BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
IV. A. 1.d. Analisis Intrapersonal pada Istri (Kasus 1)
Kehadiran seorang anak dapat memberikan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga (Muskibin, 2005). Namun, ketika anak yang diharapkan itu tidak juga hadir dalam kehidupan rumah tangga, maka akan dapat menimbulkan dampak-dampak baik dampak positif maupun dampak negatif.
Pada istri (Kasus 1), kegelisahan karena belum memiliki anak dialaminya di saat 2 bulan pernikahannya. Hal ini terjadi karena suami mengatakan kepadanya bahwa mani suami encer sehingga sulit memberikan anak pada istri. Saat itu istri merasa marah dan menolak terhadap keadaan mereka yang sulit memiliki anak. Perasaan marah dan penolakan itu merupakan hal yang wajar dirasakan istri. Karena istri merasa dalam budaya Batak yang dimilikinya, kehadiran anak itu sangat penting, di mana keturunan (hagabeon) adalah salah satu nilai atau tujuan hidup suku Batak (Irianto, 2005). Kemarahan dan penolakan yang dirasakan istri berlangsung selama 1 bulan. Walaupun istri merasa marah dan menolak keadaan mereka yang sulit memiliki anak ini, istri tetap melakukan aktivitasnya dengan baik dan semangat. Terlebih dalam bekerja yang menurut istri dapat membuang pikirannya yang stres karena belum memiliki anak. Setelah 1 bulan kemarahan dan penolakan terhadap keadaan itu ia rasakan, ia mulai merasa ia tidak boleh seperti itu. Setelah kemarahan dan penolakan yang ia rasakan dapat
ia kurangi, istri mulai giat mencari pengobatan-pengobatan yang dapat membantunya untuk segera memiliki anak. Pengubahan sikap marah dan penolakan itu dilakukan istri karena ia tidak ingin melihat suami putus asa dan menyalahkan dirinya karena mereka belum memiliki anak. Selain itu dukungan dari pihak keluarga juga membuatnya bangkit dari kemarahan dan penolakannya, dan berusaha untuk semakin giat mencari pengobatan.
Masalah-masalah yang dihadapi istri dengan keadaannya yang belum memiliki anak lebih berasal dari dirinya sendiri. Istri merasa sebagai seorang yag berasal dari suku Batak, ia dituntut untuk memiliki anak. Karena keturunan (hagabeon) merupakan salah satu nilai atau tujuan hidup suku Batak (Irianto, 2005). Karena itu, kekhawatiran dirasakan istri, jika nantinya ada anjuran-anjuran yang dilayangkan pihak lain kepada suaminya untuk meninggalkannya dan mencari wanita lain yang dapat memberikan anak. Istri tidak ingin ia tersisih dan dikucilkan dari keluarga suaminya. Karena itulah, hingga saat ini istri tidak pernah merasa lelah untuk melakukan pengobatan dan mencari pengobatan alternatif yang lebih baik lagi.
Mc. Quillan, Greil, White, & Jacob (2003) menyatakan bahwa wanita yang sulit memiliki keturunan akan mengalami distress. Hal ini dapat terjadi karena wanita memiliki peran sebagai seorang ibu. Dan jika peran itu tidak terpenuhi, maka akan dapat menimbulkan distress. Hal ini juga yang dirasakan oleh istri, dimana ia merasa sebagai wanita, ia memiliki peran sebagai seorang ibu. Namun hingga saat ini, di usia pernikahan 3 tahun 9 bulan, istri belum juga dapat melakukan perannya sebagai seorang ibu.
Stres yang dirasakan istri ketika ia memikirkan keadaannya yang belum memiliki anak dapat dialihkannya pada pekerjaan. Dengan bekerja, istri merasa ia dapat melupakan tekanan-tekanan yang ia rasakan. Istri berpendapat pekerjaan itu adalah salah satu hal yang berharga selain anak dalam hidupnya.
Mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukkan corak kehidupan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, jelas bagi mereka (dalam Bastaman, 2007). Setelah merasakan kemarahan dan penolakan terhadap hidupnya saat ia mengetahui bahwa ia sulit memiliki anak, istri menyadari dirinya tidak boleh memberatkan beban pikiran suami dengan perasaannya itu. Saat itu istri bangkit dan berusaha menunjukkan pada suaminya bahwa dirinya baik-baik saja dan saat ini istri memiliki tujuan hidup yang sedang ia perjuangkan agar dapat terpenuhi. Yang menjadi tujuan hidup istri saat ini adalah ingin memiliki hidup yang lebih berkembang lagi, baik itu dalam hubungannya dengan suami dan keluarga, maupun dalam bidang keuangan. Dalam Bastaman (2007), dikatakan bahwa seseorang yang memiliki tujuan hidup yang jelas, maka kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan akan menjadi lebih terarah serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai. Saat ini, untuk mencapai tujuan hidupnya, istri ingin memiliki rumah sendiri sehingga mereka lebih bisa mandiri dalam kehidupan rumah tangganya. Karena saat ini, rumah yang mereka tempati merupakan rumah keluarga suami. Dan agar istri dapat memiliki rumah sendiri, ia
berusaha lebih giat dan semangat dalam bekerja, serta berusaha mencari tambahan penghasilan dengan memanfaatkan hobby memasaknya.
Sumber-sumber makna hidup dapat dikelompokkan atas 4 bagian, yaitu nilai-nilai kreatif (Creative Values), nilai-nilai penghayatan (Experiential Values), nilai-nilai bersikap (Attitudinal Values), dan nilai-nilai pengharapan (Hopeful Values) (dalam Bastaman, 2007). Sumber-sumber makna hidup pada istri (Kasus 1) dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Nilai-nilai Kreatif (Creative Values)
Yang dimaksud nilai-nilai kreatif (Creative Values) adalah “apa yang dapat diberikan bagi kehidupan ini (what we give to live)”. Melalui karya dan kerja seseorang dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna (dalam Bastaman, 2007). Dalam keadaannya saat ini yang belum memiliki anak, istri berpendapat pekerjaannya saat ini sangat berarti dalam hidupnya. Walaupun dari segi gaji tidak terlalu besar dan terkadang gajinya itu kurang untuk kebutuhan mereka sehari-hari, namun karena pekerjaannya inilah istri masih dapat menyambung hidupnya. Dengan bekerja, istri merasa ia lebih dapat menikmati hidupnya dan melupakan tekanan-tekanan yang ia alami dalam hidupnya. Saat mengingat keadaannya yang belum memiliki anak ini, istri merasa tertekan. Dan dengan bekerja ia dapat melupakan itu. Istri telah bekerja di pekerjaannya saat ini selama 8 tahun dan selama itu pula ia tetap bersemangat dalam pekerjaannya. Karena sejak muda dulu, ia memang terbiasa untuk selalu semangat dalam bekerja. Selain itu, istri juga dapat memanfaatkan kegemarannya untuk menambah penghasilannya, yaitu dengan memasak kue-kue basah dan
kemudian menjualnya di tempat kerjanya. Dan untuk itu, istri harus bangun saat subuh agar saat ia berangkat kerja, kue-kue itu telah masak. Istri tidak merasa kelelahan jika harus memasak kue, karena seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, istri selalu bersemangat dalam bekerja.
2) Nilai-nilai Penghayatan (Experiential Values)
Yang dimaksud nilai-nilai penghayatan (Experiential Values) adalah “apa yang dapat kita ambil dari dunia ini” (what we take from the world). Maksudnya dengan mengalami sesuatu misalnya melalui kebaikan, kebenaran dan keindahan, dengan menikmati alam dan budaya, atau dengan mengenal manusia lain dengan segala keunikannya, dengan mencintainya (dalam Bastaman, 2007). Keadaan belum memiliki anak dirasakan istri sebagai suatu keadaan yang menyedihkan. Keadaan yang membuat rumah tangganya sunyi dan sepi, karena belum ada suara anak kecil yang dapat meramaikan rumah tangganya. Namun kesedihan ini membuat istri menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan. Ketika istri berpikir dirinya tidak dapat memiliki anak dari dirinya sendiri, istri akan berusaha untuk menerima keadaan itu sebagai suatu kehendak Tuhan dalam hidupnya. Dan istri juga bersyukur dan menikmati dukungan yang ia dapatkan dari keluarganya dan keluarga suaminya yang membuatnya tetap berusaha untuk memiliki anak.
3) Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Yang dimaksud nilai-nilai bersikap (Attitudinal Values) adalah “sikap yang diambil untuk tetap bertahan terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari” (the attitude we take toward unavoidable suffering) (dalam Bastaman,
2007). Istri bersikap pasrah dengan keadaannya yang belum memiliki anak. Jika memang mereka tidak dapat memiliki anak sendiri, istri akan berusaha untuk menerima keadaan itu dan mencari cara lain, yaitu dengan mengadopsi anak dan menerima anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Karena istri berpendapat anak itu tetaplah titipan Tuhan yang harus ia jaga dan rawat dengan baik.
4) Nilai-nilai Pengharapan (Hopeful Values)
Yang dimaksud dengan harapan adalah keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baik atau perubahan yang menguntungkan di kemudian hari. Harapan sekalipun belum tentu menjadi kenyataan dapat memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru yang menjanjikan yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme (dalam Bastaman, 2007). Dalam menjalani kehidupannya saat ini, istri tetap berharap ia dapat memiliki anak. Istri tidak mempermasalahkan apakah anak itu anaknya sendiri atau anak orang lain. Akan tetapi, ia tetap berharap agar ia dapat memiliki anak. dan harapan ini membuat istri tidak pernah berhenti berusaha mengikuti pengobatan dan juga tidak pernah berhenti berupaya untuk mencari anak yang dapat mereka adopsi.
Dari hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa pada istri (Kasus 1), sumber makna hidup yang dominan adalah nilai kreatif (Creative Values), di mana istri menganggap pekerjaannya sebagai salah satu yang berharga dalam hidupnya. Pekerjaan membuat istri daapt melupakan keadaannya yang belum memiliki anak.