BAB II LANDASAN TEORI
II. B.1.Pengertian Pernikahan
Batasan tentang pernikahan ada banyak tergantung pendekatannya di antaranya adalah :
Herning (1956) mengatakan bahwa pernikahan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita yang kurang lebih permanen, ditentukan oleh kebudayaan dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan. Keterikatan ini bersifat persahabatan, ditandai oleh perasaan bersatu dan saling memiliki. Masing-masing individu perlu menyesuaikan diri pada pasangannya dan mengubah diri agar sesuai.
Sedangkan menurut Duval dan Miller (1980) pernikahan adalah suatu hubungan yang diakui secara sosial antara pria dan wanita, yang mensahkan hubungan seksual dan adanya kesempatan mendapatkan keturunan. Pria dan wanita ini bertanggungjawab atas pengasuhan anak mereka dan pasangan ini juga selama menikah memantapkan pembagian kerja antarmereka.
Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan 1/1974 menyatakan pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah suatu ikatan antara seorang pria dan wanita yang diakui secara sosial dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal.
II.B.2. Motivasi untuk Menikah
Ada beberapa faktor yang memotivasi seseorang untuk menikah, yang dikategorikan ke dalam dua faktor utama, yaitu :
a. Push factor, yaitu faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk segera
memasuki pernikahan, meliputi :
1. Konformitas, orang memutuskan untuk menikah karena demikian pula yang dilakukan oleh sebagian besar orang. Agaknya kebanyakan struktur kebudayaan yang ada di muka bumi ini adalah sedemikian rupa sehingga konformitas merupakan hal yang utama.
2. Cinta, cinta merupakan komitmen emosional manusia yang perlu diterjemahkan ke dalam suatu bentuk yang lebih nyata dan permanen, yaitu pernikahan.
3. Legitimasi sex dan anak, secara tradisional, masyarakat memberikan dukungan terhadap hubungan seksual hanya kepada mereka yang telah menyatakan komitmennya secara legal. Sedangkan lahirnya anak-anak yang tidak berasal dari pernikahan yang sah akan menimbulkan stigma sosial yang tidak dapat disepelekan.
b. Pull factors, yaitu faktor-faktor daya tarik yang menetralisir kekawatiran
Yang termasuk dalam pull factors, antara lain :
1. Persahabatan, salah satu harapan terhadap pernikahan adalah terjadinya persahabatan yang terus menerus. Banyak pasangan dalam pernikahan sesungguhnya adalah terjalinnya suatu persahabatan.
2. Berbagi, berbagi dalam gaya hidup, pikiran-pikiran, dan juga penghasilan, dianggap sebagai daya tarik seseorang untuk memasuki pernikahan.
3. Komunikasi, pasangan suami istri perlu terlibat secara mendalam dalam komunikasi yang akrab dan bermakna. Pasangan yang bahagia adalah mereka yang terampil berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal dan saling peka terhadap kebutuhan satu sama lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang memotivasi seseorang untuk menikah, yaitu push factor yang mendorong seseorang untuk segera memasuki pernikahan, dan pull factor yang menetralisir kekawatiran seseorang untuk terikat dalam pernikahan yang akan mengurangi kebebasan.
II.B.3. Keuntungan Pasangan Yang Memiliki Keturunan
Dalam Ihromi (1999), secara umum kehadiran anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor yang menguntungkan orangtua dari segi psikologis, ekonomis, dan sosial, yaitu :
a. Anak dapat lebih mengikat tali pernikahan
Pasangan suami istri merasa lebih puas dalam pernikahan dengan melihat perkembangan emosi dan fisik anak. Kehadiran anak juga telah mendorong komunikasi antara suami istri, karena mereka merasakan pengalaman bersama anak mereka.
b. Orangtua merasa lebih muda dengan membayangkan masa muda mereka melalui kegiatan anak mereka.
c. Anak merupakan simbol yang menghubungkan masa depan dan masa lalu Orangtua sering menemukan kebahagiaan diri mereka dalam anak-anak mereka melalui kepribadian, sifat, nilai, dan tingkah laku mereka yang diturunkan kepada anak-anak mereka.
d. Orangtua memiliki makna dan tujuan hidup dengan adanya anak e. Anak merupakan sumber kasih sayang dan perhatian
f. Anak dapat meningkatkan status seseorang
Pada beberapa masyarakat, individu baru mempunyai hak suara setelah ia memiliki anak
g. Anak merupakan penerus keturunan
Untuk mereka yang menganut sistem patrilineal, seperti Cina, Korea, Taiwan, dan Suku Batak, adanya anak laki-laki sangat diharapkan karena anak laki-laki akan meneruskan garis keturunan yang diwarisi lewat nama keluarga. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki dianggap tidak memiliki garis keturunan dan keluarga itu dianggap akan punah.
i. Anak mempunyai nilai ekonomis yang penting
Hal ini dikarenakan anak dapat diharapkan dapat membantu kedua orangtuanya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak dapat memberi keuntungan pada orangtua dari segi psikologis, ekonomis, dan sosial, yaitu dapat lebih mengikat tali pernikahan, orangtua merasa lebih muda, anak merupakan simbol yang menghubungkan masa depan dan masa lalu, orangtua memiliki makna dan tujuan hidup dengan adanya anak, anak merupakan sumber kasih sayang dan perhatian, anak dapat meningkatkan status seseorang, anak merupakan penerus keturunan, anak merupakan pewaris harta pusaka, dan anak mempunyai nilai ekonomis yang penting.
II.B.4. Penyebab Pasangan Sulit Memiliki Keturunan
Kenyataan menunjukkan, 40% masalah yang membuat pasangan sulit mempunyai anak terdapat pada wanita, 40% pada pria, dan 20% pada keduanya. Jadi kedua pihak mempunyai kemungkinan sama besar pada kasus kesulitan mempunyai keturunan. Maka pemeriksaan medis juga harus dilakukan pada kedua belah pihak. Ada dua kemungkinan dalam hal sulit memiliki anak, yaitu subfertil (kurang subur) atau infertil (tidak subur).
Infertilitas berhubungan dengan perubahan gaya hidup, seperti mempertahankan berat tubuh agar tetap kurus (dengan cara diet dan olahraga), merokok, penggunaan obat-obatan (seperti marijuana), menunda untuk memiliki anak, dan peningkatan kontak seksual. Menunda untuk memiliki anak adalah
faktor yang semakin berkembang di masyarakat yang biasanya dikarenakan suami dan istri memiliki karir. Menunda untuk memiliki anak ini dapat mengakibatkan fertilitas karena kesuburan wanita akan menurun seiring dengan meningkatnya usia (Beckmann, et. al., 2002).
Dalam kasus subfertilitas itu ada beberapa konsep penjumlahan. Suami yang sangat subur bertemu istri yang kurang subur, bisa hamil. Suami yang kurang subur tapi istri yang sangat subur, bisa hamil juga. Keduanya kurang subur, maka sulit hamil. Sementara itu, kalau salah satu atau mungkin keduanya tidak subur, maka kondisinya sangat tidak subur (Muskibin, 2005). Lebih lanjut dijelaskan oleh Papalia & Olds (1998) bahwa infertilitas adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi kehamilan setelah minimal 12 bulan berhubungan seks tanpa pelindung.
Dalam Santrock (2002), dikatakan terdapat beberapa masalah yang berhubungan dengan kesuburan pada wanita, yaitu :
a. Masalah Ovulasi (ovulation problems)
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan masalah ovulasi ni adalah tumor pada kelenjar di bawah otak atau tumor ovarium dan thyroid yang tidak aktif. Pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan tumor pada kelenjar di bawah otak atau tumor ovarium adalah dengan operasi atau pembedahan. Dan pengobatan untuk thyroid yang tidak aktif adalah dengan memberikan obat.
b. Sekresi Antisperma (antisperm secretions)
Penyebab dari sekresi antisperma ini belum dapat diketahui. Penyebab yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan terapi estrogen. c. Tuba fallopi tertutup (blocked fallopian tubes)
Penyebabnya adalah infeksi yang diakibatkan oleh IUD, aborsi, atau penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual. Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan pembedahan dan memindahkan sel dari ovarium dan menempatkannya di uterus.
d. Endometriosis
Endometriosis adalah jaringan yang berkembang pada uterus. Penyebabnya adalah menunda kehamilan hingga usia 30an. Pengobatan yang dapat dilakukan dengan pemberian hormone dan pembedahan. Endometriosis terjadi ketika lapisan kandungan bertumbuh di luar kandungan dan menyebabkan pendarahan atau penghambatan , atau bekas luka yang dapat menghambat pembuahan atau kehamilan.
Dan beberapa masalah yang berhubungan dengan kesuburan pada pria, yaitu:
a. Rendahnya jumlah sperma (low sperm count)
Penyebabnya adalah ketidakseimbangan hormone, varikokel, polutan lingkungan, dan obat-obatan (seperti kokain, marijuana, arsenic, beberapa steroid dan antibiotik). Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan terapi hormon, pembedahan, dan menghindari panas yang berlebihan.
b. Sperma kurang lincah (immobile sperm)
Penyebab dari sperma yang kurang lincah adalah bentuk sperma yang tidak normal, infeksi, dan rusaknya saluran sperma. Pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi infeksi adalah dengan memberikan antibiotik dan untuk mengatasi rusaknya saluran sperma adalah dengan pembedahan dan pemberian antibiotik. Sedangkan untuk bentuk sperma yang tidak normal tidak ada pengobatan yang dapat dilakukan.
c. Antibodi sperma (antibodies against sperm)
Penyebab dari masalah antibody sperma adalah karena adanya masalah pada system kekebalan (immune system). Dan pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab pasangan sulit memiliki anak dapat dikarenakan pasangan tersebut kurang subur atau tidak subur. Masalah kesuburan pada wanita dapat disebabkan karena masalah ovulasi (ovulation problems), sekresi antisperma (antisperm secretion), dan endometriosis. Sedangkan masalah kesuburan pada pria dapat disebabkan karena rendahnya jumlah sperma (low sperm count), sperma yang kurang lincah (immobile sperm), dan antibodi sperma (antibodies against sperm).
II.B.5. Dampak-Dampak Dari Ketidakhadiran Anak dalam Sebuah Pernikahan
Ketidakhadiran anak memiliki dampak dalam kehidupan pernikahan pasangan suami istri. Dampak ini dapat dibagi dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif.
a. Dampak Positif
Adapun yang menjadi dampak positif dari ketidakhadiran anak dalam sebuah pernikahan, adalah :
1. Pasangan akan punya banyak waktu untuk mempertimbangkan tujuan hidupnya seperti apa yang mereka inginkan dari peran keluarga dan karir mereka, pasangan akan menjadi semakin matang dan dapat menarik manfaat dari pengalaman kehidupan mereka untuk menjadi orangtua yang lebih kompeten dan pasangan akan menjadi lebih mapan dalam karir serta mempunyai penghasilan lebih banyak untuk pengeluaran perawatan anak nantinya di kemudian hari (Olds dalam Santrock, 1995).
2. Biaya hidup tidak bertambah (Kail, 2000).
Ketidakhadiran anak dapat membuat pasangan tidak perlu memikirkan biaya tambahan untuk mengurus dan membesarkan anak. Kail menjelaskan membesarkan anak itu mahal, karena harus memikirkan biaya tambahan untuk membiayai sekolah anak nantinya. Sedangkan pada pasangan yang belum memiliki anak tidak perlu memikirkan hal tersebut, dan tidak perlu takut biaya hidup akan bertambah.
3. Lebih bebas untuk bepergian (Papalia, Olds, & Feldman, 2001).
Pasangan yang belum memiliki anak akan lebih bebas untuk bepergian tanpa harus memikirkan tanggungjawab mereka untuk mengurus anak. Sehingga mereka lebih dapat bebas dan menikmati kehidupan yang mereka jalani.
4. Wanita tetap dapat terlihat menarik (Callan dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2001).
Wanita yang sedang hamil dan setelah melahirkan akan berdampak pada bentuk tubuh yang menjadi tidak proporsional. Hal inilah yang sering membuat wanita takut untuk hamil. Pada wanita yang belum memiliki anak, mereka tidak perlu takut tubuhnya menjadi tidak menarik lagi sebagai efek dari hamil dan melahirkan.
b. Dampak Negatif
Yang menjadi dampak negatif dari ketidakhadiran anak dalam sebuah pernikahan, adalah :
1. Van Hoose & Worth (dalam Kail, 2000) menyatakan bahwa pasangan yang belum memiliki keturunan harus siap menghadapi kritik sosial dari masyarakat yang berorientasi pada anak/keturunan. Karena kebanyakan masyarakat tidak melihat ketiadaan anak sebagai sesuatu yang positif. 2. Van Hoose & Worth (dalam Kail, 2000) menyatakan bahwa pasangan
yang belum memiliki keturunan beresiko akan mengalami perasaan kesepian yang lebih besar di hari tuanya.
3. Mc. Quillan, Greil, White & Jacob (2003) menyatakan bahwa wanita yang sulit memiliki keturunan akan mengalami distress. Hal ini dapat terjadi karena peran seorang wanita adalah sebagai ibu dan peran sebagai ibu ini adalah identitas pokok untuk semua wanita dewasa. Sehingga jika seorang wanita belum memiliki anak, dapat menimbulkan stres dan stigma sosial. Dalam Peterson, Newton, Schulman (2006) dinyatakan bahwa stres dapat mempengaruhi beberapa hal, meliputi fungsi seksual, ketahanan dan kualitas dari hubungan, dan perubahan pada hubungan sosial dan keluarga. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat stres dalam menghadapi ketiadaan anak jika dilihat dari gender. Ditemukan bahwa pria juga mengalami stres saat menghadapi keadaan infertil. Namun, stres yang dirasakannya tidak berbeda dengan stres ketika menghadapi hal lain (sumber stressor yang lain). Jadi, keadaan infertil pada pria kurang menimbulkan stres pada wanita.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa dampak positif maupun dampak negatif dari ketidakhadiran anak dalam sebuah pernikahan. Dampak positifnya meliputi pasangan dapat lebih memikirkan tujuan hidup mereka sehingga lebih dapat mengejar karir masing-masing, pasangan dapat lebih bebas bepergian, dan wanita dapat tetap terlihat menarik. Dan yang menjadi dampak negatifnya adalah pasangan harus siap menghadapi kritik sosial dari masyarakat, beresiko mengalami kesepian di hari tuanya, dan dapat mengalami distress.