BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
IV. B. 1.d. Analisis Intrapersonal pada Istri (Kasus 2)
Kehadiran seorang anak dapat memberikan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga (Muskibin, 2005). Namun ketika anak itu belum juga hadir di usia pernikahan bertahun, maka akan timbul kegelisahan, baik pada suami maupun pada istri.
Pada istri (Kasus 2), kegelisahan karena belum memiliki anak dirasakannya saat 1 tahun pernikahan. Kegelisahan itu muncul ketika keluarganya dan keluarga suaminya mulai bertanya-tanya kapan mereka akan memiliki anak. Saat itulah istri mulai mencari tahu apa yang dapat dilakukannya agar mereka segera memiliki anak. Kegelisahan itu merupakan hal yang wajar terjadi karena istri hidup dalam budaya Batak yang memiliki salah satu nilai atau tujuan hidup yaitu keturunan (hagabeon) (Irianto, 2005). Selain itu, pasangan yang subur (fertil) membutuhkan waktu 5,3 bulan untuk hamil (dalam Masters, 1992). Karena itu kegelisahan yang dirasakan oleh istri merupakan hal yang wajar. Terlebih ketika pasangan belum memiliki anak, pihak yang sering disalahkan adalah istri. Hal itu dirasakan istri karena adanya omongan negatif yang ia terima dari tetangga sekitarnya.
Istri merasa khawatir dengan desakan keluarga suaminya karena ia takut nantinya keluarga suaminya meminta suaminya untuk meninggalkan dirinya dan
mencari wanita lain yang dapat memberikan anak. Dalam Irianto (2005) dikatakan bahwa anak itu sangat berarti dalam kehidupan orang Batak sehingga tidak mengherankan bila berbagai cara dilakukan agar dapat memiliki anak. Dan biasanya saran-saran negatif seperti yang ditakutkan oleh istri yang sering dilontarkan.
Istri merasa saat ini hidupnya memang sulit. Karena baik dari segi ekonomi maupun dari segi kehadiran anak, mereka serba kekurangan. Namun istri tetap menjalani hidupnya dengan apa adanya. Istri tidak terlalu mau membebankan pikirannya dengan hal-hal yang semakin membuat hidupnya bertambah sulit. Karena itu saat ini istri tetap menjalani hidupnya dengan pasrah dan berdoa kepada Tuhan.
Orang yang menghayati hidup bermakna memiliki tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang (dalam Bastaman, 2007). Walaupun istri merasa hidupnya saat ini sulit dan kurang karena belum memiliki anak, namun hal itu tidak berarti membuat istri tidak menghayati hidupnya sebagai sesuatu yang bermakna. Istri tetap memiliki tujuan hidup yang jelas. Istri beranggapan hal yang menjadi tujuan hidupnya saat ini adalah bekerja dengan semangat agar ia memiliki masa depan yang lebih baik. Karena istri ingin ketika nanti ia memiliki anak, ia dapat merawat dan menyekolahkan anak itu dengan baik. Sehingga apapun yang ia kerjakan saat ini adalah untuk masa depannya dan untuk anaknya. Dan dalam mencapai tujuan itu istri tetap bersemangat dan optimis.
Sumber-sumber makna hidup pada istri (Kasus 2) adalah sebagai berikut: 1) Nilai-nilai Kreatif (Creative Values)
Nilai-nilai kreatif (Creative Values) adalah “apa yang dapat diberikan bagi kehidupan ini (what we give to live)”. Maksudnya melalui tindakan-tindakan kreatif atau menciptakan suatu karya seni atau bahkan dengan melayani orang lain dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa seseorang. Melalui karya dan kerja seseorang dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna (dalam Bastaman, 2007). Pada istri (Kasus 2), untuk mengisi kekosongannya saat ini istri memilih tetap bekerja. Istri melihat dengan bekerja, ia dapat mengisi kekosongan waktunya sekaligus ia dapat menabung untuk kehidupan masa depannya, sehingga ia memiliki biaya perawatan anaknya nanti. 2) Nilai-nilai Penghayatan (Experiential Values)
Nilai-nilai penghayatan (Experiential Values) adalah “apa yang dapat kita ambil dari dunia ini” (what we take from the world). Maksudnya dengan mengalami sesuatu misalnya melalui kebaikan, kebenaran dan keindahan, dengan menikmati alam dan budaya, atau dengan mengenal manusia lain dengan segala keunikannya, dengan mencintainya (dalam Bastaman, 2007). Pada istri (Kasus 2), ia merasakan kesedihan dan kesepian karena ketidakhadiran anak. Dukungan keluarga dan hubungannya dengan keluarga adalah hal yang dapat membuat istri tetap kuat dalam menghadapi keadaannya yang belum memiliki anak.
3) Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Nilai-nilai bersikap (Attitudinal Values) adalah “sikap yang diambil untuk tetap bertahan terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari” (the attitude we
take toward unavoidable suffering). Ketika manusia menghadapi nasib buruk atau situasi menghambat yang tidak bisa diubahnya, dengan kata lain ketika menderita, dia tetap bisa merealisasikan nilai yang bisa mengantarkannya kepada makna (dalam Bastaman, 2007). Pada istri (Kasus 2), ia lebih pasrah dan berdoa kepada Tuhan dalam menghadapi keadaan mereka yang belum memiliki anak. Karena istri menyadari anak itu adalah rejeki dari Tuhan, jadi ia harus lebih pasrah dan berdoa sambil terus berusaha semampunya mereka.
4) Nilai-nilai Pengharapan (Hopeful Values)
Harapan adalah keyakinan akan terjadinya hal-hal yang baik atau perubahan yang menguntungkan di kemudian hari. Harapan sekalipun belum tentu menjadi kenyataan dapat memberikan sebuah peluang dan solusi serta tujuan baru yang menjanjikan yang dapat menimbulkan semangat dan optimisme (dalam Bastaman, 2007). Pada istri (Kasus 2), ia tetap berharap agar mereka dapat memiliki anak, karena dengan berharap seperti ini, istri yakin Tuhan pasti akan mempermudah jalan mereka dan dapat mengabulkan harapan mereka selama ini untuk memiliki anak. karena itu istri merasa ia tidak boleh putus asa, akan tetapi harus lebih banyak bersabar dan terus berharap.
Dari hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa pada istri (Kasus 2), sumber makna hidup yang dominan adalah nilai penghayatan (Experiential Values). Karena dukungan keluarga membuat istri dapat lebih kuat dan tidak merasa putus asa dengan keadaannya yang belum memiliki anak.
IV.B.2. Suami
IV. B. 2. a. Deskripsi Data
Tabel 12
Gambaran Umum Suami (Kasus 2)
Keterangan Deskripsi Suami (Kasus 2)
Usia 30 tahun
Usia ketika menikah 26 tahun
Menikah pada September 2004
Anak ke 4 dari 6 bersaudara (perempuan: 3 orang, laki-laki:3 orang)
Suku Batak Toba
Agama Kristen Protestan
Pendidikan terakhir SMA
Pekerjaan Tukang las
Pengobatan yang dilakukan Pengobatan alternatif
Suami (Kasus 2) dalam penelitian ini adalah seorang pria suku Batak Toba yang berusia 30 tahun. Suami menikah pada September 2004 pada usia 26 tahun. Suami mengenal istri dari teman-teman istri yang sering naik angkotnya karena saat itu suami bekerja sebagai supir angkot. Suami mulai berpacaran dengan istri pada November 2002. Suami menjalani hubungan berpacarannya dengan serius dan pada Desember 2003 suami mengenalkan istri pada orangtuanya yang saat itu kebetulan sedang berada di Medan untuk menghadiri pesta. Suami menyatakan keseriusannya untuk melamar istri pada bulan Mei 2004 dan menemui orangtua istri. Sebelumnya suami telah meminta izin kepada orangtuanya. Pada Juli 2004, keluarga kedua belah pihak bertemu dan menetapkan bulan September sebagai bulan pernikahan mereka.
Saat ini usia pernikahannya memasuki 3 tahun 8 bulan. Pekerjaan suami saat ini adalah mengelas besi putih (stainless steel) untuk dijadikan aksesoris
rumah. Pekerjaan ini menuntut suami harus sering pergi meninggalkan istri di Medan dan merantau di kota lain. Terkadang suami sampai 3 bulan tidak dapat kembali ke Medan. Hal ini tergantung dari pekerjaannya itu.
Suami merasakan kegelisahan karena belum memiliki anak di usia pernikahan 2 tahun. Saat itu suami mulai melakukan usaha-usaha untuk dapat memiliki anak. Suami pernah memeriksakan diri ke dokter sekali saat suami berada di luar kota. Hal itu dilakukan suami atas dorongan teman-teman suami. Hasil pemeriksaan saat itu menyatakan bahwa suami sehat dan tidak memiliki masalah yang dapat menghambatnya untuk memiliki anak. Setelah itu suami tidak pernah memeriksakan lagi ke dokter. Yang dilakukan sampai saat ini hanya dengan pengobatan alternatif, yaitu dengan obat Batak. Namun pengobatan tersebut tidak dapat dilakukan oleh suami secara rutin karena pekerjaan suami yang mengharuskannya untuk pergi keluar kota. Suami mengatakan bahwa selama ini ia tidak melihat adanya hasil dari pengobatan alternatif tersebut. Namun ia tetap saja melakukannya dengan berpindah-pindah dari pengobatan yang satu ke pengobatan yang lain jika dalam 3 bulan pengobatan tersebut dirasakan tidak memberikan hasil.
Sampai saat ini, suami masih mengharapkan kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya. Dan suami belum berani untuk memikirkan jika suatu saat nanti mereka tidak dapat memiliki anak. Dari pihak keluarganya pun tetap mengharapkan agar mereka dapat mendapatkan cucu dari suami dan istri. Keluarga suami tetap menanyakan kapan suami dan istri akan mempunyai anak dan memberikan mereka seorang cucu. Namun sejauh ini suami tetap memberikan
pengertian kepada keluarganya bahwa mereka telah berusaha semampu mereka dan saat ini tinggal menunggu dan berdoa kepada Tuhan agar mereka segera diberikan anak. Dari keluarga istri, memang juga mengharapkan agar mereka mendapatkan cucu dari suami dan istri. Akan tetapi, suami merasa pihak keluarga istri kurang menyukainya karena pekerjaan suami yang membuatnya harus sering meninggalkan istri dan jauh dari Medan. Itu semua hanya dugaan suami karena selama ini suami melihat sikap keluarga istri kepadanya selama ini.
Suami merasa kehidupannya saat ini sulit baik di bidang ekonomi maupun dalam hal tidak memiliki anak. Salah satu hal yang juga menghambat suami dan istri untuk melakukan pengobatan medis adalah masalah ekonomi mereka. Karena menurut suami untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah terpenuhi sudah baik. Namun di tengah kondisi mereka yang sulit ini, suami tetap pasrah dan memiliki prinsip bahwa kebutuhan makan mereka akan dipenuhi suami sendiri tanpa harus meminta dari orang lain ataupun dari keluarga.
IV. B. 2. b. Data Observasi
Tabel 13 Waktu Wawancara
No. Responden Tanggal Wawancara Waktu Wawancara Tempat Wawancara 1. Kasus 2 (Suami) 05 April 2008 08.00 s/d 09.00 WIB Rumah Responden 2. Kasus 2 (Suami) 06 April 2008 18.00 s/d 18.30 WIB Rumah Responden
3. Kasus 2 (Suami)
16 April 2008 10.00 s/d 10.45 Rumah Responden
Suami (Kasus 2) adalah pasangan dari responden sebelumnya yang memiliki tinggi sekitar 165 cm dan berat sekitar 55 cm, berkulit agak hitam dan berambut hitam pendek. Peneliti pertama kali bertemu suami di rumah mereka . sebelumnya suami telah diberitahu oleh suami (Kasus 1) bahwa peneliti akan datang dan meminta bantuan kepada suami dan istri untuk menjadi responden penelitian peneliti. Suami menyetujuinya dan meminta peneliti untuk datang langsung ke rumahnya, karena kebetulan pada saat itu suami sedang berada di Medan. Ketika peneliti datang menemui suami di rumahnya dan meminta bantuan padanya, suami menyatakan kesediaannya dengan ragu-ragu. Selanjutnya suami bertanya apakah nama mereka akan dicantumkan. Peneliti menyatakan bahwa kerahasiaan identitas responden akan dijaga. Setelah peneliti mengatakan hal itu, suami terlihat tenang dan menyatakan kesediaannya. Namun suami mengatakan kepada peneliti di hari Senin nanti suami harus kembali ke Pekanbaru karena sedang ada pekerjaan di sana. Barulah di tanggal 15 April ia akan kembali lagi ke Medan.
Proses wawancara dengan suami dilakukan sebanyak 3 kali di rumah mereka. Pada wawancara I, suami mengenakan kaos dalam berwarna putih dan celana abu-abu selutut. Di lengan suami terdapat tatto bergambar salib. Peneliti baru pertama kali itu melihat tatto suami karena pada pertemuan sebelumnya suami mengenakan kaos yang menutupi lengan atasnya. Suami dan istri tinggal di
sebuah rumah yang terletak di gang. Rumah itu mereka sewa bersama pasangan lain. Dalam rumah tersebut terdapat 2 kamar tidur. Wawancara dilakukan di ruang tamu. Dalam ruang tam itu tidak ada kursi. Jadi ketika melakukan proses wawancara, suami dan peneliti duduk di atas tikar. Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah TV berukuran 21 inchi dan DVD. Di sebelah kiri dan kanan TV terdapat lemari yang berisi pakaian-pakaian. Di dinding terdapat beberapa foto pernikahan suami dan istri, serta terdapat ukiran nama suami. Di atas TV juga terdapat foto suami dan istri dengan bingkai yang terbuat dari gabus putih.
Pada wawancara I, posisi duduk suami dan peneliti saling berhadapan. Dalam menjawab setiap pertanyaan, suami menjawabnya dengan lambat sambil mengetuk-ngetukkan rokok yang sedang dipegangnya. Selain itu volume suara suami juga rendah di keseluruhan proses wawancara dan akan semakin merendah ketika bercerita tentang harapannya untuk memiliki anak dan kesulitan hidupnya. Suami kurang melakukan kontak mata dengan peneliti karena suami seringkali menunduk sambil mengetuk-ngetukkan rokoknya ke lantai. Selain itu suami dalam menjawab pertanyaan sering kali mengulang pertanyaan. Walau begitu suami cukup kooperatif dan bersedai menjawab semua pertanyaan. Hanya ketika peneliti bertanya bagaimana pandangan suami jika mereka tidak dapat memiliki anak, suami tidak bisa menjawabnya karena sampai saat ini suami belum pernah memikirkan dan membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya. Proses wawancara ini berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan-gangguan.
Wawancara II ini dilakukan pada tanggal 6 April 2008 yang juga dilakukan di rumah suami. Saat peneliti datang, suami sedang menonton TV bersama teman satu rumahnya. Teman satu rumah suami lalu pergi ke belakang dan meninggalkan suami dan peneliti. Suami lalu mematikan TV dan membentangkan tikar. Ketika peneliti bertanya di mana istrinya, suami menjawab istrinya pergi kerja hari itu. Suami meminta izin untuk mengambil rokok di kamar. Kemudian suami mengatakan ia sudah siap untuk diwawancarai. Pada wawancara kali ini, suami memakai kaos hitam bertuliskan “Lake Toba” dan celana berwarna coklat pendek selutut. Posisi duduk suami dan peneliti saling berhadapan dan pada saat wawancara, suami dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti. Suami menjawab pertanyaan peneliti sambil sesekali menghisap rokoknya. Volume suara suami terdengar lebih ringan. Ketika membicarakan tentang tujuan hidupnya, wajah suami terlihat lebih serius dan lambat dalam mengucapkannya.
Wawancara III dilakukan pada tanggal 16 April 2008 yang dilakukan di ruang tamu rumah suami. Saat peneliti datang, suami sedang mengantarkan istri keluar rumah karena pagi itu istri akan pergi kerja. Suami lalu mempersilahkan peneliti masuk dan meminta izin untuk memakai kaos dalam saja karena suami merasa kepanasan jika harus mengenakan kaos. Wawancara dimulai pada pukul 10.00 WIB. Suami terlihat kooperatif dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya dan sudah cukup santai dibandingkan pertama kali harus diwawancarai. Ketika suami ingin menunjukkan penegasan terhadap jawabannya, volume suara suami akan terdengar lebih keras diikuti dengan gerakan tangan
yang melambai. Kontak mata dengan peneliti pun telah terjaga dengan baik. Hal yang mengganggu saat wawancara ini adalah teman satu runah suami yang keluar masuk dan melewati ruang tamu di mana suami dan peneliti melakukan wawancara.