Top PDF Analisis Strategi Pengembangan Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM) Pemerintah Kota Tanjunngpinang

Analisis Strategi Pengembangan Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM) Pemerintah Kota Tanjunngpinang

Analisis Strategi Pengembangan Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM) Pemerintah Kota Tanjunngpinang

I Kurangnya Informasi Dalam Mcndapatkan PinjamaDI Kredit 12 IKurangnya Ak.sesibilitas Dalam Mendapatkan Pinjaman/ Kredit , 3 Bunga Pinjaman/ K1¢it Yang Tinggi Kcuangan/ SDM Rendah 4 Kura[r]

155 Baca lebih lajut

STRATEGI DINAS KOPERASI DAN UKM KOTA SURAKARTA DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

STRATEGI DINAS KOPERASI DAN UKM KOTA SURAKARTA DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menuntut pemerintah daerah untuk dapat mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerintahan masing-masing menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Selain itu, pemerintah daerah diarahkan untuk dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan pemerintahan daerah ini dilaksanakan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antarsusunan pemerintahan dan antarpemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA TARAKAN

KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA TARAKAN

Menurut BPS UMKM di bedakan berdasarkan jumlah tenaga kerjanya yaitu industri tumah tangga dengan pekerja 1-4 orang, industri kecil dengan pekerja 5-19 orang, industri menengah dengan pekerja 20-99 orang, industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih. Menurut Chris Manning, et al (1991) sektor UKM adalah bagian dari sistem ekonomi kota dan desa yang belum mendapatkan bantuan ekonomi dari pemerintah atau belum mampu menggunakan bantuan yang telah disediakan atau telah menerima bantuan tetapi belum sanggup dikembangkan. Sektor UKM di Indonesia, umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia, tidak mempunyai izin usaha, pola kegiatan usaha tidak teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerja, pada umunya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. Pada umumnya UKM di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yeng menghambat kegiatan usahnya. Berbagai hambatan tersebut meliputi kesulitan pemasaran, keterbatasan finansial, keterbatasan SDM berkualitas, masalah bahan baku, keterbatasan teknologi, infrastruktur pendukung dan rendahnya komitmen pemerintah.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Strategi Pengembangan Program Pemberdayaan Usaha Mikro Dan Kecil Melalui Pembiayaan Usaha Syariah Di Kota Mojokerto

Strategi Pengembangan Program Pemberdayaan Usaha Mikro Dan Kecil Melalui Pembiayaan Usaha Syariah Di Kota Mojokerto

Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa Program Pembiayaan Usaha Syariah (Pusyar) merupakan kerjasama antara Badan Amil Zakat Nasional Kota Mojokerto dengan PT. BPRS Kota Mojokerto, Pemerintah Kota Mojokerto melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sebagai langkah konkrit dalam pemberdayaan UKM di Kota Mojokerto, konsep dari program ini adalah memberikan pembiayaan pada Usaha Mikro dan Kecil dengan tidak membebankan biaya tambahan apapun kepada peminjam, karena biaya margin, administrasi dan asuransi ditanggung oleh Badan Amil Zakat Nasional Kota Mojokerto yang diambil dari dana infaq dan sedekah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN SERTA PEMBERDAYAAN USAHA MENENGAH KECIL DAN MIKRO (UMKM)

PENGEMBANGAN SERTA PEMBERDAYAAN USAHA MENENGAH KECIL DAN MIKRO (UMKM)

b. Pengembangan Secara Eksternal dengan Adanya Bantuan dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Tanjungbalai Peran pemerintah dalam rangka mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memang sangat diperlukan. Karena UMKM merupakan salah satu usaha yang potensial untuk meningkatkan perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga perlu adanya pemberdayaan dari segi sumber daya manusia sampai pada pengadaan sarana dan prasarana. Selain itu, ada banyak manfaat dari adanya UMKM yaitu dapat menyerap banyak tenaga kerja serta mengurangi tingkat pengangguran. “Tujuan mulia yang ingin dicapai sektor publik, yaitu kesejahteraan sosial (social welfare)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ARTIKEL STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH DI DINAS KOPERASI, USAHA MIKRO KECIL MENENGAH, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DI KOTA TEGAL

