Top PDF PANDUAN PENYUSUNAN EVALUASI PEMBELAJARAN (1)

PANDUAN PENYUSUNAN EVALUASI PEMBELAJARAN (1)

PANDUAN PENYUSUNAN EVALUASI PEMBELAJARAN (1)

Penilaian pengetahuan, selain untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, juga untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostic). Oleh karena itu, pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik merupakan hal yang sangat penting, sehingga hasil penilaian dapat segera digunakan untuk perbaikan mutu pembelajaran. Ketuntasan belajar untuk pengetahuan ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan batas standar minimal nilai Ujian Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara bertahap satuan pendidikan terus meningkatkan kriteria ketuntasan belajar dengan mempertimbangkan potensi dan karakteristik masing-masing satuan pendidikan sebagai bentuk peningkatan kualitas hasil belajar.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

BORANG AKREDITASI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

BORANG AKREDITASI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

2.1. Program Optimalisasi Kinerja Fakultas (Program Peningakatan Kualitas Pembelajaran): 1) pengoptimalan PBM kurikulum baru melalui penyusunan bahan ajar dan panduan praktikum ; 2) pengoptimalan peran serta dosen muda melalui pengasuhan praktikum matakuliah; 3) sosialisasi kepada stakeholders mengenai spektrum kompetensi dan spesifikasi lulusan; 4) mempertahankan tim teaching; 5) sosialisasi keberadaan Dewan Etika ke tingkat Fakultas; 6) mempertahankan agar matakuliah pilihan dapat diambil dari matakuliah PS/jurusan lain; 7) pengoptimalan PBM dengan jalan mengintegrasikan hal-hal praktis yang dituntut oleh pasar kerja; 8) melibatkan dosen dari PS/Jurusan lain untuk mengasuh matakuliah sesuai dengan bidang keahlian yang diperlukan; 9) pelibatan tenaga dari instansi di luar Undana untuk membimbing skripsi dan PKL mahasiswa sesuai dengan bidang keahlian; 10) pembentukan wadah penegak etika tingkat Fakultas yang mengacu pada aturan Komisi/Dewan Etika Universitas; 11) revisi kurikulum harus mengakomodasi matakuliah berjiwa kewirausahaan; 12) revisi kurikulum yang benar-benar memperhatikan perkembangan kebutuhan stakeholder lokal; 13) penyusunan, revisi, dan sosialisasi GBPP dan SAP semua matakuliah; 14) dosen diharuskan membuat dan merevisi Bahan Ajar secara periodik sesuai perkembangan iptek; 15) dosen diharuskan untuk memperkaya matakuliah inti dengan materi yang spesifik lokal; 16) peningkatan peran dosen PA dalam mengarahkan mahasiswa untuk memilih matakuliah pilihan; 17) memasukkan dan mensosialisasikan matakuliah institusional baru sebagai matakuliah pilihan; 18) pengoptimalan peran dosen PA untuk memotivasi pengembangan diri mahasiswa; 19) pengadaan pelayanan bimbingan dan konseling mahasiswa; 20) mendorong dosen untuk selalu memutakhirkan materi perkuliahan sesuai perkembangan tuntutan pasar kerja; 21) dosen diharuskan agar memasukkan nilai-nilai etika di bidang ilmunya dalam PBM; 22) pengusulan supaya ada sosialisasi pokok bahasan baku dari matakuliah inti oleh tim kurikulum nasional ke fakultas dan PS; 23) pengusulan ke universitas agar dalam pembicaraan kurikulum di tingkat nasional mengenai revisi kurikulum hendaknya memperjuangkan penyeimbangan porsi kurikulum inti dan institusional; 24) perbaikan silabus/SAP dan GBPP semua mata kuliah; dan 25) peningkatan kegiatan praktikum lapangan secara langsung di lahan petani.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Panduan Penyusunan CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN PROGRAM STUDI.

Panduan Penyusunan CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN PROGRAM STUDI.

Dasar hukum CP dinyatakan di dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yaitu kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor (pasal 1 ayat 1). Selanjutnya di dalam pasal 1 ayat 2 peraturan tersebut, CP dinyatakan sebagai kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Panduan Evaluasi Pembelajaran Online (SIPonline)

Panduan Evaluasi Pembelajaran Online (SIPonline)

1 PANDUAN Evaluasi Pembelajaran Online SIP online Direktorat Penjaminan Mutu dan Audit Internal DPMAI UNIVERSITAS SURABAYA Gedung A... PANDUAN PENGISIAN SIP ONLINE BAGI MAHASISWA [r]

2 Baca lebih lajut

357617854 1 Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Vokasi 1

357617854 1 Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Vokasi 1

Strategi belajar dianggap lebih penting daripada strategi mengajar dan peserta didik dilatih menggunakan strategi belajar agar dapat mandiri dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya. Pendidik mengembangkan kompetensi dan bakat peserta didik yang berbeda-beda. Ini semua dilakukan dalam hubungan transaksional pribadi antara pendidik dan peserta didik. Hubungan tersebut memungkinkan terjadinya negosiasi antara pendidik/dosen dan peserta didik/pembelajar dalam hal-hal penting yang menyangkut pembelajarannya. Selaras dengan semua ini konteksyang tumbuh subur adalah konteks pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dan pembelajaran tim kooperatif dan kolaboratif baik di antara peserta didik maunpun di antara para pendidik dan administrator. Dengan kepedulian pada kemandirian peserta didik dalam mengembangkan kemampuan dan bakatnya yang berbeda-beda, pembelajaran dipandang sebagai pekerjaan yang kompleks dan oleh sebab itu untuk menjadi pendidik, seseorang memerlukan pendidikan dan pelatihan kependidikan/kedosenan yang memadai. Pengetahuan diperoleh melalui naratif dengan epistemologi kostruktivis, yaitu peserta didik secara aktif mengonstruksi atau membangun pengetahuan dengan mengaitkan berbagai femomena yang diamati dan dialami dalam konteks keberagaman, penghargaan pribadi, kemajemukan budaya dan kebersamaan (Johnson & Smith, 1991).
Baca lebih lanjut

176 Baca lebih lajut

[SD 1] Panduan Teknis Penyusunan RPP di Sekolah Dasar.pptx

[SD 1] Panduan Teknis Penyusunan RPP di Sekolah Dasar.pptx

Guru mengulas kembali kegiatan yang sudah dilakukan dengan bertanya jawab dan meminta peserta didik melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran hari ini;  Cara berkenalan yang santun[r]

28 Baca lebih lajut

Panduan PPKP   Penyusunan Rancangan Pembelajaran Semester RPS 2016

Panduan PPKP Penyusunan Rancangan Pembelajaran Semester RPS 2016

(1) Kemampuan untuk mempelajari dan menerapkan serangkaian langkah, aturan atau panduan yang diperlukan (dalam organisasi) untuk melaksanakan suatu tugas, tanggung jawab atau peran tertentu, dan (2) kemampuan untuk menetapkan prioritas, membuat perencanaan dan mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan kerja untuk menyelesaikan kerja secara efisien, dan mendapatkan serta mengelola sumber daya sehingga sasaran kerja tercapai tepat waktu dan tidak melebihi anggaran.

19 Baca lebih lajut

1. PANDUAN PENYUSUNAN RPP-permen 22-2916

1. PANDUAN PENYUSUNAN RPP-permen 22-2916

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan embelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PANDUAN PENYUSUNAN RUBRIK

PANDUAN PENYUSUNAN RUBRIK

Kurikulum 2013 yang merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian hasil belajar dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaianhasil belajarjuga memiliki peran untuk membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran(learning outcomes).

34 Baca lebih lajut

PENYUSUNAN BUKU PANDUAN PRAKTIK WISATA Y (1)

PENYUSUNAN BUKU PANDUAN PRAKTIK WISATA Y (1)

Menurut Kusumawardhani (2010) bahwa Wisata minat khusus petualangan dapat didefinisikan sebagai bentuk perjalan wisata yang dilakukan di suatu lokasi yang memiliki atribut fisik yang menekankan unsur tantangan, rekreatif, dan pencapaian keinginan seorang wisatawan melalui keterlibatan/ interaksi dengan unsur alam. Ada beberapa kriteria yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menetapkan suatu bentuk wisata minat khusus, yaitu adanya unsur learning yaitu kegiatan wisata yang mengarah pada unsur pembelajaran. Rewarding , yaitu kegiatan wisata yang memasukkan unsur pemberian penghargaan atau mengagumi keindahan/keunikan kekayaan dari suatu atraksi yang kemudian menimbulkan penghargaan. Enriching , yaitu pariwisata yang memasukkan peluang terjadinya pengkayaan pengetahuan masyarakat Adventuring , yaitu pariwisata yang dirancang sebagai wisata petualangan. (Fandeli, C. 2002)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

panduan penyusunan cp

panduan penyusunan cp

CP lulusan program studi selain merupakan rumusan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dan harus dimilki oleh semua lulusannya, juga merupakan pernyataan mutu lulusan. Oleh karena itu, program studi berkewajiban untuk memiliki rumusan CP yang dapat dipertanggungjawabkan baik isi, kelengkapan deskripsi sesuai dengan ketentuan dalam SN DIKTI, serta kesetaraan level kualifikasinya dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Karena merupakan rumusan tujuan pendidikan dan pernyataan mutu lulusan, perumusan CP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan kurikulum program studi.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Penyusunan Modul Evaluasi pada Sistem Pembelajaran Cerdas

Penyusunan Modul Evaluasi pada Sistem Pembelajaran Cerdas

Penelitian ini didasarkan pada sistem pembelajaran cerdas yang telah disusun untuk bahasa Java oleh Edward R. Sykes (Sheridan College, Canada) dan Franya Franek (McMaster University, Canada). Dalam sistem pembelajaran cerdas yang disusun oleh keduanya, proses evaluasi pekerjaan siswa dilaksanakan dengan cara membandingkan pekerjaan siswa dengan kunci jawaban yang unik, padahal jawaban untuk suatu soal tidak unik. Penelitian ini mengambil beberapa ide Intent Recognition yang digunakan oleh Edward Sykes dan Franya Franek. Kemudian memperbaiki metode evaluasinya dengan menambahkan proses grading yang dapat secara objektif mengeveluasi jawaban siswa.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

PANDUAN PENYUSUNAN PENETAPAN KKM

PANDUAN PENYUSUNAN PENETAPAN KKM

KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

6A Panduan Penyusunan CP

6A Panduan Penyusunan CP

Keterampilan khusus dan pengetahuan yang merupakan rumusan kemampuan minimal lulusan suatu program studi bidang tertentu, wajib disusun oleh forum program studi yang sejenis atau diinisiasi dan diusulkan oleh penyelenggara program studi. Hasil rumusan CP dari forum atau pengelola prodi disampaikan kepada Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen DIKTI, dan bersama rumusan CP prodi yang lain akan dimuat di dalam laman DIKTI untuk masa sanggah dalam waktu tertentu sebelum ditetapkan sebagai standar kompetensi lulusan (SKL) oleh Dirjen DIKTI yang akan menjadi rujukan bagi program studi sejenis.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

3. Panduan Penyusunan Teknologi Pembelajaran Vokasi

3. Panduan Penyusunan Teknologi Pembelajaran Vokasi

Small Group Discussion adalah suatu metode pembelajaran dengan melakukan diskusi kecil, yang dilakukan oleh suatu kelompok mahasiswa yang biasanya terdiri dari 5-10 anggota. Dalam hal ini masing-masing anggota kelompok saling berinteraksi secara global mengenai tujuan atau sasaran tertentu melalui tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Metode ini menjadi efektif dengan memasukkan 5 hal yang saling terkait, yaituSaling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence) dimana suasana yang terbangun adalah saling memotivasi sesama anggota kelompok, yang kedua adalah akuntabilitas individual (individual accountability), dimana kemampuan/kecerdasan tiap anggota kelompok dalam menguasai bahan ajar tidak sama dan perlu disikapi dengan memberi tanggungjawab kepada mahasiswa yang lebih menguasai bahan ajar untuk membantu mahasiswa yang kurang menguasai bahan ajar. Sedangkan yang ketiga tatap muka (face to face interaction), hal ini penting sekali untuk membangun interaksi bukan hanya mahasiswa dengan dosen tetapi juga antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya. Hal ini penting agar mereka semuanya menjadi sumber belajar dibandingkan hanya mengandalkan dosennya. Selanjutnya Keterampilan Sosial (Social Skill), hal ini terkait dengan prilaku yang santun, menghargai pendapat orang lain, belajar mendengar dan tidak bersikap dominan, tetapi juga berani menyampaikan saran dan mempertahankan pikiran logis. Sedangkan yang kelima adalah proses kelompok (group processing yang menitikberatkan kepada evaluasi sejauh mana masing-masing anggota kelompok dapat berinteraksi secara efektif dalam mencapai tujuan bersama, disamping juga menilai mana anggota kelompok yang berpartisipasi atau kurang berpartisipasi atau mana yang kooperatif dan mana yang tidak kooperatif agar bisa diperbaiki dimasa yang akan datang.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

PANDUAN PENYUSUNAN

PANDUAN PENYUSUNAN

b. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

panduan penyusunan rks

panduan penyusunan rks

Sekolah harus mampu menghasilkan lulusan yang memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah harus memperbaiki proses pembelajaran, termasuk meningkatkan manajemen di ruang kelas. Sekolah harus menyediakan, mengembangkan, mengelola dan mengerahkan sarana dan prasarana pendidikan dan sumberdaya lainnya secara lebih baik. Sekolah juga harus bekerjasama dengan semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan hal-hal tersebut di atas. Untuk itu, semua tindakan Sekolah harus akuntabel dan transparan agar Sekolah memperoleh kepercayaan (trust) dari semua pemangku kepentingan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen perencanaan yang disebut Rencana Kerja Sekolah (RKS). Melalui RKS diharapkan agar dana yang tersedia dapat dibelanjakan secara bijaksana.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

panduan penyusunan proposal

panduan penyusunan proposal

Sebelum menyusun proposal atau protokol perlu difahami terlebih dahulu luaran yang akan dicapai sehingga susunan sistematikanya sesuai luaran. Luaran bisa berupa formulasi dasar, formulasi terapan dan klinis, proses teknologi dan teknologi produksi. Dasar penelitian harus berbasis masalah kesehatan (Prioritas kebijakan Kementerian Kesehatan, Agenda Riset Kesehatan Nasional, laporan Riskesdas, Rifaskes, Rikus, PDBK, SDKI) dan laporan penelitian (termasuk kajian pustaka) Badan Litbangkes lainnya. Sistematika penyusunan proposal, protokol dan laporan penelitian dikembangkan berdasarkan esensi dan isi sesuai luaran penelitian.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...