Top PDF PENGARUH KONSENTRASI CUKA KAYU DARI TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KUALITAS IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus)

PENGARUH KONSENTRASI CUKA KAYU DARI TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KUALITAS IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus)

PENGARUH KONSENTRASI CUKA KAYU DARI TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KUALITAS IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus)

Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah E.coli mengalami peningkatan seiring dengan lamanya waktu penyimpanan dan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan konsentrasi cuka kayu. Namun, masih ada sejumlah E.coli pada tubuh ikan yang terus hidup sehingga jumlahnya terus bertambah jika terus disimpan, seperti terlihat pada konsentrasi cuka kayu 25% dan 50%. Jumlah E.coli pada konsentrasi cuka kayu 75% cenderung tetap, yaitu < 3 APM/g hingga waktu penyimpanan 3 minggu dikarenakan jumlah senyawa fenol dan asam asetat yang lebih banyak. Adapun batasan maksimum cemaran E.coli pada ikan segar adalah < 3 APM/gram (SNI 7388-2009), sehingga ikan tersebut layak dikonsumsi. Selain itu kadar air ikan dengan konsentrasi cuka kayu 75% cenderung lebih sedikit dibandingkan kadar air ikan dengan konsentrasi cuka kayu 25% dan 50% sehingga bakteri tidak dapat hidup dengan baik. Oleh karena itu, cuka kayu dengan konsentrasi 75% dapat dikatakan lebih efektif dalam mengawetkan ikan gabus. Jumlah E.coli pada ikan gabus yang disimpan selama 2 (dua) hari tanpa diawetkan lebih besar dibandingkan dengan jumlah E.coli pada ikan gabus yang disimpan dengan selama 3 (tiga) minggu diawetkan dengan cuka kayu dari tempurung kelapa konsentrasi 75%, hal ini menunjukkan bahwa fenol dan asam asetat merupakan senyawa anti bakteri. Demikian juga pH cuka kayu yang rendah berperan menghambat adanya aktivitas bakteri. Ditunjang pendapat Hollenbeck (1978) dalam Luditama (2006), asap cair mempunyai sifat anti bakterial, mudah diaplikasikan dan lebih aman dari asam konvensional dan fraksi tar yang mengandung hidrokarbon aromatik dapat dipisahkan, sehingga produk asap cair bebas polutan dan karsinogenik.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Pengasapan Dengan Variasi Konsentrasi Liquid Smoke Tempurung Kelapa Yang Berbeda Terhadap Kualitas Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forsk) Asap

Pengaruh Pengasapan Dengan Variasi Konsentrasi Liquid Smoke Tempurung Kelapa Yang Berbeda Terhadap Kualitas Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forsk) Asap

Nilai kadar fenol sangat dipengaruhi oleh konsentrasi asap cair. Angka terbesar kadar fenol terdapat pada ikan bandeng asap dengan konsentrasi asap cair yang paling besar, yaitu konsentrasi A 3 . Menurut Kusumaningrum dan Sutono (2008), hasil penelitian menunjukan terjadinya kenaikan kadar fenol sejalan dengan semakin meningkatnya konsentrasi asap cair yang diberikan. Begitu juga waktu perendaman yang semakin lama memberikan hasil yang lebih tinggi terhadap kadar fenol. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kartikarini (2004), menyebutkan bahwa semakin lama waktu pencelupan dalam liquid smoke akan semakin banyak komponen asap yang melekat pada daging ikan yang berarti bahwa banyak sedikitnya komponen asap yang melekat pada daging ikan terutama fenol ditentukan oleh konsentrasi asap cair yang digunakan serta lamanya perendaman.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Briket Arang Dari Campuran Tempurung Kelapa  dan Serbuk Gergaji Kayu Sengon

Pembuatan Briket Arang Dari Campuran Tempurung Kelapa dan Serbuk Gergaji Kayu Sengon

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki potensi dalam pengembangan energi terbarukan berupa energy biomassa dari briket tempurung kelapa. Briket ini merupakan hasil pengolahan limbah biomasa, diantaranya tempurung kelapa dan serbuk kayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu, konsentrasi perekat dan komposisi bahan baku terhadap nilai kalor briket. Bahan yang digunakan antara lain serbuk gergaji sengon, tempurung kelapa, tepung tapioka, aquadest. Alat yang digunakan kiln drum, alat pengempa briket, bom kalorimeter, oven, alat screening. Variabel berubah dalam percobaan adalah komposisi bahan baku dan kadar perekat. Langkah penelitian dilakukan dengan pengarangan bahan baku, pencampuran komposisi bahan baku dengan variabel perekat, pencetakan dan pengempaan, uji coba nilai kalor, terakhir analisa data. Hasil pengujian nilai kalor briket bahwa semakin banyak komposisi bahan yang memiliki kalor lebih tinggi maka nilai kalor campuran briket akan semakin tinggi. Nilai kalor briket sampel tidak memenuhi syarat untuk briket arang buatan Amerika, Inggris, dan Jepang namun diantaranya memenuhi syarat standar nasional Indonesia. Penambahan perekat dalam pembuatan briket tempurung kelapa dimaksudkan agar partikel arang saling berikatan dan tidak mudah hancur, namun penambahan perekat yang berlebih akan menurunkan kualitas briket, semakin tinggi kadar perekat maka nilai kalor akan berkurang.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGAWETAN BAMBU WULUNG DENGAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA TERHADAP MORTALITAS RAYAP KAYU KERING

PENGARUH PENGAWETAN BAMBU WULUNG DENGAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA TERHADAP MORTALITAS RAYAP KAYU KERING

Barly, dkk. (2010) melakukan penelitian tentang keefek- tifan campuran garam temabaga-khromium-boron terhadap rayap dan jamur perusak kayu. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengevaluasi toksisitas formula garam tembaga – khro- mium - boron terhadap serangan rayap dan jamur perusak kayu. Dalam penelitian itu digunakan bahan kimia kualitas teknis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan pengawet yang digunakan sangat efektif mencegah serangan rayap tanah dan rayap kayu ke- ring. Keefektifan ditunjukkan oleh tingkat mortalitas rayap 100% pada konsentrasi 1% dan retensi lebih dari 5.30 kg/m3. Namun demikian terhadap jamur pelapuk kayu Schizophyllum commune konsentrasi efektif diperoleh pada larutan 7,5% dan retensi di atas 30 kg/m3.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PEMBUATAN PATTY BURGER IKAN PARI ( Dasyatidae ) (KAJIAN KONSENTRASI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DAN LAMA PENGERINGAN) SKRIPSI

PEMBUATAN PATTY BURGER IKAN PARI ( Dasyatidae ) (KAJIAN KONSENTRASI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DAN LAMA PENGERINGAN) SKRIPSI

Komoditas perikanan dikenal sebagai bahan pangan yang tergolong mudah dan cepat mengalami penurunan mutu. Ikan pari memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, protein ikan pari mencapai 16.86 %, mineral secara umum memiliki kandungan yang tinggi, disamping itu ikan pari juga memiliki kadar lemak rendah sehingga ikan pari ini aman untuk dikonsumsi bagi penderita kolestrol. Sehubungan dengan hal itu, pada penelitian ini akan dilakukan optimalisasi teknik proses pemanfaatan ikan pari dengan mengubahnya menjadi patty burger ikan pari yang bergizi tinggi dan pada akhirnya diperkirakan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Pada dasarnya produk patty burger ini memiliki kendala pada masa simpan, masa simpan patty burger ini termasuk pendek dikarenakan patty burger mengandung kadar air dan protein yang sangat tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukan perlakuan khusus yaitu dengan mengkombinasi penambahan asap cair tempurung kelapa dan lama pemanasan pada produk olahan patty burger. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik konsentrasi asap cair tempurung kelapa dan lama pengeringan terhadap kualitas fisikokimia, mikrobiologi, dan organoleptik sehingga dihasilkan patty burger ikan pari dengan kualiatas baik dan disukai oleh konsumen serta untuk memngetahui pengaruh konsentrasi asap cair tempurung kelapa terhadap pertumbuhan mikroba selama penyimpanan pada suu kamar dan suhu refreigerator.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Bubuk Asap Cair Tempurung Kelapa (Cocos Nucifera Linn) Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Bandeng Presto Asap

Pengaruh Konsentrasi Bubuk Asap Cair Tempurung Kelapa (Cocos Nucifera Linn) Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Bandeng Presto Asap

Selama penyimpanan juga terjadi peningkatan jumlah mikroorganisme, sehingga menyebabkan kadar air menjadi semakin meningkat dan mempercepat kerusakan produk. Menurut Gandi (2013) kerusakan bandeng presto yang diakibatkan oleh bakteri antara lain adalah kehilangan warna dan rupa seperti warna kusam, bau tengik dan busuk, rasa dan teksturnya berair dan lembek. Penyebab bakterinya seperti Pseudomonas Sp, Chromobacterium dan Vlavo bacterium. Nilai kadar air bandeng presto asap berkisar antara 55,03%-62,9%. Menurut SNI 2725.1-2009, batas maksimum kadar air ikan asap adalah 60%, sedangkan dalam penelitian ini pada perlakuan konsentrasi bubuk asap cair 0% dan lama penyimpanan 0 hari kadar air sebesar 60,22%, konsentrasi bubuk asap cair 0% dan lama penyimpanan 4 hari dan konsentrasi bubuk asap cair 5% dan lama penyimpanan 4 hari kadar air sebesar 62,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pada penelitian terdapat 3 sampel yang masih belum memenuhi SNI kadar air ikan asap.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH REDESTILASI  CUKA KAYU  GALAM (Melaleuca leucadendron Linn) TERHADAP PENGAWETAN IKAN

PENGARUH REDESTILASI CUKA KAYU GALAM (Melaleuca leucadendron Linn) TERHADAP PENGAWETAN IKAN

Salah satu bahan yang dapat dipakai sebagai pengawet alami adalah cuka kayu. Beberapa penelitian tentang pengawetan pangan menggunakan cuka kayu telah dilakukan. Yulistiani, et al., (1997) telah meneliti kemampuan penghambatan cuka kayu terhadap pertumbuhan bakteri patogen dan perusak pada lidah sapi. Komponen utamanya adalah asam asetat, 2-furankarboksaldehid dan fenol (Pujilestari, 2008). Untuk mendapatkan asap yang baik sebaiknya menggunakan kayu keras seperti kayu bakau, kayu rasamala, serbuk dan gergajian kayu jati serta tempurung kelapa sehingga diperoleh produk asapan yang baik (Edinov et al., 2013). Hal tersebut dikarenakan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu keras akan berbeda komposisinya dengan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu lunak. Pada umumnya kayu keras akan menghasilkan aroma yang lebih unggul, lebih kaya kandungan aromatik dan lebih banyak mengandung senyawa asam dibandingkan kayu lunak (Girard, 1992). Kayu galam termasuk salah satu jenis kayu keras. Cuka kayu merupakan cairan berwarna coklat pekat yang diperoleh dari proses destilasi asap dalam pembuatan arang kayu galam.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

View of PENGARUH KONSENTRASI BUBUK ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA (Cocos nucifera linn) DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS BANDENG PRESTO ASAP

View of PENGARUH KONSENTRASI BUBUK ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA (Cocos nucifera linn) DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS BANDENG PRESTO ASAP

Selama penyimpanan juga terjadi peningkatan jumlah mikroorganisme, sehingga menyebabkan kadar air menjadi semakin meningkat dan mempercepat kerusakan produk. Menurut Gandi (2013) kerusakan bandeng presto yang diakibatkan oleh bakteri antara lain adalah kehilangan warna dan rupa seperti warna kusam, bau tengik dan busuk, rasa dan teksturnya berair dan lembek. Penyebab bakterinya seperti Pseudomonas Sp, Chromobacterium dan Vlavo bacterium. Nilai kadar air bandeng presto asap berkisar antara 55,03%-62,9%. Menurut SNI 2725.1-2009, batas maksimum kadar air ikan asap adalah 60%, sedangkan dalam penelitian ini pada perlakuan konsentrasi bubuk asap cair 0% dan lama penyimpanan 0 hari kadar air sebesar 60,22%, konsentrasi bubuk asap cair 0% dan lama penyimpanan 4 hari dan konsentrasi bubuk asap cair 5% dan lama penyimpanan 4 hari kadar air sebesar 62,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pada penelitian terdapat 3 sampel yang masih belum memenuhi SNI kadar air ikan asap.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Ukuran Serbuk dan Penambahan Tempurung Kelapa Terhadap Kualitas Pelet Kayu Sengon

Pengaruh Ukuran Serbuk dan Penambahan Tempurung Kelapa Terhadap Kualitas Pelet Kayu Sengon

Hasil uji ultimat pada Tabel 2 menunjukkan dengan penambahan partikel tempurung kelapa 75% pada pelet sengon memberikan penurunan yang signifikan terhadap kadar sulfur yaitu sebesar 42,86%, yaitu dari 0,07% menjadi 0,04%. Kadar sulfur tertinggi pada pelet kontrol (0%) dan terendah pada pelet dengan penambahan tempurung kelapa sebanyak 75%. Hal ini disebabkan karena kadar sulfur pada tempurung kelapa lebih rendah yaitu sebesar 0%, sedangkan kadar sulfur sengon sebesar 0,08% (Singh et al. 2012; Acda 2015). Analisis ultimat berguna untuk memprediksi unsur-unsur yang menyebabkan peningkatan emisi berbahaya (SOx dan NOx) (Miranda et al. 2015). Sulfur yang terkandung pada bahan bakar biomasa padat membentuk gas SO 2 (sampai batas tertentu gas SO 3 ) dan alkali. Residu sulfur dalam gas pembakaran berupa aerosol dan dalam bentuk gas berupa SO 2 . Emisi SO 2 tidak signifikan untuk pembakaran bahan biomasa (kayu) karena kadar S pada biomasa yang rendah, masalah terkait emisi jika kadar S di atas 2% (dry basis). Hal penting terkait kadar sulfur adalah masalah korosi yang disebabkan oleh kadar sulfur yang tinggi. Konsentrasi SO 2 yang tinggi dalam gas pembakaran (flue gas) menyebabkan sulfasi alkali, dengan penurunan suhu gas pembakaran (flue
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu dan Waktu Pengarangan Terhadap Kualitas Briket Arang dari Limbah Tempurung Kelapa Sawit

Pengaruh Suhu dan Waktu Pengarangan Terhadap Kualitas Briket Arang dari Limbah Tempurung Kelapa Sawit

Kebutuhan energi yang terus me- ningkat dan semakin terbatasnya energi fosil yang berasal dari minyak dan gas bumi memerlukan upaya-upaya untuk mencari energi dari sumber lain. Dengan potensi limbah tempurung kelapa sawit yang demikian besar, maka pemanfaatannya sebagai briket arang merupakan suatu alternatif pengganti energi yang berasal dari minyak dan gas. Tempurung kelapa sawit mempunyai karakteristik warna hitam keabuan, bentuk tidak beraturan dan memiliki kekerasan cukup tinggi.

10 Baca lebih lajut

Pengaruh konsentrasi isolat protein kedelai terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik nugget ikan gabus (Channa striata)

Pengaruh konsentrasi isolat protein kedelai terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik nugget ikan gabus (Channa striata)

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Konsetrasi Isolat Protein Kedelai terhadap Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Nugget Ikan Gabus (Channa striata)” yang ditulis oleh Faustina Averina Wiyono (6103014028), telah diujikan pada tanggal 6 November 2018 dan dinyatakan lulus oleh Tim Penguji.

14 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM PADA PROSES PERENDAMAN TULANG IKAN GABUS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN LEM

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM PADA PROSES PERENDAMAN TULANG IKAN GABUS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN LEM

yang terbuat dari ekstraksi kulit maupun tulang ikan yang mengandung kolagen, yang dapat dihidrolisis dalam air panas dan asam encer untuk membentuk lem ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pelarut pada saat perendaman terhadap kualitas lem dari tulang ikan gabus. Metode yang digunakan dalam pembuatan lem tulang ikan gabus dalam penelitian ini adalah tahap persiapan bahan, tahap perendaman larutan asam dan larutan kapur, ekstraksi, dan pemekatan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan dua variabel bebas yaitu jenis pelarut (CH 3 COOH dan H 3 PO 4 ) dan
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pembuatan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Sawit dan Serbuk Kayu Gergajian Campuran

Pembuatan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Sawit dan Serbuk Kayu Gergajian Campuran

Proses aktivasi dilakukan dengan cara mengalirkan gas panas hasil penguraian larutan H3PO4 masing-masing dengan konsentrasi 7,5; 10 dan 12,5% selama 90 menit pada laju alir gas sebesar 0,05 kg/jam (Gambar 1). Kualitas arang aktif yang diuji, yaitu rendemen, kadar air, abu, zat terbang, karbon, daya serap terhadap yodium dan benzena. Kualitas arang aktif yang terbaik diuji cobakan untuk membersihkan dan menjernihkan air sumur yang berwarna kuning, dan air yang telah dijernihkan diuji kualitasnya dengan cara dianalisa warna, pH dan kandungan logam Fe, Zn dan Mn menurut prosedur yang ditetapkan Anonim (1990).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI SERBUK GERGAJI KAYU DAN TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES KARBONISASI

PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI SERBUK GERGAJI KAYU DAN TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES KARBONISASI

Masalah energi tidak lepas dari kehidupan manusia. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan pola hidup manusia dan semakin banyaknya industri yang berkembang mengakibatkan permintaan akan kebutuhan energi terus meningkat, sedangkan ketersediaaan cadangan energi semakin menipis. Hal ini berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak dunia khususnya minyak tanah di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan ramah lingkungan sebagai pengganti minyak tanah untuk industri kecil dan rumah tangga. Salah satunya energi alternatif tersebut adalah penggunaan briket dari limbah biomassa berupa serbuk gergaji kayu dan tempurung kelapa.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Gula dan Ragi Dalam Pembuatan Cuka Dari Rosella (Hibiscus sabdariffa.L) Terhadap Mutu Cuka Rosella

Pengaruh Konsentrasi Gula dan Ragi Dalam Pembuatan Cuka Dari Rosella (Hibiscus sabdariffa.L) Terhadap Mutu Cuka Rosella

Penambahan gula terhadap fermentasi rosella menjadi cuka rosella memberikan nilai pH cuka rosella yang dihasilkan berbeda. Adanya pengaruh penambahan gula terlihat dari hasil pH cuka yang berbeda dimana pH terendah pada penambahan gula 2 5 % . p H m e r u p a k a n f a k t o r y a n g mempengaruhi fermentasi. pH awal ekstrak bunga rosella 5,43 atau cenderung asam dan mengalami penurunan setelah melalui fermentasi. Rosella mengandung asam askorbat yang cukup tinggi. Wirjatmadi. (2008) menyatakan bahwa kandungan asam askorbat bunga rosella 260-280 mg/100 g bahan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI SERBUK GERGAJI KAYU DAN TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES KARBONISASI

PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI SERBUK GERGAJI KAYU DAN TEMPURUNG KELAPA DENGAN PROSES KARBONISASI

Masalah energi tidak lepas dari kehidupan manusia. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan pola hidup manusia dan semakin banyaknya industri yang berkembang mengakibatkan permintaan akan kebutuhan energi terus meningkat, sedangkan ketersediaaan cadangan energi semakin menipis. Hal ini berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak dunia khususnya minyak tanah di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan ramah lingkungan sebagai pengganti minyak tanah untuk industri kecil dan rumah tangga. Salah satunya energi alternatif tersebut adalah penggunaan biobriket dari limbah biomassa berupa serbuk gergaji kayu dan tempurung kelapa. Pada penelitian ini, biobriket dihasilkan melalui proses karbonisasi serbuk gergaji kayu dan tempurung kelapa pada temperatur 500oC selama 60 menit dengan ukuran briket 60 mesh sehingga diperoleh arang serbuk gergaji kayu dan tempurung kelapa yang selanjutnya dicetak menjadi biobriket. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan komposisi bahan serbuk gergaji kayu dan tempurung kelapa yang digunakan. Untuk mengetahui kualitas biobriket dilakukan analisa proksimat dan kadar sulfur. Berdasarkan hasil analisa disimpulkan bahwa semakin kecil kandungan komposisi serbuk gergaji kayu terhadap tempurung kelapa maka kadar air (total moisture), kadar abu (ash content), kadar zat terbang (volatile matter) dan total sulfur biobriket menurun sedangkan kadar karbon padat (fixed carbon) dan nilai kalornya (calorific value) meningkat atau sebaliknya Semakin besar kandungan komposisi serbuk gergaji kayu terhadap tempurung kelapa maka kadar air (total moisture), kadar abu (ash content), dan kadar zat terbang (volatile matter) dan total sulfur biobriket meningkat, sedangkan kadar karbon padat (fixed carbon), nilai kalornya (calorific value) menurun.Dari hasil penelitian, briket dengan kondisi optimum terdapat pada briket dengan kandungan komposisi 10% Serbuk Gergaji Kayu : 90% Tempurung Kelapa karena memberikan hasil yang terbaik yaitu kadar air sebesar 10,25% ; kadar abu sebesar 2,72% ; kadar zat terbang sebesar 29,63% ; kadar karbon padat sebesar 57,40% ; nilai kalor sebesar 6504 kcal/kg dan kandungan sulfur sebesar 0,08%.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kelimpahan dan Keanekaragaman Ikan Karang pada Tempurung Kelapa sebagai Fish Aggregating Device

Kelimpahan dan Keanekaragaman Ikan Karang pada Tempurung Kelapa sebagai Fish Aggregating Device

Hal lain yang juga mempengaruhi nilai indeks keanekaragaman adalah dari faktor aktivitas penangkapan ikan yang mulai menurun di sekitar lokasi penempatan FAD. Ini terbukti dari pengamatan dan komunikasi dengan masyarakat serta nelayan sekitar, sehingga nilai yang di dapatkan memiliki kategori yang cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pardede pada tahun 2012, di dapatkan nilai indeks keanekaragaman ikan karang yang terdapat di FAD adalah sebesar 1,68, ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keanekaragaman ikan karang pada lokasi FAD. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi FAD yang masih belum di penuhi seluruhnya oleh alga ataupun hewan karang, sehingga peningkatan keanekaragaman ikan karang dipengaruhi juga oleh pertambahan umur dan lamanya FAD di perairan. Meningkatnya kelimpahan dan keanekaragaman ikan karang pada FAD berbahan tempurung kelapa ini juga di pengaruhi oleh ukuran rongga dari susunan tempurung kelapa. Beberapa studi menunjukkan bahwa ukuran rongga (hole size) dan jumlah mempengaruhi assemblages (Bortone dan Kimmel, 1991 yang diacu dalam Mayasari, 2008). Menurut Shulman (1984) menyatakan bahwa rongga mampu menghindarkan ikan dari predator, meningkatkan rekrut juvenile, jumlah spesies dan densitas total ikan.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Pengeringan Vakum Terhadap Kualitas Serbuk Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus Striatus)

Pengaruh Suhu Pengeringan Vakum Terhadap Kualitas Serbuk Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus Striatus)

Berdasarkan Tabel 13. dapat diketahui bahwa kadar asam amino tertinggi pada serbuk albumin ikan gabus adalah L-Glycine sebesar 5,437% dan sebesar L-Glutamic Acid 2,498%. Tingginya asam amino glisin diduga adanya kandungan kolagen yang berasal dari tulang dan kulit ikan gabus yanng masih melekat pada daging. Menurut Hidayat (2011), secara umum protein tidak banyak mengandung glisin. Pengecualiannya ialah pada kolagen yang dua per tiga dari keseluruhan asam aminonya adalah glisin. Glisin merupakan asam amino nonesensial bagi manusia. Glisin berperan dalam sistem saraf sebagai inhibitor neurotransmiter pada sistem saraf pusat (CNS).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Pengawet Kayu Karet Dari Serangan Rayap Tanah

Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Pengawet Kayu Karet Dari Serangan Rayap Tanah

Perlakuan asap cair sebagai pengawet kayu dengan metode kombinasi lebih efektif dalam mencegah serangan rayap tanah. Semakin besar retensi asap cair yang masuk ke dalam kayu maka kayu semakin awet dengan rata-rata retensi tertinggi terdapat pada penambahan borax 6% asap cair 30% sebesar 27.68 kg/m³. Pada uji mortalitas terhadap rayap tanah penambahan borax 2% asap cair 20% menunjukkan tingkat mortalitas sebesar 100% dengan demikian penambahan asap cair pada contoh uji mampu memberikan perlindungan yang baik dari serangan rayap tanah. Semakin besar konsentrasi asap cair yang masuk ke dalam kayu maka kehilangan berat semakin menurun. Hal ini disebabkan karena senyawa asam dan fenol terpenetrasi sepenuhnya ke dalam tubuh rayap. Kehilangan berat tertinggi terdapat pada uji kontrol yaitu sebesar 8.91% hal ini karena perlakuan kontrol tidak mendapat perlakuan bahan pengawet. Sedangkan kehilangan berat terendah terdapat pada penambahan borax 6% asap cair 30% yaitu sebesar 0.52%. Semakin besar mortalitas rayap tanah maka semakin kecil kehilangan berat pada contoh uji. Kehilangan berat contoh uji merupakan salah satu indikator untuk menentukan keawetan suatu jenis kayu. Semakin tinggi kehilangan berat kayu berarti kayu semakin tidak awet begitu juga sebaliknya. Perlakuan pengawetan dengan menggunakan asap cair sebagai bahan pengawet kayu dapat meningkatkan kelas awet V menjadi kelas awet II pada konsentrasi borax 2% dan asap cair 10%, termasuk kategori tahan (resistant). Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi asap cair kehilangan berat (mg) contoh uji semakin menurun. Apabila konsentrasi asap cair ditingkatkan dengan pencampuran borax 4% asap cair 20%, kelas awet V meningkat menjadi kelas awet I termasuk kategori sangat tahan (Highly resistant). Pada kayu karet yang diawetkan dengan menggunakan borax 2% asap cair 30% menunjukkan rata-rata derajat proteksi yang efektif dan maksimal yaitu sebesar 100. Semakin tinggi rata-rata derajat proteksi, semakin baik pula kemampuan bahan pengawet tersebut mencegah serangan rayap tanah.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects