Top PDF Perkembangan Tindak Pidana Korupsi Masa Kini dan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Perkembangan Tindak Pidana Korupsi Masa Kini dan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Perkembangan Tindak Pidana Korupsi Masa Kini dan Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Pelaksanaan pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi juga tidak serta merta dapat begitu saja dilakukan, karena menunggu pembayaran uang pengganti dari para terpidana kasus korupsi yang memerlukan waktu cukup lama, pengembalian uang pengganti ke kas negara tidak dapat langsung dilakukan, karena harus ada prosedur birokrasi yang dilewati, sehingga membutuhkan waktu untuk pengembalian kerugian keuangan negara ke kas negara bagi kesejahteraan rakyat. Ancaman pidana dalam ketentuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 terhadap koruptor dapat berupa pidana penjara dan juga pidana denda. Sebagai upaya memaksimalkan pengembalian keuangan negara yang dikorupsi oleh para koruptor, maka dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 juga mengetengahkan konsep “upaya pengembalian kerugian keuangan negara” yakni dalam ketentuan Pasal 18 sebagai salah satu pidana tambahan. Hal ini juga telah diamanatkan dalam ketentuan Bab V UNCAC 2003 tentang Asset Recovery yang telah di sahkan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi 2003). Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia memerlukan perhatian lebih. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi perhatian Internasional, Oleh sebab itu, perlu adanya penanganan khusus. Salah satu contoh kasus yang menyita perhatian masyarakat Maluku adalah Dalam putusan PN Ambon Nomor 23/Pid.SUS/TPK /2015/PN.Amb Tahun 2016 tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh WILLIAM BATHMIR, S.Ap. Dalam Dakwaan Primair menyatakan Terdakwa WILLIAM BATHMIR, S.Ap. telah terbukti
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

KESIMPULAN DAN SARAN SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

1. Penjatuhan sanksi pidana pengganti sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara dalam tindak pidana korupsi hendaknya dilakukan secara represif. Hal ini untuk memberikan efek paksa kepada terpidana agar mau membayar uang pengganti dengan tetap menjunjung tinggi asas kepastian hukum, asas manfaat dan asas keadilan demi harkat dan martabat kemanusiaan.

5 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA SEBAGAI ALASAN MERINGANKAN PENJATUHAN PIDANA (Studi Kasus Putusan di Tindak Pidana Korupsi)

KAJIAN YURIDIS PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA SEBAGAI ALASAN MERINGANKAN PENJATUHAN PIDANA (Studi Kasus Putusan di Tindak Pidana Korupsi)

Menitikberatkan kepada Pasal 4 UU No 31 tahun 1999 Jo. UU No. 20 tahun 2001 tentang pemberantasan Tindak pidana korupsi, penegak hukum umumnya akan berpendapat, dalam hal pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan pasal 3 telah memenuhi unsur-unsur pasal dimaksud, maka pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara, tidak menghapuskan pidana terhadap pelaku tindak pidana tersebut. Ketentuan Pasal 4 dimaksud pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana. Meskipun pelaku tindak pidana korupsi itu telah mengembalikan keuangan negara yang telah ia korupsi sebelum putusan pengadilan dijatuhkan, proses hukumnya tetap berjalan karena tindak pidananya telah terjadi, namun demikian pengembalian keuangan negara yang telah dinikmati oleh Tersangka/Terdakwa dapat menjadi salah satu faktor yang meringankan hukuman bagi terdakwa saat hakim menjatuhkan putusan. pengembalian tersebut, berarti ada iktikad baik untuk memperbaiki kesalahan, tidak mempersulit dari segi biaya, waktu, tenaga dan pikiran negara. Pengembalian yang juga dianggap sebagai pengakuan bersalah Tersangka/Terdakwa.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Penguatan Sistem Pembuktian Terbalik Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Perkara Pokok Tindak Pidana Korupsi Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

Penguatan Sistem Pembuktian Terbalik Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Perkara Pokok Tindak Pidana Korupsi Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara

digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan sistem dan mekanisme pembuktian terbalik terhadap TPPU masih belum optimal dilakukan oleh aparat penegak hukum. Berbagai kendala ditemui dalam bekerjanya sistem pembuktian terbalik. Ketidakjelasan pengaturan sistem pembuktian terbalik, ketidaktaatan asas serta ketiadaan hukum acara dalam UU TPPU, menyebabkan penerapannya belum efektif, bias dan menimbulkan kontradiksi. Di sisi lain, struktur kelembagaan aparat penegak hukum belum berlaku sinergis, khususnya dalam kegiatan mengungkap kejahatan asal serta lemahnya penelusuran aset (asset tracing) yang berdampak minimnya pengembalian kerugian negara. Praktik peradilan selama ini, tidak mengutamakan pidana asalnya, dakwaan pencucian uang lepas dari tindak pidana asalnya. Penelusuran aset juga belum memaksimalkan pengumpulan alat bukti terkait dengan tindak pidana asal. Faktor budaya hukum juga belum mendukung bekerjanya sistem penegakan hukum, disebabkan masih rendahnya kesadaran dan kejujuran masyarakat, termasuk aparat penegak hukum. Terkait dengan berbagai kendala yang ditemui, disampaikan rekomendasi, antara lain; perlu dirumuskan pendekatan in rem dan illicit enrichment dalam UU TPPU dan UU PTK. Hal ini sangat bermanfaat dalam proses pembuktian terbalik. Harus ada hukum acara yang mengatur tentang prosedur, mekanisme serta konsekuensi hukum penerapan sistem pembuktian terbalik, baik bagi terdakwa maupun penuntut umum. Pada aspek kelembagaan penegakan hukum, harus diberdayakan fungsi asset tracing dengan daya dukung audit investigatif. Keberadaan standar baku yang jelas dalam fungsi koordinasi dan supervisi yang dilakukan oleh KPK dalam membentuk keseragaman pemberantasan TPPU dan korupsi juga mutlak ada. Dalam hal penguatan budaya hukum terhadap aparat penegak hukum dilakukan dengan menerapkan fungsi reward dan punishment. Adapun untuk masyarakat luas dilakukan upaya sosialisasi dan edukasi yang kontinyu dan berdayaguna dengan melibatkan semua elemen yang terkait.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Kewenangan kejaksaan terhadap tindak pidana korupsi atas kerugian keuangan negara

Kewenangan kejaksaan terhadap tindak pidana korupsi atas kerugian keuangan negara

Penghentian penyidikan ditutup demi hukum karena perkara tersebut 1) nebis in idem seseorang tidak dapat lagi dituntut untuk kedua kalinya atas dasar perbuatan yang sama, terhadap perbuatan seseorang yang telah pernah diadili dan telah diputus perkaranya oleh hakim atau pengadilan, baik putusan itu berupa pemidanaan, pembebasan, ataupun pelepasan dari tuntutan hukum, yang telah putus dan memeperoleh keputusan hukum tetap, maka dari itu seseorang tersebut tidak lagi dapat dilakukan pemeriksaan, penuntutan dan peradilan untuk kedua kalinya atas peristiwa yang yang sama. 2) Tersangka meninggal dunia, meninggalnya tersangka, dengan sendirinya penyidikan harus menghentikan, hal ini sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku secara universal, yaitu bahwa kesalahan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh seseorang akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pelaku yang bersangkutan, prinsip hukum ini adalah penegasan pertanggungjawaban dalam hukum pidana, yang mengajarkan bahwa tanggung jawab seseorang pada perbuatan korupsi, hanya ditimpakan atau ditanggung kepada si pelaku tindak pidana korupsi dan tanggungjawab pemidanaan tidak dapat dialihkan atau dipindahkan kepada orang lain atau ahli waris, maka dengan meninggalnya tersangka, penyidikan dengan sendirinya berhenti dan hapus menurut hukum. 3) Kadaluarsa, Setelah melampaui tenggang waktu tertentu, terhadap suatu tindak pidana tidak dapat dilakukan penuntutan dengan alasan tindak pidana tersebut telah melewati batas waktu atau daluwarsa, sebagaimana dimaksud dalam, (Pasal 78 KUHP) bahwa : 1) semua pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan dengan percetakan sesudah satu tahun, 2) mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana denda, pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama tiga tahun, sesudah enam tahun 3) mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana penjara
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Penentuan Kerugian Keuangan Negara yang Dilakukan oleh BPK dalam Tindak Pidana Korupsi

Penentuan Kerugian Keuangan Negara yang Dilakukan oleh BPK dalam Tindak Pidana Korupsi

BPK dalam penilaian materialitasnya tidak hanya menggunakan konsep materialitas kuantitatif saja, hal ini dikarenakan meskipun tingkat materialitasnya kecil dari segi kuantitatif, akan tetapi suatu kerugian negara dapat masuk ke dalam tindak pidana korupsi jika terdapat salah saji material kualitatif. BPK menggunakan dua konsep di atas karena titik kunci pembagian kerugian negara masuk ke tindak pidana korupsi atau tidak dilihat dari apakah terdapat unsur-unsur tindak pidana korupsi pada kasus kerugian negara tersebut. Unsur-unsur tindak pidana korupsi tidak dapat terlihat jika menilai materialitas hanya dari konsep materialitas kuantitatif saja. Sedangkan jika menggunakan konsep materialitas kualitatif maka akan ada faktor pertimbangan bagi pemeriksa untuk menentukan tingkat materialitas. Faktor yang dimaksud adalah berupa tingkat kepentingan para pihak terhadap objek yang diperiksa serta batasan materialitas untuk penugasan pemeriksaan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pembayaran Uang  Pengganti  Sebagai Salah  Satu Bentuk Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Dalam  Tindak  Pidana  Korupsi Berdasarkan Ketentuan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi

Pembayaran Uang Pengganti Sebagai Salah Satu Bentuk Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Ketentuan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi

Di Indonesia, akibat perilaku korupsi yang tersistematis, merata, dan hampir terstruktur melembaga di seluruh lapisan masyarakat, telah berimplikasi pada timbulnya krisis ekonomi, rusaknya sistem hukum dan terhambatnya pemerintahan yang bersih dan demokratis (democratic and clean government). Korupsi sudah menjadi akar dari semua persoalan yang dihadapai bangsa ini (the root of all evils). Dengan kata lain, korupsi telah menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai suatu bentuk kejahatan biasa, tetapi sudah merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), sehingga diperlukan upaya luar biasa pula dalam penanganannya, baik dari Misalnya , lembaga ini di desain menjadi lebih otonom dan independen . Eksistensi independensi dalam proses penegakan hukum merupakan suatu wacana yang imperatif sifatnya. Jika dilihat bagi Kepolisian dan Kejaksaaan akan sulit memaksimalkan pemberantasan korupsi selama independensi dalam konteks limitatif masih dalam status sub ordinasi kekuasaan eksekutif tertinggi, sehingga terkesan adanya suatu kekuasaaan otoriter yang permessif. Dari kajian sosiologis yuridis, gangguan optimal independensi penegak hukum justru dari lingkaran internal kekuasaan, sehingga selama masih ada hubungan sub ordinasi penegak hukum dan kekuasaan tertinggi eksekutif, kegamangan kehendak penegak hukum memberantas korupsi akan selalu minimal hasilnya
Baca lebih lanjut

143 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

Dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 012-016- 019/PUU-IV/2006 yang membatalkan Pasal 53 UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengatur tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi keberadaan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Model pemberantasan korupsi yang tepat untuk dilaksanakan di Indonesia adalah perkara-perkara korupsi ditangani oleh badan tersendiri tanpa campur tangan dari lembaga penegak hukum lain, sehingga tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan, seperti yang dilaksanakan di Singapura.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Problematika Gugatan Perdata Oleh Jaksa Pengacara Negara Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Problematika Gugatan Perdata Oleh Jaksa Pengacara Negara Dalam Upaya Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa gugatan perdata oleh Jaksa Pengacara Negara untuk pengembalian kerugian keuangan Negara merupakan upaya lanjutan setelah instrumen pidana tidak sepenuhnya mengembalikan kerugian keuangan Negara dan upaya negosiasi dengan terpidana atau ahli waris terpidana tidak berhasil. Dalam pelaksaanaan gugatan perdata oleh Jaksa Pengacara Negara terkendala oleh tidak diketahui keberadaan terpidana dan juga harta kekayaan terpidana, terpidana telah jatuh miskin, terhadap asset yang disita dan telah dilakukan lelang akan tetapi tidak ada peminatnya dengan alasan lokasi tidak strategis ataupun harga yang terlalu tinggi sehingga tidak bisa untuk pengembalian kerugian keuangan Negara. Strategi kejaksaan untuk pengembalian kerugian keuangan Negara adalah optimalisasi fungsi dan tugas Kejaksaan pada bidang penyidikan dan bidang intelijen. Jaksa Pengacara Negara menghimbau terpidana atau ahli waris terpidana untuk membayar tuggakan uang pengganti, penelusuran harta kekayaan terpidana hingga ke ahli waris, melakukan blokir terhadap harta kekayaan terpidana atau ahli waris jika terpidana meninggal.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Oleh Terdakwa Kasus Tindak Pidana Korupsi Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun -2001 Tentang Peberantasan Tindak Pidana Korupsi

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Oleh Terdakwa Kasus Tindak Pidana Korupsi Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun -2001 Tentang Peberantasan Tindak Pidana Korupsi

Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi salah satu unsur Tindak Pidana Korupsi adalah adanya tindakan yang merugikan keuangan negara. Dengan adanya unsur ini maka setiap terjadi suatu korupsi pasti merugikan negara.. selain terdakwa harus menjalani pidana badan terdakwa juga harus mengembalikan kerugian keuangan negara, karena roh dari tindak pidana korupsi adalah mengembalikan kerugian keuangan negara sebanyak-banyak. Karena itu timbul suatu permasalahan, apakah pelaku tindak pidana korupsi dilingkungan Peradilan Tipikor Bengkulu selalu mengembalikan kerugian keuangan negara dan apakah pengembalian kerugian keuangan negara dijadikan dasar terhadap berat ringannya vonis yang diberikan oleh hakim. Hasil penelitian terjawab pengembalian kerugian keuangan negara yang ditangani oleh lembaga peradilan dan Kejaksaan belum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 pasal 18. Orang yang mengembalikan vonisnya lebih ringan daripada yang tidak mengembalikan kerugian negara. Untuk itu Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi lebih mengutamakan pengembalian kerugian keuangan negara daripada pemidanaan. Dan lembaga yang terkait harus berjibaku dalam memberantas korupsi agar dalam implementasinya di lapangan dapat lebih efektif dalam memberantas korupsi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI  SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI SANKSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA TERHADAP PIHAK KETIGA YANG MENERIMA HASIL TINDAK PIDANA KORUPSI.

Istilah korupsi yang telah diterima dan diserap ke dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi merupakan nomina (kata benda) diartikan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain (KBBI, Edisi Ketiga; 2005: 597). Istilah korupsi dalam dekade terakhir ini begitu populer di semua kalangan masyarakat Indonesia yang sering didengar dan diketahui dari media massa baik cetak maupun elektronik. Bagi masyarakat Indonesia istilah korupsi sudah menjadi tidak asing lagi dan menjadi pembicaraan ditengah masyarakat pada semua kalangan.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Vonis Sanksi Pidana Tambahan oleh Hakim Berupa Pengembalian Kerugian Keuangan Negara oleh Terpidana Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Denpasar

Vonis Sanksi Pidana Tambahan oleh Hakim Berupa Pengembalian Kerugian Keuangan Negara oleh Terpidana Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Denpasar

Nomor 46 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sebagai suatu produk hukum berbagai undang-undang korupsi tersebut diharapkan raampu mengemban fungsi ganda yaitu sebagai sarana represif dan sekaligus berfungsi sebagai sarana daya penangkal preventif. Namun pada kenyataannya tindak pidana korupsi tidak berkurang tetapi malah sebaliknya bagaikan fenomena gunung es. Hampir setiap hari dapat dibaca melalui liputan media massa tentang terungkapnya beberapa kasus tindak pidana korupsi yang tergolong besar (grand corruption) karena besarnya jumlah kerugian keuangan negara yang ditimbulkan oleh modus operandi kasus-kasus tersebut.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Kewenangan Penghitungan Kerugian Keuangan Negara dalam Kasus Tindak Pidana Korupsi di Indonesia

Kewenangan Penghitungan Kerugian Keuangan Negara dalam Kasus Tindak Pidana Korupsi di Indonesia

Salah satu unsur yang harus dibuktikan dalam pengungkapan kasus tindak pidana korupsi adalah unsur kerugian negara sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 dan 3 Undang-undang No 31 Tahun 1999 jo Undang-undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pembuktian mengenai besarnya kerugian negara yang diakibatkan oleh adanya tindak pidana korupsi sangat penting dalam hubungannya dengan penjatuhan pidana tambahan yaitu pembayaran uang pengganti. Menentukan keberadaan dan besarnya kerugian negara selalu menjadi perdebatan antara berbagai pihak, misalnya antara terdakwa dan pembelanya dengan jaksa penuntut umum. Setiap pihak mempunyai pendapat sendiri sendiri mengenai siapa yang berwenang dalam menentukan adanya kerugian negara beserta jumlahnya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA BERDASARKAN REKOMENDASI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) HUBUNGAN DENGAN UNSUR KERUGIAN NEGARA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI | Paeh | Katalogis 8490 27903 1 PB

PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA BERDASARKAN REKOMENDASI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) HUBUNGAN DENGAN UNSUR KERUGIAN NEGARA DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI | Paeh | Katalogis 8490 27903 1 PB

2. Agar auditor BPK, BPKP diposisikan terbatas sebagai ahli dibidangnya khusus mempertahankan hasil audit perhitungan saja sejak dimulainya penyidikan, Menambah keterangan ahli lainnya yang berkaitan dengan penerapan hukum yang paralel dengan penyimpangan daripada ketentuan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, dan lain-lain ketentuan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan sebagai akibat perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian negara. Sehingga dapat mendukung hasil temuan dan perhitungan yang dilakukan oleh auditor BPK, BPKP, selain itu memudahkan bagi Jaksa Penuntut Umum dalam menyusun surat dakwaan, sehingga dalam proses pembuktian di persidangan pengadilan tindak pidana korupsi dapat melakukan pembuktian unsur kerugian negara secara sempurna.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMBUKTIAN TERBALIK MENGENAI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MENURUT UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA KORUPSI

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PEMBUKTIAN TERBALIK MENGENAI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MENURUT UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA KORUPSI

4. Penetapan perampasan barang-barang yang telah disita dalam hal terdakwa meninggal dunia (peradilan in absentia) sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa pelaku telah melakukan tindak pidana korupsi. Penetapan hakim atas perampasan ini tidak dapat dimohonkan upaya hukum banding dan setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan tersebut dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman (Pasal 38 Ayat (5), (6), (7) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI  PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PENGEMBALIAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA MELALUI PENJATUHAN SANKSI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI.

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberkati penulis sehingga dapat menyelesaikan Penulisan Hukum / Skripsi ini yang berjudul “Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Melalui Penjatuhan Sanksi Pembayaran Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi” sebagai salah

17 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Tentang Pembuktian Terbalik Mengenai Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Menurut Undang-undang Tindak Pidana Korupsi

Tinjauan Yuridis Tentang Pembuktian Terbalik Mengenai Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Menurut Undang-undang Tindak Pidana Korupsi

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatife. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembalikan beban pembuktian dalam kaitannya dengan pengembalian kerugian keuangan negara sangat penting penerapannya dalam tindak pidana korupsi, maka keberhasilan pengembalian kerugian keuangan negara akan dapat diperoleh secara maksimal pula, dan mengenai hubungan pembuktian terbalik dengan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusannya dapat juga dikatakan masih sangat kecil pengaruhnya karena walaupun terdakwa dapat membuktikan bahwa harta benda atau harta benda istri maupun anak tidak didapat dari tindak pidana korupsi tetapi jaksa penuntut umum masih diberi kewajiban untuk membuktikan kesalahan terdakwa, yang kemungkinan telah mempengaruhi pertimbangan hakim dalam putusannya, sehingga pembuktian terbalik lemah memberikan pengaruh terhadap penjatuhan keputusan hakim (vonis).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengembalian Kerugian Negara dalam Tindak Pidana Korupsi terhadap Putusan Pengadilan yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap

Pengembalian Kerugian Negara dalam Tindak Pidana Korupsi terhadap Putusan Pengadilan yang Telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pelaku tindak pidana korupsi yang telah terbukti melakukan tindak pidana merugikan keuangan negara wajib mengembalikan kerugian keuangan negara lewat uang pengganti. Pada ayat (2) Pasal tersebut menyatakan dalam hal terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Pada ayat selanjutnya mengatakan, dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda untuk membayar uang pengganti tersebut maka dipidana dengan pidana penjara.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Berdasarkan Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (Bpk) Hubungan Dengan Unsur Kerugian Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi

Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Berdasarkan Rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (Bpk) Hubungan Dengan Unsur Kerugian Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi

2. Agar auditor BPK, BPKP diposisikan terbatas sebagai ahli dibidangnya khusus mempertahankan hasil audit perhitungan saja sejak dimulainya penyidikan, Menambah keterangan ahli lainnya yang berkaitan dengan penerapan hukum yang paralel dengan penyimpangan daripada ketentuan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, dan lain-lain ketentuan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan sebagai akibat perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian negara. Sehingga dapat mendukung hasil temuan dan perhitungan yang dilakukan oleh auditor BPK, BPKP, selain itu memudahkan bagi Jaksa Penuntut Umum dalam menyusun surat dakwaan, sehingga dalam proses pembuktian di persidangan pengadilan tindak pidana korupsi dapat melakukan pembuktian unsur kerugian negara secara sempurna.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Pengembalian Kerugian  Keuangan Negara Dengan Penanganan  Kasus Tindak Pidana Korupsi

Hubungan Antara Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Dengan Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi

Kasus hibah PERSIBA ini hanya menjerat dua pelaku saja yakni Mantan Bendahara I klub sepak bola Persiba Bantul, Dahono dan Direktur Utama PT Aulia Trijaya Mandiri Yogyakarta, Maryani. Masingmasing divonis satu tahun enam bulan penjara. Selain pidana penjara, Maryani dan Dahono masing-masing juga dihukum membayar uang denda Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan. Khusus Maryani, dia juga

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects