Top PDF PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU KERAMIK TERHADAP KEKERASAN DENGAN PENAMBAHAN VARIASI ALUMINA

PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU KERAMIK TERHADAP KEKERASAN DENGAN PENAMBAHAN VARIASI ALUMINA

PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU KERAMIK TERHADAP KEKERASAN DENGAN PENAMBAHAN VARIASI ALUMINA

Dibuat: 2007-05-02 , dengan 2 file(s). Keywords: Stabilitas kimia, Seal, Isolator diaelektrik, Bahan magnetik, Mineral silikat. ABSTRAKSI Sejalan dengan perkembangan jaman yang begitu pesat belakangan ini, menuntut kita untuk terus mengembangkan teknologi hingga mencapai suatu kesempurnaaan.Dalam hal ini kita tahu bahwa keramik memiliki peranan yang sangat penting dalam bidang tehnik. Keramik merupakan material rekayasa yang sangat menjanjikan karena sifat dari keramik rekayasa ini yang memiliki kekuatan sangat tinggi, keras, dan memiliki stabilitas kimia yang bagus. Istilah keramik dalam konteks modern mencakup material anorganik yang sangat luas ; keramik mengandung elemen non metalik dam metalik serta dibuat dengan berbagai tehnik manufaktur. Secara tradisional keramik dibuat dari mineral silikat, seperti lempung yang dikeringkan dan dibakar pada temperature yang tinggi agar menjadi keras. Berasal dari kata Yunani “ keramos” yang berarti bahan yang dibakar atau material yang dibakar ditungku/tanur yang sudah ada sejak dulu.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ANALISA PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU TERHADAP KEKERASAN KERAMIK

ANALISA PENGARUH KOMPOSISI BAHAN BAKU TERHADAP KEKERASAN KERAMIK

Dibuat: 2007-07-06 , dengan 3 file(s). Keywords: KERAMIK Pembuatan keramik dalam perkembangan teknologi tidak hanya sebagai barang kerajinan atau sebagai hiasan dan peralatan rumah tangga. Pada pengembangan baru penggunaan keramik adalah sebagai alat-alat industri, seperti pada industri kimia, karena keramik yang tidak mudah bereaksi dengan senyawa lain, pada produk industri elektronik sebagai isolator karena tidak bias menghantarkan listrik bahkan digunakan sebagai konstruksi mesin, karena pada umumnya keramik mempunyai sifat kekerasan yang tinggi dan tahan aus dan juga tahan terhadap temperature yang tinggi.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Pengaruh kemurnian bahan baku alumina terhadap temperatur sintering dan karakteristik keramik alumina

Pengaruh kemurnian bahan baku alumina terhadap temperatur sintering dan karakteristik keramik alumina

Laju penyusutan dipengaruhi oleh waktu dan temperatur sintering. Randall (1991) (dalam Rais (2007)) menyatakan, pengaruh temperatur sintering terhadap perubahan densitas dan porositas saling berlawanan. Apabila temperatur sintering semakin tinggi maka kekuatan mekanik dan ukuran butir semakin besar, sedangkan porositas dan sifat listriknya menurun. 51 Dalam tahap pembuatan bahan keramik, proses pembakaran merupakan proses yang sangat menentukan sifat bahan. Temperatur pembakaran ditentukan oleh bahan yang ingin dibuat. Bahan dasar yang digunakan dapat digolongkan sebagi bahan teknis yang rendah kemurniannya, atau bahan p.a (pro analysis) yang tinggi kemurniannya. Dalam proses sintering, berbagai bahan yang tidak diharapkan dapat dihilangkan agar bahan dengan komposisi tertentu yang diinginkan terbentuk. 52 William C (1991) (dalam Kaston (2008)) menyatakan, melalui proses pencetakan terjadi penggabungan atau pengelompokan beberapa butiran, tetapi butiran satu dengan yang lainnya belum terikat kuat. Ikatan antara butiran setelah proses sintering, dimana akan terjadi penyusutan dimensi yang disertai pengurangan pori yang ada diantara butiran. Dengan demikian material yang telah disintering akan menjadi semakin padat dan kuat. 53 Semakin banyak jumlah partikel yang kecil maka nilai densitas sintering semakin besar atau persen kepadatannya semakin besar. Pengaruh temperatur sintering terhadap perubahan densitas, kekuatan mekanik dan ukuran butir adalah berbanding lurus akan tetapi sebaliknya terhadap porositas, resistivitas.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Dolomit terhadap Kekerasan Bahan Baku Pembuatan Keramik dari Lumpur Lapindo

Pengaruh Penambahan Dolomit terhadap Kekerasan Bahan Baku Pembuatan Keramik dari Lumpur Lapindo

Ion Na + dan K + dihilangkan dari lumpur Lapindo dengan cara ekstraksi menggunakan variasi pelarut akuades dan air PDAM. Variasi pelarut akuades dan air PDAM digunakan saat pembuatan HCl untuk melarutkan dolomit. Variasi pelarut yang digunakan adalah 5, 10 dan 15% b/v untuk masing-masing pelarut air PDAM dan akuades. Proses ekstraksi ion Na + dan K + dilakukan bersamaan dengan proses penambahan ion Ca(II) dan Mg(II) dari dolomit ke dalam lumpur Lapindo. Dolomit dilarutkan ke dalam HCl dengan variasi pelarut akuades dan pelarut air PDAM sehingga menghasilkan variasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) dengan pelarut akuades dan air PDAM. Adanya kandungan Mg(II) yang lebih besar dari pada Na + dan K + dapat membantu koagulasi koloid saat proses ekstraksi. Konsentrasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) yang memberikan hasil paling baik didapatkan pada konsentrasi 15% DDH pada pelarut air PDAM. Dari hasil analisa sebelum dan sesudah ekstraksi, logam Ca(II) bertambah sebesar 17898 ppm.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN DOLOMIT TERHADAP KEKERASAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DARI LUMPUR LAPINDO

PENGARUH PENAMBAHAN DOLOMIT TERHADAP KEKERASAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERAMIK DARI LUMPUR LAPINDO

Ion Na + dan K + dihilangkan dari lumpur Lapindo dengan cara ekstraksi menggunakan variasi pelarut akuades dan air PDAM. Variasi pelarut akuades dan air PDAM digunakan saat pembuatan HCl untuk melarutkan dolomit. Variasi pelarut yang digunakan adalah 5, 10 dan 15% b/v untuk masing-masing pelarut air PDAM dan akuades. Proses ekstraksi ion Na + dan K + dilakukan bersamaan dengan proses penambahan ion Ca(II) dan Mg(II) dari dolomit ke dalam lumpur Lapindo. Dolomit dilarutkan ke dalam HCl dengan variasi pelarut akuades dan pelarut air PDAM sehingga menghasilkan variasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) dengan pelarut akuades dan air PDAM. Adanya kandungan Mg(II) yang lebih besar dari pada Na + dan K + dapat membantu koagulasi koloid saat proses ekstraksi. Konsentrasi larutan dolomit dalam HCl (DDH) yang memberikan hasil paling baik didapatkan pada konsentrasi 15% DDH pada pelarut air PDAM. Dari hasil analisa sebelum dan sesudah ekstraksi, logam Ca(II) bertambah sebesar 17898 ppm.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMPOSISI ALUMINA TERHADAP KEKERASAN MIKRO DAN TOKSISITAS NANOKOMPOSIT HIDROKSIAPATIT-ALUMINA

PENGARUH KOMPOSISI ALUMINA TERHADAP KEKERASAN MIKRO DAN TOKSISITAS NANOKOMPOSIT HIDROKSIAPATIT-ALUMINA

Perubahan pola kontraksi kembali terjadi pada penambahan sampel C. Pada Gambar 1 f menunjukkan pola kontraksi yang tidak teratur dan penurunan tegangan yang mendekati nilai nol, dengan kata lain kontraksi illeum melemah. Melemahnya kontraksi illeum Tikus Wistar Putih ini tidak dapat dinyatakan bahwa pada sampel komposit C bersifat toksik. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini tidak digunakan pengujian terhadap letal dosis, melainkan pengujian terhadap toksisitas bahan dengan variabel terikatnya dibatasi pada ada tidaknya kontraksi, dan pada sampel C masih terdapat kontraksi namun melemah. Terjadinya kontraksi pada illeum Tikus Wistar Putih setelah pemberian koposit mengindikasikan bahwa ketiga sampel komposit bersifat non-toxic, dengan kata lain ketiga sampel komposit memiliki toksisitas rendah. KESIMPULAN
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Komposisi Variasi terhadap Densitas dan Kekerasan Pada Manufaktur Keramik Lantai - Repositori UIN Alauddin Makassar

Pengaruh Komposisi Variasi terhadap Densitas dan Kekerasan Pada Manufaktur Keramik Lantai - Repositori UIN Alauddin Makassar

tahapan pembuatan keramik yang sangat penting dan menentukan sifat-sifat keramik yang dihasilkan. Pada keramik yang sedang dibentuk atau dicetak, masih dalam kondisi yang rapuh, keadaan yang demikian disebut green body. Butiran- butiran green body masih belum saling mengikat satu dengan yang lainnya baik secara kimia maupun fisika, sehingga butiran tersebut mudah terlepas antara satu dengan yang lainnya. Supaya terjadi ikatan yang kuat perlu dilakukan suatu proses pembakaran pada suhu tertentu tergantung dari jenis materialnya. Sehingga setelah proses pembakaran butiran-butiran tersebut akan saling menyatu dan mengikat dengan kuat baik secara kimia maupun fisika. Faktor yang menentukan proses dan mekanisme sintering antara lain jenis bahan, komposisi, bahan pengotor dan ukuran partikel. Proses sintering dapat berlangsung apabila adanya transfer materi diantara butiran (proses difus) dan adanya sumber energi yang dapat mengaktifkan transfer materi yang berguna dalam menggerakkan butiran hingga terjadi kontak dan ikatan yang sempurna. Proses difus tersebut akan memberikan efek terhadap perubahan sifat fisis bahan setelah sintering, diantaranya densitas, porositas, serta penyusutan dan pembesaran butiran (Kiswanto Heri, 2011).
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN CANGKANG TELUR DAN ABU SEKAM PADI DENGAN VARIASI SUHU SINTER TERHADAP DENSITAS DAN KEKERASAN PADA KERAMIK

PENGARUH PENAMBAHAN CANGKANG TELUR DAN ABU SEKAM PADI DENGAN VARIASI SUHU SINTER TERHADAP DENSITAS DAN KEKERASAN PADA KERAMIK

Memaknai hidup dan kehidupan dalam hubungannya dengan berbagai hal karena alam itu terus hidup selama masih ada kehidupan. Untuk itu perlu diungkap dan sampai terungkap, untuk memahami dan memaknai serta memanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan umum dan kemanusiaan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan serta kedamaian. Lempung atau tanah liat adalah bahan baku dalam pembuatan batu bata dan keramik yang mempunyai sifat plastis dan mudah dibentuk dalam keadaan basah (lembab). Pada umumnya tanah liat memiliki karakter yang tidak menentu dan tidak memperlihatkan sesuatu yang alami seperti yang dimiliki batu dan kayu. Sehingga lempung dapat dipergunakan untuk keperluan yang luas dan tidak terbatas, misalnya untuk bangunan, tembok pembatas pekarangan, perabotan rumah tangga, tempat makan dan minum. Selain sebagai bahan baku untuk batu bata dan keramik, lempung dan berbagai oksida logam dan bahan senyawa anorganik dan nonlogam lainnya merupakan pula bahan baku pelapis pewarna produk keramik.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan partikel chromium terhadap kekerasan alumina yang mengandung 20% berat silica. Komposit matrik alumina keramik (Al 2 O 3 ) yang mengandung 20 % berat silica (SiO 2 ) diperkuat dengan 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 % volume partikel chromium (Cr) telah dibuat dengan metode pressureless sintering. Masing-masing komposisi di-mixing dengan proses basah (dengan alkohol) selama 5 jam, dikeringkan selama 24 jam pada temperatur kamar dan dilanjutkan dengan mixing kering selama 5 jam. Pembuatan spesimen berbentuk silindris (diameter d = 15 mm; tebal t = 5 mm) dilakukan dengan uniaxial-pressing pada tekanan 120 MPa. Sintering dilakukan di lingkungan argon dengan laju pemanasan 3 o C/menit sampai 800 o C dan ditahan selama 30 menit, kemudian dinaikkan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA PENDAHULUAN

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA PENDAHULUAN

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan partikel chromium terhadap kekerasan alumina yang mengandung 20% berat silica. Komposit matrik alumina keramik (Al 2 O 3 ) yang mengandung 20 % berat silica (SiO 2 ) diperkuat dengan 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 % volume partikel chromium (Cr) telah dibuat dengan metode pressureless sintering. Masing-masing komposisi di-mixing dengan proses basah (dengan alkohol) selama 5 jam, dikeringkan selama 24 jam pada temperatur kamar dan dilanjutkan dengan mixing kering selama 5 jam. Pembuatan spesimen berbentuk silindris (diameter d = 15 mm; tebal t = 5 mm) dilakukan dengan uniaxial-pressing pada tekanan 120 MPa. Sintering dilakukan di lingkungan argon dengan laju pemanasan 3 o C/menit sampai 800 o C dan ditahan selama 30 menit, kemudian dinaikkan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan MgO dan SiO2 Serta Suhu Sintering Terhadap Sifat  Fisis dan Mekanis Komposit Keramik α–Alumina

Pengaruh Penambahan MgO dan SiO2 Serta Suhu Sintering Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Komposit Keramik α–Alumina

Gambar 3. Memperlihatkan grafik kekerasan dan nilai fracture toughness dari gambar tersebut terlihat bahwa semakin tinggi suhu sintering maka nilai kekerasan dan fracture toughness akan semakin tinggi. Pada suhu sintering 1500 dan 1550 o C nilai kekerasan paling tinggi dialami komposisi 1 dengan komposisi MgO yang paling sedikit dan semakin banyak MgO yang ditambahkan nilai kekerasannya pun semakin rendah. Hal ini dapat terjadi karena aditif MgO yang ditambahkan memiliki titik lebur yang lebih tinggi (2824 o C) dibandingkan dengan alumina, sehingga penambahan MgO dalam jumlah yang banyak membutuhkan energi yang jauh lebih tinggi untuk proses pembentukan butirnya. Pada suhu sintering 1600 o C kekerasan tertinggi dialami oleh komposisi 3 yang memiliki kadar MgO yang paling tinggi. Penambahan MgO dengan kadar yang tinggi menyebabkan butiran yang seharusnya membesar tertahan, penghambatan pertumbuhan butir alumina dilakukan dengan cara menahan pergerakan batas butir alumina. Berbeda halnya dengan komposisi 2 yang memiliki nilai kekerasan yang paling kecil diantara komposisi lainnya, tingginya prosentase porositas dan kemungkinan tingginya kandungan fasa gelas yang dialami oleh komposisi 2 menjadi factor penyebab rendahnya nilai kekerasan pada komposisi 2. (Medvedovski, 2006; Mollá, 1996)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Karakteristik Mikroskopik Keramik Batako Terhadap Variasi Penambahan Sekam Tebu

Karakteristik Mikroskopik Keramik Batako Terhadap Variasi Penambahan Sekam Tebu

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahan sekam tebu pada sifat mikroskopis batako sehingga dapat diketahui komposisi sekam tebu paling baik untuk bahan pengikat dari batako tersebut. Sampel yang digunakan batako dengan penambahan sekam tebu diayak dan tanpa diayak dengan persentase masing – masing 0wt%, 3wt%, 6wt%, 9wt%, 12wt% ,15wt%. Variasi optimum terlihat pada variasi 12wt% untuk penambahan sekam tebu tanpa diayak dan 15wt% untuk penambahan sekam tebu diayak. Nilai porositas batako rata-rata normal yaitu sebesar (8,119 ± 3,866)% dan nilai densitas rata-rata (2,343 ± 0,211) gr/cm 3 , setelah penambahan sekam tebu maka terjadi perbaikan sifat porositas dan densitas yaitu (7,692 ± 2,492)% dan (2,387 ± 0,087) gr/cm 3 untuk variasi penambahan sekam tebu tanpa pengayakan, sedangkan nilai porositas dan densitas untuk penambahan variasi sekam tebu dengan pengayakan adalah (3,846 ± 0,427)% dan (2,674 ± 0,125) gr/cm 3 . Setelah melalui uji XRD terlihat pembentukan fasa baru yaitu Al0,03Fe0,15Mg1,82O6Si1,97 (Enstatite) yang diidentifikasikan memiliki pengaruh perbaikan sifat densitas batako. Berdasarkan nilai porositas dan nilai densitas diatas maka batako dengan variasi penambahan sekam tebu telah berhasil memperbaiki sifat mikroskopis batako meskipun pada penambahan sekam tebu tanpa pengayakan memiliki nilai porositas dan densitas tidak stabil. Kata Kunci : Keramik Batako, Sekam Tebu, Porositas, Densitas, XRD
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN TEMBAGA TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA REMELTING PISTON

PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN TEMBAGA TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA REMELTING PISTON

1. Berdasarkan pengkodean untuk aluminium cor yang di susun oleh the International Alloy Designation System (IADS). Klasifikasi tersebut didasarkan dari penamaan asosiasi aluminium di Amerika Serikat maka dari hasil uji komposisi kimia diatas dapat disimpulkan bahwa spesimen dari hasil pengecoran piston yang akan dijadikan sebagai bahan baku pengecoran lebih lanjut diketahui memiliki kandungan utamanya Aluminium sebesar 81% dan Silikon sebesar 18% serta dilakukan peleburan kembali pada produk aslinya kemudian menjadi ingot maka material ini diklasifikasikan sebagai aluminium seri 481.1.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Tingkat Kemurnian Bahan Baku Alumina Terhadap Temperatur Sintering dan Karakteristik Keramik Alumina

Pengaruh Tingkat Kemurnian Bahan Baku Alumina Terhadap Temperatur Sintering dan Karakteristik Keramik Alumina

* E-mail: jarot.raharjo@bppt.go.id Abstract The influences of the purity of alumina to the sintered properties of alumina have been successfully investigated. Two types of alumina i.e., α-alumina PA (99% alumina) and technical alumina were used in this research. Various temperature sintering used in this research were 1250, 1350, 1450, 1550, and 1600 0 C. The powders were prepared by using wet milling method and ethanol used as a solution in a plenetary ball mill. The green body was pressed at 12 metric ton of pressure. The shrinkage, density, porosity, hardness and fracture toughnes of the sintered pellets were measured, and the microstructure of fractures pellets was observed by SEM. From the characterization found that the temperature sintering affected to the densification and properties of alumina, and the other hand the purity of raw material can affected to the temperature sintering of alumina ceramics. The optimum properties of α-alumina PA ceramics at 1600 0 C resulted the density 3.489 gr/cm 3 , the hardness 1668 VHN, and the fracture toughness 5.774 MPa m 1/2 . However for the alumina technique ceramics resulted density level 3.082 gr/cm 3 , the hardness 999 VHN and fracture toughness 1.545 MPa m 1/2 .
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Keramik adalah sebuah bidang utama yang khusus dengan perlakuan mineral non logam oleh berbagai proses, termasuk panas, untuk menghasilkan sifat estetika atau berfaedah (Norton,1974). Salah satu jenis keramik yang sering digunakan untuk filter gas buang adalah keramik berpori. Keramik berpori adalah keramik yang sengaja dibuat mempunyai rongga-rongga kecil yang dapat dirembesi oleh fluida (porinya ~ 30 – 70%) dan berfungsi sebagai media filter. Keramik berpori ini relatif lebih tahan terhadap perubahan suhu tinggi, korosi dan kontaminasi bahan lain, sehingga dapat digunakan sebagai media filter, antara lain air limbah, gas buang, penuangan logam cair (seperti timah) dan lainnya (Sebayang, 2009).
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Pertama, penulis panjatkan atas puji dan syukur berkat rahmat Allah SWT dengan limpahan karunia-Nya skripsi ini dapat diselesaikan dengan judul “ Pembuatan dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif ”. Shalawat dan salam senantiasa dicurahkan kepada junjungan alam Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam dan para sahabatnya sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan ini, semoga syafa’at Beliau Shallallahu’alaihiwassalam dapat dirasakan dikemudian hari, Aamiin Allahumma Aamiin.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan keramik. Keramik dibuat dengan bahan dasar kaolin, alumina, debu vulkanik gunung Sinabung dan karbon aktif. Metode yang digunakan adalah dye pressing, perbandingan kaolin dan alumina (4:1) sebagai variabel tetap. Komposisi sebagai berikut (50:50:0), (50:45:5), (50:40:10), (50:35:15) dan (50:30:20). Karakterisasi keramik berpori yang telah diuji yaitu densitas 1,57-2,12gr/cm 3 ; porositas 12,19-31,24%; susut massa 7,86- 26,82%; susut bakar 14,75-20,21%; kuat tekan 8,63-38,40 MPa; kekerasan 39,32- 87,14 MPa..
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Pembuatan Dan Karakterisasi Keramik Berpori Dengan Bahan Baku Kaolin, Alumina, Debu Vulkanik Gunung Sinabung Dan Karbon Aktif.

Kekerasan adalah ketahanan material terhadap deformasi plastis yang diakibatkan tekanan. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan dan deformasi plastis. Deformasi plastis yaitu suatu keadaan dari material diberikan gaya maka struktur mikro dari material tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk semula. Lebih ringkasnya kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Pengujian ini mengacu ASTM E-18 dengan metode Vickers dengan persamaan :
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA

PENGARUH PENAMBAHAN PARTIKEL CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN ALUMINA YANG MENGANDUNG 20%BERAT SILIKA

gas sisa-sisa hasil pembakaran yang semakin besar pula. Ini berarti semakin meningkatnya po- lusi udara. Salah satu cara yang dapat dilakukan guna mengefisienkan pemakaian bahan bakar dalam menghemat pemakaian minyak bumi adalah dengan mengusahakan proses pemba- karan di dalam ruang bakar sebaik mungkin. Alasan inilah yang juga dilakukan oleh para mekanik dalam proses menghasilkan daya yang maksimal pada mesin. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memperbesar perbandingan kompresi yang akan meningkatkan angka kompresi dan tekanan pembakaran, pen- campuran atau penggunaan bahan bakar yang tepat serta dengan cara merubah sistim pengapian dalam mesin motor tersebut. Dengan usaha mem- perhatikan dan menyempurnakan para-meter yang mempengaruhinya, salah satu di-antaranya adalah pengubahan sistem pengapian dalam hal ini penggantian Koil Standart Pabrikan dengan menggunakan Koil Khusus Performance Tinggi (Koil Racing) yang hal ini dilakukan untuk memper- baiki proses pembakaran didalam ruang bakar. Terdorong keingintahuan terhadap penga- ruh penggantian Koil pada Mesin Sepeda Motor, maka dilakukan penelitian Pengaruh Penggunaan Koil Racing terhadap Unjuk Kerja pada mesin sepeda motor Honda Astrea Grand.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Pembuatan Keramik Paduan Cordierit-Alumina Sebagai Bahan Refraktori dan Karakterisasinya

Pembuatan Keramik Paduan Cordierit-Alumina Sebagai Bahan Refraktori dan Karakterisasinya

SERBUK CORDIERIT Gambar III. 1. Diagram Alir Preparasi Serbuk Cordierit Bahan baku seperti Pasir kuarsa Sukabumi (SiO2), Magnesit (MgCO 3 ) dari Tuban, dan alumina teknis Al 2 O 3 ditimbang sesuai komposisi 2 mol MgO : 2 mol Al 2 O 3 : 5 mol SiO 2 . Kemudian dicampur dengan air dengan perbandingan total berat serbuk : berat air adalah 1 : 1, dan dicampur menggunakan Ball Mill untuk selama 24 jam agar terjadi pencampuran sekaligus penghalusan. Selanjutnya setelah dilakukan Ball Mill , sampel dikeringkan dalam lemari oven pada suhu 100 o C selama 24 jam.

102 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...