Top PDF Manajemen Laba dalam Sudut Pandang Etika Bisnis Islam

Manajemen Laba dalam Sudut Pandang Etika Bisnis Islam

Manajemen Laba dalam Sudut Pandang Etika Bisnis Islam

Penelitian tersebut melibatkan sampel sebanyak 82 bank Islam dan 82 bank konvensional yang seluruhnya berjumlah 164 bank. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 1992-2008 di 11 negara, yaitu Bahrain, Mesir, Iran, Jordan, Kuwait, Lebanon, Qatar, Saudi Arabia, Sudan, Turkey, dan Uni Emirat Arab. Mereka menggunakan alat ukur utama manajemen laba dalam industri perbankan: menghindari kerugian laba, penyisihan kerugian pinjaman abnormal. Hasil dari penelitian Majdi Anwar et al (2011) menyebutkan bahwa bank Islam, kecil kemungkinannya melakukan manajemen laba dibandingkan bank konvensional. Bank Islam disini merupakan bank yang menerapkan tata kelola syariah, yang secara utuh menyediakan pedoman berdasarkan nilai agama dan menyediakan aturan untuk membatasi atau memandu dalam mengelola alokasi sumber daya, produksi, konsumsi, aktivitas pasar modal, dan juga distribusi kekayaan. Filosofi Islam, merepresentasikan etika bisnis dari sebuah sistem yang didasarkan pada nilai-nilai agama. Sistem ini digolongkan sebagai etika dan norma moral yang diakui oleh masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa agama memiliki dampak yang penting bagi manajer dalam membuat keputusan akuntansi.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

URGENSI ETIKA DALAM AKUNTANSI DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ISLAM

URGENSI ETIKA DALAM AKUNTANSI DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ISLAM

Banyaknya kasus pelanggaran etika dalam bisnis dan profesi baik yang terjadi di tingkat Internasional maupun nasional menunjukkan adanya krisis moral dari pelaku binis dan profesi tersebut. Sementara profesi akuntan adalah profesi yang membutuhkan kepercayaan dari masyarakat. Oleh sebab itu etika sangat diperlukan dalam akuntansi tersebut sehingga kepercayaan ini dapat dijaga dan dipertahankan. Tulisan ini mencoba menjelaskan pentingnya etika dalam akuntansi, yang diuraikan berdasarkan sudut pandang Islam. Karena Islam adalah agama Universal, yang mengatur seluruh kehidupan termasuk masalah akuntansi dan bisnis. Dalam makalah ini dijelaskan bagaimana Islam menekankan betapa pentingnya etika dalam akuntansi. Jika hal ini dilakukan dan dilaksanakan, maka kasus kecurangan dan kasus pelanggaran etika lainnya yang terjadi dalam bisnis dan profesi dapat dicegah dan dihindari.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

manajemen laba ditinjau dari sudut pandang oportunistik dan efisien dalam positive accounting theory

manajemen laba ditinjau dari sudut pandang oportunistik dan efisien dalam positive accounting theory

Contoh lain, juga bisa terjadi pada debt covenant hypothesis. Sweeney (1994) menggarisbawahi bahwa apabila perusahaan dalam bahaya melanggar kontrak perjanjian hutangnya, maka akan menurunkan sediaan perusahaan dengan menggunakan LIFO. Pilihan kebijakan ini berdampak pada kenaikan laba perusahaan, dan akan dipandang sebagai hal yang oportunistik. Alternatif lain, bisa ditinjau dari sudut pandang efisien. Pilihan kebijakan untuk menerapkan LIFO ketika perusahaan menghadapi kemungkinan pelanggaran kontrak hutang timbul dari kondisi perekonomian, misalnya penurunan aktivitas bisnis, maka reduksi sediaan bisa menjadi strategi bisnis yang efisien untuk mengingkatkan arus kas, khususnya apabila perusahaan berada dalam posisi tax loss.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Etika Dalam Bisnis islam dalam

Etika Dalam Bisnis islam dalam

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa dari sudut pandang ekonomis, bisnis adalah kegiatan yang dilakukan dengan maksud memperoleh keuntungan. Keuntungan pada umumnya diekspresikan dalam bentuk uang. Harus diakui kepentingan utama bisnis adalah menghasilkan keuntungan maksimal bagi shareholders. Bisnis bukanlah karya amal. Dipandang dari sudut ekonomis bisnis yang baik adalah bisnis yang banyak mendatangkan keuntungan. Faktor itu membuat perusahaan mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara agar bisa meraih keuntungan. Tidaklah mengherankan apabila pandangan lama menyatakan bahwa bisnis itu immoral (tidak bermoral). Dari sudut pandang ini bisnis dianggap sebagai aktivitas yang tidak bermoral. Pandangan bahwa bisnis immoral kemudian mengalami perubahan sehingga menjadi lebih lunak, yaitu bahwa bisnis itu amoral. artinya moral dan bisnis merupakan dua dunia yang sangat berbeda, dan keduanya tidak dapat dicampuradukkan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MAKALAH ETIKA BISNIS DALAM ISLAM

