Top PDF KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan

KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan

KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan

Di samping itu, budaya literer para penutur bahasa Inggris, misalnya di Amerika Serikat menjadikan mereka, khususnya kaum terdidik, terbiasa menulis. Para ahli setuju bahwa menulis telah terbukti sebagai kegiatan berbahasa yang paling mendukung terbentuknya keterampilan bernalar, yaitu kegiatan memecah- kan masalah melalui proses linguistik dan kognitif yang kompleks. Calne (2005:417) antara lain menyatakan bahwa kemajuan manusia (human progress) adalah hasil optimisme yang bertegas- tegas tetapi tak realistis—bahwa cara—hidup kita yang mutakhir lebih tinggi mutunya dari semua cara hidup sebelumnya. Kita harus percaya diri bahwa kosakata bahasa nasional kita keada- annya memang lumayan dahsyat sehingga alih bahasa sejumlah kata/istilah ilmiah dengan kosakata yang ada, atau yang baru, sanggup membuat kita sadar betapa bahasa Indonesia memang sudah punya potensi yang sama dengan bahasa Yunani: sama- sama bahasa asing, yang hasratnya untuk diintimi menuntut kerja keras nalar. Bahasa Yunani merupakan bahasa yang tegak kukuh sebagai sebuah bahasa yang mengusung wacana besar. Demikian pula dengan bahasa Latin yang menjadi bahasa perantara dari bahasa Yunani via bahasa Arab ke pusat kebudayaan Eropa. Namun, kedua bahasa itu perlahan-lahan mulai sempoyongan karena tidak banyak lagi orang yang berpikir dan membangun wacana dalam bahasa bersangkutan. Nalar memiliki batas yang tak tertembus sehingga nalar bukan saja tak bisa dimintai tang- gung jawab, tetapi juga mematok kognitif manusia.
Baca lebih lanjut

394 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Bibliography

T BIND 1302762 Bibliography

Sumiyadi. (2011). Genesis esai dan kritik sastra kita. Dalam Sri Wiyanti dan Yulianeta (editor), Bahasa dan sastra Indonesia di tengah arus global (hlm. 253-259). Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS- UPI.

3 Baca lebih lajut

Buku Burung Burung Kertas Antologi Esai.

Buku Burung Burung Kertas Antologi Esai.

pilkan. Bagi negara-negara yang sama sekali tidak tahu atau me- ngenal dengan Negara Indonesia, film akan menjadi ajang perke- nalan sekaligus promosi budaya, sedangkan perbedaan bahasa dapat diatasi dengan subtitle dan dubbing. Tugas dari film-film ini adalah untuk menjadi sepopuler mungkin di negara-negara tujuan karena budaya pop menjanjikan suatu kelas fanatik yang sangat setia, yaitu penggemar atau sering juga disebut dengan fans. Selain sebagai konsumen utama produk-produk budaya kita, merekalah yang juga kita harapkan akan mampu menjadi agen budaya kita di samping media massa, seperti televisi, radio, majalah, dan inter- net. Saya ingin mengambil contoh, di sebuah kampus terdapat sebuah klub yang membahas semua hal tentang Jepang. Mereka awalnya adalah fans dari satu atau beberapa produk budaya Je- pang, seperti komik, anime, dan J-dorama. Setiap bulan mereka mengadakan kegiatan membahas bagian tertentu dari budaya Jepang, seperti festivalnya, masakannya, permainannya, kebiasaan- nya, sampai hantunya dan tentu saja mereka tidak dibayar oleh pemerintah Jepang untuk melakukan semua itu. Oleh karena itu, potensi fans sangat besar bagi ekspansi budaya, tergantung dari seberapa besar produk budaya yang digandrunginya kemudian mengarahkannya pada produk lain. Film sebagai media ekspansi yang memiliki pengaruh positif yang besar karena kesuksesannya akan membuka peluang bagi kesuksesan unsur-unsur yang terkan- dung di dalamnya. Industri perfilman Indonesia yang tengah bang- kit saat ini dapat diandalkan untuk memimpin ekspansi budaya kita ke manca negara. Jika ekspor film-film Indonesia sukses di negara-negara tujuan, hal itu diharapkan akan membuka pintu bagi pemasaran produk-produk budaya lainnya. Pemerintah di- tuntut aktif untuk mengawal, melindungi, serta menggunakan lo- binya untuk memuluskan jalan bagi produk-produk budaya kita di negara lain. Target ekspor budaya kita diharapkan mampu men- jangkau kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, hing- ga dunia Barat.
Baca lebih lanjut

258 Baca lebih lajut

MEMBACA SASTRA JOGJA Antologi Esai Artik

MEMBACA SASTRA JOGJA Antologi Esai Artik

rum-forum baca puisi seperti yang terjadi di IKIP Muhammadi- yah tersebut dijadikan ajang menancapkan bendera-bendera perang. Saya memahami, bahwa banyak pihak yang ketika itu tidak ikut serta dalam dialog penyair Yogya kemudian pesimis, merasa dirinya tidak tercatat sebagai penyair. Lalu dianggap bahwa dialog tersebut merupakan acara sensus penyair, yang kemudian muncul acara baru sensus tandingan. Lihatlah pengan- tar antologi Genderang Kurukasetra itu, bukan membahas puisi- puisi yang ada, tapi malah menteror masalah sensus penyair. Yang kena adalah peristiwa dialog penyair Yogya. Sebagai pe- nyair seyogianya telah memiliki kesadaran penuh, bahwa yang dinamakan penyair bukan yang selalu ikut dalam setiap acara- acara semacam itu. Penyair toh manusia biasa, yang tidak hanya memikirkan bagaimana membuat sajak, manusia banyak ha- langan, banyak kebutuhan, dan tidak selalu dituntut ke arah sana. Penyair berasal dari kata syair, berarti ia merupakan subjek dari yang memanfaatkan syair itu, kalau diperjelas lagi penyair adalah insan manusia yang mempunyai pergulatan dengan syair, maka yang dimaksud penyair, bukanlah mereka saja yang ikut dialog, sarasehan, tetapi juga mereka yang menggubah puisi, yang memanggungkan puisi, atau kedua-duanya menggubah se- kaligus memanggungkannya, dan juga mereka yang suka mem- permasalahkan syair, dalam bentuk kritik, esais, dan sebagainya. Kalau dicatat tentu merupakan rantai nama-nama yang tak dapat dibayangkan seberapa panjangnya. Dialog penyair Yogya tidak salah, tidak pula haram, salah kita adalah pada kecurigaannya, kecemburuannya yang membabi buta, yang didukung oleh sen- timen-sentimen pribadi. Agar riak kepenyairan Yogya lebih se- hat, dan mengarah kepada produktivitas yang berkualitas, tidak hanya bombastis yang mengandalkan publikasi media masa se- cara besar-besaran, hal-hal semacam di atas seharusnya kita tang- galkan. Yang kita pakai hanya jiwa kepenyairan kita.
Baca lebih lanjut

192 Baca lebih lajut

ESAI KRITIK SASTRA DLM MINGGU PAGI MASA

ESAI KRITIK SASTRA DLM MINGGU PAGI MASA

Esai/Kritik Sastra dalam Minggu Pagi, Masa Kini, dan 2 Mada (terbit April 1950, oleh Dewan Mahasiswa Uni- versitas Gadjah Mada Yogyakarta), Pelopor Jogja (terbit pertama Januari 1950 di bawah kepengayoman Angkatan Bersenjata Republik Indonesia c.q Angkatan Darat), Basis (terbit pertama Agustus 1951 di bawah nauangan Yayasan Kanisius), Semangat (majalah pemuda-pemudi dewasa, terbit pertama tahun 1954, mendapat surat izin terbit baru pada 28 Maret 1966, oleh Badan Penerbit Spirit, di bawah dukungan pemuda-pemudi Katolik), Budaya (terbit per- tama Februari 1953, oleh Bagian Kesenian Jawatan Kebu- dayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DIY), dan Mercu Suar (terbit pertama tahun 1966, kemu- dian pada tahun 1972 berubah nama menjadi Masa Kini, dan pada awal 1990-an berubah --dengan manajemen baru di bawah naungan harian nasional Media Indonesia-- menjadi Yogya Post), Eksponen (tabloid mingguan, terbit tahun 1970-an hingga 1980-an), dan Berita Nasional (terbit sejak awal 1970-an dan pada tahun 1990-an berubah -- dengan manajemen baru di bawah naungan harian nasional Kompas-- menjadi Bernas). Hal itu masih ditambah dengan majalah Citra Jogja terbitan Dewan Kesenian Yogyakarta dan beberapa majalah kampus seperti Arena (IAIN), Humanitas (Fakultas Sastra UGM), Citra (Fakultas Pendi- dikan Bahasa dan Seni IKIP Muhammadiyah), Gatra (Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma), dan atau majalah/bulletin terbitan sanggar atau kelompok-kelompok studi seniman/sastrawan.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Perangkat Mengajar Bahasa Indonesia SMA Kelas X,XI,XII kritik dan esai

Perangkat Mengajar Bahasa Indonesia SMA Kelas X,XI,XII kritik dan esai

Prinsip penulisan kritik  Seorang kritikus sastra wajib membaca karya yang akan dikritik berulang kali sampai mendapatkan gambaran yang jelas mengenai isi karya sastra tersebut..  S[r]

7 Baca lebih lajut

Bab 6 Menilai karya Melalui Kritik dan Esai

Bab 6 Menilai karya Melalui Kritik dan Esai

Mencermati perkembangan kepengarangan Eka Kurniawan, kekuatan narasi itu sesungguhnya sudah tampak dalam Coret-Coret di Toilet (Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia, 2000), sebuah antologi cerpen yang mengusung berbagai tema. Dalam antologi itu, Eka terkesan bercerita lepas-ringan, meski di dalamnya banyak kisah tentang konteks sosial zamannya. Di sana, ia tampak masih mencari bentuk. Belakangan, cerpennya ”Bau Busuk” (Jurnal Cerpen, No. 1, 2002) cukup mengagetkan dengan eksperimennya. Dengan hanya mengandalkan sebuah alinea dan 21 kalimat, Eka bercerita tentang sebuah tragedi pembantaian yang terjadi di negeri antah-berantah (Halimunda). Di negeri itu, mayat tak beda dengan sampah. Pembantaian bisa jadi berita penting, bisa juga tak penting, sebab esok akan diganti berita lain atau hilang begitu saja, seperti yang terjadi di negeri ini.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Kritik Sosial dalam Puisi Esai "Manusia Gerobak" karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

Kritik Sosial dalam Puisi Esai "Manusia Gerobak" karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

Hasil penelitian yang diperoleh yakni unsur pembangun puisi esai “Manusia Gerobak” terdiri dari tema, rasa, nada, amanat, diksi, imajeri, gaya bahasa, rima, ritme, dan pusat pengisahan. Kritik sosial yang diperoleh berupa kritik terhadap ketidakpedulian sosial yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan para pihak pengonversi lahan pertanian. Dari ketiga sasaran kritik tersebut, pemerintah dipandang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terciptanya permasalahan sosial sebagaimana yang ditampilkan dalam puisi esai “Manusia Gerobak” karya Elza Peldi Taher. Kritik sosial yang terdapat dalam puisi esai “Manusia Gerobak” karya Elza Peldi Taher dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di tingkat SMA kelas X semester 2 dalam aspek berbicara dengan standar kompetensi mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi dan kompetensi dasar menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

Dari Bolu Kukus Singkong Hingga Wayang Purwa: Esai-Esai Remaja Gunungkidul Antologi Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa SLTA Kabupaten Gunungkidul - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Dari Bolu Kukus Singkong Hingga Wayang Purwa: Esai-Esai Remaja Gunungkidul Antologi Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa SLTA Kabupaten Gunungkidul - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Apa yang disampaikan para siswa ternyata cukup beragam. Objek yang dijadikan sumber tulisan ialah Gunungkidul dengan segala aspek dan kondisinya. Keinginan mengubah kesan Gunung- kidul dari wilayah yang dianggap miskin, kumuh, buruk menjadi sebaliknya merupakan pokok pebicaraan esai ini. Gambaran negatif tentang Gunungkidul seperti itu hanyalah mitos. Esai Membalik Mitos Gunungkidul (Pungki Safitri) agaknya dapat menjadi ide mengubah kesan negatif yang ada. Beberapa penulis esai ingin mengubah mitos itu dengan cara memajukan industri kuliner keripik kulit singkong, bolu kukus singkong, wedangan, atau bakmi Jawanya. Sayangnya tidak ada yang berbicara tentang “keripik belalang atau belalang goreng”. Cara lainnya dengan memajukan industri pariwisata, yakni pariwisata pergunungan, pantai, gua, lingkungan, jalan, dan pasar. Membalik mitos Gunungkidul juga dapat dilakukan dengan memajukan pendidikan, yakni dengan meningkatkan fungsi perpustakaan; meningkatkan pendidikan bagi generasi muda; memberi motivasi, tekad, dan semangat memperjuangkan cita-cita walaupun dengan keterbatasan. Menurut mereka membalik mitos Gunungkidul juga dapat dilakukan dengan melestarikan tradisi, seperti reog, wayang purwa, permainan tradisional congklak, tradisi rasulan, tradisi wiwitan; dapat juga dengan mengurangi kegiatan kegitan yang kurang positif, seperti ketergantungan pada telepon pintar, sinetron, ugal-ugalan di jalan, dan kegiatan lainnya yang melampaui batas. Pendidikan moral perlu diutamakan demi menjadikan Gunungkidul sebagai tempat yang “sejuk” di hati. Berikut uraian singkat esai hasil karya dalam buku ini.
Baca lebih lanjut

194 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Kritik Sosial Dalam Kumpulan Cerpen Iblis Ngambek Karya Indra Tranggono: Tinjauan Sosiologi Sastra Dan Implementasinya Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7 Di SMP Negeri 1 Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA Kritik Sosial Dalam Kumpulan Cerpen Iblis Ngambek Karya Indra Tranggono: Tinjauan Sosiologi Sastra Dan Implementasinya Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7 Di SMP Negeri 1 Surakarta.

Hadi, Panji Kuncoro. 2010. Kritik Sosial dalam Antologi Puisi Aku Ingin Jadi Peluru Karya Wiji Thukul (Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra). Jurnal Fakultas Bahasa dan Seni. IKIP PGRI Madiun. 2010, vol. 01, no 1. http://ikippgrimadiun.ac.id/ejournal/id/node/481. Diakses Kamis, 28 November 2013.

4 Baca lebih lajut

CAHAYA PENA Antologi Esai 2016

CAHAYA PENA Antologi Esai 2016

Sebagai instansi pemerintah yang bertugas melaksanakan pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, baik Indonesia maupun daerah, pada tahun ini (2016) Balai Baha- sa Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Pengembangan dan Pem- binaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kem- bali menyusun, menerbitkan, dan memublikasikan buku-buku karya kebahasaan dan kesastraan. Buku-buku yang diterbitkan dan dipublikasikan itu tidak hanya berupa karya ilmiah hasil penelitian dan/atau pengembangan, tetapi juga karya hasil pe- latihan proses kreatif sebagai realisasi program pembinaan dan/ atau pemasyarakatan kebahasaan dan kesastraan kepada para pengguna bahasa dan apresiator sastra. Hal ini dilakukan bukan semata untuk mewujudkan visi dan misi Balai Bahasa sebagai pusat kajian, dokumentasi, dan informasi yang unggul di bidang kebahasaan dan kesastraan, melainkan juga—yang lebih penting lagi—untuk mendukung program besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang pada tahapan RPJM 2015—2019 sedang menggalakkan program literasi yang sebagian ketentuannya telah dituangkan dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Dukungan program literasi yang berupa penyediaan buku- buku kebahasaan dan kesastraan itu penting artinya karena me- lalui buku-buku semacam itu masyarakat (pembaca) diharapkan
Baca lebih lanjut

350 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter1

T BIND 1302762 Chapter1

Penelitian serupa atau terkait dengan esai kritik sastra di Prodi Bahasa dan Sastra Pascasarjana UPI khususnya, belum peneliti temukan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berupa pengkajian terhadap esai kritik sastra dalam majalah Horison tahun 2010 – 2014. Pengembangan penelitian dilakukan melalui pengkajian terhadap struktur esai sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengajaran esai kritik sastra di tingkat Perguruan Tinggi. Pengembangan struktur esai untuk pengajaran berupa esai analitis yang beracuan pada disertasi Sumiyadi yang berjudul “Model Pengkajian dan Pengajaran Sastra Indonesia Berbasis Konsep Sastra Bandingan” (Sumiyadi, 2 010). Adapun alasan pemilihan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

WAWASAN Antologi Esai Pengajaran Bahasa

WAWASAN Antologi Esai Pengajaran Bahasa

Dari kedelapan komponen di atas, penulis memilih model menulis jurnal untuk digunakan sebagai salah satu model pem- belajaran Bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh manfaat dari pembelajaran model menulis jurnal, yaitu (1) meningkatkan ke- mampuan menulis, (2) meningkatkan kemampuan membaca, (3) menumbuhkan keberanian menghadapi risiko, (4) memberi ke- sempatan untuk membuat refleksi, (5) memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi, (6) memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis, (7) meningkatkan kemampuan berpikir, (8) mening- katkan kesadaran akan peraturan menulis, (9) menjadi alat eva- luasi, dan (10) menjadi dokumen tertulis (dalam Santosa, 2003). Melalui penulisan jurnal, siswa dapat mengungkapkan pe- rasaannya, menceritakan kejadian di sekitarnya, dan menceritakan tentang hasil belajarnya. Seperti kita ketahui, anak-anak (siswa) me- miliki banyak cerita menarik yang dapat diungkapkan. Untuk itu, tugas guru adalah mendorong siswa untuk mengungkapkan cerita yang dimilikinya. Agar lebih efektif, siswa diberikan rangsangan yang menarik serta memotivasi mereka untuk menuangkan imaji- nasinya ke dalam sebuah tulisan. Buku harian (diary), misalnya, dapat dipakai sebagai contoh pembelajaran model menulis jurnal. Buku harian banyak disukai siswa karena berisi tulisan yang imaji- natif. Dengan menggunakan buku harian dalam menyampaikan materi pelajaran dapat memudahkan pemahaman siswa, dan siswa dapat mempraktikkan langsung keterampilan menulis. Oleh karena itu, cara ini dianggap efektif untuk melatih siswa membiasakan menulis. Semua keterampilan berbahasa (membaca, menulis, me- nyimak, dan berbicara) dapat juga diterapkan dengan pengem- bangan tulisan buku harian. Jadi, dengan buku harian siswa dapat belajar menulis imajinatif dengan lebih banyak dan sekaligus mem- praktikkan keterampilan menulis secara langsung.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

MATAHARI SEGITIGA Antologi Esai dan Cerp

MATAHARI SEGITIGA Antologi Esai dan Cerp

Materi pembelajaran di setiap jenjang pendidikan di Indo- nesia tidak luput dari bahan ajar bahasa dan sastra. Secara formal pelajaran kesusatraan telah diberikan sejak menduduki bangku sekolah dasar. Mendalami materi tersebut berlangsung hingga sekolah menengah atas bahkan tingkat universitas. Namun apa kenyataannya, minat masyarakat dalam mengapresiasi satra da- pat dikatakan kurang. Faktanya sangat sedikit di antara pelajar- pelajar di Indonesia yang menggandrungi karya-karya sastra yang bermutu. Buku-buku tentang sastra juga karya sastra, mung- kin masih tertata rapi hingga diselimuti debu di perpustakaan. Pelajar era baru cenderung kurang menikmati kegiatan membaca. Mereka lebih suka aktivitas yang melibatkan penglihatan dan pendengaran. Kegemaran pelajar terhadap game-game, menonton film, mendengarkan musik sampai jejaring sosial telah menindas minat terhadap karya sastra. Namun, tidak sepantasnya kita menyalahkan teknologi yang baru-baru ini sedang naik daun. Sebaiknya, kita menengok ke belakang seberapa besar usaha kita memperjuangkan kesusastraan di Indonesia.
Baca lebih lanjut

226 Baca lebih lajut

KARYA SASTRA INDO DLM MAJALAH GADJAH MAD

KARYA SASTRA INDO DLM MAJALAH GADJAH MAD

Sementara itu, beberapa esai atau kritik yang dimuat dalam majalah Gadjah Mada, antara lain, “Novel dan Cerita dari Blora” karya Anas Ma’ruf (Februari 1951), “Kesusasteraan dan Masyarakat” karya Anas Ma’ruf (Juli 1951), “Pengaruh Revolusi 17 Agustus terhadap Kesusastraan Indonesia” karya Anas Ma’ruf (Agustus— September 1951), “Buah Kesusastraan SMA bag A dan Surat Terbuka kepada Sdr. Suharno” karya Majang n’Dresjwari (November 1951), “Pengarang sebagai Pemberontak” karya S. Mundingsari (Februari 1953), “Wanita dalam Musik dan Kesusastraan” karya Wiratmo Sukito (Februari 1953), “Masalah Penulis” karya Rip (Januari 1954), “Sartre Tambah Musuh Lagi” karya Wiratmo Sukito (Mei 1954), “Pelukis Kontra Polisi” karya Wiratmo Sukito (November 1954), “Seniman, Radio, dan Politik” karya Wiratmo Sukito (November—Desember 1955), “Symposium Sastera 1955” karya Wiratmo Sukito (Januari 1956), “Keluarga Kemuning dalam ‘Sayang Ada Orang Lain’ buah Pena Utuy Tatang Sontani” karya Setiawan H.S. (Januari 1956), “Revolusi dalam Bahasa” karya Wiratmo Sukito (Maret 1956), “Kehidupan Seni Drama dan Kebudayaan” karya Wiratmo Sukito (Agustus 1958), “Fakultas Sastra dan Drama” karya Pong Waluyo (Maret 1959), “Fakultas Sastra dan Drama: Tanggapan Tulisan Pong” karya Budi Darma (Juni 1959), dan masih banyak lagi.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter3

T BIND 1302762 Chapter3

Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang dijadikan sampel adalah calon-calon guru yang akan mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah maupun Perguruan Tinggi, ataupun dapat pula menjadi seorang sastrawan. Pada saatnya mereka lulus dan terjun ke masyarakat atau dunia pendidikan, mereka memiliki bekal dalam hal menyampaikan pengajaran mengenai penulisan esai kritik sastra ataupun mampu menjadi seorang penulis esai kritik sastra.

31 Baca lebih lajut

BAHASA DAN SASTRA DALAM KESUNYIAN Antologi Esai dan Cerpen (2014)

BAHASA DAN SASTRA DALAM KESUNYIAN Antologi Esai dan Cerpen (2014)

Kalimat tanya di atas bukan bermaksud untuk meniru judul lagu sebuah grup band ternama. Kalimat di atas bukan pula sem- barang kalimat tanya yang dapat dijawab dengan mudah. Kali- mat di atas adalah suara nurani tentang keberadaan dan masa depan bahasa Indonesia. Bahasa pemersatu, bahasa penggerak, bahasa yang lahir dari tanah air kita yang sekarang sedang kehi- langan arah tujuan. Apa sebenarnya tujuan dan rencana-rencana untuk memajukan bahasa ini? Apakah kita akan menguatkan peng- gunaan bahasa Indonesia ke dalam masyarakat seperti yang su- dah selama ini di lakukan? Ataukah kita akan mengembangkan sayap bahasa Indonesia untuk menembus batas-batas negara lain? Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa, seperti yang telah diutarakan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Sudah 86 tahun lamanya Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Namun, melihat realita saat ini tam- paknya berapa puluh tahun pun lamanya sejak ditetapkan, bahasa Indonesia kalah bersaing dengan bahasa lain. Mengapa demi- kian? Semua permasalahan ini kembali berpusat pada pemilik dari bahasa Indonesia itu sendiri, warga negara Indonesia. Rak- yat Indonesia kini sedang sibuk terpaku dan terpukau pada ba- hasa-bahasa lain. Padahal, apabila kita melihat keluar, bahasa Indonesia sebenarnya sudah menancapkan pengaruhnya dan mendapatkan tempat pada bangsa lain.
Baca lebih lanjut

238 Baca lebih lajut

esai balai bahasa suyoto

esai balai bahasa suyoto

evaluasi bersama antarsekolah seperti UUB dan UAN) diartikan sebagai kegagalan guru dalam mengajar. Jika sistem evaluasi seperti itu tidak ditata kembali, kecil kemungkinan terjadi perubahan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia karena pada akhirnya dengan jumlah materi yang cukup banyak, guru akan mengkonsentrasikan diri pada strategi-strategi pengusaan materi untuk tujuan evaluasi. Gejala tersebut dapat dilihat dari semaraknya bimbingan belajar dan les, dengan tawaran-tawaran jitu-instan dalam mengerjakan soal. Penataan sistem evaluasi yang dimaksudkan di atas terutama dtujukan pada tujuan di mana pada waktu-waktu sebelumnya evaluasi ditujukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran diubah orientasinya menjadi menilai proses penguasaan kemampuan siswa.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter5

T BIND 1302762 Chapter5

Secara umum, struktur esai kritik sastra yang ditulis oleh mahasiswa sudah sesuai dengan struktur esai kritik hasil analisis pada data kualitatif yang menjadi pedoman penulisan esai kritik. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok mahasiswa yang memperoleh nilai “semenjana dan marjinal” masih

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...