tertinggi (juta/ml) ditemukan pada periode RK (506.25 ± 61.87), dan sedikit menurun pada periode C (288.75 ± 37.12), dan RV (362.60 ± 17.68). Dapat disimpulkan bahwa aktivitas spermatogenesis untuk menghasilkan spermatozoa tetap berlangsung walaupun muncak berada pada periode C dan RV. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya spermatozoa motil pada semen kedua muncak pada periode C dan RV.
Show more

42 Read more

Pengaruh Penambahan Glutathione pada Medium Pengencer Sperma terhadap Kualitas Semen Cair (Chilled Semen)

Pengaruh Penambahan Glutathione pada Medium Pengencer Sperma terhadap Kualitas Semen Cair (Chilled Semen)

Faktor penghambat lain adalah ketersediaan nitrogen cair dan tabung nitrogen cair yang cukup mahal di daerah. Oleh sebab itu penggunaan semen cair merupakan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut. Pada semen cair konsentrasi spermatozoa rendah dibandingkan semen beku, sehingga pada satu ejakulasi dapat digunakan untuk menginseminasi lebih banyak ternak betina yang estrus. Namun demikian, problem yang dihadapi adalah daya fertilitasnya sedikit menurun dengan bertambah lamanya waktu penyimpanan semen cair tersebut. Pada penelitian sebelumnya S ITUMORANG et al. (2001a) menyatakan bahwa persentase kebuntingan menurun setelah semen cair disimpan selama lebih dari empat hari. Salah satu penyebabnya adalah adanya radikal bebas yang dapat merusak sel spermatozoa. P ARRIS (1998) menyatakan bahwa glutathione adalah antioksidan penting yang dapat memproteksi mitokondria dari kerusakan karena adanya radikal bebas. Glutathione dapat mengkontrol homeostatic baik di dalam maupun di luar sel. Glutathione adalah antioksidan sulfhydril (-SH), antitoksin dan kofaktor enzim. Berdasarkan sifat antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas, maka penambahan glutathione sebagai antioksidan primer diharapkan dapat mengurangi kerusakan membran plasma.
Show more

7 Read more

Identifikasi Kesuburan Pria Melalui Kelainan Sperma Berdasarkan Morfologi (Teratospermia) Menggunakan Metode Invariant Moment

Identifikasi Kesuburan Pria Melalui Kelainan Sperma Berdasarkan Morfologi (Teratospermia) Menggunakan Metode Invariant Moment

Kesuburan merupakan bagian terpenting dalam proses pembuahan. Sel telur dan sperma yang telah melebur dan matang akan menjadi zigot kemudian menjadi embrio. Sel telur yang dihasilkan harus baik agar mendapatkan embrio yang baik, begitu juga dengan kualitas sperma harus yang terbaik. Kualitas sperma yang baik dapat dilihat berdasarkan morfologi sperma, bentuk sperma dengan kualitas terbaik terdiri dari kepala oval beraturan, badan, dan ekor lurus panjang. Morfologi sperma masih menjadi analisis standar laboratorium dalam mendiagnosis ketidaksuburan pada pria. Saat ini identifikasi bentuk sperma masih dilakukan secara manual dan bersifat subjektif. Secara manual identifikasi bentuk sperma masih belum akurat, kesulitan dalam melihat bentuk sperma secara kasat mata dari citra mikroskop digital sering menjadi kelemahan dalam proses identifikasi dan membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu dibutuhkan sistem aplikasi identifikasi kesuburan pria melalui kelainan sperma berdasarkan morfologi sperma (teratospermia).
Show more

71 Read more

Pengaruh Medium dan Lama Inkubasi dalam Proses Sexing Sperma Terhadap Kualitas Semen Kambing Boer

Pengaruh Medium dan Lama Inkubasi dalam Proses Sexing Sperma Terhadap Kualitas Semen Kambing Boer

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh medium dan waktu inkubasi pada sexing semen terhadap kualitas spermatozoa kambing Boer. Proses sexing menggunakan metode perbedaan densitas dengan menggunakan medium bovine serum albumin (BSA) dan spermgrad (SG). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan yaitu, BSA 40 menit (P1), BSA 50 menit (P2), BSA 60 menit (P3), SG 40 Menit (P4), SG 50 (P5) dan SG 60 menit (P6). Variabel yang diamati adalah kualitas spermatozoa (motilitas dan abnormalitas). Data dianalisis menggunakan analisis ragam diikuti uji lanjut berganda Duncan. Materi yang digunakan adalah semen kambing Boer. Hasil penelitian menunjukkan motilitas tertinggi terdapat pada fraksi atas (sperma X) dan fraksi bawah (sperma Y) terdapat pada perlakuan P1 (72,0 ±2,7% dan 72,0±2,7%) dan motilitas terendah pada perlakuan P6 (57,0±5,7% dan 58,0±5,7%). Selain itu, persentase abnormalitas sperma tertinggi pada fraksi atas pada perlakuan P1 dan fraksi bawah pada P6 (8,5±0,9% dan 5,4±1,2%). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata motilitas antara kedua medium, dan waktu inkubasi 50 menit optimum untuk mempertahankan kualitas semen.
Show more

9 Read more

Potensi Fraksi N-heksan Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas [Alpinia Galanga (L.) Swartz.] Dalam Meningkatkan Kualitas Sperma Dan Spermatogenesis

Potensi Fraksi N-heksan Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas [Alpinia Galanga (L.) Swartz.] Dalam Meningkatkan Kualitas Sperma Dan Spermatogenesis

antioksidan. Secara umum, antioksidan mampu mencegah aktivitas berlebih dari reactive oxygen species (ROS) yang dihasilkan melalui stres oksidasi. Aktivitas oksidasi ROS yang dihambat oleh antioksidan memberikan kesempatan sel-sel germinal utuh dapat berkembang menjadi sel-sel spermatosit, spermatid dan pada akhirnya menjadi spermatozoa matang yang memenuhi tubulus semifenarus (Maneesh dan Jayalekshmi, 2006). Tubulus semifenarus yang dipenuhi spermatozoa mencerminkan pengaruh yang sangat baik terhadap spermatogenesis (Filho, dkk., 2010). Selain itu, jika membran spermatozoa dan DNA mitokondria terhindar dari oksidasi ROS, maka dampaknya akan mengakibatkan peningkatan motilitas progresif, viabilitas spermatozoa hidup, dan morofologi spermatozoa normal (Maneesh dan Jayalekshmi, 2006). Dampak tersebut dikarenakan mitokondria merupakan tempat pembentukan Adeno Tri Phosphat (ATP) sebagai sumber energi penggerak ekor spermatozoa, baik secara anaerob maupun melalui Siklus Krebs. Jika radikal bebas yang terbentuk karena stres oksidasi dapat mengoksidasi membran sel dan DNA mitokondria, maka hal ini akan mengakibatkan kerusakan spermatozoa (mati dan abnormal) (Gagnon, dkk., 2006).
Show more

13 Read more

43120 ID hubungan mortalitas progresif dan keutuhan membran sperma dalam semen beku sapi

43120 ID hubungan mortalitas progresif dan keutuhan membran sperma dalam semen beku sapi

8 T.037 61,29 48,39 9 T.010 77,41 64,52 å 645,14 529,04 Rata-rata 71,68 58,78 Tabel 3. memperlihatkan bahwa rata-rata persentase NR lebih tinggi dibanding persentase CR. Walaupun nilai NR dan CR dihitung berdasarkan betina yang bunting, namun antara NR dan CR mempunyai nilai yang berbeda, nilai NR biasanya lebih tinggi dari nilai CR, karena pada saat perhitungan CR dapat tejadi pengurangan betina yang diduga bunting. Hal tersebut diduga antara lain karena kesalahan deteksi birahi, waktu birahi, dan penjualan induk. Menurut Salisbury dan Van Demark (1984) bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi besarnya nilai NR yaitu jumlah sapi yang diinseminasi, dan jarak antara inseminsai pertama. Selanjutnya Ardikarta (1981) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Inseminsai Buatan adalah ternak itu sendiri, keterampilan inseminator, deteksi birahi, waktu birahi dan jumlah sperma yang potensial.
Show more

5 Read more

Korelasi Motilitas Progresif dan Keutuhan Membran   Sperma dalam Semen Beku Sapi Ongole   Terhadap Keberhasilan Inseminasi

Korelasi Motilitas Progresif dan Keutuhan Membran Sperma dalam Semen Beku Sapi Ongole Terhadap Keberhasilan Inseminasi

Kejutan suhu dingin dapat menyebabkan kematian spermatozoa. Hal ini disebabkan pada selubung lipoprotein spermatozoa terjadi kontraksi yang lebih besar dibandingkan di dalam tubuh spermatozoa, hal ini akibat dari pembentukan kristal es pada cairan tubuh spermatozoa dan medium lingkungan sehingga terjadi kerusakan ikatan selluler yang penting dan dapat memecahkan selubung dan masuknya zat-zat tertentu yang akan mengganggu aktivitas serta substansi intraseluler yang vital (White 1969). Parameter untuk menentukan perubahan kulaitas spermatozoa dapat dilihat dari karakteristik sperma. Karakteristik spermatozoa yang erat hubungannya dengan kualitas
Show more

6 Read more

Hubungan Mortalitas Progresif dan Keutuhan Membran Sperma dalam Semen Beku Sapi Bali dengan Keberhasilan Inseminasi

Hubungan Mortalitas Progresif dan Keutuhan Membran Sperma dalam Semen Beku Sapi Bali dengan Keberhasilan Inseminasi

Berdasarkan nilai S/C yang diperoleh tersebut dapat dikatakan bahwa menghasilkan satu kali kebuntingan pada sapi Bali di Kabupaten Merangin diperlakukan 1,72 kali IB (straw). Hal ini menunjukan bahwa tingkat fertilisasi ternak di Kabupaten Merangin sudah cukup baik. Keadaan ini dapat dikatakan logis mengingat peternak sedah lama mengelolah ternaknya, peternak sudah mengetahui dalam deteksi timbulnya birahi dan ternak yang dikawinkan dengan Inseminasi Buatan juga sudah tepat waktu untuk dikawinkan serta diiringi oleh terampilnya inseminator dalam melakukan tugasnya. Nilai S/C dapat dijadikan ukuran guna menilai kegiatan IB antara lain inseminator, ternak betina dan peternak dengan ansumsi kualitas sperma baik. Adikarta (1981) menyatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan IB ditentukan oleh beberapa faktor yaitu ternak itu sendiri, keterampilan inseminator, deteksi birahi, waktu birahi dan jumlah sperma potensial.
Show more

5 Read more

Korelasi Motilitas Progresif dan Keutuhan Membran Sperma dalam Semen Beku Sapi Ongole. Terhadap Keberhasilan Inseminasi

Korelasi Motilitas Progresif dan Keutuhan Membran Sperma dalam Semen Beku Sapi Ongole. Terhadap Keberhasilan Inseminasi

Kejutan suhu dingin dapat menyebabkan kematian spermatozoa. Hal ini disebabkan pada selubung lipoprotein spermatozoa terjadi kontraksi yang lebih besar dibandingkan di dalam tubuh spermatozoa, hal ini akibat dari pembentukan kristal es pada cairan tubuh spermatozoa dan medium lingkungan sehingga terjadi kerusakan ikatan selluler yang penting dan dapat memecahkan selubung dan masuknya zat-zat tertentu yang akan mengganggu aktivitas serta substansi intraseluler yang vital (White 1969). Parameter untuk menentukan perubahan kulaitas spermatozoa dapat dilihat dari karakteristik sperma. Karakteristik spermatozoa yang erat hubungannya dengan kualitas
Show more

6 Read more

Materi Spermatogenesis Dan Oogenesis

Materi Spermatogenesis Dan Oogenesis

Awal dari suatu perkembangan adalah meleburnya inti ovum dan inti sperma. Organ yang berfungsi untuk menghasilkan sel kelamin secara umum disebut gonad. Sedangkan sel kelamin itu sendiri disebut gamet (Artawan, 2002). Oleh karena itu, terdapat dua macam gamet yaitu ovum dan sperma, maka ada dua jenis pembentukan gamet (gametogenesis) yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Gonad pada hewan betina adalah ovarium yang pada umumnya terdapat berpasangan. Oogenesis adalah proses pembentukan sel yelur (ovum) di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel – sel telur yang disebutoogenia (jamak; oogonium). Pembentukan sel telur pada manusia sudah terjadi sebelum kelahiran, yaitu didalam ovary fetus perempuan.
Show more

10 Read more

Pengaruh Lama Penyimpanan Semen Cair Ayam Buras pada Suhu 5 0C terhadap Periode Fertil dan Fertilitas Sperma.

Pengaruh Lama Penyimpanan Semen Cair Ayam Buras pada Suhu 5 0C terhadap Periode Fertil dan Fertilitas Sperma.

The aim of this research was to identify the effect storage time of native chicken chilled semen at 5 0 C on fertile period and fertility of sperm. This research used experimental method by using Completely Randomize Design (CRD) with 3 treatments and each treatments was replicated 6 times. Storage time used in this research were 1 hour (0 day), 24 hour (1 day) and 48 hour (2 day). This research used 4 male native chickens and 18 female native chickens. The variables measured were fertile period and fertility of sperm.
Show more

5 Read more

PENGARUH LINGKAR SCROTUM DAN VOLUME TESTIS TERHADAP VOLUME SEMEN DAN KONSENTRASI SPERMA PEJANTAN SIMMENTAL, LIMOUSINE DAN BRAHMAN

PENGARUH LINGKAR SCROTUM DAN VOLUME TESTIS TERHADAP VOLUME SEMEN DAN KONSENTRASI SPERMA PEJANTAN SIMMENTAL, LIMOUSINE DAN BRAHMAN

Pengukuran terhadap volume testis dilakukan dengan cara memasukkan testis kedalam ember yang telah diisi air. Volume testis diketahui dengan mengukur air luapan yang tertampung dalam ember. Pengukuran volume testis ini didasarkan pada azas Archimedes yang menyatakan bahwa volume benda yang dikenakan terhadap zat cair, sama dengan volume zat cair yang dipindahkan (S EARS dan Z EMANSKY , 1994). Setelah pengukuran terhadap volume testis dan lingkar skrotum, 1 – 3 hari kemudian dilakukan penampungan semen untuk mengetahui produksi semen meliputi volume semen dan konsentrasi spermatozoa yang digunakan sebagai data sekunder.
Show more

6 Read more

Evaluasi Kromatin Sperma sebagai Indikator Kualitas Sperma

Evaluasi Kromatin Sperma sebagai Indikator Kualitas Sperma

zat warna dari golongan fenotiazin yang larut dalam air dan etanol serta memiliki bentuk fisik berupa bubuk berwarna hijaugelap. Zat warna ini memiliki rumus molekul C 15 H 16 CIN 3 S dengan berat molekul 305,83. 30 Zat warna ini juga digunakan untuk pewarnaan sperma dengan tujuan untuk mengidentifikasi kepadatan kromatin sperma. Prinsip pewarnaan biru toluidin adalah zat warna biru toluidin akan diikat oleh gugus phosphat dari untaian DNA sperma yang memiliki kepadatan kromatin yang kurang baik.Sedangkan sperma yang memiliki kepadatan kromatin yang baik akan terwarnai minimal atau tidak terwarnai oleh zat warna biru toluidin. 26 Pada pewarnaan sperma dengan biru toluidin, adapun bahan-bahan yang diperlukan antara lain; etanol 96%, larutan aceton, larutan HCl 0,1 N, larutan biru toluidin0,05% dimana buffer biru toluidin terdiri dari 50% phosphate sitrat (McIlvain buffer, pH 3,5), larutant-butanol, dan Xylol. Larutan HCl 0,1 N dibuat dengan cara melarutkan 1,7 ml HCl pekat dalam larutan akuades hingga volume totalnya menjadi 200 ml. Larutan biru toluidin dibuat dengan cara menimbang 0,01 gram biru toluidin lalu dilarutkan dalam campuran larutan buffer hingga volume totalnya menjadi 20 ml. Larutan buffer biru toluidin dibuat dengan cara mencampurkan larutan akuades dan McIlvain buffer (pH 3,5) dengan perbandingan 1:1. 31 Adapun cara kerja pewarnaan sperma dengan biru toluidin adalah dimulai dengan membiarkan semen yang baru diejakulasi selama 30-60 menit untuk mencapai likuifaksi yang sempurna. Setelah mengalami likuifaksi sempurna, cairan semen dibuat sediaan hapus pada slide mikroskop. Selanjutnya sediaan hapus difiksasi dengan larutan etanol 96% - aseton (1:1) pada suhu 4 0 C selama 30 menit. Setelah itu, sediaan hapus dihidrolisa dalam larutan 0,1 N HClpada suhu 4 0 C selama lima menit. Selanjutnya, sediaan hapus dibilas tiga kali menggunakan air suling masing-masing selama dua menit dan dibiarkan mengering di udara. Setelah kering, sediaan hapus diwarnai dengan larutan biru toluidin0,05% dan biarkan selama 10 menit. Selanjutnya sediaan hapus yang telah diwarnai, dibilas dengan air suling lalu didehidrasi menggunakan t- butanol sebanyak dua kali masing-masing selama tiga menit pada suhu 37 0 C untuk selanjutnya dicelupkan dalam larutan xylol sebanyak dua kali selama tiga menit. Setelah kering, preparat kemudian ditutup dengan cover glass menggunakan enthelan untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan. 31
Show more

7 Read more

Show all 5178 documents...