MAKALAH ETIKA BISNIS DALAM ISLAM

tadayantum, dan isytara. Tetapi yang seringkali digunakan yaitu al-tijarah dan dalam bahasa arab tijaraha, berawal dari kata dasar t-j-r, tajara, tajran wa tijarata, yang bermakna berdagang atau berniaga. At-tijaratun walmutjar yaitu perdagangan, perniagaan (menurut kamus al-munawwir). Dalam hal ini, ada dua definisi tentang pengertian perdagangan, dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu menurut mufassir dan ilmu fikih.

13 Baca lebih lajut

PEMBERLAKUAN MEMBER CARD DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DITINJAU DARI SUDUT PANDANG ETIKA BISNIS ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (Studi Kasus Di Toko Baitul Muslim Assiddiq Yogyakarta)

PEMBERLAKUAN MEMBER CARD DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DITINJAU DARI SUDUT PANDANG ETIKA BISNIS ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (Studi Kasus Di Toko Baitul Muslim Assiddiq Yogyakarta)

Melihat fenomena ini, penulis memandang pentingnya etika bisnis Islam untuk diterapkan dan dibutuhkan pula penggalian serta pencarian hukum Islam yang berkenaan dengan etika bisnis juga perlindungan konsumen di dalamnya. Pada dasarnya tanggung jawab produsen dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Kondisi seperti ini disatu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen karena kebutuhan akan barang atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar, karena adanya kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang atau jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Tetapi disisi lain dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang sehingga konsumen berada pada posisi lemah, dikarenakan menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Etika Bisnis Islam Tentang Manajemen Laba

Etika Bisnis Islam Tentang Manajemen Laba

Bahwa Konsep persatuan atau juga disebut Tauhid ialah dimensi vertikal Islam. Konsep ini dimaksudkan bahwa sumber utama etika Islam adalah kepercayaan total dan murni terhadap keesaan Tuhan. 14 Yang mana berarti Allah SWT sebagai Tuhan Maha Esa yang menetapkan batas-batas tertentu atas perilaku manusia sebagai khalifah, untuk memberikan manfaat pada individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya. Bahwa konsep ini menekankan bahwa sumber utama etika Islam adalah kepercayaan total dan murni terhadap keesaan Tuhan. Aturan-aturan itu sendiri bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya vertikal dengan Allah Swt dan hubungan horizontal dengan kehidupan sesama manusia dan alam semesta secara keseluruhan untuk menuju tujuan akhir yang sama.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Etika Bisnis dalam islam (2)

Etika Bisnis dalam islam (2)

Bisnis telah menjadi aspek penting dalam hidup manusia. Sangat wajar jika Islam memberi tuntunan dalam bidang usaha. Usaha mencari keuntungan sebanyak-banyaknya bahkan ditempuh dengan cara tidak etis telah menjadi kesan bisnis yang tidak baik. Etika bisnis sangat urgen untuk dikemukakan dalam era globalisasi yang terjadi di berbagai bidang dan kerap mengabaikan nilai-nilai etika dan moral. Oleh karenanya, Islam sangat menekankan agar aktivitas bisnis tidak semata-mata sebagai alat pemuas keinginan tetapi lebih pada upaya menciptakan kehidupan seimbang disertai perilaku positif bukan destruktif. Penulisan makalah ini bertujuan mengkaji etika bisnis dari sudut pandang Al Qur’an dalam upaya membangun bisnis Islami menghadapi tantangan bisnis di masa depan. Kesimpulannya, Bisnis dalam perspektif Al Qur’an disebut sebagai aktivitas yang bersifat material sekaligus immaterial. Suatu bisnis bernilai jika secara seimbang memenuhi kebutuhan material dan spiritual, jauh dari kebatilan, kerusakan dan kezaliman. Akan tetapi mengandung nilai kesatuan, keseimbangan, kehendak bebas, pertanggung-jawaban, kebenaran, kebajikan dan kejujuran.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TEORI KEAGENAN DAN MANAJEMEN LABA DARI SUDUT PANDANG ETIKA MANAJER

TEORI KEAGENAN DAN MANAJEMEN LABA DARI SUDUT PANDANG ETIKA MANAJER

Menurut Soewardi (2001:180 – 183) dalam usaha mencari atau menguasai ilmu, manusia dikaruniai Tuhan dengan perangkat rasio (akal) dan rasa (kalbu). Kemampuan rasio terletak pada membedakan, menyamakan, menggolongkan, menyatakan secara kuantitatif atau kualitatif, menyatakan hubungan-hubungan, dan mendeduksinya atau menginduksinya. Semua kemampuan rasio tersebut didasarkan pada ketentuan yang sudah baku dan rinci sehingga rasio tidak akan berdusta. Kemampuan rasa (kalbu) terletak pada kreativitas, yang merupakan kegaiban karena langsung berhubungan dengan Tuhan. Kreativitas inilah yang merupakan awal dari segala bidang nalar, ilmu, etika dan estetika. Etika dan estetika seluruhnya terletak pada rasa, sehingga jika manusia tidak punya rasa maka tidak ada etika dan estetika.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Etika bisnis islam tentang manajemen laba

Etika bisnis islam tentang manajemen laba

Bahwa Konsep persatuan atau juga disebut Tauhid ialah dimensi vertikal Islam. Konsep ini dimaksudkan bahwa sumber utama etika Islam adalah kepercayaan total dan murni terhadap keesaan Tuhan. 14 Yang mana berarti Allah SWT sebagai Tuhan Maha Esa yang menetapkan batas-batas tertentu atas perilaku manusia sebagai khalifah, untuk memberikan manfaat pada individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya. Bahwa konsep ini menekankan bahwa sumber utama etika Islam adalah kepercayaan total dan murni terhadap keesaan Tuhan. Aturan-aturan itu sendiri bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya vertikal dengan Allah Swt dan hubungan horizontal dengan kehidupan sesama manusia dan alam semesta secara keseluruhan untuk menuju tujuan akhir yang sama.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

ETIKA BISNIS DALAM EKONOMI ISLAM

ETIKA BISNIS DALAM EKONOMI ISLAM

12. Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat) yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Misalnya, larangan melakukan bisnis senjata di saat terjadi chaos (kekacauan) politik. Tidak boleh menjual barang halal, seperti anggur kepada produsen minuman keras, karena ia diduga keras, mengolahnya menjadi miras. Semua bentuk bisnis tersebut dilarang Islam karena dapat merusak esensi hubungan sosial yang justru harus dijaga dan diperhatikan secara cermat.

17 Baca lebih lajut

ETIKA BISNIS DALAM PERSEPEKTIF ISLAM

ETIKA BISNIS DALAM PERSEPEKTIF ISLAM

Dengan mengintegrasikan aspek religius dengan aspek-aspek kehidupan yang lainnya, seperti ekonomi, akan menimbulkan perasaan dalam diri manusia bahwa ia akan selalu merasa direkam segala aktivitas kehidupannya, termasuk dalam aktivitas berekonomi sehingga dalam melakukan aktivitas bisnis tidak akan mudah menyimpang dari segala ketentuannya. Perhatian terus menerus untuk kebutuhan etik dan dimotivasi oleh ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa akan meningkatkan kesadaran individu mengenai insting altruistiknya, baik terhadap sesama manusia maupun alam lingkungannya. Ini berarti, konsep tauhid akan memiliki pengaruh yang paling mendalam terhadap diri seorang muslim. 19
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Etika Bisnis dalam Perspektif Islam Oleh

Etika Bisnis dalam Perspektif Islam Oleh

bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah tidak akan memperdulikannya nanti di hari kiamat (H.R. Muslim). Keempat, bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (QS. 4: 29). Kelima, bahwa bisnis yang dilaksanakan bersih dari unsur riba. Firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman (QS. al-Baqarah: : 278) dan masih banyak lagi etika ataupun petunjuk bisnis dalam I slam. Semua yang disebutkan diatas harus benar – benar dilakukan agar apa yang kita lakukan mendapat ridho- Nya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Ketentuan Etika Bisnis Dalam Islam

Ketentuan Etika Bisnis Dalam Islam

Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.

2 Baca lebih lajut

Prinsip dan Etika Bisnis dalam Islam

Prinsip dan Etika Bisnis dalam Islam

Kepemilikan harta dalam Islam terbagi tiga: Hak Individu (Haqqul fardi), Hak Allah (Haqqullah)dan Hak Jamaah (haqqul Jama’ah). Dalam kapasitas harta sebagai haqqullah, maka manusia berposisi sebagai khalifah yang ditugaskan untuk mengelola harta secara bijak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah Sang Pemilik hakiki harta tersebut (QS. al- Nur: 33 & al-Hadid: 7). Selain itu, harta tersebut wajib untuk dikeluarkan zakatnya sebagai bentuk kepedulian serta loyalitas kepada sesama muslim.

4 Baca lebih lajut

ETIKA BISNIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM

ETIKA BISNIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Selain mempengaruhi kinerja, etika per- usahaan juga mempengaruhi kehidupan sosial di lingkungan perusahaan yang bisa berdampak pada kinerja perusahaan secara umum. Schwepker, Scott J. Vittel dan Anurson, menemukan adanya hubungan yang positif antara penerapan etika dan kepuasan kerja. Kepuasan kerja bisa berupa kepuasan terhadap kompensasi,atasan, promosi, rekan kerja dan lain-lain. Ketika etika sudah terinstitusio nalisasikan maka, pekerja diharapkan akan diper lakukan dengan adil baik dalam kompensasi, promosi maupun penyelesaian konflik. Dengan demikian, para pekerja akan mendapatkan kepuasan kerja sehingga mereka akan berkinerja lebih produktif dalam mendukung tujuan perusahaan. Oleh karena itu agar perusahaan bisa eksis dalam jangka panjang maka, perusahaan harus menerapkan etika dalam bisnis- nya. Dengan adanya etika, para pelanggan akan lebih percaya pada perusahaan. Kepercayaan ini akan menimbulkan komitmen dan loyalitas. Sedangkan para pekerja akan setia bekerja melayani perusahaan yang bersikap adil dan meng- hargai pekerja. Intinya, perusahaan yang menerap- kan etika akan memiliki keunggulan kompetitif dibanding perusahan yang tidak beretika.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Etika Bisnis Dalam Islam (4)

Etika Bisnis Dalam Islam (4)

Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Qur’an terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) ”Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya didunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Etika Bisnis dalam Islam docx

Etika Bisnis dalam Islam docx

Namun Ulama fikih mengatakan bahwa memperdagangkan barang dagangan bisa menjadi wajib bila terkait dengan kebutuhan pokok atau hal-hal yang mendesak, seperti makanan dan minuman, serta menjaga jiwa secara umum dari kelaparan. Ada juga perdagangan yang disunahkan seperti seseorang yang bersumpah yang menjual barang dagangannya yang sebenarnya tidak memberi mudharat kalau ia jual. Sedangkan yang makruh adalah memperdagangkan benda yang makruh dimanfaatkan, seperti rokok atau makanan yang halal tetapi tidak sedap baunya. Sementara yang diharamkan adalah memperdagangkan benda yang tidak bermanfaat dan dilarang syarak (Ensklopedi Hukum Islam : 96: 1825) .
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ETIKA BISNIS DALAM ISLAM (1)

ETIKA BISNIS DALAM ISLAM (1)

Dalam Islam, niat semata tidak menjadikan suatu perbuatan etis atau tak-etis. Menurut Beekun, mengutip Yusuf Al-Qaradhawi, “niat yang baik tak dapat menghalalkan perkara yang haram.” Jika suatu perbuatan sudah halal, lalu diniatkan dengan niat baik, maka itu akan menjadi perilaku yang etis. Jika suatu perbuatan sudah haram, maka niat yang baik tak akan menjadikan perbuatan haram itu menjadi etis. Demikian pula suatu tujuan yang baik yang diniatkan dengan niat baik, tetap tak dibenarkan kalau ditempuh dengan jalan yang haram.

7 Baca lebih lajut

Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam

Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam

prinsip ini paling problematic karena masih banyak pelaku bisnis yang mendasarkan kegiatan bisnisnya pada tipu menipu atau tindakan curang, entah karena situasi eksternal tertentu atau karena dasarnya memang ia sendiri suka tipu-menipu. Ketiga, prinsip keadilan, yaitu menuntut agar setiap orang diperlukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula, prinsip keadilan menuntut agar setiap orang dalam kegiatan bisnis apakah dalam relasi eksternal perusahaan maupun relasi internal perusahaan perlu diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing. Keadilan menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. Keempat, prinsip saling menguntungkan, yaitu menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Prinsip ini terutama mengakomodasi hakikat dan tujuan bisnis. Maka, dalam bisnis yang kompetitif, prinsip ini menuntut agar persaingan bisnis haruslah melahirkan suatu win-win solution. Kelima, prinsip integritas moral, yaitu prinsip yang menghayati tuntutan internal dalam berprilaku bisnis atau perusahaan agar menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik perusahaannya. Dengan kata lain, prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku dan perusahaan untuk menjadi yang terbaik dan dibanggakan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...