ARTIKEL STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH DI DINAS KOPERASI, USAHA MIKRO KECIL MENENGAH, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DI KOTA TEGAL

Proses analisis yang dilakukan diawali dengan identifikasi lingkungan internal dan eksternal berdasarkan Renstra Dinas Koperasi, UMKM, Perindag Kota Tegal dan hasil wawancara untuk melihat kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan industri kecil menengah di Kota Tegal. Dari identifikasi lingkungan strategis itu ditemukanlah isu-isu strategi yang selanjutnya disebut sebagai SO, ST, WO, dan WT. Langkah selanjutnya yaitu mengevaluasi atau menilai program atau strategi yang telah disusun oleh Dinas Koperasi, UMKM, Perindag Kota Tegal berdasarkan hasil wawancara di lapangan dengan menggunakan tes litmus untuk menentukan tingkat kestrategisan program yang telah disusun. Sehingga diperoleh penetapan strategi pengembangan industri kecil menengah sebagai usaha intensifikasi pelaksanaan program Renstra yang dapat diterapkan di Kota Tegal.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Strategi Pengembangan Industri Kecil Menengah Di Dinas Koperasi, USAha Mikro Kecil Menengah, Perindustrian Dan Perdagangan Di Kota Tegal

Strategi Pengembangan Industri Kecil Menengah Di Dinas Koperasi, USAha Mikro Kecil Menengah, Perindustrian Dan Perdagangan Di Kota Tegal

Namun seiring berjalannya waktu proses implementasi strategi di lapangan menemui berbagai kendala yang dapat dilihat dari nilai pembentukan PDRB yang disumbang oleh sektor industri mengalami penurunan. Selain itu, kemampuan sumber daya manusia di dalam penggunaan teknologi industri serta Research and Development masih minim. Sehingga, produk-produk industri yang mereka hasilkan kurang maksimal bahkan tidak efisien. Tak hanya itu saja, kemampuan sumber daya manusia di dalam mengakses permodalan pada lembaga keuangan menjadi hambatan para pelaku industri kecil menengah di dalam mendapatkan modal untuk meneruskan produk industri mereka. Masih lemahnya jaringan pemasaran hasil produksi pun juga menjadi kelemahan para pelaku industri kecil menengah di Kota Tegal di dalam mempromosikan produk unggulannya. Ancaman yang dihadapi industri kecil menengah di masa datang juga tak lain adalah semakin kerasnya persaingan dengan industri sejenis dari kabupaten/kota lain, sehingga membutuhkan keseriusan di dalam menjaga dan meningkatkan mutu produk industri dari Kota Tegal ini.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

STRATEGI BISNIS USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH SEKTOR INFORMAL ( Studi Kasus Pada Usaha Mikro Campina Scoop Counter Di Gresik ).

STRATEGI BISNIS USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH SEKTOR INFORMAL ( Studi Kasus Pada Usaha Mikro Campina Scoop Counter Di Gresik ).

Dari hasil strategi bisnis usaha mikro kecil dan menengah sektor informal (studi kasus usaha mikro Campina Scoop Counter di kota Gresik) yang diamati dalam penelitian menunjukkan bahwa didalam mengelola keuangan, para pemilik atau owner Campina Scoop Counter masih melakukan pencatatan keuangan secara tradisional (manual) dalam artian mereka belum memisahkan antara keuangan pribadi dan usaha. Dari sisi strategi produksi, para pedagang kurang berusaha melakukan inovasi pada menu yang mereka sajikan kepada konsumen. Dalam aspek pemasaran, para pedagang lebih bersikap pasif dalam memasarkan produk mereka. Sedangkan didalam sumber daya manusia merekrut tenaga kerja, mereka mengambil tenaga kerja dari anggota keluarga mereka sendiri dan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang akan dihadapi maka dianalisis menggunakan analisis SWOT yang singkatan dari Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

STRATEGI PENINGKATAN SKALA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA PADANG

STRATEGI PENINGKATAN SKALA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA PADANG

Secara umum skala usaha dari UMKM sektor pangan atau industri kerupuk dan sejenisnya akan berkembang jika memiliki kekuatandengan menggunakan bahan baku lokal dengan produk yang memperhatikan merek, sertifikat halal, ciri khas lokal, sesuai permintaan, pengembangan sistem pemasaran produk, dan harga terjangkau. Namun demikian, perkembangan UMKM sektor pangan terkendala oleh kelemahan UMKM itu sendiri, terutama dalam produktivitas, yang dicirikan dari kapasitas rendah, kemasan kurang menarik, belum adanya sistem jaminan mutu, modal terbatas, dan pemasaran masih bersifat lokal. Selain itu, aspek mutu, formalisasi usaha, pemahaman terhadap pajak usaha, dan tingkat pendidikan atau pelatihan pemilik usaha yang rendah dapat menghambat UMKM meningkatkan skala (omzet dan profit) usahanya. Hal ini disebabkan karena teknologi dan sistem jaminan mutu yang diimplementasikan belum optimal. Faktor lain yang memengaruhi adalah peluang dan ancaman. UMKM pangan sangat berpeluang untuk berkembang karena beberapa faktor eksternal, yaitu potensi wisata kuliner, meningkatnya permintaan, dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah/BUMN, swasta dan perguruan tinggi, dan institusi penelitian dan pengembangan. Di lain pihak, UMKM pangan harus dapat mengantisipasi adanya ancaman bahan subtitusi, persaingan produk yang sama, harga bahan baku fluktuatif, dan kurangnya implementasi dari regulasi pemerintah serta pengaruh kondisi perekonomian yang tidak stabil (tingkat suku bunga, inflasi, dan nilai tukar Rupiah).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Telor Asin Di Kelurahan Mojolangu Kota Malang

Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Telor Asin Di Kelurahan Mojolangu Kota Malang

Berdasarkan analisis pelaksanaan kegiatan yang sudah berjalan bahwa proses produksi telur asin menggunakan mesin pembuat telur asin sangat membantu mitra untuk memenuhi permintaan konsumen. Produksi telur menggunakan mesin tersebut hanya memerlukan waktu 3 hari dengan kapasitas 100 hingga 150 butir telur artinya jika dibandingkan dengan pembuatan secara tradisional, pembuatan telur menggunakan mesin sangat membantu mitra guna meningkatkan pendapatan usaha. Selain tahap pembuatan telur asin, tahap pencucian adonan abu gosok yang menempel pada cangkang telur asin dengan menggunakan mesin pencuci sangat membantu, karena dengan alat tersebut proses pencucian telur menjadi lebih cepat hanya memerlukan waktu 5 hingga 10 menit dengan kapasitas 50 butir telur dalam satu kali pencucian. Pelatihan penyusunan laporan keuangan dan pembinaan strategi pemasaran berupa pelatihan manajemen strategi pemasaran dan kewirausahaan mempermudah mitra untuk mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan jumlah konsumen telur asin. Pelatihan yang dilaksanakan pada mitra dapat mengetahui kinerja sumber daya manusia pada mitra dan mengetahui peningkatan pendapatan usaha.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) SEKTOR KERAJINAN DI KOTA PADANG MELALUI PENGGUNAAN TEKNOLOGI INTERNET DALAM KEGIATAN USAHA*.

PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) SEKTOR KERAJINAN DI KOTA PADANG MELALUI PENGGUNAAN TEKNOLOGI INTERNET DALAM KEGIATAN USAHA*.

Setelah dilakukan kegiatan pelatihan ini kami menyarankan antara lain: dengan bantuan institusi pemerintah yang terkait, kegiatan pelatihan ini untuk dapat dilanjutkan secara reguler tidak hanya di Kota Padang tetapi juga sampai kepada pengusaha kerajinan di seluruh wilayah di Sumbar, sehingga menyebaran penggunaan internet lebih merata keseluruh wilayah propinsi. Terutama bimbingan untuk mempercantik halaman Blog dan mempromosikannya di dunia maya.

11 Baca lebih lajut

Peran Pemerintah Kota Cimahi Dalam Program Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm).

Peran Pemerintah Kota Cimahi Dalam Program Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm).

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus terus ditingkatkan ( up grade ) dan aktif agar dapat maju dan bersaing dengan perusahaan besar. Jika tidak, UMKM di Indonesia yang merupakan jantung perekonomian Indonesia tidak akan bisa maju dan berkembang. Satu hal yang perlu diingat dalam pengembangan UMKM adalah bahwa langkah ini tidak semata-mata merupakan langkah yang harus diambil oleh Pemerintah dan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pihak UMKM sendiri sebagai pihak yang dikembangkan, dapat mengayunkan langkah bersama-sama dengan Pemerintah. Selain Pemerintah dan UMKM, peran dari sektor Perbankan juga sangat penting terkait dengan segala hal mengenai pendanaan, terutama dari sisi pemberian pinjaman atau penetapan kebijakan perbankan. Lebih jauh lagi, terkait dengan ketersediaan dana atau modal, peran dari para investor baik itu dari dalam maupun luar negeri, tidak dapat pula kita kesampingkan.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

Analisis Strategi Pemasaran Pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Pada Era Digital di Kota Bandung

Analisis Strategi Pemasaran Pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Pada Era Digital di Kota Bandung

mengedepankan hubungan baik dengan para pelanggannya yang mayoritas adalah jaringan distribusi mereka seperti distributor atau agen. Bagi para penggiat UMKM, peran dari website dan media sosial ini adalah sebagai sarana mereka untuk menjalin hubungan dengan para pelanggan, mengetahui pendapat dan saran pelanggan terhadap produk kita, sebagai media promosi yang dianggap efektif, serta dapat melakukan pengembangan produk sesuai dengan keinginan pasar. Hal ini mendukung dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mohd Irwan Dahnil et al (2014) yang melakukan penelitian pada usaha kecil dan menengah di Negara Malaysia, berdasarkan studi tersebut para pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan media sosial sebagai bagian dari aktivitas pemasaran seperti strategi komunikasi pemasaran dan menilai media sosial adalah salah satu jaringan yang menjanjikan untuk membangun komunikasi bisnis dengan para pelanggan. Penelitian lainnya dilakukan oleh Nory Jones et al (2015) dengan objek penelitian pada UMKM menemukan bahwa peran dari media sosial bagi pelaku UMKM adalah berikut (1) meningkatkan pengenalan dan rasa ingin tahu konsumen, (2) mening- katkan hubungan baik dengan konsumen, (3) dapat meningkatkan jumlah konsumen baru, (4) meningkatkan kemampuan untuk men- jangkau konsumen dalam skala global, dan (5) menambah jalur promosi bagi bisnis lokal untuk meningkatkan citra UMKM. Damian Ryan (2014) juga menyebutkan beberapa manfaat menjalin hubungan dekat dengan pelanggan, yakni: (1) mendapatkan update informasi dari pelanggan, (2) meningkatkan reputasi profil media sosial perusahaan, (3) menambah sumber informasi selain dari media offline yang dapat digunakan sebagai studi pasar, (4) dapat mempengaruhi influencers untuk ikut pula mempengaruhi para followers-nya sehingga produk kita dapat citra yang baik dan positif.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG TERHADAP SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) Widyawan P  R1

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG TERHADAP SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) Widyawan P R1

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah sektor usaha yang masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah Indonesia. Hal ini terbukti pada zaman orde baru, banyak kebijakan yang sangat pro terhadap pengusaha besar. Fakta riilnya yakni sektor UMKM merupakan motor penggerak dan penyelamat ekonomi bangsa Indonesia sejak krisis tahun 1997/1998 yang terbukti tangguh dan jauh dari ancaman kebangkrutan daripada industri besar. Fakta ini membuat pemerintah Indonesia membuat kebijakan terhadap UMKM melalui UU No. 9 Tahun 1995 dan terbaru UU No. 20 Tahun 2008 yang diimplementasikan didaerah. Potensi pengembangannya didaerah mampu memberikan kontribusi maksimal bagi daerah seperti PAD, tenaga kerja, dan sebagainya sehingga harus diimplementasi dengan baik. Mengambil daerah penelitian Kota Semarang karena potensi UMKM di Semarang masih belum tergarap maksimal seperti kota lainnya di Jawa Tengah. Dan oleh karenanya faktor kebijakan Pemkot Semarang terhadap UMKM yakni implementasinya akan disoroti dalam penelitian ini.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menyusun strategi yang operasional dan tepat untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Profil UMKM juga perlu dikenali dan dianalisis. Penelitian ini menggu- nakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survei lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber publikasi. Metode analisis yang digunakan adalah pendekatan deskriptif. Berkaitan dengan berbagai masalah yang dihadapi oleh UMKM, ada beberapa strategi untuk mengatasinya. Pengembangan UMKM tidak hanya oleh UMKM saja, tetapi juga harus didukung semua stakeholder. Dukungan diharapkan datang dari aso- siasi bisnis, perguruan tinggi, dan instansi terkait di kabupaten/kota di DIY. Kebijakan peme- rintah juga diperlukan untuk mendorong pengembangan UMKM. Pengembangan UMKM di DIY merupakan percepatan transformasi UMKM dari fase formasi menuju fase stabilisasi. Kata kunci: strategi pengembangan, UMKM, stakeholder, industri kecil
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan Kewirausahaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kota Pekanbaru

Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan Kewirausahaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kota Pekanbaru

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) telah terbukti mampu hidup dan berkembang di dalam badai krisis selama lebih dari enam tahun, sektor ini pada kenyataannya mampu menunjukkan kinerja yang lebih tangguh dalam menghadapi masa kritis. Dan tidak hanya itu, Pemerintah pun memberi perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) karena jumlah UMKM di Indonesia yang sangat mendominasi. Berbagai inisiatif selalu diusahakan oleh pemerintah melalui Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah agar semakin banyak individu mau menekuni dunia wirausaha dalam bentuk pendirian UMKM.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

POLA PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA MATARAM TAHUN 2016

POLA PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA MATARAM TAHUN 2016

Abstrak; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik UMKM di Kota Mataram berdasarkan kondisi internal dan eksternal UMKM kemudian menganalisis strategi pengembangan usaha yang sesuai dengan UMKM di Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan analisis data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survey sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber publikasi lembaga/institusi yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan alat analisis deskriptif, SWOT dan AHP. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik UMKM di Kota Mataram berdasarkan kondisi internal memiliki kekuatan pada kemauan yang kuat untuk maju dan kelemahan pada keterbatasan modal. Sedangkan kondisi eksternal memiliki peluang pada pangsa pasar yang cukup banyak dan ancaman pada persaingan dalam perdagangan bebas. Sedangkan untuk menentukan strategi pengembangan usaha yang sesuai dengan UMKM di Kota Mataram dimulai dengan analisis faktor strategis internal dan eksternal dan diperoleh total bobot skor rata-rata dari matiks IFE 2,088 maupun EFE 2,308. Kemudian menentukan posisi UMKM di Kota Mataram melalui matrik IE yang menunjukan bahwa UMKM di Kota Mataram memiliki kemampuan internal yang sedang dan eksternal yang sedang. Kemudian hasil analisis dikaji menggunakan SWOT untuk menentukan beberapa alternative strategi pengembangan usaha. Setelah ditawarkan beberapa alternative strategi pengembangan usaha kemudian di analisis menggunakan AHP untuk menentukan prioritas strategi pengembangan usaha UMKM di Kota Mataram. Dan hasilnya menunjukan bahwa strategi yang sesuai dengan UMKM di Kota Mataram adalah pada peningkatan kualitas dan kreatifitas produk UMKM.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Strategi Pengembangan Usaha Mikro dan Ke

Strategi Pengembangan Usaha Mikro dan Ke

10. Pengulangan Proses. AHP memungkinkan organisasi memperhalus definisinya pada suatu persoalan dan memperbaiki pertim- bangan dan pengertian melalui pengulang-an. Teknik penentuan responden dalam rangka menggali data yang dibutuhkan ditentukan dengan teknik dipilih secara sengaja (purposive sampling), artinya responden yang dipilih sesuai dengan kebutuhan data penelitian. Total jumlah responden terpilih yang merupakan representasi dari stakeholders di Kota Manado untuk pengembangan usaha kecil sektor wisata bahari di pulau kecil berjumlah 5 (lima) responden terpilih (Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Manado, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Manado, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Dinas Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Kota Manado, dan DPTNB) untuk penilaian expert dan 25 responden untuk pendukung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STRATEGI KOMUNIKASI PADA DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PEMERINTAH KOTA SURABAYA ( Studi Deskriptif Kualitatif Strategi Komunikasi Pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya Dalam Penataan PKL).

STRATEGI KOMUNIKASI PADA DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PEMERINTAH KOTA SURABAYA ( Studi Deskriptif Kualitatif Strategi Komunikasi Pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya Dalam Penataan PKL).

Kota Surabaya sebagai ibu kota dari Propinsi Jawa Timur kerap dijadikan sebagai percontohan kota lain dari sektor apapun, terutama masalah PKL yang kita jumpai di sudut-sudut kota bahkan PKL yang berada di pinggir jalan dan trotoar mulai berkurang, Karena kini Kota Surabaya mempunyai 21 sentra PKL yang tersebar di kota Surabaya terhitung sejak awal tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Meskipun jumlah PKL di Surabaya relatif menurun terhitung mulai tahun 2010 sebanyak 13.255 PKL, tahun 2011 sebanyak 13.015 PKL, dan di tahun 2012 sebanyak 9.002 PKL. Hal ini dapat diketahui keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan penataan PKL, akan tetapi Pemerintah masih terus memikirkan bagaimana mengatur strategi untuk menertibkan PKL, ini dikarenakan kota Surabaya terkenal akan wisata kulinernya dan pedagang yang berjualan pun bukan warga asli kota Surabaya, melainkan pendatang dari Pulau madura dan daerah kecil lainnya yang mengadu nasib di kota Surabaya. Maka Pemerintah Kota Surabaya bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah membentuk program penataan pedagang kaki lima melalui dibangun dan dibentuknya sentra PKL sebagai pusat pedagang kaki lima.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Kebijakan Pemerintah Memberdayakan USAha Mikro, Kecil dan Menengah di Sektor Industri Kerajinan Menghadapi Mea 2015 (Studi Kasus di Kota Pontianak)

Kebijakan Pemerintah Memberdayakan USAha Mikro, Kecil dan Menengah di Sektor Industri Kerajinan Menghadapi Mea 2015 (Studi Kasus di Kota Pontianak)

barang yang bagi negara tersebut memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) maka kedua negara tersebut akan beruntung. Apakah keunggulan itu dalam bentuk nilai tambah riel maka dinamakan keunggulan absolut. Komoditi yang memiliki keunggulan walaupun hanya dalam bentuk perbandingan, lebih menguntungkan untuk dikembangkan dibanding dengan komoditi lain yang sama-sama diproduksi oleh kedua negara atau daerah. Dalam perdagangan bebas antar daerah mekanisme pasar mendorong masing-masing daerah bergerak ke arah sektor yang daerahnya memiliki keunggulan komparatif. Akan tetapi mekanisme pasar seringkali bergerak lambat dalam mengubah struktur ekonomi suatu daerah. Pengetahuan akan keunggulan komparatif (comparative advantage) suatu daerah dapat digunakan para penentu kebujakan untuk mendorong perubahan struktur perekonomian daerah ke arah sektor yang mengandung keunggulan komparatif. Jadi apabila sektor yang memiliki keunggulan komparatif bagi suatu darah telah diketahui lebih dahulu, pembangunan sektor itu dapat desegerakan tanpa menunggu tekanan mekanisme pasr yang sering berjalan lambat. Keunggulan komparatif adalah suatu kegiatan ekonomi yang menurut perbandingan lebih menguntungkan bagi pengembangan daerah. David Ricardo menggunakan perbandingan jumlah tenaga kerja yang berbeda pada dua negara, akan tetapi saat ini contoh seperti itu tidak relevan lagi karena biaya untuk menghasilkan suatu produk bukan hanya buruh (upah).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects