Top PDF PEMAKAIAN MODEL DETERMINISTIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT PADA DAS SELOREJO

PEMAKAIAN MODEL DETERMINISTIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT PADA DAS SELOREJO

PEMAKAIAN MODEL DETERMINISTIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT PADA DAS SELOREJO

KATA PENGANTAR Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat, serta hidayahnya tak lupa sholawat serta salam pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul Pemakaian Model Deterministik Untuk Transformasi Data Hujan Menjadi Data Debit Pada DAS Selorejo dapat terselesaikan.

18 Baca lebih lajut

PEMAKAIAN MODEL DITERMINISTIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT PADA DAS LAHOR

PEMAKAIAN MODEL DITERMINISTIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT PADA DAS LAHOR

Hydrologic analysis is an important stage in water resources development activities, therefore the output of the general hydrological analysis will determine the direction of water resources development strategy in a comprehensive and more narrow scale will determine the dimensions and characteristics of the necessary infrastructure. Determination of hydrological quantities are actually not too difficult when the data for analysis is available in sufficient quantity and quality. Classical problems in developing countries, including Indonesia, the availability of river flow data series is quite a separate issue, so the solution must be done by to specification climate variables into a variable flow. So far this has been developed conceptual model, of course, each has advantages and disadvantages because basically models were developed according to local hydrological conditions. All models are basically developed from the same basic concept, namely the hydrological cycle. Basic things that sets it apart is the way to interpret the process until the rain began to flow. This is what would need to be studied further in this study.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN EMPAT TANGKI SUSUNAN SERI UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN EMPAT TANGKI SUSUNAN SERI UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

Salah satu faktor yang menjadi inspirasi untuk membuat model hidrologi khususnya model transformasi data hujan menjadi data debit adalah adanya keterbatasan data pengukuran debit. Model Tangki Sugawara merupakan salah satu model konseptual dengan konsep bahwa proses aliran air hujan menjadi aliran sungai dianologikan sebagai suatu aliran melalui rangkaian tangki-tangki. Pada model tangki pendekatannya menggunakan 3 sampai 4 buah tangki yang dapat disusun seri, paralel atau penggabungan keduanya. Proses simulasi pemodelan ini akan menghasilkan parameter-parameter atau koefisien-koefisien model tangki pada suatu daerah aliran sungai yang dimodelkan. Dalam model empat tangki susunan seri terdapat 17 parameter yang harus ditentukan dan ini bukan pekerjaan yang mudah. Maka untuk mengatasi hal tersebut dilakukan optimasi untuk mendapatkan parameter yang optimal sehingga dapat mewakili sautu DAS yang dimodelkan. Dalam proses optimasi digunakan Algoritma Genetik yang
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN 3 TANGKI SUSUNAN SERI UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK LAHOR DAN WADUK SELOREJO)

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN 3 TANGKI SUSUNAN SERI UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK LAHOR DAN WADUK SELOREJO)

Keyword : debit, rainfall, evapotranspirasi, tank model. Analysis of Hidrologi is the important step in development of water resource, because of output of hidrologi in general will determine strategy direction development of resource irrigate by comprehensif and smaller which this amount will determine dimension and also infrastructure characteristic which needed. Problems that come out in system of expand state including Indonesia is availibility of river stream data series which enough become separate problem, so that solution must be done by transformation of variable climate become stream. Compared to data collecting of debit, data collecting of daily rainfall generally far easier. For example to have daily rainfall data which enough length, though daily debit data deret is short for example 3 year, so daily data deret can be spanned as long as daily rainfall data deret. This matter can be gone through by simulation using models of matematik.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN 3 TANGKI SUSUNAN PARALEL UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN 3 TANGKI SUSUNAN PARALEL UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

ABSTRAKSI Salah satu faktor yang menjadi inspirasi untuk membuat model hidrologi khususnya model transformasi data hujan menjadi data debit adalah adanya keterbatasan data pengukuran debit. Model Tangki Sugawara merupakan salah satu model konseptual dengan konsep bahwa proses aliran air hujan menjadi aliran sungai dianologikan sebagai suatu aliran melalui rangkaian tangki-tangki.

2 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN SUSUNAN GABUNGAN UNTUK TRNSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN SUSUNAN GABUNGAN UNTUK TRNSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT (STUDI KASUS PADA INFLOW WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR)

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur Alhamdulillah, saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia­Nya dan tidak lupa Shalawat serta salam kepada nabi Muhammad SAW, sehingga penulisan Tugas Akhir dengan judul ”PENERAPAN MODEL TANGKI DENGAN SUSUNAN GABUNGAN UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA DEBIT” ini dapat diselesaikan.

18 Baca lebih lajut

ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI PARAMETER MODEL TANGKI PADA ANALISIS TRANSFORMASI DATA HUJAN-DEBIT

ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI PARAMETER MODEL TANGKI PADA ANALISIS TRANSFORMASI DATA HUJAN-DEBIT

Kelemahan mendasar dari penerapan Model Tangki adalah pada begitu banyaknya parameter yang nilainya harus ditetapkan terlebih dulu secara simultan sebelum model tersebut diaplikasikan. Kondisi ini menyebabkan Model Tangki dianggap tidak efisien untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Penelitian ini merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja Model Tangki agar dapat diaplikasikan lebih praktis dan efektif untuk analisis transformasi data hujan menjadi data aliran sungai. Pembahasan dalam penelitian ini difokuskan pada upaya menyelesaikan sistem persamaan Model Tangki Susunan Seri, Susunan Paralel dan Susunan Gabungan dengan memanfaatkan algoritma genetik pada proses optimasi parameternya, sehingga sistem persamaan yang dihasilkan dapat menentukan nilai parameter model optimal secara otomatis pada DAS yang diteliti. Hasil penelitian pada DAS Wonorejo menunjukkan bahwa Algoritma Genetik dapat menyelesaikan proses optimasi nilai parameter Model Tangi dengan baik. Pada generasi ke-150 menunjukkan ketiga model tersebut dapat mencapai konvergen dengan nilai fitness yang hampir sama. Pengujian nilai parameter optimal dengan menggunakan set data testing menunjukkan bahwa Model Tangki Susunan Gabungan berbasis Algoritma Genetik cenderung lebih konsisten dibanding dua jenis Model Tangki lainnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TRANSFORMASI HUJAN-DEBIT BERDASARKAN ANALISIS TANK MODEL DAN GR2M DI DAS DENGKENG.

TRANSFORMASI HUJAN-DEBIT BERDASARKAN ANALISIS TANK MODEL DAN GR2M DI DAS DENGKENG.

Dalam perencanaan pengembangan sumber daya air seringkali diperlukan data debit yang banyak dan valid. Namun pada kenyataannya ketersediaan data debit di lapangan sangat terbatas sedangkan data yang tersedia di lapangan hanya data curah hujan. Sehingga untuk mendapatkan data debit lebih sering dilakukan dengan mengolah data curah hujan yang tersedia menjadi data debit (Fenny Hapsari A, 2000).

4 Baca lebih lajut

Transformasi Hujan-debit Berdasarkan Analisis Tank Model dan Gr2m di DAS Dengkeng

Transformasi Hujan-debit Berdasarkan Analisis Tank Model dan Gr2m di DAS Dengkeng

Transformasi hujan-debit adalah proses mengolah data hujan di lapangan menjadi data debit dengan pemodelan hidrologi. Penelitian ini menggunakan Tank Model dan GR2M karena lebih sederhana dibanding metode yang lainnya seperti NRECA, Mock dan Rainrun. Tank Model mendiskripsikan daerah tangkapan air hujan dapat digantikan oleh tangki-tangki sesuai struktur tanahnya. Perhitungan Tank Model memerlukan minimal enam variabel untuk diiterasi. GR2M digunakan karena memiliki kemiripan dengan Tank Model dan hanya memiliki dua variabel untuk diiterasi. GR2M mendiskripsikan daerah tangkapan air hujan dengan tangki-tangki dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilakukan di DAS Dengkeng, Klaten, Jawa Tengah dengan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian berupa analisis transformasi data hujan-debit dengan GR2M dan Tank Model untuk mengetahui rangkaian tangki Tank Model yang efektif dan mengetahui metode terbaik untuk transformasi hujan-debit di DAS Dengkeng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi hujan- debit di DAS Dengkeng dengan metode Tank Model merupakan metode terbaik dibanding GR2M. susunan terbaik Tank Model adalah tiga tangki rangkaian seri dengan keandalan sebesar 72,2390 %. Sedangkan GR2M hanya menghasilkan keandalan sebesar 68,3959 %.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ALGORITMA GENETIK UNTUK MENINGKATKAN KINERJA MODEL TANGKI STANDAR PADA ANALISA TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA ALIRAN SUNGAI

ALGORITMA GENETIK UNTUK MENINGKATKAN KINERJA MODEL TANGKI STANDAR PADA ANALISA TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA ALIRAN SUNGAI

Terdapat 2 jenis pemodelan yang umum dipakai untuk transformasi variabel iklim menjadi variabel aliran sungai, yaitu model data driven dan model konseptual. Model data driven dibangun tanpa melibatkan hukum-hukum fisik pada proses terjadinya hujan menjadi aliran tetapi hanya didasarkan pada hubungan statistik perilaku variabel input yang terukur (iklim dan karakteristik fisik DAS) dengan variabel outputnya (aliran sungai). Kelemahan mendasar dari model ini adalah diperlukan seri data yang panjang pada proses pembelajarannya, dan sifatnya yang sangat terbatas dalam implementasinya baik ditinjau pada dimensi ruang maupun waktu. Model konseptual meninjau proses secara fisik terjadinya aliran sesuai konsep daur hidrologi sehingga sistem persamaan yang dihasilkan dapat diimplementasikan pada dimensi yang lebih luas. Kebutuhan seri data iklim dan aliran pada penerapan model ini hanya digunakan untuk menetapkan nilai parameter-parameternya sehingga tidak memerlukan seri yang panjang.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Analisis Sensitivitas Permodelan GR4J terhadap Pengalihragaman Data Hujan Menjadi Debit pada DAS Indragiri (Studi Kasus AWLR Lubuk Ambacang

Analisis Sensitivitas Permodelan GR4J terhadap Pengalihragaman Data Hujan Menjadi Debit pada DAS Indragiri (Studi Kasus AWLR Lubuk Ambacang

memuaskan. GR4J adalah model sederhana karena hanya terfokus pada empat parameter rainfall-runoff , model ini disimulasikan menggunakan data curah hujan harian. Dengan kesederhanaan yang dimiliki oleh model ini, maka sangat cocok untuk aplikasi dalam permasalahan yang bersifat operasional. Bertitik tolak dari keberhasilan yang ditunjukkan dari performa GR4J yang dilakukan di DAS Citarum hulu dan kesederhanaan program untuk diaplikasikan, oleh sebab itu dalam penelitian ini akan dibuat model pengalihragaman hujan-debit dengan pemodelan GR4J pada DAS Indragiri untuk stasiun Automatic Water Level Recorder (AWLR) Lubuk Ambacang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Alih Ragam Hujan Menjadi Debit di Sub DAS Ciliwung Hulu

Alih Ragam Hujan Menjadi Debit di Sub DAS Ciliwung Hulu

Model SWAT merupakan pengembangan metode hidrologi yang telah ada sebelumnya untuk menduga pengaruh pengelolaan lahan terhadap kualitas dan kuantitas air yang masuk ke sungai atau badan air di suatu DAS yang kompleks dengan berbagai jenis tanah, penggunaan tanah dan pengelolaannya yang bermacam-macam sepanjang waktu yang lama (Neitsch et al 2005). Model SWAT ini menggunakan input hujan harian dan dirancang untuk menduga dampak jangka panjang dari praktek pengelolaan lahan terhadap sumber daya air, sedimen di DAS besar dan kompleks dengan berbagai skenario tanah, penggunaan lahan dan pengelolaan berbeda (Pawitan 2004). Model SWAT tergolong model yang bersifat kontinu yang didasarkan pada persamaan kesetimbangan air dalam jangka panjang dan hingga saat ini model SWAT masih terus dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada. Namun model ini memerlukan input data yang cukup beragam (Neitsch et al 2002).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Aplikasi Model Regresi Dalam Pengalihragaman Hujan Limpasan Terkait Dengan Pembangkitan Data Debit (Studi Kasus: DAS Tukad Jogading)

Aplikasi Model Regresi Dalam Pengalihragaman Hujan Limpasan Terkait Dengan Pembangkitan Data Debit (Studi Kasus: DAS Tukad Jogading)

Pada penelitian ini, analisis mengenai hubungan curah hujan-limpasan sekaligus untuk pembangkitan data debit untuk daerah aliran sungai (DAS) digunakan model regresi. Model regresi pada prinsipnya adalah mencari suatu kurva yang mewakili satu set data dimana yang dibahas hubungan fungsional dua variabel atau lebih. Karena modelnya yang sederhana, diharapkan bisa menjadi alternatif atau metode awal di dalam mecari hubungan curah hujan limpasan dan peramalan debit. Model regresi linier dan regresi non linier (logaritmik dan eksponensial) digunakan untuk mempelajari hubungan hujan-limpasan pada DAS Tukad Jogading serta memverifikasi model tersebut secara statistik berdasarkan nilai kesalahan absolute rata-rata (KAR) dan nilai koefisien korelasi (r).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

MODEL TREE NON LINIER UNTUK EKSTRAPOLASI DATA DEBIT IN FLOW DI WADUK LAHOR DAN WADUK SELOREJO KABUPATEN

MODEL TREE NON LINIER UNTUK EKSTRAPOLASI DATA DEBIT IN FLOW DI WADUK LAHOR DAN WADUK SELOREJO KABUPATEN

menyelesaikan masalah peramalan. Penelitian ini merupakan salah satu upaya memberikan alternatif solusi terhadap masalah peramalan debit pada satu tahun kedepan dengan memanfaatkan salah satu model yang berbasis Artificial Intelegentia (IA), yaitu Model Tree. Model Tree telah dicoba untuk diterapkan pada bidang hidrologi terutama untuk penelusuran banjir, transformasi data hujan menjadi data debit dan peramalan pasang surut muka air laut dengan hasil yang cukup memuaskan. Dalam analisanya pembentukan model matematis yang didasarkan pada data training harus dilakukan dalam proses perhitungan yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, namun setelah model terbentuk proses peramalan debit pada periode mendatang dapat dianalisa lebih mudah dan cepat. Dengan demikian hasil yang diperoleh dapat lebih bersifat “applicable” dan pada akhirnya diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan nilai manfaat ekonomis dari bangunan – bangunan yang ada.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MODEL TREE LINIER UNTUK EKSTRAPOLASI DATA DEBIT IN FLOW DI WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR KABUPATEN MALANG

MODEL TREE LINIER UNTUK EKSTRAPOLASI DATA DEBIT IN FLOW DI WADUK SELOREJO DAN WADUK LAHOR KABUPATEN MALANG

menyelesaikan masalah peramalan. Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan alternatif solusi terhadap masalah peramalan debit pada satu tahun ke depan dengan memanfaatkan salah satu metode yang berbasis Artificial Intelegentia (IA), yaitu Model Tree. Model Tree telah dicoba untuk diterapkan pada bidang hidrologi terutama untuk penelusuran banjir, transformasi data hujan menjadi data debit dan peramalan pasang surut muka air laut dengan hasil yang cukup memuaskan. Dalam analisisnya pembentukan model matematik yang didasarkan pada data latih harus dilakukan dengan proses perhitungan yang rumit dan
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Aplikasi Model SWAT Untuk Mensimulasikan Debit Sub DAS Krueng Meulesong Menggunakan Data Klimatologi Aktual Dan Data Klimatologi Hasil Perkiraan

