Top PDF PENGARUH BAKTERI ENDOVIT TERHADAP BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI (Oryza sativa) DI LAHAN SAWAH

PENGARUH BAKTERI ENDOVIT TERHADAP BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI (Oryza sativa) DI LAHAN SAWAH

PENGARUH BAKTERI ENDOVIT TERHADAP BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI (Oryza sativa) DI LAHAN SAWAH

i KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum….wr…wb Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia dan hidayah- NYA yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini yaang berjudul “Pengaruh Bakteri endovit Terhadap Beberapa Verietas Tanaman Padi (Oryza sativa) di Lahan Sawah”. Selama proses penelitian dan penulisan laporan, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yaitu :
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH BAKTERI ENDOVIT TERHADAP BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI (Oryza sativa) DI LAHAN SAWAH SKRIPSI

PENGARUH BAKTERI ENDOVIT TERHADAP BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI (Oryza sativa) DI LAHAN SAWAH SKRIPSI

Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia dan hidayah- NYA yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini yaang berjudul “Pengaruh Bakteri endovit Terhadap Beberapa Verietas Tanaman Padi (Oryza sativa) di Lahan Sawah”. Selama proses penelitian dan penulisan laporan, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yaitu :

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Varietas dan Kepadatan Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza Sativa L.) pada Lahan Sawah di Anturan

Pengaruh Varietas dan Kepadatan Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza Sativa L.) pada Lahan Sawah di Anturan

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa varietas padi sawah, pengaruh kepadatan tanam dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil produksi padi. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September – Desember 2011 di lahan sawah Subak Anturan, Desa Anturan, Kecamatan Buleleng pada ketinggian tempat ± 3m dari atas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah (split plot desgn) dengan dasar rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Faktor utama adalah faktor varietas yang terdiri dari tiga faktor yaitu varietas Ciherang, varietas Inpari 3 dan varietas Inpari 10. Faktor tambahan adalah faktor cara tanam legowo terdiri dari empat taraf yaitu cara tanam tegel 20 x 20 cm populasi 250.000 per hektar, cara tanam legowo 2:1 populasi 166.660 per hektar, cara tanam legowo 2:1 populasi 250.000 per hektar, dan cara tanam legowo 2:1 populasi 333.333 per hektar.. Kedua faktor ini dikombinasikan sehingga terdapat 12 perlakuan kombinasi. Masing-masing perlakuan kombinasi diulang tiga kali, sehingga berjumlah 36 unit perlakuan. Pengaruh jenis varietas padi menunjukkan bahwa Varietas Ciherang cenderung memberikan hasil gabah kadar air 14% per hektar lebih berat, yaitu 6,81 ton. Pada varietas Inpari 10 dan Inpari 3 memberikan hasil gabah kadar air 14% per hektar, yaitu 6,16 ton dan 6,17 ton atau lebih rendah 9,54% dan 6,17% dibandingkan dengan hasil pada Varietas Ciherang. Tanam jajar legowo 2:1 dengan populasi 333.333 rumpun per hektar nyata memberikan hasil gabah kadar air 14% per hektar yang lebih berat, yaitu 7,11 ton, atau nyata lebih berat 7,24% dibandingkan dengan hasil gabah kadar air 14% per hektar yang dicapai pada populasi 250.000 rumpun per hektar tanam tegel. Interaksi antara jenis vatietas padi dan kepadatan tanam berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel yang diamati.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

SERANGAN WERENG BATANG COKLAT PADA PADI VARIETAS UNGGUL BARU LAHAN SAWAH IRIGASI

SERANGAN WERENG BATANG COKLAT PADA PADI VARIETAS UNGGUL BARU LAHAN SAWAH IRIGASI

PENDAHULUAN Serangan hama wereng, terutama Wereng Batang Coklat (WBC) dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi petani, karena jika tingkat serangan yang terjadi mencapai lebih dari 90 persen populasi tanaman dapat mengakibatkan gagal panen atau puso. Wereng coklat dapat menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan sampai menjelang panen. Serangan yang berat dapat mengakibatkan puso (hopperburn) dan menggagalkan panen. Selain itu hama ini juga dapat menyerang berbagai varietas tanaman padi, khususnya Padi Tipe Baru (PTB), padi hibrida, dan padi Varietas Unggul Baru (VUB) (Baehaki & Widiarta 2008).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN. sebagian besar ditanam di lahan sawah. Padi adalah tanaman pangan yang banyak

I. PENDAHULUAN. sebagian besar ditanam di lahan sawah. Padi adalah tanaman pangan yang banyak

Selain faktor tersebut diatas, jenis atau varietas tanaman padi dan jarak penananam juga perlu diperhatikan karena padi merupakan tanaman pangan utama penduduk Indonesia yang sebagian besar ditanam di lahan sawah. Kendala produktivitas lahan sawah diantaranya akibat serangan hama, penyakit dan gulma. Perkembangan pengganggu tanaman ini sering diakibatkan oleh cara tanam yang sebenarnya masih bisa diperbaiki. Berbagai cara tanam khususnya untuk padi jenis Inpari dapat diterapkan oleh para petani. Salah satu diantaranya yang dapat memberikan hasil lebih optimal adalah sistem tanam legowo 2-1. Legowo 2-1 adalah cara tanam padi sawah yang memiliki 2 barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir ½ kali jarak tanaman pada baris tengah, (BPS Barru, 2013).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Stabilitas Hasil Beberapa Varietas Padi di Lahan Sawah

Stabilitas Hasil Beberapa Varietas Padi di Lahan Sawah

Varietas-varietas yang telah lama dibudidayakan akan mengalami penurunan potensi hasil, karena pengaruh lingkungan seperti gangguan organisme pengganggu, mutasi dan penyerbukan silang. Pemulia tanaman setelah menghasilkan galur - galur baru sebagai pengganti varietas praktek perlu menguji stabilitas hasil atau adaptasinya di berbagai lokasi dan musim tanam. Bila dalam pengujian tidak ada pengaruh interaksi galur x lingkungan, maka pemilihan varietas dan galur mudah dilakukan yaitu dengan memilih galur atau varietas yang rata - rata hasilnya tinggi, sebab superior galur/varietas tidak dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi bila ada interaksi genotipe x lingkungan dapat mempersulit pemulia tanaman untuk menentukan genotipe unggul yang beradaptasi luas pada berbagai lingkungan tumbuh. Dalam rangka menanggulangi masalah tersebut, diperlukan pengujian galur atau varietas di sejumlah lokasi dan musim (Sastrosupadi et al., 2005).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STABILITAS HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN SAWAH

STABILITAS HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN SAWAH

Varietas-varietas yang telah lama dibudidayakan akan mengalami penurunan potensi hasil, karena pengaruh lingkungan seperti gangguan organisme pengganggu, mutasi dan penyerbukan silang. Pemulia tanaman setelah menghasilkan galur - galur baru sebagai pengganti varietas praktek perlu menguji stabilitas hasil atau adaptasinya di berbagai lokasi dan musim tanam. Bila dalam pengujian tidak ada pengaruh interaksi galur x lingkungan, maka pemilihan varietas dan galur mudah dilakukan yaitu dengan memilih galur atau varietas yang rata - rata hasilnya tinggi, sebab superior galur/varietas tidak dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi bila ada interaksi genotipe x lingkungan dapat mempersulit pemulia tanaman untuk menentukan genotipe unggul yang beradaptasi luas pada berbagai lingkungan tumbuh. Dalam rangka menanggulangi masalah tersebut, diperlukan pengujian galur atau varietas di sejumlah lokasi dan musim (Sastrosupadi et al., 2005).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STABILITAS HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN SAWAH

STABILITAS HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN SAWAH

PENDAHULUAN Varietas-varietas yang telah lama dibudidayakan akan mengalami penurunan potensi hasil, karena pengaruh lingkungan seperti gangguan organisme pengganggu, mutasi dan penyerbukan silang. Pemulia tanaman setelah menghasilkan galur - galur baru sebagai pengganti varietas praktek perlu menguji stabilitas hasil atau adaptasinya di berbagai lokasi dan musim tanam. Bila dalam pengujian tidak ada pengaruh interaksi galur x lingkungan, maka pemilihan varietas dan galur mudah dilakukan yaitu dengan memilih galur atau varietas yang rata - rata hasilnya tinggi, sebab superior galur/varietas tidak dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi bila ada interaksi genotipe x lingkungan dapat mempersulit pemulia tanaman untuk menentukan genotipe unggul yang beradaptasi luas pada berbagai lingkungan tumbuh. Dalam rangka menanggulangi masalah tersebut, diperlukan pengujian galur atau varietas di sejumlah lokasi dan musim (Sastrosupadi et al., 2005).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR PENENTUAN VARIETAS TANAMAN PADI SAWAH PADA LAHAN PERSAWAHAN. Oleh : SALMAN WIDODO F

PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR PENENTUAN VARIETAS TANAMAN PADI SAWAH PADA LAHAN PERSAWAHAN. Oleh : SALMAN WIDODO F

Sejak 15 tahun yang lalu, varietas IR64 telah mendominasi areal pertanaman padi di Indonesia dan beberapa negara penghasil beras lainnya. Tetapi beberapa tahun berselang IR64 dilaporkan mulai rentan terhadap penyakit tungro. Karena itu pemerintah telah melepas lima varietas unggul tahan tungro, yaitu: Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Kalimas, dan Bondoyudo. Penggunaan varietas ini di daerah endemi tungro telah berhasil menahan atau meminimalkan kerusakan yang dapat ditimbulkannya. Penanaman beragam varietas akan lebih berpeluang menjaga keseimbangan lingkungan sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya ledakan hama atau penyakit tertentu (Balitpa, 2002b).
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

PENGARUH PERLAKUAN JERAMI TERHADAP BEBERAPA VARIETAS PADI SAWAH

PENGARUH PERLAKUAN JERAMI TERHADAP BEBERAPA VARIETAS PADI SAWAH

Penelitian telah dilaksanakan di Desa Karyamukti, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengjka, Propinsi Jawa Barat, mulai bulan Juli hingga Nopember 2014. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perlakuan jerami padi terhadap pertumbuhan, komponen hasil dan hasil padi. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan lima ulangan. Sebagai petak utama adalah perlakuan kompos jerami (J) terdiri dari tiga taraf yaitu, (J0) tanpa jerami, (J1) jerami dikomposkan, dan (J2) Jermi padi digelebeg. Sebagai anak petak adalah varietas unggul baru (VUB) terdiri dari tiga taraf yaitu, Inpari-4 (V1), Inpari-14 (V2) dan Mekongga (V3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) varietas padi yang dikaji tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman pada pada umur 45 hst dan 87 hst, tetapi berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan umur 45 hst anakan produktif. Perlakuan jerami J1, memberikan tinggi tanaman tertinggi pada umur 45 hst dan 87 hst, (2) perlakuan varietas tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap panjang malai dan jumlah gabah hampa per malai. Perlakuan jerami dan varietas tidak berpengaruh nyata terhadap panjang malai, tetapi berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah isi dan gabah hampa per malai, dan (3) perlakuan jerami dan varietas tidak berpengaruh nyata terhadap bobot gabah isi 1000 butir tetapi berpengaruh nyata terhadap hasil padi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Perlakuan Jerami Dan Varietas Padi Inbrida Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca Di Lahan Sawah Irigasi

Pengaruh Perlakuan Jerami Dan Varietas Padi Inbrida Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca Di Lahan Sawah Irigasi

Disisi lain, program intensifikasi menjadi satu satunya alternatif yang dapat dilakukan untuk menjamin penyediaan pangan khususnya beras secara berkelanjutan terutama bagi suatu daerah/wilayah yang kepemilikan lahan sawahnya terbatas bahkan terus berkurang, seperti di Jawa Barat. Program intensifikasi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), dapat meningkatkan emisi GRK, antara lain dari pemberian bahan organik yang tidak tepat dan penggunaan varietas unggul berumur sedang hingga panjang.

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMUPUKAN DAN PEMBENAH TANAH TERHADAP POPULASI BAKTERI PADA LAHAN SAWAH BEKAS TAMBANG TIMAH YANG DITANAMI PADI

PENGARUH PEMUPUKAN DAN PEMBENAH TANAH TERHADAP POPULASI BAKTERI PADA LAHAN SAWAH BEKAS TAMBANG TIMAH YANG DITANAMI PADI

Azotobacter banyak dijumpai di rhizosfer dengan jumlah yang amat beragam dari nol sampai seribu per gram tanah. Populasi bakteri ini dipengaruhi oleh jenis tanaman dan pemupukan. Selain itu, jenis tanah, pH tanah, dan faktor lingkungan juga sangat berpengaruh (Sprent, 1976). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dalam meningkatkan populasi Azotobacter sp adalah perlakuan pembenah tanah + inokulasi pupuk hayati yang ditunjukkan oleh populasi Azotobacter sp sebanyak 2,13 x 10 6 CFU/g tanah. Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan pembenah tanah + tanpa inokulasi pupuk hayati. Hal ini mengindikasikan bahwa pembenah tanah mempengaruhi populasi Azotobacter sp dalam tanah.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Respon Pemberian Paclobutrazol Pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium Hirsutum L.) Di Lahan Sawah Sesudah Padi

Respon Pemberian Paclobutrazol Pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium Hirsutum L.) Di Lahan Sawah Sesudah Padi

Kapas ( Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta- ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu- nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu- lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam- pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng- gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Respon Pemberian Paclobutrazol pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Lahan Sawah Sesudah Padi

Respon Pemberian Paclobutrazol pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Lahan Sawah Sesudah Padi

Kapas ( Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta- ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu- nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu- lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam- pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng- gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH PERLAKUAN JERAMI DAN VARIETAS PADI INBRIDA TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA DI LAHAN SAWAH IRIGASI S

PENGARUH PERLAKUAN JERAMI DAN VARIETAS PADI INBRIDA TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA DI LAHAN SAWAH IRIGASI S

Sistem budidaya padi yang intensif dapat meningkatkan produktivitas, namun juga dapat memberikan dampak negatif terhadap peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) ti troposfer dalam bentuk gas metan (CH 4 ) dan dinitrogen oksida (N 2 O). Indonesia adalah penyumbang emisi gas rumah kaca urutan ke-18 dunia. Atas dasar itu, pemerintah Republik Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 26% sampai tahun 2020. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan jerami padi pada beberapa varietas unggul baru terhadap penurunan GRK. Penelitian mengunakan rancangan petak terpisah (split plot design). Petak utama adalah VUB, terdiri atas (1) Inpari 4 (V 1 ), (2) Inpari 14 (V 2 ), dan (3) Mekongga (V 3 ). Anak petak adalah teknik pemanfaatan jerami terdiri atas: (1) jerami dikomposan (J 1 ), (2) jerami digelebeg (J 2 ), dan (3) tanpa jerami (J 0 ). Jumlah ulangan sebanyak 5. Data yang dikumpulkan terdiri atas: emisi GRK (CH 4 dan N 2 O), pertumbuhan padi, komponen hasil, dan hasil padi. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis statistik dengan analisis keragaman (Analysis of Varians) yang dilanjutkan dengan uji nilai tengah Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan perlakuan jerami padi terhadap emisi CH 4 baik pada umur 21, 42, dan 87 hst. Pada umur 42 hst perlakuan jerami padi berpengaruh nyata terhadap emisi CH 4 . Pada umur 87 hst varietas dan perlakuan jerami masing-masing berpengaruh nyata terhadap emisi CH 4 . Pada umur 110 hst justru varietas berpengaruh nyata terhadap emisi CH 4 . Terjadi interaksi antara varietas dan perlakuan jerami padi terhadap emisi gas N 2 O pada umur 21 hst.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada  Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada  Beberapa Fase Pertumbuhan

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada Beberapa Fase Pertumbuhan

Penyakit HDB pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Persentase keparahan penyakit HDB pada berbagai waktu inokulasi memperlihatkan perkembangan penyakit berbeda-beda. Pada fase pertumbuhan vegetatif, umur 5–8 MST, perkembangan penyakit HDB berlangsung cepat dibandingkan dengan fase pertumbuhan lainnya, khususnya pada varietas rentan dengan perkembangan penyakit HDB rata-rata mencapai 68.5% sampai 90%, sedangkan pada fase pertumbuhan generatif laju perkembangan penyakit mulai melambat atau terhenti. Hasil ini mendukung pendapat Djatmiko dan Fatichin (2009) yang mengemukakan bahwa fase vegetatif tanaman padi lebih rentan dibandingkan dengan fase generatifnya. Padi varietas IR64 dilaporkan pula merupakan varietas padi yang rentan terhadap penyakit HDB. Melambatnya laju perkembangan pada fase generatif diduga disebabkan struktur ketahanan tanaman telah terbentuk sempurna. Lapisan lilin dan ketebalan kutikula pada sel epidermis tanaman sudah sempurna sehingga dapat meningkatkan resistensi tanaman ter-
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada Beberapa Fase Pertumbuhan

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada Beberapa Fase Pertumbuhan

Penyakit HDB pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Persentase keparahan penyakit HDB pada berbagai waktu inokulasi memperlihatkan perkembangan penyakit berbeda-beda. Pada fase pertumbuhan vegetatif, umur 5–8 MST, perkembangan penyakit HDB berlangsung cepat dibandingkan dengan fase pertumbuhan lainnya, khususnya pada varietas rentan dengan perkembangan penyakit HDB rata-rata mencapai 68.5% sampai 90%, sedangkan pada fase pertumbuhan generatif laju perkembangan penyakit mulai melambat atau terhenti. Hasil ini mendukung pendapat Djatmiko dan Fatichin (2009) yang mengemukakan bahwa fase vegetatif tanaman padi lebih rentan dibandingkan dengan fase generatifnya. Padi varietas IR64 dilaporkan pula merupakan varietas padi yang rentan terhadap penyakit HDB. Melambatnya laju perkembangan pada fase generatif diduga disebabkan struktur ketahanan tanaman telah terbentuk sempurna. Lapisan lilin dan ketebalan kutikula pada sel epidermis tanaman sudah sempurna sehingga dapat meningkatkan resistensi tanaman ter-
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada Beberapa Fase Pertumbuhan

Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tiga Varietas Padi Sawah yang Diinokulasi pada Beberapa Fase Pertumbuhan

Penyakit HDB pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Persentase keparahan penyakit HDB pada berbagai waktu inokulasi memperlihatkan perkembangan penyakit berbeda-beda. Pada fase pertumbuhan vegetatif, umur 5–8 MST, perkembangan penyakit HDB berlangsung cepat dibandingkan dengan fase pertumbuhan lainnya, khususnya pada varietas rentan dengan perkembangan penyakit HDB rata-rata mencapai 68.5% sampai 90%, sedangkan pada fase pertumbuhan generatif laju perkembangan penyakit mulai melambat atau terhenti. Hasil ini mendukung pendapat Djatmiko dan Fatichin (2009) yang mengemukakan bahwa fase vegetatif tanaman padi lebih rentan dibandingkan dengan fase generatifnya. Padi varietas IR64 dilaporkan pula merupakan varietas padi yang rentan terhadap penyakit HDB. Melambatnya laju perkembangan pada fase generatif diduga disebabkan struktur ketahanan tanaman telah terbentuk sempurna. Lapisan lilin dan ketebalan kutikula pada sel epidermis tanaman sudah sempurna sehingga dapat meningkatkan resistensi tanaman ter-
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PREFERENSI HAMA KEPINDING TANAH (Scotinophara coartata F) PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI SAWAH

PREFERENSI HAMA KEPINDING TANAH (Scotinophara coartata F) PADA BEBERAPA VARIETAS TANAMAN PADI SAWAH

Tinggi rendahnya produksi padi di Sulawesi Utara disebabkan beberapa hal, diantara- nya adalah serangan hama dan penyakit. Serangan hama pada tanaman padi relatif tinggi setiap tahun. Serangan tersebut belum dapat dikendalikan se- cara optimal, sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik kehilangan hasil, menurun- nya mutu, terganggunya kontinuitas produksi, serta menurunnya pendapatan petani. Masalah hama dan penyakit yang semakin kompleks dirasakan oleh petani dari tahun ke tahun. Hal ini diduga akibat dampak perubahan iklim global yang ber- pengaruh terhadap pola musim/cuaca lokal yang sangat erat kaitannya dengan perkembangan hama. Disamping itu, permasalahan hama dan pe- nyakit pada tanaman padi akan terus dihadapi karena luas lahan yang semakin berkurang, ter- batasnya modal, pengetahuan dan keterampilan petani, permasalahan irigasi, pasar serta harga produksi (Gaib, 2011).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Keragaan dan Produktivitas Beberapa Varietas Unggul Baru Padi di Lahan Sawah Bukaan Baru Provinsi Jambi

Keragaan dan Produktivitas Beberapa Varietas Unggul Baru Padi di Lahan Sawah Bukaan Baru Provinsi Jambi

Respon petani terhadap beberapa varietas unggul baru padi yang diuji cobakan, adalah varietas yang dipilih dan diinginkan petani yaitu varietas berumur genjah seperti Inpari 30 karena memiliki potensi hasil tinggi, tahan terhadap penyakit bercak coklat dan blas leher. Dengan adanya respon petani yang cukup tinggi terhadap VUB Inpari 30. Maka pada musim tanam berikutnya yaitu pada musim hujan ditanam VUB padi varietas Inpari 30 dengan luas tanam 30 ha. Menurut Taryat et al. (2000) bahwa varietas unggul padi sawah akan berkembang di masyarakat apabila memiliki tiga faktor yaitu potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit serta memiliki mutu yang baik. Selain itu rasa nasi akan mempengaruhi perkembangan varietas padi tersebut. Sejalan dengan pendapat Yoshida (1991) dan IRRI (1996), bahwa kriteria penting suatu varietas baru dapat diterima adalah potensi hasil, ketahanan terhadap hama penyakit utama, serta tekstur dan rasa nasinya. Disamping itu, penerimaan petani terhadap suatu varietas berkaitan dengan kesukaan petani setempat seperti umur panen, bentuk gabah, rasa nasi dan lainnya. Selanjutnya Taryoto (1996) bahwa adopsi teknologi merupakan suatu proses mental dan perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan petani sejak mengenal sampai memutuskan untuk menerapkannya. Selain itu, faktor lingkungan yang mendorong penggunaan inovasi a n t a r a l a i n penyuluhan. Partisipasi petani dalam penyuluhan mempunyai pengaruh nyata terhadap kemungkinan mengadopsi teknologi baru. Suatu kenyataan bahwa materi penyuluhan berkaitan dengan varietas yang berdaya hasil tinggi, sehingga menarik bagi petani. Petani yang berpendidikan lebih tinggi berpeluang lebih besar untuk mengadopsi teknologi. Penyuluhan pertanian memungkinkan petani mendapatkan pengetahuan atau keterampilan baru berkaitan dengan pertanian. Penyuluhan pertanian dapat menjadi sarana bagi penyuluh untuk memperkenalkan suatu inovasi pertanian. Dengan demikian, petani yang selalu hadir dalam penyuluhan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengadopsi suatu inovasi karena mempunyai pengetahuan dan keterampilan terkait inovasi yang lebih tinggi daripada petani yang tidak pernah menghadiri penyuluhan pertanian (Ouma et al., 2006; Satoto et al., 2010).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...