Top PDF Anemia terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Malnutrisi

Anemia terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Malnutrisi

Anemia terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Malnutrisi

Seringkali anak yang malnutrisi juga mengalami anemia. Malnutrisi maupun anemia dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan fungsi kognitif, psikomotor dan daya tahan tubuh anak, karena pada umumnya anak yang malnutrisi selain kekurangan energi dan protein juga mengalami kekurangan ber- bagai mikronutrien. Sementara itu, prevalen- si anemia pada anak-anak di dunia mencapai angka 47,4% atau sekitar 300 juta anak men- derita anemia. Bila prevalensi ini didasarkan pada wilayah, maka separuh (47,7%) atau seki- tar 170 juta dari anak-anak yang anemia ini be- rada di wilayah Asia, sehingga Asia merupakan wilayah dengan peringkat tertinggi, yang masih sangat jauh dibandingkan dengan angka anemia di Eropa yang mencapai 16,7% dan Amerika Utara yang hanya mencapai 3,4% (Khan, et al, 2008; Geogieff, 2007). Dari sejumlah anak- anak yang anemia tersebut, sekitar 200 juta anak mengalami “kegagalan” untuk mencapai perkembangan kognitif dan sosio-emosional (Darnton-Hill, et al., 2007). Selain itu, anemia pada anak-anak menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat (Sharieff, et al., 2006).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANEMIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBA (1)

ANEMIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBA (1)

Malnutrisi akibat deisiensi mikronutri- en biasanya terjadi secara simultan. Hasil pene- litian Hyder, et al (2007) di wilayah pedesaan Bangladesh menunjukkan bahwa intervensi multimikronutrien dapat menurunkan kejadi- an anemia lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol, demikian pula dengan pe- rubahan status vitamin A dan status Zn yang menunjukkan efek yang lebih baik dibanding dengan kelompok kontrol. Infestasi cacing merupakan faktor lain yang dapat memicu terjadinya malnutrisi. Menurut Windle, et al. (2007) infeksi Helicobacter pylori pada anak- anak di negara sedang berkembang merupa- kan inisiator dalam siklus yang tak berujung pangkal yang pada akhirnya menghasilkan malnutrisi dan gangguan pertumbuhan. Infeksi ini mempengaruhi kondisi asam lambung yang berakibat pada terjadinya diare dan anemia de- isiensi besi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS FORTIFIKASI Fe DAN Zn PADA BISKUIT TEMPE-BEKATUL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK BALITA KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) YANG ANEMIA

EFEKTIVITAS FORTIFIKASI Fe DAN Zn PADA BISKUIT TEMPE-BEKATUL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK BALITA KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) YANG ANEMIA

Pendahuluan: Beberapa survei terakhir yang dilakukan di Indonesia menunjukkan prevalensi kekurangan energi protein (KEP), anemia defisiensi Fe, dan defisiensi Zn pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) masih cukup tinggi. Upaya yang dilakukan pemerintah selama ini dengan pemberian makanan tambahan belum mampu menurunkan prevalensi kurang gizi secara bermakna, mengingat sebagian besar penderita dari ekonomi yang kurang mampu. Untuk itu perlu dikembangkan produk bahan makanan campuran (BMC) dengan memanfaatkan pangan tradisional yang bergizi, terjangkau oleh seluruh masyarakat terutama ekonomi lemah, memiliki daya terima tinggi, keamanannya terjamin, serta terbukti memperbaiki status kesehatan anak kurang gizi. Salah satunya dengan pengolahan tempe dan bekatul menjadi biskuit dengan fortifikasi Fe dan Zn. Beberapa kajian literatur dan studi klinis menunjukkan bekatul maupun tempe memiliki kandungan gizi yang tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional, termasuk untuk penderita kurang gizi.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Gambaran Perkembangan Anak Malnutrisi Pasca Suplementasi Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

Gambaran Perkembangan Anak Malnutrisi Pasca Suplementasi Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

Clark, (2008) mengungkapkan malnutrisi dalam wujud anemia defisensi besi memberikan dampak yang luas termasuk menurunkan kapasitas kerja, menurunkan regulasi panas, disfungi imunitas, gangguan saluran cerna, menurunkan kemampuan kognitif. Liu, et al., (2003) membandingkan perkembangan kognitif dan performan di sekolah 1559 anak-anak berumur 3-11 tahun. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang malnutrisi pada umur 3 tahun akan berakibat pada rendahnya kemampuan kognitif dan performan anak di sekolah pada saat umur 3 dan 11 tahun. IQ anak yang malnutrisi lebih rendah 15 point dibandingkan dengan anak yang tidak malnutrisi. Tarleton, et al. (2006) mengukur fungsi kognitif diukur pada 191 anak Bangladesh umur 6-9 tahun melalui tes verbal dan tes non verbal. Hasilnya menunjukkan anak yang stunting berhubungan negatif dengan skor kognitif, artinya anak yang semakin stunting semakin rendah skor kognitifnya. Mengurangi kasus malnutrisi berarti membantu mengurangi kasus defisiensi kognitif. Olney, et al (2007) mengungkapkan bahwa anak yang kurang gizi mengalami hambatan dalam perkembangan motorik, demikian pula dengan anak yang anemia defisiensi besi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peningkatan Fungsi Psikomotorik, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi Yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

Peningkatan Fungsi Psikomotorik, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi Yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

Fakta menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit infeksi pada anak yang malnutrisi 3 hingga 27 kali lebih besar daripada anak-anak yang gizinya baik, sehingga malnutrisi merupakan faktor risiko yang signifikan penyebab kematian pada anak (UNS/SCN, 2005). Sementara itu, prevalensi anemia pada anak-anak di dunia mencapai angka 47,4% atau sekitar 300 juta anak menderita anemia. Bila prevalensi ini didasarkan pada wilayah, maka separuh (47,7%) atau sekitar 170 juta dari anak-anak yang anemia ini berada di wilayah Asia, sehingga Asia merupakan wilayah dengan peringkat tertinggi, masih sangat jauh dibandingkan dengan angka anemia di Eropa yang mencapai 16,7% dan Amerika Utara yang hanya mencapai 3,4% (McLean, et al., 2007; Khan, et al, 2008; Geogieff, 2007). Dari sejumlah anak-anak yang anemia tersebut, sekitar 200 juta anak mengalami “kegagalan” untuk mencapai perkembangan kognitif dan sosio-emosional (Darnton-Hill, et al., 2007). Selain itu, anemia pada anak-anak menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat (Sharieff, et al., 2006).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Peningkatan Fungsi Psikomotor, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

Peningkatan Fungsi Psikomotor, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien

mikronutrien ini adalah menambah program yang bervariasi untuk meningkatkan kebiasaan makan. Atamna et al. cit McCann dan Ames (2007) menunjukkan bahwa kekurangan besi heme menyebabkan mitokondria mengeluarkan oksidan yang dapat membahayakan berbagai fungsi sel dalam otak. Lambatnya proses mielinasi dan menurunnya aktivitas beberapa enzim, menurunnya densitas dan afinitas reseptor dopamin D2 mempengaruhi sistem neurotranmiter yang semua ini berhubungan dengan terbatasnya besi dan kemungkinan yang bertanggung jawab terhadap performan motor, kognitif dan perilaku. Perubahan morfologi dan biokimia pada otak tikus juga terjadi setelah dilakukan pembatasan besi pada tingkatan yang parah, termasuk penurunan aktivitas atau konsentrasi protein meliputi metabolisme energi (cytochrome C oxidase dan cytochrome c) lambatnya pertumbuhan dendrit, dan penurunan metabolit syaraf dalam hippokampus.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Peningkatan Fungsi Psikomotorik, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi Yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien SITI ZULAEKAH BAB I

Peningkatan Fungsi Psikomotorik, Status Vitamin A, Besi dan Status Gizi Anak Batita Malnutrisi Yang Anemia Melalui Model Minuman Suplemen Multi-Mikronutrien SITI ZULAEKAH BAB I

Fakta menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit infeksi pada anak yang malnutrisi 3 hingga 27 kali lebih besar daripada anak-anak yang gizinya baik, sehingga malnutrisi merupakan faktor risiko yang signifikan penyebab kematian pada anak (UNS/SCN, 2005). Sementara itu, prevalensi anemia pada anak-anak di dunia mencapai angka 47,4% atau sekitar 300 juta anak menderita anemia. Bila prevalensi ini didasarkan pada wilayah, maka separuh (47,7%) atau sekitar 170 juta dari anak-anak yang anemia ini berada di wilayah Asia, sehingga Asia merupakan wilayah dengan peringkat tertinggi, masih sangat jauh dibandingkan dengan angka anemia di Eropa yang mencapai 16,7% dan Amerika Utara yang hanya mencapai 3,4% (McLean, et al., 2007; Khan, et al, 2008; Geogieff, 2007). Dari sejumlah anak-anak yang anemia tersebut, sekitar 200 juta anak mengalami “kegagalan” untuk mencapai perkembangan kognitif dan sosio-emosional (Darnton-Hill, et al., 2007). Selain itu, anemia pada anak-anak menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat (Sharieff, et al., 2006).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PENGARUH JANGKA PANJANG STATUS ANEMIA MASA BATITA TERHADAP STATUS ANEMIA PADA MASA PRASEKOLAH PASCA SUPLEMENTASI ZAT GIZI ANAK MALNUTRISI

PENGARUH JANGKA PANJANG STATUS ANEMIA MASA BATITA TERHADAP STATUS ANEMIA PADA MASA PRASEKOLAH PASCA SUPLEMENTASI ZAT GIZI ANAK MALNUTRISI

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian quasi eksperimen untuk melihat efek jangka panjang (longitudinal) pemberian suplemen mikronutrien terhadap pertumbuhan, tingkat kesakitan dan perkembangan kognitif anak. Subjek penelitian pada tahun pertama adalah anak usia 1-3 tahun yang mengalami malnutrisi dan beresiko malnutrisi. Pengamatan dilanjutkan pada tahun kedua dan ketiga dengan subjek yang sama. Pada tahun kedua diberikan suplementasi mikronutrien selama tiga bulan. Sedangkan tahun ketiga dilakukan observasi terhadap efek anemia dan suplemnetasi mikronutrien pada anak. Penentuan subjek dilakukan secara purposive dengan kriteria inklusi yaitu anak mengalami malnutrisi dan malnutrisi : berat badan kurang menurut umur, atau tinggi badan kurang menurut umur, dan berat badan kurang menurut tinggi badan berdasarkan kriteria dari WHO-NCHS, anak tidak cacat secara fisik, tidak ada kelainan kongenital serta ada pernyataan kesediaan dari subjek untuk menjalani pemeriksaan atau wawancara selama penelitian berlangsung. Lokasi penelitian di Kelurahan Sangkrah dan Semanggia, Kecamatan Pasar kliwon, Kota Surakarta.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Malnutrisi dan Anemia Pada Penderita Tub

Malnutrisi dan Anemia Pada Penderita Tub

dengan adanya peningkatan ambilan dan retensi zat besi dalam sel RES. Zat besi merupakan faktor pertumbuhan terpenting untuk Mycobacterium tuberculosis. Retensi besi pada sistem retikuloendotelial merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh. Terganggunya hemostatis zat besi menyebabkan terjadinya pengalihan zat besi dari sirkulasi ke tempat penyimpanan sistem retikuloendotelial dan diikuti terbatasnya persediaan zat besi untuk sel eritroid progenitor. Hal ini menyebabkan terbatasnya proses pembentukan eritrosit. 7

8 Baca lebih lajut

PREDIKSI PENINGKATAN FUNGSI MOTORIK DAN STATUS GIZI ANAK MALNUTRISI YANG ANEMIA SETELAH SUPLEMENTASI MULTI-MIKRONUTRIEN

PREDIKSI PENINGKATAN FUNGSI MOTORIK DAN STATUS GIZI ANAK MALNUTRISI YANG ANEMIA SETELAH SUPLEMENTASI MULTI-MIKRONUTRIEN

Pada kelompok suplementasi tunggal peningkatan z score sebesar 0,25, peningkatan kadar Hb sebesar 0,57 mg/dL, peningkatan skor perkembang- an motorik kasar sebesar 0,59 point. Hasil uji paired sample test status gizi, per- kembangan motorik kasar, dan per- kembangan motorik halus sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan nilai p>0,05, hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan status gizi, perkembangan motorik kasar, dan perkembangan mo- torik halus anak sebelum dan sesudah intervensi suplementasi. Hasil uji paired sample test kadar Hb sebelum dan se- sudah intervensi menunjukkan nilai p<0,05, hal ini menunjukkan ada per- bedaan kadar Hb anak sebelum dan se- sudah intervensi suplementasi tunggal. Pada kelompok suplementasi multi mikronutrien peningkatan Z score sebesar 0,23 peningkatan kadar Hb sebesar 0,83 mg/dL, skor perkem- bangan motorik kasar menurun sebesar 0,23 point. Hasil uji paired sample test status gizi, perkembangan motorik ka- sar, dan perkembangan motorik halus sebelum dan sesudah intervensi me- nunjukkan nilai p>0,05, hal ini menun- jukkan tidak ada perbedaan status gizi, perkembangan motorik kasar, dan per- kembangan motorik halus anak sebe- lum dan sesudah intervensi suplemen- tasi. Hasil uji paired sample test kadar Hb
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Asupan Makanan Terhadap Kualitas Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

Pengaruh Asupan Makanan Terhadap Kualitas Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

Orang tua bertanggung jawab untuk menentukan apa, kapan dan di mana anak-anak makan. Orang tua harus memastikan makanan bergizi tersedia secara berkala apakah anak ada di rumah atau sedang pergi. Anak-anak dapat memutuskan berapa banyak mereka ingin makan, tetapi berbagai makanan sehat harus ada untuk dipilih. Anda tidak dapat selalu memantau apa yang anak Anda makan, terutama, ketika ia pergi ke sekolah. Apa yang dapat Anda lakukan adalah menjadi panutan yang baik, berlatih apa yang Anda ajarkan. Kebiasaan makan yang terbentuk pada anak usia dini dapat berlangsung seumur hidup. Kebiasaan makan yang baik tidak langsung 'terjadi'. Hal ini harus dipelajari ketika Anda memberikan anak Anda berbagai pilihan makanan bergizi dan membatasi akses mereka terhadap makanan nutrisi yang rendah, Anda membantu mereka belajar untuk membuat pilihan makanan yang bergizi. Dalam satu hari atau seminggu memiliki pilihan makanan yang buruk mungkin tidak secara signifikan mempengaruhi kesehatan anak Anda, tetapi makan yang tidak sehat untuk waktu yang lama dapat menyebabkan kelebihan berat badan, malnutrisi atau terganggu pertumbuhannya. 17
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KELEKATAN IBU-ANAK, PERTUMBUHAN ANAK, DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA PRASEKOLAH

KELEKATAN IBU-ANAK, PERTUMBUHAN ANAK, DAN PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI ANAK USIA PRASEKOLAH

Sementara itu, Myers (1992) mendefinisikan perkembangan anak sebagai proses perubahan pada anak untuk belajar pada tingkatan yang lebih kompleks dalam berpikir, bergerak, berperasaan dan berhubungan dengan yang lain. Aspek perkembangan anak meliputi perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, dan sosial emosi. Salah satu perkembangan yang penting pada anak usia prasekolah adalah perkembangan sosial emosi. Anak usia prasekolah merupakan anak usia 3-6 tahun yang mempunyai tanggung jawab besar dalam aktivitas mereka sehari-hari dan menunjukkan tingkat yang lebih matang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Perkembangan sosial emosi yang tidak tercapai secara optimal dapat menimbulkan masalah sosial emosi pada anak (Kruizinga et al., 2011). Menurut Brauner & Stephens (2006) sekitar 9,5 hingga 14,2 persen balita yang mengalami keterlambatan perkembangan sosial emosi akan berdampak negatif pada fungsi perkembangan dan kesiapan sekolah mereka. Penelitian Velderman et al. (2010) menemukan bahwa sekitar 8,0 hingga 9,0 persen anak prasekolah mengalami masalah sosial emosi seperti perasaan cemas, depresi, berperilaku tidak taat, kurangnya hubungan dengan teman sebaya, kurangnya keterampilan sosial, dan kinerja akademik yang buruk. Anak yang mengalami keterlambatan perkembangan sosial emosi pada saat usia dini cenderung lebih berisiko untuk berperilaku maladaptif seperti perilaku antisosial, kriminalitas, dan penggunaan narkoba di kemudian hari.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Perbedaan Manifestasi Klinis Kejang Demam Pada Anak Anemia Dengan Anak Tanpa Anemia

Perbedaan Manifestasi Klinis Kejang Demam Pada Anak Anemia Dengan Anak Tanpa Anemia

Kumari melakukan penelitian pada 308 anak umur 6 bulan hingga 3 tahun dan mendapatkan hasil 63,6 % kelompok anak dengan kejang demam menderita defisiensi besi dibanding kelompok anak demam tanpa kejang sebanyak 24,7 %. 14 Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa defisiensi besi merupakan faktor resiko yang memiliki peranan penting terhadap kejadian kejang demam sederhana. Pada penelitian yang lain oleh Hartfield dimana membandingkan 361 pasien kejang demam dengan 390 pasien kejang tanpa demam memaparkan sebanyak 6% defisiensi besi ditemukan pada kelompok kasus kejang demam dan sebanyak 4% defisiensi besi ditemukan pada kelompok pasien demam tanpa kejang. 15
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan nonverbal, serta mampu mempengaruhi motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan ahlak moral. c) aspek bahasa; jika kemudian ia menceritakan bentuk atau makna gambarannya, itu berarti jelas bahwa hal tersebut sudah menyentuh ranah kognitif anak. Ketika anak didik mengungkapkan pendapatnya atau menuangkan gagasan melalui gambar, anak- anak telah menggunakan informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Anak-anak mampu memodifikasikan berbagai informasi tersebut, bahkan anak didik mampu mencipta sesuatu yang diluar keumuman.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

