Top PDF Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas

Disamping itu, Pasal 97 ayat (1) UUPT tersebut di atas memberikan pedoman kepada Direksi agar di dalam mengurus perseroan selalu berorientasi pada kepentingan dan tujuan perseroan. Hal ini menurut Emmy Pangaribuan bahwa dapat diduga latar belakang adanya ketentuan itu adalah karena kepentingan perseroan serta tujuan perseroan disatu pihak suatu saat dapat tidak sejalan dengan kepentingan dan keinginan pemegang saham. Ketentuan mengenai direksi yang dalam melaksa- nakan tugasnya hanyalah untuk kepentingan serta tujuan daripada perseroan rupa-rupanya didasarkan pada paham yang oleh sementara orang disebut sebagai paham institusi atau pandangan bahwa perseroan merupakan subyek hukum yang mempu- nyai fungsi didalam masyarakat dan menjadi titik perhatian utama dari kepengurusan direksi. Demi- kian pula Pasal 97 ayat (2) yang menegaskan Pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilak-sanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. juga ter- masuk pada pandangan paham institusi yang disebut diatas. Itikad baik direksi untuk menjalankan/ mengurus perseroan secara profesional dengan Skill dan tindakan pemeliharaan semuanya dimaksudkan untuk kepentingan usaha perseroan termasuk pula kepentingan para pemegang saham.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VIEL TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS Oleh: Irawati, S.H., M.H) Irawati.irawati08gmail.com ABSTRACT - PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VIEL TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PE

PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VIEL TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS Oleh: Irawati, S.H., M.H) Irawati.irawati08gmail.com ABSTRACT - PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VIEL TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PE

Perseroan Terbatas adalah salah satu bentuk perusahaan yang banyak digunakan di Indonesia. Sebagai artificial person maka kegiatan Perseroan Terbatas dilakukan oleh Direksi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana tanggung jawab Direksi atas tindakan ultra vires yang mengakibatkan kepailitan Perseroan Terbatas dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas dan bagaimana prinsip piercing the corporate veil terhadap tanggung jawab Direksi dalam Perseroan Terbatas. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan Yuridis Normatif yang artinya bahwa penelitian mengacu kepada norma-norma hukum dan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hasil penelitian maka Tanggung Jawab atas kepailitan Perseroan dalam hal permohonan pernyataan pailit tersebut diajukan atas dasar tindakan ultra vires Anggota Direksi pada awalnya berada pada ranah tanggung jawab pribadi Anggota Direksi, karena Anggota Direksi melakukan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Personal Garansi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Personal Garansi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji dan syukur Penulis ucapan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Penulisan skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. Begitu pula shalawat beriring salam Penulis ucapkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW (Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Alihi Sayyidina Muhammad). Skripsi ini disusun guna melengkapi tugas-tugas memenuhi dan syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara dimana hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya. Adapun judul skripsi yang Penulis kemukakan: Tanggung Jawab Direksi yang bertindak sebagai Personal Garansi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT).
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Terhadap Kepailitan Perseroan Terbatas Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

Tanggung Jawab Direksi Terhadap Kepailitan Perseroan Terbatas Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab direksi atas kepailitan perseroan terbatas dan apa saja tugas dan kewenangan direksi dalam Perseroan Terbatas. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif disimpulkan: 1. Setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut. Anggota direksi tidak bertanggung jawab atas kepailitan perseroan. Sedangkan jika dilihat dari substansinya, maka tanggung jawab direksi perseroan terbatas dibedakan setidak-tidaknya menjadi empat kategori, yakni: tanggung jawab berdasarkan prinsip fiduciary duties dan duty to skill and care, tanggung jawab berdasarkan doktrin manajemen ke dalam (indoor manajement rule); tanggung jawab berdasarkan prinsip Ultra vires; dan tanggung jawab berdasarkan prinsip piercieng the corporate veil. 2. Tugas direksi menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas yaitu anggota direksi wajib melaporkan kepada perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam perseroan dan perseroan lain untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus, dengan sanksi bahwa anggota direksi yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut dan menimbulkan kerugian bagi perseroan, bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan tersebut. wewenang direksi memberikan kepadanya kekuasaan untuk membuat serta menjalankan keputusan- keputusan yang berhubungan dengan bidang tugasnya yang ditetapkan dan tanggung jawab dalam bidang tugasnya tersebut menimbulkan kewajiban baginya untuk melaksanakan tugas- tugas tersebut dengan jalan menggunakan wewenang yang ada untuk mencapai tujuan perseroan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS | Kurniawan | Mimbar Hukum 16126 30674 1 PB

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS | Kurniawan | Mimbar Hukum 16126 30674 1 PB

Sebagai kewajiban untuk melakukan keter- bukaan, Direksi (dan/atau Komisaris) bertanggung jawab penuh atas kebenaran dan keakuratan dari setiap data dan keterangan yang disediakan olehnya kepada publik (masyarakat) ataupun pihak ketiga berdasarkan perjanjian. Jika terdapat pemberian data atau keterangan secara tidak benar dan atau menyesatkan, maka seluruh anggota Direksi (dan/atau Komisaris) harus bertanggung jawab secara tanggung renteng atas setiap kerugian yang diderita oleh pihak ketiga, sebagai akibat dari pemberian data atau keterang- an yang tidak benar atau menyesatkan tersebut, kecuali dapat dibuktikan bahwa keadaan tersebut terjadi bukan karena kesalahannya. Meskipun Undang-Undang memberikan ketentuan berupa sanksi perdata yang sangat berat kepada setiap anggota Direksi Perseroan atas setiap kesalahan atau kelalaiannya, namun pelaksanaan dari pemberian sanksi itu sendiri sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan selama anggota Direksi yang bersangkutan bertindak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Para pemegang saham maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan oleh tindakan Direksi harus membuktikan apakah kerugian tersebut terjadi sebagai akibat kesalahan dan atau kelalaian Direksi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Studi Kasus Terhadap Peninjauan Kembali Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 011/PK/N/2007 tentang Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas.

Studi Kasus Terhadap Peninjauan Kembali Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 011/PK/N/2007 tentang Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas.

Organ yang paling bertanggung jawab terhadap pengurusan Perseroan adalah Direksi. Direksi dalam mengelola Perseroan wajib melakukannya dengan itikad baik untuk mencapai maksud dan tujuan Perseroan. Penerapan unsur itikad baik oleh Direksi tersebut dimungkinkan terhadap Perseroan dalam menghindari kerugian Perseroan. Selain itu juga dimungkinkan bagi Direksi untuk terlepas dari segala bentuk tanggung jawabnya terhadap Perseroan yang mengalami kerugian berdasarkan prinsip pembelaan Direksi. Dalam menjalankan tugasnya, Direksi dapat saja melakukan kesalahan atau kelalaian sehingga membawa kerugian bagi Perseroan, pemegang saham, dan kreditor Perseroan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pertanggungjawaban Direksi terhadap kreditor akibat kesalahan atau kelalaiannya dalam melakukan pengurusan Perseroan berdasarkan Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-undang Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-undang Perseroan Terbatas

Ketentuan di atas sesuai dengan ketentuan Pasal 100 ayat (1) UUPT. Kemudian dalam Pasal 101 juga dijelaskan mengenai kewajiban Direksi untuk melaporkan kepada Perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam Perseroan dan Perseroan lain untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus. Anggota Direksi yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut dan menimbulkan kerugian bagi Perseroan, bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perseroan tersebut. Sebagaimana halnya seorang pemegang kuasa yang melaksanakan kewajibannya berdasarkan kepercayaan yang diberikan oleh pemberi kuasa untuk bertindak sesuai dengan perjanjian pemberian kuasa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, demikian pula Direksi Perseroan sebagai pemegang kuasa (¿GXFLDU\ GXWLHV) dari para pemegang saham Perseroan, bertanggung jawab penuh atas pengurusan dan pengelolaan Perseroan untuk kepentingan dan tujuan Perseroan dan untuk menjalankan tugas dan kewajiban yang diberikan kepadanya dengan itikad baik sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya tersebut diatas memberikan hak kepada pemegang saham Perseroan untuk: 29
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

2. Mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar Uraian tugas direksi yang disebutkan di atas sifatnya umum, sedangkan rincian lengkapnya termasuk pembatasannya lazim diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan yang bersangkutan. Hal demikian sesuai pula dengan ketentuan Pasal 92 ayat (2) yang menentukan Direksi berwenang menjalankan pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat, dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Selanjutnya dalam Pasal 98 ayat 1 UUPT, disebutkan Direksi mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar p e n g a d i l a n . S e d a n g k a n a y a t 3 menyebutkan Kewenangan direksi untuk mewakili perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tidak terbatas dan tidak bersyarat, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, anggaran dasar dan keputusan RUPS. Jadi anggaran dasar dapat menentukan pembatasan wewenang anggota direksi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

EKSISTENSI DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL DI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI ATAS TERJADINYA KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS.

EKSISTENSI DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL DI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI ATAS TERJADINYA KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis memperoleh kekuatan untuk menyelesaikan Tesis yang berjudul “Eksistensi Doktrin Piercing The Corporate Veil didalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Terhadap Tanggungjawab Direksi Atas Terjadinya Kepailitan Perseroan Terbatas” dengan tepat pada waktunya guna memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Kenotariatan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Eksistensi Doktrin Piercing The Corporate Veil di dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas terhadap Tanggung Jawab Direksi Atas Terjadinya Kepailitan Perseroan Terbatas

Eksistensi Doktrin Piercing The Corporate Veil di dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas terhadap Tanggung Jawab Direksi Atas Terjadinya Kepailitan Perseroan Terbatas

kapasitas dan kapabilitas seorang direksi dengan mengadakan seleksi dalam pemilihan direksi harus dan menguji direksi tersebut apakah direksi itu propesional dan bertanggungjawab penuh serta beritikad baik dalam menjalankan suat u perser oan. Pertanggungj awaban

10 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

d) Telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan. Namun demikian, bukan hal yang mudah untuk membuktikan bahwa Direksi telah melakukan kesalahan dan/atau kelalaian sehingga menyebabkan suatu Perseroan mengalami kebangkrutan yang berujung pada kepailitan. Dari pengaturan tersebut maka sebenarnya ada benang merah antara tanggung jawab Direksi Perseroan Terbatas tidak dalam Pailit dan tanggung jawab Direksi dalam hal Perseroan Terbatas mengalami Pailit. Dengan demikian, berbagai teori tanggung jawab Direksi di atas dapat digunakan pula untuk mengukur tanggung jawab Direksi dalam hal Perseroan Terbatas mengalami kepailitan. Sedangkan Pasal 104 ayat (2) UUPT adalah merupakan implikasi yuridis dari sifat 20 Agus Salim Harahap, Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas, (Lex Jurnalica,
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut. Pengecualiannya adalah sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) bahwa :“Anggota Direksi tidak bertanggungjawab atas kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan bahwa kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; dan telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggungjawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

Kepailitan atau dalam bahasa Inggris disebut bankruptcy, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut failliet merupakan pranata hukum yang dikenal banyak negara, baik yang menganut sistem hukum Civil Law maupun Common Law. Dalam bahasa Indonesia sehari – hari sering dipakai istilah “bangkrut”. Sedangkan dalam sistem hukum Common Law terkadang dipergunakan juga istilah Insolvency. Istilah Insolvency dimaksudkan sebagai suatu ketidaksanggupan membayar utang ketika utangnya itu jatuh tempo pada saat bisnis dari debitor akan kolaps. Sementara yang dimaksud dengan istilah bankruptcy, adalah status hukum dari debitur yang sangat khusus, status mana ditetapkan oleh Pengadilan 8 .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

99 TANGGUNG JAWAB ORGAN PERSEROAN TERBATAS (PT) DALAM KEPAILITAN

99 TANGGUNG JAWAB ORGAN PERSEROAN TERBATAS (PT) DALAM KEPAILITAN

Direksi adalah salah satu organ Perseroan Terbatas yang memiliki tugas serta bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik dialam dan diluar pengadilan sesauai dengan ketentuan anggaran dasar. Tanggung jawab Direksi dalam hal terjadi kepailitan adalah sama dengan tanggung jawab Direksi yang perusahaannya tidak mengalami kepailitan. Prinsipnya Direksi tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perbuatan yang dilakukannya untuk dan atas nama perusahaan berdasarkan kewenangan yang dimilikinya. Hal ini karena perbuatan direksi dipandang sebagai perbuatan perseroan terbatas yang merupakan subyek hukum mandiri sehingga perseroanlah yang bertanggung jawab terhadap perbuatan perseroan namun dalam beberapa hal Direksi dapat pula dimintai pertanggungjawabannya secara pribadi dalam kepailitan Perseroan Terbatas ini.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatas (PT) dalam Kepailitan

Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatas (PT) dalam Kepailitan

Direksi adalah salah satu organ Perseroan Terbatas yang memiliki tugas serta bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik dialam dan diluar pengadilan sesauai dengan ketentuan anggaran dasar. Tanggung jawab Direksi dalam hal terjadi kepailitan adalah sama dengan tanggung jawab Direksi yang perusahaannya tidak mengalami kepailitan. Prinsipnya Direksi tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perbuatan yang dilakukannya untuk dan atas nama perusahaan berdasarkan kewenangan yang dimilikinya. Hal ini karena perbuatan direksi dipandang sebagai perbuatan perseroan terbatas yang merupakan subyek hukum mandiri sehingga perseroanlah yang bertanggung jawab terhadap perbuatan perseroan namun dalam beberapa hal Direksi dapat pula dimintai pertanggungjawabannya secara pribadi dalam kepailitan Perseroan Terbatas ini.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terhadap Perseroan Yang Dinyatakan Pailit

Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terhadap Perseroan Yang Dinyatakan Pailit

Menurut Fred BG Tumbuan, pernyataan pailit tidak dengan sendirinya mengakibatkan Perseroan menjadi bubar, hanya apabila terjadi salah satu dari dua kejadian berkenaan dengan kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1) c.1) dan 2) UUPT Lama, Pengadilan Negeri dapat membubarkan Perseroan atas permohonan kreditur. Oleh karena itu, Perseroan pailit yang belum bubar, tetap cakap, dan berwenang melakukan perbuatan hukum. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa kepailitan badan hukum tidak mengurangi kewenangan dan kecakapan bertindak pengurusnya. Kepailitan tidak menyentuh status hukum badan hukum, mengingat bahwa kepailitan berkaitan dengan dan hanya mencakup harta kekayaan badan hukum. Badan hukum sebagai subjek hukum mandiri tetap cakap bertindak dan oleh karena itu, pada dasarnya organ-organ badan hukum tersebut tetap mempunyai kewenangannya berdasarkan hukum (rechtspersonenrechtelijke bevoegdheden). Beliau kemudian menyimpulkan bahwa jelas Direksi Perseroan tetap berwenang mewakili Perseroan secara sah dalam melakukan setiap perbuatan hukum, baik yang berhubungan dengan hak dan kewajibannya, sejauh perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan pengurusan (beheersdaden) dan perbuatan pengalihan (beschikkingsdaden) berkenaan dengan kekayaan Perseroan yang tercakup dalam harta pailit. 103
Baca lebih lanjut

176 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Pengurusan Perseroan oleh direksi tidak hanya terbatas pada memimpin dan menjalankan kegiatan rutin, tetapi juga mencakup pengelolaan kekayaan perseroan. Direksi merupakan dewan direktur (board of director) yang dapat terdiri dari satu atau beberapa direktur. Apabila direksi lebih dari satu orang direktur, maka salah satunya menjadi direktur utama atau presiden direktur, dan yang lainnya menjadi direktur atau wakil direktur. Berdasarkan prinsip fiduciary duties tersebut, Pasal 97 Ayat (2) UUPT menentukan bahwa setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan. Pelanggaran terhadap kewajiban Fiduciary duties berakibat pada timbulnya tanggung jawab pribadi direksi. Sehubungan dengan hal ini, Pasal 97 Ayat (3) UUPT menentukan bahwa setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (2).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Kajian Hukum Atas Peran Dan Tanggung Jawab Direksi Dalam Pembelian Kembali Saham Pada Perseroan Terbatas

Kajian Hukum Atas Peran Dan Tanggung Jawab Direksi Dalam Pembelian Kembali Saham Pada Perseroan Terbatas

Pasar modal adalah salah satu sumber pembiayaan perusahaan secara jangka panjang. Keberadaan institusi ini bukan hanya sebagai wahana sumber pembiayaan saja, tetapi juga sebagai sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan kesempatan memperoleh dan meningkatkan kesejahteraan. Krisis finansial yang melanda Amerika Serikat melalui dua perusahaan raksasanya yaitu Lehman Brothers dan Dow Jones yang gagal ternyata berimbas sampai ke Indonesia. Dampak dari krisis finansial ini dapat dilihat dari merosotnya bursa saham. Bahkan karena indeks bursa merosot drastis, terpaksa bursa disuspensi oleh bursa efek Indonesia (atas persetujuan BAPEPAM-LK). Untuk mengatasi krisis ini salah satunya strategi pemerintah adalah menganjurkan kepada perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembelian kembali (buy back) saham. Tujuan dari pembelian kembali saham yang dilakukan adalah agar harga saham perusahaan lebih stabil.Dalam hal pasar yang berpotensi krisis Bapepam mengeluarkan Peraturan Nomor XI.B.3 yang isinya bahwa pembelian kembali saham boleh dilakukan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mengatakan bahwa pembelian kembali saham harus dilakukan dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Kurator terhadap Pemenuhan Hak Negara Atas Utang Pajak Perseroan Terbatas pada Kepailitan

Tanggung Jawab Kurator terhadap Pemenuhan Hak Negara Atas Utang Pajak Perseroan Terbatas pada Kepailitan

Utang pajak merupakan utang yang timbul karena adanya undang-undang. Oleh karena itu utang pajak memiliki keistimewaan dalam proses kepailitan. Negara (fiskus) sebagai pihak penagih pajak mempunyai hak untuk mendahului atas tagihan pajak sehingga kurator harus mementingkan pelunasan utang pajak daripada utang para krediturnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hak negara dalam menuntut wajib pajak yang menjadi debitur dalam kepailitan untuk melunasi utang pajaknya dan mengetahui kurator dalam menjalankan perannya untuk mengurus harta pailit terhadap gugatan pemenuhan utang oleh para kreditur perseroan pailit. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif yaitu penelitian yang menagacu pada peraturan perundang-undangan serta studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, penyitaan terhadap harta kekayaan dari wajib pajak (debitur Perseroan Terbatas) sebelum dinyatakan pailit, fiskus dapat melakukan penagihan seketika dan sekaligus. Apabila wajib pajak akhirnya dinyatakan pailit, maka penyitaan yang telah dilakukan oleh fiskus tetap dapat dilaksanakan dan dilanjutkan dengan pelelangan. Apabila Perseroan Terbatas sudah dinyatakan pailit, fiskus menyampaikan Surat Paksa kepada pengadilan negeri terhadap barang yang disita. Kurator dapat dimintai pertanggungjawaban secara pribadi dan/atau renteng atas pembayaran utang pajak yang tidak dilunasi dalam kepailitan. Namun, hal tersebut dapat terjadi hanya apabila kurator sama sekali tidak melunasi utang pajak yang dibebankan atas debitur selaku wajib pajak. Dalam skripsi ini terdapat pula saran-saran yang diharapkan dapat terlaksana sehingga menjadikan kurator lebih mementingkan pelunasan utang pajak daripada kreditur lainnya.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Penerapan Asas Piercing The Corporate Veil: Perspektif Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terbatas

Penerapan Asas Piercing The Corporate Veil: Perspektif Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terbatas

Untuk perlindungan terhadap pihak ketiga dalam transaksi atau kontrak yang ultra vires, menghadapi kasus mengenai penerapan doktrin ultra vires ini, bahwa kontrak atau transaksi yang dilakukan de- ngan itikad baik itu harus benar-benar dalam ling- kup maksud dan tujuan perseroan sebagai perlin- dungan terhadap pihak ketiga. Penerapan doktrin ultra vires dalam pengurusan perseroan, bertitik to- lak dari prinsip yang mengatakan bahwa kapasitas atau kekuasaan direksi menjalankan pengurusan perseroan, hanya sebatas melaksanakan kegiatan usaha yang sesuai dengan maksud dan tujuan yang ditentukan dalam undang-undang dan anggaran dasar perseroan saja dan setiap perbuatan direksi yang dilakukan di luar dari koridor undang-undang perseroan dan anggaran dasar perseroan termasuk perbuatan yang ultra vires dan terhadap tindakan direksi tersebut adalah batal demi hukum (null and void ). Sehubungan dengan itu, terhadap perseroan tidak dapat dituntut atas kontrak atau transaksi yang ultra vires, perseroan juga tidak dapat mengu- kuhkan dan melaksanakan (to enforce and to p erform) dan RUPS tidak dapat mensahkan atau menyetujui tindakan direksi yang mengandung ultr a vires ter- sebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 7171 documents...

Related subjects