Aplikasi Model SWAT Untuk Mensimulasikan Debit Sub DAS Krueng Meulesong Menggunakan Data Klimatologi Aktual Dan Data Klimatologi Hasil Perkiraan

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada akhir- akhir ini menjadi suatu topik diskusi yang cukup hangat. Hal tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwasannya kondisi DAS di Indonesia pada umumnya mulai men- galami penurunan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh tingginya tekanan penduduk terhadap sumber daya yang ada dalam DAS. Perencanaan pengelolaan yang tepat me- rupakan langkah penting yang dapat dilakukan guna mem- pertahankan dan memperbaiki kondisi DAS-DAS terse- but. Namun pada kenyataannya, perencanaan pengelolaan DAS bukanlah suatu kegiatan yang mudah dilakukan, karena DAS merupakan suatu sistem yang sangat kom- plek dimana terjadi saling interaksi antar semua kompo- nen-komponennya yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman terhadap proses-proses yang terjadi. Disamp- ing itu karena sifat DAS yang sangat bervariasi baik se- cara spasial maupun temporal sehingga laju dan dampak perubahanpun akan sangat bervariasi (Miller et al., 2002). Pemodelan merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk memahami kompleksnya proses hidrologi dalam suatu DAS. Menurut Black (1996) tujuan pemodelan hidrologi adalah untuk menggambarkan suatu sistem yang besar dan komplek dengan cara yang lebih sederhana atau untuk memprediksikan kejadian-kejadian hidrologi ketika hubungan antar komponen sudah diban- gun. Saat ini ada banyak jenis model hidrologi yang telah dikembangkan untuk merepresentasikan proses-proses hidrologi yang terjadi pada suatu DAS, mulai dari yang sangat sederhana yang membutuhkan input data yang sedikit sampai dengan model yang kompleks yang mem- butuhkan data yang relatif lebih banyak. Salah satu input yang sangat penting dalam pemodelan hidrologi DAS adalah data curah hujan. Data ini biasanya tersedia di sta- siun-stasiun meteorologi, namun sayangnya keberadaan stasiun yang masih minim menyebabkan data curah hujan yang dibutuhkan sering tidak ada atau tidak lengkap.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Komparasi Model Hidrolologi Runtun Waktu untuk Analisis Hujan - Debit Menggunakan GR4J dan Transformasi Wavelet - GR4J (Studi Kasus : DAS Indragiri Bagian Hulu)

Komparasi Model Hidrolologi Runtun Waktu untuk Analisis Hujan - Debit Menggunakan GR4J dan Transformasi Wavelet - GR4J (Studi Kasus : DAS Indragiri Bagian Hulu)

Lokasi yang penulis jadikan studi kasus, sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Safari (2015) dengan kesimpulan permodelan GR4J yang dikategorikan “tidak efektif”. Pada penelitian kali ini penulis melakukan komparasi data dengan tujuan untuk mengetahui kecocokan data dengan hasil dari permodelan dengan studi kasus yang sama dengan Safari (2015), dan juga penulis mengaplikasikan model pendekatan dengan menggunakan metode gabungan Transformasi Wavelet-GR4J yang diharapkan dapat meningkatan Nash- Sutcliffe dan koefisien korelasi pada DAS Indragiri bagian hulu dengan titik outlet yang dijadikan penelitian adalah stasiun Pulau Berhalo.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ESTIMASI PARAMETER MODEL HUJAN ALIRAN UNTUK DAS DENGAN KETERBATASAN ALAT UKUR DEBIT PADA KALI PORONG

ESTIMASI PARAMETER MODEL HUJAN ALIRAN UNTUK DAS DENGAN KETERBATASAN ALAT UKUR DEBIT PADA KALI PORONG

Gambar1. Lokasi Studi Oleh karena itu, monitoring morfologi sungai Porong sangatlah penting. Untuk mengetahui morfologi kali Porong, data debit aliran di sepanjang Kali Porong dan Jembatan Porong merupan inputan utama. Namun demikian untuk mendapatkan data debit. ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain: (1) alat ukur debit di jembatan Porong setelah tahun 2007 sudah tidak berfungsi dengan sempurna disebabkan oleh adanya pembuangan lumpur lapindo ke kali Porong sehingga pencatatan data debit di jembatan Porong menjadi tidak valid; dan (2) keterbatasan alat ukur debit pada anak anak sungai yang merupakan inflow Kali Porong yaitu kali Sadar dan kali Kambeng menyebabkan kesulitan untuk memprakirakan besar aliran di sepanjang Kali Porong (dari DAM Lengkong sampai dengan jembatan Porong). Sivapalan et al. (2003) menyatakan bahwa sulit untuk memprediksi karakteristik aliran pada DAS yang tidak memiliki alat ukur benit (ungauge) karena biasanya tidak tersedia parameter debit sungai dengan time series yang cukup lama untuk kalibrasi. Ada dua cara yang biasa digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah (a) penggunaan model fisik, dan (b) cara regionalisasi parameter model sesuai dengan karakteristik fisik DAS (Yadav et al. 2007). Sejumlah model regionalisasi telah dikembangkan, termasuk regresi parametrik, metode lokasi terdekat, dan metode kesamaan hidrologi (Li et al. 2010). Untuk meningkatkan akurasi prediksi debit sungai pada DAS ungauge, data debit pengamatan terdekat harus tersedia, tetapi sulit untuk menemukan DAS dengan kemiripan karakteristik yang memadai. Model fisik didasarkan pada sifat fisik DAS yang dapat diamati ,
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS HUJAN DEBIT PADA DAS INDRAGIRI MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL IHACRES (231A)

ANALISIS HUJAN DEBIT PADA DAS INDRAGIRI MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL IHACRES (231A)

Proses transformasi hujan menjadi debit dapat ditiru dan disederhanakan dalam bentuk model yang lazim disebut model hujan debit. Tujuan utama penelitian ini adalah mengaplikasikan model guna mengatasi keterbatasan akan data debit untuk kebutuhan prediksi akan ketersediaan air di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Metode pendekatan yang digunakan untuk memprediksi kebutuhan ketersediaan air suatu DAS adalah menggunakan model IHACRES yang dikembangkan di Inggris berdasarkan data curah hujan pada stasiun hujan Tanjung Pati, Sijunjung dan Sentajo periode 1995- 2004 serta data klimatologi pada stasiun klimatologi Sentajo periode 1995-2004. Hasil utama penelitian membuktikan bahwa Model IHACRES yang diterapkan di stasiun duga air Lubuk Ambacang dapat dikatakan masih kurang handal karena nilai R 2 yang dihasilkan pada tahap simulasi berkisar antara 0,245 – 0,485. Namun dalam hal penggunaannya di lapangan masih dapat diaplikasikan selama pemodelan hujan debit yang memberikan hasil yang lebih baik belum ditemukan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMODELAN HUJAN-DEBIT MENGGUNAKAN MODEL HEC- HMS DI DAS SAMPEAN BARU

PEMODELAN HUJAN-DEBIT MENGGUNAKAN MODEL HEC- HMS DI DAS SAMPEAN BARU

permodelan hujan-debit merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran hujandebit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Model hujan-debit dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi debit sungai melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada. Suatu wilayah DAS dibagi menjadi sub–sub DAS untuk mendapatkan informasi dan hasil running yang lebih terperinci. Dalam studi ini DAS Sampean Baru dibagi menjadi 10 sub DAS dengan luas total 718, 896 km2 dengan outlet AWLR Kloposawit. Dalam studi ini menggunakan model HEC-HMS karena dalam HEC-HMS terdapat fasilitas kalibrasi, kemampuan simulasi model dengan data terdistribusi, model aliran kontinyu dan kemampuan GIS. Hasil dari pemodelan tahun 2003-2007 ini, didapatkan besarnya debit puncak (peak flow) adalah sebesar 101.4 m3/det yang diakibatkan hujan yang terjadi pada tanggal 28 Februari 2003 sedangkan debit puncak dilapangan sebesar 242.78 m3/det yang diakibatkan hujan yang terjadi pada tanggal 27 Februari 2003.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects