Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Top PDF Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak:

ANALISIS YURIDIS UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM PEMBERIAN BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA

ANALISIS YURIDIS UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM PEMBERIAN BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA

BAB III TINJAUAN YURIDIS UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM PEMBERIAN BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA A. Bantuan Hukum Menurut Undang-UndangBantuan Hukum 1. Pemberi dan Penerima Bantuan Hukum ............ 63

10 Baca lebih lajut

PRAKTIK PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR (CURANMOR)OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

PRAKTIK PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR (CURANMOR)OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

Saat ini penegak hukum dalam perkara anak menggunakan mekanisme diversi, namun pada pelaku anak residivis tidak dapat dilaksanakan diversi. Contoh tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh Muhamad Berki berdasarkan laporan polisi NO. LP / B / 1027 / VI / 2014 / LPG / RESTA BALAM / SEKTOR TKB. Permasalahannya adalah bagaimanakah praktik penyidikan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor) oleh anak berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan apakah faktor penghambat dalam proses penyidikan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor) oleh anak. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penyidikan tindak pidana anak yaitu dimulai dengan melakukan identifikasi kasus, apakah anak tersebut dapat dilaksanakan diversi atau tidak. Mengingat anak sudah residivis, maka dilakukan penyidikan lebih lanjut yaitu dimulai dari laporan atau pengaduan dari korban, pemeriksaan TKP, keterangan saksi dan barang bukti maka selanjutnya dilakukan penangkapan, pemeriksaan dan penahanan. Meminta saran dan pertimbangan dari pembimbingankemasyarakatan untuk kelengkapan BAP. Setelah proses penyidikan selesai danpemberkasan BAP sudah lengkap, tahap selanjutnya pelimpahan berkas kepenuntut umum yakni pihak kejaksaan anak. Adapun faktor penghambat yaktu faktor dari aparat penegak hukum; faktor dari sarana dan fasilitas; dan faktor kemasyarakatan.Disarankan agar penegak hukum memperhatikan kepentingan bagi anak baik dalam proses penangkapan, pemeriksaan, penahanan hingga putusan pengadilan, pemerintah sebaiknya menambah fasilitas dan sarana bagi anak yang berkonflik dan perlunya penyuluhan hukum tentang Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak kepada masyarakat baik dari pemerintah, kepolisian dan pembimbing kemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum Dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Pemberian Bantuan Hukum Terhadap Anak Sebagai Pelaku Dan Korban Tindak Pidana

Analisis Yuridis Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum Dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Pemberian Bantuan Hukum Terhadap Anak Sebagai Pelaku Dan Korban Tindak Pidana

Anak merupakan bagian dari kehidupan bangsa, kehidupan negara, merupakan bagian dari generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa dalam hakikatnya sebagai salah satu sumber daya manusia yang dapat ditumbuhkembangkan dengan lebih baik lagi. Untuk itu segala upaya perlu dilakukan demi kesejahteraan kehidupan anak bangsa. Banyak anak sekarang menyimpang jauh dari apa yang diharapkan dalam kontribusinya bagi bangsa dan negara. Anak yang berhadapan dengan hukum wajib diupayakan diversi terlebih dahulu sebelum memasuki tahap peradilan. Peradilan merupakan upaya terakhir apabila diversi tidak membuahkan hasil. Anak yang memasuki proses peradilan pidana untuk menyelesaikan tindak pidana yang mereka lakukan harus diberikan perlindungan, salah satunya dalam pemberian bantuan hukum sebagai pemenuhan akses keadilan mereka. Anak-anak yang memasuki sistem peradilan pidana anak harus diperlakukan secara khusus mengingat sifat mereka yang belum mampu untuk dimintai pertanggungjawaban sehingga perlu ada perlindungan hukum secara khusus terhadap setiap anak yang mengalami pemeriksaan di peradilan pidana anak. Untuk itu Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dibuat agar hak-hak anak dapat terlindungi dalam proses beracara di peradilan anak di Indonesia. Termasuk juga pengaturan dari Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Sehingga dapat dirumuskan bagaimana eksistensi dari kedua undang-undang ini dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak, terkhusus terhadap anak pelaku tindak pidana.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Penjatuhan Pidana Bersyarat Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum Dari Perspektif Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Negeri No.02/Pid.Sus-Anak/2014/PN.BNJ dan Pengadilan Tinggi N

Penjatuhan Pidana Bersyarat Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum Dari Perspektif Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Negeri No.02/Pid.Sus-Anak/2014/PN.BNJ dan Pengadilan Tinggi N

Dalam model keadilan restoratif, sanksi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum diletakkan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sebagai balas dendam dan pemidanaan tetapi harus berfungsi mencerahkan secara moral dan mendewasakan sebagai pribadi yang utuh. UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak pada Paasal 71 telah memberikan aturan bahwa jenis sanksi pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada anak adalah pidana peringatan, pidana dengan syarat, pidana pelatihan kerja, pidana pembinaan dalam lembaga dan pidana penjara. Aturan yang terdapat pada UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut harus menjadi pedoman utama hakim dalam menentukan dan menjatuhkan sanksi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum. Putusan Pengadilan Negeri Binjai, dimana Hakim menjatuhkan pidana bersyarat dengan tidak menjatuhkan pidana penjara merupakan putusan yang berusaha untuk memenuhi kepentingan dan perlindungan anak. Dengan menjatuhkan pidana bersyarat berupa kewajiban membersihkan Mesjid/Muhollah diharapkan anak dapat berubah menjadi lebih baik lagi setelah menyadari kesalahan-kesalahannya.
Baca lebih lanjut

172 Baca lebih lajut

PERTIMBANGAN KEPOLISIAN TIDAK MENGAJUKAN ANAK PELAKU TINDAK PIDANA KE PROSES PERADILAN MENURUT UNDANGUNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK.

PERTIMBANGAN KEPOLISIAN TIDAK MENGAJUKAN ANAK PELAKU TINDAK PIDANA KE PROSES PERADILAN MENURUT UNDANGUNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK.

Pertimbangan-pertimbangan kepolisian tidak melanjutkan perkara anak pelaku tindak pidana ke tingkat penuntutan atau pun pemeriksaan perkara di pengadilan patut dipertanyakan karena bertentangan dengan semangat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidan Anak. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang pertimbangan kepolisian dalam

13 Baca lebih lajut

ANALISIS HUKUM PIDANA DENDA YANG DIJATUHKAN KEPADA ANAK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK( Studi Kasus Anak Sebagai Pelaku Pelanggaran Lalu Lintas di

ANALISIS HUKUM PIDANA DENDA YANG DIJATUHKAN KEPADA ANAK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK( Studi Kasus Anak Sebagai Pelaku Pelanggaran Lalu Lintas di

Skripsi ini berjudul Analisis Hukum Pidana Denda Yang Dijatuhkan Kepada Anak Ditinjau Dari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ( Studi Kasus Anak Sebagai Pelaku Pelanggaran Lalu Lintas di Pangkalpinang).

13 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis terhadap Diversi dalam Perkara Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Pencabulan (Studi Penetapan No. 05 Pid.Sus-Anak 2016 PN.Bnj)

Tinjauan Yuridis terhadap Diversi dalam Perkara Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Pencabulan (Studi Penetapan No. 05 Pid.Sus-Anak 2016 PN.Bnj)

Anak yang kebetulan melakukan kejahatan tetaplah anak, oleh karena itu ia tetaplah untuk mendapatkan hak-haknya sebagai anak serta melakukan kewajiban , dan menyebabkan anak konflik hukum (selanjutnya disebut AKH). Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) Pasal 1 angka 2 bahwa Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Anak yang berkonflik dengan hukum (AKH) lebih dikhususkan terhadap anak sebagai pelaku suatu tindak pidana. Oleh karena itu, Pertanggungjawaban pidana dikenakan pada anak yang berkonflik dengan hukum dengan ketentuan yang telah secara tegas diatur dalam Pasal 1 angka 3 adalah anak yang berusia 12 (dua belas) tahun tetapi belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana, tidak terkecuali terhadap anak yang melakukan pencabulan. Tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh anak dirasakan telah meresahkan semua pihak khususnya para orang tua maupun masyarakat dan perilaku tersebut seolah-olah tidak berbanding lurus dengan usia pelaku.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

SKRIPSI PERGESERAN PERAN PENYIDIK DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG – UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM  PERGESERAN PERAN PENYIDIK DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG – UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM MENANGANI ANAK PELAK

SKRIPSI PERGESERAN PERAN PENYIDIK DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG – UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERGESERAN PERAN PENYIDIK DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG – UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM MENANGANI ANAK PELAK

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus juru selamat dan kebanggaanku, karena cinta dan kasih karunia-Nya serta segala berkat, rahmat dan perlindungannya-Nya yang luar biasa sehingga penulis dapat menyel esaikan skripsi ini dengan judul “ PERGESERAN PERAN PENYIDIK DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG – UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM MENANGANI ANAK PELAKU TINDAK PIDANA ’’ . Skripsi ini disusun

12 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS PENJATUHAN PIDANA DENDA TERHADAP TERPIDANA ANAK

TINJAUAN YURIDIS PENJATUHAN PIDANA DENDA TERHADAP TERPIDANA ANAK

This research explains about the imposition of Fine Penalty in Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak on Pasal 71. In connection with the decision of the judge Nomor 4/Pid.Sus-Anak /2016/PN.Rbk. which impose penalties on the convicted child. The aim of this study is to explain the provisions of Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak and negotiate the basis of the judgment that convicted child. The type of research used in this study is the juridical-normative. The approach used in this research is statue approach and case approach. The fine penalty of Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Ana k isn’t the main penalty because the law imposes as the responsibility or the restorer of the state and the victim instead of reprisal. This is very important because children are still developing, so they can not completely replace retaliatory punishments like adults. Children cannot be punished by fines, in the law which regulates them in the law of necessary criminal matters with training within a certain period of time in accordance with the law. The imposition of a convicted fine on a convicted child is incompatible with restorative law and it is contrary to principles, especially for children and others such as lex specialist solutions. There is no sense, benefit and legal certainty for the convicted child.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Analisis Terhadap Putusan No. 467/Pid.Sus/2013/PN.Dps. Dengan Putusan No. 3/Pid.Sus.Anak/2014/PN Dps. Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak Dan Undang-Und

PENDAHULUAN Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Analisis Terhadap Putusan No. 467/Pid.Sus/2013/PN.Dps. Dengan Putusan No. 3/Pid.Sus.Anak/2014/PN Dps. Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak Dan Undang-Und

Kemudian pada tahap penuntutan Anak, bentuk perlindungan hukum kepada Anak yang berhadapan dengan Hukum wajib melaksanakan diversi sebagaimana diatur dalam Pasal 42 Ayat (1) Undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana Anak. Selanjutnya, Pada proses sidang di pengadilan perlindungan Terhadap anak, Anak memperoleh pendampingan baik dari orang tua/wali, Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya seperti yang di diatur pada pasal 56 Undang-undang No. 11 tahun 2012 menyatakan bahwa: “Setelah Hakim membuka persidangan dan menyatakan sidang tertutup untuk umum,Anak dipanggil masuk beserta orang tua/Wali,Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, dan pembimbing kemasyarakatan’’.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengancaman Sanksi Pidana Penjara Terhadap Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012.

Pengancaman Sanksi Pidana Penjara Terhadap Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012.

Pidana Anak. Sub bab kedua adalah Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana yang terdiri atas Definisi Anak yang melakukan kejahatan, Sistem Peradilan Anak, dan Dampak Dari Anak Yang Dipidana Penjara. Sub bab ketiga adalah Pidana Penjara Bagi Anak yang Melakukan Tindak Pidana yang terdiri dari Sistem Peradilan Anak Sebelum Adanya Pembaharuan Hukum Pidana, Sistem Peradilan Anak Setelah Berlakunya Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dan Penerapan Sanksi Pidana Penjara Terhadap Anak.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pemenuhan Hak atas Kesehatan Anak Didik Pemasyarakatan (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan)

Pemenuhan Hak atas Kesehatan Anak Didik Pemasyarakatan (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan)

Dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak pada Pasal 3 mengakui adanya hak yang harus dilindungi bagi anak yang berkonflik dengan hukum yaitu anak berhak diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya, yang dimaksud dengan kebutuhan sesuai dengan umurnya dijelaskan dalam Penjelasan UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yaitu meliputi kegiatan ibadah, mendapat kunjungan dari keluarga dan/atau pendamping, mendapat perawatan rohani dan jasmani, mendapat pendidikan dan pengajaran, mendapat pelayanan kesehatan dan makanan yang layak, mendapat bahan bacaan, menyampaikan keluhan serta mengikuti siaran media masa. Selain itu anak yang berkonflik dengan hukum dalam Undang-undang ini juga diberikan hak untuk melakukan kegiatan rekreasional. Yang dimaksud rekreasional dalam undang- undang ini yaitu meliputi kegiatan latihan fisik, hiburan, kesenian dan kegiatan keterampilan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN DIVERSI TERHADAP ANAK YANG  BERHADAPAN DENGAN HUKUM  Pelaksanaan Diversi Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Studi Kasus Terhadap Penetapan Di Wilayah Pengadilan Negeri Surakarta).

PELAKSANAAN DIVERSI TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM Pelaksanaan Diversi Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Studi Kasus Terhadap Penetapan Di Wilayah Pengadilan Negeri Surakarta).

Diversi di dalam Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak merupakan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, dari proses peradilan pidana ke proses diluar peradilan pidana, dengan musyawarah yang melibatkan anak, orang tua anak, pembimbing kemasyarakatan, untuk menghindari anak dari perampasan kemerdekaan dimaksudkan untuk menjauhkan anak dari proses peradilan pidana. Sistem Peradilan Pidana di Indonesia dinilai belum berpihak kepada anak pelaku kejahatan atau anak yang berhadapan dengan hukum, produk hukum pidana yang ada saat ini dinilai berakar dari struktur sosial masyarakat yang ada dalam hal ini produk hukum pidana tentang anak-anak hanya mengatur korban kejahatan pidana. Sementara pelaku kejahatan dari kalangan anak-anak nyaris belum mendapatkan perlakukan hukum secara adil dan rata-rata anak yang terjerat kasus pidana dijebloskan ke penjara parahnya lagi, banyak penjara yang mencampur adukkan antara napi dewasa dengan napi anak-anak. 2 Alasan pemenjaraan, para
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Peranan Bapas Dalam Diversi Sebagai Bentuk Perlindungan Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Bapas Klas I Medan)

Peranan Bapas Dalam Diversi Sebagai Bentuk Perlindungan Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Bapas Klas I Medan)

Adapun yang menjadi permasalahan yang akan dibahas dari skripsi ini yaitu bagaimana pengaturan diversi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, bagaimana peranan Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Klas I Medan dalam pelaksanaan diversi dan apa-apa saja faktor-faktor yang menghambat Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Klas I Medan dalam pelaksanaan diversi.

1 Baca lebih lajut

BAB II KEBIJAKAN HUKUM PIDANA YANG MENGATUR TENTANG SISTEM PEMIDANAAN TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DI INDONESIA A. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan yang Dilakukan Oleh Anak Dibawah Umur - Penerapan Sanksi Terhadap Anak Pelaku Ti

BAB II KEBIJAKAN HUKUM PIDANA YANG MENGATUR TENTANG SISTEM PEMIDANAAN TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DI INDONESIA A. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan yang Dilakukan Oleh Anak Dibawah Umur - Penerapan Sanksi Terhadap Anak Pelaku Ti

Dalam Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, tidak disebutkan secara rinci tentang lembaga-lembaga apa saja yang terdapat dalam SPPA (Sistem Peradilan Pidana Anak), tetapi lebih cenderung ke arah pemasyarakatan atau lebih tepatnya dialihkan kepada Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Tetapi dalam perkembangannya dalam Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, terdapat lembaga-lembaga antara lain : Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), Lembaga Penempatan Anak Sementara (LPAS), dan Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Dalam Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan)

Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Dalam Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan)

Anak dibawah umur dalam mengendarai kendaraan bermotor sangatlah berbahaya, kurangnya pendidikan terhadap keselamatan di jalan raya dan umur yang sangat dini mengakibatkan kemampuan mengendarai kendaraan di jalan raya tidak dibarengi oleh insting dan pemikiran yang matang sehingga sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh anak dibawah umur. Undang-undanag No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur bagaimana penyelesaian perkara tindak pidana anak termasuk di dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang di sebabkan oleh anak dengan cara diversi. Permasalahan diatas melatarbelakangi penerapan diversi yang telah di atur di dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak terhadap anak sebagai pelaku dalam kasus kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu proses penyelesaian kasus tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang di lakukan oleh anak dibawah umur.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

onsekuensi yuridis tindak pidana pencur 28ebcf51

onsekuensi yuridis tindak pidana pencur 28ebcf51

(dua juta lima ratus ribu rupiah) sebagaimana yang diatur oleh Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 Mengenai Penyesuaian Batas Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda Dalam KUHP dibawah upah minimim provinsi setempat proses pelaksanaanya tentap merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dimana upaya diversi harus dilakukan pada semua tingkat pemeriksaan baik tingkat penyelidikan maupun tingkat penyidikan. Sehingga apabila kesepakatan melalui proses diversi ini terjadi maka penyidik tidak boleh melanjutkan perkara tersebut ketahap berikutnya. Namun dalam proses ini apabila kesepakatan atau dalam proses diversi tidak tercapai maka ketentuan Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak dan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 Mengenai Penyesuaian Batas Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda Dalam KUHP, nampaknya sejalan, dimana proses pemeriksaanya dilakukan dengan hakim tunggal dan
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN PROSES PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERISEMARANG) - Unika Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN PROSES PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERISEMARANG) - Unika Repository

Indonesia sendiri mempunyai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang anak, misalnya Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Berbagai peraturan lain yang berkaitan dengan masalah anak,tetapi dalam proses penegakan hukum terhadap anak berbeda dengan proses penegakan hukum terhadap orang dewasa, karena dasar pemikiran pemberian hukuman oleh negara adalah bahwa setiap warga negaranya merupakan mahkluk yang bertanggung jawab dan mampu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya,
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERAN POLISI DIY DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DIBAWAH UMUR.

PERAN POLISI DIY DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DIBAWAH UMUR.

Dan apabila berbicara tentang anak yang berkonflik dengan hukum maka polisi berpedoman kepada Undang-Undang No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak , yang dapat dikategorikan sebagai anak apabila berkonflik dengan hukum, terdapat dalam Pasal 1 ayat (3) Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Dari uraian diatas maka Polisi DIY dalam menanggulangi kasus aborsi yang dilakukan oleh anak dibawah umur dengan melihat aturan yang terdapat dalam Pasal 346 KUHP maka polisi mengedepankan Diversi karena didalam Pasal 7 ayat (1) dan (2) menyatakan: (1) Pada tingkat penyidikan, penuntutan,
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Peranan Bapas Dalam Diversi Sebagai Bentuk Perlindungan Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Bapas Klas I Medan)

Peranan Bapas Dalam Diversi Sebagai Bentuk Perlindungan Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Bapas Klas I Medan)

Khusus dalam penanganan terhadap anak, peran Bapas sendiri mulai terlihat jelas sejak berlakunya Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Pidana Anak pada tanggal 3 Januari 1998 yang mana terdapat petugas khusus yang kehadirannya sangat penting dalam acara peradilan pidana anak di Indonesia yaitu Petugas Pembimbingan Kemasyarakatan atau lebih dikenal dengan sebutan Bapas. Salah satu yang menjadi tugas dari Bapas ini adalah melakukan Penelitian Kemasyarakatan (LITMAS) yang mana hasil dari Penelitian Kemasyrakatan ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dan diperhatikan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dalam memeriksa perkara anak. Pada saat lahirnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang sekaligus mencabut Undang-Undang No. 3 Tahun 1997, memasukan diversi sebagai salah satu bentuk penyelesaian perkara anak yang juga melibatkan peran serta Bapas di dalam proses diversi tersebut selain Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim. 13
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...