perkembangan anak  perkembangan anak  perkembangan anak

perkembangan anak perkembangan anak perkembangan anak

Perkembangan Kognitif Remaja • Perkembangan kognitif remaja menurut Piaget merupakan tahap peralihan dari operasi kongkrit dan operasi formal • Pada tahap ini Mereka bergulat dengan[r]

23 Baca lebih lajut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Definisi malnutrisi dan malnutrisi rumah sakit. Malnutrisi adalah suatu ketidakseimbangan (kekurangan atau kelebihan)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Definisi malnutrisi dan malnutrisi rumah sakit. Malnutrisi adalah suatu ketidakseimbangan (kekurangan atau kelebihan)

di rumah sakit antara lain berat badan, tinggi badan, dan umur. Kombinasi beberapa parameter digunakan untuk menilai status nutrisi, oleh karena tidak ada satu jenis pengukuran saja yang dapat menggambarkan status nutrisi secara akurat. 25 Kombinasi parameter tersebut antara lain: 27 BB/U, PB - TB/U, dan BB/TB - PB. Data tersebut kemudian diplot pada kurva pertumbuhan yang mencerminkan populasi normal. Terdapat dua kurva pertumbuhan standar yang sudah tersedia dan dapat digunakan baik untuk keperluan klinis maupun penelitian, yaitu kurva pertumbuhan CDC tahun 2000 dan kurva pertumbuhan WHO tahun 2006. 28,29 Kurva pertumbuhan untuk anak dengan kondisi khusus seperti palsi serebral, sindroma Down, achondroplasia, sindroma Prader-Willi dan lainnya digunakan bersama dengan kurva CDC atau WHO untuk dapat lebih baik menilai status nutrisi pada kondisi tersebut. 25
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perkembangan Anak perkembangan anak  perkembangan anak

Perkembangan Anak perkembangan anak perkembangan anak

 Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

26 Baca lebih lajut

Perkembangan Anak PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

Perkembangan Anak PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

Perkembangan moral pada dasarnya merupakan interaksi, suatu hubungan timbal balik antara anak dengan anak, antara anak dengan orang tua, antara peserta didik dengan pendidik, dan seterusnya. Unsur hubungan timbal balik ini sedemikian penting karena hanya dengan adanya interaksi berbagai aspek dalam diri seseorang (kognitif, afektif, psikomotorik) dengan sesamanya atau dengan lingkungannya, maka seseorang dapat berkembang menjadi semakin dewasa baik fisik, spiritual dan moral. Dengan interaksi maka kesejajaran perkembngan moral, kognitif dan intelegensi akan terjadi secara harmonis. Hal itu sejalan dengan pandnagan Piaget bahwa intelegensi berkembang sebagai akibat hubungan timbal balik antara unsur keturunan dan lingkungan, hubungan itu begitu menentukan sama halnya dalam perkembangan moral seseorang.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ANEMIA

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ANEMIA

2) Factor risiko riwayat individu antara lain prematuritas, BBLR, diet kurang besi atau diet berat dengan susu sapi (selama masa bayi), perdarahan (mis., menstruasi berat), kebiasaan diet, atau pajanan terhadap inveksi virus. Factor resiko riwayat keluarga antara lain riwayat anemia sel sabit, atau gangguan perdarahan.

1 Baca lebih lajut

Perkembangan Anak PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

Perkembangan Anak PERKEMBANGAN ANAK (1) PERKEMBANGAN ANAK (1)

Selanjutnya akan terjadi proses automatisasi atau effesiensi, yaitu proses gerakan terjadi secara otomatis. Contohnya ketika anak sedang berjalan, secara otomatis kaki kiri dan kaki kanan akan bergantian menjalankan tugasnya. Anak sudah tidak perlu memikirkan gerakan-gerakan selanjutnya. Di samping proses- proses yang ada, akan terbentuk juga suatu kebiasaan atau refleks. Misalnya secara langsung anak akan menginjak rem saat mau menabrak sesuatu, atau anak akan secara refleks akan menoleh ketika ada yang memanggil namanya.

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects