Top PDF Urgensi Perlindungan Anak dalam Hukum Islam

Urgensi Perlindungan Anak dalam Hukum Islam

Urgensi Perlindungan Anak dalam Hukum Islam

Anak adalah titipan Allah SWT kepada kedua orang tuanya, yang kelak akan memakmurkan dunia sebagai rahmatan lilalamin. Hal ini melahirkan hak anak yang harus diakui, diyakini, dan diamankan serta dilindungi sebagai implementasi amalan yang diterima oleh anak dari orang tua. Memberikan perlindungan kepada anak berarti memenuhi seluruh kebutuhan anak, baik kebutuhan materi maupun kebutuhan non materi sesuai dengan kebutuhan anak. Perlindungan anak harus diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, perlindungan hukum ini merupakan suatu tindakan hukum yang membawa akibat hukum. Oleh karena itu perlindungan hukum anak ini harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Urgensi perlindungan anak, karena anak yang belum berakal kedudukan hukumnya sama dengan orang gila, perkataannya tidak mempunyai akibat hukum, pengakuan dan perbuatan hukumnya tidak sah, mengingat secara hukum (yuridis) anak belum dibebani kewajiban. Memberikan perlindungan kepada anak berarti mencegah kerusakan dalam kehidupan sosial sebagai akibat perbuatan anak yang melanggar hak orang lain.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Chapter II Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan UndangUndang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Chapter II Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan UndangUndang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam yang selama ini dilakukan oleh orang-orang Islam di Indonesia hanya dilakukan dengan upacara tradisional atau kebiasaan saja tanpa memerlukan penetapan pengadilan, yang meskipun secara materil dan bersifat sebagian dari hukum Islam tentang pengangkatan anak telah mendapat perlindungan melalui ketentuan Pasal 39 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 pada ayat (1) sampai ayat (4), dinyatakan bahwa, pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya, demikian pula bahwa, calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat tersebut.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Chapter I Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan UndangUndang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Chapter I Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan UndangUndang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Dalam hukum Islam tidak dikenal perpindahan nasab dari ayah kandungnya ke ayah angkatnya. Maksudnya ia tetap menjadi salah seorang mahram dari keluarga ayah kandungnya. Dalam arti berlaku larangan kawin dan tetap saling mewarisi dengan ayah kandungnya. Jika ia melangsungkan perkawinan setelah dewasa, maka walinya tetap ayah kandungnya. Adapun pada pengangkatan anak yang diiringi oleh akibat hukum lainnya terjadi perpindahan Nasab dari ayah kandungnya ke ayah angkatnya. Konsekwensinya, antara dirinya dengan ayah angkatnya dan keluarga kandung ayah angkatnya berlaku larangan kawin serta kedua belah pihak saling mewarisi. Jika ia akan melangsungkan pernikahan nantinya, maka yang berhak menjadi walinya adalah ayah angkatnya Tata Cara Pengangkatan Anak, menurut ulama fikih, untuk mengangkat anak atas dasar ingin mendidik dan membantu orang tua kandungnya agar anak tersebut dapat mandiri di masa yang akan datang.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Urgensi Hak dan Perlindungan Anak dalam Perspektif Maqashid Al-Syariah

Urgensi Hak dan Perlindungan Anak dalam Perspektif Maqashid Al-Syariah

menyebut bahwa gerakan penyelenggaraan perlindungan anak diantaranya adalah: 1. Non diskriminasi; 2. Kebutuhan yang paling baik bagi anak; 3. Hak buat hidup, kelangsungan hidup, juga perkembangan; 4. Penghargaan pada anak; Menurut UU Nomor 23 Tahun 2002 bahwa negara dalam hal ini pemerintah, orang lanjut usia, keluarga, penduduk di ling- kungan sekitar mempunyai kewajiban dan bertanggung jawab untuk melakukan perlind- ungan anak. Meraka mesti menghormati dan menjamin hak asasi tiap-tiap anak yang tidak memandang suku, agama, ras, golongan, kate- gori kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, ataupun keadaan fisik dan mental yang dipunyai sang anak. 14
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

membiarkan melakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000, 00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit 60 (enam puluh juta rupiah). Dengan melihat kasus diatas berdasarkan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pelaku bisa saja dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, namun dengan adanya berbagai pertimbangan kasus tersebut dikesampingkan. Dari pihak keluarga hanya ingin menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Pada awal kasus ini mencuat dari pihak keluarga ingin menyelesaikan kasus tersebut dengan jalan hukum dan aparat negara yang berwenang. Namun seiring berjalannya waktu pihak keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan kasus tersebut. Dengan cara pihak keluarga meminta kepada pelaku untuk tidak menginjakkan kaki lagi di Kelurahan Pringapus, dan tidak mendekati anggota keluarga Angelina Juni baik itu korban, ibu korban atau anggota keluarga yang lain. Dan pada saat ini ibu korban sedang dalam proses pengajuan perceraian.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN ANAK HASIL ZINA MENURUT PERSEPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

PERLINDUNGAN ANAK HASIL ZINA MENURUT PERSEPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

Anak zina merupakan anak dalam kelompok atau golongan yang paling rendah kedudukannya dibandingkan dengan kelompok atau golongan anak yang lain. Berdasarkan ketentuan dalam KUH Perdata bahwa anak zina bersama-sama dengan anak sumbang tidak dapat diakui oleh orang tua biologisnya, sehingga secara hukum (yuridis) seorang anak yang dilahirkan dari perzinahan tidak akan memiliki ayah maupun ibudan oleh karena itu seorang anak zina tidak akan memiliki hak keperdataan apa-apa dari orang tua biologisnya kecuali sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 867 ayat (2) KUH Perdata, yaitu sebatas hak untuk mendapatkan nafkah hidup seperlunya berdasarkan kemampuan orangtua biologisnya setelah memperhitungkan jumlah dan keadaan para ahli waris yang sah menurut Undang-Undang. 15
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK LUAR KAWIN DALAM PERWALIAN DAN MEWARIS DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK LUAR KAWIN DALAM PERWALIAN DAN MEWARIS DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

Anak luar kawin yang diakibatkan karena perkosaan ataupun hubungan luar kawin yang dilakukan atas dasar suka sama suka, jika anak luar kawin tersebut perempuan dan hendak melangsungkan perkawinan maka yang berhak menjadi walinya adalah Hakim, karena dia tidak memiliki wali nasab dari pihak bapak yang berhak menjadi walinya, sebagaimana anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang sah (anak sah). Hukum waris anak luar kawin seperti ini dia hanya bisa mewarisi dari pihak ibu dan keluarga ibunya saja, dia tidak bisa mewarisi dari pihak laki-laki yang menghamili ibunya, karena hubungan luar kawin tidak menetapkan nasab dan juga mahram. Apabila anak luar kawin yang dilahirkan akibat wathi syubhat maka yang berhak menjadi walinya adalah laki- laki yang menghamili ibunya secara syubhat tersebut, dan hukum waris anak luar kawin akibat wathi syubhat dia bisa mewaris dari pihak ibu yang melahirkannya dan juga bisa mewaris dari pihak laki-laki yang menghamili ibunya, karena wathi syubhat menetapkan nasab terhadap laki-laki yang mewathi syubhat ibunya, akan tetapi wathi syubhat tidak menyebabkan mahram.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA ANAK PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN HUKUM ISLAM

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA ANAK PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN HUKUM ISLAM

Puji syukur kehadirat Allah swt atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulisan skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Anak Perspektif Hak Asasi Manusia dan Hukum Islam”, dapat terselesaikan.Penulisan skripsi ini bukan merupakan suatu yang instant melainkan sebuah proses yang panjang, menyita segenap tenaga dan fikiran. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw, sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kepemimpinan, sosok yang mampu menumbangkan tirani penindasan terhadap nilai-nilai humanitas, yang dengannya manusia mampu berhijrah dari satu masa yang tidak mengenal peradaban menuju kepada satu masa yang berperadaban.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

AZAZ PERLINDUNGAN DALAM PENGANGKATAN ANAK (Studi Komparatif Antara Hukum Adat, Hukum Perdata dan Hukum Islam

AZAZ PERLINDUNGAN DALAM PENGANGKATAN ANAK (Studi Komparatif Antara Hukum Adat, Hukum Perdata dan Hukum Islam

Sebagai kenyataan sosial yang tidak terbantahkan bahwa keinginan mempunyai anak adalah hal yang manusiawi dan alamiah, namun demikian melihat ketentuan hukum positif yang berlaku di Indonesia, akhirnya masyarakat terbentur oleh eksistensi adopsi di Indonesia sendiri, oleh karena banyak ketidakksinkronan apabila kita menelaah tentang eksistensi lembaga adopsi itu sendiri dalam sumber-sumber hukum positif yang berlaku di Indonesia, baik hukum barat yang bersumber dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Burgerlijk Wetboek (BW), hukum adat yang merupakan “the living law” yang berlaku di Indonesia maupun hukum Islam yang merupakan konsekuensi logis dari masyarakat Indonesia yang mayoritas mutlak beragama Islam. 9 Dalam BW
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Perlindungan Anak yang Berkonflik dengan Hukum Akibat Penelantaran oleh Orang Tua (Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam)

Perlindungan Anak yang Berkonflik dengan Hukum Akibat Penelantaran oleh Orang Tua (Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam)

Pasal 1 angka 2 UU No. 35 tahun 2014 menentukan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan haknya agar dapat hidup , tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak juga diartikan sebagai segala upaya yang mengalami tindak perlakuan salah (child abused), eksploitasi dan penelataran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental, dan sosialnya. 15 Perlindungan hak-hak anak pada hakikatnya menyangkut langsung pengaturan dalam peraturan perundang-undangan. Kebijaksanaan, usaha dan kegiatan yang menjamin terwujudnya perlindungan hak-hak anak, pertama-tama didasarkan atas pertimbangan bahwa anak-anak merupakan golongan yang rawan dan dependent, disamping karena adanya golongan anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik rohani, jasmani, maupun sosial. 16
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Penelantaran terhadap anak (perspektif hukum Islam dan UU NO 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak)

Penelantaran terhadap anak (perspektif hukum Islam dan UU NO 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak)

Demi memperoleh ketertiban dalam sebuah penulisan, maka penulis menggunakan sistematika penulisan skripsi ini dengan membagi menjadi lima bab, dengan tekhnik penulisan mengacu kepada buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2007 34 . Sistematika penulisan yang penulis gunakan adalah :

95 Baca lebih lajut

PEMBATASAN KEKUASAAN ORANG TUA DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERDATA

PEMBATASAN KEKUASAAN ORANG TUA DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERDATA

“ Rasulullah SAW datang mengunjungi saya pada tahun haji Wada ’ , waktu saya sakit keras. Lalu saya bertanya: Hai Rasulullah, saya sedang sakit keras, bagaima pendapat Tuan. Saya ini orang berada, akan tetapi tak ada yang dapat mewarisi hartaku selain seorang anak perempuan, apakah sebaiknya saya wasiatkan dua pertiga hartaku untuk beramal? Jangan, jawab Rasulullah,. Separoh ya Rasulullah?, sambungku. Jangan jawab Rasulullah. Lalu sepertiga? Sambungku lagi. Rasulullah menjawab, sepertiga. Sebab sepertiga itu banyak dan besar, karena jika kamu meninggalkan ahli waris dalam keadaan cukup adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang banyak (HR. Bukhari Muslim). ”
Baca lebih lanjut

254 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum terhadap Korban Eksploitasi Seksual komersial Anak (ESKA) di Tinjau dari Hukum Islam dan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak

Perlindungan Hukum terhadap Korban Eksploitasi Seksual komersial Anak (ESKA) di Tinjau dari Hukum Islam dan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak

2. Wagiati Soetodjo, dalam bukunya hukum pidana anak, buku ini membahas konsepsi perlindungan anak meliputi ruang lingkup yang luas, dalam arti bahwa dalam perlindungan anak tidak hanya mengenai perlindungan atas jiwa dan raga si anak, tetapi mencakup pula perlindungan atas semua hak serta kepentingannya yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosialnya sehingga diharapkan anak Indonesia akan berkembang menjadi orang dewasa Indonesia yang mampu dan mau berkarya untuk mencapai dan memelihara tujuan pembangunan nasional tersebut. 27 Buku ini sudah menjelaskan mengenai masalah perlindungan anak tetapi buku ini belum membahas secara rinci mengenai konsep penegakan atau pelaksanaan hukum yang baik untuk memberikan rasa keadilan bagi anak yang menjadi korban.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Urgensi Kodifikasi Hukum Keluarga Islam Dalam Dunia Muslim

Urgensi Kodifikasi Hukum Keluarga Islam Dalam Dunia Muslim

Adapun mengenai cakupan hukum keluarga Islam, para ahli hukum Islam (fuqaha’) berbeda-beda pendapat dalam pengelompokannya. Dari berbagai perbedaan-perbedaan yang ada, menurut Khairuddin Nasution, dapat disimpulkan bahwa cakupan hukum keluarga Islam adalah: (1) perkawinan, yang mencakup perninangan, syarat dan rukun nikah, termasuk mahar, mahram dan status nikah (sah dan tidak sah); (2) kehidupan rumah tangga, yang meliputi hak dan kewajiban (suami, istri, anak, yang berarti masuk pula urusan hubunga n orang tua dan anak/anak- anak), poligami, dan nafkah; (3) Perceraian, proses penyelesaian masalah rumah tangga, yang mencakup shiqaq dan nusyuz (percekcokan dan ada yang durhaka), khuluk (inisiatif cerai dari istri) dan talak (inisiatif untuk cerai dari suami), 'iddah (mass menunggu) dan ruju' (hak kembali untuk damai, tidak jadi pisah/cerai); (4) pemeliharaan dan pengasuhan anak
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Konsep Pengasuhan Alternatif  Perspektif UU Perlindungan Anak dan Hukum Islam

Konsep Pengasuhan Alternatif Perspektif UU Perlindungan Anak dan Hukum Islam

Standar nasional diranang sebagai salah satu kebijakan untuk memperbaiki kualitas pelayanan panti asuhan. Standart ini merupakan upaya untuk mendorong transformasi peran panti asuhan dan menempatkan panti saebagai sumber terakhir dalam kontinum pengasuhan anak. Sejalan dengan hal tersebut, panti asuhan harus berfungsi sebagai pusat layanan bagi anak dan keluarga. Hal tersebut merupakan dasar yang sangat setrategis bagi upaya pelaksanan pengasuhan dan perlindungan bagi anak-anak yang berada diluar pengasuhan keluarga. Maka pelayanan yang akan di utamakan untuk anak diantaranya harus sesuai dengan prinsip-prinsip sebagau berikut: 13
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

WASIAT WAJIBAH BAGI ANAK ANGKAT DALAM RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK (Perspektif Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Kompilasi Hukum Islam)

WASIAT WAJIBAH BAGI ANAK ANGKAT DALAM RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK (Perspektif Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Kompilasi Hukum Islam)

Dalam perkembangan hukum nasional, pengertian pengangkatan anak berlaku bagi seluruh pengangkatan anak di Indonesia tanpa membedakan golongan penduduk, berlaku juga pada pengangkatan anak antar Warga Negara Indonesia, maupun pengangkatan anak Warga Negara Asing oleh Warga Negara Indonesia, yang diatur dalam PP Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, bahwa pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat. 15
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Undang-undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Perlindungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Undang-undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Pengangkatan anak yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yaitu bisnis perdagangan dengan dalih pengangkatan anak menjadi marak lantaran menjanjikan keuntungan yang besar. Terlebih pada daerah-daerah bekas konflik dan bencana alam. Gampangnya kasus ini terjadi karena anak-anak pada daerah konflik dan bencana alam tidak memiliki atau kehilangan orang tua. Sehingga pengangkatan anak digunakan untuk melancarkan kejahatan para pelaku tindak pidana perdagangan orang. Tercatat sekitar 390 kasus di daerah Aceh dan 290 kasus di daerah Poso. 31 Pengangkatan anak bukan hal sederhana, dan bukan soal kepedualian sosial saja.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP EKSPLOITASI SEKSUAL PADA ANAK BERDASARKAN HUKUM PERLINDUNGAN ANAK DAN HUKUM ISLAM

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP EKSPLOITASI SEKSUAL PADA ANAK BERDASARKAN HUKUM PERLINDUNGAN ANAK DAN HUKUM ISLAM

Berdasarkan uraian diatas, tindakan berbohong atau menipu termasuk perbuatan dosa yang diancam dengan siksa neraka. Hal ini tidak menyebutkan sanksi kongkrit di dunia, namun bila tindakan tersebut diindikasikan akan merugikan pihak orang lain, dalam hal ini anak perempuan atau masyarakat pada umumnya karena akan dijadikan sebagai pekerja seksual, nampaknya tindakan berbohong dan menipu tersebut harus diancam dengan hukuman tertentu supaya jera dan tidak mengulangi perbuatan tersebut. 4 Kalau melihat jenis-jenis tindakan pidana Islam yang telah dibahas pada bab sebelumnya, baik perbuatan berbohong atau menipu tidak termasuk kepada tindakan pidana yang menyebabkan timbulnya sanksi pidana had atau qishash. Namun kalau melihat peluang yang diisyaratkan dalam hukum pidana Islam seperti adanya jarimah ta’zir , nampaknya perbuatan tersebut, khususnya yang menyangkut tindakan-tindakan pada kelompok pertama di atas dapat dimasukkan kepada tindak pidana ta’zir .
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Perlindungan Anak Dari Tindak Kekerasan Di Kabupaten Bulukumba (Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang Perlindungan Anak)

Perlindungan Anak Dari Tindak Kekerasan Di Kabupaten Bulukumba (Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang Perlindungan Anak)

Tindak kekerasan terhadap anak seringkali tidak mudah diungkap, karena kekerasan terhadap anak, khususnya di dalam keluarga, pada hakekatnya bersifat pribadi. Hal ini didukung pula oleh persepsi masyarakat bahwa persoalan-persoalan yang terjadi dalam keluarga adalah persoalan intem keluarga dan tidak layak untuk dicampuri. Persepsi ini menimbulkan sikap diam atau pasif dari masyarakat sekitar anak, sehingga budaya kekerasan fisik terhadap anak tetap berlangsung dan kelangsungan hidup anak menjadi lebih terancam. Perlindungan anak di Indonesia sebagaimana yang diatur Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002, pelaksanaannya jauh dari harapan semua pihak. Pelaksanaan Undang-Undang tersebut, saat ini mungkin hanya dilaksanakan baru sekitar 20% saja. Fenomena kekerasan terhadap anak, dengan berbagai bentuknya nampaknya masih menjadi tren yang terus meningkat dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Eksploitasi Anak Dalam UU Perlindungan Anak Menurut Perspektif Hukum Islam

Eksploitasi Anak Dalam UU Perlindungan Anak Menurut Perspektif Hukum Islam

Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

24 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects